Sang pewaris part 21

 

BAB 21






Hujan kembali deras. Aku bediri di balik jendela kamarku yang menghadap balkon. Tatapanku tak berpaling pada curahan hujan dan riak kolam renang, sekali-kali kuhisap rokokku yang entah sudah batang ke berapa.




Waktuku tinggal seminggu untuk berangkat ke Anta, dan enam hari lagi Rere akan sidang skripsi. Itu artinya, aku hanya punya waktu sehari untuk mengatakan yang sebenarnya pada Rere. Aku yakin ia akan lulus dengan sangat memuaskan, dan aku harus meracuni kebahagiaannya setelah itu. Memutuskan status adalah keharusan, tiada pilihan, dan itu akan sangat menyakitkan.




Aku terus mengulur dan menunda semuanya ini karena dua alasan. Pertama aku tidak mau merusak persiapan sidang skripsi kekasihku; dan yang kedua karena aku memang belum siap, tepatnya tidak siap; dan tidak akan pernah siap. Aku telah memilih untuk menjadi seorang pengecut. Aku akan memutuskan hubungan kami dan langsung pergi tanpa melihatnya lagi. Aku yakin Rere akan sangat sakit hati, akan kecewa, mungkin terpuruk. Tapi ia gadis kuat, ia akan bisa bangkit. Aku? Akan lebih baik jika aku mati di Anta setelah menyelesaikan semua misi dan ritualku.




Tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang dengan lembut, diambilnya rokokku dan ia matikan.




“Mah..” keluhku.


“Anak mamah harus kuat, mamah ikut sedih kalau kamu sering melamun seperti ini.” lirihnya.




Aku mencoba tersenyum. Kubalikan badanku, dan kulihat mamah sudah berlinang air mata. Kesedihannya semakin menyayat hati dan menambah kegundahanku. Ingatanku kembali ke peristiwa seminggu yang lalu.








Aku masih belum bisa memejamkan mata. Seminggu ini aku sulit tidur, dan baru bisa terlelap ketika yang lain mulai bangun.




Aku melirik ke arah pintu kamar yang tiba-tiba terbuka perlahan. Tidak kudengar ketukan terlebih dahulu. Sosok mamah muncul dengan piyama tidurnya.




“Mah?”


“Kamu belum tidur, sayang?” ia kembali menutup pintu lalu mendekat dan duduk di tepi ranjang.


“Belum ngantuk, Mah.” kuletakan smasrphone-ku di atas meja kecil.




Aku mencoba tersenyum untuk menyembunyikan kegelisahanku. Tapi seorang ibu tidak pernah bisa dibohongi.




Tangan mamah terulur mengusapi rambutku, tatapannya sungguh menggambarkan rasa sayang yang sangat besar, namun juga bercampur kekhawatiran.




“Belakangan ini, mamah perhatikan kamu sering murung, sayang. Ada apa? Mau cerita ke mamah?” ujarnya.




Mulutku terbuka untuk berbohong, tetapi bibirku tiba-tiba terasa kelu. Maka hanya desah panjang yang kukeluarkan. Melihatku, mamah naik ke atas kasur dan memindahkan kepalaku supaya pindah ke atas pangkuannya. Belaian lembutnya berbanding terbalik dengan sorot matanya yang semakin menggambarkan rasa khawatir.




“Rere, Mah.” keluhku nyaris tidak terdengar.


“Ada apa dengan Rere? Mamah lihat hubungan kalian baik-baik saja.”




Rahasia yang masih kusimpan pun akhirnya kusampaikan. Aku selalu tidak bisa berbohong di depan mamah. Kuceritakan kedatangan Sawaka ke kantorku kala itu. Tak sedikit pun yang kututupi.




Tanpa kusadari mataku sedikit berkaca. Mamah malah menangis dan langsung menarikku. Pelukannya sangatlah erat.




“Apa tidak ada pilihan lain, sayang? Hiiiks…”




Aku menggeleng. Pertanyaan itu sama dengan pertanyaanku pada Sawaka, dan jawabannya hanya bisa menuruti kemauannya. Aku pun menitikan air mata di dalam dekapan mamah.




“Hiiks.. maafkan mamah, sayang. Maafkan ayahmu dan kami semua.” ujar mamah di sela isak tangisnya.


“Gak ada yang harus dimaafin, Mah.” pelanku.


“Tapi gara-gara tradisi leluhur, sekarang kamu harus ikut menanggungnya.”




Mamah mengangkat kepalaku, ia mengecupi kening dan kedua pipiku sambil berlinang air mata. Kesedihan dan kesakitanku sudah menjadi milik mamah juga.




“Rana.. hiiiks… Aya.. hiiiks…” mamah masih terisak, kali ini sambil menyebut nama kedua sepupuku.




Mungkin mamah bukan hanya sedih karena aku harus putus dengan Rere, tetapi juga karena aku harus menjalani hubungan incest dengan salah satu dari mereka dalam ritual.




Mamah pun menyampaikan kegelisahannya. Di satu sisi ia tidak keberatan jika aku memutuskan untuk tidak menjalankan ritual, tetapi di sisi lain ia juga tidak mau kehilangan Aya atau Rana. Kini mamah merasakan dilema yang sangat besar, sebuah dilema yang sama, yang sangat mengangguku selama ini.




“Sayang, kamu dengarkan mamah.” ia mengusapi air matanya sendiri. Mengusap jentik air mataku setelahnya.


“…” sambil menatap mamah.


“Kekasih bisa diganti, tetapi nyawa tidak. Selamatkan nyawa sepupumu, sayang, meskipun dengan itu kamu harus kehilangan kekasihmu.” ujar mamah dengan bibir bergetar.




Mamah benar. Itu adalah pilihan terbaik. Aku pun mengangguk, namun kembali menitikan air mata setelah itu. Dadaku terasa begitu sesak.




Melihat kesanggupanku, mamah tersenyum. Sebuah senyum getir penuh kesakitan karena melihat aku, anaknya, yang harus menderita.




“Aku titip jagain dan kuatin Rere, ya Mah, semoga setelah aku kembali ia bisa memahamiku dan menerimaku apa adanya.” ujarku.


“Itu pasti, sayang. Tapi untuk kembali… hiiiks…” tangis mamah malah semakin keras


“Kenapa, Mah?” aku heran.




Mamah semakin menangis. Dan aku hanya bisa membiarkannya, kali ini aku yang mendekap mamah.




Lima menit kemudian mamah baru mengurai pelukan, “Sejak dulu sampai zaman ayahmu, tidaklah boleh menikah dengan pasangan ritual.”




Aku mengerutkan dahi, bingung mendengar ucapan mamah. Kuulurkan tangan untuk merapikan rambut mamah dengan perasaan heran.




“Mamah belum bisa menyampaikannya sekarang, mamah harus bicara dulu dengan ayahmu.” suara mamah terdengar gamang.




Akhirnya, aku dan mamah hanya bisa saling menyampaikan kesedihan, dan juga saling meneguhkan. Kehadiran dan nasihat mamah telah menjadi energi bagiku, aku merasa lebih tegar, dan memantapkan hati untuk melakukan perjalanan ke Anta.




Setelah itu mamah keluar kamar untuk bilang pada ayah, bahwa malam ini ia ingin tidur di kamarku.










Mamah mengajakku duduk di atas sofa. Tidak ada air mata. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan dengan senyum kasih sayang yang tiada batas.




“Mamah dan ayah..” mamah memulai percakapan. Tangannya tak henti menggenggam tanganku, sekali-kali mengusapi tepian rambutku yang tidak kusut


“… sudah mengumpulkan para wanita ritual ayahmu, dan kami sudah berbicara tentang rencana ritualmu.”




Aku tercekat mendengarnya. Mamah seorang wanita hebat, yang bisa menerima dan bersahabat dengan wanita-wanita yang pernah ayah tiduri.




“Kami akan menyatukan kekuatan dan membantumu supaya kamu bisa menjalani setiap rintangan sebelum ritual.” ujar mamah lagi.




Aku tersenyum mendengarnya. Aku merasa lebih kuat dan tegar. Namun bukan berarti tidak lagi takut. Aku malah takut kalau aku gagal dan membuat mereka semua kecewa.




“Kamu tenang saja, sayang. Kalau kamu sampai gagal, kami sudah mempunyai rencana kedua. Tapi mamah tidak bisa bilang sekarang.” ujar mamah lagi. Ia seolah bisa membaca kegamanganku.


“Makasih, Mah.” hanya itu yang bisa kuucapkan.




Mamah pun menepuki pipiku, dan mencium setelahnya.




“Eh, Mah..” aku tiba-tiba teringat sesuatu.


“Apa?”


“Kapan pertemuannya?”


“Tadi pagi, ayahmu tidak ngantor hari ini.”


“Berarti ada Tante Nur dan Tante Maya donk?”


“Ada.”


“Di mana, Mah.” aku bersemangat.




Sejenak aku bisa mengalihkan kesedihanku karena harus kehilangan Rere. Aku sangat ingin berjumpa dengan Tante Nur yang sudah sangat lama tidak bertemu.




“Maaf, ya sayang, Tante Maya hanya nitip salam. Ia harus langsung kembali ke Jakarta karena nanti malam harus terbang ke Belanda bareng Ommu. Kamu kan sudah tahu kalau perusahaan keluarga kita sedang menjajaki kerjasama denganRDS.


“Kalau Tante Nur?” aku masih berharap agar kekecewaanku karena tidak bertemu Tante Maya bisa terobati dengan bertemu Tante Nur.


“Tantemu sedang bareng Aya.” jawab mamah.


“Kok gak nginep di sini?”


“Hihi.. nanti kamu akan tahu sendiri.”


“Mah?”


“Apaah?!” mamah malah menggoda.


“Mamah mah gitu.” aku pura-pura kesal.




Mamah pun tertawa sambil menjembeli pipiku. Tapi tawanya langsung berhenti, wajahnya kembali sendu.




“Kenapa, Mah?”


“Kamu masih mikirin Rere?”


“….”




Diamku sudah menjadi jawaban bagi mamah. Tidak mungkin aku bisa melewatkan gadis itu dari ingatanku.




“Maaafkan mamah dan tantemu, yah. Maafkan ayah dan kakakmu juga.” suara mamah sangat lembut.


“Kok minta maaf. Memangnya kenapa, Mah?”


“Karena Rere adalah…”


“Mamaaah!! Jangan bilang dulu iiiih…!!!” tiba-tiba kakak sudah berdiri di ambang pintu kamarku.




Mamah urung melanjutkan penjelasannya. Aku hanya bisa melongo. Kakak malah langsung menarik mamah keluar kamar sambil memeletkan lidah padaku. Mamah sedikit kikuk, serba tidak enak. Kakak belum tahu bahwa sebetulnya aku dan mamah sedang sedih karena hubunganku dengan Rere yang harus kandas.




“Cepetan mandi, Dek. Bentar lagi Tante datang looh.” teriak Kak Kekey dari luar kamar.




Rupanya Kak Kekey sudah tahu kalau Tante Nur ada di Bandung, meski kuyakin ia tidak tahu alasan kedatangan si tante yang sesungguhnya. Tak lama kemudian, terdengar sedikit keriuhan di ruang bawah. Rupanya Nzi sudah pulang kuliah. Suara ceriwisnya langsung memenuhi seisi rumah.




Tak lama kemudian langkah sepatu terdengar menaiki anak tangga.




“Kakak…” ia meletakan tumpukan buku dan tasnya di atas meja kecil depan kamar.




Langkahnya panjang, tangannya terentang.




“Kamu kok kayaknya seneng banget, Dek?” aku menyambut tubuhnya.




Kukecup kepalanya, dan ia semakin erat memeluk.




“Hehe.. iya donk. Kan udah pake mobil baru. Makasih, ya Kak.” ia mendongak sambil memamerkan barisan gigi putihnya.


“Kayaknya bukan gara-gara mobil deh.” aku curiga.


“Hihi.. kok kakak tahu?”


“Emang kamu bisa bohong dari kakak?”


“Hehee.. nggak…” ia semakin ceriwis.


“So?”




Bukannya menjawab, Nzi malah menarikku. Kemudian kami duduk di atas sofa.




“Kak..” kali ini kedua pipi Nzi merona merah. Bahagia dan malu bercampur menjadi satu.


“…” sambil menatapnya heran sekaligus gemas.


“Kakak iih.. ngeliatin jangan gitu.” mulutnya berubah manyun


“Habisnya kamu aneh. Sooo? Kenapa Kenziii?!” gemasku sambil mengacak-acak rambutnya.


“Hehehe.. aku baru bilang ke kakak loh. Nanti abis ini baru ke mamah, ayah, dan Kak Kekey.” kekehnya.




Aku diam memandang, sikapnya membuatku semakin bingung.




“Aku.. aku… Kak Reiii.. aku baru ditembak kecengankuuu!!” serunya sambil merentangkan tangan.


“Haaah? Seriusan, Dek? Terus kamu terima?”


“Ya iyalah.. masa aku tolak sih? Secara dia kan.. hihi….”




Nzi langsung menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku. Bahagia dan malu bercampur menjadi satu.




“Jadi adik kesayangan kakak udah gak jomblo lagi, nih?” godaku.




Ia mengangguk dalam pelukanku. Tanpa ia tahu ada rasa sesak yang kembali menyeruak dalam dada. Adikku mulai menemukan bahagianya, sedangkan aku berbanding terbalik, laraku semakin di depan mata.




“Boleh, kan Kak?” ia mengangkat wajah.


“Boleeeeh.. tapi ingat harus bisa menjaga diri dan jangan sampai mengganggu kuliahmu.”


“Siap!!! Hehehe…”


“Wah hari ini hari berkabung para cowok donk, dek, secara adik kakak yang cantik ini udah gak jomblo lagi.”


“Hihi.. iya, donk.” ia berlagak sombong.




Nzi pun bercerita tentang sang idaman yang telah mencuri hatinya. Pemuda itu satu angkatan dengan Nzi hanya beda fakultas; dan adikku sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama ketika bertemu semasa orientasi kampus.




“Yaudah sekarang bilang ama mamah dan Kak Kekey.”


“Kak Rei yang bilangin.” rajuknya.


“Iih kok kakak? Yang pacaran siapa, yang bilang siapa?”


“Kaak? Please.. aku malu.”


“Siap!!” aku pun langsung berdiri dan keluar kamar.




Nzi mengikutiku dari belakang. Setibanya di ujung tangga aku melongok ke bawah sambil berpegangan pada dinding tangga.




“Mah.. Kak…” teriakku.




Tentu saja Nzi kaget. Mamah dan kakak mendongak, pun pula ayah yang baru keluar kamar.




“Nzi udah pacaran nih.” teriakku lagi.


“Haaah?!!!” serempak dari bawah.


“Kakak bukan gitu caranyaaa!!!” Nzi teriak protes.




Aku terkekeh dan langsung melarikan diri ke dalam kamar. Cepat-cepat kututup dan kukunci pintu dari dalam karena Nzi mengejar. Kuraih handuk sambil terkekeh saat terdengar keriuhan di luar. Kuyakin Kak Kekey langsung mengintegrogasi Nzi di depan ayah dan mamah.




Usai mandi aku keluar kamar sambil menelpon. Rere memberi kabar bahwa mamahnya sudah datang dan kami janjian untuk saling ketemu. Kami sepakat besok malam. Hari ini ia dan mamahnya akan berkunjung ke rumah saudara mereka.




“Rei.” tiba-tiba ayah memanggilku. Ia sedang duduk di kursi santai dekat perpustakaan keluarga.


“Iya, Yah?”




Aku urung turun, dan duduk di depan ayah.




“Kita bicara, tadi mamahmu pasti belum cerita semuanya.” ujar ayah.




Kutatap wajah ayah dengan heran, tumben-tumbenan ayah seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari mamah.




“Tentang ritualmu.” ayah mempertegas arah pembicaraan.


“Gimana, Yah?” lalu kusulut rokokku.


“Mamah dan kakakmu sedang membuat kejutan untukmu, namun semuanya sedikit berantakan karena Si Sawaka.” gumam ayah. Nampak kalau ayah sedang gelisah.


“Kejutan apa, Yah?”


“Kamu beneran sayang, Rere?” ayah seperti mengalihkan pembicaraan.


“Iya, Yah, sangat sayang.” jujurku.


“Lalu?”


“Maksud Ayah?”


“Perjuangkan cintamu!! Asal kamu tahu, dulu ayah pernah gila karena hampir kehilangan mamahmu, dan ayah tidak ingin itu terjadi padamu.” ujar ayah.


“Jadilah laki-laki! Jangan menyerah!” suara ayah terdengar dalam dan penuh wibawa.


“Ayah kan tahu kalau meninggalkan Rere adalah syarat ritual.” aku gamang.


“Gini, Rei, kita bicara sebagai laki-laki. Dan mamahmu tidak perlu tahu.” ayah menunjukan karakter yang berbeda. Setahuku ayah tidak pernah berbohong apapun pada mamah. Tapi aku hanya diam karena belum mengerti maksud omongan ayah.


“Rere, kekasihmu, adalah anak tantemu! Itulah alasannya mengapa mamah dan kakakmu sangat sayang dia.” ayah menghembuskan asap rokoknya.




Jedeeeerrrr!!!!




Aku langsung batuk tersedak asap rokok. Mataku berair. Nafasku sedikit tersengal karena jantungku seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.




“Yah?”


“Gini, Rei, semua bermula ketika kamu marah ketika mendengar kalau ayah dan mamah mau menjodohkanmu dengan Inka…”








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar