Sang pewaris part 26

 

Bab 26

Rere lulus dengan predikat summa cumlaude dan menjadi lulusan terbaik tahun ini. Ralat.. bukan hanya terbaik tahun ini, tetapi juga lulusan dengan rata-rata nilai tertinggi sepanjang masa dalam sejarah kampusnya.

Hadiah pun ia dapatkan. Bukan hanya penghargaan dari kampus, tetapi kado indah dari ayah dan mamahnya. Om Sulis dipindah tugaskan ke Bandung dan menempati posisi yang cukup strategis. Perjalanan karier militernya terus menanjak. Rere tentu saja sangat bahagia, kini ia tidak harus berjauhan lagi dengan orangtuanya.

Syukuran keluarga besar kami lakukan di rumahku sehari setelahnya. Omaku dari Ewer juga datang, dan masih tinggal di Bandung sampai sekarang. Pasca sidang, mamah sering menjadi bahan olokan ketika kami berkumpul, konon mamah adalah yang paling galak ketika sidang skripsi, dan memberi nilai paling kecil dibandingkan dua dosen lainnya. Walaupun mamah tetap memberi nilai A

Mamah sudah menyampaikan alasan yang masuk akal, dan sebetulnya kami -termasuk Rere- tidak pernah mempermasalahkannya, tetapi tetap saja selalu menjadi bahan keseruan ketika sedang berkumpul bersama.

Sehari setelah pesta syukur, aku sempat disidang ayah dan mamah perihal ritualku yang tanpa kejelasan. Beruntung ada Tante Nur yang membelaku. Kini aku sudah tidak punya alasan untuk berkelit, waktunya tinggal tiga minggu lagi.

Sisa waktu kupakai untuk membereskan semua pekerjaan. Bunda Rahma banyak membantu, Kang Garpit akan dimutasi mengganti posisiku untuk sementara. Pengalaman membuktikan, waktu kami di dunia dengan di Anta sangat berbeda, dan tak seorang pun yang tahu akan berapa lama aku berada di sana.

Urusan kami dengan Tante Wulan juga sudah selesai, dan kontrak kerjasama sudah ditanda-tangani. Tiga hari lagi ia akan launching cafe barunya. Aku dan wanita itu juga sudah cukup dekat dan lebih mudah bertemu, tapi aku sudah mengurungkan diri untuk memesuminya. Aku harus minta maaf kepada Enzo, dan ia paham situasiku. Kini ia lebih fokus mengurus keluarganya, kehamilan Arischa sudah semakin besar.

Tentang masa depan Rere sendiri? Om Sulis maunya Rere melanjutkan kuliah sampai jenjang S2, tapi Rere sendiri keberatan. Ia lebih memikirkan masa depannya denganku daripada memikirkan karier. Ia seperti sudah sangat yakin untuk kunikahi. Ini menyakitkan hatiku. Sakit karena harus melukai hatinya di kemudian hari.

Kak Kekey sangat bernafsu supaya Rere bekerja di perusahaan keluarga, tapi kali ini ayah yang keberatan. Alasannya, biar Rere punya pengalaman baru, dan merasa bebas bekerja tanpa dibayangi keluarga. Rere sendiri sebetulnya lebih memilih bekerja di RSP agar tidak jauh dariku, kali ini aku yang menolak. Awalnya ia kecewa, tapi bisa memahami alasanku: “Kalau kita sudah menikah, kita akan selalu bersama di rumah, masa akan bersama-sama juga di tempat kerja? Ini tidak baik untuk kehidupan rumah tangga kita, mungkin kita akan kehilangan rasa rindu, dan akhirnya perjalanan kita bisa hambar.

Maka perusahaan yang beruntung adalah FAF. Rere akan bekerja di sana bersama Inka dan keluarga besar Sawer. Tidak tanggung-tanggung, posisi asisten manager sudah disediakan. Namun aku meminta Rere untuk tidak buru-buru, aku ingin agar ia menikmati masa ‘kebebasan’ selama satu atau dua bulan.

Dan malam ini, dua minggu sebelum aku berangkat ke Anta…

Aku adalah seorang pengecut yang tidak bisa menyelesaikan masalah ritual dan cintaku seorang diri. Ayah dan keluargaku turun tangan. Kami berkumpul di rumah lama, rumah bersejarah bagi seorang Senja bersama Sae kekasihnya. Sebuah pertemuan rahasia. Tante Maya dan Rana didatangkan dari Jakarta, Tante Nur bersama Rere. Aku, ayah, dan mamah. Opa Ardan turut serta. Kami berdelapan.

Sejarah panjang Opa Ardan kisahkan, dilengkapi dengan keterangan dari ayah. Kenangan akan legenda dihadirkan. Kami adalah generasi yang dibentuk kisah sejarah masa lalu, sejak jauh-jauh sebelum adanya Senja dan Sae. Rere dan Rana nampak terkagum, cerita yang sering menjadi bahan cerita keluarga besar kini semakin gamblang; bukan dongeng yang mengada-ada. Bersambung tentang riwayat ayahku, dan berujung padaku sendiri.




Rere dan Rana sangatlah terkejut, terutama Rere, ia tidak menyangka jika aku akan menjadi pewaris terakhir. Aku tak ingin menuliskan sakitnya drama yang terjadi di hadapanku, terlalu menyakitkan melihat shock-nya Rere. Mendengar isak pilunya; menyaksikan kobaran kecewa dan cemburunya; juga ketakutannya.




Dan kini.. setelah proses panjang penuh kesedihan…




Rere terbenam dalam pelukanku, air matanya sudah tidak ada, namun isak diamnya sangat terasa di dada. Si tomboy Rana yang biasanya pecicilan dan cenderung cueks, kini terbenam dalam pelukan mamah. Matanya bengkak dan sembab. Tante Maya menghibur sambil mengusapi punggung gadis itu.




Kini semuanya sudah gamblang. Harus ada ritual yang kulakukan, dan…. kalau bukan Rere, ya Rana. Tentu saja kami menutupi kalau Tante Nur dan Tante Maya adalah para wanita ritual ayah.




Bagi Rere semuanya terasa lebih pahit, pilihan apapun sangat melukai hatinya. Jika ia menjadi wanita ritualku, maka mimpi-mimpi masa depan yang telah kami bangun akan pupus. Sebaliknya, jika Rana yang menjadi wanita ritual, kami masih bisa menikah, tapi ia harus merelakanku meniduri gadis lain selain dirinya. Aku tidak membayangkan bagaimana sakit hatinya jika ia tahu aku sudah berhubungan dengan Bunda Rahma, pasti ia akan membenciku seumur hidupnya. Bukan hanya dia.. tapi juga keluargaku dan para tanteku.




Rere sempat marah, dan tidak mau kusentuh. Sebelumnya, ia menangis histeris. Sekarang ia paham.. kenapa aku menghilang sehari selepas jadian. Itu semakin membuatnya marah karena merasa telah dibohongi. Ia juga menganggapku pengecut karena melibatkan orang-orang yang kini hadir untuk menyampaikan kebenaran, daripada menyampaikannya seorang diri.




Apapun itu, ia adalah gadis yang hebat, memiliki cinta yang tak bisa diganggu gugat. Marahnya kalah oleh rasa sayang. Setelah mendapat penjelasan dariku dan dari para orangtua, Rere menangis dalam pelukanku, sampai saat ini.




Rere dan Rana masih bisa membantah nasihat dan wejangan ibu mereka dan juga orangtuaku, tapi tidak pada Opa Ardan. Kami sangat menghormatinya, sangat mengaguminya, sangat mencintainya. Ia adalah saksi hidup atas Senja dan Sae, ia adalah opa kami semua.




Kami baru bubar menjelang tengah malam, setelah Rere menganggukan kepala dan mengiyakan, meskipun ikhlasnya hati tak semudah anggukan kepala. Itu pun dengan syarat, aku dan dia harus pulang ke apartemen tanpa ada yang menemani. Orangtua kami tentu saja tidak langsung setuju, takut kami tidak bisa mengontrol diri dan saling bercinta. Namun setelah Rere menyampaikan janji yang kuamini, mereka setuju. Mereka pulang ke rumahku, sedangkan aku dan Rere menuju apartemen.




Om Sulis dan Tante Nur sudah menempati rumah dinas, Rere juga ikut pindah ke sana. Tetapi apartemen tetap dipertahankan tanpa dijual. Sekali-kali Rere menempatinya ketika sedang ingin menyepi. Dan kini kami menuju ke sana.




Sepanjang perjalanan ia hanya diam, tidak mau bicara, kusentuh pun ia menolak. Sikap relanya di depan keluarga, kini berbanding terbalik. Murung, sedih, dan bahkan galak.




Aku mengalah dan berdiam diri. Sampai kami tiba di apartemen.




Plak!!




Belum juga pintu tertutup rapat, Rere menamparku. Sangat keras. Matanya merah, dan cairan bening kembali berlinang.




“Re..” aku berusaha menangkap tangannya untuk kutarik dan kupeluk, tapi ia memberontak.


“Jadi kamu sayang aku atau tidaak?” teriaknya.


“Sayang, Re, sayang.. Sangat sayang.” sambil mengusapi bekas tamparannya.




Kuikuti langkah Rere menuju sofa, kami duduk berhadapan. Aku menunduk, tak sanggup menatap kesedihan dan luka hatinya, yang ia sembunyikan dalam wujud kemarahan.




“Kalau memang sayang kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, kenapa harus melibatkan mereka. Pengecut!!!” emosi Rere kian meluap-luap.


“Kkarena aku sangat sayang kamu, Re. Aku tidak sanggup melihatmu terluka.” jawabku pelan.


“Sekarang kamu bisa lihat buktinya, kan?! Aku sangat terluka!! Aku kecewa!!!” volume suaranya sudah tak bisa ia kontrol.


“Kenapa aku tahunya harus sekarang? Hah?!! Kenapa tidak dari dulu-dulu sebelum aku telanjur mencintaimu seperti sekarang ini?!”


“Maaf!”


“Maaf katamu? Segampang itu?!”


“…”




Rere terus meluapkan amarah dan kekecewaannya, ungkapan yang rupanya sudah sejak tadi ia tahan-tahan, yang tak bisa diekspresikan di depan Opa dan orangtua kami. Aku hanya bisa diam. Aku mengaku salah.




Puas mengungkapkan unek-uneknya, Rere berjingkat ke dalam kamar tanpa berhasil kukejar. Wajahku hampir dihajar bantingan pintu, hanya tinggal beberapa senti. Ketukanku dibalas bunyi anak kunci, Rere sudah tidak mau melihatku lagi. Kudengar ia menangis keras, lalu hilang. Kuyakin diredam bantal.




Aku hanya berdiri mematung. Sedihku tak bisa kugambarkan. Kehilangan kekasih memang menyakitkan, tetapi lebih sakit lagi ketika melihat pujaan hati menderita terluka. Aku masih berusaha mengetuk sambil memanggil namanya, tapi tak ada jawaban.




Aku beranjak ketika smartphoneku bergetar, mamah menelpon untuk memastikan keadaan. Aku menghela nafas, dan kujelaskan dengan suara sewajar mungkin. Kukatakan bahwa kami baik-baik saja, dan Rere tidak bisa bicara karena sedang mandi. Suara mamah sendiri sangat khawatir, dan baru mau menutup telpon setelah aku meyakinkan berulang-ulang.




Tak lama kemudian Tante Nur yang menelpon. Ia khawatir karena Rere tidak mengangkat telpon. Jawabanku sama: Rere sedang mandi dan kami baik-baik saja.




Kulemparkan tubuhku di atas sofa, kulempar pula smartphone di sampingku. Aku sangat kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Sial.. panggilan masuk terdengar lagi. Aku meraihnya dengan enggan. Rana.




Suaranya terdengar, dan malah pecicilan. Ia sangat antusias karena akan bisa merasakan penisku, meski itu hanya dalam ritual. Kini aku yang marah, dan ia menjadi korban kekalutanku. Seumur-umur aku tidak pernah semarah ini, dan korbannya malah sepupuku sendiri yang sejak kecil sangatlah dekat. Tak ada kesempatan untuk menyesal, Rana menangis dan menutup telpon tanpa bisa kuhubungi lagi. Smartphone-nya di non aktifkan.




“Arrrrh…” aku mengerang sambil mengacak-acak rambut.




Kutelpon Rere, tidak aktif.




“Yank..” aku kembali mengetuk pintu kamarnya. Kulakukan berulang-ulang, tak ada sahutan. Kuputar gagang pintu. Bodoh.. memang sejak tadi sudah terkunci.




Akhirnya aku memutuskan keluar, menuju balkon. Kuhisap berbatang-batang rokok tanpa bisa kunikmati.




Sampai subuh aku hanya berjaga. Berharap kekasihku keluar kamar, namun penantianku selalu sia-sia. Berdiri berlama-lama di depan pintu kamar Rere, menyeduh kopi, keluar merokok, rebahan di atas sofa… Itulah yang kulakukan berulang-ulang. Ketika adzan subuh berkumandang, aku baru bisa terpejam.




Namun sepertinya tidak lama. Jam enam aku kembali terjaga, terbangunkan aroma nasi goreng dan teh celup. Aku langsung bangkit duduk, celingukan. Tubuhku sudah terbungkus selimut.




Kekasihku tidak terlihat, namun pintu kamarnya terbuka. Setengah meloncat.. berlari ke dalam kamar. Kosong.. selimut masih berantakan. Terburu menuju kamar mandi.




“Yank…”




Langsung kupeluk tubuhnya. Ia baru saja sikat gigi dan sedang cuci muka. Kupeluk erat dari belakang.




“Apaan sih?” judesnya.




Aku tidak peduli, kuciumi pundaknya. Ia tidak menolak, tapi juga tetap melanjutkan kegiatannya. Ekspresinya datar meski tidak segalak semalam. Tanpa ekspresi ia meraih handuk dan mengeringkan wajahnya, aku tetap memeluk semakin erat.




“Sikat gigi dulu, bau rokok.” ketusnya.




Ia mengurai tanganku yang membelit pinggangnya. Setengah memaksa. Ia pun melenggang keluar kamar mandi, masih tanpa ekspresi.




“Buruan!!!” ia berbalik, nada suaranya meninggi.


“Eh iyah…” aku gelagapan.




Dari bayangan cermin nampak Rere langsung membereskan tempat tidur. Segera aku gosok gigi. Sikat gigi baru rupanya sudah ia siapkan untukku. Kubasuh pula mukaku. Semuanya kulakukan serba cepat.




Aku kembali keluar kamar mandi, Rere sudah tidak ada. Kulihat ia sedang duduk di atas sofa sambil memainkan smartphonenya. Aku mendekat.




Kekasihku masih mengenakan pakaian yang semalam, sangat jelas ia tidak berganti pakaian, dan bahkan mungkin juga tidak tidur. Kelopak matanya nampak bengkak, menggelayut kehitaman. Yang membuatku berdesir adalah cara duduknya. Kedua kakinya ditekuk di atas sofa. Bagian atas memang terlindung roknya yang bermodel lebar, tetapi bawah paha tak terlindungi. Celana dalam hitam terlihat, menggelembung membungkus kemaluannya.




“Yank..” aku duduk di sebelahnya.




Ia hanya melirik sebentar, lalu kembali fokus pada layar. Jarinya lincah mengetik.




“Makan…!!” ketusnya saat sadar aku menatapnya.




Aku serba salah, dan belum paham maunya Rere. Apakah masih marah? Entahlah.




“Kok bikinin teh sih, yank?” ujarku.


“Semalaman kamu banyak ngopi.” ujarnya, masih tanpa ekspresi. Rupanya ia tahu dari tumpukan cangkir di tempat cuci.




Aku menghela nafas. Aku tidak suka teh, tapi kuambil gelas dan kuseruput.




“Makan nasi gorengnya.” ujarnya lagi tanpa menengok.


“Iiyah, terima kasih.”




Kuambil piring, kusuap, dan kukunyah pelan.




Degh.




Aku terdiam sesaat, dari sudut mataku nampak Rere mencuri pandang memperhatikan. Nasi goreng ini… sangat lezat, rasanya sama seperti masakan mamah.




Sejenak aku melupakan sikap Rere yang masih misterius. Aku makan dengan lahap. Abai pada ekspresi gadis di sampingku.




“Aku masaknya cuma sepiring loh.”




Degh.




Aku terdiam memandangnya. Ada seulas senyum yang tak mampu ia tahan. Untung baru kuhabiskan setengah. Kusendok nasi lalu kusodorkan di depan mulutnya. Keningnya mengkerut, bibirnya semakin bergerak menahan senyum. Semakin kudekatkan sendok… ia diam.. mulutnya akhirnya terbuka.. kusuapi…




Akhirnya aku menyuapi Rere walau tampangnya masih jutek. Tetapi aku juga tidak mau rugi, kusendok nasi dan kumakan sendiri. Benteng pertahanan Rere runtuh, ia mengunyah sambil menutup mulut. Sebetulnya untuk menyembunyikan tawa. Ia nampak senang karena telah berhasil memasak nasih goreng selezat masakan mamah.




“Kamu tega, semalaman aku memikirkanmu, dan baru tertidur subuh.” ujarku sambil memainkan sendok di atas piring.


“Siapa suruh mikirin aku?” ketusnya sambil mengunyah.




Tingkahnya membuatku sangat gemas. Kuungkapkan dengan melumat bibirnya. Ia gelagapan karena sedang mengunyah, tangannya tak mampu mendorong berat tubuhku. Ia membuka mulut pasrah, sebagian nasi pun berpindah ke dalam mulutku dan langsung kutelan tanpa kukunyah.




“Mmmh… jorok.” akhirnya ia bisa mendorong wajahku, cumbuanku terlepas.


“Biarin.. dari mulut istri sendiri ini.” ujarku, sambil mengusap ujung bibirku yang basah.


“Apa? Kamu bilang apa?”




Belum juga aku menjawab, Rere menubrukku hingga aku terjengkang di atas sofa, piring yang kupegang lepas dan pecah di atas lantai. Kali ini Rere yang melumatku, ciumannya hangat, lumatannya panas.




Cumbuan yang penuh aroma nasi goreng. Namun bukan itu yang kunikmati, melainkan luapan kasih sayangnya. Kebekuannya telah lumer, ganjalan hatinya ia tumpahkan dalam ciuman penuh gairah.




Lama dan lama.. akhirnya lepas. Rere menindihku dengan nafas terengah. Kening kami beradu, dan tatapan kami begitu dekat. Sinar matanya telah kembali, tidak ada lagi sedih dan marah di sana.




“Kamu ngeselin..” ujarnya.




Aku tak menjawab. Kulumat kembali bibirnya, ia membalas. Permukaan lidah kami saling beradu menyapu, diakhiri lumatan pada bibirnya yang nampak pucat namun seksi.




Sisanya kami berbaring berpelukan, ia senantiasa menggelendot enggan melepaskan.




“Maafkan aku, sayang.” ia mengusapi pipiku, bekas tamparannya semalam.


“Aku yang minta maaf.”




Kami berbaring miring berhadapan. Saling menatap dan membelai.




“Aku tidak mau menjadi gadis ritualmu, Rei. Aku mau menjadi istrimu.” bibirnya manyun.




Aku paham. Kemarahannya semalam lebih sebagai ungkapan takut kehilangan daripada sekedar kecewa atau cemburu.




“Aku akan melakukan apapun untuk memperjuangkan itu di Anta nanti.” ucapku sungguh-sungguh.


“Janji?”


“Janji.”




Rere memelukku. Sangat erat.




“Makasih, sayang.” kuungkapkan syukur tulusku. Aku tidak lagi takut kehilangannya. Kalaupun kami harus berpisah dan putus, itu hanya status, agar Raja Anta percaya. Selebihnya hati kami akan selalu terikat selamanya.




Tak puasnya kami saling bermesra, kali ini Rere sambil memainkan smartphone-nya. Pun pula aku. Banyak pesan masuk dari mamah, ia begitu khawatir. Sebagai bukti, kami selfie berpelukan. Rere malah sambil mencium pipiku. Kukirim dan kuletakan kembali smartphone di atas meja. Inginku saat ini hanyalah memeluk kekasihku.




Mamahku adalah ibu dan wanita yang hebat. Feeling seorang ibu tidak bisa dibohongi, ia pun menelpon melalui smartphone Rere.




“Hallo, Mah.” jawab Rere.


"Hallo, sayang, kalian baik baik saja kan? Nggak bohongin mamah kan?" suara itu terdengar karena Rere memasang mode loud speaker.


“Baik, Mah. Mamah gak percayaan banget.” kekasihku merajuk.


“Abisnya mamah liat matamu bengkak, sayang. Kamu gak tidur yah?”


“Euuu.. hehee…” kekasihku terkekeh.




Itu sudah cukup menjadi jawaban. Mamah tahu Rere tidak tidur, aku pun jadi tahu.




“Kamu!! Rei juga gak tidur?”


“Dia mah kebo, Mah. Malah tidur di sofa.”


“Enak ajah.” sahutku.




Mamah terdengar ngomel, aku tak peduli. Tanganku menelusup melalui bagian bawah bajunya, kuusapi kulit perutnya yang halus. Kekasihku hanya mendelik tapi tidak menolak.




“Kami baik kok.. tapi mamah gak boleh minta Rei pulang hehee.”


"Dasar kamu! Yaudah kalau kalian tidak marahan. Jaga diri, awas kalau kalian..." mamah tak melanjutkan ucapannya.


“Kalau apa, Mah?” aku menyahut.


“Ya tahu sendirilah, kalian sudah pada gede.”mamah pura-pura ketus.


“Mah…” Rere berkata tapi segera kupotong.


“Kami sudah melakukannya tadi malam.”


“Apaaaaa?!!!”




Rere mencubitku, dan kami tertawa berdua. Kudengar mamah menggerutu, ia tahu sedang kukerjai.




Setelah lima menit saling berbicara, percakapan pun kami akhiri. Rere langsung mengecup bibirku sesaat lalu terdiam meresapi elusan tanganku pada kulit perutnya.




“Yank.. mandi yuk. Abis itu temani aku ketemu Rana. Kan nanti sore mereka kembali ke Jakarta.” ujarnya.


“Kamu duluan, sayang.” jawabku. Aku senang Rere mengajak ketemuan dengan gadis itu. Aku harus meminta maaf karena kemarahan dan kata-kata kasarku di telpon semalam.


“Ayooo.. bareng.”


“Hah? Seriusan?” aku kaget sekaligus senang.


“Iyah. Tapi tuh beresin dulu lantainya.” ia menunjuk piring dan nasi goreng yang berserakan.




Rere masuk kamar, sedangkan aku bersemangat membersihkan lantai. Dibuang sayang… kucomot sisa nasi dan kumasukan ke dalam mulut. Untung Rere tidak melihat, ia pasti akan ngomel dan menganggapku jorok.




Degh.




Jantungku rasanya mau copot. Begitu masuk kamar, Rere sudah menunggu dengan tubuh hanya berlilit handuk. Tangannya terentang, tepian handuk pun terangkat. Pahanya terpajang, nyaris terlihat sampai selangkangan.




“Gendong.” manjanya.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar