BAB 18
Kekasihku sedang sibuk di depan laptopnya. Ia begitu bersemangat untuk bisa menyelesaikan kuliah semester ini. Sedangkan aku duduk di depan laptopku sendiri sambil menulis novel yang sempat tertunda karena kesibukan pekerjaan. Sore ini aku dan Rere sedang berada di apartemennya.
Merasa ideku buntu, aku pun berpaling menatap kekasihku yang sedang fokus mengetik. Tanpa sadar senyumku terulas menatap paras cantiknya. Merasa diperhatikan, ia pun menengok, keningnya mengkerut sejenak. Mulutnya ia monyongkan. Hanya itu, setelahnya ia kembali fokus.
Tiba-tiba ada rasa lain yang menyeruak. Pikiran dan ingatanku kembali pada peristiwa dua minggu lalu.
Pandangan mataku sedikit nanar ketika di dalam kamarku tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat seksi. Aku tidak perlu bertanya siapa dia, hatiku sudah mengatakannya. Meski begitu, aku juga heran karena yang menemuiku adalah Nyi Mantili, bukan Mahapatih Sawaka.
Penampakannya dalam wujud manusiawi berbanding terbalik dengan sosok harimau seram yang pernah kujumpai. Tubuhnya mungil dengan bibir tipis yang seksi, namun begitu, payudaranya nampak besar dan sekal. Lingkaran hitam dan puting di balik gaun tipis yang ia kenakan nampak menggoda.
“Kamu ingin ini?” ia malah menggoda.
Tubuhnya berputar dengan kedua tangan menangkup payudara. Mau tidak mau aku pun menelan liur.
“Aapa maumu?” aku tergagap.
“Waktumu sudah dekat, Rei. Sudah dekat…” jawabnya sambil duduk di atas kasur. Paha putihnya terpajang saat ia menumpangkan kaki.
“Kapan?”
Groaaaarrr!!!
Belum juga ia menjawab, tiba-tiba sosok putih harimau jantan menerjang Mantili dan membawanya keluar menembus kaca jendela.
Aku terbengong.
“Kak Rei, ayo makan.” adikku memanggil dari ruang makan.
“Waktunya sudah dekat.”
Kata-kata itu kembali terngiang-ngiang. Tapi aku tidak tahu kapan, dan akan seperti apa. Baik Nyi Mantili Maupun Mahapatih Sawaka tidak pernah lagi menemuiku setelah itu. Dan aku pun takut.. takut kalau aku harus kembali datang ke Anta dan meninggalkan Rere yang sedang membutuhkan support dan kehadiranku. Mungkin kepergianku akan terasa sebentar, tapi di dunia manusia bisa saja itu sangatlah lama.
Aku pun menghela nafas, dan mencoba kembali fokus pada laptopku. Tapi otakku tiba-tiba buntu. Imajinasiku tak lagi berkembang.
“Yank.” terdengar Rere memanggil.
Aku melirik. Ia memutar kursi duduknya, tangannya terentang.
Aku pun berdiri dan menghampiri kekasihku. Ia memelukku dengan erat dan hangat. Kukecup kepalanya, lalu kebenamkan di dalam dada.
“Capeek.” rajuknya.
Kukecup kembali kepalanya, ia pun mendongak. Kutarik bahunya supaya berdiri. Bibir kami langsung beradu; mengulum syahdu.
“Semangat!” ujarku di akhir ciuman.
Bukannya kembali melanjutkan pekerjaan, ia malah melingkarkan tangannya pada leherku.
“Pengen disayang ajah.”
“Manja!
“Hehehe..”
Kupangku kekasihku dan kubaringkan di atas sofa. Rupanya ia hanya mau bermanja-manja dan tidak sedang ingin dicumbu. Aku duduk dan ia rebahan dengan menjadikan kedua pahaku sebagai bantal kepalanya. Tangannya menurunkan rok untuk menutupi pahanya, sepintas aku masih sempat melihat kalau celana dalamnya berwarna krem. Ia memeletkan lidah saat menangkap arah lirikan mataku.
Kubelai rambutnya, kuusapi keningnya, kutelusuri garis alisnya. Tak jemunya aku memandang paras yang lekuknya sudah sangat kuhafal ini. Sekali-kali ia memejamkan mata untuk meresapi ungkapan sayang belaianku.
“Kamu!” ia menjembel pipiku.
“…?” sambil tersenyum menatapnya.
“Akunya makin sayang.” usai berkata begitu, ia langsung memamerkan barisan gigi putihnya.
Aku tidak menjawab, aku sudah lebih dahulu menyayanginya. Kuusapi pipinya, namun ia memindahkan tanganku ke atas kepalanya. Ia lebih ingin dibelai rambut.
Kemesraan diam kami sekali-kali diselingi kecupan-kecupan lembut, dan berakhir ketika senja datang.
“Aku pulang dulu.” aku berniat pulang.
“Gak boleh!” kekasihku manyun.
Meski begitu ia bangkit dan langsung merapikan rambut serta kemejaku. Kecupan lembut ia berikan pada bibir, dan aku mengecup kening setelahnya.
“Nanti aku makan di luar bareng teman-temanku yah.” ujarnya. Sebelumnya ia sudah mengatakan bahwa ia akan kumpul bareng teman-teman KKN-nya.
“Iyah. Pulangnya jangan malam-malam.”
“Iyah. Tapi nanti malam temani aku bobo.”
Kukecup keningnya sekali lagi untuk mengiyakan permintaannya. Kadang-kadang aku harus menelponnya sampai ia tertidur, tapi tidak setiap malam. Ia tahu kalau aku juga sering lelah karena kesibukan pekerjaan. Aku pun meninggalkan apartemen kekasihku dengan perasaan bahagia.
Setibanya di halaman rumah aku mengernyit karena ada mobil yang kukenal.
“Si Tante datang jam berapa, Pak?” tanyaku pada satpam.
“Baru sekitar setengah jam, bareng Neng Rana juga.”
“Oh gitu. Makasih, Pak.”
Aku pun terburu memasuki rumah. Di ruang keluarga nampak Tante Maya sedang ngobrol dengan ayah dan mamah. Wanita itu langsung berdiri menyambutku.
“Waah anak tante udah jadi boss kopi sekarang.”
“Ah Tante. Kok gak bilang-bilang kalau mau datang?”
Aku pun mencium tangan Tante Maya, dan ia mencium kedua pipiku setelahnya. Bukan hanya mencium, tapi juga kemudian memelukku.
“Tante kangen.” ujarnya tanpa menjawab pertanyaanku sama sekali.
Aku dan Tante Maya memang sangat dekat, kata mamah mungkin karena sewaktu aku bayi aku sering menyusu pada tante. Maklum umurku dan Rana hanya selisih enam bulan.
Setelah tante mengungkapkan rasa kangennya aku pun menyapa ayah dan mamah.
“Om gak ikut, Tan?”
“Ommu lagi ke Jogya sampai minggu depan.”
“Rana?”
“Dasar!! Tante yang kangen, kamunya malah nanya-nanya yang lain.” Tante Maya menjembeli pipiku dengan gemas, sedangkan aku hanya cengengesan.
Setelah ngobrol sebentar, mamah menyuruhku menemui Rana yang sedang di kamar Nzi. Aku pun naik. Nampak tiga gadis cantik sedang ngobrol seru sambil duduk di atas kasur.
“Ontaaa…” si tomboy nan imut Rana meloncat dari kasur dan memelukku.
“Hahaha.. kenapa datang gak bilang-bilang, Mboy?”
“Kangen gua. Apa kabar lu? Udah jadi boss ya sekarang?” cerocosnya tanpa mengabaikan pertanyaanku.
Kakak dan adikku tertawa melihat tingkah Rana. Setelah pelukan Rana terlepas, aku pun mencium pipi Kak Kekey dan Nzi bergantian. Kami pun ngobrol berempat. Rana banyak ngoceh dengan gaya khasnya. Obrolan kami semakin seru ketika Inka datang.
Aku dan kedua saudariku mendapat tontonan seru ketika melihat sikap kedua gadis itu. Inka dan Rana memang sangat dekat, tetapi juga banyak getreng (tidak akur)-nya. Keduanya selalu saling merindukan, tetapi juga selalu ada saja celah untuk diperdebatkan. Mungkin mereka saling rindu untuk “bertengkar”. Sayang Rere tidak bisa datang, kalau ada dia, aku akan semakin dikelilingi gadis cantik.
Aku sempat menjadi bulan-bulanan ketika Rana menginterogasiku tentang Rere, Inka malah membumbui dan membuat Rana semakin penasaran. Untung ada Nzi yang selalu menjadi pembela. Adikku sudah sangat dekat dengan kekasihku, dan keduanya seperti tidak dapat lagi dipisahkan. Malah sekarang, adikku lebih banyak curhat pada Rere daripada pada kakak.
Jam tujuh malam kami berkumpul di ruang makan. Percapakan acak penuh keseruan saling kami lontarkan, tak terasa makan pun sampai dua jam. Setelahnya baru para cewek menggosip di kamar kakak, sedangkan aku diajak ngobrol berdua oleh Tante Maya. Itu pun karena mamah yang meminta kami berbicara berdua, tanpa melibatkan ayah dan mamah.
“Ayah dan mamahmu sudah cerita, Rei.” ujar Tante Maya mengawali percakapan. Kini kami sedang duduk berdua di gazzebo taman belakang.
“Maksud, Tante?”
“Halah.. udah jangan pura-pura. Tentang ritualmu. Tante tahu kok.”
Mendengar jawaban Tante Maya aku hanya terkekeh getir. Ada perasaan asing yang tiba-tiba menghinggapi ketika ingat bahwa wanita di hadapanku ini adalah pasangan ritual ayahku di masa lalu.
“Ada yang mau tante sampaikan ke kamu, dan tante harap kamu bisa mengerti…” Tante Maya pun bercerita tentang perjuangan ayahku sebagai orang terpilih untuk meneruskan ritual Om Senja yang tertunda. Tante Maya sendiri tidak menutupi bahwa ia menjadi salah satu dari wanita ritual ayahku.
Sekarang aku mengerti mengapa mamah meminta kami berbicara berdua saja, mereka merasa tidak enak hati jika harus menyampaikan sendiri “aib” orangtua secara langsung kepada anaknya.
Aku sendiri sebetulnya sudah tahu melalui penuturan Bunda Rahma. Tapi pengakuan Tante Maya tetap saja membuat perasaanku sedikit tidak karuan. Bangga, haru, dan sedih bercampur menjadi satu. Bangga karena orangtuaku dan Tante Maya tidak berniat menutupi masa lalu mereka; haru karena ritual ayah tidak membuat cinta mamah luntur, tidak juga membuat keutuhan keluarga terpecah. Sekaligus juga sedih, karena bukan tidak mungkin aku pun harus melakukan ritual dan menggagahi perempuan lain, selain Rere.
“Semoga setelah mendengar cerita tante, kamu tidak mengubah penilaianmu tentang ayah dan mamahmu, juga tentang tante.” Tante Maya mengakhiri kisah panjangnya.
Aku mengangguk. Kubalas tatapan Tante Maya yang teduh, ia pun tersenyum penuh harap.
“Aku tidak pernah berpikir untuk membenci ayah, mamah, dan juga tante. Kecewa pun tidak.” tegasku.
Tante Maya pun berlinang air mata haru. Ia menggeser duduknya dan memelukku erat.
“Tante sayang kamu, Rei. Berjuanglah semampumu untuk mengalahkan Raja Anta.” lirihnya sambil mengusapi rambutku.
“Iya, Tante. Doakan yah.”
“Itu mah tanpa kamu minta juga, tante pasti mendoakan kamu.”
“Aku akan berjuang, tapi juga takut.” kusampaikan sedikit rasa gusarku.
“Takut kenapa?”
“Takut gagal, dan membuat tante, ayah, dan mamah kecewa.”
Mendengar ucapanku, Tante Maya melonggarkan pelukan, tangannya berpindah menangkup kedua pipiku.
“Kamu tidak perlu takut, sayang, kami akan selalu mendukungmu. Dan jika kamu gagal, kami tidak akan pernah menyalahkanmu. Kami akan tetap menyayangimu.”
Aku pun tersenyum, kini aku merasa tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Tante Maya mengecup keningku penuh kasih sayang keibuan.
“Tapi tante yakin kamu akan berhasil menjalankan misimu.”
“Belum tentu, Tante.”
“Yakin saja. Jika kamu tidak berhasil di tahap awal, kami punya cara untuk membuatmu kuat dan memulainya kembali!” tegas Tante Maya penuh keyakinan.
“Caranya?”
“Rahasia! Hehee…”
Tante Maya terkekeh sambil mengusapi pipiku, ada sinar mata yang berbeda pada kedua bola mata beningnya. Sebuah sorot yang mengandung kebanggaan, tekad, sekaligus juga gamang bernada sedih.
“Satu pesan Tante, kamu harus selalu waspada. Yang menolongmu, bisa sekaligus menjadi perintang yang bisa menggagalkanmu.”
Aku mencoba mencerna ucapan terakhir Tante Maya, tapi tanteku ini memintaku untuk tidak terlalu memikirkannya, yang penting aku harus selalu waspada.
“Hihi… kalau kamu gagal, kamu harus menimba kekuatan dari para wanita ritual ayahmu dengan cara menyuwir mereka, Rei.” tiba-tiba suara Mantili terdengar secara gaib.
Aku berusaha bersikap tenang agar Tante Maya tidak curiga. Kini wanita yang sedang membelaiku ini -juga ayah dan mamah- sudah tidak bisa menyadari kehadiran Mantili maupun Sawaka.
Sial! Otakku seketika dipenuhi pikiran mesum. Kehadiran Mantili selalu membuatku seperti ini. Aku pun memandang Tante Maya secara berbeda, sejenak aku lupa kalau ia adalah tanteku, melainkan seorang wanita cantik yang menggairahkan.
“Kalau gitu aku memilih gagal.” jawabku melalui suara batin.
“Hihi… boleh.. boleh.. tapi kamu harus ingat, tidak semua wanita ritual ayahmu masih seperti Maya, ada juga yang sudah nenek-nenek. Hihi….”
“Kupret!!”
Aku pun mengerjap, mengusir makhluk itu, terutama membuang pikiran mesum yang mengganggu otakku. Aku tidak mau barangku menyuwir barang berkarat.
Tante Maya masih banyak menasihatiku sebelum akhirnya kami kembali ke dalam rumah. Ayah dan mamah masih duduk di ruang keluarga sambil menonton TV, mereka sepertinya sengaja menunggu kami.
Tante Maya mengangguk pada ayah dan mamah. Mamah pun berdiri, dan memelukku.
“Maafkan ayah dan mamahmu, ya sayang. Maafkan tantemu juga.” ujar mamah tulus.
Ucapan mamah malah membuatku sedih, tidak sepantasnya seorang ibu sebaik mamah meminta maaf pada anaknya.
“Aku yang minta maaf, Mah. Aku sayang mamah dan ayah.” jawabku.
Setelah mamah, gantian ayah yang memelukku. Seperti lebaran, kami pun saling berpelukan dan maaf-maafan.
Setengah jam kemudian kakak, adik, dan kedua sepupuku keluar kamar. Malam ini Inka menginap, mereka malah mau tidur berempat di kamar kakak.
Ucapan selamat malam saling kami berikan, ciuman pada kening pun kami dapatkan dari para orangtua kami. Aku terkekeh ketika ayah harus kentang karena mamah memilih tidur dengan Tante Maya. Kakak-beradik itu nampaknya masih ingin saling melepas kangen setelah jarang bertemu karena kesibukan dan jarak kota yang berbeda.
Aku tidak langsung tidur. Kubersihkan diri karena sejak pulang kantor dan pergi ke apartemen Rere, aku belum mandi. Setelahnya aku baru rebahan di atas kasur sambil memainkan smartphone dan chatingan dengan kekasihku; ia baru pulang dan mau sikat gigi terlebih dahulu. Kubalas juga beberapa pesan dari Tante Wulan yang mengajak janjian untuk menindaklanjuti kerjasama kami.
Seperempat jam kemudian kekasihku menelpon. Video call. Wajah cantiknya terlihat dan nampak segar. Tidak lagi memakai makeup. Belahan payudaranya menerawang karena sudah mengenakan gaun tidur bertali.
“Malam cantik.”
“Kangeeen.”
Kutatap matanya yang meredup penuh rindu, padahal baru tadi sore kami bertemu.
“Gimana jalan-jalannya?” tanyaku.
Ia pun bercerita. Mereka rupanya bukan hanya makan, tapi nonton bareng setelahnya. Ia tidak pernah menutupi aktivitasnya, tidak pernah juga menyembunyikan dengan siapa ia pergi atau bertemu; meskipun aku tidak menanyakannya.
“Yank, lihat ini.”
ia mengarahkan video pada dadanya. Ada sedikit merah di sana.
“Kenapa? Kok merah?”
“Si Meti tuh. Tadi bercandanya keterlaluan, kecipratan kuah panas deh.”
Kekasihku mengadu. Ia tidak tahu kalau fokusku tidak melulu pada kulitnya yang hanya merah sedikit, tapi lebih turun ke bawah pada belahan payudaranya.
“Itu bawahnya kenapa merah juga?” tanyaku.
“Mana?”
“Tuh deket payudaramu.”
Kekasihku menunduk melihat dadanya sendiri. Dengan polosnya ia malah menurunkan gaun tidurnya untuk mencari apa yang kumaksud. Pandangan mataku langsung nanar melihat payudara atas kekasihku yang terpajang nyaris setengah. Nampak begitu putih dan mulus, menggelembung nampak kenyal.
“Gak ada, sayang.” ia masih belum sadar sedang kumesumi.
“Hehee…”
“Sayaaaang!!!!”
ia akhirnya sadar akan modusku.
Ia langsung memindahkan arah kamera. Wajahnya cemberut. Gerutuannya malah menyukakanku, dan akhirnya ia terkekeh saat kugoda. Yaaah.. beginilah kami. Hubungan kami kian merasa intim dan mesra, sekali-kali dibumbui pertengkaran karena perbedaan karakter dan kemauan.
“Yank, besok ke rumah yah. Tante dan sepupuku datang dari Jakarta, kamu harus kenalan.”
“Tante yang mana lagi? Kok banyak sekali saudaramu. Hihi…”
Ia terkekeh sambil memiringkan badan. Ia sudah tidak peduli ketika satu gundukan payudaranya menyembul.
“Adik kandung mamah.”
“Oooh… Masih lama gak di Bandungnya? Aku gak janji sih karena besok saudaraku juga mau datang dan biasanya kami pergi makan malam. Lihat besok yah.. kalau aku gak harus menemani mereka, kamu jemput aku ke apartemen.”
“Yaudah lihat sikon aja, lusa juga masih bisa kok.”
Rere pun bercerita kalau saudara dari mamahnya yang tinggal di Jakarta akan datang dan berkunjung ke apartemen. Dia adalah orang yang pernah ia ceritakan ketika kami di Ewer, satu-satunya keluarga yang sering Rere kunjungi di Jakarta.
“Yaaaank.. siniih….” iya merajuk lagi.
“Kenapa? Kan udah malam.”
“Kangeeen. Pengen ada kamu di sini.”
“Gak mau ah. Takut khilaf.”
“Mesum! Kalau kamu khilaf, aku susah nolak loh. Gak jadi deh. Jangan sering-sering ke sini kalau gitu. Hehehe…”
Tawa kecil gadisku sangatlah menggemaskan. Seketika aku pun merasa ingin berada di sisinya dan memeluknya erat.
“Nanti kalau kamu wisuda dan orangtuamu datang, aku lamar kamu.”
“Beneran?”
“Iyah.”
Kekasihku langsung menyembunyukan wajahnya ke atas bantal.
“Mau gak aku lamar?”
“Reei.. sayang.. aah kamuuu…”
“Mau gak, sayang?”
“Mau.”
Jawabannya terdengar malu-malu. Wajahnya semakin terbenam dan tidak mau melihat ke arah layar.
Butuh usaha untuk merayunya sehingga ia mau menunjukkan wajahnya kembali. Tampaklah kedua pipi kekasihku memerah. Rona bahagia dan malu bercampur menjadi satu.
“I love you, sayang.”
“Love you too, Reiku sayang.”
Kami hanya saling pandang, sama-sama kehabisan kata. Namun rasa ini begitu menggelora, tak lagi terungkap oleh sekedar ucap. Sekali-kali ia membuat gerakan bibir seolah sedang mengecup, kulakukan hal yang sama. Tetap tanpa bersuara.
“Bobo.” suruhku ketika sorot matanya berubah sayu.
Ia mengangguk, tapi masih belum mau menutup sambungan telpon. Semakin lama semakin terpejam, ia tertidur dengan senyum tersungging, membawaku ke alam mimpinya.
Sekali lagi kuucapkan rasa sayangku dalam hati dan kututup sambungan telpon. Kumatikan lampu, kutarik selimut. Mataku sendiri sudah sepet.
Entah sudah berapa lama aku tidur ketika akhirnya terjaga kembali karena ada sentuhan lembut pada ujung bibirku. Nafas harum dan hangat pun menerpa wajah. Aku menggeliat dan membuka mata.
Srrrr…!!
Perasaanku langsung berdesir ketika ada wajah manis yang begitu dekat. Setengah tubuhnya menindihku. Aku mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa tidak sedang bermimpi. Dan semuanya ini sungguh nyata.
Nafasku mulai tidak beraturan ketika sebuah bibir seksi kembali mendekat. Kecupan basah kurasakan.
“Gua kangen banget, Rei.” bisiknya.
“Tapi gak boleh, Mboy.” aku masih berusaha sadar.
“Gua gak bisa melupakan ciuman pertama kita.” ujarnya lagi.
Aku menghela nafas mendengarnya. Namun belum juga aku menguasai keadaan, Rana sudah menciumku kembali. Kali ini langsung pada bibir.
Aku hanya bisa tercekat ketika ia mengulum lembut, sangat terasa ia melakukannya dengan penuh perasaan. Bayangan Rere sejenak melintas dalam benak, namun kemudian hilang seiring kuluman Rana yang berubah jadi lumatan. Aku pun membalas.
Rana mengambil kendali, ciumannya semakin agresif. Lidahnya terjulur. Aku pun terlena. Kusambut dan kuhisap lidahnya, Rana menggelinjang. Kini ia sudah sepenuhnya menindihku.
Jadilah kami saling pagut, saling sapu lidah. Tanganku sendiri mulai aktif, kuremas bokongnya yang sekal dan kutekan-tekan sehingga kemaluan kami saling menggesek.
“Ssssh.. mmmh…” Rana mendesah dan pinggulnya langsung bergoyang tanpa kuarahkan.
“Hasssshhh…” ciuman kami terlepas.
Rana menatapku, kubalas. Tanpa komando kami saling memagut kembali, semakin panas. Tubuh kami berguling, kali ini aku yang menindihnya. Rana mengangkang dan kemaluan kami kembali saling menekan. Mulut kami saling mengunci, kemaluan kami semakin rapat meski masih terhalang pakaian. Sekali-kali kuremas rambut pendeknya, dan ia tanpa sadar menggigit bibirku.
“Gua gak tahan, Rei.” suaranya bergetar, gerakannya semakin liar.
Ucapan Rana malah membuatku sadar. Segera kuhentikan cumbuan dan goyanganku. Kutahan kedua pipinya karena terus mengejar tanpa mau melepaskan lumatan.
“Nana.. sssh.. Mboy… jangan dilanjutkan.” aku berusaha mengingatkan.
Seketika tubuh Rana berubah kaku, ekpresinya datar. Gairah nafsu dan akal sehat seakan berseliweran. Terlihat gamang sekaligus kentang.
Aku sendiri merasa tidak nyaman, bukan hanya karena merasa bersalah, tapi juga karena nafsuku yang masih tanggung.
“Haiiish… kesel kesel… gua pengen, Rei.” Rana melampiaskan kekesalannya, meskipun sebetulnya ia bukan kesal karena nafsu yang terhenti, tapi juga karena perasaan terlarang yang masih saja ada.
Aku pun berguling ke samping, kutarik kepala Rana dan kudekap di atas dada. Ia mulai menangis. Aku pun sedih mendengarnya, penisku pun kembali layu.
Ini bukanlah yang pertama. Setidaknya ini kali kedua sejak kami dewasa. Semuanya berawal dari kekonyolan masa kecil ketika kami masih tinggal serumah. Aku dan Rana bermain “rumah-rumahan”. Aku menjadi ayah, Rana menjadi ibu, dan boneka-bonekanya menjadi anak kami.
Perbincangan-perbincangan konyol kami lakukan saat itu, bahwa seorang ayah dan seorang ibu harus saling menyayangi seperti kedua orangtua kami masing-masing. Harus mesra seperti yang sering kami lihat pada mereka. Maka aku pun memeluk Rana, sedangkan ia menggendong bonekanya. Entah bagaimana… aku dan Rana berciuman bibir. Ciuman pertama kami, di saat usiaku masih sepuluh tahun. Ciuman itu adalah biasa, tidak ada nafsu di sana, tidak juga lihai dengan bertukar lidah, tapi cukup membekas sampai sekarang.
Sejak itulah seolah ada rasa yang tersembunyi, yang hanya menjadi rahasia kami berdua. Ketika kami beranjak dewasa, kami tahu bahwa itu salah. Tapi kami juga kadang mengulang. Semuanya menjadi berbeda ketika kami sama-sama kelas tiga SMP. Kami mengulang ciuman dan kami mulai mengenal nafsu saat itu.
Begitulah… sadar dan khilaf selalu bergantian. Kami sepakat untuk mengakhiri, tapi juga tidak menolak ketika salah satu ingin mengulangi. Awalnya kami hanya mengulang berciuman, yang berikut saling berbagi lidah, yang keempat ditambah saling meraba. Dan malam ini adalah kali kedua kali saling menindih dengan gairah nafsu yang membuncah.
Terlepas dari apa yang baru saja kami lakukan, seiring berjalannya waktu kami mulai bisa saling menahan diri. Selalu menghindar untuk berduaan. Bedanya, aku mulai bisa melupakan dan berpacaran secara wajar, sedangkan Rana gonta-ganti pacar lebih sebagai pelarian dari pada rasa cinta.
Karena itu pulalah Rana sering cekcok dengan Inka karena gadis ini sebetulnya cemburu, apalagi ketika tahu bahwa Inka sendiri sebetulnya punya rasa padaku.
“Mboy, kamu balik gih, entar ketahuan ama yang lain.” ujarku.
Kudorong bahunya, ia pun mendongak. Kuusapi sisa linangan air matanya.
“Lu udah punya pacar lagi, gua cemburu.” keluhnya tanpa sedikit pun berniat menuruti keinginanku untuk meninggalkan kamar.
“Kamu sendiri kan punya pacar.”
“Beda, Reiii. Gua tuh sering colmek sambil ngebayangin kamu tahu!”
Kutepuki pipinya dengan gemas. Rana memang bukan gadis jaim, bicaranya ceplas-ceplos dan apa adanya. Banyak pria tergoda oleh pesona Rana, selain karena cantik dan seksi, selain karena unik berkat penampilannya yang sedikit tomboy, tetapi juga karena gaya bicaranya yang santai dan terkesan tanpa disaring.
“Udah jebol donk? Hehehe…” aku mencoba mencairkan suasana.
“Kagaklah, kan gak harus dicoblos juga untuk dapat kepuasan. Gua juga gak mau yah nyerahin prewi gua ke sembarang orang kecuali…”
“Kecuali?”
“Kecuali kalo lu yang minta hihi…”
Aku pun gemas. Kuremas tubuhnya, tapi yang kuremas malah gundukan payudara Rana yang tidak terlalu besar. Ia pun menggelinjang.
“Bantu gua, Rei.” ujarnya lagi.
“Bantu apa?”
“Puasin gua, bosen kalau colmek sendiri doank. Sekali-kali lu yang kobelin memek gua, lu kontolin juga boleh deh.”
“Mboooy…. tuh mulut. Kalau ngomong itu dijaga napa?” kujembel kedua pipinya.
“Halah.. cuma di depan lu doank.” kilahnya.
Rana kembali mencium bibirku, kubalas lembut. Namun segera kulepas ketika ia mulai mencumbuku dengan panas.
“Reiii!” protesnya.
Kini aku benar-benar terombang-ambing perasaan, ingin dan akal sehat menggaduhkan pikiran. Tiba-tiba pesan Mahapatih Sawaka terngiang.
“Vaginamu gundul atau ada jembutnya, Mboy?” tanyaku.
“Memek maksud lu?”
“Haissh.. iya.. iya itu.”
“Hehee.. gua cukur lah. Gak enak kalo melihara jembut, berasa géték."
Fiuuuh…!!! Aku menghela nafas, entah harus lega atau kecewa. Yang jelas aku tidak bisa memesumi Rana lebih dari ini, tipe gadis gundul adalah pantangan ritual yang harus kuhindari.
Butuh waktu bagiku untuk membujuk Rana supaya keluar kamar, dan keras kepalanya kambuh. Ia tidak mau pergi.
Akhirnya aku pun berjanji untuk menyentuh daerah intimnya kalau ia mau memelihara jembut. Mungkin ini sebuah kesalahan ketika Rana malah menyanggupi dengan senang hati. Tapi setidaknya saat ini aku bisa terselamatkan dari kegagalan ritual.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar