BAB 5
Kututup telpon, butuh usaha keras untuk mencegah agar kak kekey dan nzi tidak berlibur ke ewer weeknd ini. Bukan karena aku tidak kangen mereka, tapi aku sedang berusaha mengejar cintaku. Rere! Aku tidak mau gadis itu takluk hanya gara-gara ia tahu siapa aku. Mauku adalah ia mengenalku secara berbeda, seorang pemuda Ewer biasa, cucu seorang wanita yang sederhana.
Memang secara logika, Oma bukanlah orang biasa, seluruh warga tahu itu. Andai saja para mahasiswa peka, rumah Oma adalah rumah termewah di kampung ini. Modelnya memang tidak berbeda dengan rumah tradisional khas Ewer pada umumnya, tapi semua bahannya terbuat dari pohon jati terbaik. Mereka sepertinya tidak sadar itu. Selain itu, para mahasiswa juga tidak tahu bahwa oma adalah penguasa tunggal usaha kopi luwak di Ewer, tetapi dalam keseharian memang Bu RT dan teman-temanku yang menjalankan.
Kesederhanaan oma menjadi modal bagiku dalam menjajaki cinta seorang Rere. Seandainya pada akhirnya aku diterima, itu akan menunjukkan siapa gadis itu; dan kalau ia menolak, juga akan menunjukkan siapa dia. Aku hanya ingin berusaha, dan aku tidak mau terlalu yakin apakah dia jodohku atau bukan karena di dalam lubuk hatiku aku masih cukup trauma atas hubunganku dengan Arischa.
Tentang Rere sendiri, gadis ini masihlah misterius bagiku. Hati dan keinginannya sangat sulit ditebak. Ia seperti mendekati umpan yang kupasang tapi tidak pernah memakan, kadang ia menghindariku tapi teman-temannya mengatakan bahwa ia sering melamun dan senyum sendiri. Dekat dan jauhnya telah meremas gemasku, rasaku ia permainkan. Apakah mungkin ia begitu untuk tahu adakah rindu di dalam hatinya?
Aku tersenyum sendiri ketika tiba-tiba mengingat kejadian hampir seminggu yang lalu. Mungkin aku terlalu membayangkan kegalakan Rere dan mengibaratkan gadis itu seperti harimau, sehingga aku malah halusinasi melihat seekor harimau. Aku sempat berpikir untuk bertanya kepada oma apakah di bukit Beha memang ada harimau atau tidak, namun aku urung bertanya karena kenyataannya memang malam itu tidak ada harimau. Bekas jejaknya pun tidak ada ketika kuperiksa setelahnya.
Mengingatnya kadang aku merasa geli sendiri. Lagian gila juga, berani-beraninya aku melawan seekor harimau hanya dengan sebilah dahan pohon. Seandainya itu bukan halusinasi, mungkin aku tinggallah sebuah nama, dan cerita ini akan berhenti di sini. Masa si mamang pensiun dini dari dunia persuwiran?!
Kuletakkan kembali smartphone di atas meja lalu keluar kamar. Kudengar teman-temanku dari Bandung masih pada berkumpul di saung samping rumah, mereka sedang bekerja di sana, sekaligus evaluasi akhir pekan. Oma tidak ada di rumah karena ia sedang di pendopo.
Kuputuskan duduk di atas bale-bale sambil menikmati sebatang rokok. Kubalas sapa beberapa warga yang lewat, kadang juga turun untuk menyalami mereka.
“Rei.” tiba-tiba Meti mendekat, mungkin karena mendengar suaraku.
“Hei, Met. Udah selesai?” jawabku.
“Belum. Menjenuhkan.” keluhnya.
“Ayo kamu gabung aja.” ujarnya lagi.
“Nggak ah.”
“Ayoo.. biar Rere semangat, dari tadi uring-uringan melulu, butuh mood booster tuh.”
“Tapi akunya yang gak mood kalau digalakin dia.” aku terkekeh.
“Udah ah, ayo buruan.”
Aku pun mengalah dan mengikuti langkah Meti ketika ia menarik tanganku. Aku duduk paling pojok dan kunyalakan rokok.
“Gaya kamu, Rei. Rokokmu marlborl merah euy.” ledek Vian.
“Hahaha… nanti juga kalau uangnya udah habis palingan ganti Minak Djinggo.” Agus membumbui tapi juga sambil mencatut rokokku.
Aku hanya tertawa kecil mendengarnya, aku telah berbuat salah dengan menunjukkan rokokku. Dan benar saja, dari bibir manis itu nyeletuk: “Gaya dan pamer itu lebih penting zaman sekarang mah.”
Njir. Aku sih berharap sekali saja ia tidak cari perkara dan ngegas di depanku, tetapi selalu saja ia begitu. Aku berusaha tidak peduli, kuhisap rokokku sambil pura-pura melihat catatan di depan Vian.
“Belum selesai yah?” lirihku.
“Gimana mau selesai, Rere rese nih, semua ide selalu dimentahkan.” Donna menggerutu.
“Loh kok jadi aku yang disalahin?” gadis itu protes.
“Lah emang bener, kaan.” Rina nyeletuk.
Rere nampak kesal, tapi selalu punya cara untuk beralasan, “Makanya ayo serius donk, kita harus membuat Pak Ketchup bangga, kita lakukan yang terbaik.”
Pak Ketchup adalah dosen pembimbing mereka, dan sebetulnya masih ada hubungan keluarga denganku karena istrinya berasal dari Sawer.
“Sudah.. sudah.. kalau ribut terus kita gak akan selesai-selesai.” Vian menengahi.
Aku yang mendengarkan percakapan mereka, langsung tergelitik untuk tidak hanya diam. “Kalau tujuannya hanya untuk menyenangkan dosen dan dapat nilai bagus, usaha sebaik apapun akan sia-sia.”
“Heh?!” Rere melotot ke arahku.
Teman-temannya juga nampak kaget mendengarku berbicara seperti itu, tapi tidak ada yang membantah.
“Ya gimana lagi, Rei, kami harus bikin laporan KKN dan tulisan akhir sebagai syarat kelulusan.” Agus menjawab.
“Kalau laporan kalian bagus dan dipuji dosen, lalu apa?” aku berujar datar. Kuhisap rokokku dan kulanjutkan ucapan, “Kalian bisa lulus dengan nilai bagus tapi tidak pernah berkontribusi apapun bagi warga Ewer. Kalian hanya memanfaatkan kami agar bisa lulus kuliah.”
Aku tidak bermaksud arogan dengan berkata begitu, tapi aku hanya ingin agar teman-temanku mengerti. Di balik itu, aku juga ingin melihat reaksi Rere. Pendapatku bisa membuat dia kagum, atau malah semakin benci.
“Jangan sembarangan kamu, Rei. Kami tidak pernah berpikir memanfaatkan kalian!!” Rere langsung menyambar dengan wajah merah karena tersinggung.
“Iya, Rei, kami tidak mikir kayak gitu kok.” Rina dan Nose bersamaan.
“Aku tahu bahwa kalian tidak bermaksud begitu. Tapi aku mau bilang bahwa warga Ewer telah berjasa membantu kalian melalui KKN ini sehingga kalian bisa membuat karya ilmiah nantinya, tapi pertanyaanku apa yang bisa kalian lakukan buat kami?”
“…” semua diam, bedanya diamnya Rere disertai dengan nafas yang tersengal.
“Maaf, bukan maksud mau lancang, tapi kalau boleh usul, di akhir KKN nanti jangan hanya menghasilkan dokumen berupa laporan dan karya ilmiah yang akan menentukan kelulusan kalian. Tapi juga menghasilkan kontribusi bagi warga agar bisa lebih maju lagi.”
Tik tok tik tok.
Agus menghisap rokoknya dalam-dalam, dihembuskannya perlahan, lalu berujar, “Rei, benar. Basi kalau kita hanya menghasilkan karya ilmiah yang hanya akan memenuhi gudang perpustakaan. Kita harus beda, kita harus berkontribusi.”
“…”
“Maaf, kalau aku udah lancang ya.” aku jadi tidak enak sendiri karena suasana menjadi kaku.
“Nyantai, Rei.” lirih Vian.
“Gak usah minta maaf, kamu benar kok Rei.” celetuk Donna.
“Kami harusnya malah berterima kasih ke kamu.” Salsa yang dari tadi hanya diam ikut bersuara.
“So, teman-teman? Apa rencana kita?” Vian langsung bertepuk tangan memberi semangat.
“Kamu ada usul?” Rere memandangku.
Bangga juga aku ditanya seperti itu. Meski tetap judes dan datar, tapi pertanyaannya secara tidak langsung telah menjadi pernyataan bahwa aku dianggap ada dan ia mengamini ucapanku.
Banyak ide di dalam kepala untuk menjawabnya, tapi aku harus menahan diri, maka aku pun hanya menggelengkan kepala. Ujarku, “Maaf selebihnya aku tidak punya ide, maklum cuma lulusan SMA. Hehehe..”
“Lulus SMA aja udah belagu, apalagi kalau lulus kuliah!!”
Gremengan tidak jelas terdengar. Vian menepuk pundakku tidak enak hati, Meti dan Donna tersenyum seolah memintaku untuk sabar.
“Baru kali ini kita dinasihati lulusan SMA.” canda Agus, dan suasana pun mulai mencair kembali.
Rere menghembuskan nafas dalam, seolah sedang membuang gejolak yang ada di balik payudaranya. Ia menatap teman-temannya satu per satu, tapi tidak padaku, “Baik guys, kita kembali melihat draft paper kita dari awal. Kopi luwak.” Rere kembali memimpin teman-temannya diskusi. Ia melanjutkan, “Perkembangan Ewer dimulai dari kopi luwak, tapi kita belum menemukan alasan kenapa harus kopi luwak?”
“Iya ya.. padahal kan kotoran. Eh malah diminum.” celetuk Salsa.
“Jangan salah, Sal,” aku memotong. “Yang najis itu bukan yang masuk mulut, tapi yang keluar dari mulut.”
Semua kembali tertawa, kecuali Rere. Wajah gadis itu merah padam karena merasa tersindir. Sejujurnya aku memang menyindir dia, karena kata-kata pedasnya seringkali tidak terkontrol dan bisa menyakiti perasaan orang.
“Kamu!! Mendingan kamu pergi deh.” Rere melotot ke arahku.
“Siap, boss.” aku memasang sikap hormat lalu berdiri.
“Reii.. udah di sini aja.” Salsa dan Ratna mencegah, wajah mereka nampak penuh rasa bersalah karena ulah Rere.
“Kamu juga siiih, Re.” Meti kesal pada temannya.
“Hehe.. maaf aku memang harus pergi, mau ngangkat jemuran kopi.” kekehku.
Ada nafas-nafas lega dan senyum dikulum yang kulihat. Aku berhasil mengerjai mereka, aku pergi bukan karena diusir Rere, tapi memang harus mengangkat jemuran. Rere nampak kikuk untuk menyembunyikan rasa kesal dan malu.
“Rei.”
“Iya, Gus?”
“Abis ini kita ngomongin acara kita untuk besok.”
“Siap.”
Setelah mengangkat jemuran kopi dan memasukkannya ke dalam gudang, aku pun membersihkan diri. Sementara teman-temanku masih nampak serius berdiskusi.
Oma masih belum pulang dari pendopo, maka kuputuskan untuk ngopi sambil membuka smartphone-ku. Aku pun terbelalak ketika membaca beberapa pesan di sana, dan aku sepertinya tidak akan bisa mengelak. Om Arya dan Tante Rinjani akan ke Sawer dan mereka memintaku menemani. Inka juga ikut serta.
Aku hanya bisa gosok-gosok kepala. Sebentar lagi mereka akan datang, sedangkan besok pagi aku berencana menemani teman-temanku kemping. Kutelpon mamah, aku protes. Tapi mamah bilang bahwa ia sendiri tidak tahu, Tante Rinjani baru mengabari di dalam perjalanan. Lagian mamah juga tidak mungkin berbohong, ketika di Lembang semua keluargaku sudah tahu kalau aku akan tinggal di Ewer selama beberapa minggu.
“Iya, deh Mah, makasih.”
“Maaf, ya sayang. Tapi bagus donk, kan kamu bisa nemenin Inka selama di sana.”
“Iya, mah.”
Kututup telpon dengan lesu, dan kubalas pesan dari Tante Rinjani supaya ia mampir dulu sebelum ke Sawer. Kuputuskan untuk menemani mereka ke Sawer sore ini, dan besok pagi-pagi aku akan turun untuk menemani teman-temanku kemping.
Kususul oma ke pendopo dan mengabari bahwa Tante Nji akan datang. Tentu saja oma senang, dan kami berdua kembali ke rumah. Saung sudah kosong, teman-temanku sudah kembali ke rumah tinggal mereka.
Oma langsung memanggil Bi Irem dan Mak Nineung, tetangga kami, untuk membantunya memasak; ketiganya langsung sibuk di dapur. Aku hanya senyam-senyum saja. Sudah kebayang ekspresi om dan tanteku jika harus makan lagi. Waktu sudah menunjukan jam dua, dan mereka pasti sudah mampir makan siang di restoran.
Tepat jam tiga mereka tiba. Sebuah Pajero memasuki halaman. Aku langsung menyambut mereka.
“Hallo Om.” aku menyalami Om Arya.
“Gimana kamu betah gak, Rei?” Om Arya menyambut tanganku, lalu meninju dadaku.
“Betah donk, Om. Kok gak bilang dari kemarin-kemarin kalau mau datang?”
“Rencananya mendadak, besok kan pas tiga tahunnya (alm) Eyang Rohmah.”
“Hai Rei. Baru beberapa hari di Ewer kok udah kelihatan item?” seorang wanita cantik menyusul keluar dari mobil.
“Biar item tapi tetep ganteng, Tante. Hehee…”
Setelah aku mencium tangannya, ia pun menjembel kedua pipiku. Kecupan pada kening kudapatkan kemudian.
“Capek gak, Ka?” sambutku pada Inka.
Sepupuku hanya memeletkan lidah, lalu kami cipika-cipiki. Di antara para sepupuku, Inka adalah gadis yang paling lembut dan kalem, tapi tidak bisa disebut pendiam. Saudara-saudaraku memang memiliki keunikan masing-masing. Kak Kekey menarik karena cantik, energik, dan gesit khas wanita karier; Inka memiliki pesona karena selain cantik, sifatnya sangat lembut dan feminim. Ia kelihatan lebih dewasa dari umurnya; Bagas kakaknya Inka kelihatan tegas, tapi otaknya mesum; Rona anak Tante Maya sedikit tomboy; Nzi adikku pecicilan.
“Loh.. Bagas mana?” aku celingukan.
“Bagas gak ikut, dia ada reunian dengan teman-temannya.” jawab Tante Nji.
“Ooh..”
“Loh kok malah pada ngobrol di luar, ayo masuk.. masuk…” Oma tergopoh keluar rumah.
Kegembiraan pun terpancar, salam dan cium saling mereka bagikan. Oma malah menciumi Inka berulang-ulang dengan gemas dan penuh kasih sayang, lalu memeluknya erat. Mata oma kelihatan berkaca-kaca karena bahagia. Kami pun masuk rumah, pun pula Mang Eno sopir keluarga mereka.
“Rei, ini kamarmu?” setelah kami ngobrol sekitar sepuluh menit, Inka berujar dan menunjuk kamarku.
“Iya, kenapa?”
“Mau baring dulu bentar, kakiku pegel.” ujarnya.
“Sok aja.”
“Eh.. bentar dulu, sayang. Istirahatnya nanti aja kalau udah makan, ayo pada pindah dulu ke ruang makan.” Oma langsung mencegah.
“Oma, kami sudah makan.” protes Om Ariya.
“Memangnya kenapa kalau udah makan? Gak mau lagi makan masakan oma?”
“Udah ayah, ayo makan dulu.” ujar Tante Nji pada suaminya dengan ekspresi yang lucu.
Aku pun tertawa, semuanya sesuai dugaan, dan tidak ada seorang pun yang akan berani membantah oma. Aku semakin geli ketika oma sendiri yang menuangkan nasi pada piring mereka, tanpa mendengarkan ketika Om Ariya dan Tante Nji meminta sedikit saja. Inka lebih kasian, piringnya sangat penuh, padahal ia sangat menjaga pola makan.
“Rei, duduk sinih.” Inka menarikku supaya duduk di sampingnya, aku sudah tahu modus gadis ini, tapi aku tidak bisa mengelak.
“Kamu makan lagi, ya Rei.” oma mengambil piring baru.
“Loh Oma.. aku kan udah makan siang.”
“Oma kan gak nanya, sayang, tapi cuma bilang.”
Aku cuma garuk-garuk kepala, kini gantian Om Ariya, Tante Rinjani, dan Inka yang tertawa. Mang Eno pun ikut terkekeh, tentu saja ia sudah hafal sifat oma karena sudah sering bertemu.
Tapi oma curang. Ia memaksa kami makan sedangkan ia sendiri hanya duduk pada kursi di ujung meja sambil mengamati kami dengan rona bahagia, dan memastikan bahwa kami semua makan dengan lahap. Sesuai dugaanku, ketika oma meleng, Inka memindahkan isi piringnya pada piringku. Pelototan diamnya membuatku tidak berkutik.
Kami makan sambil ngobrol ngalor-ngidul, kadang terpusat padaku, pada Inka, pada kopi, atau apapun.
“Oma juga mau ikut ke Sawer.” tiba-tiba oma mengambil keputusan. Oma dan Eyang Rohmah punya pertalian darah dan keduanya cukup dekat. Tak satu pun di antara kami yang menentang keinginan oma.
“Oma..” ujarku, lalu pada om dan tanteku, “Om, Tante, tapi besok aku turun pagi-pagi ya. Aku sudah telanjur janji menemani kemping para mahasiswa yang lagi KKN.”
“Loh ada yang KKN toh?” tanya Tante Nji, dan anggukanku sudah cukup menjadi jawaban.
“Aku ikut donk. Boleh, Rei?” Inka tiba-tiba antusias.
“Loh.. kamu gimana sih, sayang? Masa kamu cuma semalam di Sawernya?” Tante Nji protes.
“Ayah.. boleh yah?” Inka pinter, ia minta ijin pada ayahnya. Om Arya akan susah menolak.
“Ayah mah terserah kamu aja, tapi ingat minggu sore kita pulang.”
“Ayah?!” Tante Nji protes, dan kami semua tertawa.
“Aku belum setuju loh, Ka.”
“Makasih, Rei.” ia menatapku sambil tersenyum manis.
Haish!! Kini aku yang ditertawakan. Kalau sudah begini urusannya, jawabannya hanya bisa ‘iya’.
“Kalau begitu, daripada kalian capek, mendingan Inka nginep aja di sini, jadi kalian berdua gak usah ke Sawer.” Oma memberi usul.
“Asiikk… Gimana, Mah? Ayah?” Inka senang.
“Ya terserah kamu. Lagian kan minggu lalu kamu udah bertemu dengan saudara-saudaramu dari Sawer.” Om Ariya setuju.
“Untuk makan malam kalian berdua biar oma minta si Irem aja untuk masak.” ujar oma lagi.
“Gak usah oma, biar aku aja yang masak.” Inka langsung menyahut.
“Iya oma, biarin agar mereka urus sendiri, gak udah dimanja.” sahut Tante Nji.
Akhirnya kami pun sepakat. Inka akan tinggal di Ewer, dan besok ikut kemping. Hari Minggu jam tiga sore, Inka akan dijemput dan langsung kembali ke Bandung.
Usai makan kami pun pindah ke ruang tengah untuk menurunkan perut dan melanjutkan obrolan. Aku dan Om Ariya sambil merokok, sedangkan Mang Eno merokok di luar. Setengah jam kemudian mereka pun sudah siap berangkat.
Inka menurunkan tasnya dari mobil, lalu kami mendapatkan ciuman dari Oma dan Tante Nji.
“Nitip Inka, ya sayang, awas kalau kalian macem-macem. Tante belum siap bikin pesta. Hihi…” bisik Tante Nji setelah mencium pipiku.
Aku pun hanya tertawa kecut mendengarnya. Ini bukan hal baru yang kudengar, sudah sering pihak keluarga menghubung-hubungkanku dengan Inka. Kami cocoklah, berjodohlah, dan lain sebagainya. Inka memang sepupuku, tapi tidak punya pertalian darah langsung. Kami bersaudara karena Opa Ardan menikah dengan Oma Alya. Om Ariya adalah saudara tiri mamah dan Tante Maya.
Oma masih cerewet mengingatkan aku dan Inka untuk selalu mengunci pintu, lampu mana yang harus dimatikan dan dinyalakan saat malam, dimana sisa makanan harus disimpan, dan sebagainya. Aku dan Inka hanya tersenyum-senyum saja, bukan oma namanya kalau tidak cerewet.
Mobil yang dikendarai Mang Eno pun meninggalkan halaman. Setelah tidak terlihat lagi baru kami berdua masuk ke dalam rumah.
“Rei, aku tiduran dulu yah.”
“Eh kok di kamarku?”
“Biarin.. hihi.. biar bisa mencium bekas bau tubuh kamu.” jawabnya, sejurus kemudian mukanya memerah, seolah sadar telah keceplosan.
“Kamu tuh.”
Tanpa menengok lagi, ia pun bergegas masuk kamar, sedangkan aku rebahan di atas kursi panjang ruang tengah. Kantuk pun datang dan aku terlelap.
Aku terbangun ketika mendengar ketukan pada pintu depan. Kulirik jam dinding, rupanya sudah tiga puluh menit aku terlelap. Kurapikan rambutku alakadarnya, dan melangkah untuk membuka pintu.
“Re? Oma lagi ke Sawer, besok sore baru pulang.” ujarku ketika melihat sosok cantik Rere berdiri di depan pintu.
“Aku nyari kamu kok.”
“Oh.. silakan masuk.” ajaib juga mendengar bahwa Rere mencariku karena selama ini aku yang mencari dia.
“Ngapain Oma ke Sawer?” tanyanya basa-basi.
“Ada tiga tahunan saudara.”
“Oh.”
Kami duduk berhadapan di ruang tengah. Wajah Rere nampak segar selepas mandi sore, kedua pipinya bersemu merah karena pulasan makeup tipis. Ekspresinya tetap datar, namun tidak sejudes biasanya.
“Ada apa, yah?”
Rere menatapku sebentar, lalu menunduk. Kedua tangannya bertautan dan sedikit saling meremas.
“Aku.. aku mau minta maaf yang tadi, kayaknya aku udah keterlaluan.” akhirnya ia mengutarakan maksudnya mencariku.
“Oh..”
“Maafin aku yah, aku juga gak mau nyari kamu sih, tapi teman-temanku yang memaksa supaya minta maaf.”
Kupret!! Ternyata ia mau minta maaf atas desakan teman-temannya.
“Baiklah, Re. Bilang ke teman-temanmu kalau aku udah memaafkanmu.” aku berusaha ramah, walau kata-kataku tentu saja penuh sindiran.
“Bbukan gitu, Rei. Mereka memang menyuruhku, tapi aku beneran menyesal.” si judes Rere berubah kikuk.
Lucu juga sih, tapi kadang aku tidak bisa hanya modosuin dia, sekali-kali aku harus sedikit memberi pelajaran.
“Iya, aku maafin. Asal kamu sendiri mau mawas diri, kamu bukan yang paling hebat di antara teman-temanmu. Semua punya sumbangsih dengan cara masing-masing, dengan kemampuan unik yang mereka miliki. Jangan pernah meremehkan mereka, jangan pernah juga merendahkan aku dan teman-temanku yang dari kampung.”
“Makasih, Rei.”
Ah.. andai saja Rere bersikap seperti ini, kecantikannya akan semakin memesona. Kalau kuperhatikan hatinya memang baik, tapi entah kenapa ia sering bersikap judes dan galak.
Bagai ada magnet, aku dan Rere saling bertatapan. Wajahnya merona, dan dengan salah tingkah ia pura-pura merapikan helaian rambutnya, lalu menyelipkannya di belakang telinga. Sikapnya menyukakanku, kini aku seolah sedang berhadapan dengan seorang gadis yang berbeda. Tidak kulihat lagi seorang Rere yang mengesalkan.
“Sekali lagi aku minta maaf, Rei.” ia masih ingin mengungkapkan ganjalan hatinya.
“Iya, aku kan udah bilang. Aku gak apa-apa kok, aku cuma ingin kamu gak melakukan hal yang sama pada orang lain. Sifat orang itu berbeda.”
Rere mengangguk sambil tersenyum. Ujubuneeeh… selama aku mengenalnya baru kali ini aku melihat seorang Rere tersenyum. Manis banget.
Dadaku langsung berdesir.
"Kamu udah punya pacar, Re? Boleh aku melabuhkan cintaku padamu? Aku sayang kamu, aku suka kamu , aku cinta." Aku memilih kata dalam hati untuk kuungkapkan, tapi rasanya tidak ada yang cocok.
“Kamu udah jatuh cinta? Aku udah loh.” Haish.. juga tidak cocok.
“Kamu kenapa, Rei? Kok liatin akunya kayak gitu banget?” Rere heran melihat sikapku.
“Eh nggak.. aku.. aku…”
“Ada siapa, Rei?”
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar