Sang pewaris part 25

 

BAB 25








Tante Nur memelukku sambil menangis, aku membalas sambil mengusapi pipiku yang terasa panas. Tante sekaligus calon mertuaku sangat marah, sekaligus merasa bersalah karena telah menamparku cukup keras.




Rupanya sengaja ia belanja seorang diri dan memintaku menjemputnya. Ada yang ingin ia tanyakan, dan itu menyangkut ritualku. Ia curiga -sebetulnya orangtuaku juga- karena aku masih bersikap santai dan tidak nampak melakukan persiapan.




Tamparan keras ini kudapatkan ketika aku jujur telah menundanya, dan dengan sendirinya tiga rintangan yang sudah kulalui gugur dengan sendirinya. Aku harus memulai dari awal.




Tante Nur tentu saja marah karena dua alasan. Pertama, tradisi leluhur harus diteruskan dan tidak bisa dijadikan mainan. Kedua, karena ini menyangkut anak dan keponakannya yaitu Rere dan Rana. Keselamatan nyawa kedua gadis itu berada di tanganku. Masa depan hidup mereka sangat bergantung dari keberhasilan misiku.




“Aku sayang Rere, Mah. Aku tidak mau meninggalkan dia di hari sidang skripsinya.” aku mengungkapkan alasanku, dan Mamah Nur semakin menangis.




Kuyakin ia paham akan pergulatan hatiku, tetapi juga apa yang kulakukan adalah salah.




“Haish.. kamu dan ayahmu sama saja. Sama-sama bodoh kalau urusan cinta.” Mamah Nur melepaskan pelukannya dan mengacak-acak rambutku, sedangkan air matanya sendiri ia biarkan mengalir.


“Maaf.” entah sudah berapa kali aku mengungkapkan penyesalanku.


“Mamah juga minta maaf karena menampar kamu, mamah sayang kamu dan tidak benar-benar bermaksud begitu.” ujarnya kali ini sambil mengusap pipiku dengan penuh penyesalan.


“Hati-hati perbuatanmu dengan Bu Rahma ketahuan, Rei. Memang ayah dan ibumu sudah tidak bisa berkomunikasi lagi dengan aku dan Mantili. Raja Anta hanya membolehkanku menemuimu. Tapi Mantili… ia tidak boleh lagi menemuimu sampai ritualmu selesai, tapi ia bisa menampakan diri kepada salah satu wanita ritual ayahmu. Aku tidak bisa bilang dengan siapa ia bisa berkomunikasi, tetapi waspadalah!”




Degh!!! Wajahku rasanya langsung pucat mendengar bisikan Sawaka, tetapi aku tidak bisa melihat wujudnya.




“Istriku tidak tahu kalau aku membantumu untuk menunda ritual, aku tidak mau mengatakannya karena istriku sangat setia kepada raja. Dan sekarang… Raja Anta sangat marah dan meminta aku dan istriku mencari penyebabnya.”




Rasanya wajahku semakin pucat, dan keringat dingin mulai membasahi punggungku. Aku hanya bisa berharap bahwa wanita ritual yang dimaksud bukanlah Tante Nur.




“Kamu kecewa ke mamah, ya Rei? Sekali lagi mamah minta maaf.” Tante Nur menerjemahkan pucatku karena aku masih marah kepadanya.


“Eh.. ngg.. ngak, Mah. Aku tidak marah kok. Aku hanya menyesal karena sudah membuat mamah kecewa.” ujarku.


“Mamah memang kecewa. Hiks.. tapi mana mungkin mamah marah ke kamu. Apalagi kamu melakukan ini semua karena Rere.”




Tante Nur menciumi wajahku sambil bersimbah air mata. Ekspresi sayang, bangga, sedih, dan putus asa sangat jelas tergambar, bercampur menjadi satu.




Setelah kami sama-sama tenang karena gado-gado gejolak emosi, Tante Nur pun membeberkan rahasia yang disusun ayah dan para wanita ritual. Mereka diam-diam akan berkumpul di Ewer secara spiritual, dan mengawal perjalananku selama aku berada di Anta. Tujuannya adalah menyatukan energi dan siap menyusulku jika aku berada dalam bahaya.




Tante Nur mengungkapkan bahwa setiap wanita ritual memiliki kemampuan dan kesaktian yang berbeda-beda. Yang jika disatukan, kesaktian mereka setara dengan Sawaka dan Mantili, meskipun tetap tidak bisa mengalahkan Raja Anta.




Wanita pertama dijuluki Pancuran Ciwidey karena memiliki kemampuan squirt beracun.




Wanita kedua dikenal sebagai Nyi Anyir Geni karena selalu memiliki air susu yang berbau anyir jika dikeluarkan dan cukup mematikan.




Wanita ketiga adalah Mayasukma Geni yang memiliki kemampuan menghilangkan diri.




Dan wanita keempat adalah Nyi Liur Kencur karena kemampuannya membuat ramuan beracun dari air liurnya.




Tante Nur mengatakan bahwa wanita keempat adalah dirinya sendiri, tapi ia tidak mau mengatakan tiga wanita lainnya. Aku menduga bahwa yang ketiga adalah Tante Maya, tetapi yang dua pertama aku tidak bisa menebak.




Tante Nur juga menyampaikan bahwa mamahku adalah wanita terpilih yang memiliki kekuatan lebih jika dibandingkan keempat wanita lainnya karena ia adalah istri dari ‘Suwir Jagad’.




Aku menghela nafas mendengar penuturan panjang lebar Tante Nur. Seperti tidak masuk akal di dunia modern seperti ini, tapi begitulah.. memang nyata adanya.




“Apa yang membuat kamu bisa menunda perjalananmu ke Anta, Rei?”




Pertanyaan Tante Nur membuatku gugup. Jelas aku tidak bisa mengatakannya. Tentu saja Tante Nur tidak tahu bahwa di belakang mereka, ayah mengusulkan rencana supaya aku menunda pergi ke Anta dengan meniduri Rere, itu pun dengan catatan Rere gundul.




Dan aku punya jalan sendiri… aku telah meniduri Bunda Rahma dan melepas keperjakaanku di dalam vagina gundulnya. Itu yang membuat ritualku tertunda, dan aku harus memulai kembali semua tahapnya dari nol. Bukan Rere yang kutiduri, melainkan Bunda Rahma. Kampretnya… padahal targetku sebetulnya adalah Tante Wulan.




“Atas bantuan Sawaka, Mah.” aku berbohong.


“Jadi kapan kamu akan berangkat?” tanyanya lagi.


“Purnama berikutnya.”




Tante Nur menghela nafas lega, dan tidak terlihat khawatir lagi. Pertualangan spiritualku ke Anta hanya tertunda satu bulan. Ia pun berpesan supaya aku tidak lagi gegabah mengambil keputusan, apapun harus dikomunikasikan. Kesalahan harus diminimalkan.




“Yaudah.. mamah naik dulu yah.” ujarnya.


“Aku antar.”




Kami memang masih berada di dalam mobil, di basement apartemen Rere.




Aku dan Tante Nur keluar dari mobil, dan aku membantunya membawa tas belanjaan. Suasana cukup sepi sehingga hanya kami berdua yang menaiki lift.




“Aaah.. mamah sudah kehilangan banyak moment berharga bersamamu, bersama Kekey dan Nzi juga. Sekarang kalian sudah sama-sama dewasa.” ujarnya sambil menatap wajahku.




Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya. Tetapi biar bagaimana pun, perantauan keluarga Tante Nur membuat perjumpaanku dengan Rere terasa lebih indah.




Tante Nur pun mengusapi pipiku sambil sedikit menjinjit untuk mencium pipiku. Aku ingin menggodanya dengan menghindar, tetapi salah arah. Bibir kami beradu tipis. Sebetulnya hal seperti ini biasa terjadi, pernah juga terjadi dengan Tante Maya dan Tante Nji, kali ini dengan Tante Nur. Dan tidak pernah menjadi masalah, hanya kecelakaan kecil yang tidak dianggap sebagai tindakan kurang ajar. Tapi kali ini…




Aku dan Tante Nur sama-sama tersentak kaget. Tubuh kami sama-sama kaku, tetapi bibir kami bagai bermagnet dan terus menempel, meski tipis. Sangat lembut kurasakan. Beberapa detik kami bertatapan dekat, sama-sama terbelalak.




“Maaf, Mah.” aku sadar duluan.




Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Tante Nur seperti orang linglung, beberapa kali mengerjapkan mata, lalu mengusap bibir.




Ia malah memelukku kemudian, tanpa kata. Namun terasa begitu erat, seolah mencurahkan kerinduan setelah sekian lama tak berjumpa. Bukan pelukan seorang calon mertua, bukan sebagai tante, melainkan layaknya pada kekasih. Aku terdiam kaku, membalas pun tidak, tanganku seperti tanpa tenaga.




Adalah bunyi lift yang membuat Tante Nur sadar dan melepas pelukan. Pintu pun terbuka. Ia keluar duluan seperti tidak pernah terjadi apa-apa, sikap dan tutur katanya juga tidak berubah. Aku beda, kejadian singkat itu masih membekas. Tante Nur terlihat penuh aura, mendesirkan gairah yang tidak seharusnya.




Setibanya di depan pintu apartemen, kuberikan tas belanjaan kepada Tante Nur.




“Loh.. kamu gak masuk dulu, Rei?” herannya. Sikapnya sangat biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


“Nggak, Mah, kan Rere memintaku tidak menemuinya.” jawabku.


“Baiklah kalau begitu.” jawabnya sambil memberikan ciuman perpisahan pada pipi.




Ia pun menempelkan kunci pada pintu, sekali lagi aku pamit dan melenggang pergi.




“Sayang..!!!” aku sudah hampir di ujung lorong ketika teriakan yang sudah sangat kukenal terdengar.




Aku berhenti dan membalikan badan. Kekasihku sedang berdiri di depan pintu, Tante Nur juga ada di sana sambil menggelengkan kepala dan tertawa.




Tubuh itu berlari ke arahku.. langkahnya cepat dan tangannya terentang. Kusambut.. dan ia setengah meloncat memelukku.




“Jahaaat.. kok gak mau masuk dulu? Gak kangen aku yah?!!” rengeknya.


“Bukan gitu, sayang, kan katanya kita gak boleh ketemu dulu.”




Kuurai dekapan dan kutatap wajahnya mesra. Ia membalas sambil cemberut.




“Jahat..” matanya malah berkaca-kaca.




Kuusap lalu kukecup keningnya. Rere menengok ke arah mamahnya, namun Tante Nur sudah tidak terlihat. Ia pun mengecup bibirku dan kubalas hangat.




“Gak boleh pulang.” ujarnya.


“Yakin?”


“Iyah.”




Ia pun langsung nemplok di atas punggungku, minta di gendong menuju apartemen.




“Manja.” godaku.


“Biarin.” sambil mengecup pipiku.




Rere nampak begitu riang dalam gendonganku. Betul apa yang ia katakan, ia tidak akan bisa belajar kalau ada aku, karena inginnya hanyalah dimanja. Dan sekarang terbukti.. hampir dipastikan, aku tidak akan boleh pulang.




“Ya ampun Ayaaaa.. kalian tuh kayak anak kemarin sore saja.” Tante Nur langsung menyambut kami gemas. Kekasihku hanya tertawa dan turun dari punggungku, kini berganti kedua tangannya membelit pinggangku.


“Lagian mamah kenapa bilang kalau aku ke sini?” tanyaku.


“Yee.. siapa yang bilang? Pacarmu aja yang tiba-tiba melongok keluar.” kilahnya.


“Kan aku bisa merasakan kehadiran kamu.” Rere tersenyum manja.




Kupencet hidungnya dengan gemas, Tante Nur menggeleng melihat tingkah kami. Senyumnya tergambar, senyum bahagia seorang ibu ketika melihat anak tersayang sedang gandrung oleh rasa cinta.




“Ayah, belum pulang?” tanyaku.




Sebelumnya Tante Nur cerita bahwa Om Sulis sedang pergi untuk menemui teman-teman sejawatnya di Mabes.




“Hmm.. katanya sih baru pulang malam.” jawab kekasihku.


“Huuh dasar ayahmu, mamah telpon deh biar cepet pulang.”


“Cieee ada yang kangen tuh.” goda Rere.


“Memangnya cuma kalian aja yang bisa kangen-kangenan?” Tante Nur mengerling genit, meski kutahu hanya dibuat-buat.




Kami pun tertawa. Tante Nur menelpon Om Sulis sambil membawa kantong belanjaan ke dalam kamar, sedangkan aku dan Rere duduk di atas sofa yang mejanya penuh dengan tumpukan kertas.




“Sudah siap untuk besok?” tanyaku sambil mengambil bahan sidangnya yang sudah dijilid.


“Iiih…” ia merebut dan mengembalikan ke tempatnya semula.


“Orang kangen juga…” ia tidak mau membahas.




Kujembel kedua pipinya hingga meringis. Sambil cemberut ia menyilangkan kakinya di atas pangkuanku, sekilas celana dalamnya terlihat karena roknya tersingkap.




Tanpa komando, aku dan Rere saling mencumbu penuh sayang dan rindu.




“Aya, mamah gak masak ya. Ayah akan pulang dan beliin makan malam.” terdengar teriakan Tante Nur dari dalam kamar.


“Iya, Mah.”


“Yaudah.. Rei juga jangan pulang dulu, kita makan malam bareng. Mamah mau mandi.”


“Iya, Mah.” kali ini kami menyahut bersamaan.




Aku dan Rere kembali saling mengecup, kali ini tanpa cumbuan.




“Yank…” ia memamerkan kalung pemberianku.


“Kamu selalu nemenin aku…” maksudnya dengan diwakili kalung itu. “Tapi akunya malah makin kangen, gak mau jauh.”




Rasa bahagia, haru, dan sedih langsung bergejolak di dalam dadaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan hatinya saat aku meninggalkannya nanti.




“Kamu suka bandulnya, sayang?” aku mencoba menyembunyikan perasaanku dengan membahas kalung.




Rere mengangguk dengan pandangan mata berbinar. Ia kembali menggelayut dalam pelukanku, cumbuan panjang kami lakukan. Sisanya, ia tiduran di atas pangkuanku sambil belajar. Ia nampak begitu nyaman dan tidak risih dengan penampilan. Berulang kali aku menurunkan ujung roknya, dan ia hanya tersenyum. Ia sudah tidak malu mempertontonkan keseksian, seolah dia sudah menjadi milikku seutuhnya.




“Yank..”


“Hmmm..?” gumamnya sambil tetap fokus membaca ulang skripsinya.


“Kamu.. kamu…” sebetulnya aku mau bertanya apakah ia gundul atau tidak, tapi yang keluar berbeda, “Kamu kok suka banget sih pake celana dalam warna hitam?”




Bukan jawaban yang kudapat, tapi cubitan yang teramat keras. Kulit perutku perih dan ngilu.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar