BAB 19
Bandung mendung. Hampir setiap sore hujan, tak terkecuali sore ini. Entah apa hubungannya antara macet dan hujan, yang jelas setiap hujan turun kemacetan pun bertambah. Perjalanan pulang dari kantor yang seharusnya bisa kutempuh dalam tiga puluh menit, kini berkali lipat. Sudah sejam aku berjibaku dengan kemacetan, tapi belum setengah perjalanan kulalui.
“Macet, ya Rei?”
“Banget!”
Eh…!!! Aku langsung melirik ke samping. Tiba-tiba seorang wanita cantik sudah duduk di sebelahku, kehadirannya bagai angin, ada begitu saja.
“Nyi Mantili?”
“Aku datang karena disuruh suamiku.” gumamnya sambil menggaruk paha sehingga rok mininya terangkat.
Mau tidak mau aku pun menelan liur, tapi segera kualihkan pandanganku ke depan.
“Jadi sudah waktunya?” tanyaku.
“Tiga purnama lagi kamu harus datang ke Anta.”
“Apa?!!”
Aku protes. Tiga bulan lagi kekasihku sidang skripsi dan wisuda sebulan kemudian. Orangtuanya juga akan datang dan aku sudah berjanji untuk meminang Rere; menaikan level hubungan dari pacaran menjadi tunangan.
“Ini bukan tawaran, tapi keharusan.” suara Nyi Mantili terdengar tegas.
Kutatap wajah cantik Nyi Mantili dengan gusar. Kecantikannya tak lagi menggiurkan, sebaliknya membuatku sebal karena ia telah semena-mena mengambil keputusan.
“Ingat, Rei, jangan sampai apa yang sudah kamu mulai menjadi sia-sia.” ia seperti mengerti ketidaksukaanku.
“Maksudnya sudah kumulai?”
“Kamu harus melewati empat rintangan di Anta.” ia tidak menjawab pertanyaanku.
“Empat? Mahapatih Sawaka mengatakan bahwa ada tujuh rintangan yang harus kuhadapi. Kenapa Nyi Mantili bilang empat? Apakah kalian memberiku diskon?”
“Hehe.. kamu lucu, Rei. Udah ganteng, lucu lagi. Aku jadi pengen… hihi…” Nyi Mantili berubah genit. Ia mengubah duduknya menghadapku, dan langsung mencubit tanganku.
Ujubuneh!! Ternyata ia memakai atasan dengan belahan rendah, setengah gundukan payudaranya terpajang.
“Nyi, tolong jelaskan!” aku tidak mau khilaf. Tidak ada ruang untuk menepi dan bercumbu.
“Kamu sudah melewati dua rintangan, Rei, dan kamu berhasil. Ada satu lagi yang harus kamu hadapi, kalau kamu berhasil melewati yang ketiga, maka pada purnama ketiga kamu harus datang ke Anta.” ia menjelaskan
“Dua rintangan? Aku tidak melakukan apapun.” aku semakin heran.
“Hihi.. sinih cium dulu.”
Cuuuup!!
Bibir basah Nyi Mantili pun mengecup pipiku. Sebetulnya ia juga ingin mencium bibirku, tapi berhasil kutepis.
“Kamu sudah melaluinya, Rei.” mendapat penolakan dariku, ia langsung menegakan duduknya kembali.
“Pertama, ketika kamu berhasil tidak menggauli si Rahma, dan yang kedua ketika kamu tidak memerawani si Rana.” jelasnya.
Kampret!! Bangke!!! Kunyuk!!! Luwak!!! Aku sama sekali tidak tahu kalau dua peristiwa itu adalah bagian dari rintangan yang harus kulalui. Semula aku menyangka bahwa semua rintanganku harus kujalani di Anta. Usai memaki dalam hati, aku pun menyambat nama kekasihku. Karena Rerelah aku berhasil tidak khilaf, rasa cintaku yang teramat besar membuatku sadar kala itu.
“Hati-hati, Rei, cintamu pada Rere malah bisa menjadi penghalang. Kamu harus belajar dari Senja dan ayahmu yang nyaris gagal.” Nyi Mantili bisa membaca pikiranku.
“Yang ketiga apa?” aku tidak peduli pada nasihatnya.
“Itu rahasia! Tapi kamu harus bisa melewatinya kalau pasangan ritualmu yang sejati tidak ingin celaka!”
“Tapi…”
Bangke!! Belum juga aku mendebatnya, Nyi Mantili langsung menghilang. Aku hanya bisa menghela nafas. Kupandang padatnya jalanan dengan pikiran resah.
Eh…!! Segera kuambil dua helai rambut Mantili yang rontok. Aku tidak mau Rere melihatnya dan berpikir macam-macam. Ia akan tahu bahwa ini bukanlah rambut para wanita di sekitarku, karena warnanya yang hitam dan agak keriting. Rambut mamah, kedua saudari, dan para sepupuku tidak ada yang keriting.
Kuturunkan sedikit kaca samping untuk membuangnya, namun kuurungkan niatku. Rambut ini tercium sangat harum melebihi parfum. Iseng-iseng aku menggulungnya dan kuselipkan di dalam dompet. Untuk apa? Hanya sekedar iseng, karena keharumannya sangat khas dan belum kutemukan dalam parfum merk terkenal mana pun.
Aku kembali fokus menyetir, meskipun perasaanku mulai gelisah. Banyak tanya tentang rintangan ketiga yang harus kulalui; sekaligus takut jika harus meninggalkan Rere di saat-saat penting peristiwa hidupnya.
Karena sambil melamun, kemacetan pun tak lagi terasa mengganggu. Aku sendiri heran karena aku sudah tiba di depan rumah dengan selamat. Tubuh dan pikiranku sempat tidak sinkron, dan aku beruntung karena masih bisa pulang tanpa mengalami kecelakaan.
Kuberikan kunci mobil pada satpam dan kuminta dia supaya mencuci mobilku. Aku pun masuk ke dalam rumah. Rasa lelah dan gelisah langsung lumer ketika melihat kehangatan anggota keluargaku. Nzi sedang bermanja pada ayah, mamah duduk sambil membaca majalah, sedangkan Kak Kekey makan es krim sambil bersantai di samping mamah.
“Tuh kakakmu pulang.” ujar ayah.
Nzi pun menegakan duduknya dan semua mata memandang-menyambutku. Ritual salam dan cium kuberikan bergantian. Setelahnya Nzi langsung nempel padaku.
“Ada apa sih?” aku mencium sesuatu yang berbeda dari biasanya karena ada senyum-senyum menggoda yang ditujukan pada Nzi.
“Adikmu tuh.” ujar mamah.
“Ehem…!!” kakak berdehem.
“Kak..” selalu saja ia bertingkah seperti anak kecil.
“Ada apa sih, dek?”
“Ayah setuju, aku nggak, mamah netral, jadi sekarang semua keputusan ada pada Rei.” Kak Kekey menyahut, membuatku semakin bingung.
“Idiiih…!” aku menjembel pipi adikku yang tiba-tiba mencium pipiku. Jelas ia sedang ada maunya.
“Kak, aku ganti mobil boleh yah?” akhirnya Nzi menyampaikan maunya.
“Oalaaah.. memangnya kenapa?” sambil memencet hidungnya.
“Pengen pake matic, lagian kan mobilku yang sekarang udah lima tahun.”
“Ya kalau kakak sih….”
“Ehem…” Kak Kekey berdehem lagi, ia melotot ke arahku seolah menyuruhku untuk tidak setuju.
Ayah terkekeh, mamah hanya mesam-mesem melihat ulah ketiga anaknya.
“Kakaaaak.. Kak Rei belum jawab juga.” Nzi protes pada Kak Kekey.
“Emang mau ganti mobil apa?”
“Beemweeee…”
“Uangnya dari mana?” godaku.
“Ayaah dan mamah hehee… Kan ayah udah setuju.”
“Eh masih 1-1, Kenziiiii. Sekarang yang menentukan adalah Rei.” Kak Kekey protes lagi.
Kakak dan adikku bersahut-sahutan saling mempertahankan pendapat. Sikap keduanya malah menyukakanku, aku menunda menyampaikan pendapatku karena lebih seru melihat keduanya saling “bertengkar”. Ayah dan mamah malah saling tatap mesra seolah saling mengatakan: anak kita.
“Kaaaak…” kalah berdebat, akhirnya Nzi kembali merajuk padaku.
“Dasar anak kesayangan ayah. Ayah ma pasti mau memenuhi semua keinginanmu, dek.” ledekku.
“Kakak iiih.. jadi boleh gaaak?”
“Aku gak setuju kamu minta uang ke ayah untuk beli mobil.” jawabku tegas.
Kak Kekey bersorak penuh kemenangan. Ayah dan mamah nampak kaget, Nzi langsung merengut diam.
“Kok gitu sih, Kak? Kakak jahaaat!!” ia langsung melepaskan pelukannya pada lenganku.
“Ayaaah!! Ayah kok diem aja sih?” Nzi semakin manyun.
“Gini, dek. Katanya kamu mau membuat studio di bangunan belakang, jadi mendingan uang dari ayah kamu pakai untuk itu.” ujarku. Hobby Nzi memang nyeleneh sendiri, ia ingin menjadi seorang youtuber dan pernah bilang kalau ingin punya studio sendiri. Ia sudah punya kelompok nge-vlog dengan jumlah followers dan viewers yang lumayan. Yaiyalah.. secara adikku cantik.
“Lalu mobilnya?” ia masih keukeuh ingin ganti mobil.
“Kan ada boss Kekey, nanti aku patungan ama kakak.” jawabku.
Nzi pun bersorak kegirangan, sebaliknya Kak Kekey langsung marah-marah. Namun itu hanya ekspresi luar, jelas Kak Kekey tidak akan keberatan. Si bungsu adalah kesayangan kami yang sangat berharga.
Setelah keseruan kecil, akhirnya semua setuju. Nzi pun semakin girang. Tanpa diminta, dengan sedikit malu-malu, ia juga bercerita kalau saat ini sedang dekat dengan teman kampusnya, walaupun belum resmi pacaran.
Kini gantian ayah dan mamah yang menasihati Nzi. Kami sama sekali tidak keberatan, yang penting jangan sampai mengganggu kuliahnya. Aku sendiri yakin Nzi tidak akan mengalami kesulitan, karena ia gadis yang tekun dan cerdas.
Kebahagian dan kehangatan keluarga kami semakin lengkap ketika seorang pemuda datang. Kak Rega. Setelah menyalami kami berempat, ia pun mencium kening Kak Kekey dengan lembut diiringi koor dehemanku dan Nzi.
“Masih kurang satu nih. Rere kemana, Rei?” celetuk mamah.
“Lagi gak mau diganggu, Mah. Lagi menyelesaikan revisi bab tiga skripsinya.” jawabku.
“Kacian yang lagi dicuekin.” celetuk kakak sambil memeluk lengan Kak Rega yang duduk di sampingnya.
Kami pun tertawa. Jelas Kak Rega sudah tidak canggung karena kami sudah saling mengenal sejak lama, bahkan sejak sebelum ia dan kakak berpacaran. Calon iparku yang kini menjabat sebagai direktur SDM di FaF ini, juga sudah terbiasa memanggil orangtua kami dengan ‘ayah’ dan ‘mamah’.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar