Bab 7
Aku masih harus menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk membuat Rere tahu bahwa aku punya rasa. Aku rela menunda, yang penting saat ini tidak terjadi pertikaian antara Rere dan Inka. Semalam aku sempat kesal karena sepupuku tiba-tiba muncul saat aku mau menyatakan rasaku pada Rere. Malam itu ia pergi, dan aku berhasil menyusul, tapi sampai saat ini aku tidak pernah tahu mengapa ia berlinang air mata. Ia tidak pernah mau bilang.
Aku berhasil membujuknya untuk kembali masuk ke dalam rumah untuk berkenalan dengan Rere. Perjumpaan yang cukup kikuk, namun mulai mencair ketika kami makan malam di rumah oma bersama teman-teman yang lainnya. Aku merasa lega ketika keduanya bisa mulai akrab. Namun entah rahasia apa yang ada dalam hati mereka; aku tidak bisa menebak. Mereka mudah akrab, tetapi juga seperti saling cemburu. Ah.. yasudahlah!
Sabtu tiba. Semua sudah siap. Vian dan Indra menjadi komandan perjalanan, dan langkah pertama kami lakukan. Tas ransel kami gendong, dan tongkat kami ayunkan. Terima kasih kepada teman-temanku dari Ewer, mereka sudah membawakan tenda ke bukit Beha subuh tadi sehingga bisa mengurangi beban yang harus kami bawa.
“Rei, aku seneng banget.” Inka tersenyum cerah.
“Hmm.” aku membalas senyumnya.
“Udah gitu doank?”
“Hehee.. iya aku juga seneng.”
“Seneng karena ada Rere, yah?”
Haiiish. Kalau berbicara berdua seperti ini, Inka seolah tidak suka pada gadis itu. Padahal kalau ada Rere, mereka bukan hanya saling berbicara, tapi juga sudah bisa bercanda.
Kudorong tas punggung Inka agar memperpanjang langkah, dan tidak tertinggal oleh teman-teman yang lain. Kami sudah menyeberangi sungai, dan mulai menaiki jalan setapak di ujung barisan pesawahan.
“Mau kubawain tasnya, Ka?” aku menawarkan diri.
“Nggak. Kamu bawain punya Rere aja gih, kasihan dia.” sindirnya.
Aku mendengus kesal mendengarnya. Setelah berkata begitu ia langsung setengah berlari meninggalkanku, dan bercakap-cakap dengan Agus dan Donna.
Canda tawa terdengar, teman-temanku nampak senang, langkah mereka masih gesit. Usai melewati pesawahan, kami berbelok menyusuri parit besar. Kini aku bisa melihat barisan pematang sawah di bawah sana, menghijau indah. Sedangkan di atas kami berderet perkebunan kapulaga.
“Rei, jangan jauh-jauh.” tiba-tiba Rere memanggilku.
Ia menghentikan langkah, dan menungguku yang berjalan paling belakang. Inka melirik dengan ekspresi datar, namun ia pandai menyembunyikan.
“Payah kamu. Katanya pemuda kampung, tapi baru jalan segini aja udah kepayahan.” ujar Rere ketika aku berhasil menyusulnya.
Sejak kejadian semalam, Rere sudah lebih ramah, dan tidak memasang muka jutek lagi. Tapi itu hanya kalau ada Inka, sedangkan kalau tidak ada sepupuku, Rere cenderung pendiam. Tidak galak, tetapi juga seperti masih enggan ngobrol banyak denganku.
“Aku menikmati pemandangan, Re, bukan karena capek.” ujarku sambil menatap gadis itu.
“Huuh.. alasan!”
“…” nyengir.
Rere nampak cantik pagi ini. Ia mengenakan celana jeans setengah paha. Bagian atas mengenakan kaos dengan rompi yang berbahan sama dengan celananya. Ia juga memakai topi bertuliskan “SP” yang aku tidak tahu artinya, mungkin nama sebuah klub sepakbola favoritnya; atau mungkin juga berarti “suwir pagina”. Entahlah, itu tak penting bagiku. Aku lebih tertarik pada leher indahnya yang kini terlihat basah oleh lelehan keringat. Rambutnya yang dikuncir kuda membuat aku semakin bisa mengagumi kecantikannya.
Gadis itu nampak risih melihat sorot mataku, tanpa berbicara lagi ia pun melanjutkan perjalanan. Kini langkahku lebih panjang, bukan karena takut ketinggalan, tapi supaya lebih dekat pada Rere. Pinggul ketat dan paha putihnya sangatlah seksi. Konon, pria melangkah itu bukan kemana ia hendak menuju, namun kemana bokong yang diikutinya melangkah.
Setelah menyusuri tepian parit, kami pun kembali menyusuri jalan menanjak, menerobos perkebunan kopi yang buah-buahnya sudah memerah.
“Re, lihat tuh.” ujarku.
Rere mengikuti arah tongkat yang kuacungkan pada buah kopi yang merah merekah. Ia mengernyit tidak mengerti.
“Buah kopi?”
“Iya. Kamu lihat deh, kopinya dikerubuti semut.” jawabku.
“And?”
“Itu menjadi bukti kalau kopi itu manis.”
Rere mendelik, kedua pipinya langsung bersemu merah. Tanpa menanggapi, ia langsung berbalik dan melangkahkan kaki jenjangnya kembali. Aku kembali fokus pada pinggulnya, jalanan menanjak membuatku bisa lebih leluasa menikmati bongkahan perabotannya yang satu itu. Aku juga mencermati di mana ujung cetakan celana dalamnya berada. Dan aku kagum.. tepian kiri dan kanannya simetris, pertanda tidak ada bagian yang terselip.
“Mau kubawain tasnya, Re?” aku menawarkan diri ketika beberapa kali ia membetulkan ranselnya.
“Nggak. Kamu bawain punya Inka aja gih, kasihan dia.” ia seperti menyindir.
“…” aku bungkam. Tak habis pikir kenapa jawaban Inka dan Rere bisa sama.
Perjalanan tersendat ketika Vian menurunkan tasnya dan mengeluarkan botol minum. Bukan untuk dia, tapi untuk Nose kekasihnya. Deheman dan siulan menggoda pun terdengar, tapi keduanya tidak peduli. Dua teman baruku itu malah seolah semakin sengaja menunjukan kemesraan mereka. Usai minum, langkah selanjutnya keduanya saling bergandengan tangan.
Rasanya aku pun ingin menggandeng Rere. Kalau ia tidak mau, mendorong bokongnya dari belakang pun aku rela.
Kami pun tiba di sebuah dataran, namun bukan akhir dari perjalanan. Tanjakan lebih terjal menanti di depan. Kami rehat sejenak, duduk di atas rerumputan.
“Minum, Rei.” Inka dan Rere bersamaan menyodorkan botol minum.
“Eheeem.” langsung terdengar deheman teman-teman yang lain.
Aku heran, kulirik Rere dan Inka. Aku memang haus dan tidak membawa botol minum, tapi bingung harus menerima tawaran siapa.
“Punya Rere aja.”
“Punya Inka aja.”
Ujar mereka kembali bersamaan dan menarik botol masing-masing, lalu kompak meneguk isi botol mereka. Tawa teman-temanku pun terdengar.
“Makasih.” ujarku pada keduanya sambil menelan liur untuk membasahi tenggorokan.
Keduanya seperti tak acuh. Kurebut botol dari tangan Inka dan kutenggak isinya. Ada senyum yang Inka berikan, sedangkan Rere hanya melirik seolah tidak peduli.
“Memang saudara itu selalu yang utama, Re. Hihi…” Inka meledek Rere.
“Yee.. memang udah seharusnya begitu. Lagian kan aku bukan saudara kalian.” jawab Rere.
“Ciee.. Rere jealous.” ujar Inka sambil berusaha mengelap ujung bibirku yang basah, tapi aku berhasil menghindar.
Teman-temanku tertawa. Kulihat pipi Rere sedikit memerah, tapi ia terlalu pandai menyembunyikannya. Gadis itu langsung mengusap wajahnya dengan tissue seolah sedang mengelap keringat.
"Sorry , ya Ka, ngapain juga aku harus jealous , aku gak suka tuh ama sepupumu. Gak tahu kalau dia!” ketus Rere.
Hmm.. apakah ini sebuah kode? Andai saja dia memang berharap aku menyukainya, itu akan sangat menyenangkanku.
“Si Rei sih pasti suka, Re, tapi aku harus setuju apa nggak yah?” Inka mengerling ke arahku dan Rere.
"Sorry!!” Rere semakin ketus.
Inka tertawa meski sinar matanya sulit kutafsirkan; pun pula semua temanku tergelak. Sepupuku memang luwes, ia bisa kembali mencairkan suasana dengan menggelitik pinggang Rere. Awalnya pura-pura marah, lalu sama-sama tertawa.
Menyaksikannya aku malah kikuk sendiri. Tanpa kata aku menjauh sambil menyulut sebatang rokok. Indra ikut-ikutan, dan kami berdua merokok sambil melihat ke arah pesawahan yang tadi kami lewati.
“Aku bangga sebagai keturunan Ewer, Ndra. Yeaah walaupun aku tidak bisa selamanya tinggal di sini.” ujarku.
“Sama, Rei, makanya aku memilih tidak merantau ke kota.” sahabatku mengamini.
Kami bernostalgia tentang masa kecil dulu, ketika kami sering bermain bersama saat aku libur sekolah dan pulang kampung. Kini peradaban sudah semakin modern, tapi warga Ewer tetap mempertahankan unsur-unsur tradisional yang mereka miliki. Ayahku sangat berperan dalam hal ini, dan aku bangga.
“Aku punya ide untuk menjadikan Ewer semakin memiliki kekhasan, Ndra. Bisa mengikuti perkembangan zaman, tapi juga tetap mempertahankan kearifan lokal.” ujarku sambil menghembuskan asap rokokku.
“Maksudmu, Rei?”
“Yeah.. mempertahankan tradisi bukan berarti menolak teknologi. Aku pikir sudah saatnya kalian melakukan sistem komputerisasi, tidak seperti sekarang, administrasi saja masih manual.” aku menjelaskan, dan Ndra menyimak dengan tetap melihat ke arah kejauhan.
Aku tahu bahwa warga ewer sudah melek teknologi, tapi itu baru sebatas televisi dan smartphone. Generasi baru warganya juga sudah mengenal internet. Kusampaikan ideku pada Indra untuk menggunakan jaringan komputer dan internet dalam sistem administrasi kopi dan segala jenis usaha warga lainnya. Jika perlu, tidak ada salahnya jika menjadikan Ewer sebagai kampung tekhnologi, di mana setiap orang bisa mengakses internet secara gratis.
“Gimana, Ndra?”
“Aku sih setuju, sangat setuju, tapi…”
“Aku juga setuju.” tiba-tiba Vian sudah ada di belakang kami. Ia nampak antusias mendengar percakapan antara aku dan Indra.
“Gini, Rei…” Vian bersemangat. “Kemarin kamu kan bilang waktu di saung tentang kontribusi apa yang bisa kami berikan untuk Ewer. Aku pikir sekarang aku sudah menemukan jawabannya, dan itu atas ide kamu sendiri. Kalau dibolehkan, gimana kalau ini menjadi proyek KKN kami? Tentu saja kami akan melibatkan kalian semua.”
Aku sangat senang mendengar penuturan Vian. Ideku sepertinya langsung mendapat jalan untuk langsung bisa diwujudkan. Indra sendiri nampak tidak keberatan.
“Nanti kita obrolin kalau udah nyantai, sekarang kita lanjutkan perjalanan mumpung belum terlalu panas.” tutur Indra.
Vian pun tepuk tangan kepada teman-teman untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Kami kembali mendaki jalan setapak yang kali ini cukup terjal, dan aku kembali berjalan paling belakang.
Lima belas menit kami masih bergerombol, tiga puluh menit kemudian mulai terpencar karena kemampuan fisik yang berbeda. Sisanya aku dan Rere tercecer berdua di belakang. Ia nampaknya tidak terbiasa berjalan kaki di medan seperti ini.
Aku berhenti ketika gadis itu menghentikan langkah kakinya. Ia duduk di atas undakan jalan dengan nafas tersengal, pelipis dan lehernya bercucuran keringat.
“Yaaah abis.” keluhnya, ketika melihat botol minumnya sudah kosong.
“Lagian kalau jalan kaki gini jangan banyak minum air, Re, yang ada malah bikin kembung.” ujarku sambil sedikit melirik gundukan di pangkal pahanya karena ia duduk sedikit mengangkang. Kutaksir gelembungannya sebesar kepala bayi luwak.
“Ya kalau haus masa gak minum?!” ia cemberut.
Aku celingukan sebentar, begitu melihat pohon pisang, langsung kuambil botol dari tangannya.
“Mau ke mana kamu?” serunya.
“Ambil air.”
Kuhunus golok yang sejak dari rumah terselendang pada pinggang, lalu kupangkas pohon pete hutan dan kulancipkan ujungnya. Kutusuk pohon pisang dan kutampung airnya. Tusukan pertama langsung muncrat, tusukan kedua masih ngecrot. Setelah lima tusukan dan botol bisa terisi setengah, aku pun kembali.
“Nih minum.” kusodorkan botol pada Rere.
“Hah.. steril gak tuh? Kalau aku sakit perut gimana?”
“Mau gak? Kalau gak mau biar aku aja yang minum.” aku berlagak mau minum.
“Iya.. iya sinih.”
Rere pun merebut botol dari tanganku dan langsung meneguknya.
“Sepeeeet!!!” ia menjulurkan lidahnya.
Belum juga aku mau mengambil botol itu, Rere langsung meneguknya kembali.
“Katanya sepet?”
“Haus hehee.”
Aku menggelengkan kepala. Sebetulnya aku juga haus tapi melihat wajah cantik Rere sudah cukup untuk menghilangkan dahagaku.
“Hiyaaaa…!!” Rere menjerit ketika tas gendong yang ia letakan di sampingnya tiba-tiba menggelundung.
Aku berusaha menahan dengan kaki, tapi malah terpeleset dan tubuhku oleng. Aku pun terjatuh dan langsung menggelosor ke lereng tebing.
“Rei!!” Rere panik.
Sigap aku menyambar sebuah pohon dan aku pun gagal terjun bebas. Aku bernafas lega dan jantungku berdegup kencang. Aku tak kalah paniknya dengan Rere. Tapi aku harus menunjukan diri sebagai lelaki hebat. Susah payah aku berdiri.
“Rei.. haduh.. kamu hati-hati donk.” Rere terlihat begitu khawatir dan langsung mengusapi bajuku yang kotor.
Nafas Rere malah lebih tersengal daripada nafasku, ia nampak begitu merasa bersalah.
“Sudah.. sudah.. aku tidak apa-apa kok.” ujarku.
“Kalau kamu terpeserosok gimana coba?”
“Buktinya kan nggak.”
“Reeii!”
Ia melotot. Rere marah bukan karena benci, tapi karena ia mengkhawatirkanku. Aku senang melihatnya.
“Rei!!” teriaknya lagi.
“Apa?”
“Tuh.” aku mengikuti arah telunjuknya.
Nampak tas Rere tersangkut rumpun lima puluh meter di bawah kami. Aku pun garuk-garuk kepala.
“Tunggu aku yah.” Rere meraih tongkatnya.
“Aku aja yang ngambil.” aku mendahului Rere menuruni jalan setapak yang tadi kami lalui. Bodohnya, tasku sendiri masih kugendong tanpa kutitipkan pada Rere.
Susah payah aku mengambilnya dan mendaki kembali.
“Makasih, Rei, maaf yah malah bikin kamu hampir celaka dan harus capek turun kembali.” aku tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum.
Rere tiba-tiba berubah lembut dan sikapnya jadi penuh perhatian. Mungkin Rere menganggap diamku karena kelelahan. Ia menyodorkan sisa air dalam botol minumnya.
“Makasih.” lirihku.
Tangan kami bersentuhan, dan kami saling tatap. Kali ini Rere membalas tatapanku cukup lama, ada sinar yang berbeda di sana. Rere yang kukenal telah hilang, berubah menjadi seorang gadis yang berbeda, lembut dan penuh perhatian.
Tanpa komando, kami seperti saling salah tingkah dan Rere melepas tangannya. Sialnya, aku pun melakukan hal yang sama. Botol pun jatuh dan menggelundung ke bawah.
“Hahaaha…” serempak kami tertawa. Sebuah tawa yang sangat lepas untuk menertawakan kebodohan kami, tetapi juga menjadi tanda cairnya hubungan kami yang selama ini sangat formal dan kaku.
“Sini tasnya.” Rere mau mengambil ranselnya yang kuselendangkan di depan dada.
“Biar aku aja yang bawa.”
“Aku masih kuat kok. Aku masih semangat, kan ada kamu.” usai berkata begitu kedua pipinya langsung memerah.
“Kalau bareng kamu aku juga semangat kok.” balasku.
“Apaan sih?!”
Rere memaksa mengambil tas ranselnya dengan wajah semakin bersemu merah. Ekspresinya menyukakanku.
“Re.”
“Iyah?” ia urung melanjutkan langkah dan berbalik kembali kepadaku.
Jantungku kembali berdegup ketika aku berusaha membulatkan tekadku untuk menyatakan perasaanku. Kupikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuat Rere tahu bahwa aku menyukainya.
“Kamu udah punya pacar belum?”
“Kenapa kamu nanya begitu?” ia balik bertanya dengan sedikit senyum terulas.
“Ya pengen tahu aja.”
“Bener hanya ingin tahu?”
“Jawab dulu.” aku mendesaknya.
“Belum.”
Jawaban singkat Rere membuatku senang, tapi juga membuat jantungku semakin berdebar. Kuatur nafas sambil mencari kata yang tepat. Sedangkan Rere menunggu dengan senyum terulas, ia seolah sudah menebak apa yang akan kusampaikan.
“Re, aku…”
“Reiiii!!! Rereee!!!? Kalian di mana?”
Terdengar teriakan Inka dari puncak bukit. Ia mungkin mengkhawatirkan kami berdua yang tak kunjung sampai. Aku dan Rere sama-sama menghela nafas untuk sebuah alasan yang berbeda, mungkin juga sama. Lagi-lagi aku harus gagal mengungkapkan perasaanku untuk kedua kalinya, dan penyebabnya adalah orang yang sama, yaitu sepupuku.
“Reiiii!!! Rereee!!!?”
“Iya. Sebentar lagi kami nyampe.” aku berteriak keras.
Sebetulnya teriakanku sebagai bentuk kekecewaan, bukan karena benar-benar ingin membalas teriakan Inka dan mengabari keberadaan kami.
“Buruaan!!”
“Iyaaaa!!”
“Ayo jalan, Re, hati-hati dan pelan-pelan aja.” ujarku karena Rere masih menatapku sambil tersenyum.
Bukannya naik, Rere malah turun satu langkah mendekatiku. Aku terkesiap ketika tiba-tiba ia membungkuk, dan mengecup pipiku dengan cepat. Bibirnya terasa begitu lembut, dan nafas halusnya membuat poriku meremang. Aku sangat tidak menyangka, dan juga tidak siap.
Rere pun berjalan duluan dengan langkah sedikit lebih cepat. Tidak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan. Mungkin kalau tidak dalam kondisi medan seperti ini ia akan berlari menjauhiku. Tanpa sadar aku mengusap pipi bekas kecupan Rere, dan aku pun tersenyum bahagia. Aku melangkah.. kakiku terasa ringan, perasaanku melayang.
Kami berjalan tanpa saling berbicara, namun aku merasa berbeda. Hati kami sangat dekat satu sama lain. Sekali-kali Rere menengok, dan selalu ada seulas senyum di sana. Akhirnya kami pun tiba di puncak bukit, dan nampak teman-temanku sedang melepas lelah dengan berbaring di atas rumput.
“Kok kalian lama banget sih?” Inka langsung menyambut penuh curiga.
“Itu tadi…”
“Tadi tasku jatuh ngegelundung, Ka, nih lihat.” Rere langsung memotong ucapanku sambil menunjukan ranselnya yang kotor.
Inka nampak kaget sebentar, lalu terlihat lega ketika melihat kami baik-baik saja. Berbeda dengan yang lain, mereka malah menertawakan kami.
Inka menyodorkan botol minum kepadaku dan Rere, dan kami pun meneguknya sampai habis. Setelah merasa cukup beristirahat, Agus pun memberi komando untuk memasang tenda. Total ada tiga tenda yang kami pasang. Setelah semuanya beres, para perempuan langsung menata barang-barang sedangkan para cowok mencari kayu bakar. Aku sendiri menuruni lembah untuk menebang bambu di dekat mata air.
Kutebas rerimbunan ilalang dan ranting-ranting yang menghalangi jalan. Jalur ini akan menjadi satu-satunya akses menuju sumber air. Jaraknya hanya sekitar tiga ratus meter dari tempat berkemah, tapi butuh waktu lama untuk mencapainya karena aku sekalian membuka jalur jalan. Tak lama kemudian Indra datang membantu sehingga pekerjaanku bisa lebih cepat.
Kami berdua tiba di dekat lereng batu yang dari celahnya mengeluarkan mata air. Setelah membersihkan area sekitarnya, kami berdua menebang sebatang bambu. Indra membuat pancuran, sedangkan aku membuat lodong (pengangkut air dari kayu). Lodong terdiri dari tiga ruas. Setelah membersihkan bagian luarnya, kulubangi ruas tengah dengan sebilah kayu yang dilancipkan pada bagian ujungnya. Pekerjaanku semakin cepat ketika Indra selesai duluan melakukan pekerjaannya dan langsung membantuku.
Selesai!! Aku dan Indra duduk di atas kayu besar yang roboh. Kami beristirahat sambil menikmati rokok masing-masing.
“Di sini gak ada binatang buas, kan Ndra?”
“Nggak ada.” jawabnya.
Aku pun bernafas lega mendengarnya, karena sebelumnya aku merasa takut kalau halusinasiku melihat harimau menjadi kenyataan di tempat ini.
“Tapi dulu waktu masih kecil, orangtuaku melarangku datang ke sini.” tiba-tiba Indra bercerita.
“Loh kenapa?” aku melirik heran.
“Konon di daerah sini itu ada sebuah gua, aku sendiri gak tahu sebelah mana, dan gua itu dianggap keramat.”
“Keramat gimana? Ada silumannya?”
“Bukan. Menurut cerita para orangtua, kampung kita punya pelindung. Aku sendiri tidak tahu seperti apa bentuknya, tapi mereka bilang bahwa makhluk itu menitis kepada manusia yang masih dirahasiakan sampai sekarang. Yang jelas mereka masih hidup sampai sekarang.”
Aku terkejut mendengarnya, karena cerita ini baru pertama kali kudengar. Ayah dan mamah saja tidak tahu karena mereka tidak pernah menceritakannya.
“Lalu hubungannya dengan gua itu?” aku semakin penasaran.
“Menurut cerita orangtuaku, penjaga kampung kita itu adalah sepasang suami-istri, dan mereka pernah bercinta di sana. Jadi tidak heran mereka menganggap bukit ini sakral, karena percintaan mereka dianggap sebagai perkawinan semesta yang mempersatukan dunia gaib dan dunia manusia, sekaligus juga mempersatukan Sawer dan Ewer.”
Indra terus bercerita. Banyak hal menarik, dan aku baru tahu bahwa para warga menganggap Sawer dan Ewer itu memiliki hubungan yang istimewa. Para warga malah menganggap Sawer itu sebagai simbol laki-laki dan Ewer adalah simbol dari perempuan. Keduanya terikat oleh sebuah hubungan yang mereka sebut sebagai “perkawinan semesta”.
“Itulah sebabnya, Sawer dan Ewer itu sangat aman dan sejahtera. Sejak aku kecil sampai sekarang, aku tidak pernah mendengar ada kejahatan di kampung kita, dan juga tidak ada hama yang menyerang perkebunan warga.” Indra mengakhiri cerita, lalu beranjak untuk cuci muka.
Kami berdua kembali kepada teman-teman sambil masing-masing membawa dua lodong yang kami kaitkan pada dua ujung kayu yang dijadikan pikulan.
Rupanya Agus dan Vian sudah membabat ilalang sekitar tenda sehingga kami mempunyai lahan yang cukup lapang. Kayu-kayu kering juga sudah dikumpulkan sebagai bahan bakar. Kini mereka sedang beristirahat sambil menikmati biskuit pengganti makan siang.
“Wow!!” Seru Rina dan Nose bersamaan.
“Kenapa kalian?” Indra heran.
“Aku baru tahu kalau bambu juga bisa dijadikan alat mengangkut air.” jelas Nose.
"Di kampung mah biasa atuh, cuma sekarang sudah jarang. Lodong seperti ini hanya dipakai untuk menyadap getah enau.” papar Indra.
“Buat apa?” Rona ikut heran.
“Itu bahan untuk membuat gula merah.”
“Oooh.”
“Wah hebat.. kok aku gak pernah kepikiran yah?” Donna kagum.
Aku hanya tersenyum saja mendengar percakapan mereka. Setelah meletakan pikulanku, aku pun duduk di atas tikar. Sorot mataku beradu dengan Rere, dan ada desir halus yang kurasakan. Ada kemesraan diam di antara kami.
“Tanganmu sampai merah-merah gitu, Rei.” ujar Inka.
Tanpa diminta ia langsung mengeluarkan minyak kayu putih dan membalur tanganku. Tidak ada reaksi dari teman-temanku, mereka maklum karena kami bersaudara. Bahkan ajaibnya, Rere juga nampak biasa saja. Ia tidak kelihatan lagi cemburu, seakan sudah tahu bahwa hatiku akan menjadi miliknya, tinggal mencari waktu yang tepat untuk saling mengungkapkan.
Menjelang sore, kami semua bagi-bagi tugas. Beberapa cewek pergi mencuci beras sekalian mandi, sebagian lagi menyiapkan bumbu sambil merebus air. Setelah membantu membuat tungku darurat, aku lebih memilih menyendiri sambil merokok.
Aku duduk di bibir tebing sambil menikmati hangatnya matahari sore. Di kejauhan nampak asap mulai mengepul dari rumah-rumah warga, pertanda para ibu sudah menyalakan tungku untuk memasak. Tiba-tiba mataku menangkap sesosok pria tak jauh dari tempatku duduk. Seorang pria paruh baya nampak tergopoh memikul kayu bakar. Tubuh atasnya yang buligir (tidak mengenakan baju) nampak mengkilat karena keringat. Bagian bawah mengenakan celana pendek.
“Ngambil kayu bakar kok jauh banget, Pak?” aku menyapa duluan.
Pria itu mendongak, dan aku mengernyit karena tidak mengenalnya. Ia bukan warga Ewer. Wajah bulatnya juga nampak asing bagiku.
“Iya, Jang,” sahutnya. Ujang adalah panggilan untuk anak laki-laki Sunda.
Karena kayu yang ia pikul tersangkut dahan-dahan semak dan ia kesusahan jalan, spontan aku pun turun untuk membantunya. Pria itu tidak ganteng, tapi juga tidak jelek. Perutnya buncit, mungkin busung lapar. Tapi ada yang bikin nyali bergetar, yaitu sorot matanya yang tajam.
“Saya bantu, Pak.” ujarku sambil melepaskan ranting yang menyangkut pada kayu bakarnya.
"Hatur nuhun, Jang"
“Sami-sami, Pak. Bapak dari mana ya? Kelihatannya bukan dari Ewer.” jawabku.
Pria itu meletakan kayu bakarnya, lalu diusapnya keringat yang menyembul pada kepala depannya yang mulai tidak berambut.
“Dari Antah.” singkatnya.
Aku kembali mengernyit karena tidak ada kampung bernama Antah di sekitar sini.
“Di mana itu, Pak?”
“Hehehe.. suatu saat kamu akan tahu. Bapak minta rokoknya, Jang"
Aku cukup heran melihat perilakunya, tapi tanpa keberatan kuberikan sebatang rokok. Ia menyelipkan di antara bibirnya dan kunyalakan korekku.
“Beda kalau rokok kota mah, gak panas di tenggorokan.” ujarnya.
Aku hanya terkekeh mendengarnya.
“Kamu lagi ngapain di sini?” ia menatapku tajam, dan bulu kudukku merinding melihat tatapannya.
“Saya dan teman-teman sedang berkemah, Pak. Kenalkan saya, Rei.” jawabku sambil mengulurkan tangan.
“Cintung. Kalian berapa orang?”
“Sebelas orang, Pak. Tapi nanti akan ada empat orang teman lagi yang akan menyusul.” jawabku.
“Anak gadisnya berapa orang?”
“Ada tujuh.” aku menjawab tanpa curiga.
“Bisa disuwir gak?”
“Suwir itu apa ya?” heranku. Ayah juga pernah mengatakan hal yang sama tapi aku belum mengerti maksudnya, aku malah lupa menanyakan hal itu pada oma.
"Kalau tidak bisa disuwir, jangan kamu apa-apain jang. Bisa kualat kamu.” ia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.
“Maksud Pak Cintung apa yah?”
“Nanti kamu akan mengerti. Ingat, pasanganmu harus yang bisa disuwir karena itu adalah tradisi keramat. Bapak sih suka yang gundul, tapi si mamang kebalikannya.” ucapannya membuatku semakin tidak mengerti.
“Apanya yang gundul, Pak?” tanpa sadar aku bertanya sambil melihat kepalanya yang mulai botak.
“Nanti kamu akan mengerti. Sudah yah, bapak mau pulang dulu, terima kasih rokoknya.”
“Eh iyah, Pak.”
Pak Cintung pun kembali memikul kayu bakarnya dan berjalan menuruni bukit.
“Rei?! Kamu di mana?” terdengar suara Inka. Kulihat gadis itu sedang celingukan mencariku.
“Woiii.. aku di sini.”
“Kamu ngapain di situ, Rei?”
“Ini ngobrol ama si Bapak.”
“Bapak siapa?”
“Tuh…” aku urung melanjutkan ucapanku, karena begitu melihat ke bawah Pak Cintung sudah tidak ada.
“Siapa, Rei?”
“Hehee.. itu tadi ada warga yang cari kayu bakar.” jawabku gamang.
Tanpa pikir panjang, segera aku pun menaiki bukit untuk menemui Inka. Bukan apa-apa, bulu kudukku kembali merinding begitu tahu Pak Cintung tiba-tiba menghilang. Sebetulnya aku ingin cerita kepada Inka, tapi aku tidak mau malah membuatnya takut.
“Ini si Tante ama Enzi nanyain kamu. Kamu gak bawah handphone yah?” ujar Inka.
“Nggak, Mamah bilang apa?”
“Ya nanyain aja. Kamu tuh gimana sih, masa sampai lupa bawa handphone.”
“Hehee…”
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar