Bab 27
“Hai, Kak, lagi ngapain?” aku masuk ke dalam kamar kakakku.
Ia nampak sedang sibuk di depan laptop. Map menumpuk di sebelahnya.
“Ini beresin kerjaan, kenapa dek?” ia mendongak dan menatapku.
“Hehe.. nggak.”
Kak Kekey mengernyit heran, tatapannya penuh selidik. Aku tak peduli. Kurebahkan tubuhku di atas kasurnya
“Gak baik anak cowok nongkrong di kamar cewek. Udah gede juga..!” omelnya
“Biarin! Kan di kamar kakakku sendiri.”
Ia tak menyahut. Kepalanya menggeleng. Lalu kembali fokus bekerja.
Namun itu tak lama. Kakak berdiri dan mendekat. Duduk di tepian kasur. Matanya kembali penuh selidik.
Ll“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Bener?”
“Iya, Kak.”
“Aneh aja. Tumben-tumbenan masuk kamar kakak.”
“Hehe…”
Kak Kekey menoyor-noyor jidatku. Ia tidak percaya begitu saja. Ia pun naik ke atas ranjang dan duduk bersila. Aku beringsut bersandar pada kepala ranjang.
“Aku kangen ngobrol berdua aja.” ujarnya ketika tatapan matanya masih menyelidiki.
Senyum manisnya terurai. Tangannya terulur menepuki pipiku, lalu mengusap rambut.
“Mau ke Ewer beberapa hari aja udah kayak mau pergi lama.” ledeknya.
Aku tersenyum kecut. Ya.. kakak dan Nzi tahunya aku akan ke Ewer untuk ngurusin bisnis kopi di sana. Padahal aku akan ke negeri astral bernama Anta dan entah berapa lama aku akan berada di sana.
Kak Kekey adalah Kak Kekey, di balik sikap lembutnya sebagai perempuan (dan kadang jutek dan galak), isi kepalanya tidak jauh dari bisnis. Maka ia pun banyak bertanya tentang bisnisku dan memberi banyak masukan. Tak sedikit ia juga ngomel ketika aku menyampaikan beberapa kesulitan yang belum kuselesaikan.
“Kak.. udah donk, jadi ngurusin bisnis sih. Males ah ngomongin pekerjaan di rumah.” keluhku.
“Haiissh.. kamu tuh cowok, dek, akan jadi tulang punggung keluarga.” gemasnya.
“Iya kalau itu aku juga tahu.”
“Lagian kakak juga gak mau yah.. usaha ayah yang sudah dibangun dari nol jadi berantakan gara-gara kamu gak serius.”
“Aku serius, Kaak!”
“Lah itu tadi masih banyak masalah.”
Percuma debat dengan kakak, ujung-ujungnya aku yang harus mengalah. Kudengarkan ocehannya meski tidak kusimak dengan baik.
“Kak…” setelah ia diam aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Hmmm?”
“Kakak belum punya rencana menikah?”
“Heh? Kamu udah gak sabar mau nikah ama Rere yah? Jadi mau nyuruh kakak nikah cepat?” godanya.
“Bukan gitu, Kaaak.”
“Lalu?”
“Hehehe…”
Kak Kekey tidak tahu kalau sebetulnya aku takut. Takut pergiku terlalu lama dan tidak bisa menyaksikan hari bahagianya. Atau juga.. takut kakak tidak mau menikah jika aku tak kunjung pulang.
“Dasar!” ia memencet hidungku. Ujarnya lagi, “Tanya kakakmu sana.” Yang dimaksud adalah Kak Rega kekasihnya.
Tentu saja Kak Kekey hanya bercanda menyuruhku bertanya sendiri pada pujaan hatinya. Aku dan Kak Rega sering nongkrong berdua, dan rencananya dalam beberapa bulan ke depan kelurganya akan datang melamar sekaligus menentukan tanggal pernikahan. Kak Kekey tentu saja sudah tahu itu.
Tanpa diminta, ia pun bercerita tentang rencana masa depan yang telah ia dan Kak Rega susun. Mereka rencananya akan membeli rumah sendiri.
“Ayah dan mamah setuju gak yah kalau kakak meninggalkan rumah ini?” pertanyaannya lebih mirip ditujukan pada diri sendiri. Ia khawatir orangtua kami seperti Oma Alya yang tidak mengijinkan mamah dan Tante Maya pergi dari rumah setelah menikah. Tante Maya pun baru bisa pindah ke Jakarta setelah Oma Alya dan Opa Ardan memilih menghabiskan masa tua mereka di Lembang.
“Kalau ayah sih kayaknya setuju-setuju aja. Gak tahu deh mamah.” gumamku.
“…” Kak Kekey tidak menyahut.
Kataku, “Hmm.. selagi selalu bersama ayah, mamah pasti setuju juga sih. Yang berat adalah…
“Kenzi.” kami berdua bersamaan.
Aku dan Kak Kekey pun tertawa. Kami sudah bisa membayangkan bagaimana protesnya si bungsu ketika tahu Kak Kekey memilih pindah rumah suatu saat nanti, dan aku menyusul kemudian.
Tema obrolan pun beralih tentang adik bungsu kami. Statusnya memang sudah mahasiswi yang sangat cerdas dan cukup populer di kampusnya, tetapi jika di rumah ia tak ubahnya anak kemarin sore yang sangat manja. Ia juga sudah menjadi youtuber yang konten-kontennya disukai anak muda segenerasi dengannya. Kesamaan aku dan Kak Kekey adalah.. kami sangat menyayangi Nzi dan.. kami berdua tidak pernah mau dijadikan konten videonya. Dibujuk seperti apapun, kami berdua selalu menolak.
Obrolan tentang gadis itu kami selingi dengan tawa ketika mengingat kelucuannya. Tanpa sadar sudah ada sosok yang memperhatikan kami dari ambang pintu.
Adalah aku yang pertama melihat. Mamah sedang berdiri sambil menyeruput cangkir teh hangat. Senyum bahagia mengembang melihat aku dan Kak Kekey yang sedang rukun rukun.
“Mamah bilangin Nzi.” godanya.
“Maah.” seru kami bersamaan, dan mamah tertawa.
Mamah tidak masuk kamar, tetapi langsung melenggang meninggalkan kami ketika terdengar suara ayah. Sepintas aku melihat bayangan keduanya, dan mereka saling mengecup lembut. Dadaku berdesir bahagia melihat ayah dan mamah yang selalu mesra. Kami bertiga sangat beruntung memiliki orangtua seperti mereka.
“Kalian mirip ayah dan mamah tuh.” Kak Kekey juga sepertinya sempat melihat kemesraan antara ayah dan mamah.
“Yee.. emangnya kakak dan Kak Rega nggak?”
“Kepo!”
Aku pun menggelosor dan menempatkan kepalaku di atas kedua pahanya.
“Anak cowok tapi manja!” dumelnya. Rambutku pun sukses ia acak-acak.
Aku tak menjawab. Inginku saat ini adalah bersama kakak, seolah perjumpaan berikutnya akan begitu lama. Jemari Kak Kekey yang tadi mengacak-acak rambutku kini berubah elusan dan belaian, senyumnya selalu terpulas. Jelas ada bahagia dan bangga di sana.
“Kakak sayang kamu, dek. Sayang Nzi juga. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kakak.” tulusnya.
Aku pun tersedak haru. Kuambil tangannya dan kugenggam.
“Aku juga sayang, kakak.”
“Kamu harus bisa mengalah pada Rere. Dia itu gadis manja, masa kamunya mau manja seperti ini juga.” ujarnya lembut.
“Hehe.. jadinya manja-manjaan terus donk.”
Ia menjawab dengan cubitan kecil.
“Tapi dia juga galak loh Kak, samalah kayak….”
“Kayak siapa?”
“Euuu.. hehehe…”
“Kayak siapa?”
“Hehe.. kayak.. kayak Kakak.”
“Jadi kakak galak gitu, hah?!”
Aku pun menggelinjang dan bergulingan di atas kasur. Cubitan Kak Kekey kali ini sangatlah keras dan menyakitkan. Ia mengejar, dan kami pun bergulungan di atas kasur layaknya anak kecil. Sewotnya berubah bahak tawa, pun pula aku. Aku tertawa dengan tetap berusaha menghindari tangannya yang terus menyerang.
“Ammpun.. iyah Kakak baik. Cantik lagi.. hahaha.. ampuuun, Kak.”
Aku menyerah. Badan kakak memang langsing, tetapi tenaganya sangat besar karena ia memang jago beladiri. Ayah yang mengajari.
“Jadi kakak itu baik atau galak, hah?!” ia masih belum puas mengerjaiku.
“Cantik!”
“Baik atau galak?!”
“Iyah.. baik.”
“Makasiiih!”
Ia mengibaskan rambutnya. Berlagak sombong. Aku pun menghela nafas lega karena ia tidak lagi mendudukiku.
Kak Kekey memakai jeans ketat sehingga aku masih bisa melihat gelembungan selangkangannya. Aku pun teringat sesuatu…
“Kak kenapa sih cewek itu suka mencukur bulu kemaluannya sampai gundul?” aku hampir menanyakan hal itu tapi urung. Bisa-bisa aku ketahuan kalau sudah pernah mandi bareng dengan Rere dan ia pasti akan benar-benar marah.
Aku dan Rere memang tidak bersenggama, tapi bugil bersama tetap saja bernafsu. Kami saling memuaskan meski sebatas pakai lidah dan tangan. Vagina gundul Rere pun sudah kuperawani dengan lidahku. Kuyakin, ke depannya aku bisa nyuwir karena aku sudah meminta untuk menumbuhkan mahkota hitam kemaluannya.
Kakak pasti murka kalau tahu itu. Ia dan Kak Rega memang sangat romantis, juga tidak malu saling memberi ciuman tipis pada pipi atau kening di depan kami, tapi kuyakin kakak tidak pernah mempertontonkan bagian tubuhnya yang sangat rahasia saat mereka berdua. Aku sangat kenal sifat dan keteguhan hati kakakku.
“Ayaah.. Mah.. Rei mana?” terdengar suara kekasihku. Rupanya ia sudah selesai mandi.
“Tuh di kamar kakakmu. Gak bisa yah jauh walau sebentar?” mamah menjawab sekaligus meledek.
“Ih mamah apaan sih?”
Tak lama kemudian sosoknya muncul. Wajahnya segar selepas mandi, makeup tipis membuatnya nampak cerah.
“Kaaaakkk..!! Itu Rei aku…”
Gadisku merajuk dan melompat ke atas kasur. Ia menarik tubuhku yang setengah berpelukan dengan Kak Kekey. Ia mendekapku erat sambil memunggungi Kak Kekey.
“Heeeeh.. jangan mesum di kamar kakak!”
Keseruan pun terjadi. Aku menjadi bahan tarik-tarikan dua gadis cantik. Rere memenangkanku dan keduanya tertawa.
“Hei.. kalian.. jangan sampai Nzi lihat.” teriak mamah mengingatkan. Sepertinya ia sudah menebak kalau aku dan Rere sedang berpelukan.
“Tuh denger kata mamah.” ujar Kak Kekey.
Aku dan kekasihku terkekeh tapi pelukan kami malah semakin erat. Ayah dan mamah sangat jarang menasihati hubunganku dengan Rere. Tapi tidak dengan kakak. Ia selalu cerewet supaya kami bisa saling menjaga diri. Seperti kali ini.. ia langsung nyerocos menasihati.
Kekasihku mengiyakan, tetapi wajahnya terbenam dalam dadaku, sedikit memerah karena sebetulnya kami sudah melanggar apa yang ia nasihatkan.
“Yank, kalau sudah menikah, Kak Kekey mau pindah rumah.” ujarku pada Rere.
“Iya, Kak?” kekasihku mendongak.
Kak Kekey mengangguk sambil tersenyum. Ternyata bukan Nzi yang protes mendengar rencana ini, melainkan kekasihku. Ia tidak setuju Kak Kekey meninggalkan rumah ini.
“Emang kalau kalian sudah menikah mau tetap tinggal di sini?” Kak Kekey melakukan serangan balik.
Kekasihku tak menjawab, ia menatapku bimbang. Aku hanya mengangkat bahu.
“Nah kaan.. hayo…” Kak Kekey tertawa.
“Yank?” aku balik bertanya, ingin tahu maunya Rere.
“Hmmm…? Aku ikut kamu aja.” barisan gigi putihnya ia pamerkan.
Kujembel dagunya dengan gemas. Kalau tidak ada Kak Kekey pasti langsung kulumat bibirnya.
“Aku ada ide.” Rere bersemangat.
Ia langsung duduk tegak di antara aku dan Kak Kekey. Aku dan kakak melihat heran ke arahnya.
“Sudah lihat rumah sebelah?” tanya Rere pada kami berdua.
“Memangnya kenapa?” tanyaku. Kakak hanya menggeleng.
“Iiih kalian…” Rere kesal. “Masa gak merhatiin sih?”
Aku dan Kak Kekey serempak menggeleng. Kekasihku berubah cemberut.
“Mau dijual, Kaaak. Udah sebulan kali dipasang tulisan.” jelasnya.
“Lalu?” Kak Kekey belum paham.
“Kakak iih.. ya beliii, jadi nanti rumah kakak gak jauh-jauh.”
“Hahaha.. emangnya gampang beli rumah?” Kak Kekey kembali tertawa.
Rere pun langsung menyampaikan idenya. Beli rumah itu dan disatukan dengan rumah kami. Jika perlu beli juga rumah sebelahnya lagi.
“Jadi kita tetap punya rumah masing-masing, tapi dalam satu kompleks dan satu halaman.” ujarnya.
Aku dan Kak Kekey tentu saja tertawa mendengarnya.
“Masa kita datangi rumah Pakde Celsum dan minta supaya rumahnya dijual.” di sela tawaku. Pakde Celsum adalah tetangga rumah sebelah kanan, sedangkan rumah yang mau dijual adalah yang di sebelah kiri.
“Lalu yang nempatin rumah sebesar ini siapa nanti, ayah dan mamah kan sudah berencana menghabiskan masa tua mereka di Ewer.” sambung kakak.
“Eh emang iyah ayah dan mamah mau tinggal di Ewer?” Rere terlihat kaget dan dijawab anggukanku dan kakak.
“Jangaan..” sedihnya. “Kita bikin kompleks keluarga Ewer aja di Bandung. Ayah dan mamah tetap tinggal di sini… nanti Nzi dan keluarganya juga tinggal di rumah ini. Kak Kekey dan Kak Rega di sebelah, aku dan Rei di sebelah satunya. Siapa lagi.. siapa lagi… ayah dan mamahku juga pindah ke kompleks sini deh. Kita beli beberapa rumah tetangga dan kita jadiin satu halaman.” Rere nyerocos, memilih rumah seolah mau membeli kacang.
Aku dan kakak pun auto ngakak mendengarnya. Kekasihku sangat lugu dalam hal ini, walaupun diam-diam aku tertarik dengan ide konyolnya. Rere pun akhirnya ikut tertawa sambil memeluk kakak.
“Kalian tuh.. udah deh kalian aja yang nikah duluan. Kakak gak keberatan kok.” goda kakak.
“Nggak!” aku dan Rere bersamaan.
Meski begitu aku dan Rere saling tatap, sedangkan kakak kembali tertawa. Aku sendiri merasa sedih karena tidak tahu sampai kapan tahapan ritual bisa kuselesaikan. Cintaku dan Rere adalah pasti, tapi nasib dan masa depan kami tiada kepastian.
Kakak pun ‘mengusir’ aku dan Rere dari dalam kamarnya. Ia mau melanjutkan menyelesaikan pekerjaan.
Kukecup pipi Kak Kekey, Rere mengecup yang satunya. Rambut kami berdua diacak-acak gemas sebagai balasan. Kugandeng kekasihku meninggalkan kamar.
Nampak ayah sedang di luar. Menikmati ikan koi peliharaannya sambil merokok, sedangkan mamah sedang menyemprot bongsai peninggalan Oma Alya. Di ruang makan, Bi Sumi sedang sibuk menyiapkan makan malam.
Rere menarikku menaiki tangga rumah, dan masuk kamar. Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung melingkarkan tangan pada leherku. Sorot matanya terlihat sendu.
Aku mendesah halus. Waktunya sudah segera tiba, dan aku harus meninggalkannya. Kukecup bibirnya, air matanya berlinang. Kami pun berciuman. Bibir berpagutan, air mata bercampur. Wajah kami basah.
Kegembiraan di kamar kakak berbanding terbalik dengan di kamarku. Aku dan Rere bersedih.
“Malam ini…” ia melepas ciuman dan mengusapi sisa air matanya.
“Kamu hanya boleh pergi kalau aku sudah bobo. Aku gak mau melihatmu pergi.” sedihnya.
“Gimana caranya, sayang. Memang kamu bakalan bisa bobo?”
Ia menggeleng ragu. Ujarnya, “Ya terserah kamu. Pokoknya aku gak mau melihatmu pergi! Hiks..”
Ia menangis lagi dan kudekap erat.
“Jangan nangis lagi.” bibirku bergetar.
“Iyah nggak.” jawabnya sambil mengusap air mata.
Tentu saja itu jawaban bohong. Tangis tanpa air mata itu lebih menyakitkan. Senyumnya ia paksakan terulas dan cumbuan hangat kembali kami lakukan.
“Aku sayang kamu, Re.”
“Iiih gak boleh! Kita kan harus putus saat kamu pergi ke Anta.” jawabnya.
Aku dan kekasihku sama-sama tertawa. Cukup lucu, tapi lebih banyak getir. Status hanya untuk membohongi, perasaan hati tidak pernah bisa disangkal. Itu pun kami sama-sama tidak tahu, apakah Raja Anta bisa dibohongi atau ia akan bisa membaca pikiran dan isi hati.
Usai tertawa kami kembali bercumbu, kali ini bergulingan di atas kasur. Ciuman kami cukup panas, sekedar melepas beban sedih dan takut.
Sisanya aku berbaring telentang, sedangkan Rere menempatkan kepalanya di atas puhu lenganku. Diam menjadi satu-satunya bahasa, karena kecamuk perasaan sudah tak bisa lagi diungkapkan. Ia memainkan liontin kalungnya, sedangkan aku membelai rambutnya.
Dan kemesraan diam kami berakhir ketika Nzi memanggil untuk makan malam. Ia baru pulang jalan-jalan bersama teman-temannya. Ia tahu aku akan marah jika tidak makan malam di rumah, maka ia sudah jarang mangkir lagi.
Om Sulis dan Tante Nur juga rupanya berkunjung, sekalian mengantar titipan buat oma di Ewer. Mereka semua sudah tahu, besok pagi aku akan ke Ewer. Suasana makan pun terlihat menyenangkan dan penuh canda tawa. Tapi itu hanya luaran bagi aku, Rere, Tante Nur, dan orangtuaku. Sesungguhnya kami sangat khawatir dan bahkan takut.
https://t.me/cerita_dewasaa
Lewat tengah malam semua sudah masuk kamar masing-masing, Rere tentu saja tidak mau pulang. Tante Nur pun memutuskan ikut menginap, hanya Om Sulis yang pulang.
Hanya orangtua kami yang tahu bahwa aku dan Rere tidur sekamar, itu pun sekedar untuk menghabiskan saat-saat terakhir kebersamaan.
Rere telah memintaku supaya aku pergi saat ia tidur, tetapi dalam situasi seperti ini akan sulit baginya untuk bisa memejamkan mata. Air matanya senantiasa berlinang. Candaan hanya menghiburnya sesaat, setelahnya ia menangis lagi dan lagi.
Jam dua pagi ia baru bisa terlelap. Itu pun kutahu atas bantuan ayahku yang menyirepnya. Kupasangkan selimut dan kuciumi wajahnya. Kali ini aku yang berlinang air mata.
I love you.” entah sudah berapa kali kalimat itu kubisikan.
Aku pun berjalan mundur meninggalkannya. Tidak langsung turun, tetapi menuju kamar Nzi. Pintu kamarnya tidak dikunci seperti kebiasaannya, dan ia sudah terlelap. Nampak tenang dan nyenyak.
Kuletakan sebuah flashdisk di atas meja, pesan kecil kutuliskan pada secarik kertas. Lalu kudekati dan duduk di tepi ranjang. Kubelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, dan kecupan pada kening kudaratkan. Kutatap lekat paras cantik dan imutnya. Kini.. aku sudah merindukan ceriwis dan manjanya.. di saat kami belum berpisah.
Aku keluar kamar. Ayah dan mamah rupanya sudah menunggu di bawah. Tante Nur juga ada. Mamah langsung menangis, tersedu memelukku. Gantian Tante Nur setelahnya. Kupeluk juga ayah. Di akhir semua nasihat, aku pun melenggang pergi.
Sawaka sudah menunggu, dan kami memasuki gerbang waktu. Sebuah lingkaran ajaib bersinar keemasan yang tiba-tiba ada di halaman belakang.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar