BAB 28
Kurebahkan tubuhku di atas kasur kapuk yang sudah tidak rata lagi. Kepalaku menempel pada bantal lepek dan sedikit bau apek. Tubuhku berkeringat. Ya.. aku baru saja membersihkan ruangan petak yang sangat sederhana. Kamar kostku.
Pikiranku menerawang, mengingat, membayangkan, dan mengenang keluargaku. Foto aku tidak punya, tapi ingatan tidak akan pernah sirna. Rasa rindu pun menggebu. Ketika aku mengingat ayah dan mamah, juga kakak dan adikku, ada satu bayangan yang seolah menjadi backgroundnya. Ia selalu ada dalam benakku. Dalam sadar dan tidurku. Kekasihku!
Aku mendenguskan nafas. Takdir telah memutar balikan hidupku. Tiga bulan menghilang, dan kembali ke kota ini dengan keadaan yang sama sekali berbeda. Aku masih Rei.. Reinan Wallysta Purnama.
Otakku masih waras. Tidak hilang ingatan. Masih tahu jati diriku, tahu asal-usulku, tahu keluargaku, tahu siapa kekasihku. Aku masih ingat ukuran g-string Rere, ingat warna dan bentuk putingnya, tak lupa akan wujud bibir vaginanya yang imut dan sekarang mungkin sudah berbulu. Tidak ada yang lupa.
Tapi satu yang berbeda: wajahku!!!
Si bangsat Raja Anta telah semena-mena. Harimau mandul itu telah mengutukku. Bangke!! Kupret!! Taik!! Setan!!
Aku berada di negeri astral dalam keadaan sengsara. Dikasih makan daging busuk penuh belatung, diberi minum air kencing Mantili, menjadi bahan mainan dan rajaman cakar serta taringnya. Setiap hari aku jadi bahan hiburan bagaikan tikus yang dipermainkan kucing. Aku memilih mati saat itu, tapi malaikat penyabut nyawa pun seperti jijik mendekatiku.
Dan kini.. aku dikembalikan ke duniaku. Ke kota ini. Tiga rintangan yang sudah kulalui dibatalkan gara-gara aku menyuwir vagina gundul, dan itu milik Bunda Rahma. Aku sudah tahu itu, dan memang aku sengaja melakukannya, tetapi dampak yang harus kutanggung tidaklah kusangka. Sawaka pun tak berdaya membela atau menolongku.
Aku kembali.. untuk memulai kembali. Mengawali tahapan rintangan sebelum ritual. Tetap sebagai Rei, namun wajahku sangatlah berbeda. Keluargaku tak akan mengenaliku; kekasihku tak akan lagi tahu bahwa akulah pemudanya yang ditunggu-tunggu
Aku bangkit, berjingkat menuju dinding. Kuambil cermin bundar dan kutatap wajahku. Bangke!!! Aku pun masih asing dan belum terbiasa mengenali wajahku sendiri. Untunglah si bangsat itu tidak sepenuhnya mengutukku. Meskipun aku berubah rupa, aku masih terlihat ganteng. Hanya satu strip di bawah wajahku yang asli, tapi semakin jauh dengan penulis cerita ini. Jaraknya menjadi dua strip. Taik!!!
Kubanting cermin. Jatuh berkeping. Dan aku menyesal.. aku harus membersihkan lantaiku kembali. Aku pun sudah tidak bisa melihat wajahku kembali, besok harus membeli cermin baru.
“Biar aku aja yang bersihkan, kamu siap-siap pergi ke rumahmu.” tiba-tiba seorang pria gendut muncul di ambang pintu.
Aku mendengus kesal. Orang asing dan sok ramah, siapa lagi kalau Sawaka yang menyamar. Aku tak menjawab, kurebahkan kembali tubuhku di atas kasur. Kukeluarkan dompetku dan kuperiksa isinya. KTP aku punya, SIM juga ada. Lagi.. foto, nama, dan alamatku berbeda. seorang Rei dengan identitas baru. Aku mendapatkannya dari Sawaka, tetapi tetap saja aku marah, karena semua identitas yang tertera bukanlah diriku yang sejati.
Tanpa sadar Sawaka sudah menghilang, dan lantaiku sudah bersih kembali. Tapi kepingan cermin tidak terlihat, mungkin ia bawa pulang untuk mengerik bulu kemaluan Mantili. Entahlah! Aku tidak peduli!!
Aku bangun. Kuganti pakaian. Kuraih tas selempang kulit, tak lupa memasukan sebuah amplop ke dalamnya. Amplop dari seorang sahabat di Ewer, dialah satu-satunya orang yang tahu identitasku yang sesungguhnya.
Kukunci pintu.
“Nih handphone.” seorang pria sudah menungguku di depan halaman rumah kost.
Sawaka lagi. Kali ini menampakan diri dalam rupa pria gundul, hanya kumisnya yang tebal, itu pun hanya di bagian kedua sisi.
“Hmm..” aku hanya bergumam, tetapi kuterima pemberiannya, langsung kukantongi.
Lesu aku menyusuri gang. Sekali-kali bersalam sapa dengan warga yang berpapasan. Tidak perlu memperkenalkan diri panjang lebar, orang baru di sini pastilah anak kost yang baru datang.
Di pinggir jalan kuperiksa kembali dompet. Masih ada uang, lumayan 27.000. Kuhentikan angkot dan duduk di pojokan sambil bengong. Segala amarah dan kekesalanku kini berganti takut. Takut tidak bisa mengendalikan rasa rindu. Tapi harus kujalani jika tidak ingin gagal menjalani rintangan. Masa depan banyak orang harus kuperjuangkan, cinta pun kukorbankan.
Sebagai orang susah, kini aku sadar memang orang kaya itu kadang menyusahkan orang susah. Turun dari angkot aku masih harus berjalan sekitar satu kilometer, menyusuri jalan kompleks perumahan elite. Jalannya pun lebih mulus daripada jalan raya yang tadi dilewati angkot.
Peluh membasahi. Sengat matahari sore membuatku gerah. Tapi hatiku lebih gerah lagi. Mataku juga terasa panas. Kuusap kasar air mata yang tiba-tiba menjentik.
Perjalanan satu kilometer kutempuh selama satu jam. Bukan karena tidak biasa jalan kaki, tapi aku sering berhenti. Bukan berhenti karena lelah, tapi mencoba menenangkan diri.
Setibanya di tujuan, aku tidak langsung mendekati satpam. Tapi duduk di seberang sambil mengamati rumah megah itu. Sial.. aku tidak sempat membeli rokok. Kalutku berlipat-lipat.
Rumah nampak sepi. Padahal mobil penghuninya berjejer di halaman.
Kubuka mulut. Inginku berteriak, tapi kutahan. Akhirnya hanya dengusan nafas berat yang keluar.
“Bisa! Harus bisa!!!” kusemangati diri sendiri.
Setengah jam kemudian aku baru berani. Kukebas celanaku, dan melangkah mendekati pagar. Pak Uri, sang satpam, menyambut.
“Selamat sore, Pak, betul ini rumah Pak Sirna dan Bu Callysta?” dadaku berdetak kencang menyebut nama itu.
“Iya, betul. Ujang siapa ya? Dan ada keperluan apa?”
"Hmmm... begini ternyata rasanya masuk rumah orang kaya. Masuk ke dalam rumahku sendiri." aku membatin. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya karena aku adalah sang penghuni.
“Saya Iba, Pak, dari Sawer.” kutunjukan KTP-ku dan kujelaskan maksud kedatanganku. Setelah yakin aku sudah memiliki janji dengan tuan rumah, ia membuka gerbang dan mempersilakanku masuk.
Pak Uri menyuruhku duduk di atas kursi plastik, sedangkan ia masuk ke dalam rumah. Tak sampai lima menit ia pun kembali. Aku diajak memasuki rumah dan duduk di ruang tamu.
“Silakan tunggu di sini, Jang.”
Aku pun mengangguk, dan Pak Uri kembali menuju post di depan.
Mataku menyapu seluruh isi ruangan. Tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama. Tapi suasana rumah terasa lebih dingin, tidak sehangat biasanya. Aura para penghuni memberi efek yang berbeda.
Bola mataku terasa panas ketika memandang foto keluarga yang terpajang di dinding dekat tangga. Aku ada di sana. Senyum-senyum itu sangat kurindukan, tapi aku tidak berdaya. Kini aku datang sebagai orang asing dengan wajah berbeda.
Keringat dingin mulai membasahi punggung dan leherku. Semakin kuusap, semakin mengucur. Nafasku sedikit pendek dan tersengal. Rasanya aku ingin berteriak dan mencari orangtua dan saudari-saudariku. Menumpahkan rasa rindu dengan memeluk mereka.
Sosok itu muncul dari ruang tengah. Hanya beberapa bulan kutinggalkan, tapi ia sedikit berubah. Wajahnya tidak lagi cerah, hanya sorot matanya yang teduh yang tidak berubah. Helaian ubannya semakin banyak efek dari banyak pikiran.
Ia mengetuk kamar kakak. Rasanya aku ingin meloncat dan menghambur memeluk mereka berdua. Pantatku terangkat, namun kuhempaskan kembali sedetik kemudian. Kakakku masih cantik dan tetap cantik, namun cahaya wajahnya seolah pudar. Riangnya hilang. Senyumnya datar.
Aku menahan nafas. Kukendalikan gemuruh perasaan.
Kini aku benar-benar berdiri menyambut mereka, lututku rasanya bergetar.
“Selamat sore, Pak. Sore, Non.” kudengar suaraku sedikit bergetar.
Ayah tersenyum dan menyambut uluran tanganku. Begitu pula kakak. Mereka ramah seperti biasa, namun sinar bahagianya telah sirna.
Secara singkat dan terbata aku memperkenalkan diri. Kukeluarkan amplop dari dalam tas. Kukeluarkan pula KTP-ku. Kusodorkan pada ayah. Tanganku bergetar.
Ayah membaca isi surat, sedangkan kakak menatapku tajam. Ia seperti terperangah, entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas ia seperti menyelidiki sorot mataku.
“Kamu anak siapa, Ba? Kok sepertinya kita tidak pernah ketemu.” tanya ayah.
Ia memberikan surat pada kakak, dan ia langsung membaca isinya.
Kusebutkan nama warga Sawer yang sudah almarhum. Kebohongan pertama kusampaikan.
“Menurutmu gimana, Kak?” tanya ayah pada Kak Kekey.
“Indra kan sudah pernah menelpon, jadi gak ada masalah, Yah.” ujar Kakak.
Surat itu memang ditanda tangani oleh Indra, sahabatku di Ewer.
Kak Kekey memeluk lengan ayah, tatapan matanya selalu mengamati sorot mataku. Aku menunduk, bukan malu, tapi takut tidak tahan menghambur memeluknya. Kalau bisa, aku malah ingin segera pergi dari rumah ini dan menangis. Tapi aku juga rindu mamah dan Nzi, aku masih berharap bisa bertemu mereka.
Ayah memanggil Bi Epah supaya membawakan minum untukku. Tak lama kemudian wanita paruh baya itu muncul dan kami saling memperkenalkan diri.
Banyak pertanyaan yang ayah ajukan, sedangkan kakak banyak diam. Intinya aku diterima sebagai sopir keluarga, khususnya untuk menjadi sopir mamah.
Ayah bercerita bahwa anak keduanya telah pergi meninggalkan rumah. Sudah tiga bulan tidak pulang dan tidak ada kabar. Mamah terpukul dan beberapa kali hampir kecelakaan karena menyopir sambil melamum. Untuk itulah ayah dan kakak memutuskan untuk mencari sopir tambahan, biar Mang Karta tetap menjadi sopir ayah. Aku ingin menangis mendengarnya. Mamah menderita karena kehilanganku. Pertahananku hampir runtuh ketika kulihat Kak Kekey berlinang air mata.
“Kamu tinggal di mana, Ba?” tanya kakak
“Di Geger Kalong, Non. Ngekost.”
“Jangan panggil ‘non’.”
“Iya, maaf Téh.”
“Bagaimana kalau Iba tinggal di sini aja, Kak, jadi mamah lebih gampang kalau mau bepergian?” ayah menatap kakak.
Rasanya aku ingin menolak. Aku tidak akan sanggup tinggal seatap dengan keluarga yang tidak lagi mengenaliku. Dan aku sangat tidak berdaya ketika kakak menyetujui usul ayah.
“Tapi saya baru saja membayar uang kontrakan untuk tiga bulan, Pak.” aku masih mencoba mencari alasan.
“Tidak apa-apa. Kamu boleh libur sabtu dan minggu, jadi kamu juga bisa pulang ke kontrakan biar gak bosen di sini terus.” jawab kakak.
Aku hanya bisa mengangguk. Penolakanku malah bisa membuatku batal bekerja bagi keluargaku sendiri.
“Yaudah kamu panggil mamah, Nzi belum pulang yah?” ujar ayah.
“Nzi baru pulang malam, mau langsung pergi bareng Inka dan Rere.” jawab kakak sambil berdiri.
“Ayo dihabiskan minumnya, Ba.” ujar ayah. Aku mengangguk kikuk karena ketahuan mengamati punggung kakak yang sedang memanggil mamah.
Kuteguk isi gelasku, dan kucomot kue kering. Kukunyah tanpa selera. Jantungku kembali berdebar kencang. Aku ingin segera bertemu mamah.
Kunyahanku berhenti, bibirku sedikit terbuka. Air mataku hampir tak bisa kubendung. Mamah keluar dari kamar digandeng oleh kakak. Wajah cantiknya kini terlihat pucat. Tubuhnya kurus. Pipinya sedikit cekung, dan kelopak matanya tebal.
Aku langsung berdiri dan menyalami mamah. Spontan kukecup punggung tangannya. Bibirku kelu tanpa suara.
“Duduk, Mah. Nah ini Iba dari Sawer. Mulai senin ia akan menjadi sopir mamah kalau ke kampus.” sambut ayah.
Ayah mengumbar senyum sambil menggeser duduknya. Kuyakin ayah hanya bersandiwara dengan selalu gembira di samping mamah, walaupun hatinya sendiri terluka.
Seperti kakak, mamah duduk kaku menatapku. Matanya terbelalak. Aku menunduk. Sedikit menahan nafas untuk mengendalikan air mata agar tidak keluar.
“Rei?!” ujar mamah.
“Maah.. ini Iba, bukan anak kita.” hibur ayah.
“Sorot matanya ayah…” gumam mamah. Lanjutnya padaku, “Sinar matamu mirip sekali dengan anak ibu, Nak. Siapa orangtuamu?”
Tiba-tiba mamah berlinang air mata. Kakak pindah duduk dan memeluk mamah, ayah mengusapi punggungnya dari sisi yang berbeda.
Tangisku rasanya mau ikut meledak, tapi sekuat tenaga kutahan. Kusembunyikan kedua tanganku yang terkepal di antara kedua paha. Sambil terbata, kujawab pertanyaannya.
“Reii.. gimana nasibmu, nak? Mamah kangen hiiiks…” mamah menangis.
Kakak ikut menangis, hanya ayah yang terlihat lebih tegar. Tapi aku masih bisa melihat matanya berkabut.
Untung kakak langsung menggandeng mamah kembali ke dalam kamar. Tinggal aku berdua bersama ayah. Banyak pesan yang ia sampaikan, terutama agar aku selalu menjaga istrinya, yang adalah mamahku sendiri.
Setelah kami menyepakati beberapa hal dan aku menyanggupi beberapa ketentuan yang sebetulnya tidak sulit, ayah memanggil kembali Bi Epah dan Mang Karta suaminya. Ayah menjelaskan bahwa aku adalah pegawai baru di rumah ini, dan mereka berdua menyambutku dengan hangat.
“Yaudah Nak Iba, semoga kerasan ya kerja di sini. Bapak masuk dulu.” pamitnya.
“Terima kasih banyak, Pak.” aku mengangguk sopan.
“Bi, temani Iba untuk mengenal lingkungan rumah.” pada Bi Epah.
“Mang, itu motor matic bekasnya Nzi biar dipakai Iba aja, dia gak punya kendaraan.” pada Mang Karta.
Keduanya mengangguk, dan aku kembali berterima kasih. Sebelumnya ayah memang bertanya tentang transportasiku, dan ia bermurah hati dengan mengijinkan memakai salah satu motor yang ada di garasi. Ia menjelaskan bahwa motor itu milik Nzi tapi sekarang sudah jarang ia pakai. Aku sudah tahu tanpa perlu dijelaskan, tapi aku hanya mengangguk-angguk saja sambil berulang kali mengucapkan terima kasih.
Sekepergian ayah. Bi Epah dan Mang Karta mengajakku ke belakang melalui ruang tengah. Mereka menjelaskan ruangan-ruangan yang ada, termasuk yang ada di lantai dua. Mereka juga menunjukan kamar yang akan kutempati. Lokasinya terpisah dari rumah utama, tapi satu bangunan dengan studio yang Nzi miliki.
Aku mendengarkan semua penjelasan tanpa banyak kata. Hanya anggukan paham yang kutunjukan. Bukan apa-apa.. sebetulnya aku ingin segera menyendiri. Meratapi kesedihan karena terasing di rumah sendiri. Menangisi nasib diri karena tak bisa menyentuh orang-orang yang sangat kukasihi.
Bi Epah berinisiatif mengumpulkan para pegawai rumahku. Selain Bi Epah sebagai juru masak dan urusan dapur dan Mang Karta yang sudah lama menjadi sopir, masih ada beberapa pegawai lainnya.
Ada Bi Émut dan Ceu Ingat yang bertugas membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Pak Embun tukang kebun. Pak Uri sebagai satpam, satu lagi Kang Usman yang belum datang karena tugas malam. Hanya Bi Epah dan Mang Karta yang tinggal di sini, sisanya pulang karena sudah punya rumah masing-masing di kawasan Gunung Batu.
Aku cukup terhibur mendapat sambutan hangat mereka, yeah.. aku sudah kenal mereka, tapi kini semuanya harus kujalani dengan pura-pura.
“Kamu harus bersyukur bisa bekerja di sini, Jang Iba.” ujar Mang Karta. “Semua pegawai di sini diperlakukan seperti keluarga. Pak Sirna dan keluarganya sangat baik.”
Aku mengangguk sambil menggigit bibir. Kini aku bisa mengenal tentang keluargaku sendiri melalui versi para pegawai.
“Kalau ada keluarga atau pegawai yang ulang tahun, kami selalu diundang makan bersama.” tambah Pak Uri.
“Sayang, sekarang keluarga Pak Sirna selalu bersedih, tidak sebahagia dulu lagi.” sambung Ceu Ingat.
“Kenapa, Ceu?” aku pura-pura polos.
Mereka pun bersahutan menjelaskan, dan aku semakin sedih mendengarnya.
“Jang Iba mau langsung tidur di sini atau pulang dulu?” tanya Bi Epah.
“Saya pulang dulu, Bi, karena tidak bawa baju ganti. Saya akan datang Senin.. pagi-pagi.. biar tidak terlambat mengantar ibu.”
Aku pun menyalami mereka semua, dan langsung pamit. Kukendarai matic adikku dengan pelan. Hatiku terasa hampa. Aku bimbang, ingin segera pulang dan mengurung diri, tetapi juga tak sabar menahan rindu pada Rere dan Nzi. Akhirnya kuputuskan pulang, aku belum siap bertambah sedih karena bertemu dua gadis itu. Rinduku tak tertahan, tetapi aku juga takut kehilangan kontrol dengan memeluk mereka; atau setidak-tidaknya menangis di hadapan mereka.
Setibanya di kamar, air mataku langsung pecah. Aku menangis dengan kepala ditutup bantal. Semua yang kutahan-kutahan, kini tertumpah. Wajah ayah, mamah, dan Kak Kekey terus terbayang. Wajah-wajah muram yang telah kehilangan sebagian kebahagiaan.
“Hei anak baru yah?” tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan.
Sial! Aku lupa menutup pintu. Aku membalikan badan sambil mengusapi air mata.
Kami sama-sama kaget. Ia terperangah karena melihat seorang pemuda dewasa yang sedang bercucuran air mata. Sedangkan aku kaget karena mengenalnya.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar