Sang pewaris part 22

 

BAB 22




Ayah pun memulai cerita. Dulu sekali, ayah dan mamah memang sempat mengajakku berbicara dan memintaku untuk pacaran dengan Inka. Tapi aku menolak dan marah saat itu. Intinya sebetulnya bukan karena Inka, tapi aku tidak suka dijodohkan. Aku terlalu gengsi untuk tidak menentukan jodohku sendiri. Ayah dan mamah akhirnya bisa menerima pendapat dan kemauanku, mereka juga tidak memaksa, hanya memberi tawaran. Dari situ, ayah dan mamah mengubah rencana. Mereka ingin menjodohkanku dengan Rere, tapi mereka khawatir aku akan kembali marah dan menolak mentah-mentah. Alasannya sederhana, mereka menginginkan agar jodohku tidak jauh-jauh, dan tidak jatuh pada perempuan yang salah.




Mereka setuju ketika aku pacaran dengan Arischa, tetapi juga senang ketika mendengar kami putus. Rencana mereka siapkan dengan melibatkan Tante Nur. Rere sengaja dibelikan apartemen dan tidak diperkenalkan pada keluargaku. Hanya ayah, mamah, dan Kak Kekey yang mengenal Rere. Kekasihku sendiri sepertinya lupa, karena pertemuan terakhir adalah sewaktu Rere masih kecil.




Dasar jodoh, aku dan Rere malah lebih dulu pacaran sebelum dijodohkan. Mereka tentu saja senang, tetapi mereka tetap diam dan membiarkan semuanya terjadi secara natural. Rencana mereka batalkan, karena aku dan Rere saling mencintai tanpa harus melalui perjodohan.




Aku khusyuk mendengarkan. Sedih, senang, dan kesal bercampur menjadi satu. Di balik itu semua, sekarang aku mengerti. Mengerti mengapa Rere mengatakan “de javu” ketika pertama kali datang ke rumahku. Mengerti atas sikap Kak Kekey ketika bertemu Rere untuk pertama kalinya. Mengerti mengapa Rere mengatakan punya banyak saudara tanpa diperbolehkan menemui mereka. Mengerti mengapa Rere sering bilang bahwa hidupnya seolah dimudahkan, dan selalu ada saja orang-orang tak dikenal yang menolong dan memberi perhatian. Aku juga sudah menduga, bahwa Tantenya Rere yang sering ia kunjungi di Jakarta adalah Tante Maya. Sangat jelas bahwa Rana dan Rere sangatlah dekat.




Sial! Semua keluarga besarku seolah sepakat menyembunyikan ini semua. Oma, opa, dan semua tanteku turut bersandiwara dengan bersikap seolah tidak tahu siapa Rere.




“Shiit!!!” aku memaki sambil mematikan puntung dengan sedikit kasar.




Renata Cahya Nirmala. Itulah nama kekasihku. Nama kecilnya adalah Aya. Betapa bodohnya aku karena tidak sadar akan hal ini. Sejak kecil aku hanya tahu nama kecilnya, tapi sekarang aku bisa mengerti tanpa perlu ayah jelaskan lagi.




“Jadi ayah harus minta maaf atau tidak?” ayah menyeringai.


“Gak usah. Tapi asli ayah dan mamah sangat ngeselin!” ketusku.




Ayah pun terkekeh.




“Sekarang kembali ke ritualmu.” ujar ayah. Sambungnya lagi, “Jadi jelas pilihan ritualmu adalah Rana atau Rere. Dan kamu harus tahu, kamu tidak akan pernah bisa menikah dengan gadis ritualmu.”




Ayah menambahkan bahwa Rana adalah pilihan terbaik sebagai gadis ritual. Mengapa? Karena kalau aku ritual dengan Rere secara otomatis aku tidak bisa menikah dengannya. Cinta kami akan kandas. Lagi pula, aku dan Rana tidak saling mencintai dan tidak mungkin menikah karena kami adalah sepupu sedarah. Maka aku harus menghindari ritual dengan Rere jika aku tidak ingin kehilangan cintaku selamanya. Jelas ini sulit, karena yang menentukan pasangan ritual adalah Raja Anta.




“Sekali lagi ayah tanya, apakah kamu akan tetap menyayangi Rere meskipun sekarang sudah tahu kalau dia adalah anak tantemu?”




Aku mendongak menatap ayah.




“Ayah ngeselin!” aku masih kesal.


“Jadi?”


“Ya sayanglah.. tapi sekarang semuanya menjadi rumit.”


“Kalau begitu, kamu tidak boleh ritual dengan Rere.” tegas ayah.


“Gimana caranya, ayaaah?! Bukan kita yang memilih.” aku mulai frustasi.


“Pake ilmu suwir! Tapi kalau sampai mamahmu tahu, ia bisa murka, dan mengusir kita berdua!”




Jedeeeer!!!!




Ayahku berubah jadi misterius. Ia seolah sudah punya rencana sendiri di belakang mamah dan para wanita ritualnya.




“Maksud ayah?”


“Kamu harus bisa meniduri Rere sebelum berangkat ke Anta.”




Jedeeeer!!!!




Aku sangat kaget mendengarnya. Namun juga membuat pikiranku ngeri-ngeri sedap. Ah tidak mungkin.. aku dan Rere sudah sepakat kalau kami hanya akan saling memberikan diri setelah menikah.




“Gimana, Rei?”


“Berat, Yah. Lagian aku tidak boleh berhubungan dengan perempuan “gundul” sebelum ritual?”


“Memang Rere gundul? Kamu sudah…?”


“Eh.. bukan gitu, Yah.” aku langsung memotong. “Ya seandainya Rere gundul gimana?”


“Kamu buktikan dulu.”


“Kalau memang beneran “gundul”?”


“Yeah.. kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menunggu takdir dan nasib cintamu saja.” ayah tidak punya jalan keluar lain.


“Kamu telpon Rere gih.. dia gundul atau nggak. Hehehe…”




Kalau bukan bapakku mungkin sudah kutabok, atau setidaknya aku lempar bungkus rokok. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum kecut sambil memandang sewot. Ayah semakin terbahak.




Yeaaah… Cinta itu kadang ganjil, begitu pula cara mengungkapkan dan menjalaninya. Mamah punya cara sendiri, begitu pula ayah. Ayah juga punya pemikiran dan jalan sendiri. Apapun itu, semua itu mereka lakukan demi kebaikanku.




Aku tidak menolak tetapi juga tidak menyanggupi usul ayah. Apapun itu, ayah berpesan agar pembicaraan kami tidak boleh diketahui siapapun. “Ayah bisa tidak dapat jatah,” ujarnya. Jiaaah.. masih saja mikirin diri sendiri, padahal anaknya sedang dilema seperti ini.




Tepat jam tujuh malam, meja makan sudah penuh oleh hidangan. Malam ini sengaja bukan pembantu yang memasak, tetapi mamah dibantu oleh Kak Kekey dan Nzi. Sebisa mungkin aku bersikap wajar, padahal grogiku sangatlah tidak karuan. Aku bersikap seolah tidak tahu apa-apa, dan persiapan ini menjadi wujud ungkapan bahagia karena Tante Nur dan Aya (Rere) akan datang.




Aku harus bersandiwara. Bersikap tidak tahu bahwa Rere dan Aya adalah gadis yang sama. “Dulu ayah dikerjai sandiwara oma dan para tantemu, sekarang kaum lelaki yang harus memenangkan sandiwara,” ujar ayah tadi di akhir obrolan kami. Sepertinya Suwir Jagad ingin “balas dendam” melalui aku. Beginilah… rasa nyeri dalam hati akan apa yang harus kulewati ditanggapi dengan ‘candaan’ getir sekedar untuk melipur lara dalam hati.




Kakak memaksa dan menyeretku berganti pakaian. Celana dan kemeja ia pilihkan. Berulang kali aku protes, tapi ia tidak mau menggubris. Sementara di ruang bawah sudah terdengar keriuhan. Ada perjumpaan bahagia di sana, dan aku tidak bisa membayangkan ekspresi kekasihku. Ia pasti sangat kaget, dan bahkan mungkin shock. Kembali.. aku harus bersandiwara, harus bersikap seolah kaget akan perjumpaan ini.




Kakak menggandengku keluar kamar, senyumnya selalu terpancar penuh bahagia. Sebaliknya, aku mulai berkeringat dingin. Nafasku sedikit tidak beraturan. Bukan saja karena harus melakukan drama, tapi juga membayangkan kenyataan jika Rere harus menjadi gadis ritualku, dan setelah itu cinta kami akan kandas selamanya. Tentang usulan ayah, aku belum mengambil keputusan.




Kulihat Rere sedang menangis dalam pelukan mamah. Nzi mengusapi punggung kekasihku di sampingnya.




“Tuh keponakanmu, Nur.” ujar ayah pada wanita cantik yang sedang duduk di sebelahnya.




Tante Nur berdiri dan berbalik ke arah kedatanganku. Rere melirik sebentar, namun kemudian kembali menyembunyikan wajahnya dalam pelukan mamah. Isaknya masih terdengar.




“Kekeeeeeyyy… Reiiiii…” Tante Nur setengah histeris.




Ia menyongsong aku dan kakak. Tangannya terentang dan langsung memeluk kami bersamaan. Kakak ikut menitikan air mata karena haru, bahagia bisa kembali berjumpa dengan tante. Aku mematung. Aslinya, aku memang masih dibayangi ketakutan akan kehilangan Rere, tapi ini malah membuat dramaku berhasil. Aku seolah sedang shock karena kehadiran Rere.




“Tante apa kabar? Aku kangen.” lirih Kak Kekey.


“Tante lebih kangen lagi, sayang. Kamu cantik sekali.” balas Tante Nur.




Sejenak ia menciumi wajah kakak sambil berlinang air mata. Setelahnya Tante Nur menatapku yang masih mematung dengan keringat dingin mengalir di pelipis.




“Reiii.. sayang, kamu sudah seperti ini sekarang. Maafkan tante yang jarang bisa mengunjungimu. Hiiks…” pelukannya pindah padaku.




Aku ingin menjawab, tetapi tenggorokanku terasa kering. Lidahku kelu. Kubalas pelukannya, dan aku berusaha tersenyum ketika ia mencium kedua pipiku.




“Kok diam aja, Rei. Gak kangen tante yah?” Tante Nur menepuki pipiku.


“Euhh.. Tante…” hanya itu yang bisa kukatakan, sedangkan mataku melirik pada Rere.




Tante Nur mengandeng aku dan kakak menuju tempat duduk. Disambut pandangan dan senyum orangtua dan adikku, kecuali Rere yang masih saja memeluk mamah.




“Aya mana, Tante? Kok bisa kesini bareng Rere?” akhirnya aku bisa mengeluarkan suara tanpa terbata.


“Ayo duduk dulu.” ujar Tante Nur.




Tante Nur duduk di tengah sofa panjang. Nzi bersikap genit dengan pindah duduk. Tante pun diapit oleh kakak dan adikku, sedangkan aku menggantikan posisi Nzi dengan duduk di samping Rere.




“Mah? Yah? Tan? Kak? Re? Dek?” kupandangi mereka satu per satu. Rere hanya melirik sebentar. Air matanya sudah berhenti mengalir, tapi terlihat pipinya merah padam.




Kecuali aku dan Rere, semua malah tertawa melihat sikapku. Tidak seorangpun yang menjawab, tapi suasana didominasi oleh Tante Nur yang memang cerewet. Tiada bosannya ia mengungkapkan rasa kangen, sambil menciumi pipi Kak Kekey dan Nzi bergantian.




Merasa tidak ada yang menanggapi, kucolek lengan kekasihku. Tetapi ia semakin membenamkan wajahnya dalam dada mamah. Sialnya, semua orang malah menertawakan.




“Jadi sudah berapa lama kamu pacaran dengan Rere, sayang?” tanya Tante Nur.


“Enam bulan, Tante.”


“Tujuh!!” tiba-tiba Rere mengoreksi.


“Eh iyah. Tujuh bulan, Tante.” aku kikuk.




Tawa pun memenuhi seisi ruangan keluarga. Rere malu sendiri. Aku garuk-garuk kepala. Kalau dalam keadaan normal, Rere pasti marah karena tanggal jadian saja aku tidak ingat.




“Ini lagi.. kenapa meluk-meluk mamah. Biasanya juga meluk pacarmu.” mamah malah menggoda Rere. Didorongnya tubuh kekasihku supaya balik memelukku, namun ia bertahan, belitan tangannya semakin erat.


“Oh gitu, yah Kak, jadi Rere sudah gak malu-malu meluk Rei?” tanya Tante Nur pada mamah.


“Mamah!” Rere mendelik malu.


“Mamah?” aku pura-pura kaget.


“Kamu sih!! Macarin anak orang gak minta ijin dulu ama orangtuanya!!” Tante Nur mendelik padaku.


“Yank?” aku melirik kekasihku.


“Cieee..” kakak dan Nzi bersamaan.


“Paan sih?” Rere menepis tanganku.




Tawa kembali terdengar. Sebenarnya tingkah Rere sangatlah lucu. Ia pasti masih kaget dan shock, tetapi sekaligus juga bahagia. Aku jelas bahagia juga. Namun mau sampai kapan bahagia ini akan selalu ada? Rasaku selalu diliputi ketakutan.




“Ayah, ayo jelasin, kok malah diem aja.” ujar mamah pada ayah.


“Mamah aja.”


“Iiih ayah gimana sih? Dek, jelasin.” kali ini pada Tante Nur.


“Kakak aja!” jawabnya.




Ketiga orangtua kami saling tunjuk. Mau tidak mau kakak dan adikku tertawa. Rere sedikit terkekeh sambil mengusapi wajahnya. Aku kembali garuk-garuk kepala.




“Jadi gini, sayang…” mamah akhirnya mengalah.


“Rere ini adalah Aya, Aya ya Rere. Putri tantemu.” jelasnya.




Kalau aku belum tahu sebelumnya dari ayah mungkin si mamang akan menulis ‘jeder’, tapi tidak kali ini. Tapi biar bagaimana pun aku harus berpura-pura. Dudukku kubuat kaku dengan mulut sedikit terbuka, kupandang semua yang ada.




“Kok bisa?” pelanku.


“Kenapa gak bisa? Buktinya memang begitu.” goda Tante Nur.


“Yank?” aku menatap kekasihku yang sudah melepas pelukan pada mamah.


“Tahu!!”




Akhirnya mamah, Tante Nur, dan Kak Kekey menjelaskan tentang siapa Rere yang sebenarnya. Cerita mereka hampir sama dengan apa yang telah disampaikan ayah, namun tetap saja kekagetanku bukan lagi pura-pura. Aku sungguh tidak menyangka bahwa semuanya ini memang nyata.




“Jadi begitu ceritanya, sayang.” ujar mamah.


“Sekarang setelah tahu semuanya, gimana kalian? Apakah masih mau tetap saling menyayangi?” tanya Tante Nur pada aku dan putrinya.


“…”


“Sayang?” desak Tante Nur pada Rere.


“Aku sih terserah Reinya aja.” akhirnya Rere menjawab malu-malu.




Aku sudah cukup kenal kekasihku. Meski berkata begitu, tentu saja ia tidak mau kehilanganku. Cintanya sudah teramat besar padaku.




“Rei?” kali ini Tante Nur menatapku.


“Euuu…” aku bersikap gugup.




Semua mata memandang, menunggu jawaban.




Sebetulnya ini bisa menjadi kesempatan bagiku untuk berkata “tidak” agar perjalanan ritualku tidak mengalami rintangan. Tetapi aku tidak mau perjumpaan keluarga yang sudah lama saling berpisah ini menjadi rusak; tidak mau pula Rere menjadi terpuruk sebelum ia sidang skripsi.




“Kak?” Nzi tidak sabar mendengar jawaban.


“Aku tidak bisa!” tegasku.




Suasana gembira berubah menjadi tegang. Semua terbelalak, tak terkecuali Rere. Kekasihku nampak begitu shock, kulihat kedua bola matanya memerah dan mulai berlinang.




“Tidak bisa untuk tidak sayang.” lanjutku sambil terkekeh.




Langsung kuraih tubuh kaku Rere dan kubawa ke dalam pelukan. Ia merengek dan memukuli dadaku. Kubiarkan bantal melayang menimpaku. Kuabaikan tangan mamah yang mencubit bahuku. Kuacuhkan gerutuan Kak Kekey. Aku tidak peduli pada pekik histeris Nzi yang kesal sekaligus senang. Ayah tidak usah kugambarkan secara dia mah cowok.




Tante Nur pindah duduk dan memaksa menguraikan pelukan antara aku dan Rere, tetapi kekasihku malah semakin erat mendekap. Wajahnya ia sembunyikan pada dadaku.




Yeaaah.. keseruan ini sepintas nampaknya membahagiakan. Tetapi ada nyeri tersembunyi dalam hatiku. Mungkin juga ayah, mamah, dan tante juga merasakan hal yang sama tanpa mereka tunjukan.




Kami melanjutkan obrolan dengan hangat. Kini dudukku dengan Rere sudah dipisahkan oleh Tante Nur. Berbagai cerita mereka bagikan, rupanya rencana perjodohan sudah mereka siapkan sejak keberangkatan Rere ke Bandung. Sayangnya kala itu aku masih menempuh studi di luar negeri, dan pulang sambil membawa pacar. Sekali-kali cerita diselingi tawa. Semua nampak bahagia… ketika aku dan Rere berjumpa tanpa rencana. Saling mencintai tanpa harus disatukan melalui perjodohan.




Sayang kebahagiaan ini belum sempurna karena Om Sulis, ayahnya Rere belum bisa datang ke Bandung. Ia baru akan menyusul sehari sebelum Rere sidang skripsi.




Kami pindah melanjutkan obrolan ke ruang makan. Cerita beralih tentang kenangan Tante Nur akan aku dan kedua saudariku. Rindunya selama ini ia sampaikan. Ia juga bercerita bagaimana Rere setelah meninggalkan Bandung ketika masih berusia empat tahun.




Rere adalah Rere. Setelah melewati kekagetan karena kejutan yang orangtua kami siapkan, ia kembali perhatian padaku. Juga tidak malu menunjukan rasa cintanya. Ia selalu melayaniku dengan mengisi piringku, juga menambahkan lauk kesukaanku. Ia juga tidak menolak ketika sekali-kali aku memeluk bahu dan mencium kepalanya. Deheman dan ledekan sudah tidak lagi mempan.




Dari meja makan kami pindah ngobrol ke ruang tamu lagi dan baru berakhir menjelang tengah malam. Banyak cerita yang saling kami bagikan, banyak kisah yang telah keluarga kami lewatkan bersama. Itu pun tidak ada tuntasnya.




Ucapan selamat malam pun saling kami berikan. Rere memilih tidur dengan Tante Nur, ia masih ingin melanjutkan melepas kangen. Semua masuk kamar, tetapi aku lebih memilih keluar rumah. Aku setengah berlari menuju gazzebo karena gerimis masih turun. Kunyalakan rokok sambil menatap langit yang malam ini nampak begitu pekat.




Dalam sendiriku, kurenungkan kembali kisah perjalanan hidupku. Kucerna takdir yang tiba-tiba menyeretku pada lingkaran ritual yang belum sepenuhnya kumengerti. Kuingat semua kisah tentang Senja yang selalu diceritakan secara turun-temurun di antara keluarga besar. Kuingat cerita-cerita tentang ayahku dari kalangan orang terbatas. Dan aku menghela nafas ketika membayangkan ceritaku sendiri yang entah akan seperti apa. Baik dalam diri Senja maupun ayah, selalu ada kisah cinta yang kadang rumit. Butuh perjuangan dan bahkan pengorbanan.




Kini semua masa depan kisah Sawer dan Ewer seolah hanya bertumpu padaku. Ada beban berat yang harus kupikul, ada misi yang harus kuselesaikan. Lag-lagi.. ada kerumitan kisah cinta di dalamnya. Aku harus menjalani seperti apa yang dialami oleh para pendahuluku. Bedanya, kekasihku sendiri masuk ke dalam lingkaran ritual ini.




Mamah punya rencana. Ayah juga. Ide mereka berbeda. Kini semuanya tergantung pada kesanggupanku. Aku yang harus memutuskan dan menentukan pilihan: putuskan Rere dan pergi ke Anta, atau nodai Rere sebelum aku pergi ke alam sana. Keduanya merupakan pilihan sulit, dan sama-sama meninggalkan Rere. Hanya yang kedua memang ada enaknya.




“Sawaka, tolong aku. Aku tahu kamu hanya menjalankan tugas rajamu, tetapi kamu juga tidak menyukai dia.” aku menyambat mahkluk itu.




Jedeeeerrrr!!!




Tiba-tiba kilat menyambar. Kudengar suara Sawaka dari dalam kegelapan:






BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar