Sang pewaris part 8

 

BAB 8

Inka mengelurkan smartphone-nya dan menelpon Kak Kekey. Rupanya ia masih dalam perjalan pulang dari kantor. Setelah berbicara sebentar, aku pun menelpon Kenzi. Butuh waktu seperempat jam sendiri untuk mendengar ocehannya. Kami bertiga saling ngobrol tak karuan, Inka malah membuat panas hati adikku dengan mengarahkan kamera video pada indahnya pemandangan di sekitar kami.

Kegembiraan terhenti ketika video call kami akhiri. Aku dan Inka berdiri bersisian sambil melihat ke kejauhan. Kulirik sepupuku. Paras cantiknya terlihat. Rambutnya yang sedikit basah selepas mandi nampak berkibar diterpa angin.

“Kenapa?” ia membalas tatapanku.

“Ngg.. gak..”

“…” sambil menoyor gemas pipiku.

“Aku mau ngomong, boleh?”

“Ya sok ajah, ini juga kan lagi ngomong.”

“Kaa!!”

“Iya, mau ngomong apa?”

Aku pun duduk di atas rumput, Inka mengikuti dengan duduk di sampingku. Aku sudah memutuskan untuk jujur pada gadis di sampingku ini.

“Menurutmu, Rere gimana?” tanyaku tanpa menengok.

“Gimana apanya?”

“Ya penilaianmu.”

“Hmmm…”

“Kok hmm doank?”

“Ya kamu maunya aku jawab gimana?” Inka nampak mulai jengah, tidak suka membicarakan gadis itu.

“Yaudah deh kalau gak mau bilang, tapi aku tuh sebenernya kesel ama kamu.” ujarku, kali ini sambil melirik dan menatapnya dari samping.

“Kesel kenapa?” Inka menatapku heran

“Kamu sudah dua kali membuatku gagal nembak Rere.”

“Iiih kok aku yang disalahin?” Inka protes, raut mukanya berubah. Bukan marah, tapi lebih menunjukan rasa cemburu.

Kuceritakan dua kejadian dimana aku batal mengungkapkan perasaanku pada Rere, yaitu kemarin malam dan tadi siang di perjalanan.

“Kamu bener-bener sayang Rere yah?” Inka menatapku sebentar, lalu membuang pandangan. Tatapannya sedikit kosong.

“Sepertinya iya.”

“Sepertinya? Belum yakin donk?” suara itu terdengar datar.

“Ya aku juga belum tahu sih, tapi gak ada salahnya kan kalau aku mencoba.”

“Maaf kalau aku sudah menjadi penghalang. Aku sih gak masalah kalau kamu pacaran dengan Rere, tapi kamunya sendiri harus yakin.” ujar Inka.

“Beneran boleh, Ka?”

“Yee.. aku punya hak apa untuk melarang kamu?”

Inka menarik dan menghembuskan nafas dalam beberapa kali, seolah sedang membuang sesuatu di dalam dirinya. Paras cantiknya berubah murung.. 

“Kamu kok seperti gak setuju sih, Ka?”

“Siapa bilang aku gak setuju?”


“Itu mukamu ditekuk gitu.”


“Dasar gak peka!”


“Gak peka apanya sih, Ka? Kamu gak bilang apa-apa ya aku jadinya gak ngerti.”


“Haish kamu tuh.” Inka nampak gemas dan kesal, tapi sepertinya bisa meredam. Ujarnya lagi, “Kalau kamu memang sayang Rere, yaudah kamu tembak dia. Apa perlu aku bantu?”


“Eh gak usah, biar aku melakukannya sendiri. Kamu cukup jangan bilang siapa aku, karena aku ingin tahu sifat Rere. Aku ingin tahu apakah ia bisa menerimaku sebagai pemuda kampung, atau malah menolaknya. Dari situ aku akan tahu siapa dia.”


“Tapi cewek gak suka loh kalau dibohongi.”


“Kan cuma sementara, Ka. Kalau sudah sama-sama kembali ke Bandung, aku pasti jujur kok. Itu pun kalau Rere mau menerimaku.”


“Kamu atur aja deh.”




Suaranya ketus, tapi bahasa tubuhnya berbeda. Ia malah menyenderkan kepalanya di atas bahuku.




“Kamu sendiri kenapa belum punya pacar, Ka?”


“Aku masih menunggu.”


"Beneran? Kamu udah punya gebetan? Kalau kamu suka, bilang aja duluan. Zaman sekarang mah bukan aib kalo cewek mengungkapkan perasaannya lebih dulu.” aku antusias mendengarnya.


“Yee… iye kaliii. Emangnya aku cewek apaan?”


“Cewek cantik. Hehehe….”


“Percuma cantik juga kalau gak disayangi.”


"Emang gebetanmu kayak apa sih, kok bisa-bisanya mengabaikan gadis cantik seperti kamu?”


“Pikir sendiri! Udah ah aku males bahasnya, kamu fokus aja ngejar Rere, gak usah mikirin aku.”




Usai berkata begitu, Inka pun berdiri dan meninggalkanku.




“Ka, mau kemana?”


“Masak!”




Aku pun langsung membuntutinya. Kulihat semua temanku sudah segar selepas mandi. Rupanya hampir sejam aku memisahkan diri dari mereka.




Periuk berisi nasi liwet sudah menumpang di atas perapian, bau sereh dan daun salam pun langsung menerpa penciuman. Tumpukan ikan sudah siap dibakar, dan sambal yang dibawa dari rumah pun sudah dipindahkan ke dalam rantang.




“Rere mana?” tanyaku karena tidak melihat gadis itu.


“Lagi tidur, kayaknya kecapean.” Meti menjawab.


“Oooh.”


“Yaudah aku mandi dulu yah.” pamitku sambil mengeluarkan handuk dari dalam ransel. Kuselendangkan pula sarung milik ayahku yang kubawa.


“Bareng Rere aja, Rei, dia juga belum mandi tuh.” seru Donna.


“Bangunin atuh.” pintaku.




Donna pun beranjak untuk membangunkan Rere, tak berselang lama ia keluar tenda dengan rambut acak-acakan.




“Payah, baru jalan segini aja langsung tepar.” Agus langsung meledeknya.


“Bodo!! Aku kan gak pernah naik gunung.” ketus Rere.




Mendapat pelototan Rere, Agus langsung diam, sedangkan yang lain menanggapi dengan tertawa.




“Udah buruan sana mandi, Re, keburu sore.” Inka mengingatkan.


“Iya, tapi masa bareng si Rei?!”


“Kamu mau mandi sendiri?” bantah Inka.


“Ya nggak.”


“Yaudah sanah.”


“Udah ayo, lagian aku juga gak bakalan ngintip kok.” aku mulai tidak sabar.


“Intip aja, Rei, kapan lagi dapat tontonan gratis.” Vian nyeletuk dan sukses mendapat jitakan Nose. Rere sendiri merongos sewot.




Aku dan Rere pun beriringan menuju mata air. Inka nampak mengantar kepergian kami dengan raut muka yang sulit kugambarkan. Dan ia langsung menunduk ketika kulirik, pura-pura menyibukan diri dengan mengiris bawang.




“Pegel banget.” keluh Rere. Ia sudah tidak malu menunjukan kelemahannya di hadapanku.


“Emang gak pernah jalan, ya Re?”


“Nggak. Ya palingan joging di kompleks rumah.”


“Lemah.” ledekku.


“Apa kamu bilang?”


“Lemah.”




Ia mendelik, tapi berganti senyum sesudahnya. Aku senang, perasaanku melambung. Aku benar-benar melihat seorang Rere yang baru. Kesabaranku menghadapi judesnya sepertinya mulai membuahkan hasil. Perkiraanku butuh waktu satu bulan untuk bisa menghadapi gadis seperti dia, tapi dengan modal ganteng yang kumiliki, maka aku mendapat diskon sehingga hanya memerlukan waktu satu minggu saja.




“Rei, ini gak ada ular kan?” tanyanya sambil celingukan.


“Gak ada, Re, palingan ulat.”


“Hiiii…”




Rere loncat dan mau memelukku, tapi ia keburu sadar dan berhenti hanya beberapa senti sebelum ia menyentuhku. Yeah.. belum rejekiku.




“Kamu bohong yah?”


“Hehehe..”


“Kamu!”




Ia mencubit lenganku sambil cemberut. Kalau sedang jatuh cinta begini, dicubit pun rasanya mendapat berkah. Aku suka Rere telah berubah.




Kami pun melanjutkan perjalanan, dan lima menit kemudian tiba di pancuran.




“Reiiii… kita mandi di sana?” Rere nampak kaget.


“Iyah. Mau di mana lagi?”


“Iiih gak ada penutupnya, gimana caranya aku bisa mandi?”


“Gampanglah, Re. Tinggal buka pakaian terus jongkok di bawah pancuran.” aku berusaha bercanda.


“Yeee.. aku juga tahu itu


“Kan gak ada orang, Re.”


“Kamu bukan orang?”


“Lah.. aku kan gak akan ngintip juga.”


“Emoh! Aku gak percaya.”




Rere nampak bimbang sambil melihat air pancuran yang mengalir jernih.




“Ayo sanah mandi duluan.” aku menyuruhnya.


“Ogah.”


"Yaudah aku yang mandi duluan.”




Dengan santai aku melangkah ke dekat pancuran dan kuletakan perlengkapan mandiku. Kusampirkan juga handuk dan sarung. Kulepas kaosku. Rere malah bengong menatapku, matanya terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka.




“Hei!! Kok jadi malah kamu yang ngintip?”




Rere langsung terkejut dengan muka merah padam. Dengan cepat ia membalikan badan membelakangiku.




Aku hanya terkekeh melihat salah tingkah gadis itu. Sejenak aku ragu. Tapi kumantapkan hati. Kupelorotkan celana panjangku, sekaligus dengan celana dalam. Penisku menjuntai ke bawah karena tidak tegang.




Kuguyur tubuhku di bawah pancuran sambil melirik ke arah Rere yang berjarak hanya sekitar lima meter saja.




“Brrrr… Seger, Re.” seruku sambil membasahi semua tubuh.


“Hmmm.”




Rere bergumam tanpa menengok. Isengku muncul. Aku pun berdiri menghadap ke arah gadis itu sambil memegang sabun batangan.




“Re, lihat sinih!”


“Ogah! Dasar mesum!!!” nadanya terdengar sewot.




Kuangkat kedua tanganku dan kugoyang-goyang penisku. Aku seolah sedang bergoyang dangdut. Aku sangat percaya diri melakukannya; padahal andai saja Rere menengok, mungkin aku akan sangat malu. Kusabuni seluruh tubuhku sambil menatap punggung Rere, kugosok juga penisku dengan tangan berlumur busa sabun. Bangke!! Malah tegang. Kuakhiri aksi kupretku, dan kembali berjongkok untuk membilas tubuh.




Setelah mengeringkan badan dan mengenakan pakaian, aku pun mendekati Rere yang tetap saja berdiri kaku.




“Aku udah, Re, giliran kamu gih.”


“Aku gak bisa, Rei. Masa aku mandi di depan orang?” ia membalikan badan.


“Aku kan memunggungimu, Re. Janji aku gak akan ngintip.” ujarku penuh keyakinan.


“Gak mau. Aku gak percaya.”


“Hmm.. yaudah aku pulang duluan yah biar kamu merasa tenang.”


“Jangaaan!! Masa aku ditinggal sendiri? Ini hutan loh.”




Kugaruk-garuk kepalaku. Kutatap Rere dengan bingung.




“Lalu aku harus gimana? Di sini gak boleh, pulang juga gak boleh?”


“…” Rere nampak bimbang.


“Yaudah kamu cuci muka aja, gak usah mandi.” aku memberikan usul.


“Gak mau. Masa aku gak mandi, badanku lengket gini.”




Aku hanya bisa menghela nafas mendengarnya.




“Yaudah kamu mandi sambil pake sarungku aja.” kulepaskan sarungku dan kusodorkan.


“Gimana caranya?” tanyanya polos.


“Rereee!!” kesal dan gemas bercampur menjadi satu. “Kamu buka bajumu, buka celanamu, buka behamu, buka celana dalammu. Lalu kamu tutupi tubumu dengan sarung. Jadi kamu mandi sambil pake sarung.”


“Oh?! Terus sabunannya gimana?” ia malah bertanya polos.




Gubrak!! Gini nih gadis kota yang gak pernah lihat ibu-ibu mandi di sungai.




“Kamu tuangkan sabun dari botolnya ke atas telapak tanganmu, gosok, oles ke tubuhmu. Mulai dari muka, leher, payudara, perut, vag…”




Plaaaak!!! Sebuah tamparan mendarat pada pipiku. Aku yang sedang terkekeh menjelaskan pun langsung bungkam.




Rere melotot geram. Diambilnya sarung yang kusodorkan dengan kasar dan langsung bergegas menunggu pancuran. Aku hanya bisa meringis sambil mengusapi pipiku. Sakit sih.. tapi namanya lagi jatuh cinta, yang masih terasa malah halus telapak tangannya.




Aku pun duduk di atas gelondongan kayu dengan posisi membelakangi. Kukeluarkan sebatang rokok, dan kuhisap nikmat. Cukup lama aku tidak mendengar suara air, entah apa yang sedang Rere lakukan. Mungkin ia masih takut berbugil ria di alam terbuka. Kuhembuskan asap rokok sambil tersenyum ketika akhirnya aku mendengar kecipak air.




Telanjang di alam terbuka di tengah hutan memang memberi sensasi tersendiri. Itu mengingatkanku pada film “Tarzan X” yang pernah kutonton. Tapi hanya setengahnya, karena keburu ketahuan Kak Kekey dan aku pun disidang di depan ayah dan mamah. Sejak itu aku kapok, dan tidak pernah nonton film porno lagi, tapi nonton live ketika aku di Jerman. Eh!!!




Aku pun menghayal. Membayangkan aku telanjang berdua dengan Rere dan mandi bersama. Kubayangkan wajah Rere dan seluruh lekuk tubuhnya. Tanpa sadar, penisku yang tadi ngeluk kedinginan kini mulai menggeliat, dan akhirnya mendongak. Anganku melayang. Cling cling…




“Rei.” suara merdu Rere memanggilku.




Aku pun menengok. Dug… dug… dug… jantungku langsung berdetak kencang. Rere sedang berdiri dengan tubuh hanya ditutupi sarung yang kependekan. Tangannya mencengkeram lipatan sarung di atas payudaranya. Payudaranya menggunung, dan pahanya basah merangsang.




Rambut pirang Rere juga basah. Airnya menetes menyusuri leher dan hilang menyusup ke dalam sarung. Bibir Rere nampak pucat dan bergetar. Sepertinya ia kedinginan. Tatapanku semakin turun. Kupandang kucuran air pada pahanya, dan menetes ke tanah. Mungkin air itu sempat mampir pada belahan vaginanya, lalu mengalir ke bawah. Uuuh.. bahagianya jadi air, bisa menyentuh tempat yang paling tersembunyi dari seorang perempuan.




Aku hanya bisa melongo. Rere bukan hanya cantik, tapi juga seksi. Bukan hanya mempesona, tapi juga menggairahkan.




Ia menggigit bibir bawahnya dengan tatapan sendu. Secara perlahan ia berputar. Rambutnya nemplok pada bahu putihnya, mengalir basah. Aku menelan liur ketika melihat bongkahan pinggulnya. Sarung basah menjeplak di atasnya. Nampak sangat seksi dan menggairahkan. Tanpa memutar badan, Rere menengok. Matanya mengerling sambil tetap menggigit bibir.




Hatiku dag dig dug seeer menyaksikannya. Rere berubah nakal. Dan aku hanya bisa melongo ketika ia kembali menghadapku sambil membentangkan lipatan sarungnya. Bagian rahasianya memang masih tersembunyi, tapi menyadari bahwa tidak ada lagi pelindung di baliknya sukses membuat penisku mendongak keras dan bergetar-getar.




Rere menarik nafas beberapa kali, sebaliknya aku menahan nafas. Ada yang basah pada tepi bibir dan daguku, tapi kuabaikan. Aku benar-benar terpesona.




Perasaanku semakin tidak karuan ketika kedua tangannya bergerak dan hanya menahan sarung dengan jarinya. Ia seolah mau melepaskan satu-satunya penutup tubuhnya. Nafasku tersengal, jantungku seakan berhenti berdetak. Rere merenggangkan telunjuk dan jempol tangannya. Sarung basah itu pun luruh dan merosot.




Sial!!! Bagian punggungnya memang turun, tapi bagian depan tertahan kedua gunungan payudaranya. Aku menghela nafas kecewa karena hanya bisa melihat setengah tonjolan atasnya yang putih dan tanpa noda. Birahiku tiba-tiba memuncak.




Namun semuanya belum berakhir. Rere menggoyang tubuhnya sehingga sarung itu bergerak. Keadaannya yang berat oleh air membuat sarung itu mudah saja melorot. Hampir semua payudara Rere terlihat. Putih dan tanpa noda. Aku berdebar.. tak sabar ingin melihat putingnya. Dan… sarung itu pun luruh.




Di rumah aku memang dikelilingi wanita cantik dan seksi. Tak jarang aku juga melihat celana dalam Nzi ketika duduknya sembarangan, atau melihat belahan payudara mamah dan Kak Kekey ketika mereka hanya mengenakan daster bertali. Tapi aku tidak punya rasa, mereka adalah kakak-adik dan juga mamahku. Kini rasanya berbeda… aku benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh tubuh perempuan. Aku memang pernah pacaran. Satu waktu kelas enam SD, tiga di SMP, dua semasa SMA, satu waktu kuliah, dan terakhir adalah Arischa yang kukenal pada waktu menempuh pendidikan di luar negeri. (Gak usah iri!! Aku kan memang ganteng!!!). Tapi aku tidak pernah melihat tubuh polos mereka, hubungan kami hanya sebatas ciuman. Aku tidak berani lebih, karena mamah selalu mewanti-wanti untuk menjaga kehormatan perempuan. (Aku kan anak penurut dan berbakti pada orangtua).




Kali ini berbeda… Rere telanjang tanpa kuminta. Mempertontonkan tubuhnya tanpa kupaksa. Aku mendesah resah. Dan…




“Rei?!!”




Plak plak plak!!! Kepalaku ditabok dari belakang tiga kali.




“Eh.. aaaauwww…” aku teriak dengan nafas tersengal.


“Ngapain kamu? Ngelamun jorok yah?!”




Aku pun menengok. Rere sudah berdiri di belakangku dengan pakaian lengkap. Bangkee!!! Rupanya aku telah menghayalkan Rere. Apa yang kulihat hanya ada dalam angan-angan, bukan kenyataan.




“Eh.. ng.. ngggak, Re.” aku gugup.


“Nggak apanya? Itu tangan!!!” wajah Rere merah padam.




Kupret!!! Tanganku rupanya sudah berada di dalam celana dan mengelus penisku. Segera kukeluarkan dengan gugup. Aku gelagapan, wajahku terasa panas karena malu.




“Mmaaaf, Re.”


“Mesum!!!”




Rere langsung meninggalkanku setengah berlari. Sepertinya ia benar-benar kecewa melihat ulahku.




“Re, tunggu!!” aku tergopoh mengejarnya.




Gadis itu tidak peduli, langkahnya semakin panjang.




“Re, maafin aku.” aku menahan pundaknya.


“Ja-ngan.. pe-gang-pe-gang!!!” matanya melotot. Nampak merah dan ada gelemburan air mata.




Mungkin selain marah karena menciduk perbuatan mesumku, ia juga kesal aku menyentuh pundaknya dengan tangan kiri yang tadi kupakai mengelus penisku.




“Maaf, Re.”


“Menjijikan!!!” Rere kembali galak. Ia kembali menjadi seorang Rere seperti pertama kali kukenal.




Tanpa berkata apa-apa lagi, Rere langsung berjalan terburu, dan aku hanya bisa mengikutinya sambil bungkam.




Setibanya di area tenda suasana sangat ramai. Teman-temanku dari Ewer sudah datang: Midun, Safri, Juned, dan Babay. Sikap pecicilan mereka membuatku sedikit terhibur dan bisa keluar dari rasa kikuk. Rere yang cemberut pun sedikit berubah ketika membalas sapaan mereka. Aku langsung gabung dengan mereka, sedangkan Rere masuk tenda.




“Kenapa tuh anak?” adalah Inka yang paling peka melihat perubahan Rere.


“Kenapa apanya?” tanyaku polos.


"Biasa atuh rere mah, Ka. Moodnya gampang berubah-ubah.” Meti nyeletuk, membuatku merasa terbebas dari rasa kikuk.




Gadis yang diomongkan muncul kembali, rambutnya sudah rapi disisir. Kami langsung mengalihkan pembicaraan. Bercanda tawa tanpa ujung. Tak lama kemudian nasi dan bakar ikan pun matang. Kami makan lahap di bawah langit senja yang memerah indah.




Rere benar-benar mendiamku, bahkan ketika Inka melayaniku dengan menuangkan nasi ia seperti tidak peduli. Ia memang tidak diam. Ia mau ngobrol dan bahkan tertawa, tapi bukan padaku. Harapan yang sempat melambung dalam hati pun kini seketika pupus. Butuh perjuangan lebih untuk kembali bisa meluluhkan hatinya.




Usai makan dan membereskan bekasnya kami larut dalam pikiran masing-masing. Kami seolah masuk ke dalam alam semesta yang langitnya merah merekah di ujung barat. Nose membenamkan kepalanya pada bahu Vian; Donna dan Meti foto-foto tanpa banyak bicara. Sisanya duduk tercenung meghadap ke arah barat; para cowok -kecuali Vian- sambil merokok.




Sekali-kali kulirik Rere, tapi ia seolah tidak peduli, padahal kuyakin ia tahu bahwa aku sering memperhatikannya. Kini malah Inka yang setengah memelukku, ia terbawa suasana indahnya alam. Kalau di barat langit merah membara, di ufuk timur mulai muncul bulatan putih nan indah. Kemping kami akan semakin sempurna dengan datangnya purnama malam nanti.




Alam pun redup. Ada helaan-helaan nafas ketika matahari sudah sepenuhnya terbenam dan hanya menyisakan sedikit merah pada langitnya. Senja pun berganti malam.




Midun menambah kayu bakar untuk membuat penerangan, dan obrolan ringan kembali terdengar. Agus mengambil gitar dan kesyahduan berubah menjadi nyanyi riang.




“Guys, stop dulu, ada yang mau kuomongin.” setelah menyanyikan beberapa lagu, Vian menghentikan.




Ada gumam kecewa, tapi semuanya langsung diam ketika Vian memasang muka serius.




“Jadi gini… kalian masih ingat kan kritikan si Rei waktu kita diskusi di saung? Nah, sampai sekarang kita belum menemukan jawabannya. Kita belum tahu mau membuat proyek apa untuk KKN kita. Tadi di jalan, secara tak sengaja aku mendengar obrolan Rei dan Indra. Aku pikir kita bisa memakai ide mereka.” ujar Vian.




Dengan mengutif ideku, Vian pun menyampaikan beberapa ide tambahan dan kemungkinan-kemungkinan proyek yang bisa mereka lakukan. Intinya, ada mimpi yang terbersit untuk menjadikan Ewer sebagai kampung percontohan di bidang teknologi. Ada decak kagum. Dan aku senang ketika ada senyum yang disembunyikan oleh seorang gadis. Sikap juteknya perlahan lumer. Ia seolah bangga padaku, namun tidak mau menunjukkannya.




Diskusi pun terjadi. Rere banyak mendominasi, dan terlihat sangat antusias. Inka sesekali menambahi, sedangkan aku dan teman-temanku hanya mengamini dan manggut-manggut. Kini aku memosisikan diri sebagai pemuda desa yang tidak pandai berargumentasi. Syukurlah ada Inka, ia seolah menjadi penyambung lidahku dalam menyampaikan pendapat.




Keputusan pun diambil. Kami akan membeli dua perangkat komputer untuk administrasi dan tiga perangkat untuk dijadikan sarana belajar bagi anak-anak. Di samping itu, mereka juga akan membuat jaringan internet sehingga seluruh warga kampung bisa mengakses wifi dari rumah masing-masing. Butuh dana besar, tapi warga tentu saja akan mampu membiayai. Para mahasiswa juga akan mengajukan proposal kepada perusahaan-perusahaan yang mereka kenal. Aku dan Inka saling melirik dan tersenyum ketika nama perusahaan keluarga kami menjadi salah tujuan yang akan disodori proposal.




Kami pun sepakat. Para mahasiswa dan kami pemuda kampung siap bekerjasama. Kini tinggal menyisakan satu persoalan, yaitu ijin dari para sesepuh dan pengurus kampung. Kupikir itu bukan masalah, aku bisa membujuk oma. Oma berkata, warga pasti menganggukan kepala.




“Yeeee…” semuanya berseru gembira dan bertepuk tangan. Kemping ini bukan hanya sekedar rekreasi, tapi telah menghasilkan kesepakatan yang berguna pada pendidikan para mahasiswa yang KKN dan juga bagi kemajuan Ewer.




Rere menatapku penuh haru dan bangga, tapi ia langsung melengos ketika aku membalasnya. Suasana serius kembali berubah cair penuh canda. Dentingan gitar dan nyanyian pun kembali kami senandungkan bersama. Babay dan Juned merebus air, sedangkan Rona dan Inka menyiapkan gelas-gelas yang terbuat dari bambu untuk menyeduh kopi.




Dalam kebersamaan ini, ada kemesraan diam antara aku dan Rere. Kami sering saling curi pandang. Dan ia sudah tidak menghindar lagi ketika kami beradu tatapan. Ia malah membalasku dengan senyum dikulum.




Tak terasa waktu pun semakin beranjak malam. Bulan purnama sudah tepat berada di atas kami. Kami lelah bernyanyi, dan tema obrolan pun seakan sudah habis. Sementara bergelas-gelas kopi sudah kami nikmati. Dan aku bangga.. Rere sudah bisa minum kopi tanpa gula, walaupun sekali-kali harus diselingi dengan meneguk air putih. Selalu saja ada senyum ketika ia melakukannya. Tentu saja sambil menatapku.




Inka tertidur di dalam pangkuanku. Kubangunkan dan kuminta pindah ke dalam tenda. Bersamaan dengan itu, para cewek pun memutuskan untuk tidur. Dua tenda mereka pakai, satu lagi untuk para cowok, itu pun hanya muat untuk empat orang. Maka sisanya pada membaringkan diri di luar tenda. Berselimutkan jaket tebal dan sarung.




Suasana pun berubah sunyi. Hanya suara alam yang terdengar, dan hanya aku yang masih melek. Kutambah kayu bakar untuk menghangatkan teman-temanku yang sudah meringkuk. Kuputuskan untuk menghisap rokok sebatang lagi sebelum tidur.




Aku tercenung seorang diri sambil menikmati indahnya purnama. Pikiranku langsung penuh. Selain mencari cara untuk bisa mendapatkan cinta Rere, aku juga tidak boleh melupakan tujuanku datang ke Ewer. Aku tidak boleh mengecewakan ayah, dan aku harus bisa meneruskan perusahaan kopi yang dirintisnya dari nol.




Lama-kelamaan aku lelah sendiri, dan mataku mulai sepet. Aku meringkuk di sekitar bara api dengan hanya berselimutkan jaket dan kain tipis. Sarungku basah karena dipakai Rere mandi. Belum juga aku terlelap, kulihat ada bayangan hitam dari arah tenda. Kupicingkan mata, dan nampak sosok Inka muncul sambil menggenggam selimut. Namun ia hanya diam, dan menutup kembali tenda setelahnya. Tapi aku tahu ia mengintip.




Belum juga heranku hilang karena sikap Inka, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menyelimutiku. Sebuah selimut yang cukup tebal ditumpangkan dengan sangat perlahan. Kupejamkan mata dan pura-pura tidur. Aku tidak melihatnya, tapi aku tahu siapa dia, dan aku pun terlelap dengan senyum tersungging. Aku bahagia…




Entah sudah berapa lama aku tertidur, entah jam berapa ketika aku terjaga. Aku terbangun ketika pahaku terasa dingin karena tidak terlindung. Sementara kurasakan ada dengus nafas, dan jilatan-jilatan kasar.




Aku membuka mata. Aku hanya bisa melongo melihat apa yang terjadi. Jantungku berdetak sangat kencang, tapi jangankan menggerakan tubuh, berteriak pun aku tidak bisa. Tubuhku langsung menggigil dan bermandikan keringat dingin.




Celanaku sudah melorot. Tapi bukan itu yang membuatku panik, melainkan seekor harimau putih yang sedang menyeringai memamerkan taringnya yang tajam. Kedua matanya menyala, dan lidahnya terjulur, meneteskan liur membasahi kemaluanku.




Tubuhku sudah bermandikan keringat, tapi aku bagai tersirep, hanya bisa terbujur kaku tanpa bisa menggerakan tubuh.




“Ggrrrrrhhh…” geramannya membuat seluruh sendiku langsung lemas. Aku bagai mayat hidup yang tak bisa berbuat apa-apa.




Lidah harimau betina itu kembali menjulur, lalu dijilatnya kanjut-ku. Bukannya tegang, yang ada batangku malah semakin mengkerut. Gigiku gemeretak, dan lututku bergetar.




Aku menangis dalam hati. Aku tidak mau keperjakaanku dicuri binatang. Tapi lebih tidak mau lagi kalau ia mencaplok dan memakannya. Buat apa aku hidup kalau hanya menjadi kasim yang tak berkelamin.




Wajah Rere berkelebat… Seandainya aku hidup pun, aku tak bisa lagi meminangnya.


Wajah mamah muncul… hatiku nyeri karena tak bisa memberinya cucu.


Kak Kekey dan Nzi pun muncul dalam benak… apa kata mereka kalau punya saudara yang tak lagi jantan.




Aku ketakutan. Hatiku ingin melawan, tapi dayaku benar-benar ayah.. eh sirna.. Aku ingin meminta tolong, tapi mulutku terkunci. Satu-satunya bisaku kini hanya pasrah. Menanti ajal. Atau menanti nasib hidup tanpa pentungan.




Tanpa terasa air mataku mengalir ketika lidah kasar dan basah sang harimau menjilati batang penisku yang mengkerut layu. Geraman-geramannya terdengar sangat menggetarkan, mungkin ia sange karena meskipun layu, penisku lebih besar dari pejantannya. Mungkin!!!




Jilatannya semakin naik ke atas pusar. Tubuhku bukan hanya basah oleh keringat dingin, tetapi juga oleh air liur makhluk menyeramkan itu. Aku teraniaya, merasa ternista. Diperkosa binatang!! Bangke!!! Taik!!! Anjing!!! Apa salah dan dosaku?!!




Tubuhku semakin menggigil ketika wajah seram dan garang itu sudah berada di atas mukaku. Lidahnya tetap terjulur, dan liurnya menetes pada bibirku. Asin!! Apek!! Kecut!!! Aku ingin muntah.




Aku sedikit bernafas lega ketika ia tidak mencumbuku, tidak juga melukai mukaku dengan taringnya. Tubuh besar berbulu tebal itu membalikan badan, dan memposisikan vaginanya di atas penisku. Sepertinya ia ingin melakukan HoT alias Harimau on Top. Aku semakin panik. Tapi kemudian kepanikanku berkurang. Aku sadar, aku tidak ereksi. Si harimau pasti kentang. Semoga tidak marah dan mencabikku.




Belum juga aku digagahi harimau betina, tiba-tiba…




“Groaaarrrr!!!” sesosok harimau jantan meloncat dan menggigit leher sang harimau betina.




Keduanya bergulingan dan saling cakar. Aku tidak tahu apa-apa setelahnya…




Bukan pingsan, tapi BERSAMBUNG…



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar