Sang pewaris part 29

 

BAB 29

Senin subuh aku sudah berada di rumah ‘majikanku’. Bi Epah yang baru bangun pun terheran melihat kedatanganku di pagi-pagi buta.

“Takut telat, Bi, maklum hari pertama kerja.” aku beralasan.

Padahal bukan itu alasannya, aku ingin cepat-cepat melihat keluargaku. Aku ingin selalu dekat mamah. Aku rindu Nzi yang belum sempat! bertemu. Aku juga berharap Rere tidur di sini malam ini.

“Eh mau kemana?” Bi Epah mencegah langkahku.

“Ngambil kunci mobil, Bi, mobilnya mau kucuci dulu.” jawabku.

“Memangnya kamu tahu ibu pake mobil yang mana? Kamu juga tahu kuncinya ada di mana?”

“Eh iyah. Kuncinya di mana, Bi?”

Aku menyadari kebodohanku. Aku hampir berbuat cerobm. Hal-hal kecil seperti ini tidak bisa kuabaikan. Aku harus banyak bertanya dan pura-pura tidak tahu.

Bi Epah menggelengkan kepala, lalu mengantarku memasuki ruang keluarga dan menunjukan di mana kunci mobil diletakan. Ia juga memberitahuku mobil mana yang biasa mamah pakai. Aku manggut-manggut paham, padahal tanpa penjelasan pun aku sudah tahu semuanya.

Bi Epah kembali ke dapur, tetapi aku masih mematung. Kutatap pintu kamar orangtuaku, juga pintu kamar kakak. Aku mendongak ke lantai atas, berharap adikku sudah bangun dan muncul di sana. Sepi!

Aku mengeratkan tulang rahang. Menguatkan diri. Saat ini aku bukanlah siapa-siapa. Rintangan pertama harus kulalui. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Tetapi hampa perasaan jauh lebih berat daripada pedihnya tangisan. Aku melangkah lunglai melalui pintu samping. Kukeluarkan mobil, dan kucuci.

Jam enam pagi, pegawai yang lain berdat

angan. Cap ‘rajin’ pun mereka sematkan padaku. Tak lama kemudian, Mang Karta muncul untuk mengeluarkan mobil yang biasa dipakai ayah dan kakak ke kantor. Setengah jam kemudian, Mang Karta mengajakku ke dapur untuk sarapan.

“Nak Iba dipanggil Neng Nzi.” Belum juga aku menyentong nasi Bi Epah muncul dari arah ruang makan.

Sontak jantungku berdetak kencang mendengar ucapannya.

“Ada apa, ya Bi?”

“Nggak tahu. Mau kenalan kali.”

“Makasih, Bi.” ujarku tanpa bergerak.

“Ayo sana, malah bengong.”

“Eh iya.”

Hari masih pagi tapi keringat dingin langsung terasa keluar dari pori-pori. Nafasku mendadak tersengal. Perlahan aku melangkah.

Nampaklah.. keluargaku sudah berkumpul di ruang makan. Ayah sudah rapi dengan jasnya, Kak Kekey cantik dengan blazzernya, mamah mengenakan rok panjang, dan…

Rasanya aku ingin berlari menubruk Nzi. Aku ingin memeluknya. Adikku sangat cantik dengan pakaian casual. Juga sudah siap untuk berangkat kuliah.

“Selamat pagi.” aku mengangguk sopan.

Sejujurnya aku rindu menghampiri mereka satu per satu dan memberikan ciuman seperti biasa kami lakukan. Jawaban serempak pun kudengar, dan ayah menyuruhku duduk. Aku sungguh kikuk.

Mamah menatapku dengan wajah sedih. Tatapan Kak Kekey masih penuh selidik seperti dua hari yang lalu. Si ceriwis adikku memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Duduk, Ba.” ujar ayah.

“Eh iyah, Pak.”

Aku melangkah menuju sebuah kursi di pojokan.

“Ngapain duduk di situ, duduk sini.” Nzi mencegah dan aku mematung bingung.

“Sayang..” pelan mamah karena melihat sikap adikku.

“Sini, Ba. Kamu duduk sini dan ikut sarapan.” kali ini Kak Kekey yang menyuruhku.

Aku semakin kikuk. Bukan malu, tapi aku merasa terasing di rumah sendiri. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin mengungkapkan seluruh rinduku dengan memeluk mereka.

Aku tahu, hal seperti ini sudah wajar dalam keluargaku. Mengundang pegawai datang dan makan bersama adalah hal yang lumrah, entah seluruhnya atau hanya orang-orang yang memang berkepentingan untuk diajak bicara mengenai keluarga atau pekerjaan.

“Ayah dan kakak kok gak minta persetujuan aku dulu sih?” adikku ngomel.

Ia masih ceriwis, bawel, dan tingkahnya menggemaskan. Tapi aku tetap melihat ia berbeda, tidak seceria biasanya.




Aku duduk dengan ragu, mamah menyodorkan piring yang sudah ditumpangi roti.




“Yee.. kan waktu Iba ke sini, kamu lagi pergi ama Rere dan Inka.” ujar kakak.




Nzi menggelembungkan kedua pipinya. Tetapi sorot matanya selalu tertuju padaku.




Atas desakan mereka, aku pun mengoles rotiku. Hal yang sangat mudah dan biasa.. namun ketika meraih pisau dan garpu aku sadar. Aku sedang berperan sebagai pemuda kampung.




“Sudah kamu makan pakai tangan aja kalau tidak biasa pakai pisau.” mamah paham kebingunganku, dan diamini anggukan yang lain.




Aku pun makan sambil menunduk. Kunyahanku pelan. Inginku adalah menghidupkan kembali suasana pagi yang biasanya riang dan gembira, bukan sendu seperti ini. Tapi apalah dayaku.




“Namanya siapa, Mas?” Nzi mulai menginterogasi.




Kulirik mamah dan Kak Kekey, keduanya mulai mengulum tersenyum. Ayah masih anteng menyeruput kopinya.




“Iba.” singkatku.


“Iya aku tahu. Nama lengkap?”


“Iba Nirguna.”


“Asal?”


“Sawer.”




Ingin rasanya aku menguyel-uyel rambutnya. Tingkahnya menginterogasiku sangatlah menggemaskan.




“Status?”


“Maksud Non?”


“Namaku Kezia, panggila aja Nzi.”


“Eeh iyah maaf. Maksud saya Non Nzi.”


“Gak pake non!”


“Eeuhh.. iyah.. Neng Nzi.”


“Itu lebih baik.”




Mau tidak mau orangtua dan kakakku terkekeh. Sedangkan aku semakin menunduk.




“Status itu.. sudah nikah atau belum? Sudah punya pacar? Atau gimana?” Nzi menjelaskan maksud pertanyaannya.


“Saya masih lajang, Neng.”


“Hmmm…”


“Udah donk, sayang, biarin Ibanya sarapan dulu.” mamah menegur, tapi sepertinya Nzi belum puas.


“Pendidikan terakhir Mas Iba apa?”


“SMA, Neng.”


“Pekerjaan?” ia masih terus mencecar.


“Sopir, Neng. Mulai hari ini saya jadi sopir keluarga Neng Nzi.”


“Hmm bener juga sih.”




Ayah yang dari tadi hanya diam langsung terbahak melihat tingkah si bungsu, tawa mamah dan Kak Kekey pun mulai keras. Aku menghela nafas lega. Meski tidak selepas biasanya, aku cukup terhibur melihat tawa mereka semua.




“Punya SIM?”


“Punya, Neng. Kalau tidak punya saya tidak akan berani melamar kerja pada keluarga Neng Nzi.”


“Sudah berapa lama nyopir?”


“Dua tahun, Neng.”


“Hmm…”


“Jadi gimana, Neng? Apakah saya boleh menjadi sopir ibu dan keluarga Eneng?” aku mulai sedikit berani.




Mamah tersenyum. Ia nampak senang aku bisa mulai cair dan mencandai anak bungsunya.




Nzi mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan ujung telunjuk. Seolah sedang berpikir. Lalu ia berpaling menengok ke arah foto keluarga. Suasana yang sudah cair pun kembali sendu.




“Ngapain, dek?” tanya Kak Kekey.


“Tanya Kak Rei dulu, dia setuju nggak kalau mamah disopiri Kak Iba.” jawabnya dengan polos.


“Adek!!” kakak menghardik.




Ia nampak kesal pada Nzi, sekaligus tidak enak hati pada mamah. Kulihat mamah mengusap ujung matanya. Tangan ayah pun terulur mengusapi punggung mamah. Kak Kekey sendiri menjawil Nzi supaya kembali ke posisi duduknya, matanya melotot penuh kode. Aku tentu saja sedih, namun kualihkan dengan pura-pura menyuap roti.




“Jawaban kakak apa, sayang?” suara mamah terdengar bergetar.


“Hmm.. kata kakak boleh. Jadi aku juga setuju Mas Iba kerja untuk keluarga kita.” si bungsu masih belum peka.




Ayah dan Kak Kekey berusaha mengalihkan obrolan, tapi mamah tetap bertahan. Ia bertanya lagi pada Nzi.




“Sekarang kakak sedang apa? Sudah sarapan belum?”


“Hmm.. Kakak udah sarapan kok. Kata kakak sebentar lagi pulang. Jadi mamah jangan sedih lagi. Horeee kakak mau pulang.” mamah tersenyum namun air matanya semakin berlinang.




Di mataku Nzi sudah berubah. Ia tidak nampak terlalu sedih atas ketidakhadiranku, namun sikap dan ucapannya penuh dengan halu.




Kakak membekap mulut Nzi supaya diam. Sedangkan ayah menarik tubuh mamah supaya bersandar pada bahunya. Suasana berubah menjadi sendu.




“Maaf.” aku merasa bersalah.


“Sudah tidak apa-apa. Kamu selesaikan makannya, sebentar lagi kita berangkat.” ujar mamah.




Sambil berkata begitu ia mendongak menatap ayah, seolah sedang menimba kekuatan batin dari pria yang sudah puluhan tahun mendampingi hidupnya. Aku mengangguk dan melanjutkan makan dengan tergesa. Mereka tidak tahu, batinku sedang menangis.




Usai makan aku segera menuju halaman. Kunyalakan mesin mobil, dan kubuka pintu belakang.




Tak lama kemudian, ayah, mamah, dan kedua saudariku keluar rumah. Ayah menciumi kening kakak dan adikku satu per satu. Setelah itu ayah yang mengecup kening Nzi, dilanjutkan oleh kakak. Pemandangan itu sangat menggetarkan hati, harusnya aku juga ada di sana dan mendapatkan ciuman yang sama.




“Hati-hati sayang.” ujar ayah dan mamah pada Nzi.


“Iyah.” jawab adikku sambil melenggang menuju mobilnya.


“Abis kuliah langsung pulang, jangan kelayapan.” pesan kakak.


“Iyah kakaaak!” Nzi memamerkan barisan giginya sambil membuat lingkaran dengan kedua jari.


“Mas Iba jagain mamahku ya. Awas kalau ada apa-apa, kakak harus berhadapan dengan aku.” ancamnya padaku.


“Hehe.. siap, Neng.”




Nzi pun langsung menaiki mobilnya dan meninggalkan halaman lebih dahulu. Tangannya melambai dan dibalas oleh kami semua. Aku dan Mang Karta ikut-ikutan melambaikan tangan.




“Mah, aku berangkat yah.” pamit Kak Kekey.


“Hati-hati sayang.”


“Mamah juga.”




Kak Kekey masuk ke dalam mobil duluan, sedangkan ayah masih berdiri menatap mamah. Ia seakan masih ingin memastikan bahwa mamah baik-baik saja. Mereka nampak berbicara namun aku tidak mendengar dengan jelas. Namun ketika ayah mencium kening mamah aku masih bisa mendengar walaupun samar-samar.




“I love you, sayang.”


“I love you too, Ayah.”




Aku tersedak haru. Mereka masih tetap mesra. Menghadapi segala cobaan hidup dengan saling mencinta, dan tak malu menunjukan itu di depan kami anak-anaknya. Dalam hal ini di depan Kak Kekey.




Ayah masih mengantar mamah memasuki mobil, dan menutup pintu dari luar. Aku ikut masuk dan duduk di belakang stir.




“Hati-hati, ya Iba. Kalau ada apa-apa telpon saja ke nomor saya atau Kekey.”


“Siap, Pak.”




Kulajukan mobil sambil mencoba mengatur nafas. Semobil berdua dengan mamah sebagai orang asing sangatlah menegangkan, sekaligus menyedihkan. Mobil yang dikendarai Mang Karta mengikuti dari belakang, dan kami beriringan sampai keluar kompleks. Kami saling mengelakson lalu berpisah berlawanan arah.




“Jangan lewat tol, Ba. Lewat Cihanjuang saja.” ujar mamah.


“Baik, Bu.”




Setelahnya mamah hanya diam. Tak sepatah kata pun ia ucapkan, bertanya pun tidak. Aku tidak berani melihat ke arah spion, karena dari sudut mataku mamah selalu memperhatikanku dalam diamnya. Sekali saja aku melihat kaca spion, maka mata kami akan beradu pandang.




Dengan cekatan aku mengendarai mobil. Tentu saja aku sudah sangat hafal jalan. Dalam keadaan normal mungkin mamah akan heran, tetapi ia hanya diam sampai kami tiba di kampusnya.




Mamah seperti baru sadar ketika aku memarkirkan mobil tepat di parkiran fakultas. Bukan hanya itu, juga pada jalur yang memang diperuntukan bagi mobil mamah.




“Eh parkir di sini?” ujar mamah.


“Maaf, saya salah, ya Bu?” aku gelagapan, aku lalai pada hal kecil yang seharusnya tidak kulakukan karena akibatnya bisa fatal.


“Bukan! Maksud ibu kok kamu tahu kalau harus parkir di sini?” mamah menjelaskan.


“Eeuh.. itu Bu. Saya lihat plank nomor di papan.” aku menunjuk ke arah depan.




Kulihat mamah mengangguk. Aku menghela nafas lega. Aku telah lolos dengan menemukan alasan yang tepat.




Segera aku keluar untuk membuka pintu belakang, tapi mamah lebih cepat, ia keluar duluan.




“Saya ngajar sampai jam sepuluh, habis itu ada rapat dosen. Kamu boleh pulang dulu atau pergi jalan-jalan, tapi jam dua belas harus sudah ada di sini.” ujar mamah.


“Siap, Bu.”




Ia menolak ketika aku mengulurkan tangan untuk membawakan tas laptopnya. Ia sepertinya tidak suka diperlakukan secara istimewa.




“Nih buat kamu makan atau jajan.” mamah menyodorkan selembar uang berwarna merah.


“Tapi Bu….”


“Sudah ambil saja.”




Aku pun menerimanya dengan sungkan. Tapi dalam hati cukup senang karena berarti aku bisa membeli rokok. Sisa isi dompetku tinggal dua belas ribu, dan sangat kujaga agar dompetku tidak benar-benar kosong.




“Terima kasih, Bu.”




Mamah mengangguk lalu melangkah meninggalkanku. Aku tetap mematung, menghantarnya dengan pandangan. Helaan nafas panjang kuhembuskan ketika tubuhnya menghilang, aku kembali ke dalam mobil.




Aku sudah mempersiapkan mental sejak dua hari lalu untuk menghadapi hari pertama kerja. Aku berusaha tegar dan bersikap wajar selama tadi berada di ruang makan dan juga sepanjang perjalanan. Tapi kini semua pertahananku runtuh. Kututup wajah dengan tubuh bergetar. Aku menangis tanpa air mata.




Butuh waktu setengah jam sendiri untuk mengontrol perasaan. Aku pun keluar dari mobil dan melangkah meninggalkan kompleks kampus. Tujuanku adalah minimarket. Kubeli sebungkus marlboro merah, dengan koreknya sekalian. Kuhisap. Terasa nikmat.




“Hei, Ba. Kamu udah mulai kerja ya?” tiba-tiba sesosok gadis keluar dari supermarket.




Kami memang tidak ketemu di dalam karena hanya membeli rokok di kasir.




“Eh.. Mbak Salsa.” aku tersipu malu.


“Haish.. masih aja! Salsa, Ba, Salsa!!”


“Hehe.. iya maaf.”




Salsa adalah gadis yang ketemu di kostan. Dia tidak ngekos di sana karena ia adalah sang pemilik kostan. Ia tinggal di rumah induk. Entah sudah diatur oleh Raja Anta atau tidak, tetapi di tempat tinggal sementara pun aku harus bersama dengan orang yang sudah kukenal. Jelas aku sangat kenal Salsa karena ia adalah sahabat Rere, tapi tentu saja gadis ini tak mengenalku.




Sejak perjumpaan pertama, aku cukup akrab dengannya. Itu berawal dari ia memergokiku ketika sedang menangis. Ia banyak menghiburku, sekaligus meledek dan menganggapku sebagai lelaki yang cengeng. Tentu saja.. karena aku berbohong. Aku mengaku baru putus cinta. Kami semakin cepat akrab ketika ia tahu bahwa aku akan bekerja sebagai sopir di keluarga Bu Callysta.




Setelah lulus kuliah, Salsa langsung melamar kerja ke yayasan, dan diterima sebagai Wakil Kepala Administrasi PPMBE yang pada awal berdirinya disebut Puting Bude oleh ayahku. Tentu saja lembaga ini sudah menjadi lembaga elite di universitas dan sudah memiliki nama besar. Mamahku masih menjadi pembina di sana.




“Hahaha…” tiba-tiba Salsa tertawa.


“Kenapa?”


“Gaya kamu!! Pekerjaan sopir, tapi rokok bergaya Presdir (presiden direktur).”


“Hehee..” aku hanya bisa terkekeh. Toh memang itu adalah jabatanku di NeNeN.




Tapi ini masalah selera, bukan miskin atau kaya. Dulu, kolega bisnisku yang kaya raya tak sedikit juga yang merokok Minak Djinggo atau Sriwedari. Termasuk seorang pengusaha celeng dari Sumatera, atau Pakle Rayxi pengusaha tambak berbahasa ngapak.




“Kamu beli apa, Sa?” tanyaku.


“Nih.. biasa kebutuhan perempuan. Untuk jaga-jaga aja sih karena udah waktunya.” ujarnya sambil menunjukan bungkusan plastik. Sekotak Miss Sayap Suwir.


“Oh…” singkatku.




Salsa memasukan bungkusan plastik ke dalam tas, dan kami berjalan menuju kampus. Aku cukup senang bisa berteman dengannya (walaupun sejatinya kami sudah berteman sejak di Ewer dulu), karena dengan itu aku bisa mencari info tambahan tentang Rere. Hanya aku masih belum siap jika aku dan Rere kemudian bertemunya di kostan.




“Ngebakso dulu di kantin yuk. Aku yang traktir deh.” ajaknya.


“Heh?! Gakpapa ke kantin jam segini? Kan masih jam kerja.” heranku.


“Pejabat mah bebas.” jawabnya dengan enteng.


“Kubilangin bossku loh.” godaku.


“Jadi mau ditraktir gak?” Salsa menunjukan wajah bete.


“Hehe.. iya ayo.”


“Tapi jangan ngadu ke bossmu. Galak tahu!!”


“Siap!”




Aku menjejeri langkahnya sambil terkekeh. Aku masih saja heran ketika banyak orang bilang kalau mamah itu galak, karena sikapnya di rumah adalah kebalikannya.




Sambil makan bakso, aku dan Salsa semakin mengakrabkan diri dengan menceritakan hidup masing-masing. Aku harus menciptakan kebohongan dalam ceritaku.




Selain bercerita tentang keluarga, ia juga bercerita tentang para sahabatnya. Rere bekerja di FAF dan menduduki posisi penting di sana. Salsa tidak tahu bahwa aku sudah tahu.




Meti pulang ke Surabaya, bulan depan akan menikah. Salsa dan Rere sudah merencanakan untuk datang.




Donna melanjutkan sekolah ke Singapur.




Rina masih di Bandung dan bekerja di bagian administrasi sebuah Supermarket ternama di Jawa Barat.




Nose ikut orangtuanya yang dipindah tugaskan ke Aceh. Ia akhirnya tidak berjodoh dengan Vian, sedangkan pemuda itu memilih bekerja di kapal pesiar.




Agus masih pengangguran sampai sekarang.




Aku sebetulnya ingin banyak bertanya tentang Rere, tapi aku takut Salsa curiga. Keterangan Salsa bahwa Rere sudah punya kekasih, yang adalah anak Bu Callysta, itu sudah cukup bagiku. Aku merasa terhibur. Aku tidak meragukan kesetiaannya, tetapi cerita apapun yang berhubungan dengan dia adalah kerinduanku.




Tak lama kemudian aku dan Salsa berpisah. Ia menuju kantornya, aku menuju parkiran. Kembali merokok di bawah pohon. Beberapa kenalan-baru kutemui, rekan-rekan seprofesi sebagai sopir.




Tepat jam dua belas mamah menelpon, dan kujawab aku ada di mobil. Seperempat jam kemudian sosoknya muncul. Kusambut dan kubukakan pintu belakang. Senyumnya terulas, tak semuram tadi pagi.




“Langsung pulang, Bu?” tanyaku.


“Jemput bapak dulu di kantor. Biar Kekey nanti pulang sore dengan Mang Karta.” jawabnya. Alamat pun ia sebutkan.


“Baik, Bu.”




Perjalanan tidak sebeku tadi pagi. Sekali-kali mamah mengajakku ngobrol, khususnya banyak bertanya tentang latar belakangku. Lagi-lagi.. aku harus menyampaikan banyak cerita bohong. Sesuatu yang sangat tabu bagi keluargaku.




Mamah juga mengaku, kehadiranku semakin mengingatkan pada Rei anak keduanya. Katanya sorot mata kami mirip dan bahkan sama. Aku hanya terkekeh. Sebetulnya untuk menutupi kegugupan dan kesedihanku. Perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi, meskipun ia dan ayah sudah tidak dibantu lagi Sawaka dan Mantili. Sekarang aku paham, mungkin Kak Kekey juga merasakan hal yang sama.




Suara mamah berubah sendu ketika menyebut anak keduanya. Tetapi aku tidak berani bertanya kemana perginya anak itu. Dasar durhaka.. pergi dari rumah dan membuat seisi keluarga bermuram durja. Bangke kamu, Rei!!




“Aku Rei, Mah.” aku menjerit dalam batin.




Ingin rasanya aku menepikan mobil. Memeluk mamah sambil minta ampun. Sekuat tenaga aku menahan diri, dan akhirnya bisa bernafas lega ketika sampai di tujuan. Aku berhenti di depan lobi, seorang security datang menghampiri dengan sopan untuk membukakan pintu. Tentu saja ia sudah kenal mobil ini. Tapi kuberi tahu kalau Ibu Direktur tidak turun.




Mamah menelpon ayah, dan tak perlu waktu lama menunggu, sosoknya muncul di bawah anggukan hormat setiap orang yang berpapasan. Ayah yang terkesan santai saat di rumah, terlihat sangat disegani saat di kantor. Aku bangga!




Aku berburu turun, tetapi security lebih gesit membukakan pintu mobil.




“Gimana lancar semuanya, Ba?” tanyanya.


“Lancar, Pak.” aku setengah membungkuk.




Ingin rasanya aku menendang bokongnya saat ia masuk. Aku menjadi seperti ini gara-gara dia! Haish.. kesal dan bangga pun berseliweran menghampiri.




Sepintas aku masih bisa melihat ayah mencium bibir mamah, lalu kecupan mesra pada kening. Perasaanku berdesir. Bangga ini kembali ada.




Aku bersikap sewajar mungkin, berusaha profesional meski masih sopir amatiran. Kulirik mamah yang membenamkan kepalanya pada bahu ayah melalui spion, lalu fokus kembali pada jalanan.




“Kita mau makan siang dulu? Udah lewat jam makan, Mah. Ayah gak mau mamah makin kurus.”


“Pulang aja.”


“Mamah yang pilih deh mau makan di mana?”


“Pulang ayaaah!”


“Iya.. iya pulang. Kita makan di rumah.”




Kini semua cerita tentang manjanya mamah di depan ayah bisa kulihat dan kudengar sendiri. Beberapa kali aku memang memergoki mereka ketika bermesra di depan TV, tetapi mereka pandai menyembunyikan dan bersikap biasa ketika kami anak-anaknya datang. Ah sial.. aku jadi kangen Rere. Kampret nih si Suwir Jagad dan Raden Ajeng Belah Bumi!




Perasaanku gaduh. Bangga, marah, kesal, sedih, rindu.. semuanya bercampur menjadi satu.




“Nasib Rei gimana, ya Yah?”


"Sudah dong, mah. Ayah yakin rei baik-baik saja. Kalau ada apa apa pasti sawaka memberi kabar. No news is good news."


“Mamah kangen.”


“Ya kita semua juga kangen.”




Kudengar ayah menghibur mamah dan meyakin istrinya bahwa putra mereka baik-baik saja. Kupret!! Baik gimana, anakmu alih profesi jadi sopir!




“Kalau mamah mikirin Rei terus dan selalu sedih seperti ini, kapan ayah dapat jatahnya?”


“Ayah iiiih…”




Mamah sewot dan mencubit. Tapi ayah meraih tangan mamah dan menggenggamnya erat.




“Ayah yakin Rei baik-baik saja?”


“Ayah sih yakin.”


“Hmmm…”


“Jadi?” desak ayah.


“Iyah nanti.”




Kampret!!! Kunyuk nih ayahku. Bukannya mikirin anaknya yang paling ganteng, malah mikirin dirinya sendiri yang puasa nyuwir. Ingin rasanya aku menimpuk dengan kotak tissue.




Kuintip dari spion, nampak pria yang kumaki dalam hati sedang mengecup bibir mamah.




Kunyuuk luwak!!!




Aku berusaha tetap fokus. Aku sudah janji bahwa pembicaraan apapun yang kudengar di dalam mobil ataupun di rumah tidak boleh kubocorkan kepada orang lain. Itu syarat yang ayah sampaikan ketika aku melamar pekerjaan.




“Rereee.. aku kangen sayang, bulumu sudah lebat belum?”


“Iba.”


“Iya, Pak?”


“Kamu apakan istri saya, kok sekarang terlihat lebih gembira?”


“Eh… maksud Bapak?”


“Ayaah iiiih.”




Ayah tak jadi meninterogasiku, mulutnya dibekap mamah. Lagipula aku yakin, ayah bertanya begitu hanya sedang menggoda mamah.




“Iba.”


“Iya, Bu?”


“Kamu sebenarnya Sawaka yah?”




Degh!!




“Mmmaksud ibu? Sawaka siapa yah?”


“Hehe.. udah gak jadi. Gakpapa kalau kamu tidak kenal dia.”


“Baik, Bu.”




Jantungku mau copot rasanya mendengar pertanyaan mamah. Aku pura-pura mendongak untuk melihat penunjuk waktu pada lampu merah, sekedar menghindar agar ekspresi wajahku tidak terlihat dari pantulan spion.




“Maaah… Kok mamah jadi aneh-aneh sih?”


“Ya abisnyaa..”


“Sudah ah.. kasian Kekey dan Nzi kalau mamah sedih terus. Mereka sedihnya malah double.. karena mamah dan karena Rei.”


“Memang ayah gak sedih? Rei anak kita loh.”


“Siapa yang bilang Rei bukan anak kita, Mamaaah? Ayah juga sedih, tapi ayah yakin Rei baik-baik saja.”


“…”


“Katanya kelak kita mau pindah ke Ewer. Sekarang baru ditinggal sementara oleh Rei aja mamah udah kayak gini. Padahal kalau kita jadi pindah, mamah akan jauh dari anak-anak kita.”


“Ya beda, ayaah!! Jauh juga gak apa-apa kalau tahu anak-anak pada sehat dan bahagia, tapi ini kan kita gak tahu Rei bagaimana.”


“Ayah kan sudah bilang, Rei pasti baik-baik saja.”


“Bodo! Ayah ngeselin.”


“Tapi walau ngeselin ayah sayang mamah.”


“Bodo!!”


“Sayang loh.”


“Ayah aah.. sanah…!”


“Jadi?”


“Iyah!”


“Iya apa, Mah?”


“Ayah ngeselin!”




Setan!! Aku seperti sedang membawa anak majikan yang sedang bahagia-bahagianya karena jatuh cinta. Padahal tuan dan nyonyaku sudah paruh baya, dan mereka adalah orangtuaku. Membanggakan memang.. tapi dalam statusku seperti ini tetap saja rasanya ingin melayangkan mobil keluar dari jembatan Pasupati yang sedang kami lewati.




“Ayah seneng mamah mulai gembira lagi. Percaya ke ayah.. ayah juga sayang Rei.. dan feeling ayah gak akan salah, anak kita baik-baik saja.”




Kalau tadi kesal, sekarang aku bangga.




“Mamah sayang ayah… sayang Kekey… sayang Rei… sayang Kenzi…”




Kali ini mamah yang mengungkapkan isi hatinya, dan memang itu yang ayah tunggu. Dalam diamku kusampaikan rasa cintaku pada mereka berdua, juga pada Kak Kekey dan Nzi. Kupanjatkan doa bagi kesehatan mereka semua.




“Makasih. Sudah yah mamahnya jangan sedih terus, malu sama Kekey dan Nzi. Mereka malah kelihatan lebih tegar.” hibur ayah.


“Ayah aja yang gak peka. Lihat tuh apa yang biasa dilakukan Nzi. Sebelas dua belas ama Rere.”




Aku menajamkan pendengaran. Perasaanku berdesir mendengar nama kekasihku disebut. Jantungku berdebar dan penasaran apa yang biasa dilakukan kekasihku. Namun aku harus kecewa, ayah tidak membahasnya karena sepertinya sudah tahu apa yang dimaksud mamah.




“Yeah… Setidaknya Kekey dan Nzi sudah bisa menerima bahwa Rei pergi untuk meneruskan tradisi leluhur.” ujar ayah.




Aku cukup terkejut bahwa ayah dan mamah akhirnya menyampaikan alasan kepergianku. Mungkin karena mereka tidak punya alasan lain. Atau bisa juga karena tidak mau terlalu lama membohongi kakak dan adikku, secara sejak kecil kami dididik untuk selalu jujur.










BERSAMBUNG





Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar