BAB 24
Sehari sebelum sidang skripsi, Rere tidak mau kutemani. Aku datang pun tidak boleh. Inginnya hanya belajar ditemani oleh kedua orangtuanya. Om Sulis sudah datang sejak kemarin, mengambil cuti selama beberapa hari. Alasan Rere sederhana, kalau ada aku ia susah konsentrasi karena inginnya selalu bermanja. Hehe.. Rei!!!
Ayah dan mamahku heran karena aku juga bersikap santai. Tidak mempersiapkan apapun untuk berangkat ke Anta. Mereka yang semula mengkhawatirkan keselamatanku, sekarang malah mengkhawatirkan keseriusanku untuk menjalani tahap ritual. Ah yasudahlah.. toh aku yang akan menjalani, dan aku masih berkomunikasi dengan Sawaka.
Kini aku sedang menyopir sepulang dari kantor. Tujuanku bukan pulang, tapi menuju kawasan Setiabudi. Aku sudah janji dengan Tante Wulan untuk ketemuan di sana. Kami sudah cukup dekat meskipun hanya sebatas pekerjaan dan bisnis.
Sial!! Tiba-tiba wanita itu menelpon dan membatalkan pertemuan. Suaminya datang dari Surabaya dan ia tidak bisa meninggalkan rumah. Aku yang semula merasa tenang, kini mulai gelisah. Padahal Tante Wulan adalah alasan aku menunda ritual. Aku akan menaklukan wanita itu. Kini semuanya berantakan, padahal aku harus berangkat ke Anta lusa.
Karena sudah kadung menuju ke sana, kuputuskan untuk mampir ke rumah Bunda Rahma yang kompleksnya sebentar lagi kulewati. Kumasuki sebuah kompleks menuju sebuah rumah megah di ujung jalan.
“Mobil Inka?” gumamku saat memasuki pekarangan.
Kusapa satpam dan aku pun turun dari mobil. Benar saja. Inka keluar rumah ditemani Bunda Rahma.
“Reiii?” seru Inka.
“Kok kesini gak bilang-bilang dulu, Rei? Untung Bunda ada di rumah.” sambut Bunda Rahma.
Aku hanya terkekeh sambil menyalami dan mencium pipi bunda. Inka ngomel dan mencubiti lenganku karena ia sudah akan pulang. Ia sudah ditunggu Tante Nji untuk menemaninya belanja.
Kujelaskan alasanku mampir, dan Bunda Rahma mengangguk mengerti.
“Kamu tuh, Rei.” gerutu Inka.
“Lihat nih bunda! Masa boss penampilannya kayak gini?!” pada bunda.
Sudah menjadi kebiasaanku sepulang kerja untuk tidak memasukan kemeja ke dalam celana. Dasi tetap kupakai tetapi sudah kulonggarkan.
“Apaan sih, Ka?” protesku karena ia malah memperhatikan penampilanku.
Bunda Rahma geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Ia sudah berulangkali mengingatkanku, tetapi hasilnya tetap saja selalu seperti ini. Hehe.. Rei!!!
“Eh apaan ini, kok aku baru lihat?” Inka meraih bandul kalungku yang keluar karena kancing atasku terlepas.
“Iseng aja, kutemukan di rumah oma di Ewer.” aku berbohong.
Inka nampak penasaran dan semakin menarik keluar. Ia menarik dan mengangkatnya. Maksud hati ingin melihat lebih jelas, tapi karena talinya pendek bandul itu malah mengenai bibirku. Tanpa sengaja aku seolah mencium bandul kalungku di bawah tatapan bunda dan Inka. Aku kaget sendiri, namun sudah telanjur terjadi.
“Hihi.. masa boss pake kalung ginian? Jelek banget!” oceh Inka.
Aku hanya tersenyum kecut, dan memasukan kembali bandul kalungku. Kuacak-acak rambut sepupuku dengan gemas. Setelah ngobrol sebentar, Inka pun pamit. Sedikit kecewa karena tidak bisa tinggal lebih lama. Begitu mobilnya menghilang, aku dan Bunda Rahma memasuki rumah.
“Mas Rei mau minum apa?” tanya pembantu yang sedang membereskan gelas bekas minum Inka.
“Nggak usah, Bi, nanti saya ambil sendiri aja.” jawabku.
Wanita itu mengangguk lalu kembali ke belakang.
“Om pulang kapan, Bunda?” sambil duduk di atas sofa.
“Nanti malam juga pulang. Ommu mah gak betah lama-lama meninggalkan rumah.” jawabnya.
Aku pun terkekeh.
“Sudah ada kabar kapan kamu akan ke Ewer?” bunda ikutan duduk di sampingku dan menatapku penuh keibuan.
“Belum, Bun.” bohongku.
“Tapi jadi, kan?”
“Jadi. Aku kan udah janji ama bunda.”
Bunda tersenyum menghela nafas lega. Tangannya terulur merapikan rambutku yang sedikit berantakan karena ulah Inka. Aku membalas tatapannya.
Tik tok tik tok.
Waktu seakan berhenti selama beberapa detik. Sorot mata kami seperti mengalirkan energi asing yang membuat aku dan bunda sama-sama tercekat. Sentuhan tangannya bagai sengatan listrik yang membuat seluruh poriku meremang.
“Bunda!”
“Rei!”
Kami terkejut bersamaan. Tapi kami tetap berpandangan. Jangankan berpaling, jika bisa, mengedipkan mata pun aku tidak mau. Bunda nampak begitu cantik di hadapanku, aura keibuannya berpadu dengan sensasi seksi sebagai seorang wanita.
“Ini ada yang salah, Rei.” keluh Bunda Rahma.
Namun ucap dan tindak berbeda. Wajahnya semakin mendekat. Aku mengerjap beberapa kali, mencoba menjernihkan pikiran. Sebuah kesalahan telah terjadi, tapi aku sendiri tidak bisa melawan. Jiwaku bergelora, nafasku menjadi pendek.
Kening aku dan bunda sudah beradu. Sorot matanya berubah sayu. Bibir merah bunda sedikit terbuka untuk melancarkan pernafasan. Sedangkan di bagian bawah, tangan kami saling menggenggam dan meremas.
Aku menggigit bibir agar aku bisa menguasai keadaan, namun gagal. Wajah bunda terlihat berubah, sangat menggairahkan.
Nafas hangat bunda yang menerpa bibirku membuatku semakin lupa daratan, dadaku berdebar kencang, jantung berdetak tak karuan.
“Bunda.” suaraku bergetar.
Bunda mengerjap sesaat. Mata sayunya lebih melebar. Aku pikir bunda sadar, senang dan kecewa menghampiri. Tapi tidak! Bunda langsung mengecup bibirku. Tubuh kami sama-sama bergetar.
Kecupan tipis dan singkat, tapi telah mengubah segalanya. Bunda menarikku dan mengajakku memasuki sebuah ruangan, ruang kerja ia dan suaminya. Cepat-cepat aku menutup pintu dan menguncinya.
Hmmmfff!!!
Pelukan erat langsung kami lakukan. Bukan hanya itu, bibir kami segera saling mencari. Dua kecupan lembut, dan lumatan hangat setelahnya.
“Mmmh.. kamu telah membakar gairah bunda, sayang.” lenguhnya dengan nafas tersengal.
Akal sehatku tidak bekerja. Kubalas ucapan bunda dengan lumatan, dan ia membalas. Sambil saling berpagutan, aku membimbingnya menuju sebuah sofa. Kurebahkan tubuhnya dan aku langsung menindih. Tubuh bunda bergetar saat kemaluanku yang sudah tegang terselip di antara selangkangannya. Pagutannya semakin liar, lidahnya bergerak tak karuan. Membelit lidahku dan menyapu rongga mulutku dengan basah.
Bunda Rahma, wanita yang sangat kuhormati dan sudah seperti ibu sendiri, kini berubah menggairahkan. Tangannya meremas rambutku, sekaligus menahan kepala supaya ciuman kami tidak terlepas. Tanganku sendiri menangkup kedua pipinya. Ciuman kami semakin dalam. Panas! Basah! Penuh gairah!
Hanya sesak karena kehabisan nafas yang akhirnya membuat bibir kami terpisah. Namun itu hanya beberapa detik. Kami bagaikan pasangan yang sudah lama berpisah, yang enggan berpisah, sekalipun melepas cumbuan. Ciuman kami semakin liar dan basah, sekali-kali sambil bergantian menghisap lidah. Suhu tubuhku menjadi panas, keringat terasa membasahi tengkuk dan punggung.
Bunda Rahma mendorong dadaku. Aku mengerti. Kulucuti kemeja dan kaos dalamku, sedangkan bunda terburu melepaskan celana karet panjangnya; juga celana dalam. Jubah panjang tetap ia biarkan. Sepintas aku bisa menikmati keindahan paha dan betisnya yang selama ini tertutup. Gairahku langsung melonjak berlipat-lipat. Penisku sakit mengeras. Berkedut dan ngilu. Kulepaskan pula celana panjangku.
Bunda terbelalak. Sorot matanya nanar, kulihat ia menelan liur.
Bunda merebahkan diri di atas sofa, satu kaki menjuntai menginjak lantai. Kerudung lebarnya ia sibakan. Leher putihnya terpajang.
Aku mendengus resah, dan langsung menindihnya. Bibir kami langsung berpagutan, kali ini disertai erangan bunda. Telapak tangannya yang halus mengusapi punggungku yang berkeringat.
“Bun, ini salah.” ada sedikit akal sehat yang terlintas. Tapi tetap saja aku terus mencumbunya.
“Lakukan!!” suaranya serak bernada perintah.
Nafsu kami sudah tidak terkendali. Gerah gairah sudah membakar diri. Ingin aku dan bunda adalah menuntaskan, melepaskan dan menumpahkan. Mencari puncak kepuasan, yang kadang harus ditempuh dengan cara melupakan status dan identitas.
Duniaku berubah. Semua inderaku berpusat pada bunda. Ada dan hasratku hanyalah dia. Aku memasuki sebuah pengalaman yang baru pertama kurasakan. Tak perlu guru, tak ada suhu, naluri mengajari. Aku mencari kenikmatan, tanpa mengabaikan memberi kepuasan. Setara!! Saling memberi dan menerima.
Tubuh kami sudah polos. Hanya kerudung lebarnya yang tersisa. Saling menjelajahi dengan usapan dan juluran lidah. Saling menggapai dan meremas. Payudara besar dan sekalnya menjadi kesukaanku. Penisku menjadi mainannya yang menggemaskan. Untuk pertama kalinya pula, aku melihat vagina wanita dari dekat. Bukan hanya melihat, tapi juga menjilat.
Dan terjadilah.. aku melepaskan keperjakaan. Menggauli wanita cantik dan seksi, merasakan remasan vaginanya yang sempit. Penisku memasuki lubang lembut dan sempit, basah tapi menghisap. Licin tapi menjepit. Percintaan yang terasa nikmat. Saling memompa dan menghentak. Saling menggoyang dan mengerang. Pada puncaknya, aku melenguh panjang sambil menyemprotkan sperma, bunda menyambut sambil memekik tertahan. Aku ambruk menindih bunda. Tubuh kami basah.
Hilang!! Kesadaran sempat menghilang, perasaan melayang. Tubuh dan rasa bagai ke awang-awang.
…….
“Bunda maaf.” ucapku ketika mata terbuka. Bunda sudah lebih dahulu sadar, matanya berkaca-kaca, tangannya mengusapi punggungku.
“Bunda tidak tahu harus menyesal atau bahagia. Tapi bunda tahu ini salah, sayang. Hiks…”
“….”
Lidahku kelu. Jelas ini sebuah kesalahan. Keteledoran saat aku datang. Tapi kini semuanya sudah terjadi; kalau salah, semua kesalahan harus ditimpakan padaku. Bukan pada bunda atau Inka.
Aku menggulingkan badan, kali ini bunda yang berbaring di atas dadaku. Payudaranya ia biarkan menimpa.
“Bunda…” aku harus jujur.
Kuceritakan semuanya. Bermula dari pertemuanku dengan Sawaka, rencana ritual, dan kenakalanku untuk menundanya dengan menggunakan cara menyuwir yang tidak berbulu. Targetku tentu saja Tante Wulan, caranya adalah keajaiban rambut Mantili. Sampai pada sebuah keteledoran, aku mencium kalungku di bawah tatapan bunda dan Inka.
Bunda mendengarkanku dengan seksama. Ia semakin menangis. Tapi sepertinya bukan ratap sesal. Tidak ada kemarahan atau kebencian.
“Kamu mencari cara agar tidak bisa lepas dari Rere, tapi sekarang kamu malah mengkhianatinya.” ujar bunda sambil mengusapi air mata.
Aku tersenyum getir. Sekarang bunda malah mengingatkan pada gadisku, rasa bersalah pun menghampiri.
Bunda mengangkat wajah. Payudaranya menggelantung tanpa sedikit pun berniat menyembunyikan. Bunda mengusapi wajahku. Refleks tanganku terulur bergetar. Kuusap sisa air matanya.
Bunda menepuki pipiku dengan sedikit keras. Tapi malah merunduk setelahnya, ia mencium bibirku mesra. Aku kaget sebentar, dan membalas setelahnya. Kali ini ciuman kami berbeda. Penuh perasaan yang bukan hanya dibalut nafsu. Susah kujelaskan.
Tak perlu sepakat. Kami kembali mengulang. Sampai senja kami bercinta, dan diakhiri erangan kepuasan sambil mandi bersama. Semuanya menjadi rahasia hati, dan kami sepakat untuk saling menyembunyikan tanpa kata untuk mengakhiri.
“Rei, kamu di mana?” Tante Nur menelpon.
Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang. Badanku terasa sedikit lemas namun juga segar.
“Lagi di jalan, Mah, abis dari rumah Bunda Rahma.” jawabku.
“Oh masih di Setibudi donk?”
“Iya, Mah.”
“sekalian jemput mamah kalau begitu. Mamah lagi di Rumah Baju.”
“Siap, Mah. Sepuluh menit lagi aku sampai.”
“Mamah tunggu ya. Hati-hati, sayang.”
Klik.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar