BAB 17
Aku sedikit bingung karena Mahapatih Sawaka mengatakan tujuh rintangan, sedangkan Bunda Rahma berbicara tentang ritual. Aku tidak tahu mana yang benar.
“Iya, sayang.” Bunda sudah tidak menyebut namaku lagi. Lanjutnya, “Tapi tidak seperti pendahulumu, kamu cukup melakukan satu kali ritual. Yaitu… dengan keturunan Maya atau salah satu dari keturunan Nur.”
“Bunda paham kalau ini sangatlah berat bagimu, sayang. Kamu sudah punya Rere. Tapi bunda sangat berharap kalau kamu menjalankannya.”
Menyebut nama Rere membuat hatiku sedikit teriris. Aku sangat menyayanginya dan aku sudah berjanji untuk menjadikannya satu-satunya wanita di dalam hatiku. Tapi anehnya, kenapa aku sempat melupakannya sejenak, dan malah terpesona oleh kecantikan bunda.
Aku juga merasa takut, karena Mahapatih Sawaka pernah mengatakan bahwa pasangan ritualku akan mati jika aku tidak mau menjalankan tujuh rintangan yang berpuncak pada ritual. Kalau bunda benar, maka pasangan ritualku kalau bukan Rana adalah Aya atau Nila. Jelas aku tidak ingin saudari-saudariku mati karena kesalahanku.
“Gimana, sayang?” desak bunda.
“Yah.. kalau itu kehendak semesta, aku siap, Bunda.” jawabku.
Mendengar kesanggupanku, bunda langsung berlinang air mata. Ia nampak lega, bahagia, sekaligus haru.
Bukan hanya itu, ia langsung mendekap kepalaku dan membenamkannya di dalam dada. Pipiku mendapat bantalan empuk yang naik-turun seiring nafas halusnya.
"Terima kasih, sayang. Hikss... bunda hanya tidak ingin pengorbanan aa dan teteh (Senja dan Sae) sia-sia karena diputusnya tradisi.” bunda terisak haru.
Aku melupa. Kubalas pelukan hangat bunda, wajahku semakin terbenam. Aku merasa begitu nyaman.
Bunda mengangkat kepalaku, dan kami bertatapan dekat. Air matanya sudah berhenti mengalir, tapi masih meninggalkan sembab dan basah pada pipinya. Bagai tersirep aku menatap matanya yang kini sendu. Bulu kudukku terasa merinding ketika nafas hangatnya menerpa wajahku.
“Rei..” suaranya serak.
“Bun.”
Usai saling memanggil, bagai ada magnet yang saling menarik. Bibir kami bersentuhan lembut, selanjutnya saling kulum. Aku langsung terlena. Kupejamkan mata.
Bibir bunda yang sedikit tebal terasa begitu manis, lembut dan kenyal. Basah menggiurkan. Aku mengulum bibir bawahnya, bunda menghisap bibir atasku. Belum juga puas, kami bergantian bertukar bibir.
“Mmmmh…” lenguhan seksi bunda terdengar ketika mulut kami akhirnya terbuka dan ujung lidah kami bersentuhan.
Kami sama-sama bergetar, dan bunda langsung mendekapku lebih erat seolah mencari pegangan agar tidak terhempas ke atas sofa. Ciumanku dan bunda berubah panas, saling lumat, dan saling membelitkan lidah. Ia semakin gelisah ketika aku memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir tebal dan seksinya.
Sejujurnya, bunda adalah wanita ketiga yang pernah kucumbu seperti ini. Sebelumnya adalah Arischa dan tentu saja Rere. Eh empat kalau kuhitung dengan gadis masa kecilku ketika aku masih kelas enam SD, dan gadis itu adalah… ah yasudahlah!! Itu hanya kekonyolan seorang anak kecil. Yang jelas ciumanku kini berbeda. Sensasinya membuatku benar-benar terhanyut. Menyadari bahwa bunda adalah wanita paruh baya yang memiliki tubuh molek dan sifat keibuan membuatku lupa diri. Aku semakin bergairah, cumbuanku semakin panas. Bunda sendiri nampak begitu menikmati, bahkan ia selalu mengejar bibirku ketika aku berusaha menghirup nafas.
“Aaah…” akhirnya bunda tidak tahan, ia mendongak untuk mencari nafas.
Kesempatan ini kupakai untuk bertindak lebih jauh. Kusibak kerudungnya, dan kukecup lehernya yang selama ini tertutup. Putih dengan lipatan seksi dan menggoda. Tubuh bunda melenting ke belakang, tangannya langsung membelit leherku untuk mencari pegangan.
Tanpa kata, tanpa sepakat, kami sehati membaringkan diri di atas sofa. Aku langsung menindihnya. Cumbuan yang tertunda kembali kami lanjutkan. Kali ini lebih panas, lebih bergairah.
Tanganku sudah meremasi bagian samping payudaranya, membuat bunda semakin gelisah dan mendesah, dan aku terbakar birahi.
“Mmmh sayang.” lenguh bunda.
Desahan bunda membuatku semakin gelap mata. Aku kembali mencumbunya dan ia membalas dengan panas. Tanganku mulai liar menggerayangi lekuk tubuh bunda, desah dan gelinjangnya menyukakanku. Kuposisikan pula penisku yang sudah tegang di tengah selangkangan bunda. Bunda menggelinjang, aku menggeram. Kemaluan kami bertautan meski masih terhalang pakaian.
Tanganku sudah berhasil menarik seleting gaun panjang bunda yang terletak di belakang. Kusibak dan bunda malah menyampirkan kerudungnya. Kulit dada atas bunda langsung terpajang, putih menggiurkan; mulus merangsang. Ciumanku turun pada bahu kanan bunda sedangkan tanganku semakin menyibak gaunnya.
Mataku nanar, belahan payudara bunda sudah terpajang. Langsung kukecup sambil mendengus resah. Bunda melenguh, didorongnya kepalaku dengan dada terangkat. Kini setengah payudara bunda menyembul. Putih dan besar, kenyal dengan urat kebiruan.
“Aaaah… sssh….” bunda semakin tidak bisa diam ketika aku membenamkan wajahku di atas gundukan payudaranya. Lidahku langsung terjulur menjilat, bibirku mengecup dan bahkan menghisap.
Tanganku menelusup. Kuturunkan behanya yang berwarna hitam, dan langsung kugenggam pucuk gundukan besar payudaranya. Kuremas dengan keras. Bunda menahan erang, aku mendengus menahan birahi.
Tubuhku mulai berkeringat. Biar bagaimana pun baru kali ini aku melihat dan bahkan mencumbu payudara perempuan. Aku mengangkat wajah sekalian mengatur nafas. Bunda menatapku sayu sambil menggigit bibir bawahnya. Seksi!! Sangat seksi!!
Setengah bergetar tanganku terulur menurunkan gaun bunda, kutarik juga behanya. Aku nanar. Kini kedua payudara besar bunda sudah terpamer seutuhnya. Nampak kencang dengan puting mengacung tegang.
Aku langsung merunduk. Kucumbu yang kanan, kuremas yang kiri. Begitu sebaliknya. Aku begitu asik seakan mendapatkan mainan baru, sedangkan bunda semakin gelisah. Mulutnya menggigit ujung kerudung untuk menahan erangan. Belahan payudara bunda pun mulai basah oleh liur bercampur keringat.
Secara naluriah, bukan hanya mulutku yang bekerja, tetapi tanganku kian aktif. Tangan kiriku sudah menyentuh karet celana panjang bunda. Kususupkan semakin ke bawah, menyusuri kulit perutnya yang terasa halus.
Aku terus nenen pada payudara bunda, dan wanita itu meremasi rambutku. Pinggulnya sedikit bergoyang ketika tanganku sudah menyusup ke dalam celana dalamnya. Merogoh semakin dalam menuju pusat selangkangan.
“Oouuuh…” lenguh bunda.
Jari tengahku semakin turun, menyusuri lipatan di atas gundukan kecil. Tidak kurasakan jariku menyentuh bulu jembut, sepertinya bunda mencukur bulu vaginanya. Aku menghayal, vagina bunda pasti imut.
Sensasi mengemut payudara bunda dan membayangkan gundukan imut vagina bunda membuatku semakin terbakar gairah. Penisku sudah sangat keras. Kutekan jari tengahku di antara bibir vagina bunda, dinding lembut kurasakan, sedikit lembab dan basah.
“Uuuh ganteng.. ssssh….” bunda semakin gelisah.
Bunda memperlebar kedua pahanya sehingga jariku semakin mudah mencari lubang kenikmatannya. Pintu vaginanya kutemukan, berkedut basah.
Sudah tidak tahan, aku pun bangkit. Kutarik gaun panjang bunda sampai ke atas perut. Lalu kupelorotkan celana panjang ketatnya.
Deg… deg… deeegh… jantungku berdebar kencang. Sebentar lagi aku akan disuguhi pemandangan mahkota paling rahasia perempuan.
Sreeeet… celana bunda mulai melorot. Aku tidak kesulitan karena bunda mengangkat pinggulnya sambil mendesah penuh gairah. Mataku nanar melihat celana dalam bunda yang berwarna hitam. Gundukan kecil terlihat dan celana dalam bunda nampak lembek karena basah oleh cairan perangsangnya.
Sreeeet… flaaaaazzzz….
“Kamu seksi banget sih, yank.”
“Makasih.”
“Buka boleh?”
“Ya boleh aja kalau kamu memang sudah yakin bisa setia. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Setelah ini aku gak yakin lagi apakah kedekatan kita murni karena cinta atau sekedar ingin menuntaskan hawa nafsu.”
“Gak jadi deh.”
“Hihi.. kenapa? Beneran gak mau?”
“Aku mau mencintai kamu aja, yang lain nanti kalau udah kuhalalkan.”
“Hihi.. makasih Reiku, sayang. Luph you.”
“Luph you too, sayang.”
Tiba-tiba terngiang sebuah percakapan dengan kekasihku ketika kami sedang bermesra di dalam kamarnya. Aku langsung melepas ciuman dan gerayangan tangan; bangkit berdiri dengan nafas terengah. Bunda membuka mata dan menatapku sendu.
“Bbbunda.. kenapa jadi begini?” aku berusaha mengusapi wajahku untuk meredakan gairah sekaligus rasa bersalah.
Mendengar pertanyaanku, bunda seakan sadar. Ia segera bangkit dan merapikan pakaiannya yang tadi hampir kulucuti. Nafasnya tak kalah tersengal, bedanya bunda nampak lebih tenang.
“Bunda, maafkan aku. Kenapa kita jadi begini?!” aku benar-benar kalut, kugosok mukaku dan kuacak-acak rambutku sendiri. Harum cairan vagina bunda tercium. Penisku yang tadi terasa sakit karena tegang dan minta penuntasan, kini mulai reda.
“Hiks.. Bunda yang minta maaf, sayang.” Bunda terisak. Ujarnya lagi, “Bunda bisa jelasin.”
Tapi aku sudah kadung merasa bersalah, kini yang tergambar dalam benakku hanyalah kekasihku. Aku langsung berlari ke dalam kamar mandi untuk cuci muka dan cuci tangan yang tadi kupakai mengobel kemaluan bunda.
Kubasuh mukaku lalu bercermin. Rasanya aku malu memandang wajah sendiri. Kubasuh kembali, kali ini sambil kugosok. Setelah mengeringkan wajah aku pun kembali.
Bunda masih duduk di atas sofa sambil menutup muka. Pakaiannya sudah rapi kembali.
“Bun, maafin aku. Aku tidak tahu kenapa bisa jadi begini. Aku pamit yah.” ujarku dengan rasa bersalah.
“Dengar dulu penjelasan bunda, Rei, bunda juga tidak ingin seperti ini.” bunda menahan dan menarik tanganku supaya duduk.
“Bun, ijinkan aku pergi sekarang.” aku berkeras hati.
“Jangan pernah pergi dari masalah tanpa mendengar penjelasan agar tidak salah paham. Jangan melarikan diri dari persoalan tanpa menyelesaikannya.” kali ini suara bunda terdengar tegas, lebih berupa perintah.
Aku pun mengalah, dan duduk di samping bunda tanpa berani menatap wajahnya. Aku harus mengakui bahwa aku tergoda, dan aku suka. Aku terlena, dan aku sudi lepas perjaka. Tapi biar bagaimana pun Bunda Rahma adalah tante yang sangat kuhormati, lebih daripada itu aku harus berjuang untuk setia. Setia pada Rere kekasihku (kalau suatu saat nanti akhirnya aku khilaf itu bukan salahku, tapi salahkan si mamang).
Bunda kembali menggenggam tanganku. Aku tidak menolak, tetapi juga tidak membalas. Sentuhan ini tak lagi seperti tadi, benakku sudah dipenuhi bayangan kekasihku.
“Dengarkan bunda, sayang. Ini salah.. jelas salah.. tapi kamu juga harus mengakui bahwa ini terjadi begitu saja. Di luar kontrol kesadaran.” bunda mulai menenangkan.
Aku mengangguk tanpa berani menatap bunda.
“Bunda sengaja melakukan ini karena bunda ingin meyakinkan bahwa kamu adalah sang pewaris yang akan menjadi penerus tradisi sekaligus pelindung kami.”
“….”
“Tapi bunda lupa memasang tameng diri sehingga bunda malah ikutan terhanyut. Habisnya kamu ganteng banget sih, sayang. Hihi…”
“Bundaaa!! Jangan bercanda!”
“Hihi.. iyah.. iyah.. sinih…”
Bunda menarik bahuku dan memeluk erat. Kali ini terasa berbeda, kembali seperti biasa. Pelukan bunda lebih berupa ungkapan kasih sayang seorang ibu.
“Sekarang bunda tenang, karena sudah menemukan orang yang akan menjadi penerus ayahmu. Yeaah.. walaupun tadi kita nyaris berbuat aib. Jagain bunda, yah.”
“Bun?”
Mau tidak mau aku mendongak dan menatap wajah bunda. Kelopak matanya sedikit membengkak dan sembab. Ia tersenyum dan mengecup keningku.
“Ya jagain bunda, dan juga keluarga besar kita. Ikatan ritual itu telah mempesatukan keluarga besar Sawer dan Ewer, layaknya ikatan saudara satu darah dan satu keturunan; dan bahkan lebih dari itu.”
“Maafkan aku, bun.”
“Sudah kamu tidak perlu merasa bersalah. Kamu janji, mau kan meneruskan tradisi leluhur kita?”
“Iya, Bunda.”
Bunda mengecup kembali keningku lalu mendekap lebih erat. Bunda pun bercerita bahwa ia mendapat wangsit melalui mimpi: aku adalah satu-satunya orang yang akan bisa menolong Bunda dan suaminya. Sampai usia perkawinannya sekarang, bunda belum dikaruniai keturunan. Akulah yang akan bisa membantu. Tentu saja bukan dengan menanamkan benihku, tetapi dengan ilmu yang akan kumiliki nantinya.
Sekali lagi aku dan bunda saling meminta maaf, sekaligus saling meneguhkan langkah ke depan. Pelukan panjang kami lakukan, dan aku pamit setelahnya.
Aku menelpon kekasihku, sementara langkahku panjang. Aku harus segera bertemu Rere. Aku ingin memeluknya. Aku ingin ia tahu aku menyayanginya. Aku sungguh menyesal atas apa yang telah kulakukan pada bunda, meskipun aku sendiri tidak mungkin menceritakannya.
Aku mendesah panjang ketika mendengar jawaban. Rere masih di salon bersama Nzi dan baru selesai malam. Perempuan memang ribet, padahal potong rambut di bawah pohon rindang bisa lebih cepat.
Jam enam sore aku tiba di rumah. Mamah yang sedang senderan pada bahu ayah sambil menonton TV langsung menyambut. Nampak Kak Kekey sedang bersantai di taman kecil samping kolam ikan koi, yang dibatasi dinding kaca tebal sebagai pemisah dengan ruang keluarga. Headset- nya terpasang pertanda sedang menerima panggilan.
“Sore, Yah, Mah.” aku menyapa orangtuaku.
“Rei.” gumam ayah.
“Sore, sayang. Kok mukamu kusut begitu?” ujar mamah sambil menyambut uluran tanganku. Ciuman pada pipi kudapatkan setelahnya.
“Capek, Mah.” singkatku.
“Halah.. baru kerja segitu aja.” cela ayah.
“Pikirannya yang capek, Yah, bukan fisik.” protesku sambil kini menyalaminya.
Ayah terkekeh, sedangkan mamah menatapku penuh kasih keibuan. Aku melangkah untuk menyapa Kak Kekey, tapi ayah mencegah. “Biarin aja, Rei, dia lagi dapat telpon dari Rega. Kamu duduk sini, ada yang mau kami bicarakan.”
“Ada apa, Yah?” tanyaku.
Aku pun duduk di depan mereka, lalu kusulut sebatang rokok.
Ayah tidak langsung menjawab, ia melirik mamah sejenak. Wajah mamah pun berubah sendu.
“Kamu sudah ditemui Sawaka dan mendapat kabar kapan tahapan ritualmu akan mulai dijalankan?” tanya ayah.
Aku menggeleng sambil membuat bulatan-bulatan asap rokok yang keluar dari mulutku.
“Mungkin tidak lama lagi ia akan menampakan diri, sayang.” ujar mamah pelan.
“Kita kan sudah sepakat untuk menjalankannya, memangnya ada apa?” heranku sambil menatap mereka.
“Jadi begini, Rei…”
Ayah pun menjelaskan bahwa mereka baru mengundang Mahapatih Sawaka dan saling berbicara. Intinya, makhluk itu tidak menghendaki ayah dan mamah terlibat membantu dan melindungiku selama rangkaian ritual yang akan kujalani. Hubungan mereka akan terputus untuk sementara waktu, dan Sawaka hanya bisa berkomunikasi denganku, itupun atas inisiatif dia, bukan dari pihakku.
Kami bertiga sama-sama menghela nafas panjang. Kami saling diam untuk beberapa saat, dan mamah tak hentinya menatapku penuh khawatir.
“Jadi kamu harus berjuang sendiri menghadapi semua rintangan yang akan Sawaka berikan.” ujar ayah dengan suara dalam.
Aku masih diam. Percuma aku bertanya, karena tidak satu pun di antara kami yang tahu, rintangan seperti apa yang harus kuhadapi. Perasaanku sendiri sedikit gentar karena ayah dan mamah tidak bisa lagi membantuku.
Kami berdiskusi kecil dan saling meneguhkan, namun segera kami akhiri ketika terlihat Kak Kekey beranjak dari tempat duduknya.
Kompak kami mengubah suasana, serempak tanpa sepakat beralih membicarakan kegiatanku hari ini.
“Uuuuh.. boss N&N udah pulang.” kakak langung memeluk leherku dari belakang sofa. Kecupan hangat ia daratkan pada kepalaku.
“Aaaah… yang seneng dapat telpon dari pacarnya.” godaku.
Kebersamaan sore hari ini seharusnya bisa menghiburku, membuang penat seperti biasa. Tapi tidak kali ini, aku masih merasa bersalah karena perbuatanku dan Bunda Rahma, dan sekarang ditambah lagi dengan pikiran akan rangkaian ritual yang entah kapan harus kujalani. Meski begitu, sebisa mungkin aku bersikap wajar, dan mengalihkan semuanya dengan pura-pura menggoda Kak Kekey.
“Dek, kamis depan kamu gak usah ngantor yah.” kakak memintaku.
“Kok?”
“Temeni kakak jemput Kang Rega.”
“Cieeee….” aku langsung bersemangat menggoda kembali.
“Bisa gak?!”
“Ama Nzi juga?”
“Nzi kan kuliah, pesawatnya mendarat jam dua.”
“Ogah!! Palingan cuma disuruh jadi nyamuk merangkap sopir.”
Sebuah cubitan pun kudapatkan, namun kakak langsung duduk menjauh ketika aku menggelitik kedua pinggangnya.
“Yah.. yah.. please temenin kakak.” mohonnya lagi.
“Iyaaaah kakakku yang cantiiik. Apa sih yang nggak buat kakak.”
“Makasiiih.” galak kakak berubah genit.
Beberapa hari ini kakak selalu berbunga-bunga, kekasihnya akan pulang setelah menyelesaikan studi di Australia.
“Om dan Tantemu gak ikut jemput, Key?” tanya ayah.
“Ya jemput, Yah. Palingan nanti ketemu di bandara.”
“Terus pulangnya kakak ikut mobil mereka, aku sendiri?” aku mencium gelagat yang tidak enak.
Kakak mengerling sambil memamerkan gigi putihnya.
“Emoh! Kakak naik travel aja, atau berangkat bareng Om Ega dan Tante Sore.”
“Tega yah ama kakak?!”
“Ya abisnya…!!”
“Kalian kan bisa ajak Rere, sayang. Jadi pulangnya Rei punya teman.” mamah menengahi.
“Kalau itu aku setuju.”
“Huuh!! Ama Rere aja semangat.” kakak manyun.
“Sekalian kamu mampir ke Kelapa Gading, tantemu kan belum kenal Rere.” ujar ayah.
“Siap!!” aku bersemangat.
Sedetik kemudian aku teringat sesuatu, dan aku langsung meralat kesanggupanku. “Eh.. Rere gak usah ikut deh. Gak apa-apa aku pulang sendiri.”
“Loh kenapa?” kakak dan mamah bersamaan.
“Hehehe.. ya kasian Rerenya, kan dia juga lagi sibuk menyelesaikan tugas akhir.” kilahku.
“Kalian gak sedang marahan, kan?”
“Nggak, Mah.”
“Masa?” kakak memotong.
Mendapat cecaran dari dua wanita sekaligus, aku pun hanya bisa menghela nafas. Kuberi kode kepada Kak Kekey agar mendekat, dan kusampaikan alasannya.
“Bwakakakakk!!” kakakku langsung terbahak, sampai-sampai kedua matanya berair.
“Ada apa, sih?” ayah ikut-ikutan kepo. Mamah bengong melihat ke arahku, lalu pada Kak Kekey yang masih terpingkal.
“Itu, Mah, hahhaa….” Kak Kekey tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Rei?” mamah semakin penasaran.
Aku hanya mengangkat bahu, kuambil cangkir kopi milik ayah dan kuhabiskan isinya.
“Asli.. hahaha… Rere harus ikut, dek. Harus…!!” ujar Kak Kekey. Lalu ujarnya pada mamah, “Rei gak mau Rere ikut, Mah, karena lagi dapet.
Kupret!! Kini bukan hanya kakak yang menertawakanku, tetapi juga ayah dan mamah.
“Ayah setuju, Rei, mendingan kamu jangan ajak Rere. Hahaha..!!” ujar ayah di sela tawanya.
“Maksud ayaaah?!!” tawa mamah berhenti, diganti melotot
“Maksud ayah, ya biar Rei sendiri aja, kan katanya Rere sedang menyelesaikan tugas akhirnya.” Si Suwir Jagad pandai berkilah.
Tapi mamah tidak percaya begitu saja, cubitan dan pukulannya menghujami lengan ayah. Gantian aku yang tertawa.
Rasa kesalku pada Nzi dan Rere yang belum juga pulang langsung hilang, dan rasa bersalahku sejenak sirna. Ayah malah tak peduli, ia langsung menceritakan padaku betapa ribetnya mamah kalau lagi PMS. Jadilah… kini ayah yang menjadi pusat bully-an.
Karena ayah mau merokok, aku dan mamah bertukar tempat duduk. Kak Kekey pun langsung tiduran dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan mamah. Bantal sofa ia pakai untuk melindungi paha putihnya.
“Mamah punya dua anak perempuan aja udah repot, apalagi nanti ditambah dengan Rere.” ujar mamah sambil memainkan rambut anak sulungnya.
“Tenang, Mah, sebentar lagi kan akan ada yang lebih manjain kakak.” aku mengerling.
Bantal pun melayang, tapi berhasil kutangkap sambil terkekeh. Obrolan pun beralih pada hubungan Kak Rega dan Kak Kekey. Sekali-kali aku nyeletuk meledek kakakku ketika mendengar rencana lamaran dari pihak keluarga kekasihnya.
“Kok mamah sedih yah?” mamah mengusapi kening Kak Kekey.
“Iih mamaaah? Kok malah sedih?” kak Kekey memeluk pinggang mamah.
“Ya abisnya anak mamah sudah pada gede, nanti satu per satu ninggalin ayah dan mamah deh. Sebentar lagi kalian akan punya kehidupan sendiri-sendiri.”
Hari ini rasanya memang kupret!! Banyak hal yang mengaduk-aduk emosi dan perasaan. Jarak antara tawa dan sedih sangatlah tipis. Sekarang mamah malah galau. Aku juga sedih sih seandainya Kak Kekey pada akhirnya harus menikah dan meninggalkan rumah untuk ikut suami.
“Ehem…” aku berdehem.
Mamah dan kakak melirik ke arahku, kuberi kode. Mereka serempak melirik ayah. Ayah memang diam tapi matanya sedikit berkabut. Ia pasti juga merasa sedih, di samping bangga dan haru tentu saja.
“Ayaaah.” Kak Kekey langsung bangkit dan pindah memeluk ayah. “Udah donk ah.. mamah dan ayah aneh deh. Belum juga aku dilamar.” ujar kakak sambil mengusap jentik air matanya.
“Nanti kan ada Rere juga.” ujar kakak lagi.
Aku pura-pura cuek memainkan rokok yang tak kusulut di sela jemariku. Kalau bisa malah tak ingin mendengar percakapan haru ini.
“Haish.. sok kegantengan kamu, dek.” kakak mendelik saat melihat sikap tiis-ku.
“Hehehe…” aku hanya terkekeh.
“Ehem.. udah kamu duduk.” ujar ayah pada kakak. “Ada yang mau ayah sampaikan.”
Kak Kekey pun nurut, tapi ia duduk di antara aku dan ayah.
“Nanti kalau kalian semua sudah pada menikah, ayah dan mamah sudah punya rencana.” sambung ayah. Mendengar itu, mamah langsung menatap ayah dengan sorot mata bahagia bercampur sendu.
Aku dan Kak Kekey saling pandang sebentar, lalu kembali menatap ayah.
“Ayah dan mamah akan tinggal di Ewer dan menghabiskan masa tua di sana.”
Kakak terbatuk, rokokku tak sengaja kupatahkan. Aku dan kakak bergantian protes, tapi sepertinya ayah dan mamah memang sudah merencanakannya matang-matang. Rencana mereka sampaikan, nasihat mereka berikan. Ayah dan mamah bergantian menasihati kami berdua untuk selalu saling mencintai dan menjaga meskipun sudah memiliki kehidupan masing-masing nantinya. Terutama juga untuk selalu menjaga Nzi.
“Yaudah kalau gitu aku gak mau nikah.” kakak merajuk.
“Eh.. jangan!!!” aku protes keras. “Kalau kakak gak nikah-nikah, lalu aku kapan nikahnya?”
Ayah terbahak, mamah terkekeh sambil mengusap linangan air matanya. Kak Kekey langsung mengacak-acak rambutku. Bahagia bercampur haru, bangga dan sedih saling beradu. Terbungkus canda.
“Tenang, Kak, mamah gak akan betah lama-lama di Ewer.” sambil melingkarkan tangan pada bahunya.
“Siapa bilang? Di mana ada ayah, di situ ada mamah!” mamah percaya diri.
Si Suwir Jagad mengerling bangga dan menatap mamah dengan mesra. Kakak menatapku menunggu penjelasan.
“Emang mamah bisa jauh dari cucu-cucu mamah?” tanyaku pada mamah.
“Ayaaaah.” kali ini mamah malah merajuk pada ayah.
Aku dan kakak pun auto tertawa melihat tingkah orangtua kami.
“Jadi?” goda ayah.
“Ayah iiiih.”
Kakak menyandarkan kepalanya pada bahuku sambil tertawa-tawa kecil. Sikap ayah dan mamah menjadi tontonan yang menyukakan kami berdua. Diam-diam dalam hatiku, aku berdoa agar aku dan Rere bisa menjadi pasangan yang saling mencinta dan setia seperti ayah dan mamah.
Tak lama berselang mamah menyuruhku mandi karena sebentar lagi sudah saatnya makan malam. Rere juga sudah memberi kabar kalau ia dan adikku sudah jalan pulang.
Sengaja aku mandi berlama-lama untuk menghilangkan rasa penat. Rambut atas dan bawah kukeramasi berulang-ulang. Sialnya, saat menyisir rambut bawah dengan jemari, malah ada yang bergerak ikutan berdiri. Segera kusudahi. Kukeringkan badan dan melangkah menuju kamar untuk berpakaian.
Usai berpakaian, kuambil sisir. Belum juga kurapikan rambutku, kudengar ketukan pada pintu kamar.
“Masuk.”
Sosoknya muncul. Cantik! Kekasihku tampil dengan potongan rambut baru, lebih pirang. Wajahnya juga nampak lebih bercahaya selepas perawatan. Ia mengenakan baju putih lengan panjang dengan belahan dada lebar. Leher dan seperempat pundaknya terpajang. Sedikit saja ia menunduk pasti akan terlihat ada yang bergelantungan. Bagian bawah ia mengenakan rok lebar selutut. Betis jenjangnya terlihat indah di atas heel hitam yang ia kenakan.
“Yank, kok bengong? Aku cantik yah?” ia mengerling sambil melenggok mendekati.
Aku masih terpaku. Aku semakin terpesona pada kekasihku, sementara jauh di dalam lubuk hati rasa bersalah menggelayuti.
“Sayang?”
Aku tidak menjawab. Langsung kudekap erat, sangat erat. Kekasihku mematung dengan tangan kaku. Ia nampak heran. Aku tidak peduli. Inginku saat ini adalah mendekapnya. Aku ingin memeluknya sebagai ungkapan penyesalanku. Ia juga harus tahu bahwa aku menyayanginya.
Kukecupi pundaknya yang putih mulus, dan secara perlahan ia membalas pelukanku.
“Yank, eungap !” sambil mendorong lembut bahuku.
Aku menegakan badan, dan kami berpandangan cukup dekat. Wajah cantiknya semakin jelas tergambar.
“Kamu kenapa sih? Kok aneh banget?” herannya.
“Masa memelukmu aneh, sayang?” aku berkilah.
“Ada apa?” ia seolah tidak percaya.
“Aku sayang kamu.”
“Ada apa?!”
“Kamu cantik banget.”
“Sayaang!! Ada apa?”
“Kangen!”
Sebelum ia bertanya lagi, langsung kukecup bibirnya. Tanpa memberi kesempatan aku langsung melumat. Kekasihku gelagapan, namun mulai terhanyut setelahnya. Ia membalas sambil menjulurkan lidah.
Cumbuan kami kian hangat, cenderung panas. Aku duduk di atas kursi, dan ia mengangkang di atas pangkuanku. Kulit paha kami langsung bersentuhan karena aku memang hanya mengenakan celana pendek.
“Mmmh…” lenguh halusnya terdengar.
“Ssssh…” kekasihku akhirnya menarik wajahnya, bibir basah kami terpisah.
Ia mendongak untuk mencari nafas dengan tangan membelit leherku.
“Jelek!” ia merajuk. Wajahnya sedikit merah karena sempat terpancing gairah.
Kukejar bibirnya untuk kulumat kembali, tapi ia sigap menghalangi dengan telunjuk.
“Udah ah, makan dulu yuk, sudah ditunggu di bawah. Abis makan anterin aku pulang yah.” ia langsung berdiri.
“Siap, pake mobilku kan?”
“Ya nggaklah. Pake mobilku, besok kan aku mau pake ke kampus.”
“Terus pulangnya aku gimana?”
“Kan ada Crotine."
Aku hanya bengong sambil menahan pinggangnya agar tidak menjauh.
“Kenapa?” ia mengerling.
“Sayang, kamu kok tega sih?”
“Hehe.. ya nggak, sayaaang. Aku bercanda kok.” ia menepuki pipiku.
“Lalu?”
“Kamu nginep di apartemen. Besok berangkat kerjanya bareng aku ke kampus.” ia menjelaskan.
“Asiiik. Tidur sekamar, kan?”
“Boleeeh.” ia tersenyum manis, tapi tangannya mencucuki jidatku seolah sedang mengatakan bahwa aku mesum.
“Kalau aku khilaf gimana?”
“Ya gak apa-apa, akunya kan udah jadi milik kamu.”
“Wooow.” aku bersemangat.
“Boleh?” aku masih ingin meyakinkan diri.
Kekasihku mengangguk, lalu merunduk beribisik,
“I am your, honey." Bisikannya langsung membuat mataku berbinar. Kekasihku sudah luluh dan rela memberikan seluruh dirinya untukku. Langsung kepeluk pinggangnya, wajahku terbenam di antara kedua payudaranya karena aku masih duduk di atas kursi.
“Udah, sayang. Ayo makan biar bisa cepet…” ia mendorong kepalaku. Kalimatnya tidak ia teruskan, melainkan diganti kerlingan.
Sebuah kecupan singkat pada bibir ia daratkan. Setelah memintaku menyisir rambut, ia pun mendahuluiku meninggalkan kamar.
Kupandang wajahku pada pantulan cermin sambil tersenyum bangga. Akan kuberikan perjakaku, dan kupetik perawannya, lalu kami akan saling memiliki selamanya.
Aku melangkah ringan keluar kamar, senyum masih mengembang. Dan…
Aku langsung berhenti saat menyadari kebodohanku. Rere telah sukses mengerjaiku.
“What the fuck.” aku memaki sendiri.
Rere kan sedang datang bulan, ia sudah merah sebelum kuperawani. Bodoh!! Rere bukan gadis segampang itu, ia sengaja bersikap genit untuk mengerjaiku.
“Rei!”
Ujubuneh. Rere sudah mendahuluiku menuju ruang makan, tapi kenapa ada suara perempuan dari dalam kamar. Aku pun menengok, mataku langsung terbelalak.
“Nyi Mantili?”
Bukan hanya kehadirannya yang membuatku terbelalak, tapi sosoknya yang berpakaian menerawang tanpa dalaman.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar