BAB 20
Aku mengerjap ketika merasakan kecupan lembut pada bibirku. Indahnya hari, ketika kubuka mata yang pertama kulihat adalah paras cantik kekasihku. Bukan hanya mataku yang dimanjakan oleh pemandangan cantik parasnya, penciumanku juga langsung disuguhi aroma kopi yang begitu menggugah selera.
“Pagi, sayang. Bangun yuks.. udah jam setengah delapan loh.” lirihnya lembut.
Aku tidak menjawab, kubelai pipi kekasihku yang masih merunduk di atasku. Kukecup bibirnya dan ia membalas sejenak.
“Bau aceeem. Ayo banguuun…” rayunya dengan suara hidung.
Aku pun bangkit, duduk di atas kasur, masih enggan turun. Ia mengambil cangkir di atas meja kecil dan menyodorkannya padaku. Kuseruput penuh nikmat di bawah pandangan dan senyum mesra jelitaku.
“Makasih, sayang.” ujarku tulus.
Kekasihku mengangguk. Tangannya terulur merapikan rambutku, berakhir dengan belaian pada pelipis. Binar sayang sangat jelas terpancar, dan aku bisa merasakan betapa cintanya ia padaku, sebagaimana pula aku mencintainya.
“Mamah dan ayah sudah berangkat?” tanyaku.
“Udah tadi pas aku datang, mereka berangkat.”
Week end ini ayah dan mamah pergi ke Ewer untuk mengunjungi oma di sana. Nzi juga ikut menemani.
Aku tersenyum, sudah pasti mamah dan Nzi menemuiku sebelum berangkat; mungkin tidurku sangatlah nyenyak sehingga mereka tidak membangunkanku.
Kusodorkan cangkirku, dan ia meletakannya kembali di atas meja. Aku kembali berbaring.
“Sayaaang banguun.” ia gemas.
“Bentar lagi.” singkatku.
Kutarik pinggang langsingnya agar ikut berbaring.
“Pemalesan!” gerutunya.
Jelas ia tidak sedang kesal. Kaki kirinya ia tumpangkan di atas perutku, tangannya menarik rambut ke belakang. Bibir kami kembali bertemu. Cumbuan pagi yang sangat mesra saling kami berikan. Indah.. teramat indah.
Kuhisap bibirnya dalam-dalam, setelahnya bergantian ia yang mengisapku. Kecupan-kecupan kecil setelahnya.
“I love you.” rasa tulus kukabarkan.
Ia terkekeh bahagia. Tidak ada jawaban balasan, namun sikapnya sudah menunjukan rasa sayang yang sama.
Puas bermesra, kami saling melepas cumbuan dan mengurai pelukan. Aku melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan kekasihku duduk di depan cermin untuk merapikan makeupnya. Usai mandi, sosoknya sudah tidak ada, sedangkan tempat tidurku sudah rapi. Aku tersenyum ketika melihat pakaian ganti sudah menumpang di atas kasur. Kekasihku menyiapkannya layaknya seorang istri.
Tiba di ruang makan sudah ada Kak Rega di sana, kekasihku duduk di depannya sambil mengoles roti.
“Pagi, Kak.” sapaku.
“Rei.. rejekimu dipatok ayam tuh, jam segini baru bagun.” jawabnya sambil terkekeh.
Aku menanggapi dengan tertawa kecil. Kekasihku membela: “Tidak ada salahnya aku bangun siang di saat weekend,” katanya. Tak lama kemudian Kak Kekey keluar kamar dengan pakaian rapi.
Setelah memberikan ciuman selamat pagi pada pipiku ia berdiri di samping Kak Rega, dan pemuda itu melingkarkan tangan pada pinggang kakak. Ciuman tipis saling mereka berikan, pada bibir.
Rere meletakan piring di hadapanku. Lapisan roti yang sudah dipotong-potong ia suguhkan. Kami pun gobrol santai sambil menikmati sarapan dan secangkir kopi, kecuali Kak Kekey yang hanya minum jus.
“Kak malu ih..” gumamku.
Sikap jutek kakak hilang, berubah manja pada Kak Rega.
“Hehehe.. biarin mumpung gak ada Nzi.” kekehnya. Baik aku maupun kakak memang sering jaim pada pacar masing-masing jika ada Nzi.
Sikapnya tentu saja membuat Kak Rega gemas. Tangannya langsung melingkar pada bahu kakak supaya ia menyandarkan kepala pada bahunya.
“Yaank…” kekasihku iri.
Ia membuka mulut minta disuapi. Hadiah kecupan pada pipi ia berikan seusai aku menyuapinya.
Tiba-tiba saja suasana pagi ini menjadi ajang pamer kemesraan di antara kami berempat. Kedekatan semakin terasa, ada ikatan batin yang sangat kuat yang tercipta seolah kami sudah sungguh-sungguh menjadi satu keluarga.
Tepat jam sepuluh Kak Rega dan Kak Kekey berangkat. Mereka akan menemui Om Ega dan Tante Sore yang sedang ada di Bandung. Aku dan Rere sejatinya mau jalan-jalan ke mall, namun tiba-tiba saja gadisku malas pergi.
“Pengen disayang ajah.” manjanya.
Kupangku tubuhnya dan kami duduk di atas sofa di dalam kamarku. Kekasihku membuka sweater mininya, sehingga aku bisa leluasa mengelus bahunya. Ia mengenakan gaun terusan selutut dengan bagian atas tanpa lengan.
“Gantengnya aku.” ujarnya sambil mencucuki pipiku.
Ia pun memekik kecil dan terkekeh kegelian ketika aku menciumi bagian atas dadanya. Kukecupi belahan payudaranya, namun ia menahan kepalaku ketika ciumanku semakin ke bawah. Sambil menggelinjang kecil, ia mengejar mulutku, berbagi kuluman dan lumatan.
Tidak ada puasnya kami saling membelai, diselingi kecupan-kecupan kecil di sela obrolan mesra antara kami berdua. Tak jarang kami saling lumat ketika gemas. Sejauh ini kami masih bisa saling berkomitmen dan menjaga diri; tidak melakukan tindakan lebih karena kami sama-sama ingin mereguk indahnya perayaan cinta di ranjang pengantin suatu saat nanti. Ia hanya mengijinkanku mencumbunya, atau paling jauh membiarkanku mengelus pahanya.
Lewat tengah hari kami baru saling beranjak. Pergi jalan-jalan yang sempat tertunda. Hari ini aku berniat untuk selalu menemani dan memanjakannya. Keseharianku cukup sibuk, dan kekasihku juga fokus dengan kuliahnya. Hanya weekend seperti ini kami bisa banyak waktu untuk selalu berdua.
Setibanya di mall kekasihku selalu menggandeng lenganku, seolah ingin menunjukan bahwa aku hanyalah miliknya, pun pula sebaliknya. Banyak mata melirik, kagum sekaligus iri. Kekasihku malah seolah bangga mendapat tatapan-tatapan seperti itu.
Ketika menaiki eskalator, mataku tertuju pada sepasang sejoli yang juga nampak mesra. Jelas aku mengenalnya karena pemuda itu adalah Dante. Ia juga melihatku tapi nampak tidak terlalu menghiraukan. Mungkin lupa. Kami baru bertemu sekali di café ketika ia menjemput Tante Wulan. Sedangkan aku dan Tante Wulan sudah beberapa kali bertemu setelah itu, ketika kami menindaklanjuti rencana kerjasama kami.
Merasa ia tidak mengingatku, aku pun urung menyapa. Kuikuti langkah kekasihku kemana ia mau. Gadisku adalah gadis mileneal yang berasal dari keluarga berada, jalan-jalan dan belanja sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Tapi ia sama sekali tidak mengajakku memasuki satu toko pun, ia seolah tahu bahwa apapun yang ia ingini aku pasti akan membayarinya. Itu pasti ia tidak mau. Ia punya prinsip, tidak mau memanfaatkan kemapananku.
“Yank, tasnya bagus tuh.” ujarku.
Ia menarikku untuk terus berjalan.
“Yank, gaunnya keren tuh.”
Ia tak menggubris, terus saja berjalan tanpa melepas gandengan.
Selalu begitu ketika aku berniat untuk mengajaknya belanja. Akhirya kami hanya berkeliling tanpa satu toko pun yang mau kami masuki.
“Yank, kita mau kemana sih?” lama-lama aku bosan juga.
“Namanya juga jalan-jalan, masa mau diem aja?” kekehnya.
Andai saja bukan di tempat umum, tentu aku akan langsung memeluk dan melumat bibirnya. Aku benar-benar dibuat gemas.
“Aku lapar.” ujarku.
Aku berhasil membuat kekasihku menghentikan langkah.
“Mau makan apa?”
“Sop buntut.”
“Nggak.”
“Kok?”
“Kamu tuh kurang olahraga, jadi makannya harus dijaga.”
“Yank…”
“Nggak.”
“Iya.. iya…”
Setelah mencari-cari yang cocok dan selalu tidak mencapai kata sepakat, akhirnya aku dan Rere memutuskan makan sushi. Ia menggandengku memasuki sebuah restoran Jepang.
“Haaaai…” tiba-tiba seorang wanita menyambut kami.
Arischa yang sedang duduk dengan suaminya langsung berdiri dan melambaikan tangan. Perutnya nampak sedikit membesar pertanda sudah “isi”.
Perjumpaan penuh kehangatan. Aku dan Rere pun memutuskan untuk gabung bersama mereka. Menu tambahan kami pesan.
“Tokcer juga kamu, Zo. Udah berapa bulan?” gurauku.
“Yaiyalah.. Gengsi ama sang mantan kalau gak tokcer.” jawabnya sambil tergelak.
Mau tidak mau Arischa dan Rere pun tertawa, bedanya Arischa sambil mencubiti bahu suaminya. Mereka pun mengatakan bahwa janin mereka sudah tujuh minggu.
Kami pun makan bersama diselingi senda gurau. Tak juga malu saling berbagi kemesraan dengan pasangan masing-masing. Arischa yang dulu sempat menjadi sumber lara, kini menjadi gadis yang selalu membuatku tersenyum. Karena cinta matinya pada Enzo, aku bisa menemukan Rere. Tuhan memang adil, dan selalu punya cara untuk memberikan jodoh terbaik bagi umat-Nya.
Sisanya aku dan Enzo berbicara tentang karier dan bisnis, sedangkan kedua wanita kami bergosip tentang kehidupan kaum perempuan.
“Kalau bisa sih akhir tahun sudah beres, Zo. Jadi kami bisa memulai tahun baru dengan manajemen baru.” ujarku sambil memantik rokok.
“November beres.” Enzo yakin.
Ya. Aku memang menggunakan jasa PT. Luragung Mas milik sahabatku yang satu ini dalam membangun gedung baru untuk perusahaan kopi kami. RSP dan N&N sudah menandatangani MoU di hadapan pengacara dan notaris untuk berada di bawah satu payung perusahaan. Desain gedung baru berlantai lima sudah kami buat dan IMB sudah berada di tangan.
Pembicaraan antara aku dan Enzo beralih ketika Rere dan Arischa pamit ke toilet. Enzo kembali memaparkan rencananya untuk mengambil alih perusahaan milik kakeknya yang kini dikuasai secara semena-mena oleh sang ayah. Ia juga sudah menempatkan tiga orang kepercayaannya pada posisi penting di perusahaan ayahnya dan siap menjalankan rencana untuk menggerogoti dari dalam.
Tugasku sebetulnya sederhana, yaitu mempertemukan Enzo dengan Tante Wulan. Tapi dalam praktiknya tidaklah sesederhana rencana, wanita itu sangat sulit didekati. Komunikasi dan pertemuanku dengan wanita itu hanya sebatas bisnis, dan tidak lebih dari itu. Sepertinya ia adalah wanita yang licin dan selalu bertindak hati-hati. Nama baik dan kehormatan keluarga sangat ia jaga, namun nafsu syahwat juga terpenuhi tanpa tercium media.
Tentang perselingkuhannya tidak aku sampaikan kepada Enzo. Biar bagaimana pun wanita itu adalah ibu tiri sahabatku, meskipun Enzo tidak menganggapnya begitu. Jangankan ibu tiri, ayah kandung pun ia benci.
Aku dan Enzo mengalihkan pembicaraan ketika kedua sosok cantik kembali.
“Dasar cowok!! Liburan juga masih ngomongin kerjaan!” Arischa cemberut dan langsung dirayu suaminya supaya tersenyum kembali. Rere membumbui dan ikutan merajuk.
Setengah jam kemudian kami pun pisah. Enzo dan Arischa menuju supermarket untuk belanja keperluan sehari-hari, sedangkan Rere tiba-tiba membatalkan rencana nonton. Ia mengajakku pulang.
“Pengen berdua aja.” ujarnya ketika kutanya alasannya.
Kekasihku benar-benar manja. Sikap judesnya yang kadang muncul hari ini sama sekali tidak terlihat. Kemesraan antara Enzo dan Arischa membuat kekasihku “iri”, inginnya hanyalah memanjakan diri dalam pelukanku.
https://t.me/cerita_dewasaa
Deras. Teramat deras hujan sore ini. Guntur dan halilintar pun terus bergemuruh. Aku terkapar di ruang kerjaku, sementara kantor sepi karena semua staff dan karyawan sudah pulang. Tubuhku tak berdaya, lemas dan penuh luka. Amarah dan laraku tak lagi bisa tersalurkan.
Kekuatanku tidak sebanding dengan kesaktian Sawaka. Meski menampilkan wujud manusia, ia terlalu tangguh untuk kulumpuhkan.
“Apakah tidak ada pilihan?” ujarku di sela erangan. Kuusap bibirku yang sobek dan berdarah.
“Maafkan aku.” jawab Sawaka yang sedang duduk di atas sofa sambil menghisap lintingan tembakau.
Tak terasa air mataku berlinang. Bukan sakit tubuh ini yang membuatku sedemikian lemah, namun perih di hati yang nyaris tak mampu kutanggung lagi.
Mahapatih Sawaka sudah berada di ruangan kerjaku sejak sejam yang lalu. Ia datang untuk menyampaikan bahwa perjalanan ritualku sudah semakin dekat dan aku harus segera bersiap. Rintangan ketiga pun ia sampaikan.
Kalau dua bulan lalu Nyi Mantili memberi kabar gembira karena aku sudah berhasil melewati dua rintangan dengan tidak menggauli Bunda Rahma (1) dan Rana (2), kini Mahapatih Sawaka datang memberi kabar menyesakan. Rintangan ketiga sudah ia sampaikan.
Betapa marahnya aku ketika ia memberitahu bahwa aku harus datang ke Anta selepas menjalankan rintangan ketiga. Dan itu adalah melepaskan gadis yang paling dan sangat kucintai: Rere.
“Bukan masalah Rerenya, tapi kamu diuji apakah sanggup berkorban untuk kepentingan yang lebih besar atau tidak,” ujarnya.
Ungkapan Mahapatih Sawaka tentu saja membuat emosiku meluap. Semua keputusan bersifat sepihak dan aku hanya bisa menerima. Kuserang Sawaka dengan segala amarah, namun hasilnya seperti ini. Aku terkapar berlumur darah.
Aku lelaki, dan kini mataku bukan hanya berlinang, melainkan berubah tangis diam. Air mataku meleleh tanpa bisa kubendung. Wajah kekasihku terus berkelebat. Senyum dan manjanya yang menyukakanku kini berubah menghantui. Jutek dan judesnya yang sering membuatku gemas sekaligus tak berkutik, kini menjadi cuka yang menyiram luka. Semua ingatan dan kenangan terus membayang, dan semuanya terasa begitu menyakitkan.
“Apakah aku bisa kembali pada Rere setelah aku kembali dari Anta?” tanyaku sambil beringsut lemah. Aku duduk di atas lantai dan bersandar pada dinding.
“Aku hanya menjalankan perintah Raja Anta, tentang nasib cinta dan hidupmu aku tidak tahu.” tegas Mahapatih Sawaka, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh kondisiku saat ini. Sikapnya sangat tenang, terkesan dingin.
“Aku tidak peduli!! Aku tidak akan pernah datang ke Anta, dan membatalkan semua tuntutan ritual kalian.” tegasku meski sambil sedikit meringis karena rahangku yang bengkak dan memar.
“Kamu rela gadis ritualmu mati karena kesalahanmu?” Sawaka mengintimidasi.
“Apa peduliku?! Aku tidak kenal dia!!”
Kuusap air mataku dengan kasar. Susah payah aku berdiri, namun tidak berhasil. Aku kembali duduk, kakiku teramat sakit.
“Dengarkan aku…” suara Mahapatih Sawaka terdengar tegas dan berwibawa. “Bukan hanya nafsu yang harus kamu kalahkan, tetapi juga egomu sendiri. Ujian ketiga adalah egomu, dan kamu dituntut untuk bisa berkorban. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa melewati rintangan-rintangan selanjutnya.”
“…” aku tidak peduli. Aku hanya mendengar tanpa menyimak.
“Kamu ingin tahu siapa gadis ritualmu?” tanyanya, kali ini sambil mendekat dan berjongkok di hadapanku. Kubalas tatapannya, inginku adalah meremukan hidungnya, tapi mengepalkan tangan saja aku sudah tidak sanggup.
“Kamu sudah tahu wanita-wanita ritual ayahmu?” tanyanya lagi. Aku tetap diam. Nafasku tersengal.
“Raja Anta sudah memutuskan, gadis ritualmu adalah salah satu dari sepupumu. Kalau bukan Rana, maka Aya yang akan terpilih!!! Menolak ritual, berarti kamu membiarkan salah satu dari mereka mati!!”
Jegeeeeerrrr!!!
Kaca jendela kantorku bergetar karena suara halilintar yang menggelegar. Penjelasan Mahapatih Sawaka bukan hanya membuat aku yang terkejut, namun juga alam semesta.
Aku hanya bisa lemas. Rana jelas adalah putri tunggal Tante Maya, dan Aya adalah putri tunggal Tante Nur. Meskipun sudah belasan tahun tidak bertemu, semasa kecil aku sangat dekat dengan Aya. Tante Nur juga sangat menyayangiku, ia memberikan kasih sayang yang sama baik pada Aya maupun padaku. Celakanya, baik Tante Maya maupun Tante Nur, keduanya hanya memiliki anak tunggal. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana laranya hati mereka ketika putri semata wayang mereka harus direnggut maut. Aku pasti tidak bisa memaafkan diri sendiri jika hal itu sampai terjadi.
Aku sungguh dilema, terkapar di antara dua pilihan yang sama sekali tidak menguntungkan. Aku hanya bisa meratap dan mencaci, sementara yang kuumpat hanya diam tanpa menunjukan ekspresi rasa bersalah.
“Waktumu tinggal dua minggu lagi, Rei. Semua keputusan ada padamu, aku pulang.” ujar Mahapatih Sawaka.
Sebelum berdiri ia menghembuskan nafasnya pada wajahku. Ada asap putih yang keluar dari mulutnya bersamaan dengan energi hangat yang kurasakan. Tubuhku dikelilingi asap, dan bersamaan dengan itu seluruh sakitku hilang. Tenagaku pulih seketika. Ingin kulanjutkan pertarungan, namun sosoknya sudah menghilang.
Ingin aku berteriak, tapi takut satpam di bawah mendengar. Ingin kutendang kursi, tapi takut kakiku cidera. Sudah tak ada lagi Sawaka yang bisa menyembuhkanku. Ingin kuterabas kaca jendela dan meloncat keluar, tapi aku belum ingin mati, aku masih belum lepas perjaka. Bisaku hanya meremasi rambut dengan perasaan yang sangat tidak karuan.
Kuambil smartphone-ku yang tergeletak di atas meja. Kubuka folder foto, kupandang momen-momen indahku bersama Rere yang pernah kami abadikan. Kalau biasanya aku memandang dengan perasaan bahagia, kini hanya nyeri yang kurasa. Air mataku kembali berlinang.
Merasa tak sanggup lagi memandang paras kekasihku, kubuka foto-foto Rana sepupuku. Air mataku malah semakin menderas. Masa depan hidupnya bisa saja berada di tanganku. Nyeri di hatiku semakin berlipat, rasa dan anganku bagai diremas. Kucari-cari pula foto Aya. Maka terpajanglah momen-momen masa kecil kami, banyak pula pose saat kami bermanja di atas pangkuan Tante Nur. Aku bukan hanya berlinang, tapi terisak. Seluruh bangunan hidupku runtuh, aku bagai menjelma menjadi pemuda tak bersukma. Tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa bisa mengambil keputusan.
Kuletakan kembali smartphone-ku. Menelpon Rere pun aku tidak sanggup. Mendengar suaranya akan membuat lukaku semakin menganga.
Namun semesta sedang benar-benar tidak berpihak padaku. Layar smartphone-ku berubah, ada panggilan dari kekasihku.
Aku hanya memandang layar dengan tatapan kosong, jangankan mengangkat, menyentuh pun tidak.
Panggilannya berhenti. Aku menghembuskan nafas panjang, entah lega entah sedih.
Ia memanggil lagi. Aku masih tak bergeming. Pada panggilan ketiga baru aku mengangkatnya. Jantungku berdetak kencang, nafasku tersengal.
“Yank.” aku berusaha menjawab dengan suara wajar.
"Sayang, udah pulang? Kok lama angkat telponnya." suaranya terdengar. Suara yang selalu kurindukan, tapi kini seolah menyakitkan.
“Aku masih di kantor, ni baru mau pulang. Maaf barusan aku abis dari toilet.” aku beralasan.
“Uuuuh.. kok pulangnya sore terus sih, yank? Jangan kecapean ah, jaga kondisi.”
“Iya, sayang. Ini kan udah mau pulang.”
“Hihi.. tapi kamu mampir dulu yah.”
“Loh kenapa?”
“Akunya kangen. Aku juga udah masakin sup ikan kesukaan kamu. Tadinya sih mau aku anterin ke rumah, tapi karena kamunya belum pulang, yaudah kamu aja yang mampir dan makan di apartemen.”
Rere tentu saja tidak tahu kalau air mataku kembali menjentik mendengar penuturannya. Aku tidak sanggup kehilangan kasih sayang dan perhatiannya; dan lebih tidak sanggup lagi membuat sinar hidupnya sirna karena kutinggalkan.
“Sayaang? Kok diem?”
“Hehee.. iyah.. iyah.. aku mampir. Tadi katanya jangan kecapean, tapi suruh ke apartemen?”
“Jadi kamu capek ketemu aku? Gitu?!”
“Muuuach.”
Kekasihku tidak tahu kalau aku melakukan ciuman jarak jauh sambil menitikan air mata. Setelah mengakhiri percakapan, aku pun melangkah gontai menuju kamar mandi. Aku tidak ingin Rere melihatku datang dalam keadaan kusut.
Setiap kali aku mau bertemu kekasihku, biasanya perjalanan selalu terasa lama, seakan tak kunjung sampai. Tapi tidak kali ini. Meskipun hujan deras dan macet dimana-mana, tetap saja aku merasa semuanya ini terlalu cepat.
Aku tidak perlu menekan bel karena aku memiliki kunci sendiri. Kubuka pintu. Kekasihku yang sedang menata meja makan menyambut riang, tangannya terentang.
“Kok lemes, yank? Capek yah?” ujarnya lembut.
Kujawab dengan senyuman. Kuletakan tas kerjaku di atas kursi, segera kurengkuh tubuhnya. Dekapan erat saling kami berikan. Kukecup kepalanya dengan bibir bergetar, menahan sesak dan sedih yang kembali menghampiri.
Rere memindahkan kedua lengannya dengan melingkari leherku, senyum hangat ia suguhkan, binar sayang ia pancarkan. Kukecup keningnya dengan lembut. Kekasihku menjinjit meminta lebih. Bibir kami bersentuhan dan saling mengulum hangat.
“Mau langsung makan atau mandi dulu?” bisiknya lembut.
“Makan aja.” singkatku.
Meski begitu aku tak melepaskan pelukan, malah kudekap semakin erat sehingga Rere menggelinjang.
“Sayaaang.. katanya mau makan.” ia berusaha mendorongku, namun aku masih enggan melepas pelukan.
Rere menepuki punggungku.
“Iyah.. iyah.. aku tahu kok kamu sayang aku. Udah donk meluknya.” ia terkekeh manja.
Ia tidak tahu bahwa aku tersedak haru mendengarnya. Ia sepenuhnya benar, tapi sekaligus juga terasa menyakitkan.
Cukup lama aku mendekapnya, dan bari terurai ketika ia mengeluh eungap. “Hari ini kamu beda, sayang.” ujarnya. Kuberikan senyumku tanpa menjawab. Tangan halusnya mengusap pipiku, kami saling tatap. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu ia menggandeng tanganku menuju meja makan.
Ia melayaniku dengan sigap layaknya seorang istri. Ia urung duduk di seberang meja ketika aku memintanya duduk di sampingku. Bukan apa-apa, aku takut ia menangkap sorot mataku yang berbeda. Syukurlah ia menurut.
Masakan Rere memang lezat, tapi lahapku hanya pura-pura. Sejujurnya aku tak bisa lagi menikmati, perutku malah terasa mual. Sebisa mungkin kutahan, dan kulahap habis isi piringku. Piring kedua kami saling menyuapi. Kemesraan ini harusnya membahagiakan, tapi tidak lagi bagiku. Pikiranku kalut dan semerawut.
“Nambah?” ia menatapku.
“Udah, sayang. Udah nambah dua kali juga.” aku menolak halus. Kusampaikan pula bahwa masakannya sangatlah lezat, membuat kekasihku tersenyum bangga bercampur bahagia.
“Jadi aku udah cocok jadi istri belum?” sambil tersenyum menggoda, kedua bola matanya berputar menggemaskan.
“Istrinya siapa?” aku mencoba menutupi perasaan tidak nyamanku dengan bercanda.
“Ada deh. Kamu pikir sendiri.” sambil memeletkan lidah.
Tanganku spontan menarik bahunya, langsung kukecup kening Rere dengan lembut. Rasa sayangku tercurah, dan yang tersisa di dalam dada hanyalah luka.
“Kamu yakin aku bisa menjadi suamimu?” sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga.
Rere mengangguk yakin. Kutarik mundur kursiku dan kuraih tubuhnya supaya duduk di atas pangkuan. Ia harus tahu bahwa aku sangat menyayanginya, dan namanya telah terpatri dalam hatiku sebagai istri idaman, meskipun nasib bisa berkata lain.
Rere membenamkan diri dalam dadaku sambil duduk menyamping. Sebetulnya sudah berulang kali ia mengatakan bahwa “hari ini aku beda”, tetapi selalu kuabaikan dan kualihkan dengan sikap maupun sentuhan-sentuhan mesra.
Sungguh aku belum siap. Tak akan pernah siap. Aku menderita mungkin aku masih bisa menghadapi, tetapi melihat kekasihku lara, aku tak akan bisa mengampuni diri sendiri.
“Yank…” lirihku sambil mengecupi kepalanya.
“Hmmm…?”
“Kalau.. ini mah kalau.. amit-amit… kalau semesta gak mengijinkan kita bersatu gimana?”
“Sayaaang!! Kok kamu ngomong gitu sih? Aku gak suka!” ia mendongak, wajahnya merengut.
“Kan kalau,.. sayang. Kita tidak akan pernah tahu yang namanya takdir.”
“Hihi.. takdir aku ama kamu.” setelah berkata begitu ia mengecup ujung daguku.
Aku pun kehabisan kata-kata. Cinta Rere padaku sudah tidak bisa terukur. Sedihku kembali menghampiri ketika dengan percaya diri ia mengatakan bahwa diriku tak akan pernah terganti.
“Aku gak akan pernah menikah dengan siapapun, kecuali dengan kamu.” ujarnya lagi.
Mataku langsung terasa panas mendengarnya, segera kedekap kepalanya agar Rere tidak melihat. Terlambat. Ia tahu.
Kekasihku langsung menegakan duduknya, tangannya menangkup kedua pipiku. Sangat jelas kalau keningnya mengkerut.
“Aku serius! Kamu kenapa, sayang? Kok malah sedih?” tegas dan tanyanya.
“Makasih. Aku sayang kamu, sangat sayang.” aku menjawab dengan bibir bergetar.
“Kok sedih?”
“Bukan sedih, sayaang. Aku terharu.. makasih yah.”
“Hihi.. lagian kenapa sih kita jadi ngobrolnya kayak gini?” telunjuknya mencucuki hidungku.
Tanpa komando, bibir kami langsung berpagutan. Saling mencecap, mengabarkan rasa sayang yang menggelora di dalam dada. Aku mengimbangi dengan lembut dan syahdu. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, ada perih yang tak terkira, dan sore ini aku belum siap menyampaikan semuanya. Aku belum siap meninggalkan Rere.
"I love you, Rereku.” bibirku tak mau mengkhianati rasa.
"I always love you, Rei.” Dan aku menangis dalam diamku.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar