BAB 3
Pagi tiba. Bersama Babay dan Juned, aku baru saja selesai mengangkat kopi luwak dari bak penampungan dan membersihkannya. Kami bertiga istirahat di dalam saung sambil menikmati kopi seduhan oma.
“Rei, oma minta tolong anterin uang ke Bu RT. Kemarin oma belum bayar biaya pengiriman kopi ke Bandung.” Oma berdiri di ambang pintu.
“Siap oma. Di rumahnya, kan?”
“Bukan, Bu RT sedang di pendopo.”
Setelah menerima uang dan pamit kepada dua temanku, aku pun melangkah menuju pusat aktivitas warga. Nampak banyak kesibukan di sekitar pendopo. Ada yang sedang “nyangrai” kopi, ada yang menumbuk, ada juga yang mengemas. Di sisi lain beberapa ibu sedang mengemas sayuran organik. Vian dan Nose juga ada di sana, keduanya sibuk memilah biji kopi.
“Wah ada anak kota rupanya.” sambut seorang tetangga.
“Iya, Bi, kumaha damang?
"Pangestu."
Aku bagai gula yang dikerubuni semut. Semua mendatangi dan menyalamiku. Para pemudi kampung saling senggol dan menyalamiku malu-malu. Tentu saja sikap mereka membuat Vian dan Nose melirik heran. Aku salah tingkah, jangan sampai mereka tahu siapa aku.
Tapi aku bersyukur karena tidak ada yang bertanya tentang kabar keluargaku, setidaknya aku masih bisa melanjutkan penyamaran. Sikap warga bisa menjadi alasan sebagai bentuk keramahan karena kami sudah lama tidak saling bertemu.
“Rei, bantuin sini.” seru Nose.
“Bentar yah. Aku mau ketemu Bu RT dulu.” jawabku.
“Oh ada di dalam tuh.” Vian menyahut.
“Bentar yah.”
Aku pun masuk ke dalam ruangan yang menjadi “kantor” administrasi kampung.
“Pagi, Kasep (ganteng).” Bu RT yang sedang mencatat tumpukan nota menyapaku duluan.
“Pagi, Bu.”
“Pagi, Rere.” aku menyapa gadis yang sedang sibuk di depan laptopnya.
“Siang.”
Njir. Udah mah datar, melirik pun tidak. Bu RT hanya tersenyum ketika melihatku garuk-garuk kepala.
“Bu, saya mau nganterin uang dari oma.” sambil menyodorkan amplop.
"Hatur nuhun. Ibu langsung catat yah.”
Aku pun duduk di depan Bu RT. Setelah menghitung uang, ia pun membuat kwitansi dan menyodorkannya kepadaku.
“Hari ini kami agak sibuk karena harus menyelesaikan pesanan ayahmu.” ujar Bu RT sambil menutup buku.
“Bu!” aku berkata pelan sambil memberi kode dengan mata.
“Ayah?” Rere pun kepo.
“Iiya.. Ayah Rad. Rei juga kan biasa manggil ayah."
Cerdas! Aku tersenyum senang, dan Bu RT mengerling bangga. Ia berhasil menyadari kesalahannya.
“Ooh.” terdengar gumaman dari meja sebelah.
Seakan tahu akan gejolak anak muda, Bu RT pun pamit pulang dulu. Ia beralasan mau menyiapkan makan siang untuk anaknya. Jadilah.. hanya ada aku dan Rere di dalam ruangan ini.
“Lagi sibuk yah?” tanyaku.
Rere nampak cantik. Ia mengenakan kaos putih ketat dengan bawahan rok selutut. Rambutnya dibiarkan tergerai sehingga menjuntai di antara pipinya karena ia sedang fokus di depan laptop.
“....”
“Ada yang bisa kubantu?”
“Gak.”
“....” kali ini aku yang diam.
Tanpa menengok tangannya terangkat untuk merapikan rambutnya. Jantungku langsung berdesir ketika melihat ketiak putihnya. Gerakannya juga membuat aku bisa menikmati tebing samping payudaranya. Nampak ranum dan menggunung.
Aku langsung gugup dan pura-pura merapikan meja kerja Bu RT ketika ia melirik. Wajah Rere tanpa ekspresi, tapi justru kelihatan semakin menarik.
“Lagi ngerjain apa sih?” aku bertanya lagi. Kali ini aku memberanikan diri untuk pindah duduk pada kursi di depan mejanya.
“Laporan.”
“Oh.”
Rere kembali fokus. Matanya terpaku pada layar, sedangkan jemari lentiknya cekatan menyentuh tombol-tombol keyboard. Aku kembali berdesir. Gadis ini memang cantik. Posisi duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, membuatku bisa menikmati paras moleknya, dan langsung kurekam dalam benak.
Tiba-tiba ia menghentikan aktivitasnya dan mendongak.
“Ngapain kamu?”
"Nemenin kamu.”
"Heh? Aku gak butuh loh, aku malah merasa terganggu.” judesnya. Bola matanya berbinar menatapku. Dan aku kalah, kualihkan fokus pandanganku pada bibirnya yang merah merekah.
“Rei?!”
“Iyah?”
“Kamu denger gak? Aku terganggu oleh kehadiranmu.”
"Oh jadi kamu ngusir aku?”
“Pikir sendiri!”
Aku hanya bisa nyengir mendengarnya. Aku pun berdiri dan berjalan mundur menuju pintu.
“Bener nih aku pergi?”
“Rei!!!”
“Hehe.. iyah iyah.”
Aku pun langsung kabur menemui Vian dan Nose.
“Kenapa Rei, kok Rere bentak kamu?” tanya Vian.
“Aku diusir.” kekehku.
Vian dan Nose pun tertawa. Mereka sepertinya tidak heran mendengaku diusir gadis itu.
“Kamu pasti modusin dia. Hati-hati, Rei.” ujar Vian ambil mengibaskan tangan di depan leher.
“Masih luka batin, ya yank.” ketus Nose.
“Eh kalian pacaran?” heranku.
“Yoi... pacarku cantik, kan Rei?” Vian berbangga diri.
“Udah gak usah carmuk deh. Aku kan cuma jadi pelarianmu. Dulu aja waktu masih mengejar Rere, kamu gak pernah nganggap aku ada. Sekarang pake ngerayu-ngerayu segala.” Nose cemberut.
Aku pun terkekeh, sedangkan Vian menjawil hidung Nose namun berhasil ditepis. Penuturan Nose sudah cukup jelas bagiku, dan aku tidak perlu bertanya lagi.
“Udah punya ‘monyet’ belum?” aku bertanya pada Vian.
“Mana ada cowok yang berani deketin dia. Mental semua.” jawab Vian.
“Iya, termasuk kamu kan?” Nose nyamber.
Aku pun kembali tertawa, tapi dalam hati langsung tumbuh sebuah tekad, aku harus bisa mendekatinya.
“Daripada cuma ngeliatin, mending bantuin deh Rei.” pinta Nose.
“Emang yang lain pada kemana, kok cuma ada kalian bertiga?” tanyaku.
“Mereka lagi penelitian di persemaian bibit kopi. Ditemani Indra dan Safri.”
“Oh.”
Aku sebetulnya berniat untuk membantu, namun tiba-tiba terbersit sebuah ide.
“Nanti yah... aku mau bantu Rere dulu.”
“Hah? Woi mau kemana lu?” seru Vian.
Aku hanya mengacungkan kedua jempol, sambil melanjutkan langkah menuju dapur umum.
“Looh, Nak Rei? Mau perlu apa, biar bibi yang siapin?” Bi Kaswari yang sedang membereskan dapur nampak heran.
“Aku mau bikin kopi, Bi.”
"Euleuh si kasep teh.. kan tinggal bilang aja, gak usah bikin sendiri.”
“Hehe.. yaudah bikinin, ya Bi. Dua.” pintaku.
Tanpa diminta dua kali, Bi Kaswari pun langsung menyeduh dua cangkir kopi. Aku menemaninya tanpa menghiraukan permintaannya untuk menunggu di depan. Jadilah kami ngobrol dan wanita paruh baya ini terus bercerita tentang Juned, anaknya, yang bulan depan akan menikah.
'Hatur nuhun, Bi.”
"Sami-sami. Eh beneran yah, kalau Juned nikah, nanti Nak Rei datang.”
“Siap, Bi.”
Aku pun bergegas menemui Rere sambil membawa dua cangkir kopi luwak. Gadis itu hanya melirik sebentar, lalu kembali fokus mengetik.
“Ngopi dulu, Re.” kuletakan cangkir kopi di atas meja, kuseruput cangkir yang satunya.
“Aku gak pesen.”
“Emang nggak sih.”
“…”
"Diminum, Re. Enak loh.. biar semangat kerjanya.” aku membujuk.
“Aku kan udah bilang gak pesen. Haish..” ia menatapku tidak suka.
“Sama-sama.” aku tak acuh.
“Makasih!” Aku menyembunyikan senyum ketika kata itu akhirnya keluar dari bibirnya.
Memandang wajah cantik sambil menikmati secangkir kopi memang memberi sensasi yang sangat menyenangkan. Aku tak peduli meskipun Rere masih cuek dan tak kunjung mencicipi kopinya.
“Ngapain kamu?” ia kembali mendongak sinis.
“Ngopi.”
“Kamu…” tangannya terangkat mau menunjuk mukaku, tapi urung. Ujarnya lagi, “Maksudku, ngapain kamu di sini?”
“Ngopi.”
“Rei!!”
“Ngopi, Re. Silakan diminum.”
“Pergi kamu!”
“Minum dulu donk kopinya.”
Wajah Rere memerah, ia sepertinya benar-benar kesal dan marah.
“Iya aku minum… Puas kamu..?”
Byuuuurrrr…!!!
Kopi pun menyembur dari mulutnya dan membasasih leher dan dadaku.
“Haish.. hash.. hiiiih…” Rere langsung mencecap-cecap dan mengusapi bibirnya.
“Brengsek kamu, Rei!!” bukannya merasa bersalah karena sudah menyemburku, ia malah memaki.
“Panas yah?” tanyaku sambil mengusap lelehan kopi pada ujung dagu, lalu kujilat jariku. Lumayan.. aku bisa mencecap kopi yang keluar dari mulutnya, anggap saja aku sedang menerima ciuman jarak jauh.
“Pahiit, Rei.” Rere sewot. Ia langsung meneguk air putih dari tumblernya.
“Manis, kok.” jawabku sambil kembali menjilat telunjukku.
Wajah Rere pun langsung merah padam, entah marah atau mungkin karena mulutnya masih terasa pahit.
“Keluar kamu!”
“Belum juga dikocok, udah disuruh keluar aja.” tapi hanya dalam hati. Aku tidak berani mengucapkannya.
“Re, jangan galak-galak donk, leherku panas nih.” aku menunjukan leher dan kerah kaosku yang basah.
“Keluar gak?”
“Oo oouwh.. kalem Re.. kalem… Iya aku keluar, tapi kita habisin dulu kopinya yah.” aku berusaha bertahan. Pantang bagi keturunan Sirnawa untuk gampang menyerah.
Nafas Rere tersengal, kedua tangannya mengepal. Ia sepertinya sedang berusaha mengendalikan emosi.
“Terima kasih kopinya, ya. Tapi maaf aku tidak suka kopi pahit, sekarang silakan keluar.” ia tersenyum yang dibuat-buat.
“Sama-sama, Rere. Tapi di dunia mana pun tidak ada loh yang namanya kopi pahit.” ujarku.
Perkataanku sukses membuat dahi mulus Rere mengkerut. Kesempatan ini kupakai untuk melancarkan jurus filosofi kopi versi ayahku. Sebelum ia kembali mengusirku, aku langsung berkata, “Kopi itu buah atau bukan?”
Rere mengangguk ragu.
“Nah, apa ada rasa buah yang pahit? Kalau tidak manis…”
“Kecut.” si judes bagai gadis bodoh yang malah melanjutkan ucapanku.
“Nah, kalau kopi itu buah berarti tidak pahit donk, Re. Pilihannya cuma manis atau kecut.” aku melanjutkan.
Rere nampak masih kesal, tapi sudah tidak berniat mengusirku. Ia menutup laptopnya dan menatapku tajam. Tidak ramah, tidak berkenan aku mengganggunya, namun sepertinya ia masih mau memberiku waktu untuk berbicara.
“Teorimu tentang buah benar, Rei. Tapi tidak berlaku untuk kopi, buktinya pahit.” ia menyanggah.
Sebelum menjawab, aku mengangkat ujung kaosku untuk mengusap leherku yang terasa lengket. Rere pun melengos karena melihat dada bidangku. Padahal puting susuku seksi, ada selembar bulu lagi, tapi sepertinya ia tidak mau melihat.
Kuseruput kopiku secara perlahan, lalu kukecap lidah.
“Manis.” ujarku.
“Ya karena punyamu pake gula.” ia curiga aku mengerjainya.
“Nggak, Re. Coba deh.”
Bagai tersirep, Rere malah menerima cangkirku dan menyeruputnya sedikit.
“Cuiiih.. cuih…” ia kembali meminum air putihnya.
“Stop!!”
Aku menunjuk dia, dan Rere pun bengong. Ia melihatku heran.
“Sekarang cecap lidahmu lagi, apa yang kamu rasakan?” Rere terlihat nurut.
Beberapa detik kemudian ia mengkerut.
“Kerasa manis, gak?” aku menatapnya. Rere pun mengangguk.
“Sekarang terbukti kan kalau kopi itu manis? Gampang kok cara membuktikannya. Setelah meneguk kopi, minum air putih sedikit pasti akan kerasa manis di lidah.” aku menegaskan kembali.
Ada binar berbeda dalam sorot mata Rere, namun sejurus kemudian berubah judes dan galak kembali.
“Makasih, ya Reiii!!! Sekarang silakan kamu keluar, aku mau melanjutkan kerja lagi.”
“Sama-sama.” aku pun berdiri dan melangkah menuju pintu.
“Re.” aku berbalik.
“Apa lagi sih?” ia melotot.
“Aku sudah mencicipi kopi dari mulutmu, dan kamu sudah minum dari cangkirku. Berarti…”
Belum juga aku menyelesaikan kalimatku, sebuah buku melayang, namun aku sigap menutup pintu. Buuuk… pintu yang tidak bersalah pun terkena lemparan gadis harimau itu. Aku tersenyum sambil bersandar pada daun pintu bagian luar. Ivan dan Nose memandangku heran, tak sedikit juga mata yang melirik ke arahku.
Aku tidak peduli. Segera aku bergeser untuk mengintip dari jendela kaca yang ditutup gorden putih-transparan. Kulihat Rere sedang duduk kaku, sekali-kali ia menggeleng. Semenit kemudian.. ia meraih cangkir kopiku dan menyeruputnya sedikit. Diteguknya air putih, bibirnya mencecap. Rere pun tersenyum sendiri.
Aku pun melangkah dengan wajah sumringah.
“Van, Nose, aku balik dulu ya.”
“Woi.. katanya mau bantuin?” Ivan kesal.
“Iya, kamu kok jahat sih?” Nose ikutan protes.
“Maaf ya, aku harus bantuin oma bersihin kandang luwak.” aku beralasan.
Aku pun pamit dan melambaikan tangan kepada beberapa warga yang masih bekerja, lalu melangkah pulang.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar