Sang pewaris part 10

 

BAB 10

Keesokan harinya….

Setelah mobil yang ditumpangi Enzo dan Arischa tidak terlihat lagi, aku dan oma pun masuk kembali ke dalam rumah. Mereka berdua akan kembali ke Bandung, sedangkan aku dan oma harus menyiapkan barang bawaanku. Nanti malam aku akan berangkat ke sebuah tempat bernama Anta.

Perjalanan ini bersifat rahasia, dan tidak semua orang tahu tentang daerah itu. Anta itu ada karena memang nyata kehidupan di sana, tetapi juga tidak ada karena tidak terlihat secara kasat mata. Menurut oma, hanya orang-orang terpilih yang bisa datang ke sana; ayah dan mamah adalah orang terakhir yang pernah berhasil masuk ke tempat itu. Mereka pergi ketika Kak kekey masih kecil, dan aku belum lahir. Itu pun aku tahunya dari oma sendiri, bukan dari mulut ayah ataupun mamah.

“Berapa lama perjalanannya oma?” tanyaku.

“Besok subuh juga kamu sudah akan nyampe rumah lagi.” ujar oma sambil membungkus beberapa perlengkapan dengan daun putih.

“Ingat, ya Rei, kamu ke sana itu atas inisiatif sendiri, bukan atas undangan mereka. Jadi kamu harus hati-hati. Mungkin kamu bisa masuk Anta dengan mudah, tapi bisa juga harus melewati beberapa rintangan. Tapi kamu tidak usah khawatir, kamu tidak akan mengalami apa-apa, apalagi sampai celaka.” nasihat oma.

“Kalau aku tidak bisa masuk Anta gimana, oma?” aku khawatir.

“Ya tidak apa-apa, kamu tidak usah merasa gagal, itu berarti kamu bukan penerus yang dipilih.” jawab oma.

Aku pun mengangguk. Sebetulnya penjelasan oma sama dengan penjelasan ayah dan mamah, sama-sama membingungkan. Mereka tidak pernah menyampaikan secara gamblang, dan ketika kutanya, jawaban mereka selalu sama: “Nanti kamu akan tahu sendiri.”

Sampai sekarang aku juga tidak tahu Anta itu ada di mana, oma hanya memberi petunjuk supaya aku menuju ke sebelah utara Bukit Beha. Tujuan keberangkatanku pun sebetulnya absurd dan tidak masuk akal, yaitu supaya aku bertemu dengan Senja dan Sae dan juga kedua pengawalnya. Sudah hanya itu, sisanya aku tidak mengerti apa-apa.

Setelah oma mempersiapkan bekalku dan menjelaskan kegunaan dari masing-masing bawaanku, aku pun beranjak meninggalkan rumah. Aku hendak mencari Rere.

Aku tidak bisa lagi menunggu. Sebelum aku berangkat ke Anta aku harus menyatakan cintaku. Rere harus tahu bahwa aku meyayanginya. Aku sudah membulatkan hati untuk menjadikan gadis itu sebagai bagian dari rencana masa depanku. Setelah beberapa kali dibuat bimbang, akhirnya aku bisa meyakinkan diri bahwa aku memang menyayanginya.

Yeah.. hubungan kami agak sedikit ganjil selama ini. Ketika aku mengejarnya, ia seolah menghindar dan menutup diri. Sebaliknya, ketika ia mulai membuka diri semenjak aku sakit, malah aku sendiri yang ragu. Kini tidak ada lagi alasan bagiku untuk bimbang, Rere adalah seorang gadis yang memiliki hati yang sangat baik. Hanya tampilan luarnya saja yang kadang-kadang terlihat judes.

Bagai gayung bersambut, aku bertemu dengan gadis itu di jalan. Ia juga rupanya mau menemuiku di rumah. Kuputuskan untuk mengajaknya jalan-jalan ke Tanah Merah, di mana ada sebuah prasasti cinta antara Senja dan Sae. Tempat itu sebetulnya adalah tempat kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang Sae, tetapi oleh warga kini dipercaya sebagai tempat untuk mengabadikan cinta.

Setengah jam kami tiba di tujuan dengan berjalan kaki. Dan setelah melihat-lihat batu besar yang dikelilingi oleh karangan bunga dan goresan-goresan puisi kaum muda yang digandrungi cinta, aku dan Rere berjalan agak ke timur menuju sebuah saung sawah.

“Capek gak?” tanyaku ketika kami sudah berada di dalam saung. Wajah cantik Rere sedikit lembab karena keringat.

“Lumayan.” singkatnya sambil tersenyum.

“Kenapa kamu ngajak aku ke sini?” tanya Rere.

“Karena ada yang mau kusampaikan. Kamu kenapa tadi nyari aku?”

“Ada yang mau kusampaikan.” ia mengutif jawabanku.

Aku pun tersenyum sambil menatap Rere. Ia membalas, namun kemudian memalingkan pandangan ke tengah hamparan padi yang menghijau. Rambutnya berkibar diterpa angin. Leher jenjangnya pun terpamer. Putih dan mulus. Sedikit seksi karena lembab.




“Yaudah kamu mau ngomong apa? Kok malah ngeliatin aku.” Rere terlihat jengah karena kuperhatikan terus-menerus.




Pertanyaan Rere malah membuatku grogi. Aku yang tadi sudah mantap untuk mengungkapkan rasaku, kini dag dig dug tak karuan. Apalagi ketika matanya menatapku, dan dahi mulusnya mengkerut, aku semakin salah tingkah.




“Reei?” suaranya lembut tapi penuh penekanan.


“Ehem.. gini Re…” aku mengatur nafas sejenak. Lanjutku, “Aku tidak tahu apakah ini terlalu cepat atau tidak, aku juga tidak tahu apakah ini akan menganggumu atau tidak, tapi aku harus menyampaikan sesuatu, Re. Dan itu tentang.. tentang…”


“Perasaanmu?” Rere memotong ucapanku.




Rere bukanlah gadis kemarin sore yang masih awam dalam urusan percintaan. Ia juga bukan tipe perempuan yang sok alim dan pura-pura tidak tahu untuk menghormati lawan bicaranya. Rere adalah tipe gadis lugas yang berbicara apa adanya, dan tidak suka bertele-tele.




Kali ini giliran Rere yang menghela nafas ketika melihatku menganggukan kepala. Suasana berubah hening. Aku dan Rere duduk bersampingan dengan kaki terjuntai karena bale-bale saung cukup tinggi. Pandangan kami sama-sama jauh ke depan.




“Kenapa kamu sayang aku?” pertanyaan Rere membuatku terperanjat. Aku sangat tidak menyangka ia akan berkata seperti itu, padahal aku belum mengutarakan isi hatiku secara gamblang. Aku tahu, ia bertanya begitu bukan karena Rere sedang kegeeran, melainkan karena ia sudah bisa menebak apa yang ingin kusampaikan. Rere juga tidak sedang bersikap agresif ataupun arogan, justru ia begitu sebagai tanda bahwa ia sudah merasa cukup dekat denganku. Ia akan bicara tanpa tedeng aling-aling hanya kepada orang-orang terdekatnya. Kebersamaan kami di Ewer selama ini telah membuatku bisa mengenal sifat dan watak seorang Rere.


“Re, aku… aku…”


“Masa gak ada alasannya?” desaknya.


“Tidak perlu sebuah alasan untuk sebuah rasa, bukan?” akhirnya aku bisa berujar dengan lancar. Menghadapi seorang gadis seperti Rere, aku tidak bisa menggunakan premis-premis biasa yang malah akan dianggapnya gombal atau basi. Jika aku mengatakan bahwa ia cantik, baik, atau menarik, jawaban Rere sudah bisa kuduga, dan itu adalah “tidak.”


“…” Rere diam tanpa menengok, tapi kuyakin ia menyimak.


“Kita tahu rasa garam, tapi kita tidak bertanya kenapa garam itu asin? Kita juga tidak mempertanyakan kenapa gula itu manis. Karena rasa itu melekat sebagai sebagai sebuah identintas tanpa perlu dipertanyakan lagi.”




Rere menengok dan menatapku tajam. Hal yang sama kulakukan. Kami pun saling pandang seolah sedang mengorek isi hati masing-masing.




“Omonganmu barusan membuatku semakin yakin, Rei.” gumamnya.


“Yakin apa?” aku penasaran.


“Yakin bahwa aku tidak mengenalmu!”




Aku mengerutkan dahi untuk menebak arah pembicaraan Rere, tapi aku tidak paham kenapa ia berujar seperti itu.




“Maksudmu, Re?”




Rere tidak langsung menjawab. Ia kembali membuang pandangannya sambil menghela nafas panjang. Sekali-kali dirapikan rambutnya yang diterpa angin dan menutupi wajahnya, sebagian ia selipkan di atas telinganya. Perasaanku sungguh berdesir, aku akan menjadi pemuda yang sangat beruntung jika bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang gadis secantik Rere.




“Jadi kamu memang sayang aku?” suaranya terdengar bergetar.


“Iya.” aku menjawab mantap.




Helaan nafas panjang kembali ia hembuskan. Sikapnya yang tadi nampak tenang karena sudah bisa menebak tujuanku mengajaknya berbicara berdua, kini berubah gelisah.




“Gini, Rei. Semakin sering kita bertemu, dan semakin lama kita bersama di kampung ini, aku malah merasa semakin tidak mengenalmu.” Rere akhirnya mengungkapkan isi hatinya.




Rasanya jantungku berhenti berdetak satu detik lamanya. Kaget mendengar penuturan Rere. Apakah Rere tahu siapa aku, dan ia merasa telah dibohongi?




“Kamu seperti bukan Rei yang asli. Kamu ingin agar aku mengenal Rei secara berbeda, dan aku belum tahu apa serta kenapa.” suara Rere pelan namun penuh keyakinan.


“Dan alasan logis dari pemikiranmu itu apa?” aku memberanikan diri bertanya.


“Pertama dari cara pandangmu.” ia langsung sigap menyahut. “Kamu mengaku hanya lulusan SMA, tapi cara berpikirmu melebihi teman-temanmu yang kuliah, dan jauh melampaui kami yang sedang KKN.”


“…” aku menyimak dengan perasaan mulai tidak karuan.


“Dan aku semakin yakin ketika kamu sakit kala itu. Aku melihat laptopmu, aku melihat smartphone-mu, juga jam tanganmu yang tidak pernah kamu pakai. Itu bukan barang murahan, Rei.” suara Rere mulai meninggi.


“Itu kan bisa saja hadiah waktu aku keluar pekerjaan.” aku berusaha beralibi.


“Tidak ada boss mana pun yang akan memberi hadiah semewah itu kepada buruh biasa seperti kamu. Kecuali kalau kalian memiliki affair” Rere tegas penuh keyakinan, dan diam-diam aku mengamini ucapannya. Aku telah berbuat blunder dengan membuat pernyataan seperti itu.


“Lalu Inka…” ia melanjutkan.


“Awalnya aku menganggap biasa. Tapi kecurigaanku muncul ketika bertemu dengan papah dan mamahnya. Jelas mereka bukan orang miskin. Mobil mereka juga mewah…”


“….”


“Aku juga melihat bahwa Tante Rinjani, Om Ariya, dan Inka sangat menyayangimu. Logikanya, kalau mereka adalah orang kaya dan sangat menyayangimu, maka mereka tidak akan membiarkanmu hidup sederhana.”


“…” aku benar-benar bungkam. Rere sangat jeli, dan ia cerdas mengANALisis apa yang ia lihat.


“Dan aku semakin yakin kalau kamu memang menyembunyikan identitasmu ketika Kak Enzo dan Kak Arischa datang.”


“Re, aku…”


“Aku belum selesai, Rei!!!”


“…”


“Waktu aku menemani Kak Arischa jalan-jalan, ia cerita bahwa kalian pernah pacaran…”




Degh!




Kemarin aku lupa memberitahu Arischa supaya jangan cerita tentang siapa aku. Ah sekarang aku mengerti kenapa Rere mencariku, ia pasti mau menanyakan hal ini. Rere bukanlah tipe gadis pemendam yang sanggup menekan perasaan berlama-lama. Ia akan langsung mencari tahu agar tidak menganggu pikirannya.




“Awalnya kupikir kamu adalah pengecut karena membiarkan Kak Arischa jatuh ke dalam pelukan cowok lain. Tetapi setelah mendengar penjelasan Kak Arischa, aku harus mengakui bahwa aku kagum dan bangga atas sikap gentle-mu. Tapi masalahnya bukan itu….”


“…”


“Kak Arischa bilang bahwa ia dan Kak Enzo akan menikah. Pertanyaan spontanku adalah, kenapa mereka sampai ngebela-belain ketemu kamu hanya untuk memberitahu bahwa mereka akan menikah? Kan bisa melalui telpon. Siapa kamu? Kenapa kamu sangat penting bagi mereka? Padahal aku bisa melihat sendiri kalau Kak Enzo dan Kan Arischa itu bukan orang sembarangan; berpendidikan dan sama-sama pengusaha. Orang awam biasa yang tidak mengenalnya pun bisa langsung tahu mereka berasal dari kelas sosial seperti apa.”




Semua penuturan Rere bagai pukulan telak bagiku, aku hanya bisa bungkam mendengarnya. Ia adalah gadis yang sangat pandai dan cerdik jauh melampaui penilaianku selama ini.




Aku maklum kalau Rere merasa kecewa sudah kubohogi. Ia yang awalnya mengenalku sebagai pemuda kampung yang gagal merantau, secara perlahan menemukan fakta-fakta ganjil. Itulah sebabnya di awal tadi ia mengatakan: semakin lama kami bersama, ia semakin tidak mengenalku.




“Aku juga tidak bego-bego amatlah, Rei.” bahasa Rere mulai agak kasar karena terbawa oleh emosi di balik dadanya. “Oma itu sangat dihormati dan disegani, jadi jelas kamu adalah keturunan orang terpandang, meskipun kamu sendiri tidak pernah cerita tentang orangtuamu.”


“Aku yang bego, Re.” ujarku tanpa berani membalas sorot tajam matanya.


“Ya memang!!!” ketusnya arogan.


“Aku yakin kalau kamu memang bekerjasama dengan oma untuk menutupi identitasmu. Seorang oma yang sangat terpandang mau nurut ama kamu, itu sudah di luar nalar, Rei. Itu bukan hanya soal kasih sayang seorang nenek pada cucunya, tapi sudah menunjukan siapa kamu.”




Kali ini Rere sudah tidak bisa mengontrol diri lagi, emosinya meluap-luap, dan nada suaranya semakin tinggi. Rere kembali benar dan aku hanya bisa diam.




Setelah kehabisan kata, Rere pun hanya bisa menangis. Kedua tangannya ditangkupkan pada wajah. Tubuhnya sedikit bergetar seiring isak tangisnya.




“Re, aku benar-benar minta maaf. Tapi aku tidak bohong kalau aku sayang…”


“Sayang?! Sayang katamu?!!” Rere membuka tangan, mata merah dan berairnya melotot ke arahku.


“Kalau semua yang kukatakan tadi adalah benar, dan selama ini kamu memang telah berbohong, bagaimana aku juga bisa percaya bahwa cintamu juga tidak bohong?” tangis dan teriak marah bercampur menjadi satu.




Sebetulnya aku sudah ingin merayunya supaya Rere tenang dan mau mendengarkan penjelasanku, tapi kuurungkan. Permainan logika Rere harus diimbangi dengan logika juga.




Aku memang merasa bersalah karena sudah membohongi Rere, tapi sikap Rere seperti ini juga membuatku bahagia. Seandainya teman-teman Rere yang lain juga tahu bahwa aku telah membohongi mereka, apakah mereka juga akan sangat marah dan sedih seperti yang dialami oleh Rere? Kuyakin tidak. Sikap Rere seperti ini menandakan bahwa ia juga punya rasa padaku.




“Re, aku…”


“Sudah, Rei. Aku tidak perlu lagi pejelasanmu. Bahasa tubuhmu sendiri sudah menjadi bukti bahwa kamu mengakui telah membohongiku.” hardiknya.




Aku mencoba menenangkan diri, dan menyiapkan hati untuk melakukan serangan balik.




“Aku tidak akan menjelaskan apapun kalau tidak kamu minta, Re. Aku cuma ingin bertanya dan tolong kamu jawab.”


“…” Rere diam sambil mengusapi air matanya.


“Kamu pernah bertanya tentang orangtuaku?”


“…” Rere menggeleng.


“Lalu aku pernah cerita tentang mereka?”


“…” kembali menggeleng.


“Kamu pernah nanya aku punya laptop atau tidak? Pernah bertanya smartphone-ku merk apa? Pernah bertanya jam tanganku pabrikan mana?”




Rere tercenung, lalu menggeleng lemah. Ia sepertinya sudah menangkap ujung dari pertanyaanku. Aku semakin kagum dan sayang dibuatnya. Rere memang memiliki kecerdasan yang spesial.




“Kamu pernah bertanya kenapa aku berpakain sederhana, dan aku menjawab bahwa aku tidak punya baju yang lebih bagus?”




Kali ini Rere melengos membuang muka. Ia tidak mau mengiyakan maupun berkata tidak. Kusembunyikan senyumku karena aku mulai berada di atas angin.




“Kamu pernah bertanya kenapa aku balik ke Ewer, dan aku menjawab alasannya?”


“Bodo!!! Pikir sendiri!!!”




Jawaban ketusnya membuatku auto ketawa, dan gadis itu mendengus marah. Ekspresi sebal, kesal, dan marah terpancar dari wajah cantiknya yang masih sembab karena sisa air mata.




“Kamu pernah nanya ke aku tentang oma? Atau, bertanya pada oma tentang aku?”


“Gak mau jawab! Huuuh!!!”




Rere manyun. Ingin rasanya aku menangkup kedua pipinya karena gemas, tapi sebisa mungkin aku menahan diri. Misiku untuk mendapatkan cintanya belum selesai, aku masih memerlukan jawaban.




“Maka…” aku tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Rere melengos tidak mau melihatku. Ia sepertinya sudah tahu apa yang akan kusampaikan.


“Berbohong itu adalah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Kesimpulannya, aku tidak pernah berbohong karena aku tidak pernah mengatakan apapun tentang itu semua kepadamu. Oke fine, kamu pernah melihat barang-barangku di dalam kamar, tapi apakah aku pernah bilang ke kamu bahwa aku tidak punya itu semua?”




Rere bungkam sebungkam-bungkamnya. Ia sudah kalah telak. Sikap diamnya malah terlihat lucu di mataku, ekspresinya sangat menyukakanku.




Kini saatnya aku menjebak Rere apakah ia juga mencintaiku atau tidak.




“Re, apakah teman-temanmu juga curiga tentang aku?”


“Kenapa nanyain mereka, gak ada hubungannya dengan yang kita bicarakan.” ia seolah punya celah untuk melakukan serangan balik. Rere memang pernah bilang kalau ia tidak suka ngomongin orang lain.


“Jawab aja, Re, simpel kok.” aku mendesak supaya ia menjawab.


“Nggak!!”


“Apakah ada di antara temanmu yang bilang bahwa aku itu pembohong?”


“Nggak ada!!”


"Seadainya.. ini mah seandainya, ya Re. Seandainya mereka tahu siapa aku yang sebenarnya, apakah mereka akan marah dan membenci aku?”


“Ya nggaklah, ngapain juga marah. Siapa kamu!!!”


“Makasih, ya Re.” kuberikan senyum terindah dengan setulus hati.


“Heh?! Makasih kenapa?” ia tidak sadar sedang kujebak.


“Jadi selama ini kamu adalah satu-satunya orang yang merasa kubohongi, walaupun aku sendiri tidak merasa telah berbohong, dan kamu marah. Itu tandanya kamu sangat perhatian padaku dan….”


“Heh!!” Rere langsung menghadapku dengan telunjuk mengacung di depan muka.


“Aku gak pernah yah sayang ama kamu.” matanya melotot dan bibirnya bergetar. Aku tersenyum, bahasa tubuhnya menunjukan bahwa saat ini Rerelah yang sedang berbohong.




Kubalas sorotan mata Rere sambil tetap tersenyum. Ia mengerjap beberapa kali seolah sedang menyembunyikan apa yang ia rasakan. Telunjuknya yang tadi keras menunjuk, perlahan menjadi lemas dan turun. Kini kedua telapak tangannya terkepal di atas pangkuan.




Sikap galak Rere berubah kikuk. Ia menunduk dengan kedua pipi berubah merah.




“Aku sayang kamu, Re.” ujarku sungguh-sungguh.




Rere menatapku sebentar tapi kemudian menunduk kembali, ia seolah tidak sanggup membalas sorot mataku.




“Aku sama sekali tidak bohong tentang perasaanku, jadi tolong kamu jawab juga dengan jujur. Dan kalau kamu mau menerimaku, kamu akan tahu dengan sendirinya siapa aku.” ujarku.


“Huuh!!! Siapa juga yang mau menerima kamu.” Rere menjawab ketus, tapi bahasa tubuhnya bertentangan dengan apa yang ia ucapkan. Wajahnya semakin merah padam.


“So, apa yang harus kulakukan untuk membuktikan bahwa aku serius, Re?” aku mulai tidak sabar.




Ditolak itu menyakitkan, tapi setidaknya sudah tahu apa yang terjadi dan dirasakan. Sedangkan sekarang aku merasa kalang kabut karena belum mendapat kepastian tentang jawaban cintaku.




“Kalau kamu serius, perkenalkan aku pada orangtuamu. Aku mau kamu nembak aku di hadapan orangtuamu.” Rere menantangku.




Suaranya sudah melunak, tapi aku tidak tahu apakah ia sedang serius atau tidak.




“Memangnya kamu akan nerima cintaku kalau aku nembak kamu di hadapan orangtuaku?”


“Yaudah kalau tidak berani.” Rere sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.


“Baiklah. Kalau aku telpon sekarang, nanti malam orangtuaku sudah bisa ada di sini loh.” aku percaya diri. Aku yakin mamah atau ayah tidak akan menolak untuk tiba-tiba datang ke Ewer. Aku tinggal merayu Nzi supaya mengajak mereka. Adikku malah akan senang jika disuruh harus datang ke Ewer. Hahaha…!!


“Sok telpon.” Rere menantang, ia tahu aku tidak pernah membawa handphone saat bepergian.


“Pinjem hapemu, aku hafal kok nomor mamah dan ayah.” kubuka telapak tangan.




Kali ini Rere yang ragu, tapi akhirnya ia membuka kunci layar smartphonenya dan menyodorkannya padaku.




Sigap aku pun menekan serangkaian nomor telpon mamah. Belum juga aku mengetik lengkap, langsung muncul nama “Bu Callysta” pada daftar kontak. Spontan aku menggigit bibir dan tubuhku bergetar karena menahan tawa.




“Kenapa?” Rere penasaran dan mencoba melihat layar, tapi langsung kujauhkan.


“Kenapa kamu ketawa-tawa?” Rere bingung.


“Kamu kenal mamahku, Re.” ujarku.


“Haaah? Siapa?”




Rere terbebalalak, lalu berusaha merebut smartphonenya, tapi aku berhasil menghindar dengan menjauhkan tangan. Rere semakin memaksa, tubuhnya yang condong membuatnya sedikit terhuyung dan terjatuh dalam pelukanku.




“Eh…” Rere malu dan langsung mau menjauh.




Tapi kutahan pinggangnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiriku tetap terulur jauh agar Rere tidak bisa meraih smartphonenya.




Wajah kami cukup dekat, dan sorot mata kami beradu. Kutahan berat tubuhnya dengan tetap memeluk pinggang rampingnya, sedangkan Rere sendiri menumpukan tangan pada bale-bale tanpa mau memelukku.




Sudah lama aku mengagumi Rere, sudah sering kami bersama, tapi baru kali ini kami bertatapan sangat dekat. Jantungku langsung berdebar melihat paras cantiknya. Rere pun bagai tersirep menatapku, sorot matanya perlahan menjadi sayu.




Aku merunduk, dan wajah Rere berubah kaku. Aku mendekat, mata sayu Rere terbelalak. Nafas kami beradu, lalu diam setelahnya. Gadis cantik dalam pelukanku nampak menahan nafas.




Inginku adalah mengecup bibir indahnya, tapi kuurungkan. Sasaran ciumanku kualihkan pada keningnya. Jantungku kian berdegup ketika bibirku semakin dekat. Tiba-tiba…




“Iiiih…” Rere sadar dan langsung menghindar.




Namun ia tidak menjauh, kedua tangannya langsung membelit bahuku, dan wajahnya disusupkan pada dadaku.




“Siapa kamu, berani-beraninya mau nyium aku?” ujarnya. Namun nadanya lebih berupa rajuk malu dari pada protes.


“Siapa kamu, berani-beraninya meluk aku?” aku menggoda dengan membalikan kata-katany.




Rere pun menggelinjang untuk melepaskan pelukan, tapi kutahan. Ia meronta, tetap kutahan. Rere mengalah diam. Wajahnya semakin terbenam. Nafasnya tersengal.




“Aku sayang kamu, Re.” tulusku sekali lagi.


“Aku.. aku juga…” terdengar suara Rere pelan dan malu-malu.


“Apa, Re?” kaget dan bahagia bercampur menjadi satu. Kaget karena aku sendiri belum yakin bahwa Rere punya rasa yang sama sepertiku, dan tentu saja aku bahagia karena cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.


“Jadi kamu mau jadi pacarku?” tanyaku lagi.




Kurasakan Rere mengangguk dalam pelukanku. Segera kudorong bahunya agar pelukan kami terurai. Rere mengangkat wajah. Sorot mata kami beradu.




Hanya sebentar. Rere kembali memelukku, kali ini tangannya melingkari leherku dan wajahnya ia sembunyikan di atas pundakku.




Kami saling dekap cukup lama. Aku bahagia, Rere malu. Tanpa sungkan lagi kukabarkan rasa sayangku dengan mengecupi kepala Rere. Sekali-kali kuusap juga punggungnya, kutekan lebih dalam ketika melewati tali behanya.




Karena Rere masih saja mendekapku dan tidak mau berpandangan, akhirnya pikiran usilku muncul. Kukirim pesan kepada mamah supaya menelpon ke nomor ini, aku tidak yakin apakah mamah juga menyimpan nomor Rere. Tapi intinya aku bilang bahwa aku adalah Rei dan aku aku meminta mamah menelpon karena ini adalah nomor calon menantunya.




Setelah ada tanda terkirim, segera kututup aplikasinya dan kuletakan smartphone di atas bale-bale. Satu menit, dua menit.. mamah tak kunjung menelpon. Aku gregetan jadinya. Mamah pasti belum membuka smartphonenya.




Tapi aku terhibur karena Rere akhirnya menggerakan tubuh, ia menatapku. Kesal, gemas, dan sayang terpancar di sana.




“Eh bentar.. bentar…” tiba-tiba Rere melepaskan pelukan, dan mendorongku sehingga hampir terjengkang di atas bale-bale saung.


“Re, kenapa?” heranku.




Rere sudah berdiri sambil berkacak pinggang, matanya melotot, walaupun aku tahu ekspresi marahnya seperti dibuat-buat.




“Kamu bilang gak pernah bohong, Rei? Iya? Aku punya bukti.” ia mengerling penuh kemenangan.


“Kamu apaan sih, Re? Aku kan…” aku urung menyanggah ketika telunjuk lentiknya mendorong dadaku agar tidak mendekat.


“Aku baru ingat sekarang, kamu pernah bilang dan itu keluar dari mulutmu sendiri kalau kamu itu cuma lulusan SMA dan bekerja sebagai buruh pabrik.” sorot mata Rere berbinar seolah menemukan celah untuk membenarkan pendapatnya bahwa aku adalah seorang pembohong.


“Jadi, aku.. aku….”


“Bodo!! Yang penting sekarang kamu sudah menerima cintaku.” aku memotong sambil mengerling.


“Reiii!!!!” Rere kesal dan kedua tangannya melayang untuk mencubitiku.




Aku beringsut mundur ke dalam saung, dan ia mengejar. Dan… Yihaaa mamah telah menyelamatkanku dengan menelpon di saat yang tepat. Kulihat namanya tertera pada layar.




Rere sendiri nampak kaget karena dosennya menelpon.




“Rei, please kamu diam yah, dosenku menelpon.” pintanya, wajah galaknya berubah memelas.


“Lah emangnya kenapa kalau dosenmu menelpon, ya angkat aja.” aku pura-pura polos.


“Iya ini aku mau angkat, tapi kamu diam dan jangan rese. Dia itu galak kalau omongannya tidak disimak dengan baik.” ujarnya.




Pffffttt!! Aku hampir ngakak, tapi sebisa mungkin kutahan. Rere mendelik, ditariknya nafas dalam-dalam, lalu ditekannya tombol jawaban.




“Hallo selamat pagi, Bu.”




Seorang Rere yang galak dan judes tiba-tiba berubah jadi manis ketika menjawab panggilan mamah. Senyumnya menyembang dan kepalanya mengangguk, padahal kalaupun ia jungkir balik pun mamah tidak akan melihat.




“….”


“Baik semuanya, Bu, terima kasih. Ibu sendiri apa kabar?”


“…”




Rere tidak tahu bahwa tubuhku bergetar dan mataku berair mendengar percakapan mereka. Ia memang sedikit menjauh dan membelakangiku.




Aku sendiri tidak bisa mendengar suara mamah, tapi dari jawaban Rere sepertinya mereka masih basa-basi seputar kegiatan KKN Rere.




"Kenapa harus di loud speaker, Bu? Saya sedang bareng teman.” Rere nampak kikuk lalu melirik ke arahku. Sepertinya mamah meminta supaya Rere me- loud speaker.


“…”


“Iya, Bu. Bbaik.. nih saya ubah.” Rere tidak bisa mengelak.


“Ini kamu sedang kerja atau di mana?”




terdengar suara mamah.




“Eu.. Ii.. ni, Bu. Saya sedang di Tanah Merah bareng teman.” Rere gugup, dan aku senang bahwa Rere tidak berbohong.


“Teman siapa? Kamu di sana KKN atau jalan-jalan?”


“Hallo, Bu, saya Rei, pacarnya Rere.” aku sigap menyahut.


“Rei!!” Rere nyaris keceplosan membentakku, tapi ia keburu sadar dan berhasil meredam nada suaranya.


“Oh.. jadi teman-temanmu kerja, sedangkan kamu asik-asik pacaran, ya Re? Siapa itu nama pacarmu? Rei? Ibu bilangin ke dosen pembimbingmu kalau kerjamu tidak bener.”


“Euu.. maaf, Bu.” Rere benar-benar menunduk dengan wajah pucat. Ia seolah sedang benar-benar berada di hadapan mamah.


“Maaf, Bu, aku yang salah, bukan Rere. Aku yang mengajaknya pergi tadi.” aku kasian juga melihat Rere seperti itu. Mamah memang keterlaluan, kan tidak harus bersandiwara seperti itu juga.


“Heh? Siapa kamu? Berani-beraninya mengganggu kegiatan mahasiswa saya.” mamah menghardikku.


“Saya pacarnya Rere, Bu. Tepatnya baru jadian sih hehee. Tapi Rere minta keseriusanku agar aku menembaknya di depan orangtuaku.”


“Rei!!” Rere nampak geram dengan suara tertahan.


“Maaf, Bu, sssaya…” Rere malah gugup dan bingung sendiri.


“Oh jadi kamu baru jadian, Re? Bener kamu minta syarat begitu ke pacarmu?”


“Iiiya, Bu, maaf.”


“Heuuh.. dasar anak muda. Suruh praktek lapangan malah nyari pacar. Siapa pacar barumu itu?”


“Rei, Bu.”


“Anak mana?”


“Anak asli Ewer, Bu.”


“Anak siapa?”


“Eeu.. anaknya.. anaknya… anu, Bu, cucunya oma.”




Aku pun nyaris lepas kontrol tertawa, tapi masih bisa kutahan.




“Yang ibu tanya adalah, si Rei itu anaknya siapa? Ibu kan sering ke Ewer juga, jadi tahu semua warga di sana.”




Rere menatapku dengan ekspresi memelas, ia butuh jawaban segera.




“Anaknya ibu.” suaraku pelan, tapi aku yakin mamah mendengarku, karena memang itu yang kumau.


“Anaknya ibu.” jawab Rere pada mamah.


“Ibu siapa?”




Rere menatapku lagi.




“Anaknya Bu Callysta.” ujarku lagi.


“Anaknya Bu Callysta.” Rere meneruskan jawabanku pada mamah dengan polosnya.




Mamah tidak langsung menyahut, aku yakin ia sedang menutup mulut agar tawanya tidak terdengar. Sedangkan Rere seolah baru sadar telah aku kerjai. Tubuhnya langsung lemas dan langsung terduduk di atas tanah. Aku pun langsung meloncat turun dari atas bale-bale dan membantu Rere berdiri, dan memapahnya supaya duduk di dalam saung.




Mamah masih belum berbicara, Rere nampak masih gugup.




“Mmaaf, Bu, jangan tersinggung. Itu tadi saya dikerjain si Rei.” akhirnya Rere bisa berujar.


"Oh gitu? Yaudah gak apa-apa. Mungkin maksudnya wallysta, bukan callysta." mamah pandai mengalihkan, padahal aku tahu keduanya merujuk pada orang yang sama.


“Iiya, Bu.” Rere terlihat lega. Diusapnya keringat yang menyembul pada pelipisnya.


“Kamu sayang dia, Re?”


“Bbuuu…”


“Kamu sayang dia?”


“Sayang, Bu.”


“Bener kamu minta si Rei supaya menyatakan cintanya di depan orangtuanya?”


“Eh.. kalau itu nggak, Bu. Aku tidak sungguh-sungguh, cuma ingin membuktikan keseriusan dia aja. Ini tadi Rei mau menelpon mamahnya, tapi ibu keburu nelpon.”




Aku pun terharu mendengar pengakuan Rere. Padahal kalau aku yang bertanya seperti itu, ia pasti tidak akan mengakuinya. Segera kupeluk tubuh kekasih baruku dari belakang, ia hanya mendelik protes tapi tidak menghindar karena taku terdengar oleh mamah di seberang sana.




"Oh gitu. Tapi intinya kamu sayang rei, kan?" dalam keadaan normal Rere akan curiga kenapa dosennya bertanya soal urusan pribadi. Tapi kali ini kecerdasan Rere turun beberapa strip.




Rere menatapku, lalu mendelik. Namun ia hanya bisa pasrah karena yang bertanya adalah dosennya.




“Re?”


“Iya, sayang Bu.”


“Sama. Ibu juga sayang.”


“Mmmaksud ibu?” Rere kembali gugup.


“Ya ibu juga sayang ama si Rei. Karena sekarang dia udah jadi pacarmu, ya ibu juga mau tidak mau harus sayang kamu. Hihi…”




mamah sepertinya sudah tidak bisa menahan diri.




“Mmmaksud ibu?” Rere malah semakin bingung.


“Aku juga sayang mamah.” aku nyeletuk, dan Rere terbelalak. Mulutnya terbuka. “Mah, aku sayang Rere, dan aku mohon restu mamah untuk menjadikan Rere sebagai kekasihku.” lanjutku lagi.


“Iya. Selamat, ya sayang, kamu sudah menemukan tambatan hatimu. Kamu jaga Rere, awas kalau kamu macem-macem.”


“Siap, Mah.”


“Re, kamu kok diam aja, sayang?”


“Iiibbu… Bu Callysta mamahnya Rei?”


“Iya, sayang. Rei gak pernah bilang yah? Biar ibu aja yang jewer dia nanti, kamu gak usah. Tugasmu adalah menyayangi anak ibu. Hehee…”


“Iiya, Bu.. eh Tante.. Eh maaf.. Iya, Bu.”


“Hihi.. Tante aja. Mamah juga boleh. Manggil ibu kalau di kelas saja.”


“Iiiya, Tante. Makasih.”


“Yaudah kalian pasti baru jadian banget ya. Terusin gih mesra-mesraannya, cieee.. anak mamah udah gak jomblo lagi.”


“Maaah. Apaan sih?”




Mamah pun menasihatiku dan Rere supaya saling rukun dan setia, saling jaga dan saling mengingatkan satu sama lain.




“Daaah.. mamah mau masuk kelas. Kalian baik-baik ya. Dadah Rei, dadah Rere.”


“Daah, Mah.”


“Dadah, Bu. Eh Tante.”




Klik.




Usai menutup telpon Rere langsung lemas dan membaringkan tubuhnya di atas bale-bale. Nafasnya tersengal dan ia menatapku antara shock, tidak percaya, gemas, dan juga kesal.




Kuusapi kepalanya dengan lembut.




“Maaf, ya Re. Tapi sekarang udah tahu kan siapa orangtuaku?” ujarku lembut.


“Aku sudah memenuhi permintaanmu, untuk menyatakan perasaan sayangku di hadapan orangtuaku. Yeah walaupun hanya sebatas lewat telpon, dan baru dengan mamah.” ujarku lagi.


“Kamu jahaaat. Hiiiiksss…” Rere menangis.




Langsung kuangkat bahunya dan kupeluk erat.




“Nyebelin!! Kesel tahu!!” setelah air matanya reda ia menggerutu.




Aku tidak menanggapi ungkapan kekesalannya. Kukecup keningnya dan ia memejamkan mata. Kecupan pertama sebagai sepasang kekasih.




“Kamu itu pembohong!! Tapi akunya sayang.” ia merajuk.


“Kamu tuh galak, lebih galak dari mamah. Tapi akunya sayang.” aku merayu.




Rere memonyongkan mulutnya dengan kedua pipi menggelembung. Kuusap ujung bibinya dengan ibu jari.




“Boleh?” aku meminta ijin.




Wajah Rere berubah bersemu merah, lalu mengangguk pelan. Aku merunduk. Mulut dan mata Rere berbanding terbalik. Matanya redup terpejam, sedangkan bibirnya sedikit terbuka.




Cuuuup!!!




Bibir kami bersentuhan halus, Rere sedikit menggelinjang, kedua telapak tangannya terasa mencengkeram. Setelah beberapa detik, aku mulai mengulum dan Rere membalas lembut. Aku pun akhirnya ikut memejamkan mata untuk meresapi indahnya percumbuan ini. Seorang Rere yang kuimpikan, kini sudah menjadi milikku.




Syahdu kami saling memadu kasih, saling mencecap luapan kasih sayang, saling menghisap gelegak rindu yang selama ini sama-sama kami tahan.




“I love you, Re.”


“I love you too, Rei.”




Kami saling mengabarkan rasa sayang di sela sengal nafas dan bibir basah selepas saling berpagutan.




“Kita pulang?”




Rere menggeleng, ia malah mendekapku erat. Ia masih belum ingin meninggalkan saat-saat indah penyatuan cinta kami. Bagai anak kecil yang sudah lama tidak ketemu ibunya, ia membenamkan kepalanya di atas bahuku dengan nyaman.




“Rei.”


“Iya, sayang?”




Rere mendongak mendengar aku memanggilnya dengan sebutan baru. Senyumnya terulas, dan sorot bahagia terpancar dari kedua bola matanya yang bening.




“Jangan pernah berubah. Tetaplah jadi Rei yang sederhana, Rei yang selama ini kukenal, walaupun aku sudah tahu siapa kamu.”




Aku mengangguk sambil tersenyum. Rere pun tersenyum lalu dikecupnya ujung daguku.




“Ini kalung apaan, sayang?” Rere pun mulai memanggilku dengan sebutan sayang. Tangannya terulur untuk mengeluarkan bandul kalungku.


"Cuma kalung hiasan.” ujarku.


Rere menggenggam dan meneliti siung harimau yang sudah ia keluarkan dari balik kaosku, ujarnya "BERSAMBUNG yuks… aku pengen…”



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar