BAB 32
Untuk pertama kalinya semenjak aku bekerja sebagai sopir, aku mendapat semprotan dan omelan. Nzi nampak begitu kesal, dan aku hanya bisa kiceup sambil menunduk. Aku tidak menyangka adikku akan semarah ini, sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan pada pegawai di rumah ini. Ia telah sedikit berubah, cintanya pada Dante membuat ia tidak lagi ramah. Aura negatif pemuda itu sepertinya sudah menular pada adikku.
Beruntung teman-temannya mencoba menenangkan dan mengalihkan perhatian Nzi pada pesanannya. Aku kembali duduk, kuhabiskan baksoku tanpa selera.
Setelah habis, aku berniat kembali ke kamarku untuk berganti pakaian. Sengaja lewat depan untuk menemui Kak Kekey dan berterima kasih atas traktirannya.
“Mas Iba, aku boleh minta tolong gak?” ujar Rere.
“Eh iya, Neng. Mau minta tolong apa?”
“Tolong ambilin handphone-ku di kamar atas. Di kamar Rei.”
“Kamarnya yang mana, ya Neng?”
“Dari tangga kamu belok kanan, pintunya terbuka kok. Handphone-nya ada di atas meja.”
“Baik, Neng.”
“Terima kasih ya.”
“Hehe.. Neng Rere pake berterima kasih segala. Ya gakpapa atuh, Neng.”
Aku mengangguk sopan, lalu beranjak memasuki rumah. Aku minta ijin dulu pada orangtuaku dan kedua calon mertuaku yang masih asik ngobrol di ruang keluarga. Aku pun menaiki tangga.
Kumasuki kamarku sendiri. Terlihat sangat bersih dan rapi. Nampak tas Rere menumpang di ujung kasur. Aku yang semula biasa, kini tersedak haru. Aku sudah terasing dari kamarku sendiri, fasilitas pribadiku sudah tidak bisa lagi kunikmati.
Degh!
Smartphone Rere tergeletak di atas meja. Sedang dicharge. Namun bukan itu yang membuatku tersentak. Melainkan setangkai mawar yang dipasang pada pas bunga yang sangat indah. Aku melangkah, dan mataku langsung berkaca-kaca.
Sekarang aku paham. Rupanya Rere datang setiap hari, entah pagi atau sore, untuk mengganti bunga itu. Terdapat juga sebuah agenda, namun aku tidak bisa mengintip karena cover tebalnya pake nomor kunci.
Aku merunduk. Kucium harum mawar itu seolah sedang menghirup aroma tubuh kekasihku. Aku membatin.. tulus kusampaikan rasa sayangku.
Ingin rasanya aku melawan takdir. Berlari ke bawah dan memeluk kekasihku. Tapi ada daya, yang akan kudapat malah tamparan. Wajahku kini berbeda, sulit bagi semua orang untuk percaya.
Kuusap jentik air mataku. Kuatur nafas selama beberapa saat lamanya. Tak mau Rere curiga karena terlalu lama, segera kuambil smartphonenya. Kutinggalkan kamar.
Kuberikan pada Rere, dan langsung pamit dengan alasan mau pulang ke kostan. Kekasihku mengernyitkan dahi melihat perubahanku. Pun pula Kak Kekey dan Kak Rega. Untungnya mereka tidak banyak bertanya. Nzi yang sudah duduk bersama mereka tidak mempedulikanku, nampaknya ia masih kesal. Bukan hanya itu, ia langsung berdiri meninggalkan teras sambil membawa mangkoknya, menuju studio di belakang. Tanpa kata, tiada senyum.
Belum juga aku beranjak menuju parkitan motor, tiba-tiba sebuah Avanza memasuki pekarangan dan berhenti di depan garasi. Seorang gadis cantik keluar. Rere dan Kak Kekey berdiri menyambut.
“Sa?” heranku.
“Hei Iba.” senyumnya riang.
Aku sedikit kikuk. Salsa mendekat dan menyenggol lenganku sambil mengerling genit. Tentu saja hanya dibuat-buat, karena kutahu gadis itu bukan gadis yang centil apalagi kecentilan.
“Kok gak bilang-bilang dulu kalau mau ke sini?” sambut kekasihku.
“Yeee.. siapa juga yang mau ketemu lu?” keduanya cipika-cipiki, lalu Salsa menyalami Kak Rega dan Kak Kekey.
“Lalu?”
“Tuh…”
Salsa memberi kode dengan matanya ke arahku, disambut kerutan heran Rere. Aku yang merasa menjadi objek pembicaraan merasa salah tingkah sendiri.
“Palingan kenal di kampus, kan Iba antar-jemput mamah tiap hari.” Kak Kekey mencoba menebak dan menjelaskan pada Rere yang masih nampak bingung dan sedang menunggu jawaban.
“Bener, Sa?” tanya Rere.
“Iba sini.” seru Salsa tanpa mempedulikan cecaran pertanyaan Rere.
“Iya Neng.. Eh.. Sa..?” aku mendekat kikuk.
“Ingat janjimu, kan? Aku ke sini sengaja jemput kamu loh.”
“Eh..”
Aku tersenyum malu dan garuk-garuk kepala. Aku lupa kalau hari ini janji menemani Salsa jalan-jalan ke toko buku, dilanjut makan mie favoritnya di kawasan Kejaksan.
“Kamu! Pasti lupa!!” Salsa menggerutu dan aku cuma nyengir.
“Hei.. hello… aku nanya kamu loh dari tadi!” Rere pura-pura sewot pada Salsa.
“Hihi.. jadi begini, non.” Salsa menjawil pipi kekasihku.
“Iba itu ngekost di tempatku, makanya sudah saling kenal. Terus kami juga tiap hari ketemu di kampus.” jelas Salsa.
“Nah kan bener.” ujar kakak.
“Benar, Ba? Kamu ngekost di tempatnya Salsa?”
“Iya, Neng.” aku menjawab sambil menunduk.
Penjelasan Salsa dan pengakuanku langsung disambut godaan Kak Kekey dan Rere; bahkan Kak Rega pun ikut-ikutan. Aku cukup malu dan hanya bisa menunduk. Tetapi jauh di dalam lubuk hatiku aku juga merasa senang, baik Rere maupun Kak Kekey dan kekasihnya tidak menganggap rendah pekerjaanku yang hanya sekedar sopir. Mereka sama sekali tidak terlihat keberatan jika Salsa bergaul dengan seorang sopir. Walaupun kutahu.. Rere pasti akan sangat marah dan cemburu jika ia tahu bahwa aku adalah kekasihnya. Sudah pasti.. pergi berdua dengan Salsa tidak akan mendapat restu.
Rere menawari Salsa bakso tapi gadis itu menolak. Ia melempar kunci mobilnya padaku, sigap kutangkap. Sekali lagi aku pamit pada Kak Kekey, Kak Rega dan Rere dan langsung menuju mobil, sedangkan Salsa masih melanjutkan ngobrol.
Kunyalakan mobil, dan cukup lama aku menunggu. Aku melamun.. apa yang kulihat barusan di kamarku masih terbayang. Setengah jam kemudian Salsa baru menyusul.
“Ibaaa.. Woiii.. ayooo jalan.” sebuah teriakan cukup keras yang disertai pukulan pada pahaku menyadarkanku. Salsa sudah berada di dalam mobil tanpa kusadari masuknya.
“Eh iya, maaf. Kamu sih lama!” aku pura-pura kesal untuk menyembunyikan kegugupan.
“Yeee.. tadi ngobrol dulu ama Tante Callysta dan Tante Nur.” ujarnya sambil memasang safetybelt, kedua payudaranya auto menyembul. “Lagian ngelamun apaan sih? Masih mikirin mantan yah?”
Aku tak menjawab. Segera kulajukan mobil dengan pelan dan pamit pada Mang Uri yang membukakan gerbang.
“So?” Salsa menghadap ke arahku yang sedang nyopir.
“Apanya?”
“Masih mikirin mantan?”
“Nggak!”
“Kok nadanya tinggi gitu? Berarti masih ya?”
“Nggaak, Sa.”
“…” Salsa diam tetapi senyumnya menunjukan bahwa ia tidak percaya.
Tik tok tik tok…
“Belajarlah untuk bahagia, Ba. Menyayangi seseorang itu soal ikhlas.. kalau kamu berpikir bahwa rasa sayang itu identik dengan memiliki, maka sebenarnya kamu gak ikhlas menyanginya.” gumam Salsa tiba-tiba.
“Eh?!” aku kaget. Bukan kaget pada apa yang ia ucapkan, tetapi karena seorang Salsa bisa berkata seperti itu. Ternyata Salsa adalah seorang gadis yang bijak dalam hal ini, dan ia benar. Meskipun sebetulnya tidaklah benar bahwa aku sedang memikirkan mantan, Rere tidak pernah menjadi mantanku; ia masih menjadi kekasihku. Aku telah membohongi Salsa sekedar untuk mencari alasan kala itu karena ia melihatku menangis.
“Mantanmu berhak bahagia tanpa kamu, pun pula kamu. Kalau tidak ikhlas bagaimana bisa bahagia?! Ikhlaslah, Ba, belum tentu kamu bisa membuat dia bahagia seandainya pun kalian tetap bersama.” ujarnya lagi.
“Makasih, Sa.” hanya itu yang kuucap. Selebihnya aku kembali diam karena aku tidak tahu harus berkata apa.
Entah Salsa menerjemahkan diamku seperti apa, tangannya tiba-tiba terulur mengusapi punggung tanganku yang sedang memegang stir. Seulas senyum terlihat dari sudut mataku. Aku tidak merespon, tetapi juga tidak menolak. Sayang juga kalau harus melewatkan sentuhan halus telapak tangannya.
Tak sampai setengah jam kami sudah tiba di parkiran Gramedia. Aku terkejut ketika tiba-tiba Salsa menggandeng tanganku. Sikutku tak sengaja menyenggol pinggiran payudaranya. Ia sadar tetapi bersikap tak acuh, aku juga sadar dan ingin kuulang lagi untuk memastikan rasa kenyalnya. Tapi aku takut ditabok.
Aku menjejeri langkah Salsa dengan perasaan sedikit berdebar. Wajah Rere terbayang, tapi entah kenapa aku juga tak berani menepis gandengan tangan gadis di sampingku.
Kulirik wajahnya dari sudut mataku, dan aku harus mengakui bahwa Salsa adalah seorang gadis yang cantik. Bibirnya pun imut dan menggemaskan. Tanpa sadar aku pun ingin memulasnya dengan lipstik yang terbuat dari air liur di ujung lidahku.
Salsa langsung mengajakku ke lantai tiga, tempat kumpulan novel berada. Gandengan tangannya baru terlepas ketika kami tiba di sana. Ia pun langsung melihat karya-karya Nicefor dan Cinthunk yang terbaru, sedangkan aku mencari-cari Novel Fredi S, tapi tidak kutemukan.
“Ba, kamu udah baca novel ini belum?” Salsa menunjuk sebuah novel.
“Belum, Sa.”
“Hihi kamu tuh gimana sih? Ini karangan Rei tahu, anak kedua Tante Callysta.”
“Oh ya? Masa sih?” aku pura-pura bloon.
Salsa pun menepuk bahuku gemas, dan tanpa kuminta ia menceritakan isi novel itu.
“Ceritanya romantis banget, walau ada sedihnya. Aku beliin satu yah buat kamu.”
“Eh.. gak usah Sa, biar aku saja yang…”
“Gak usah nolak. Biar aku aja yang beliin.”
Aku mengangkat bahu tanpa bisa membantah. Salsa pun memberikan senyum termanisnya saat melihat aku tidak menolak. Tangannya terulur untuk mengusap pipiku, tapi urung dan beralih menepuk bahu. Sepertinya ia keburu sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapanya.
Rak demi rak buku kami susuri dan ia sudah kembali mengapit lenganku. Sebagai pria ‘jomblo’ situasi seperti ini malah membuatku merasa nyaman. Tanpa sadar aku mulai antusias membahas isi beberapa novel sehingga Salsa kagum sekaligus terheran. Kini ia menjadi tahu bahwa aku pun suka membaca novel; dan entah kebetulan atau tidak, ternyata genre kesukaan kami sama.
Salsa memilih tiga novel yang akan dibeli, satu untukku dan tanpa ia tahu, itu adalah karyaku sendiri. Kami sedikit berpisah karena ia menuju rak buku yang memajang resep masakan, sedangkan aku masih berada di depan barisan novel, sambil tetap berharap bisa menemukan cerita lendir. Nihil!
Perhatianku teralih ketika seorang gadis remaja melewatiku. Ia menuntun adiknya, seorang gadis kecil yang usianya masih satu digit. Rasanya aku mengenal mereka.
Kuikuti langkah mereka, dan benar saja. Wanita itu ada di sini. Kucari Salsa dengan sudut mataku, dan ia cukup asik membuka-buka buku. Kualihkan kembali perhatianku kepada wanita cantik dengan pakaian yang cukup tertutup; tapi lekuk tubuhnya cukup terbentuk.
Kutarik nafas dalam dengan kening mengkerut. Kucari cara untuk mendekati dan menyapanya tanpa ia curiga. Salah bersikap dan wanita itu tidak suka, aku bisa disikat. Dua bodyguard selalu mengawal walau hanya mengawasi dari kejauhan.
Lantas kuambil sebuah novel karyaku dengan senyum mengembang. Langkahku panjang menuju kasir. Kubayar dengan paket ‘gift’ sehingga kasir langsung membungkusnya dengan bukus kado istimewa. Tentu saja aku menulis quote dan menandatangani novel itu sebelumnya.
Setelah semuanya beres dan kubayar, dengan cukup percaya diri aku mendekati wanita itu. Jantung sedikit berdebar.
“Selamat siang, apakah betul dengan Bu Wulan?” aku menyapa sopan.
Wanita cantik di hadapanku menatap penuh curiga, sikap manisnya berubah angkuh. Seorang budyguard nampak mendekat sambil pura-pura melihat barisan rak.
“Maaf.. saya Iba, sopir pribadi Mas Rei, boss Kopi NeNeN. Dan saya diminta beliau untuk memberikan kado ini pada ibu. Sebuah Novel karya beliau sendiri.” aku menjelaskan.
“Oh..” ujar Tante Wulan. Kulihat ia memberi gerakan seolah memberi kode kepada pengawalnya bahwa aku bukanlah orang yang berbahaya.
“Reinya mana?” tanyanya.
“Mas Rei barusan langsung pergi untuk menjemput Neng Rere. Beliau titip salam dan memohon maaf karena tidak sempat menemui ibu.” bohongku.
Menyebut nama Rere sudah cukup untuk membuat Tante Wulan percaya. Aku tidak sedang menipunya.
Tante Wulan pun mengaku baru tahu bahwa Rei telah menerbitkan novel. Ia banyak bertanya padaku, dan aku menjawab sesopan mungkin. Aku juga bersikap malu dan minder karena sedang berhadapan dengan seorang wanita terhormat, istri seorang pengusaha kelas kakap. Aku pura-pura salah tingkah dan gugup, padahal aku berusaha mengeluarkan bandul kalungku.
Pada titik tertentu.. aku mengecupnya, tepat di bawah tatapan Tante Wulan. Reaksinya cukup cepat. Sikap angkuh dan waspadanya perlahan pudah, tutur katanya berubah lembut dan ramah. Bahkan ketika kedua anaknya mendekat untuk meminta pesetujuan akan buku yang akan mereka beli, Tante Wulan malah memperkenalkan kedua putrinya padaku.
“Mana.. sini atuh bukunya, dan bilang terima kasih pada Rei.” ujar Tante Wulan.
Aku tersenyum malu karena kado untuknya masih kupegang. Segera kusodorkan dengan posisi tangan sedemikian rupa sehingga aku bisa menyentuh kulitnya.
Ia menerima, dan kulit tangan kami bersentuhan walaupun tipis. Itu yang kumau. Dan modusku berhasil. Tante Wulan seperti terperangah setengah begidik, bibir seksinya sedikit terbuka.
Mangsaku sudah termakan umpan, dan janjiku pada Enzo sahabatku tidak lama lagi akan bisa kupenuhi. Kini gantian Tante Wulan yang nampak gugup dan salah tingkah di hadapanku. Jentik keringat menyembul pada pelipisnya, padahal ruangan sangat jelas ber-AC.
“Kalau begitu saya permisi, Bu. Maaf mengganggu.” aku pamit sambil mengangguk sopan.
“Eh.. iiii.. iya. Makasih ya.” ia menjawab gugup.
Kini aku lebih percaya diri. Kuulurkan tangan untuk menyalaminya. Ia menyambut. Tangan kami bertautan, dan kugenggam cukup erat. Aku tidak sudah tidak takut.
Wajah Tante Wulan memerah, tapi bahasa tubuhnya berbeda, ia menjabat tanganku tak kalah erat.
“Iba.” ujarnya ketika jabatan kami terlepas dan aku hendak meninggalkannya.
“Iya, Bu?”
Tante Wulan tidak menjawab, melainkan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
“Ini kartu nama saya, kalau ada waktu hubungi saya.”
“Baik, Bu, terima kasih.”
Aku tidak ingin membuatnya malu dengan bertanya untuk apa. Aku malah senang karena ia sudah mulai tunduk.
Setelah pamit sekali lagi, aku menjauhinya. Kuyakin ia masih menatap punggungku sampai aku menghilang terhalang rak.
“Kamu abis dari mana, Ba. Udah yuk…” Salsa menyambutku, wajahnya sedikit muram, tidak secerah tadi.
“Abis liat-liat aja.” jawabku.
Tanpa banyak kata, Salsa menggandengku menuju kasir. Ketika tangannya sibuk membayar, malah tanganku yang memegang bahunya. Seandainya aku memeluk pingganya pun mungkin ia tidak akan menolak. Entah kalau kalau aku menangkup bongkahan bokongnya yang terbalut jeans ketat.
Usai membayar, Salsa menarik tanganku dengan langkah panjang.
“Kenapa buru-buru sih?” tanyaku.
“Rere udah nyampe di bawah.” jawabnya.
“Loh? Neng Rere ada di sini?” aku terheran.
“Gak tahu tuh, tiba-tiba ia nyusul dan ingin ikut makan bareng.”
Aku tidak sempat menyahut lagi karena Salsa semakin tergesa. Wajahnya nampak sedikit kecewa tetapi tetap saja ia tidak ingin membuat Rere menunggu.
Benar saja, Rere sedang berdiri di lobi toko buku.
“Kesambet apa sih lu ampe pengen ikutan makan mie Jawa?” seru Salsa. Ya.. aku dan gadis ini memang berencana makan Mie Jawa seusai dari toko buku.
Berbeda dengan Salsa yang ramah, Rere nampak terperangah. Wajahnya nampak memerah sambil melihat ke arahku. Dadanya tiba-tiba naik-turun seperti terdesak oleh rasa marah.
“Hello….” Salsa melambaikan tangan tepat di depan wajah Rere.
“Kalian pacaran?” tiba-tiba Rere basa-basi.
“Iya, donk.”
“Nnggak, Non.”
Aku dan Salsa menyahut bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Mata Rere nampak memerah dan menatap ke arah tangan kami yang masih saling menggenggam. Tangannya terulur.. (dan mamang menulis kata BERSAMBUNG…..
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar