BAB 30
Sisa perjalanan, percakapan ayah dan mamah sedikit absurd jika didengar orang awam. Namun aku cukup paham. Ayah dan mamah sedang menyusun rencana bahwa purnama bulan depan mereka akan berkumpul. Bahasanya penuh kode, tapi aku langsung menebak bahwa yang dimaksud adalah para wanita ritual. Harusnya aku mencari cara agar pertemuan itu bisa batal, tapi rasanya mending kubiarkan karena aku masih penasaran dan ingin tahu, siapa saja mereka, selain Tante Maya dan Tante Nur
Sisa perjalanan tidak banyak lagi obrolan yang kudengar, tetapi mamah semakin membenamkan tubuhnya dalam pelukan ayah.
“Kamu gak pulang kan, Ba?” tanya mamah ketika kami sampai di halaman rumah
“Tidak, Bu.”
“Yaudah.. kamu sudah bebas hari ini, ibu tidak akan pergi-pergi lagi. Tapi kamu standby aja kalau kami tiba-tiba perlu tenaga kamu.”
“Baik, Bu. Terima kasih.”
Mm
Aku tahu, orangtuaku bukanlah orang terpandang yang lebay untuk mendapatkan pelayanan. Kubiarkan mereka memasuki rumah sambil membawa tas masing-masing. Mungkin tidak lazim seorang sopir membiarkan majikannya membawa tas sendiri, tapi itulah mereka. Kalaupun aku menawarkan diri, mereka pasti akan menolak.
Kumasukan mobil ke dalam garasi, lalu berjalan memasuki pintu samping. Setelah menaruh kunci mobil pada tempatnya, aku menuju dapur. Nampak Bi Epah sedang menata makanan di atas bakil)
“Kamu makan dulu, Ba, pegawai yang lain sudah makan semua.” sambutnya. Kalau siang ia memang memasak untuk para pegawai. Jarang menyiapkan masakan untuk majikan karena umumnya tidak berada di rumah.
“Makasih, Bi. Siapa yang sakit?” tanyaku sambil melihat makanan yang ia siapkan di atas baki.
“Bukan ada yang sakit. Bapak dan ibu minta dibawakan makan siang ke kamar.”
“Ohh..”
Jadi ini kelakuan orangtuaku? Mereka sering makan berdua di kamar ketika tidak ada anak-anak. Mungkin sambil bermesra dan icikiwir setelahnya. Kesel sih.. tapi bangga juga…
Bi Epah membawa baki ke dalam. Kubuka lemari makanan, rupanya menu makan siang para karyawan hari ini adalah sayur lodeh dan ikan goreng. Kubuka kulkas, ada nasih goreng. Aku lebih tertarik pada nasi goreng. Kuambil dan kupanaskan dalam microwave.
“Kamu manasin apa, Ba?” Bi Epah sudah kembali.
“Nasi goreng, Bi.”
“Eh.. itu nasi goreng sisa kemarin pagi
“Gak apa-apa, Bi, sayang kalau dibuang, lagian kelihatannya enak.”
“Ya terserah kamu.. itu ibu yang masak. Kalau Neng Rere nginep di sini, kadang ibu bikin sarapan nasi goreng.”
Aku tersenyum. Memang itu alasannya aku memanaskannya, aku kangen nasi goreng masakan mamah.
“Rere siapa, Bi?” tanyaku sambil membuka microwave.
“Pacarnya Nak Rei, anak kedua bapak dan ibu.”
“Oh..”
Bi Epah melanjutkan pekerjaan membersihkan dapur, sedangkan aku melenggang menuju ruang makan khusus untuk para pegawai. Aku makan dengan lahap. Aku merasa terhibur karena bisa menikmati masakan mamah lagi.
Usai makan aku menuju kamar untuk merokok dan ganti pakaian, setelahnya membantu Pak Embun yang sedang merapikan pagar teh-tehan di taman belakang.
Sore harinya, seusai mandi, aku nongkrong di pos depan. Ngobrol dan merokok dengan Kang Usman. Aku belum bertemu ayah dan mamah lagi, mereka belum keluar rumah.
Kugali informasi tentang keluargaku menurut versi Kang Usman. Penuturannya sesuai yang kutahu, tidak ada yang baru. Bedanya, anak kedua majikan sudah pergi cukup lama, dan tak ada karyawan yang diberitahu.
Mobil yang disopiri Mang Karta pulang. Kakak yang duduk di belakang menurunkan kaca. Memang ini tujuanku nongkrong di depan. Aku kangen anggota keluargaku, meski hanya sebatas melihat.
“Gimana hari ini, Ba? Mamah baik-baik saja, kan?” tanya kakak padaku.
“Baik, Téh. Ibu kelihatan lebih gembira.” jawabku.
“Oh syukur deh. Kapan-kapan kita bicara.”
“Iya, Téh.”
Mobil pun bergerak dan aku mengikuti dari belakang. Kubukakan pintu belakang, kakak turun dengan gemulai.
“Gak usah kayak gini, risih!” ujar kakak.
Aku hanya tersenyum dan sedikit membungkuk. Aku sudah tahu kakak akan tidak suka, tapi sengaja kulakukan agar bisa berada dekat dengannya, walau hanya sesaat.
Begitu sosoknya menghilang ke dalam rumah, aku kembali ke post.
“Biasanya Non Rere juga ke sini sepulang dari kantor.” ujar Kang Usman. Mang Karta ikut bergabung dan menyalakan rokok.
“Oh gitu.” singkatku.
Kunyalakan rokok sekedar untuk menutupi kegugupan. Memang ini yang kuharapkan, yaitu bisa bertemu dengan kekasihku. Tetapi bersamaan dengan itu, aku malah grogi dan takut. Takut tidak bisa mengontrol diri. Kuhisap rokokku dalam-dalam, sekedar mengumpulkan keberanian.
Tepat jam enam sore, yang kutunggu pun datang. Mobil Rere terlihat mendekat. Sontak jantungku berdegup kencang. Telapak tanganku langsung berkeringat dingin, kumatikan rokok. Kukepalkan tangan, kutarik nafas dalam-dalam.
Untung Mang Karta sudah masuk ke dalam rumah, dan Kang Usman sigap membukakan gerbang. Mereka tidak melihat perubahan raut wajahku.
Mobil pun berhenti dan kaca samping sopir turun. Dug.. dug.. duggg…
“Sayang.” rasanya aku ingin berlari menyambutnya. Membuka pintu mobil dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Tapi aku hanya bisa mematung, memanggil ‘sayang’ pun hanya dalam hati.
Gadisku nampak begitu cantik, meski ada gurat lelah pada wajahnya. Nampak lebih kurus.
“Sore, Neng Rere.” sapa Kang Usman.
“Sore, Kang. Itu siapa?”
“Iba. Sopir baru.”
“Oh..”
Ia tersenyum padaku, dan aku mengangguk kaku.
“Hai.. semoga betah ya.” sapanya.
“Terima kasih.” aku gugup.
Aku mendekat dan mengulurkan tangan, ia membalas. Keningnya mengkerut ketika merasakan telapak tanganku yang basah.
Aku dan Rere bertatapan beberapa saat. Ada energi yang mempertemukan kami kembali. Ia nampak terbelalak ketika kami bertatapan dekat. Aku langsung menunduk, sedangkan tangan ini masih bertautan.
“Gimana mamah, dia baik-baik saja?” Rere terlihat gugup dan menarik tangannya.
“Baik, Neng.”
Rere menghela nafas. Mobilnya bergerak masuk, tetapi sudut matanya selalu melirikku. Kutahu, ia selalu memperhatikanku melalui spion.
Sedetik kemudian aku menyusul setengah berlari, padahal tadi kakiku terasa lemas.
“Eh..” kagetnya ketika aku membukakan pintu dari luar.
Kalau tadi aku hanya melihat wajahnya kini seluruh tubuh kekasihku terlihat. Ia mengenakan pakaian kerja yang sangat serasi. Rok selututnya tertarik ke atas dan setengah paha putihnya terlihat. Dadaku berdesir. Kekasihku yang kutemui terakhir sebagai mahasiswi yang baru lulus, kini sudah menjelma menjadi seorang wanita karier.
Aku masih bisa memandang tubuh kekasihku ketika ia berbalik memunggungi. Ia mengambil tasnya di jok belakang, juga setangkai mawar segar.
“Mobilnya saya cuci sekalian, Neng?” aku menawarkan diri.
“Nggak usah, Mas, baru dicuci kemarin kok.” ia menolak halus.
Kaki jenjangnya bergerak, turun dari mobil. Perasaanku terkesiap. Ingin rasanya aku menyambut dalam dekapan.
“Gak apa-apa, Neng, saya cuci aja. Biar saya ada kerjaan.” aku masih mencoba membujuk mencari alasan.
“Mas Iba aneh deh.”
Ia masih ingin menolak, tetapi akhirnya menggeleng dan menyerahkan kunci mobil ketika melihat tanganku tetap terulur. Sesaat kami bertatapan, ia nampak tersentak namun segera bisa menyembunyikan. Aku sendiri langsung menunduk untuk menghindari beradu pandang.
“Di lap luarnya aja dikit, Mas, tuh masih bersih kok.”
“Siap, Neng.”
Aku masih berdiri mematung menatap punggungnya. Batinku menangis, ingin mengejar dan memeluk dari belakang. Aku sangat sedih.. ada yang redup dalam sorot matanya, binar bahagia dan manjanya telah hilang. Meski berusaha bersikap ramah, kekasihku berubah, terkesan dingin.
Aku gelagapan dan langsung berlari menuju keran ketika Rere tiba-tiba berhenti di ambang pintu dan menengok ke arahku. Aku telah ketahuan memerhatikannya, sementara ia seolah penasaran akan sosokku.
Kutarik gulungan selang. Setelah ia benar-benar tidak terlihat lagi, aku pun masuk ke dalam mobil. Kuhirup nafas dalam-dalam dengan perasaan tidak karuan. Harum tubuh Rere dan parfumnya masih tertinggal, kuhirup berulang-ulang. Aku rindu.. dan ingin segera melihat sosoknya lagi.
Pandangan mataku berpendar, mengamati seisi mobil. Tidak banyak yang berubah, pernak-perniknya juga masih sama. Bedanya, ada dua boneka kecil yang sedang berpelukan, menggantung pada spion. Kuraih, kuamati, kugenggam, dan kucium.
“Haaaah!!!” aku membuang nafas. Kugosok wajahku, kuacak-acak rambutku.
Aku pun turun dan kulakukan pekerjaanku. Kuabaikan pesan Rere, kucuci mobil sebersih mungkin. Kukerjakan dengan telaten seolah aku sedang memandikan pemiliknya.
Tak terasa waktu pun beranjak. Sudah hampir jam tujuh ketika aku selesai mencuci mobil Rere. Aku berharap ia keluar, namun sosoknya tak lagi muncul.
Aku sedikit terhibur ketika kulihat Kak Kekey muncul. Namun ia nampak gelisah, dan sibuk dengan smartphonenya. Berulangkali menelpon, tapi sepertinya tidak ada jawaban. Kakak mondar-mandir di teras, sekali-kali duduk di kursi jati, berdiri lagi.
“Sore, Téh.” sapaku.
“Hmmm..”
Ia tak terlalu menanggapi. Aku pun masuk untuk menaruh kunci mobil Rere sambil berharap bertemu dengannya di dalam rumah. Ruang keluarga masih sepi, hidangan makan malam nampak sudah tersaji di ruang makan, tetapi belum ada orang. Kamar orangtuaku terbuka, tapi sosok mereka tidak terlihat. Aku mendongak ke atas, Rere pun tak terlihat. Satu menit aku menunggu, dan berujung kecewa.
Aku kembali keluar rumah. Kak Kekey masih berdiri dengan kedua tangan melipat di depan dada. Ia nampak sedang kesal. Aku pun hanya mengangguk sopan, urung menyapa.
“Ba..!!”
Aku menghentikan langkah, urung menuju pos satpam.
“Iya, Téh?”
“Kamu dikabari Nzi gak, dia lagi di mana?”
“Nggak, Téh.”
Degh.
Aku baru sadar adikku belum pulang. Ia telah melanggar kesepakatan, sebelum jam makan malam harus sudah ada di rumah. Kecuali jika ada alasan yang masuk akal atau atas persetujuan ayah dan mamah. Aku kangen dia.. tapi juga jadi ikut merasa kesal.
“Oh, yaudah.” gumam kakak.
Bukannya aku pergi, tapi tetap mematung. Kakak menatapku heran, tapi kemudian tak acuh. Pikirannya sedang dirundung rasa kesal karena Nzi.
Sepuluh menit kemudian yang ditunggu pun tiba. Mobil Nzi memasuki pekarangan. Aku menyambut dan membukakan pintu. Rinduku kini bercampur kesal, tapi sebisa mungkin kusembunyikan dengan menyapanya sopan.
“Sore, Neng Nzi.” kubuat suaraku seramah mungkin.
“Sore, Kang Iba, tolong bawain dus di bagasi yah.”
“Siap, Neng.”
Aku berputar menuju bagian belakang mobil, kulirik Kak Kekey sudah berkacak pinggang. Wajah ceria Nzi pun berubah kerutan heran.
“Kakakk…” ia menenteng tasnya dan sebuah buku.
“Kamu dari mana, dek, jam segini baru pulang. Lupa ama pesan kakak tadi pagi?” Kak Kekey menghardik Nzi.
“Kakak iih.. jangan marah dulu.” suara Nzi masih manja.
Biasanya mereka saling mencium pipi, tapi tidak kali ini. Kak Kekey menahan bahu Nzi dengan mata melotot. Aku pun hanya berdiri membeku sambil memangku sebuah dus berukuran sedang yang dibungkus kertas berwarna coklat.
“Jawab dulu pertanyaan kakak!!”
“Kakak apaan sih?” Nzi pun mulai nampak kesal, cerianya hilang.
“Apanya yang apa-apaan…!! Ini sudah jam berapa?! Dan kamu baru pulang!”
Kak Kekey terus mengomel tanpa memberi kesempatan pada Nzi untuk menjelaskan.
“Kamu tuh anak perempuan, jangan bikin khawatir semua orang.. bla.. bla….”
Kulihat Nzi berubah marah. Wajahnya memerah karena pulang-pulang disambut omelan.
“Kakak juga perempuan, bukan?!” suara Nzi meninggi.
“Melawan kamu?!” Kak Kekey naik pitam.
“Ngelawan apaan sih, Kak?! Kakak tuh yang langsung marah-marah, gak memberi aku kesempatan untuk menjelaskan. Kakak jahat!! Hiiiksss…”
“Yaudah sekarang kamu jelaskan ke kakak, kenapa jam segini baru pulang dan gak ngasih kabar?”
“Bodo!! Hiiiks… kakak jahat!! Aku kangen Kak Rei.. hanya Kak Rei yang bisa ngertiin aku.”
Braaaak!!!
Nzi melempar buku di tangannya.
“Nzi!!”
Adikku tak menggubris dan langsung berlari. Bersamaan dengan itu Rere keluar, hampir bertabrakan. Nzi pun memeluk kekasihku sambil menangis. Kepalanya ia benamkan pada bahu Rere, tubuhnya berguncang keras. Sepertinya adikku masih sedikit sadar, ia berusaha meredam tangisan agar tidak terdengar oleh mamah.
“Kenapa sih, dek? Kak?!” Rere heran.
Kekasihku nampak sudah segar seusai mandi dan berganti pakaian.
Kakak tak menjawab. Nafasnya tersengal. Ia masih marah. Kesal. Tetapi juga sangat jelas menyesal.
“Kakak Kekey jahat.. aku mau Kak Reiii.” Nzi mengadu pada Rere di sela isak tangisnya.
Rere menggigit bibir, kakak mengepalkan tangan. Mata keduanya mulai memerah.
Aku meletakan dus di atas kap mobil, dengan perasaan tak karuan kupungut buku yang dilempar Nzi.
Degh.
Kini aku yang ingin menangis. Dadaku sesak melihat buku itu. Tanganku bergetar. Di luar mauku, air mataku mengembang. Kini aku sudah tahu alasan kenapa Nzi pulang terlambat. Aku menyesal karena sempat ikut merasa marah, meski hanya kupendam. Aku juga sedih, karena di balik sikap tegarnya, Nzi menderita dalam kerinduannya padaku.
Adikku juga hebat!!! Ia telah menjalankan pesanku sebelum pergi. Ia sangat menyayangiku, dan bisa melewati kesedihannya dengan melakukan yang terbaik untukku.
Kuusap linangan air mataku. Kuhembuskan nafas untuk menenangkan diri. Untung ketiga gadis itu tidak memperhatikan, Rere sedang sibuk menghibur Nzi, dan kakak ikut memeluk sambil meminta maaf karena telah membentaknya.
“Maaf, Neng, bukunya.” aku memberanikan diri mendekat sambil menyodorkan buku.
Kak Kekey terbelalak, Rere lebih lagi. Kini kekasihku yang menangis, lebih keras daripada Nzi.
“Aku pulang terlambat karena ini. Aku pengen ngasih kejutan.” ujar Nzi sambil mengambil buku yang kusodorkan.
“Hiiiiksss… Maafkan kakak, sayang.” Kak Kekey pun menangis. Ia memeluk si bungsu, diciuminya wajah Nzi sambil bertukar air mata.
Aku mundur beberapa langkah, menjauhi mereka, dan kembali ke mobil Nzi. Aku tidak tahan, ratapan sedih dan luapan sumpah serapah pada Raja Anta kukobarkan dalam hati.
Kulihat Rere mengambil buku dari tangan Nzi. Dibolak-balik sampulnya, dibuka isinya. Dan.. ia pun ambruk bertumpu lutut. Kakak dan adikku memekik dan ketiganya menangis berpelukan.
Aku sudah tidak tahan. Kuangkat dus ke dalam rumah, memutar dari pintu belakang. Aku punya waktu beberapa menit untuk membiarkan air mataku keluar, dan mengeringkannya kemudian. Mungkin telah menyisakan merah.
“Bawa apaan, Ba?” sapa ayah di ruang makan. Sekilas kulihat mamah masih di depan cermin kamar selepas mandi.
“Ini punya Neng Nzi, Pak.” jawabku sopan.
“Loh Nzinya mana?”
“Masih di depan, Pak, bersama Neng Kekey dan Neng Rere.”
“Oh yaudah.. sekalian kamu panggilin mereka untuk makan.”
“Baik, Pak.”
Buru-buru aku meletakan dus pada meja di ruang keluarga, aku tidak ingin ayah melihat mataku sedang merah. Kulihat mamah keluar kamar, dan aku buru-buru melangkah melalui pintu depan.
“Maaf, Neng, sudah ditunggu bapak dan ibu di ruang makan.” ujarku pada tiga gadis yang masih berpelukan. Ketiganya sudah berdiri dan tidak menggelosor di atas lantai seperti tadi.
“Makasih, Ba.” jawab kakak.
Ketiganya nampak buru-buru saling membersihkan air mata. Aku mengangguk dan meninggalkan mereka. Aku sudah tidak kuat.
“Maaf, ya dek. Kakak sayang adek.” terdengar suara kakak.
“Nzi juga sayang kakak.”
“Buruan bersihin air matanya.” suara Rere.
Aku melangkah sambil tengadah, seakan ingin menahan air mata agar tidak lagi keluar. Aku kembali sedih. Sepertinya ketidak hadiranku membuat seluruh anggota keluargaku lebih sensitif dan gampang tersulut emosi. Satu hal yang pasti.. ketiga gadis yang kusayangi itu.. selama ini hanya pura-pura tegar di depan orangtua kami, terutama di depan mamah. Dan itu menyakitkanku!
“Mereka kenapa?” tanya Kang Usman.
“Gak tahu.. tapi mereka menyebut-nyebut nama Rei.” jawabku.
Kang Umar tidak lagi menanggapi. Sepertinya ia sudah paham. Kami duduk sambil merokok, sama-sama melamun dengan isi pikiran masing-masing.
Pada batang kedua, aku dan Kang Umar sama-sama berdiri dan mematikan rokok. Sebuah mobil mewah berhenti di depan pagar. Kang Umar sepertinya sudah kenal, dan langsung membukakan gerbang.
Mobil pun bergerak masuk. Kaca tetap tertutup, sapaan Kang Umar pun diabaikan. Aku hanya bisa melihat pengendaranya sepintas, seorang pemuda yang tak kulihat dengan jelas.
“Siapa, kang?” tanyaku.
“Itu Dante.”
“Oh..”
“Pacarnya Neng Nzi.”
What the fuck!!! Aku baru bisa menyimak apa yang kudengar. Aku yang awalnya tidak ‘ngeh’ dengan nama Dante langsung terperanjat ketika mendapat penjelasan Kang Umar.
“Siapa, Kang? Dante pacarnya Neng Nzi?”
“Iyah. Memangnya kenapa, Ba?”
Aku tidak menjawab. Segera berdiri dan mendekati mobil dengan langkah panjang. Pengemudinya keluar.
Degh!!!
Dante yang dimaksud adalah seorang Dante yang kutahu. Pacar Nzi ternyata adalah si bangsat itu!! Emosiku langsung meluap, sampai ke ubun-ubun. Kedua tanganku mengepal. Gigiku gemeretak.
Sial… BERSAMBUNG….
Report content on this page
0 Komentar