Sang pewaris paet 2

 

BAB 2








Hari yang ditentukan pun tiba. Aku sudah meluncur mengendarai mobilku menuju kampung halaman ayahku. Aku sengaja memilih berangkat pada hari kerja, agar keluargaku tidak perlu mengantar. Aku lebih sedih ditinggalkan, daripada meninggalkan.




Semua keluarga besarku sudah tahu ketika di rumah Oma Alya tempo hari, dan mereka memberi restu. Tante Maya malah sangat antusias, entahlah sepertinya ia menyembunyikan sesuatu. Sebetulnya mamah juga agak aneh, tapi ia tidak bilang apa-apa. Ayah pun agak susah ditebak.




Ah sudahlah, yang jelas aku senang bisa tinggal bareng “Oma Ewer”. Aku bisa menyelesaikan novelku yang baru setengah jalan kutulis. Jam sepuluh pagi aku sudah tiba, setelah sebelumnya mampir di desa dan ziarah ke makam Uyut Haji dan Hajah Ismaja. Mereka adalah orangua Oma Mae.




Kumasukan mobilku di halaman sebuah rumah panggung yang megah. Seorang wanita yang sedang duduk di depan rumah langsung berdiri menyambutku. Oma sepertinya sudah menungguku dari tadi.




“Omaa.”


“Sayang.”




Oma tergopoh menyambutku. Belum juga aku mengambil tangannya, oma langsung memeluk dan menciumi wajahku sambil berlinang air mata.




“Oma kangen. Gimana perjalanannya lancar?”


“Lancar oma.” kini gantian aku yang mencium kedua pipinya.


“Kakak dan adikmu kok gak ikut, oma kan kangen juga.”


“Kak Kekey kan kerja, Oma. Nzi juga udah mulai kuliah.”




Tubuh ringkihnya kembali memelukku, dan air mata bahagianya masih menetes. Tak lama kemudian beberapa tetangga yang melihat kehadiranku menghampiri dan menyalami. Ah dasar oma.. selalu saja ia membanggakanku di depan para tetangga, padahal mereka juga kan sudah tahu siapa aku; kami sudah saling mengenal.




Akhirnya oma menuntunku masuk ke dalam rumah ditemani oleh dua orang tetangga, Bi Irem dan Mak Nineung. Hidangan makan siang sudah tersedia, rupanya oma memang sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatanganku.




Oma langsung cerewet bertanya ini dan itu, dan aku menjawab sambil menikmati kopi yang dibuatkan oleh Bi Irem. Sebetulnya baru dua minggu lalu kami saling bertemu karena oma tinggal di Bandung sejak kepulanganku dari luar negeri, tapi tetap saja sikapnya seolah kami sudah lama tidak bertemu. Agar oma senang, kuhubungi mamah dengan video call. Sekaligus aku memberi kabar bahwa aku telah tiba. Butuh sepuluh menit sendiri kami ngobrol. Berikutnya kuhubungi Kak Kekey, dan terakhir Nzi. Oma kelihatan sangat senang dan matanya berkaca-kaca karena bahagia.




"Sampurasun” terdengar suara langkah di atas bale-bale rumah.


"Rampes.” jawab kami.




Nampaklah seorang wanita paruh baya memasuki rumah, cantik alami khas wanita desa. Dia adalah Bu RT dan juga adiknya Om Rad yang sekarang menjadi partner ayah dalam mengurusi kopi luwak. Ia datang bersama anaknya Indra yang seumuran denganku.




“Bi.” aku langsung berdiri.


“Wah tamunya sudah datang.”




Kami pun bersalaman, setelahnya aku menyapa Indra dan saling meninju bahu setelahnya. Aku dan Indra memang berteman, dan kami selalu main bersama kalau aku pulang kampung. Acara kangen-kangenan pun kami lanjutkan dengan makan bersama, beberapa tetangga pun datang dan makan barsama kami.




“Pokoknya kamu datang di waktu yang tepat, Rei.” ujar Indra.




Sebelumnya para tetangga bercerita bahwa kampung kami kedatangan tujuh mahasiswa dari Bandung yang sedang KKN. Mereka sudah tinggal di Ewer selama dua minggu.




“Kenapa emangnya?” aku penasaran.


“Ceweknya cantik-cantik, Rei.”


“Husssh kamu itu, Ndra.” Bu RT menghardik anaknya, dan kami pun tertawa bersama.


“Iya, Ndra, cucu oma mah udah punya pacar.” ujar oma.


“Hehe.. udah putus, Oma.” aku terkekeh.


“Hah? Kok bisa? Padahal Icha gadis yang baik loh? Ayah dan mamahmu udah tahu?” Oma langsung nyerocos.


“Oma mah nanyanya borongan.” aku terkekeh.


“Nanti aja ceritanya, Oma. Ayah dan mamah udah tahu kok. Kakak dan adik juga tahu.”


“Uuuh.. cucu oma ke sini bukan karena patah hati, kan?”


“Bukan omaaaa.”




Tawa pun memenuhi ruang makan.




Usai makan aku menurunkan tasku dari mobil sekaligus mengeluarkan oleh-oleh yang kubawa dari Bandung. Setelah beres semuanya aku dan Indra merokok bersama di saung samping rumah. Sebetulnya rumah oma sebelumnya bukan di sini, ia pindah setelah rumah lama dihibahkan kepada warga dan dijadikan pusat pengolahan kopi dan sayuran organik. Pusat aktivitas warga ada di sana.




“Asli, Rei, ceweknya cantik-cantik. Yang paling cantik namanya Renata, tapi judesnya itu beuuh gak ketulungan.” Indra bercerita sambil menghisap rokoknya.


“Emang judes kenapa?”


“Mungkin karena ia merasa anak orang kaya dan tinggal di kota kali ya, jadi agak angkuh gitu, dan selalu memandang remeh para pemuda desa.”




Mendengarnya aku pun tertawa, sekaligus juga penasaran akan sosok gadis itu.




“Anter aku ke desa.” aku antusias.


“Ngapain?”


“Aku mau titip mobilku di sana, dan jangan bilang siapa aku yang sebenarnya, bilang aja aku anak sini dan baru pulang merantau.”


“Gila, Rei, ya tetep aja akan ketahuan secara kan semua warga mengenalmu.”


“Gampang itu, kalau oma berkata, warga pasti menganggukan kepala.” aku menjawab sambil tergelak. Oma memang sangat disegani di Ewer dan sudah dianggap sebagai salah satu sesepuh kampung.




Aku langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui oma yang sedang melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran. Aku tidak perlu susah payah merayunya, oma langsung setuju. Rei!! Cucu kesayangan oma gitu loh, apapun permintaanku pasti dikabulkan. Aku dan Indra pun pergi ke desa untuk nitip mobil di sana.




Malam harinya, setelah menemani oma makan malam, aku dan Indra pergi ke balai kampung. Beberapa teman kami sudah berkumpul di sana untuk ngopi bareng sambil main kartu. Mereka sudah kami beritahu agar jangan membocorkan rahasiaku melalui telpon.




“Wiiih ada orang kota nih. Rokoknya mana rokok…” teman bersama Midun langsung menyambut.


“Kupret kamu mah.” gerutuku.




Kami pun saling bersalaman dan dilanjutkan berbagi kabar satu sama lain. Selain Midun, ada juga Safri, Juned, dan Babay. Kami semua sepantaran.




Tak berselang lama, asap rokok pun sudah mengepul dari mulut kami masing-masing. Kopi hitam pun sudah dituang oleh Juned. Kami berkumpul di dalam pendopo tanpa dinding. Di bagian dalam ada satu ruangan tertutup yang lampunya kelihatan masih menyala.




“Siapa di dalam?” tanyaku.


“Itu anak-anak KKN, mereka sedang rapat.” jawab Babay.


“Oh jadi kalian di sini dalam rangka modusin cewek-cewek kota toh?” sahutku.




Kami pun tergelak, apalagi ketika mereka menggambarkan body mereka dengan omongan nyerempet saru tawa kami semakin keras.




"Kang, punten suaranya jangan keeer….” tiba-tiba terdengar suara merdu yang mengingatkan kami. Namun kalimatnya tidak dilanjutkan, ia malah melongo menatapku.




Entah sadar atau tidak, ia malah menggapaikan tangannya ke dalam ruangan seperti sedang memanggil teman-temannya.




“Apa, Téh?” tanya Indra.


“Eh anu.. ngg.. nggak.. ada tamu yah?” ia gugup.


“Sinih..” ia malah memanggil temannya yang di dalam.


“Hai..” aku langsung berdiri, gadis itu mendekat.


“Aku Rei.” aku mengulurkan tangan.


“Mmmm.. Meti.” ia menyebut namanya sambil menyambut uluran tanganku.




Ia malah tidak mau melepaskan jabatan tangan, matanya menelitiku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Reiii!!! Siapa pun akan terpesona melihatku.




“Ada siapa sih, Met?” teman-temannya pada keluar.


“Inih…” Meti menunjukku dengan telunjuk kirinya, sedangkan tangan kanan tetap saling menggenggam.


“Haiii.. ada tamu yah? Aku Salsa.” seorang gadis menarik tangan Meti dan gantian menyalamiku.


“Rei.”


“Donna.”


“Rei.”


“Rina.”


“Rei.”


“Nose.”


“Rei.”


“Agus.”


“Rei.”


“Vian.”


“Rei.”




Aku pun menyalami mereka satu per satu sambil saling menyebutkan nama masing-masing.




“Senang bisa kenal kalian dan selamat datang di Ewer. Aku asli sini sih, cuma baru pulang merantau. Kerja di Bandung, tapi gagal.. yah ginilah.. ujung-ujungnya balik kampung.” ujarku. Senyum dan angguk ramah mereka berikan. Aku malah sedikit merasa jengah ketika para cewek terpesona menatapku.




“Oh gitu. Rei anaknya siapa yah?” tanya Vian. Sedangkan para cewek seperti pada kelu dan masih mengagumi pesonaku. Padahal aku hanya mengenakan celana biasa dan t-shirt belel punya ayah. Rei!!


“Cucunya Oma.” aku tidak perlu menyebutkan namanya. Mendengar kata “oma” semua orang sudah tahu siapa orang yang dimaksud (padahal TS lupa namanya).


“Oalah.. cucunya oma toh.” seru mereka. Mereka sepertinya cukup kenal dekat dengan oma, dan sikap mereka semakin ramah.


“Guys.. ayo buruan ah. Kalian lagi pada ngapain sih, keburu malam nih.” terdengar teriakan dari dalam ruangan.


“Na, sini dulu nih. Kenalan dulu ama cucunya oma.” Vian balik memanggil gadis yang di dalam.




Kulirik teman-temanku, dan mereka cengengesan sambil mengacungkan jempol.




“Haish.. siapa sih? Jadi dia yang bikin ribut dan mengganggu kita!” Njir.. bukannya segera keluar dan menemuiku, ini malah ngomel. Teman-temanku meledek dengan memanyunkan bibir seolah sedang bersiul, tapi tanpa suara.




Tak lama kemudian muncul sesosok gadis cantik di ambang pintu. Bagian bawah ia mengenakan jeans ketat sehingga menampilkan lekuk kakinya yang jenjang, pinggulnya terbungkus ketat. Bagian atas ia mengenakan kaos putih, beha hitamnya nampak menerawang tersorot lampu. Rambutnya pirang. Digelung dan diikat ke belakang membuat leher indahnya terpajang, putih di atas gundukan dadanya yang berukuran sedang.




Cantik!! Aku langsung teringat Kak Kekey. Perawakan dan cara berpakaiannya sama. Hanya gadis ini bibirnya lebih tipis, dan garis alisnya dipulas. Padahal kalau dibiarkan sedikit alami, paras cantiknya akan semakin sempurna.




“Re, nih kenalin Rei, cucunya oma. Dia baru pulang merantau.” Meti yang paling centil di antara para gadis memperkenalkanku pada gadis itu.


“Oh.” hanya itu yang keluar dari bibir tipisnya.


“Rei.” aku mengulurkan tangan.


“Rere.” ia menyambut tanganku. Wuasuuu.. ia hanya menyentuh ujung jariku karena ia segera menarik kembali tangannya.


“Udah yah.. tolong ngobrolnya jangan keras-keras, kami lagi kerja.” ketusnya. Lalu ia berkata kepada teman-temannya, “Ayo masuk.. masuk.. keburu malam nih.”




Ada wajah-wajah tidak enak hati melihat sikap Rere, tapi mereka sepertinya tidak berani berbuat apa-apa selain kembali ke dalam ruangan.




“Sorry, yah Rei.” Meti memegang pergelangan tanganku.


“Eh.. gakpapa, Met. Silakan dilanjut.”




Meti tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Rere menarik tangan gadis itu dengan kasar. Untuk menutupi rasa kesal pada gadis sombong itu, aku pun membungkukan badan seolah meminta maaf karena telah bikin gaduh.




“Hahahaha…” teman-temanku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Begitu pintu tertutup, tawa mereka langsung pecah.


“Heiii… baru juga dibilangin supaya jangan ribut!” terdengar teriakan dari dalam.




Kawan-kawanku pun bungkam, tapi tubuh kami berguncang untuk menahan tawa.




“Kena deh kamu, Rei. Berani gak naklukin dia?” tantang Indra.




Aku pun tersenyum sinis. Menaklukan seorang Arischa yang pemurung dan menutup diri aku bisa, sekarang saatnya menaklukan gadis garang. Kata ayah, cewek itu akan takluk kalau disuwir. Tapi aku belum terlalu mengerti sih apa maksudnya, biar nanti aku tanya oma, suwir itu apa.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar