Sang pewaris part 31

 

Bab 31






Lelah! Itulah dominan yang kurasakan setelah sebulan bekerja di rumah keluargaku. Bukan capek karena pekerjaannya yang berat, toh mamah juga jarang bepergian selain ke kampus, tetapi karena begitu banyak emosi yang bergejolak. Semuanya kupendam dan kusembunyikan.




“Tantangan pertamamu adalah bekerja bagi keluargamu selama tujuh purnama. Lihat apa yang tidak pernah kamu lihat, dengar apa yang tidak pernah kamu dengar. Jalankan apa yang biasa kamu perintahkan, lakukan apa yang biasa kamu suruhkan. Tidak boleh ketahuan jika tidak ingin memakan korban berupa kematian!”




Kata-kata itu selalu terngiang, dan sebisa mungkin kucamkam. Sebuah rintangan yang harus kujalankan sekaligus syarat pertama menuju puncak ritual. Kalau selama sebulan ini aku bisa bertahan, itu semata-mata demi perjalanan misi dan takdirku, meskipun hatiku sesungguhnya remuk redam.




Kuhembuskan nafas kencang… berharap tidak ada masalah besar yang akan menimpa keluargaku. Hal pertama yang menjadi tekadku saat ini adalah mengembalikan kecerian dalam rumah ‘majikanku’. Yang sedikit lebih berat dari itu adalah mengenyahkan Dante dari Nzi. Adikku sepertinya sudah sangat mencintai Dante tanpa menyadari siapa pemuda itu yang sesungguhnya.




Dulu.. Di hari kedua aku bekerja, aku nyaris menghajar pemuda itu, namun Nzi keburu keluar rumah untuk menyambutnya. Dan aku harus menahan amarah sambil pura-pura membukakan pintu mobil.




Masih terbayang sikap pongahnya, masih terngiang kata-kata angkuhnya yang sinis menyepelekan. Jabatan sopir yang kusandang bagai sampah di matanya. Aku jelas marah karena Nzi belum sempat memperkenalkannya padaku, sedangkan si kunyuk itu nampak sudah bisa mengambil hati orangtua dan kakakku. Lebih menyakitkan lagi, ketika kulihat ia mencium pipi Nzi lalu saling berpelukan sebelum masuk ke dalam rumah. Nzi terlalu polos, dan ia berada dalam bahaya. Dan kini, pemandangan itu sudah menjadi hal biasa, sehingga aku harus sering menahan emosi. Sementara, aku juga belum menemukan cara untuk membuktikan pada Nzi tentang sifat busuk pacarnya itu.




Kuhembuskan asap rokok. Kini aku sedang duduk di depan kamarku. Di bagian belakang studio milik adikku. Di depan terdengar ramai karena teman-teman Nzi sedang berkumpul dan membuat konten. Ada orang baru di sana, yaitu Agus temannya Rere (tentu saja temanku juga). Daripada pemuda itu luntang-lantung tanpa pekerjaan selulus kuliah, aku telah meminta Salsa untuk membujuknya agar mau membantu Nzi sebagai kameramen sekaligus editor. Aku cukup kenal bakatnya ketika ia masih KKN di Ewer. Di samping itu, kupikir ia bisa diandalkan untuk selalu menjaga Nzi. Kameramen akan sering menemani artisnya.




Minggu lalu Salsa dan Rere mempertemukan Agus dengan Nzi; dan adikku setuju. Hari ini adalah hari pertamanya ia datang ke studio.




“Mas Iba hari ini pulang ke kostan gak?” gadis yang sedang kupikirkan tiba-tiba nongol.


“Iya, Neng. Sebentar lagi pulang, saya sudah minta ijin pada ibu.” jawabku.


“Hmm… boleh minta tolong, gak?”


“Neng Nzi mau minta tolong apa?”


“Tolong cuciin dulu mobil Dante sebelum pulang.”




Kampret!!!




“Ehh.. Iiya, Neng. Mas Dante ada di sini ya?”


“Hehe… kalau aku minta tolong cuciin mobilnya, ya berarti ia ada di sini. Makasih, Mas Iba.” Nzi terkekeh.




Ia pun menyodorkan kunci dan berterima kasih kembali. Lalu ia meninggalkanku, sementara aku berganti pakaian sambil tak hentinya mengumpat dalam hati. Entah aku mengutuk siapa.. mengutuki Dante atau mengutuki diri sendiri yang harus bernasib seperti?








Setelah Nzi dan Dante masuk ke dalam rumah, aku buru-buru melipir menuju pintu dapur. Kusantap malamku tanpa selera sambil duduk di dapur. Sengaja aku makan di situ karena ingin menguping perbincangan keluarga ‘majikanku’.




Nampaknya Nzi menjadi ratu. Ia telah berhasil menjalankan amanatku sekaligus memberi kejutan pada keluarga besar. Tangis sendu dan ungkapan rindu pun terdengar. Bercampur tawa sendu sekaligus bahagia penuh bangga.




“Kok bisa, Dek? Kenapa kamu gak bilang aku dulu?” terdengar suara kekasihku.


“Iih kakak. Kalau aku bilang-bilang dulu, itu bukan bikin kejutan donk namanya.” jawab adikku. Lanjutnya, “Kak Rei meninggalkan filenya di mejaku sebelum ia pergi, ia juga meninggalkan nomor Kak Ariska. Jadi deh seperti ini…”


“… seperti yang ditulis di halaman depan, novel ini kakak dedikasikan untuk ayah dan mamah, untuk aku dan Kak Kekey, dan terutama.. ah baca sendiri deh.. hihi…”




Tawa pun terdengar, namun bercampur isak air mata.




Malam ini, Nzi membuat kejutan bagi keluargaku dan diam-diam membuat syukuran kecil. Yaaa.. ia bersama Ariska temanku telah berhasil menerbitkan sebuah novel. “Senja Tanpa Kata” yang kutulis sejak di Ewer kini sudah menjadi buku. Penerbitnya pun bonavid punya.




“Kakakmu sedang apa yah, dek?” suara mamah.


“Sedang nulis novel kedua. Hihi…”


“Adeeek!” Kak Kekey sewot.




Aku terus menguping. Tanpa sadar mulutku masih penuh nasi tanpa kukunyah. Senang, sedih, dan haru bercampur menjadi satu. Kelopak mataku terasa panas.




Sambil makan, kudengar Nzi menyampaikan beberapa alur cerita dan dialog-dialog favoritnya. Tetapi selalu diakhiri menggantung. “Sisanya baca sendiri hihi..” kalimat itu sering terdengar.




Drama kecil terjadi ketika Rere berulang kali ingin segera meninggalkan ruang makan. Nampaknya ia sudah tidak sabar membaca novel itu, namun selalu dicegah oleh mamah dan Kak Kekey. “Selesaikan dulu makannya! Lagi ada Dante juga!” ujar mamah.




Moodku langsung hilang, ketika pemuda itu mulai banyak bicara. Ia berusaha mengalihkan percakapan dengan membangga-banggakan statusnya. Usia masih muda, baru masuk kuliah sama seperti Nzi, tetapi sudah jadi pengusaha cafe di kawasan elite dan strategis. Padahal aku sangat tahu, cafe itu ia dapatkan dari hasil jualan lendirnya ke dalam vagina Tante Wulan. Aku juga pernah melihat Dante menggandeng gadis lain ketika aku dan Rere jalan-jalan ke mall.




Lebik taik lagi.. ketika aku mengintip ternyata Dante juga sering memperhatikan Rere dan Kak Kekey dengan pandangan mesum. Nzi tentu saja tidak terlalu menyadari karena ia duduk di sampingnya.




Bangke.. sukacita atas terbitnya novelku harus diganggu oleh kehadiran si kampret yang malah seperti tidak menaruh minat; ia selalu mengalihkan pembicaraan dengan segala kepongahannya.




“Kenapa kamu makan di sini, Ba?”








Mengingat kejadian malam itu malah membuatku semakin ingin mengenyahkan si Dante. Kutinggalkan kamar sambil mendengus kesal.




Kulihat ada mobil Om Sulis dan Tante Nur. Mereka pasti datang bersama Rere kekasihku. Ia selalu datang setiap hari walaupun jarang menginap. Kalau tidak datang pagi, ia akan muncul sore sepulang kerja.




Selama sebulan ini aku melihat sosoknya sedikit berubah. Ekspresi judesnya lebih dominan daripada sisi ceriwis yang ia miliki. Ia juga hanya menyapa aku dan para pegawai lain seperlunya; tidak lagi seramah dulu. Bukan hanya sikapnya yang berubah, penampilannya pun berbeda. Sekarang ia lebih sering mengenakan pakaian yang lebih tertutup, tidak lagi memamerkan keseksian tubuhnya seperti dulu-dulu.




Aku berdiri di depan pintu rumah yang setengah terbuka, berharap melihat sosoknya. Namun mereka sepertinya sedang ngobrol di ruang keluarga. Aku pun menghela nafas, untuk membuang rindu.




Kumulai pekerjaanku. Kusemprot mobil Dante dengan air selang, lalu kubiarkan. Kusulut rokokku. Kusemprot lagi, kembali kubiarkan.




Rupanya tingkahku ada yang memerhatikan, dan aku yang sedang kesal jadi malu sendiri.




“Kenapa lemes gitu, Ba?”


“Hehee.. nggak, Téh.” aku terkekeh malu. Sebetulnya inginku adalah menyemprot tubuhnya dengan air selang, juga pria di sampingnya.




Kakak sedang duduk di tangga teras ditemani Kak Rega. Entah sudah berapa lama mereka ada di sana. Calon iparku adalah keturunan Sawer, tetapi atas bantuan Sawaka ia seakan lupa menanyakan asal-usulku. Ia tidak pernah membahasnya; pun pula keluargaku tidak pernah bertanya apakah kami saling mengenal.




“Mobilku sekalian, Ba.” ledek Kak Rega.


“Ho’oh..” Kak Kekey mengamini.


“Mau dicuci sekalian, Mas? Boleh.. mana kuncinya?” aku bersemangat.


“Hahaha.. nggak, cuma bercanda kok.” Kak Rega terkekeh sambil melingkarkan tangannya pada bahu kakak. Keduanya setengah berpelukan.


“Lagian kamu kenapa, Ba? Nyuci mobil Dante lemes gitu, tapi pas disuruh nyuci mobil Rega malah semangat?” kakakku terheran.


“Eeh.. nggak kok, Téh.” aku tersipu malu.




Buru-buru kubersihkan mobil Dante dengan gesit. Kulakukan dengan telaten, tetapi hatiku penuh makian. Kalau tidak sedang diperhatikan kakak dan calon iparku, sudah pasti aku tidak akan melakukannya sebersih ini.




“Yank, kalau lihat sorot mata Iba, mengingatkan pada siapa coba?” samar-samar aku mendengar obrolan mereka.


“Memangnya siapa, sayang? Perasaan gak mirip siapa-siapa.”


“Gak peka ih!”


“Memangnya mirip siapa?”


“Pikir sendiri!”


“Idih kesel dianya.”


“Bodo!”




Aku terenyuh mendengar perkataan Kak Kekey, tetapi juga ingin tertawa. Ternyata ia cukup manja juga di depan kekasihnya.




Sepintas aku melihat Kak Rega mengeratkan pelukan dan mencium pipi kakak.




“Mirip Rei, sayang.”


“Masa sih?”


“Iba..” Kak Rega memanggilku.


“Iya, Mas?”




Dua detik..




“Hehe.. nggak manggil aja. Lanjutkan nyucinya.”




Aku pun pura-pura menggaruk kepala.




“Iya mirip, Rei.”


“Tuh bener, kan. Mamah juga bilang gitu loh.”


“Apa? Kenapa kalian ngomongin kekasihku?!!” suara judes terdengar.




Rere muncul sambil membaca novelku. Entah sudah berapa kali ia membacanya. Ah… sebetulnya novel itu tidak perlu ia baca, karena sang tokoh cerita ada di sini. Ingin rasanya aku mendekat dan mendekapnya. Ia tak perlu mengenang dan merindukanku, sang pemuda yang menjadi tokoh cerita selalu berada di dekatnya.




Tanpa menghentikan pekerjaan, aku pun mencuri pandang. Rasa rinduku sedikit terobati walaupun hanya sebatas melihat dari jauh.




“Idih.. ada yang kangen tuh, yank.” goda kakak.


“Kayak kakak nggak aja. Lagian ngapain sih di sini, pacaran kok di tempat umum.” Rere cemberut.


“Yeee.. suka-suka.” goda kakak.




Harusnya aku bahagia dan haru melihat mereka yang hari ini nampak lebih ceria dari biasanya, bahkan sudah mulai bisa saling bercanda. Mereka bertiga nampak akrab dan rukun. Tetapi yang kurasa malah sedih, aku ingin berada di sana, dan saling pamer kemesraan dengan kakak.




Meski begitu aku merasa sedikit lega. Yeah.. mereka sudah tak semurung saat pertama aku bertemu mereka. Begitu juga mamah, perlahan tapi pasti ia sudah tidak banyak mengurung diri lagi.




Kekasihku usil. Ia duduk di antara dua sejoli, dan tidak membolehkan mereka bersentuhan. Ia langsung anteng membaca novelnya. Tangan kirinya meraih liontin kalung dan menempelkan pada bibirnya seolah sedang mengecup.




Aku masuk mobil dan pura-pura membersihkan bagian dalam. Tapi sebetulnya aku hanya duduk dan mengintip mereka. Diam-diam kufoto mereka dengan ponselku, untuk pengobat rindu ketika sedang sendirian.




Lima menit aku memandangi mereka. Sesekali mereka bercanda, dan tertawa gembira. Aku tahu.. bagi mereka, berada bersama seperti itu adalah hiburan karena ketika saling sendiri yang ada hanyalah rindu dan desakan air mata.




Lima menit aku berada di dalam mobil. Tidak ada yang kubersihkan, debu-debu pun tetap kubiarkan. Kututup semua kaca dan kukentuti, kebetulan tadi pagi aku sarapan dua butir telor rebus ayam kampung. Segera kututup pintunya. Kubereskan ember dan selang.




“Iba..” panggil kakak sambil melambaikan tangan.


“Iya, Téh?” Aku pun mendekat sambil mengeringkan tangan pada celana pendekku.


“Nih gaji kamu bulan ini, ingat harus pandai menabung, jangan diboroskan.” kakak menyodorkan sebuah amplop.


“Eh.. makasih, Téh.” jawabku.


“Mulai sekarang jangan sering-sering minta rokok ke Mang Karta, kan udah punya gaji sendiri.”


“Hehe.. Makasih, Téh.”




Aku terkekeh untuk menutupi rasa malu. Sedih dan haru meliputi. Sedih karena sebagai putra mahkota Si Suwir Jagad, merokok pun harus nebeng kepada Mang Karta. Juga sedih karena aku harus menggantungkan hidup pada keluargaku sendiri. Sisi harunya adalah.. keluargaku selalu memperhatikan kebutuhan para pegawai meskipun kami tidak pernah menyampaikan keluhan.




“Wah gaji pertama nih. Traktir donk, Ba. Kebetulan kami lagi nunggu Bakso Mang Kopid lewat.” ujar Kak Rega.


“Yaaank.. baru juga aku bilang supaya Iba ngirit, ini malah minta ditraktir!” kakak pura-pura ketus, tangannya bergerak untuk mencubit, tetapi Rere berhasil menghalangi.


“Oh jadi kakak berdua tuh pacaran di sini untuk nungguin bakso toh? Aku juga mau.” ujar Rere.




Ucapan dan gerak tubuh mereka berbeda. Kakak masih berusaha mencubit Kak Rega, tetapi Rere terus saja menghalangi. Ia seakan tidak membiarkan mereka berdua bersentuhan. Kak Rega tertawa senang karena merasa dilindungi.




“Jadi gimana nih, Téh? Mas? Jadi aku traktir?” aku menyela keseruan mereka.


“Hahaha…” ketiganya malah tertawa sambil melihat ke arahku




“Sudah.. gak usah ditanggapi serius. Simpan uangmu.” ujar Kak Kekey.




Belum juga aku pamit untuk mengembalikan kunci mobil pada Nzi, terdengar dentingan suara sendok yang dipukulkan pada mangkok. Tukang bakso langganan yang ditunggu rupanya sudah datang.




Kak Kekey setengah berteriak meminta Pak Uri, satpam, untuk memanggil Mang Kopid. Setelahnya, ia memintaku mengambil mangkok ke dapur.




“Berapa, Téh?” tanyaku.


“Tiga.. si Nzi mah biarin aja.” jawab kakak.


“Itu ayah dan mamah nggak ditawarin?” Kak Rega mengingatkan.


“Yaudah kamu sekalian tanyain ayah dan mamah, mau bakso gak.”


“Siap, Téh.”




Aku pun memasuki rumah. Orangtuaku dan orangtua Rere sedang ngobrol di ruang keluarga. Kusampaikan pesan Kak Kekey, dan rupanya mereka tidak sedang ingin makan bakso. Aku pun kembali ke dapur untuk mengambil mangkok dan membawanya ke depan. Mereka bertiga sudah berada di gerbang, mengerubuti gerobak Mang Kopid.




“Kamu sekalian, ya Ba. Pak Uri juga.” ujar Kak Kekey.




Sebetulnya aku ingin menolak, tetapi Pak Uri berterima kasih duluan, aku pun akhirnya mengangguk sopan. Setelah memesan, ketiganya kembali ke teras. Mang Kopid langsung meracik lima mangkok bakso. Tiga pada mangkok yang kubawa, dua pake mangkok ‘ayam jago’ milik Mang Kopid.




Tak berselang lama kami pun makan. Aku dan Mang Uri tentu saja makan di pos jaga, sedangkan kekasih dan kakakku makan diteras.




Namun mood makanku langsung hilang ketika kulihat Nzi muncul sambil menggandeng lengan Dante. Nzi nampak protes karena tidak diberitahu kalau Bakso Mang Kopid sudah datang.




Segera kuletakan mangkok baksoku yang belum habis, lalu setengah berlari mendekati mereka.




“Ini kunci mobilnya, Mas.” aku menyodorkan kunci mobil pada Dante.


“Makasih, Mas.”




Bangke!! Yang berterima kasih malah Nzi adikku. Si kampret tersenyum pun tidak.




“Sama-sama, Neng.” jawabku.




Aku masih belum beranjak. Ingin rasanya menghentak tangan Nzi yang terus saja mengapit lengan Dante. Jika perlu kutendang kanjut kundang pria itu agar layu forever.




Yang membuatku semakin geram adalah sikapnya. Meski sedang digandeng Nzi, sorot matanya selalu jelalatan pada paha Kak Kekey yang memang hanya memakai celana pendek. Juga memesumi Rere dengan tatapannya.




“Yaudah kamu pesan sanah, dek. Dante juga sekalian.” ujar kakak ketika Nzi masih cemberut karena tidak diajak makan bakso.


“Yank, mau yah?” Nzi menatap kekasihnya manja.


“Eh.. euuu.. aku kan buru-buru harus ke cafe, yank.” Dante mengelak. Ia seperti tidak nyaman makan bakso gerobak.




Meski sikapnya dibikin wajar dan sopan, tetapi aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang seperti jijik. Kulihat ia menelan liur, bukan tergiur kuah bakso, tetapi karena Rere merunduk untuk mengambil botol sambel. Kerah bajunya terbuka lebar.




Nzi merajuk, tetapi Dante tetap memaksa pamit. Ia menyalami kak Rega, Kak Kekey dan Rere. Nzi mengantar sampai ke mobil.




“Ngapain kamu masih di sini?” sinis Dante.


“Eh.. anu.. maaf.. Neng Nzi mau diambilin mangkok gak?” aku tergagap. Bukan karena grogi tapi karena emosi.


“Makasih, Mas Iba. Tolong ambilin yah.”


“Siap, Neng.”




Nzi memintaku mengambil tujuh mangkok, sekalian buat teman-temannya. Aku pun segera berlalu.




Begitu kembali keluar rumah, mobil Dante sudah tidak ada, tetapi Nzi menungguku di dekat gerobak Mang Kopid. Agus dan teman-temannya sudah ada di sana.




“Mas Iba, tadi mobil Dante dicuci dalamnya gak sih?” Nzi sedikit tidak ramah.


“Dicuci, Neng, memangnya kenapa?” aku pura-pura polos.


“Dashboardnya masih berdebu! Mana bau lagi, kamu apain tadi?”


“Eh masa sih, Neng, saya lap sampai bersih kok.”


“Terus itu bau apaan? Kamu belum mandi yah sampai bau tubuhmu tertinggal di dalam mobil?”


“Mmmandi kok, Neng. Mungkin ada kaos kaki Mas Dante di dalam sehingga bau.”


“Kamu pikir Dante sejorok itu?! Haiish.. kamu tuh udah cari gara-gara tahu! Dante jadi marah!”


“Maaf, Neng.”










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar