Sang pewaris part 6

 

Bab 6

Aku dan Rere serentak menengok ke arah datangnya suara. Inka keluar kamar dengan rambut kusut, kedua kancing baju pollo yang ia kenakan terlepas sehingga memamerkan dada dan belahan payudaranya yang putih.

“Ka, nih kenalin Rere, teman….”

“Oh jadi gini kelakuanmu, Rei?” tiba-tiba Rere menghardik.

Inka terkejut dan mulutnya terbuka, aku hanya bisa menatap Rere dengan heran.

Senyum lembut Rere seketika hilang, dan sudah memasang ekspresi aslinya. Judes dan galak. Kedua pipinya merah karena amarah. “Mentang-mentang rumah kosong, lalu kamu bawa cewek ke kamar? Kelakuan macam ini, Rei? Memalukan!!!”

Bukan hanya aku yang melongo, tapi inka pun nampak shock mendengarnya. Belum juga aku menjawab, Rere sudah berjingkat meninggalkan aku dan Inka.

Sebelum keluar rumah ia berbalik sebentar, “Kamu sama aja Rei, cowok itu brengsek!!”

Bruuuk!! Pintu pun dibanting dari luar.

“Dasar klentit luwak!!!” aku memaki, emosiku tersulut juga.

“Siapa sih tuh cewek, Rei, kok arogan banget?”

Inka duduk di sebelahku, melihat nafasku tersengal ia mengusapi punggungku

“Itu si Rere, anak KKN.” jawabku.

“Kenapa bisa kayak gitu? Kok marah banget dan kayak cemburu gitu?”

“Tahu tuh cewek.”

Aku tidak menjawab. Kulirik Inka. Jantungku sedikit berdesir ketika melihat belahan payudaranya dari samping, emosiku sedikit teredam. Tanpa permisi tanganku terulur, Inka kaget sebentar, tapi kemudian tersenyum. Kukaitkan kedua kancingnya yang terlepas.

“Kayaknya ini deh, yang bikin dia marah.” sambil tersenyum kecut.

“Yee.. mana aku sadar kalau terbuka, orang aku terbangun karena denger kaliang ngobrol.” ia manyum. Bibir merahnya terlihat sangat seksi dan menggiurkan.

“Siapa sih dia?”

“Gebetanku, tapi orangnya judes banget.” ujarku.

“Oh..!”

Tiba-tiba sikap menggemaskan Inka berubah menjadi datar. Matanya mengerjap seolah menyembunyikan sesuatu. Duduknya juga bergeser, menjauhiku.

“Kamu kenapa, Nka?

“Nggak.”

“Kaa?”

“Gak kenapa-napa ih, cuma gak suka aja kamu ngejar cewek judes kayak gitu.”

Aku tidak tahu apakah Inka berkata jujur atau tidak, tapi kulihat matanya sedikit berkaca-kaca. Tanpa permisi ia pun kembali masuk kamar, seolah tidak ingin aku melihat air matanya.

Kuputuskan untuk mengikutinya. Ketika ia telungkup di atas kasur aku pun ikut berbaring, menghadapnya miring.

“Ka..”

Ia tidak bergeming, wajahnya terbenam di atas bantal. Kuberanikan mengusap dan merapikan rambutnya. Seketika aku jadi salah tingkah dan tidak tahu harus berkata apa, yang jelas aku merasa bersalah, sepertinya Inka tersinggung oleh sikap Rere.

“Ka, maafin Rere yah. Dia emang impulsif, sukanya marah-marah tanpa mendengarkan penjelasan lebih dulu.” aku berusaha membujuknya.

“Bukan gitu, Reii. Hiks… aku gak habis pikir aja kamu suka ama cewek model gitu. Arischa yang baik kamu lepaskan, sedangkan gadis judes kayak Rere kamu kejar-kejar. Maumu apa sih, Rei?”

Aku sudah mau menjawab, tapi urung ketika ia mengangkat muka. Air matanya mengalir membasahi pipi. Kami pun saling tatap bersisian, tanganku terulur dan kuusap air matanya. Inka hanya diam. Ia malah memegang punggung tanganku.




Air matanya sudah kering. Tatapnya sendu. Sedangkan tangan ini masih menumpang di atas pipinya, dan ia masih tidak menepisnya. Ia malah seolah suka aku memperlakukannya seperti ini.




“Ayo cerita.”


“Cerita apa?”


“Tentang Rere.”




Aku pun menghela nafas, aku selalu sulit untuk berbohong di hadapan saudara dan para sepupuku. Kuceritakan awal perkenalanku dengan Rere, dan juga pengalaman-pengalaman selama seminggu ini.




“Untung aku gak jadi ke Sawer jadi aku bisa tahu dia lebih dekat.” lirihnya. Suaranya sangat pelan seolah sedang meredam sesuatu di dalam dadanya.


“Kamu kayak Kak Kekey aja.”


“Biarin!! Aku gak mau yah kamu pacaran ama orang yang salah.” Inka mendelik.


“Kan belum pacaran, Ka. Cuma masih penjajakan, siapa tahu berjodoh.”


“Ya belum kaan, berarti akan


“Hehe.. iya sih. Tadi aja aku hampir nembak dia, tapi kamu keburu bangun.”


“Tuh kan, kamu itu emang nyebelin.”




Inka balik badan memunggungiku dan aku memeluk pinggangnya dari belakang.




“Mandi yuk. Nanti aku kenalin kamu pada mereka.” bujukku.


“Kamu aja mandi duluan.”


“Gak mau. Kalau aku mandi duluan, tetep aja nanti harus ke tampian lagi nemenin kamu."




Inka terkekeh tanpa menengok. Kukilikitik pinggangnya, dan Inka meronta. Kami bergumul di atas kasur sambil saling menggelitik. Sejenak kami melupa dari peristiwa yang baru saja terjadi, saling seru, saling buru sehingga seprei pun berantakan.




Lelah bercanda, kami pun berpelukan dengan nafas memburu. Inka terlihat begitu nyaman, ia malah semakin menyusupkan kepalanya pada bahuku. Ada kemesraan diam di antara kami, dan ada perasaan asing yang menyeruak di dalam hatiku. Kami memang dekat, tapi baru sekarang berpelukan seperti ini.




“Ka, ayo mandi.”


“Hmmm…”


“Inkaa..!”


“Iyah iyah…”




Akhirnya kami pun bangkit. Inka membongkar koper kecilnya untuk mengambil alat mandi dan pakaian ganti, sedangkan aku menunggu di ruang tengah.




“Rei.”




Inka keluar kamar dan mendekatiku, dan aku pun menengok.




Cuuup!!




Tiba-tiba ia mencium pipiku.




Klik.




Bersamaan dengan itu, foto smartphone-nya berbunyi. Ciuman dan gerakan selfienya sangatlah gesit.




“Apaan sih, Ka?”




Inka hanya mengerling, lalu sibuk dengan layar smartphone-nya sambil tersenyum.




“Hei, dikirim ke siapa itu?”


“Telat kweek.”




Aku hanya bisa garuk-garuk kepala ketika ia menunjukkan layar kepadaku. Inka mengirim foto tadi kepada Kak Kekey. Hadoooh!!




“Udah ah, yuuks..” ia mendahuluiku.




Kami berpapasan dengan beberapa warga yang baru pulang dari tampian, mereka tentu saja sudah kenal dengan Inka, maka perjalanan kami tersendat karena harus berbasa-basi terlebih dahulu.




“Rei, jangan jauh-jauh nanti ada yang ngintip.” Inka memintaku.


“Halah siapa yang mau ngintip, lagian kalau liat handuk gak akan ada yang berani mendekat. Aku juga kan mau mandi.”


“Yee.. dibilangin tungguin juga.”


“Terus aku liatin kamu mandi?”


“Hihi.. nggak. Dah sanah.”




Aku menggeleng lihat ulah sepupuku yang satu ini, lalu melangkah di tampian di kolam yang satunya, tidak jauh dari posisi Inka mandi.




Aku selesai mandi duluan, dan menunggu Inka yang masih terdengar mengguyur tubuhnya di bawah pancuran. Aku tersenyum ketika melihat perabotan Inka yang tersampir pada dinding tampuan. Sebuah beha dan celana dalam mini berwarna hitam. “Apa vaginanya bisa terbungkus ya? Kecil banget,” pikirku.




Satu per satu pakaian dalam yang tersampir hilang, pertanda ia mulai mengenakannya. Lalu kepalanya nongol melirik ke arahku. Rambutnya basah, pantesan lama rupanya ia keramas.




“Ayo pulang.” serunya.




Aku pun mendekat.




Degh!!




Inka memamerkan tubuhnya. Ia memang memakai beha bewarna hitam. Itu terlihat pada dua tali yang mengait kedua bahunya. Tapi yang lain? Tubuh Inka hanya ditutup handuk lebar yang diikat di atas payudaranya.




Setengah pahanya terlihat, pori-porinya nampak mekar karena kedinginan, nampak masih ada jentik-jentik air yang mengalir.




“Masa pulang kayak gitu?” protesku. Ia tidak tahu saja jantungku berdebar kencang.


“Memangnya kenapa?”


“Haish.. kamu tuh. Masa kamu mau pamer tubuhmu?”


“Kenapa emangnya?”


“Inkaa, kamu tuh cantik. Terus apa kata orang kalau liat tubuh seksi kamu kayak gitu?”


“Makasih. Beneran aku cantik?”




Kupret!!




Aku mendengus kesal. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Inka setelahnya karena aku langsung memunggunginya.




“Udah nih. Ayo..”




Aku menengok. Inka sudah memakai celana pendek, dan baju tanpa lengan. Handuknya ia lilitkan di atas kepala untuk membungkus rambutnya yang basah. Dada dan leher putihnya terpajang. Bagian atas payudaranya juga menerawang karena kaos yang ia kenakan sedikit basah. Cantik! Ketiak putihnya membuatku berdesir. Apalagi ketika ia membetulkan handuknya, bukan hanya bagian atas yang terlihat, tetapi juga perut putihnya karena kaosnya terangkat.




Tanpa meminta persetujuan, aku pun menyelendangkan handukku pada punggungnya, dan kusilangkan ke depan. Inka tersenyum dan menurut ketika kuminta untuk memegang kedua ujungnya. Kami pun melangkah pulang.




Setibanya di rumah rupanya Indra sudah menunggu di saung. Rina dan Nose juga ada di sana.




“Oh Inka toh, kirain siapa?” Adalah Indra yang pertama melihat kedatangan kami. Rina dan Nose seperti heran begitu melihat Indra yang mengenali sepupuku.


“Hai, Ndra, apa kabar?”


“Baik, kamu?”


“Seperti yang kamu lihat. Hehe..”


“Rin, Oche, ini kenalin Inka.” aku berujar kepada kedua gadis itu yang hanya bengong.


“Rina.”


“Inka.”


“Nose.”


“Inka.”


“Jadi Inka ini sepupunya Rei dari Ba…”


“Sawer.” aku langsung memotong ucapan sahabatku.


“Oooh…” Rina dan Nose bersamaan. Wajah mereka yang semula tegang berubah lega. Inka nampak heran mendengar penuturanku, tapi syukurlah ia tidak menyanggah.


“Bentar aku ngeringin rambut dulu yah.” Inka pamit, dan teman-temanku mengangguk.


“Ada apa sih?” tanyaku sepeninggalan Inka.


“Rere… dasar tuh anak.” Nose malah ngomong sendiri seolah kesal ama gadis itu.


“Jadi gini, Rei…” melihatku bengong, Rina berusaha menjelaskan. “Tadi si Rere ke sini, kan?”


“Iya.”


“Nah, tadi tuh Rere pulang sambil marah-marah dan bilang kalau kamu bawa cewek ke rumah oma. Intinya ia mikir kamu itu mesum, dan ia membatalkan acara kemping besok.” Rina menjelaskan.


“Makanya kami ngajak Indra ke sini untuk memastikan. Eh.. ternyata cewek itu sepupumu.” lanjut Nose.




Aku pun terkekeh mendengarnya. Sekarang aku mengerti kenapa tadi wajah ketiganya nampak tegang.




“Lagian kalau aku bawa cewek juga memangnya kenapa?” godaku.


“Rei.. Rei… kamu mah gitu. Rere itu kayaknya mulai suka kamu deh.” Nose mencubit lenganku.


“Suka kok judes?!”


“Ah kamu juga kan suka kalo dijudesin dia?” ujar Nose lagi.


“Oke, jadi sekarang masalahnya udah jelas. Lalu rencana besok gimana?” ujar Indra.


“Ya kalau udah jelas gini mah , kita jalan sesuai rencana.” Rina menjawab.


“Kalau Rere tetep gak mau juga?” Nose bimbang.


“Gini yah…” aku menatap ketika temanku bergantian. “Kalian itu terlalu mau diatur oleh Rere, sekali-kali kalian harus berani ambil keputusan tanpa terpengaruh gadis itu. Kalau kalian mau, ya kita tetap jalan, Rere itu gak akan mati kalau ditinggal sendirian. Lagian yah.. biar dia juga belajar untuk memberi kalian pilihan, dan tidak harus semuanya dia yang menentukan.”


“Iya, sih.” Rina dan Nose bersamaan.


“Lalu? Besok kita tetep jalan?” Aku menatap mereka, keduanya mengangguk.


“Sip. Kita berangkat jam delapan, dan Inka akan ikut. Boleh?” Rina dan Nose kembali mengangguk.




Inka memanggil kami, dan kami berlima ngobrol di ruang tengah. Tidak butuh waktu lama bagi Inka untuk cepat akrab dengan Rina dan Nose. Tak terasa waktu pun semakin sore.




“Rei, kamu mau aku masakin apa untuk makan malam?” tanya Inka.


“Goreng ikan aja, Ka.”


“Wiih enak tuh.” Rina dan Nose antusias.


“Yaudah kalian makan di sini aja, aku yang masak.” tawar Inka, dan kedua gadis itu setuju.




Rina pulang dulu untuk memanggil teman-temannya, Inka dan Nose menuju dapur, sedangkan Aku dan Indra menuju ke belakang untuk menyair ikan pada kolam kecil.




Kesibukan pun terjadi, dan suasana rumah semakin ramai ketika teman-temanku datang, bukan hanya yang KKN tapi juga Midun dan Babay. Safri dan Juned tidak hadir karena mereka berdua sedang mengirim kopi ke Bandung, biasanya baru pulang hampir tengah malam. Eh.. ada satu lagi yang tidak terlihat batang hidungnya. Dia adalah Rere.




“Rere, mana?” tanyaku pada Vian.


“Dia nanti nyusul, katanya mau menyelesaikan dulu jurnal kegiatan pekan ini.”


“Alesan.” tapi aku berkata begitu hanya dalam hati.




Kami pun larut dalam keseruan. Para gadis menyiapkan bumbu dan aku bersama Indra menyisik dan membersihkan ikan nila.




“Rei, tangkap lagi ikannya.” seru Inka.


“Ini udah lebih dari cukup kali, Ka.” aku protes.


“Sisanya buat dibakar besok di bukit.”


“Bener juga, Rei.” Babay setuju.


“Kamu atuh nu nyair.” ujarku.


“Si eta!” Babay menggerutu, tapi tetap jalan menuju kolam ditemani oleh Midun.




Aku pun menyerahkan baskom berisi ikan yang sudah disisik dan dibersihkan kepada Inka.




“Cantik-cantik, ya Rei, pantesan kamu betah di sini.” bisik Inka, sorot matanya memancarkan rasa cemburu.


“Apaan sih kamu, Ka, nggaklah.”


“Bener? Aku jadi penasaran, pengen kenal Rere.”




Aku tidak menggubris Inka. Setelah mengeringkan tangan, aku masuk ke dalam kamar. Waktu sudah menunjukan jam tujuh malam, jam wajib lapor kepada adik kesayanganku. Kuambil smartphone-ku dan hanya tersenyum kecut ketika ada pesan WA dari Kak Kekey. Ia meneruskan foto dari Inka dengan sertai emoji hati pada kedua mata. “Sangat cantik,” aku bergumam sendiri ketika melihat ekspresi Ika saat mengecup pipiku.




Aku urung menelpon nomor adikku, biar sekalian melalui Kak Kekey saja. Kutekan video call. Baru juga Kak Kekey menyahut, si ceriwis langsung merebutnya, dan cerewetnya terdengar. Ia masih pura-pura ngambek karena aku melarangnya datang ke Ewer.




Keluargaku rupanya sudah berkumpul untuk menikmati makan malam. Mereka pamer karena mamah memasak menu favorit kami anak-anaknya. Aku tak kalah pamernya, diam-diam aku keluar kamar dan kuarahkan kamera video pada kesibukan di dapur. Nzi yang paling histeris, ia cemberut dan pura-pura ngambek lagi. Aku baru menutup telpon lima belas menit kemudian, ketika ayah mengaku lapar dan mengajak mereka semua makan.




Aku keluar kamar. Kulihat lauk pauk sudah disajikan, tinggal menunggu nasinya saja. Namun si judes belum juga kelihatan.




“Belum ke sini,” Salsa yang sedang menata piring seolah mengerti apa yang kupikirkan.


“Hmmm…”


“Kamu susul gih, Rei.”


“Kok?”


“Udah sanah, mungkin dia malu karena tadi udah nuduh kamu macam-macam.”


“Baiklah.”




Aku pun meninggalkan rumah melalui pintu depan. Langkahku ringan menyusuri jalan kampung, menuju sebuah bangunan, tak jauh dari pendopo.




Kuputuskan untuk tidak langsung mengetuk, melainkan mengintip dari jendela kaca yang gordennya tersibak. Nampak Rere sedang terpekur di depan laptop. Aku yakin ia tidak sedang bekerja karena tatapannya kosong, dan jemarinya tidak bergerak. Kulihat ia menghela nafas panjang, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri.




Ia melirik jam, tapi malah menutup muka setelahnya. Rere jelas sedang gelisah, mungkin ia merasa bersalah. Yang pasti ia juga akan merasa malu.




Tidak tega melihatnya seperti itu, aku pun mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ketukan kedua.. masih hening. Pada ketukan ketika baru terdengar sahutan.




'Sakedap (sebentar).”




Suara langkah terdengar dan pintu pun terbuka. Rambutnya sudah rapi kembali, tapi kini wajahnya yang nampak kusut ketika melihatku.




“Ngapain kamu?”




Haissh… dasar luwak betina. Masih saja ia menutupi perasaannya dan memasang tampang judes.




“Ayo makan.” singkatku.


“Aku masih kerja, lagian juga gak lapar.”


“Gak usah bohong, ayo.”


“Apaan sih, lepasin!!” Rere meronta ketika aku menarik tangannya.




Aku tidak peduli. Aku terus menarik tangan Rere sehingga tubuhnya terhuyung mengikuti langkahku.




“Rei, jangan kasar donk ama cewek.” Rere marah.


“Halah.. kamu juga galak ama cowok.” aku tak peduli.


“Iya.. iya, Rei. Maaf, bentar aku matiin laptop dulu.”




Aku pun mengalah, kubiarkan ia kembali masuk ke dalam rumah. Semenit.. dua menit.. si luwak betina pun tak kunjung keluar. Kudorong pintu untuk mencari gadis itu.




Rasa kesalku berubah renyuh ketika melihat Rere sedang duduk di atas kursi depan laptopnya. Kedua tangannya menangkup muka, tubuhnya sedikit bergetar. Ia sedang menangis.




“Re, kamu kenapa?”




Mendengar pertanyaanku, Rere semakin menangis. Perlahan aku duduk di sebelahnya, dan tanganku menyentuh bahu gadis itu.




“Kamu kenapa?”


“Hiks.. hiks… aku itu nyebelin banget, yah Rei? Hiiiks… Maafin aku ya.” ia tersedu.




Aku sedikit kikuk mendengar pertanyaannya. Asli, ia memang nyebelin, tapi juga ngangenin. Kuraih kedua tangannya, dan kini wajah basahnya tepat berada di depanku.




Ia terisak tanpa menolak tanganku yang kini sudah menggenggamnya. Tidak tega melihatnya bersedih, kuambil tissue dan kusodorkan. Ia tetap diam.




Jantungku berdebar kencang. Tanganku bergetar. Kuberanikan diri untuk membersihkan air matanya dengan tissue di tangan. Ajaib! Ia tidak menghindar. Rere malah memejamkan mata sehingga linangan air mata pada kedua bulatan bola merahnya langsung mengalir. Satu tissue tidak cukup, kuambil tissue kedua, juga tidak cukup. Akhirnya jemariku yang mengambil alih, kuusapi bawah matanya.




“Maafkan aku.” lirihnya, matanya terbuka, menatapku sendu dengan linangan air mata yang masih tersisa.


“Iya.. udah.. udah.. siapapun bisa berbuat salah. Lagian kamu juga cuma salah paham aja.” aku menghiburnya.




Rere menunduk, tanganku ditepis halus, kini ia sendiri yang membersihkan wajahnya. Aku benar-benar terpesona. Dalam keadaan apapun, Rere tetaplah seorang gadis yang cantik. Aku bahkan sudah merindukan sebelum memilikinya.




“Kamu bener gak marah?” ia menatapku.


“Iya, ngapain juga aku marah, ada juga sayang dan rindu .” kalimat terakhir tidak berani kuucapkan.


“Makasih.”


“Udah yuk makan.”


“Tapi aku malu ama sepupumu.”


“Hehe.. udah tenang aja, Re. Ia baik kok, gak mungkin marah.”


“Bener?”




Ia menatapku bimbang, dan senyumnya terpulas ketika aku mengangguk. Semuanya tanpa rencana.. aku sangat tidak menduga… ketika Rere tiba-tiba memelukku. Isak kecilnya kembali terdengar.




Aku hanya bisa terperangah, dan tanganku terasa dingin dan kaku. Tapi sadar ini adalah kesempatan, segera kubalas pelukannya. Awalnya lembut, namun lebih erat setelahnya. Kulakukan agar payudaranya yang kenyal semakin menekan dadaku.




“Maafkan aku, Rei. Aku udah jahat banget ama kamu.”


“Dari tadi minta maaf melulu.” lirihku.


“Lalu aku harus gimana?”


“Terima cintaku.”


“Rei?” ia mengangkat wajah, tapi tangan kami masih saling berpelukan.




Wajah kami begitu dekat. Mata kami beradu sendu.




“Tembak, Rei, tembak.” ada debam rasa yang mendorongku.




Kutatap wajah Rere, aku ingin mendalami perasaan gadis ini. Tatapan kami semakin syahdu.




“Re, aku sayang kamu.” ah terlalu basi.


“Re, aku tidak ingin rindu, maukah kamu menjadi pacarku?” tapi bahasanya terlalu cabe-cabean.




Otakku terus berputar untuk menemukan kata yang tepat. Kulihat Rere mengerutkan dahi, ia seolah sedang menungguku mengucapkan sesuatu. Setelah menemukan kata yang tepat, aku pun menahan nafas sesaat.




“Re…” aku bisa mendengar suaraku sendiri yang sedikit bergetar.


“…” ia menatapku, ada rona merah pada kedua pipinya.


“Aku…”




Jantungku berdebar-debar, tapi tekadku sudah bulat. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menembaknya, dan jika aku diterima, saat makan malam nanti akan menjadi saat terindah untuk mengabarkannya kepada teman-temanku.




“Kamu?” Rere tak sabar karena aku tak kunjung meneruskan kalimatku.


“Aku ingin…” nafasku tersengal, dan tiba-tiba…


“Rei…!!!”




Aku dan Rere terperanjat dan langsung saling mengurai pelukan. Kami menengok ke arah datangnya suara. Nampak Inka sedang berdiri di ambang pintu dengan mata terbelalak. Sejurus kemudian ada jentik air mata yang mengalir.




“Maaf, aku tidak mengetuk dulu.” lirih Inka.




Tanpa permisi lagi, Inka pun balik badan dan langsung menuruni rumah setengah berlari.




“Inka, tunggu.” aku langsung berdiri.


“Bersambung aja!”




Aku pun menghela nafas panjang. Aku sudah kehilangan satu momen penting untuk bisa mendapatkan hati Rere, sementara Inka malah menangis sambil meminta BERSAMBUNG….



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar