Sang pewaris part 4

 

BAB 4








Relaku adalah kamu bahagia, ikhlasku kau menemukan cinta. Aku di sini baik-baik saja. Berjanjilah, ketika kelak kita bersua, senyummu sudah kembali ada.




Klik.




Kutekan enter. Rasanya lega aku sudah bisa menyelesaikan bab dua roman yang sedang kutulis. Tinggal kukirim kepada Enzo dan Ariska untuk meminta pendapat mereka. Dua bersaudara tiri itu memang selalu punya banyak ide, masukan, dan bahkan kritik pedas terhadap tulisanku sampai sejauh ini. Keduanya memang penggila novel.




“Rei…” terdengar oma memanggil dari belakang rumah.


“Iya, Oma?”




Kututup laptop dan langsung menuju ke arah datangnya suara. Nampak oma sedang menyiapkan kayu bakar untuk masak sore. Badannya sudah segar selepas mandi.




“Tadi siapa yang angkat jemuran kopi, sayang?”


“Aku oma.”


“Oalah.. memangnya si Babay dan Juned ke mana? Dasar tuh anak. Masa cucu oma harus kerja kasar.”


“Hehe.. oma apaan sih? Cuma ngarungin kopi aja. Lagian aku ke sini kan memang untuk ngurus kopi.” jawabku, sambil mengambil kayu bakar dari tangan oma dan membawanya ke dapur.


“Iya, kalau itu oma juga tahu. Tapi kan kamu gak harus kerja kasar, cukup belajar proses pengolahannya aja.” oma masih ngomel.




Aku tidak menjawab, langsung kutata beberapa kayu di dalam tungku. Kumasukan juga sebilah bambu dan daun kelapa kering. Buzzz.. api pun menyala. Oma sebetulnya mau protes, tapi ganti tersenyum ketika melihatku cukup cekatan. Aku memang anak kota, tetapi aku juga sangat tahu kalau hanya urusan menyalakan perapian seperti ini. Dulu hampir setiap libur sekolah aku dan kedua saudariku selalu menyempatkan diri untuk tinggal bersama oma.




Akhirnya aku duduk di depan tungku sambil mengatur api supaya kayu bakarnya cepat menyala, sedangkan oma memetik sayuran segar yang baru ia petik. Obrolan ringanku kami perbincangkan. Aku sungguh menikmati suasana seperti ini. Cerewetnya oma pun menyukakan hatiku.




“Rei, telponmu bunyi tuh.” oma mengingatkan.




Aku pun beranjak ke dalam kamar untuk mengambil handphone yang berdering. “Mamah,” langsung kutekan tombol hijau.




“Hallo, Mah.”


“Hai sayang, maaf tadi HP mamah lagi dicharge jadi gak ngangkat telponmu. Kenapa, sayang? Homesick yah? Hihi…”


“Enak ajah. Aku betah kok di sini.”


“Iya ngomong gitu karena baru semalam.”


“Halah.. palingan juga mamah yang kangen. Aku mah betah bareng oma.”


“Iya.. iya.. dasar cucu kesayangan oma.”


“Reiii gitu loh…!!”


“Kamu tuh. So?”


“Nggak.. Tadi tuh aku nelpon karena mau nanya Mamah aja.”


“Mau nanya apa, anak mamah yang ganteng?” kalau udah kayak gini, beneran mamah yang kangen ke aku.


“Mah, di sini ada Puting Bude, mereka anak buah Mamah, bukan?”


“Kamu ngomong apa, sayang?!”


“Puting, Mah.. eh.. itu maksudku…”


“Awas yah kamu ikut-ikutan ayah, gak ada organisasi mahasiswa di kampus mamah yang pakai nama Puting.”


“Mamah ngomong apa barusan?”


“Puting. Eh…”


“Hahah…”


“Sayaaaang!! Awas yah kamu.”




Aku pun tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan mamah terus menggerutu. Intinya dia gak suka aku ikut-ikutan seperti ayah, menyebut PMBE (Pusat Monitoring Budaya dan Ekonomi) dengan Puting Bude.




“Jadi?” tanyaku.


“Jadi apa?”


“Iih Mamah mah. Mereka anak buah Mamah, bukan?”


“Iyah mereka mahasiswa-mahasiswa mamah tapi mereka KKN di sana di bawah bimbingan dosen lain, makanya mamah gak kesana. Kenapa emangnya?”


“Hehe.. nggak, Mah.”


“Kenapa? Awas kalau kamu godain mereka.”


“Nggak mamaaah. Cuma nanya aja, siapa tahu Mamah mau ke sini, eh rupanya nggak.”


“Beneran?”


“Iya, Mah. Eh tapi.. Mamah jangan bilang ke mereka atau ke dosen pembimbingnya kalau aku adalah anak mamah ya.”


“Loh kok gitu? Jadi kamu udah gak mau nganggap mamah sebagai ibumu?”


“Mamaaah. Denger dulu, bukan gitu maksudku. Aku cuma gak ingin mereka sungkan atau gimana gitu ke akunya. Mereka tahunya aku anak kampung sini. Titik.”


“Hmm… kok mamah mencium ada yang gak beres yah.”


“Mah,please"


“Gak bisa. Mamah gak setuju. Masa mamah gak mengakui anak sendiri.”


“Haisssh.. mamah mah gak ngerti-ngerti. Mamah kan gak membohongi siapapun, aku cuma mohon jangan bilang mereka kalau aku -anak mamah yang ganteng ini- ada di Ewer. Kalau Mamah gak bilang, kan mereka juga gak tahu.”


“Hmmm…”


“Mah, oma udah setuju loh, aku bilangin ke oma nih.”


“Oh gitu?!! Sekarang mainnya udah ama oma, mau ngadu gitu?!


“Mamahnya setuju, gaak?!”


“Mmmh.. gimana yah, jelasin dulu alasannya.”


“Omaaaa.” aku melangkah ke arah dapur.


“Eh.. iyah.. iyah.. mamah setuju.”




Hehe.. mamah telat. Oma mendengar teriakanku.




“Ada apa, Rei?”


“Nih mamah mau ngomong, kangen oma katanya.” jawabku.


“Reeei…” kuabaikan teriakan mamah.


“Hallo, sayang, kok kamu tega sih nyuruh cucu oma kerja kasar di sini? Oma kira Rei ke sini hanya berlibur, tapi kok suruh kerja ngurusin kopi juga? Kamu tuh gimana, sih?” 




Aku cuma cengengesan ketikan oma lansgung membrondong mama. Suara yang ku loadspeaker tentu saja membuatku bisa mendengar.




“Bukan begitu, Bu. Rei itu tinggal di Ewer untuk…”


“Pokoknya oma gak suka, Rei disuruh kerja kasar….”


“Bu, bentar deh. Nih Nzi mau ngomong dengan ibu. Kangen katanya.”




Jiah.. mamah memanfaatkan Nzi supaya tidak diomelin oma. Benar saja, omelan oma berubah lembut dan riang ketika berbicara dengan adikku. Aku yakin mamah sedang senyum-senyum karena berhasil lolos dari omelan oma. Dasar mamah!!




Setelah menggoda adikku sambil memeluk oma, aku pun pamit untuk mandi. Sedangkan oma masih melanjutkan ngobrol dengan mamah dan Nzi.




Kuselendangkan handuk kecil, dan kutenteng kotak peralatan mandi. Sebatang rokok menyala terselip di ujung bibir.




“Rei, woiiii…” tiba-tiba ada yang berteriak. Rupanya si Midun.


“Baru dari kebun, Ndun?” tanyaku. Temanku nampak basah bertelanjang dada selepas mandi, pundaknya memikul keranjang kopi.


“Hooh.. malam ngumpul lagi, kan? Kita mau bakar ayam kampung.”


“Siaap. Di pendopo, kan?”


“Ah males di pendopo mah, gak bebas. Mendingan di bukit Beha saja.” jawabnya.




Aku pun terkekeh. Para pemuda kampung sudah biasa menyebut bukit di sisi utara kampung dengan sebutan ‘Bukit Beha’ karena ada dua bukit bersisian yang kalau dilihat dari jauh seperti dua gundukan beha.




“Siap. Nanti nyamper aja ke rumah.” jawabku.


“Siap. Ntar aku dan anak-anak nyamper ke rumah.”




Midun pun berlalu setelah sebelumnya menyabut rokok dari bibirku dan membawanya pergi sambil menghisapnya.




“Kupret!”


“Hahaha…”




Aku pun melanjutkan langkahku dan mandi di tampian. Sengaja aku mandi berlama-lama di bawah guyuran air pancuran, bukan coli, tapi untuk menikmati segarnya air pegunungan. Setengah jam kemudian aku baru kembali ke rumah.




Kusampirkan handuk basah pada bentangan tali jemuran. Lalu masuk melalui pintu dapur.




“Ada siapa, Oma?” tanyaku pada oma karena kudengar di depan ada keramaian.


“Itu Nak Vian dan teman-temannya. Ya kalau gak di pendopo, mereka udah biasa ngumpul di sini.”


“Ooh.”




Aku tidak heran. Keramahan dan kebaikan oma akan membuat siapapun betah dan tidak merasa sungkan.




“Ada yang aneh, deh Rei.” ucapan oma membuatku urung menaiki tangga bale-bale menuju ruang tengah.


“…” sambil mengernyit dan membalas tatapan oma. Seulas senyum ia pancarkan pada wajah tuanya.


"Gak biasanya loh para cewek dandan rapi,tapi mereka sore ini bersolek. Pasti karena cucu oma ini mah .” Oma pun terkekeh.


“Ah Oma, bisa aja.” aku nyengir, lalu berlalu masuk kamar.




Kupilih pakaian paling sederhana, dan juga kuselendangkan sarung milik ayah. Smartphone-ku sudah ditaruh oma di atas meja, namun kubiarkan tergeletak agar tidak dilihat oleh para mahasiswa di depan.




“Sore.” sapaku sambil sedikit membungkuk.


“Hai Rei.” Meti, Rina, dan Salsa menyambutku. Mereka langsung berdiri dan menyalamiku.


“Kan kemarin malam udah ketemu.” heranku.


“Gak ada salahnya kan salaman lagi.” si genit Meti menjawab.




Agus dan Vian hanya menggeleng melihat ulah kedua temannya. Mereka berdua sepertinya sudah paham akan kelakuan mereka berdua.




“Yang lain mana?” tanyaku karena mereka tidak lengkap.


“Masih mandi.” jawab Agus.




Tak lama kemudian Indra temanku datang, dan kami pun ngobrol sambil bercanda tawa untuk semakin mengakrabkan diri. Namun Salsa hanya ikut ngobrol lima menit, sisanya ia masuk dapur untuk membantu oma. Semoga ia memang jujur mau membantu, bukan modus untuk mendekatiku melalui oma. Hehe…!




Meti banyak bertanya padaku. Aku pun berbohong. Kubilang saja bahwa aku bekerja sebagai buruh pabrik tekstil dan kena PHK.




“Lalu rencanamu apa, Rei?” Rina nampak iba.


“Ya di sini aja, ngurus kebun dan kopi bareng oma.” jawabku.


“Kamu kan lulus SMA ya? Aku bisa sih bantuin kamu nyari kerja.” Meti langsung menyahut.


“Ih apaan sih kamu, Met? Baru juga aku yang mau nawarin.” Rina kesal.


“Udah pokoknya, kamu kerja di kantor ayahku aja, Rei. Nanti aku bilang ayah.” Meti tak peduli.


“Hehe.. makasih. Kayaknya untuk sementara aku di kampung aja dulu.”




Rina dan Meti nampak kecewa mendengarnya, dan aku hanya tersenyum. Kulihat Vian dan Nose hanya senyum-senyum saja, pun pula Agus dan Indra.




“Bagus, Rei, jangan mau dimodusin mereka.” sambut Vian sambil tergelak. Kami pun tertawa, kecuali Rina dan Meti yang merengut.


“Eh kebetulan ada kamu, Rei, kami mau minta tolong nih.” tiba-tiba Agus menepuk pundakku.


“Minta tolong apa, Gus?”


“Gini.. Tiap weekend kan kami libur. Nah akhir pekan nanti kami gak ada yang pulang ke Bandung, rencananya kami mau rencana hiking atau camping. Kamu temenin yah. Soalnya hanya Indra yang bisa, yang lain harus kerja di kebun masing-masing. Kamu sendiri kan tahu sekarang lagi musim panen.”


“Kita ke Sawer aja, Rei.” tiba-tiba Indra nyeletuk.




Ingin kugeplak kepala temanku, tapi sebisa mungkin menahan diri. Gak mungkin aku ke Sawer bersama mereka karena keluargaku banyak di sana. Identitasku bisa langsung ketahuan.




“Eh.. aku sih bisa aja nemenin kalian. Tapi menurutku jangan ke Sawer, nanti aja ke sana mah kalau KKN-nya udah mau selesai.” jawabku.


“Asiiik… Jadi baiknya kemana, Rei.” Meti langsung nyamber. Indra bungkam, ia sepertinya mengerti maksudku.


“Kita kemping aja. Perbukitan kebun kopi Indra kan di atas bukit tuh. Kita bisa pasang tenda di deket saung. Nanti yang cowok tidur di tenda, para cewek tidur di saung.” usulku.


“Gimana?” Agus meminta pendapat teman-temannya. Semua mengangguk setuju.


“Boleh juga. Kalau gitu Midun dan yang lainnya bisa gabung kita malam harinya.” Indra pun mengamini.




Kami pun sepakat bahwa kami akan berangkat Sabtu pagi dan kembali Minggu siang. Tak lama kemudian Rere dan Donna datang. Keduanya nampak terlihat segar dan cantik. Tapi aku langsung terpesona pada Rere yang sore ini mengenakan celana sebetis dengan kaos ketat. Ia juga tidak memulas wajahnya seperti tadi pagi. Namun justru itu yang kusuka, kecantikan alaminya semakin terlihat, dan aura judesnya memberi pesona tersendiri.




“Sudah kuduga kalian di sini. Ayo pada pulang, kita belum masak.” ujar Donna. Mereka memang tinggal di rumah kosong yang sengaja disediakan untuk para mahasiswa yang KKN.


“Kata oma, kita makan di sini aja. Oma masak banyak tuh.” tiba-tiba Salsa muncul.


“Iya, kalian makan di sini aja.” teriak oma dari dapur.


“Yesss.” Agus dan Vian girang.


“Kenapa lu?” tiba-tiba Rere merongos.


“Hehehe.. sore ini kan kamu ama Donna yang giliran masak….” ujar Ivan.


“Lalu?” Rere melotot.


“Ng.. nggak apa-apa.” Ivan salah tingkah.


“Pasti gak enak.” kampret nih mulut, aku malah menyahut.


“Kamu!!”


“Pffffttt…” nampak tawa tertahan dalam diri mereka semua. Sedangkan aku hanya garuk-garuk kepala mendapat pelototan Rere.


“Masih bagus juga, aku mau masak.” Donna pun nampak kesal.


“Sudah.. sudah.. mendingan bantuin oma masak yuks.” Salsa menengahi.




Para cewek pun masuk dapur, kecuali Rere. Ia duduk di antara kami, meski langsung sibuk dengan smartphone-nya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan obrolan kami para cowok.




“Aku setuju ama kamu, Rei. Mendingan kamu gak usah balik ke kota, udah di sini aja ngurus kopi bareng omamu. Lagian kan oma udah tua, kasihan tidak ada yang menemani.” ujar Agus. Kini obrolan kembali terpusat padaku.




Kulihat Rere melirik seolah tertarik pada perbincangan kami, namun ia pandai menyembunyikan. Matanya kembali fokus pada layar smartphone.




“Makasih, Gus. Iya rencananya memang begitu.” jawabku.


“Halah.. orang desa sama aja.” tiba-tiba Rere nyeletuk tanpa melirik sedikit pun.




Kini semua mata memandang ke arah Rere, tapi tak seorang pun yang berbicara.




“Kenapa?” gadis itu nampak jengah dan mendelik.


“Maksudmu, Re?” aku balik bertanya.


“Ya kamu juga sama aja. Sukanya merantau ke kota demi gengsi, padahal kekayaan di desa jauh lebih menjanjikan daripada di kota.” ketusnya.




Sebagai pemuda yang pernah menduduki bangku kampus, aku paham akan ucapannya. Perjalanan KKN telah membuatnya paham akan potensi yang ada di Ewer, ia tahu taraf kehidupan warga di sini yang jauh lebih baik daripada beberapa kelas sosial di kota. Namun cara bicaranya yang sinis dan congkak tetap aja membuat aku sedikit kesal. Indra pun nampak tidak suka namun tidak berani membantah.




“Ingat, Rei.” kali ini ia benar-benar menatapku. Ada desiran halus yang menyeruak di dalam dadaku. Pesonanya membuatku tertegun


“Merantau itu bukan pilihan. Kekayaan alam di Ewer itu jauh lebih menjanjikan untuk diolah daripada kerja menjadi buruh yang gajinya tidak seberapa. Kerja di kota itu hanya dapat gengsi, Rei, padahal tinggal di Ewer itu menurutku lebih bergengsi dan membanggakan.” Rere melanjutkan kata-katanya.


“Makasih.” hanya itu yang kuucapkan.




Dalam hati aku memang mengamini. Dan aku kagum, di balik sikap tidak ramahnya tersimpan sebuah sikap peduli yang cukup besar. Kuabaikan Indra yang meninjuku, ia sepertinya tidak suka melihatku hanya diam dinasihati oleh Rere.




Makan malam pun -tepatnya makan sore bagi warga Ewer karena baru jam setengah enam- sudah siap disajikan. Kami semua berpindah ke ruang makan, dan menikmati masakan oma dengan gembira. Oma benar-benar bisa menempatkan diri. Ia tidak menunjukkan sikapnya yang selalu memanjakanku, sekarang yang kudengar malah omelan-omelannya yang dibuat-buat.




Oma juga marah ketika aku minta ijin untuk begadang di Bukit Beha bersama teman-temanku. Sialnya, mendengar rencana kami, Vian dkk malah ingin ikut. Hanya Rere yang menolak. Tapi karena semua temannya ikut, ia pun akhirnya memutuskan gabung karena tidak mau tinggal sendirian di rumah. Oma yang semula tidak mengijinkan pun akhirnya luluh karena kami pergi beramai-ramai.




Jam delapan malam kami sudah beriringan menaiki jalan setapak yang menanjak. Sebetulnya tidak terlalu jauh, tapi karena para cewek banyak berhenti maka perjalanan pun terasa begitu lama.




Midun membawa dua ekor ayam kampung untuk kami bakar, sedangkan Safri menjinjing periuk berisi nasi liwet. Juned membawa termos untuk menyeduh kopi di sana. Agus membawa gitar yang ia selendangkan.




Aku berjalan paling belakang sambil menyorotkan sentar ke depan. Sebetulnya para cewek selalu mencari modus untuk berdekatan denganku, tapi entah kenapa Rere selalu menghalangi dengan berjalan tepat di depanku. Akhirnya mereka pun seperti mengalah, entah apa yang mereka pikirkan.




Aku senang. Selain bisa berdekatan, aku juga bisa melihat goyangan pinggulnya dari belakang. Ingin rasanya aku menggenggam dan mendorongnya untuk membantu dia menapaki titian tanjakan. Haish.. kadang aku heran, di Ewer ini pikiranku jauh lebih mesum, mungkin karena jauh dari pengawasan mamah dan kedua saudariku.




Dan kini, entah sengaja atau tidak, langkah Rere semakin pendek, dan kami pun tercecer beberapa meter di belakang.




“Capek, ya Re?” tanyaku.


“Nggak!”




Udah aja gitu. Ia menjawab singkat, tapi juga tidak memperpanjang langkah. Aku akhirnya kembali diam, dan membuntutinya dari belakang. Aku berharap Rere terpeleset dan aku menangkapnya, biar ada adegan romantis seperti di film-film. Tapi malam ini keberuntungan tidak berpihak padaku, kami pun tiba di puncak bukit tanpa ada yang spesial dalam perjalanan.




Ada teriak senang, juga decak kagum. Malam ini langit sangat cerah, bintangpun kemerlipan. Di ujung timur, bulan mulai merangkak naik. Nampak begitu indah, dan akan semakin indah saat purnama nanti.




Aku dan teman-temanku langsung sigap menyiapkan api unggun. Sedangkan para cewek duduk melingkar di atas daun pisang yang kupangkas sebelumnya.




“Thanks, ya Rei.” ujar Vian yang tiba-tiba berbisik.


“Eh.. untuk?” heranku.


“Kamu telah membuat kami bisa menikmati suasana seperti ini. Sebelumnya kami tidak pernah bisa karena Rere selalu menolak. Yang ada dalam pikirannya selalu kerja dan kerja. Dia itu terlalu serius, selalu ingin memberikan yang terbaik, padahal hasil yang baik tidak harus dijalani dengan tegang juga.”


“Ya dia mau ikut kan bukan karena aku juga, kan tadi dia bilang males sendirian.” jawabku.


“Kamu gak peka, Rei.” kali ini Agus yang berbisik.


“Heh?”


“Kamu jangan khilaf oleh judesnya. Kalau aku perhatikan, dia itu perhatian loh ke kamu. Tadi di rumah oma aja dia sering curi-curi melirik kamu, dan dia juga berani menasihati kamu. Kalau dia gak tertarik pada orang, dia gak akan ngomong seperti itu.” sambung Agus lagi.


“Ini pasti karena tadi pagi. Emangnya tadi kamu apain Rere di pendopo?” Vian menyahut penasaran.


“Loh memangnya kenapa?” kali ini Agus yang heran.


“Halah.. ngawur. Udah ah, ayo beresin kayunya.” aku pun mengalihkan pembicaraan. Jauh di dalam lubuk hati aku merasa senang mendengar penuturan Agus dan Vian.




Kami pun melanjutkan pekerjaan. Kuletakan kayu bakar yang kami kumpulkan pada lingkaran batu yang sudah ditata oleh Safri. Joned memasang patok pada kedua sisinya, sedangkan Midun dan Babay mengolesi ayam dengan bumbu yang sudah disiapkan dari rumah.




Aku dan teman-temanku bercanda tawa sambil menyiapkan api unggun, sedangkan para cewek nampak asik menikmati suasana malam yang sangat indah. Hanya suara alam yang menjadi musik kami saat ini.




“Apa kita kemping di sini aja, ya Rei. Seru juga kalau di sini dan kalau butuh apa-apa gak jauh juga ke sumber air.” ujar Indra yang sedang memasang patok di kedua sisi perapian.


“Mending jangan di sini, tapi di beha kanan. Di sana lebih tinggi dan bisa menikmati purnama lebih jelas.” Babay memberi alternatif, beha kanan yang dimaksud adalah bukit yang satunya, malam ini kami sedang berada di puncak beha kiri.


“Akur.” sahut Midun.


“Hade.” ujar Safri.


“Setuju.” aku mengamini.


“Aing mah ikut aja.” Juned netral.


“Ya terserah kalian aja.” Vian menyerahkan semua rencana pada kami.




Tak lama kemudian, perapian pun menyala, dan dua ekor ayam sudah dipanggang di atasnya. Kami duduk melingkar. Agus mulai memetik gitar dan kami bernyanyi bersama, kadang-kadang dibuat koplo membuat kami semua tertawa. Rere pun terbawa suasana, ia nampak lebih cair.




“Ajaib.” bisik Juned.


“Apanya yang ajaib?”


“Setelah dua minggu di sini, aku baru bisa melihat si Rere gembira sekarang, sebelumnya jutek melulu.”


“Hmmm.” aku hanya bergumam, dan kembali ikut bernyanyi.




Tak sampai sejam, ayam pun sudah matang, aromanya sungguh menggugah selera. Indra dibantu Salsa dan Nose menuang nasi pada daun jati dan membagikannya. Meskipun sudah makan banyak di rumah oma tadi sore, teman-temanku nampak lahap, mungkin karena terbawa suasana. Hanya satu orang yang hanya diam, dan itu adalah Rere.




“Gak makan, Re?” aku menatapnya.


“Masih kenyang.” singkatnya.




Nose seolah mengerti, ia bertukar duduk denganku. Kini aku dan Rere sudah bersisian.




“Ngapain kamu?” Rere tidak suka.


“Karena kamu gak makan, aku siap ngabisin punyamu. Daripada keburu disamber yang lain.” ujarku, dan langsung ditanggapi tawa teman-temanku.




Rere hanya melengos, sedangkan aku melanjutkan makan dengan lahap. Ia seperti mual dan jijik melihat cara kami makan, apalagi ketika melihat Midun menggerogogoti kepala ayam dengan tangan dan bibir belepotan; dan Safri tekun menguliti kaki ayam.




“Enak banget loh, Re. Cobain deh.” celetuk Donna.


“…”


“Ayo Re, cobain.” Rina juga ikut membujuk.




Melihat Rere tetap tidak bergeming, aku pun memiringkan badan dan berbisik, “Kalau kamu gak makan, aku akan bilang mereka kalau kita udah ngopi secangkir berdua.”




“Brengsek kamu!!!” ia berbisik geram.




Aku tidak peduli, kusuapkan nasi liwet, lalu mengedarkan pandangan seolah mau bercerita. Rere melihat ke arahku. Sikap sinisnya bercampur takut. Dengan enggan ia mencomot suwiran ayam, dan ragu-ragu memakannya.




“Horeeee…” sikap Rere yang mau makan mengundang sorak gembira.


“Hidup Rei!!” teriak Agus dan Vian.




Meski begitu, ada wajah-wajah tidak senang dan seperti menyembunyikan rasa cemburu. Ah apa peduliku… inginku hanyalah seorang Rere. Ia adalah gadis yang paling memiliki pesona dan daya tarik.




Kulihat Rere mendengus kesal, namun begitu pipinya merona merah. Dicomotnya suwiran kedua, yang ketiga dicampur nasi, dan makan lahap setelahnya. Kini seorang Rere yang dikenal galak dan judes menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Rere menyembunyikan rasa malunya dengan fokus makan, seolah tidak peduli pada kami semua.




“Tambah yah.” aku mencentong nasi dan menuangkannya pada daun yang dipegang Rere.


“Eh… udah Rei. Aku kenyang.” protesnya.




Aku berusaha merayu, dan teman-teman menyemangati. Tapi kali ini Rere sepertinya memang benar-benar sudah kenyang dan tidak mau makan nasi yang kutuangkan.




“Yaudah kalau gak mau aku yang makan.” kuambil daun nasinya, dan kulahap sampai habis.




Aku tidak tahu apa yang dirasakan oleh Rere. Mungkin ia kesal, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah kenyang. Olokan dan deheman kian kerap kudengar, tapi sepertinya sudah tidak mempan. Rere terbelenggu oleh suasana dan keadaan, taringnya sudah hilang.




“Tadi kamu meminum kopiku, sekarang aku memakan nasimu. Setelah ini kita saling menyuapi.” aku berbisik.


“Hmmmffff…” cubitan keras kurasakan. Aku meringis, dan mataku berair. Ia mencubit tanpa perasaan, dan memelintir sampai level lima. Perih dan nyeri kurasakan.




Teman-temanku tidak mengerti penyebabnya, tapi mereka tertawa, mereka jadi punya tontotan baru yang jarang terjadi. Aku Rei!! Hari pertama telah membuat si harimau judes mulai berubah.




Kuambil teko minum. “Cuci tanganmu,” ucapku pada Rere.




Gadis itu memandangku sambil tersenyum sinis, tetapi tetap melakukan apa yang kuminta. Kalau bukan dari teko ini, di mana lagi ia bisa cuci tangan. Kami orang kampung bisa saja saja mengelapnya dengan dedaunan, tetapi gadis-gadis kota ini, mana bisa?




Aksiku menggoda dan mengerjai Rere membuat suasana semakin meriah. Canda dan tawa memecah kesunyian malam. Kami pun semakin akrab, hubungan antara teman-temanku dengan para mahasiswa yang semula terkesan berjarak kini menjadi lumer. Mereka malah kaget ketika tahu bahwa teman-temanku adalah lulusan kuliah semua, namun mereka kembali ke kampung untuk tetap membangun Ewer dan memelihara tradisi yang kami miliki.




“Aku benar-benar gak nyangka, kalian hebat.” seru Salsa.


“Iya, kecuali si Rei.” Rere menemukan celah untuk mempermalukanku.


“Eh tapi walau lulus SMA, Rei udah ngalami tinggal di kota besar.” Babay membela.


“Apa bedanya dengan kalian? Kalian juga kan waktu kuliah tinggal di kota.”


“…”




Daripada berdebat gak jelas, kuambil gitar dan kumainkan sebuah melodi. Denting nada minor pun melenting, kumainkan kunci Am/Em/F/Am /Em/F/Dm/G..




“Romantis banget sih.” tiba-tiba Meti pindah ke sebelah kiriku. Sangat mepet. Deheman-deheman kecil terdengar, tapi ada gurat misterius dalam wajah Rere. Ia nampak tidak suka.


“Cie.. cie Meti, langsung tancap gas nih, mau nikung dia.” ledek Nose.


“Iya donk.” Meti kecentilan.




Meti memang tipe cewek agresif, ia malah semakin memepetkan duduknya. Aku hanya tertawa tanpa menghentikan petikan pada senar.




“Hati-hati, Rei, Meti itu beracun.” ledek Vian. Tawa pun terdengar.




Tawa mereka baru berhenti ketika intro yang kumainkan mulai berakhir, dan memasuki bait pertama. Tanpa komando kami semua bersenandung, sebuah lagu terbaru dari Armada: “Awas Jatuh Cinta.” Hanya Rere yang tidak ikut bernyanyi, namun kulihat kedua pipinya memerah.




C F C


Aku punya niat yang baik


Dm Fm C


Coba ku ungkapkan padamu


C F C


Berharap kamu kan menjadi


Dm Fm C


Rencana besar di hidupku….






......






“Yeee…” kami pun tepuk tangan. Tapi tidak dengan Rere, ia malah berdiri dan menjauh sambil pura-pura memainkan smartphone-nya.


“Lu sih, Met, cari perkara lu, pake mepet-mepet si Rei segala.” kali ini Donna yang bersuara.


“Loh kok gua?” Meti tidak terima.


“Dia cemburu tuh kamu deket-deket ama Rei.” jelas Donna.


“Loh kok aku?” kali ini aku yang bingung.


“Jarang-jarang loh dia kayak gitu.” Agus menambahkan.




Teman-temanku dari Ewer hanya cengengesan saja, mereka seolah bangga karena aku sudah membuat seorang Rere terkesan hanya dalam waktu yang singkat.




“Udah ah jangan ngawur.” ujarku.


“Temani sana, Rei.” Donna menyuruhku sambil menarik Meti supaya menjauh.


“Aku? Nggak ah.” tampang takut dan minder kupasang.


“Haiish.. buruan sanah.” desak Donna.


“Iya, Rei. Ayo sanah.” Rina dan Nose ikut-ikutan.




Aku cuma garuk-garuk kepala, lalu kuserahkan kembali gitar pada Agus. Kususul Rere yang sedang berdiri di bibir tebing. Suasananya memang cukup indah dan romantis. Kemerlip lampu Ewer dan perkampungan di sekitarnya sangat jelas terlihat, sedangkan di bagian atas, semesta menerangi dengan kemerlip bintang dan bulan yang baru setengah.




“Kok jaketnya gak dikancingin, Re? Dingin loh.” aku mengingatkan sambil berdiri menjejeri.


“Biarin!”


“Jangan gitu donk, nanti kamu bisa masuk angin.”


“…”


“Kamu tuh sebenernya sayang gak sih ama dirimu sendiri?”




Pertanyaanku sukses membuat Rere menengok, keningnya mengkerut. Tapi masih saja membiarkan jaketnya terbuka, padahal udara malam sudah terasa semakin dingin.




“Ya sayanglah!” ketusnya.


“Sama. Aku juga kayaknya mulai sayang ama kamu.”




Mulut Rere terbuka. Ada senyum sinis dan nyinyir di sana.




“Nga… ca…!!!” akhirnya ia mengucapkan sesuatu, walau tanpa suara, aku sangat bisa membaca gerak bibirnya. Rere langsung meninggalkanku untuk bergabung kembali dengan teman-teman.


“Re.”




Ia pun berhenti dan menengok.




“Awas, nanti jatuh cinta.”




Ia langsung geleng-geleng kepala sambil mengibaskan tangan. Meski begitu, aku bisa melihat rona merah pada pipinya.




Aku pun hanya nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala. Aku berniat menyusulnya, tapi urung. Fokusku teralih pada rerimbunan semak yang bergoyang, jelas bukan karena angin. Bulu kudukku merinding, tapi rasa penasaran membuatku tetap diam.




Terdengar ranting patah karena terinjak, tapi aku masih terpaku. Aku ancang-ancang, siap berlari jika ada binatang buas.




Suara langkah berat semakin mendekat, dan semak pun tersibak. Aku hanya bisa melotot ketika melihat ada dua bola menyala seperti senter kecil. Aku mengerjap, jantungku berdetak lebih kencang. Kufokuskan penglihatan, dan munculah sesosok putih keluar dari dalam semak. Aku yang dari tadi sudah ancang-ancang langsung lemas. Lututku gemetar. Jangankan melarikan diri, menggerakan kaki pun aku tak mampu.




Seekor harimau putih sudah berdiri hanya beberapa meter di hadapanku. Matanya menyala, menatapku garang dan siap menerjang. Tubuh gagah-garang dan semampainya semakin mendekat, geraman-geraman kecil terdengar untuk memperlihatkan barisan gigi dan siungnya yang siap mencabik.




“Rei, ayo pulang.” terdengar teriakan Indra.




Jangankan menjawab, menggerakan tubuh pun aku tak bisa. Aku bagai tersirep.




“Rei!!” beberapa teman berteriak.




Aku mengerjap, seakan sadar akan keadaan. Kini bukan hanya aku yang sedang berada dalam bahaya, tetapi juga teman-temanku. Ada energi hangat di dalam dada yang memulihkan keberanianku. Dadaku bergemuruh dan nafasku mulai tersengal.




Aku pun merunduk untuk meraih sebilah dahan kayu. Mataku lekat membalas sinar membunuh sang harimau. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi, keselamatan teman-temanku jauh lebih penting daripada nyawaku. Kini malah aku yang mendekat sambil mengayunkan sebilah dahan kayu. Aku siap menerjang, dan menjadikan nyawa sebagai taruhan.




Wuuuuzzzz…




Ajaib. Makhluk itu pun menghilang seketika. Lenyap ditelan angin. Aku terperangah. Kuusap wajahku beberapa kali. Aku tidak sedang halusinasi, tetapi harimau itu memang sudah tidak ada di hadapanku.




“Rei, lagi ngapain sih. Ayo pulang.” teman-temanku mendekat.


“Eh.. iyah.. ayo.”


“Kamu kenapa mandi keringat gitu, Rei.” malah Rere yang nampak heran. Mungkin ia merasa bersalah karena telah “menolakku”.


“Nggak. Udah yuks.. sorry tadi aku melihat bayangan hitam, kukira hantu, ternyata daun pisang.” aku gugup.




Gelak tawa pun terdengar.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar