Bab 23
Pagi masih remang. Kuperlambat langkah memasuki rumah sambil mengusap peluh dengan handuk kecil. Sejam berlari pagi sudahlah cukup. Ruangan nampak sepi, hanya terdengar perbincangan dua wanita dari arah ruang makan. Aku pun mendekat dan mengintip.
“Tante, Rei itu suka banget loh sarapan nasi goreng.”
“Tante?”
“Hehehe.. belum terbiasa.”
“Kamu!” mamah menjembel pipi Rere dengan gemas.
“yaudah kamu bikin gih, udah ada kamu masa masih mamah yang masakin?”
“Ajariin..” sambil memamerkan barisan giginya.
“Idih.. anak perempuan gak bisa masak.”
“Maaah.. aku bisa masaaak, tapi ajarin bikin nasi goreng seperti yang mamah biasa buat. Rei sering cerita loh kalau nasgor masakan mamah tiada duanya.”
“Ini yang ingin nasi goreng Rei atau kamu sih, sayang?”
“Hehehe… ya.. ya Rei donk.”
"Modus!”
Rere langsung memeluk mamah. Sedangkan mamah pura-pura cemberut. Ia melangkah menuju dapur. Kekasihku mengikuti sambil terus merayu mamah.
Aku pun tersedak haru melihat pemandangan itu. Rasanya hidupku sudah sempurna. Punya keluarga dan kekasih yang sangat harmonis.
Di tangga aku berpapasan dengan Nzi yang baru turun. Ucapan dan ciuman selamat pagi saling kami berikan, dan aku pun masuk kamar untuk mandi. Kubersihkan tubuh sambil menimbang dan memperhitungkan untung-rugi jika aku mengikuti saran Mahapatih Sawaka. Sebuah jalan keluar tanpa boleh diketahui oleh ayah dan mamah. Apalagi oleh Rere!
Setelah mengeringkan badan dengan handuk, aku tidak langsung keluar kamar. Kulepas kalungku. Kuambil dompet yang sengaja kubawa dan kuletakan pada rak dekat washtafel. Kuambil satu lembar rambut Nyi Mantili yang kala itu iseng kuselipkan di dalam dompet. Sebuah keisengan yang ternyata kini ada gunanya. Satu lembar lagi kuselipkan kembali ke dalam dompet.
Setelah meyakinkan diri sambil memandang wajah pada pantulan cermin, kumasukan rambut Mantili pada lubang siung harimau bandul kalungku. Aman! Kukenakan kembali kalungku.
Memasuki kamar, penciumanku langsung disuguhi aroma kopi. Cangkir mengepul sudah terhidang di atas meja. Pun pula pakaian ganti. Aku tersenyum bahagia, meski yang menyuguhkannya sudah tidak ada.
Kuseruput dengan penuh nikmat, doa terbaik kuungkap dalam hati. Semoga kelak cinta kami bisa abadi, dan aku bisa membahagiakan Rere sepanjang hidupnya.
Aku keluar kamar sambil menenteng cangkir yang tinggal isi setengah. Rupanya aku adalah orang terakhir yang datang. Semua sudah mengelilingi ruang makan. Mereka nampak sedang berdebat.
“Sekarang biar Rei yang memutuskan.” celetuk Tante Nur sambil setengah berdiri untuk mencium pipiku.
“Emangnya ada apa sih?” heranku.
Kududuk di samping Rere setelah sebelumnya mengecup kepalanya dan berterima kasih atas kopi seduhannya.
“Kak Rere tuh, masa maksa mau pulang ke apartemen.” Nzi menyahut.
Belum juga aku mendapat penjelasan, semua kembali bersahutan. Yang intinya Rere dan Tante Nur mau pulang ke apartemen, sedangkan keluargaku tidak setuju.
Kutatap kekasihku dan ia membalas penuh harap. Aku sudah kenal Rere, aku tahu kebutuhannya, juga karakternya.
“Sudah.. sudah… pagi-pagi sudah ribut.” ujarku. Semua terdiam dan aku melanjutkan, “Rere kan butuh waktu tenang sebelum sidang skripsinya. Dalam situasi seperti ini, bukan masalah Rere butuh waktu belajar atau tidak. Tidak belajar lagi pun Rere pasti lulus. Tapi yang Rere butuhkan adalah masa tenang dan menyiapkan mental.”
“Ah sayaaang.” Rere langsung memelukku.
Sebetulnya ia bersikap spontan, dan seperti merasa malu memelukku di depan mereka semua. Namun sudah telanjur memeluk, ia hanya bisa menyembunyikan wajah pada bahuku. Kakak dan adikku protes, mamah mendehem, Tante Nur tersenyum bahagia, ayah sok kalem sambil menyeruput kopi.
“Tapi setelah sidang, kalian tidur di sini lagi.” mamah akhirnya mengalah.
“Sayang?” Tante Nur menatap Rere, dan disambut anggukannya.
“Mamah dan ayah punya kado untukmu, sayang, tapi nanti setelah kamu selesai sidang.” ujar Tante Nur lagi.
Rere menegakkan kembali dudukknya dan menatap Tante Nur. Tapi wanita itu hanya mengerling sambil mengulum senyum. Ayah dan mamah nampak senang, sepertinya mereka sudah tahu.
“Jadi kita kapan sarapannya?” ayah nyeletuk dan mencoba mengalihkan perhatian. Semua tertawa, mamah sambil mengusap pipi ayah.
Mamah langsung mengisi piring kami masing-masing dengan nasi goreng yang masih mengepul.
“Rere yang masak loh.” mamah tersenyum padaku.
“Iya, sayang?” aku pada Rere.
“Iya, donk.” lagak sombongnya kumat, walaupun kutahu hanya untuk menyembunyikan kikuknya karena tiba-tiba memeluk aku.
Kini saatnya aku yang mengerjai. Kusuap sendok pertama nasiku. Kukunyah pelan.
“Hmmm.. bener! Rere yang masak, bukan mamah.” ujarku pada akhirnya.
“Kok bisa tahu?” Nzi menyahut dan menyuap nasinya. Ia pun bilang kalau tidak ada bedanya seperti nasi goreng biasa. Kak Kekey ikut-ikutan menyuap dengan kening mengkerut.
Rere menatapku heran, sedangkan mamah dan Tante Nur menatapku dan Rere bergantian. Senyum mereka selalu mengembang.
“Yank?” Rere jengah karena aku tak kunjung menjelaskan, pipinya sedikit merona.
“Rasanya beda dengan masakan mamah.” jawabku sambil melanjutkan makan tanpa melirik Rere.
“Enakan mana ama masakan mamah?” Rere penasaran.
“Enakan masakan mamah lah.”
“Tuh kaaaaan. Maaaah…” Rere cemberut sambil menatap mamah.
Tawa pun pecah. Rere merajuk pada mamah dan merasa gagal sudah membuat masakan yang enak selezat masakan mamah.
“Kamu sih, pagi-pagi udah cari perkara.” ledek Kak Kekey ketika melihat Rere cemberut dan tidak mau makan.
Butuh usaha untuk merayu Rere di bawah ledekan dan godaan anggota keluargaku dan Tante Nur. Gadisku akhirnya mau makan ketika aku membisikan sesuatu pada telinganya. Senyumnya kembali terpulas. Lagipula ia hanya merajuk, dan tidak sungguh-sungguh kesal.
Sarapan pun begitu lama. Mamah dan Tante Nur sepertinya tak habis cerita untuk berbagi kisah selama kami berpisah. Aku menderita, Rere balik mengerjaiku dengan melarang merokok. Tangannya selalu membelit lenganku.
Kami baru bubar ketika teman-teman Nzi datang. Mereka sudah janjian untuk menata rumah belakang yang sudah selesai direnovasi menjadi studio. Tak lama kemudian Kak Rega datang kencan. Para orangtua melanjutkan ngobrol di taman, sedangkan Rere membuntutiku masuk ke dalam kamar.
“Kamu!” ia menoyor pipiku dengan telunjuknya.
“Kenapa?”
“Nggak hehehe…”
Ia langsung memelukku hangat, kubalas sambil mengecup pipinya. Sekitar satu menit kami saling mendekap, menyalurkan rasa sayang dalam diam. Setelah ia mengurai pelukan, aku melangkah menuju sofa kamar sedangkan Rere membuka jendela lebar-lebar.
Kukeluarkan rokokku dan kutempelkan pada bibir. Belum juga aku menyulutnya, Rere langsung duduk menyilang di atas pangkuan. Jemari lentiknya mencabut rokok dengan senyuman menggoda.
“Yank?!” protesku.
“Kamu milih rokok atau milih disun?” ia mengerling sambil menempelkan dahi. Bibirnya sedikit terbuka.
Tanpa menjawab, kusambut bibirnya untuk kukecup. Rere menghindar sambil menahan kedua pipiku.
“Jawab dulu?”
“Hmmm…” anjir. Asli inginku sebenarnya adalah merokok.
“Pasti milih rokok.”
“Nnggg ngak kok.” kilahku.
Sebelum ia mencecarku, langsung aku menahan kepala belakangnya dan kusosor bibir seksinya. Kekasihku sedikit memekik, namun langsung terdiam ketika berhasil kulumat. Ia membalas hangat. Kedua tangannya menangkup kedua pipiku, sedangkan aku menahan kepala belakangnya. Kuluman kami berubah lumatan, dan cecapan menjadi belitan lidah.
Cumbuan kami terpisah. Nafasnya sedikit terengah. Kukecup kedua kelopak matanya, juga ujung hidungnya. Kecupan lembut kembali pada bibirnya.
Beberapa menit kemudian Rere mengeringkan tepi bibirku dan menempelkan sebatang rokok setelahnya. Zippo ia nyalakan sambil tersenyum.
“Aku merokok di balkon aja, nanti rambutmu bau rokok.” aku menghindar.
“Kan nanti bisa keramas.” lirihnya.
Kuhisap rokok yang ujungnya sedang Rere sulut. Kekasihku membaringkan diri dengan kepala di atas pangkuan, sedangkan aku bersandar sambil memperdalam sandaran. Kuturunkan tepi baju kekasihku yang terangkat, untuk menutupi kulit perut dan pusarnya yang putih dan seksi. Ia mendongak, menatapku bahagia. Tangannya terulur, memainkan kancing atas kemejaku.
Aku dan Rere saling bercerita, sekali-kali sambil membelai mesra. Yeaah… di tengah kehangatan keluarga besar, selalu ada wilayah pribadi yang tak selamanya bisa kami ungkapkan. Justru saat berdua seperti ini menjadi ajang saling bercerita, saling mengungkapkan situasi hati dan juga kondisi hidup sehari-hari. Tapi aku tetap menutup rapat segala urusan yang berkaitan dengan ritual.
Kumatikan rokokku. Kuungkapkan segenap rasa sayang dengan membelai rambutnya. Kekasihku terhanyut, obrolannya mulai jarang. Ia pun terlelap. Dasar.. selalu seperti ini. Ia selalu merasa nyaman tidur dalam pangkuanku, dan ini bukan pertama kalinya ia terlelap seperti ini. Kecantikannya semakin terpancar ketika ia tertidur, nafas halus terdengar. Bibirnya seolah sedang tersenyum.
Sejenak pikiran kotor menghampiri. Tanganku bergetar menuju kancing celana panjangnya untuk melihat apakah mahkota kekasihku gundul atau tidak. Tapi segera kuurungkan.
Dengan sangat hati-hati kuangkat kepalanya, kupasangkan bantal sofa. Aku melangkah menuju laci, hadiah kelulusannya yang sudah kusiapkan akan lebih baik kuberikan sekarang. Kukeluarkan kotak berisi kalung liontin. Dengan sangat pelan kupasangkan pada lehernya. Nampak indah. Eh… aku juga berhak mendapat hadiah. Kuangkat kerah bajunya. Ia mengenakan bra hitam. Payudaranya nampak putih dan mengkal. Penisku bergerak. Dengan cepat kulepas kerahnya, kutabok pipiku sendiri dengan pelan.
“Sayaaang…” tiba-tiba Tante Nur muncul. Suaranya berubah pelan ketika melihat Rere sedang tidur. Kepalanya menggeleng.
“Anak perempuan, jam segini malah tidur.” gerutunya pelan.
“Kebanyakan begadang, Mah.” aku membela, dan aku mulai membiasakan diri untuk memanggil tanteku dengan ‘mamah’.
“Lalu mau pulang ke apartemen jam berapa? Udah siang loh.”
“Nanti abis makan siang aja. Nanti mamah malah bosen cuma berdua di sana.”
“Hehe.. iya sih. Pacarmu tuh.. dasar keras kepala. Mamah sih maunya di sini aja.”
Kami bercakap-cakap setengah berbisik. Tante Nur sambil mengamati kamarku, dan mengatakan bahwa dulu ini adalah kamarnya. Aku dan Tante Nur pindah ke balkon untuk melanjutkan ngobrol. Banyak nostalgia yang ia bagikan semenjak ia mengenal ayah sampai sekarang. Kekagumannya pada cinta yang orangtuaku miliki ia sampaikan. Kebahagiaannya karena aku dan Rere berpacaran pun ia ungkapkan.
“Tapi mamah sedih…” obrolan beralih sendu.
Aku menghela nafas. Kutahu arah pembicaraannya. Aku dan Tante Nur mengulang memetakan jaringan ritual dan tahap-tahap yang harus kujalani. Kami juga menyadari kenyataan yang ada bahwa bukan tidak mungkin kalau Rere akan menjadi gadis ritualku. Dan itu berarti menyudahi mimpi-mimpi untuk hidup bersama ke depan nanti.
Aku dan Tante Nur akhirnya sama-sama terdiam. Sambil memikirkan rencanaku sendiri kuraih bandul kalungku dan kucium. Aku refleks melakukannya, dan ini adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang teramat besar.
“Sayang?!” kekasihku sepertinya terbangun dan langsung mencariku.
Belum juga aku menjawab, kekasihku memekik. Aku dan Tante Nur langsung berdiri dan masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi. Kagetku berubah senyum. Tante Nur masih bingung.
Kekasihku sedang terbelalak di depan cermin. Nafasnya tersengal. Ia melirikku lalu melihat kembali ke arah lehernya.
“Kamu kenapa, sayang? Bikin kaget aja.” Tante Nur masih belum mengerti.
Rere tidak menjawab. Ia menatapku tajam seolah sedang mencari jawaban. Aku tersenyum, dan itu sudah cukup bagi kekasihku.
Rere menghambur ke dalam pelukanku. Setengah menubruk sehingga aku terjejer dua langkah ke belakang.
“Kamu.. Ah sayang…” hanya itu yang terucap. Sisanya memeluk erat dengan air mata bahagia berlinang.
Tante Nur semakin heran melihat tingkah Rere. Ia mendekat dan mengusapi rambut putrinya, sedangkan matanya menatapku. Aku tersenyum.
Rere akhirnya melepas pelukan.
“Makasih, sayang.” ia mengecup pipiku.
Lalu ia memamerkan kalung liontinnya pada mamahnya. Wanita itu terbelalak sejenak lalu memeluk kami berdua. Kecupan ia daratkan pada kening Rere dan aku.
Kulihat Tante Nur ikut berkaca-kaca. Rere mungkin menerjemahkan mamahnya ikut bahagia dan bangga, tapi aku menangkap secara berbeda. Mungkin itu air mata seorang ibu yang menangisi masa depan kisah cinta kami. Entahlah! Aku sudah punya rencana di luar pengetahuan siapapun.
Lupakan dulu, sekarang aku bahagia!!
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar