BAB 16
Ayah membohongiku. Ternyata kerja ngurusin kopi menyita banyak waktu, kadang aku harus pulang malam. Yeah.. memang aku tidak terikat oleh jam kantor seperti ayah dan Kak Kekey, tetapi tetap saja urusan yang harus kuselesaikan setiap harinya sangatlah banyak. Kalau dihitung, jam kerjaku malah lebih banyak daripada mereka. Mereka memang boss jadi bisa mengatur waktu dan bisa mendelegasikan hal penting kepada para direksi dan managernya, tapi aku? Aku adalah boss yang juga merangkap buruh.
Sudah dua bulan aku bekerja di NeNeN yang berkantor pusat di Cimahi. Perusahaanku bukan hanya bergerak di bidang café dan coffe shop tetapi juga menjadi distributor produk-produk hasil bumi dari tanah Ewer dan sekitarnya. Sehari-hari aku dibantu oleh Kang Garpit alias Mpit yang menjabat Manager Pemasaran sekaligus supervisor seluruh café yang sudah memiliki lima cabang di kawasan Selatan Jawa Barat. Aku juga dibantu Rita, anaknya Om Rad yang menjadi Manager Administrasi dan Keuangan; Om Rayxi di bidang Kepegawaian dan Sumber Daya, dan Karun yang menangani Divisi Distribusi dan Gudang.
Kini aku sedang duduk dikantorku, sebuah gedung berlantai tiga. Kubuka tupper ware yang dibawakan oleh sekretarisku. Biasa masakan si cantik yang dikirim via Crot Online alias crotline. Aku hanya bisa bengong ketika melihat isinya. Langsung kutelpon.
“Yank, kok isinya cuma nasi merah dan rebus-rebusan?” aku langsung protes.
“Sama-sama, sayang.”
“Hehe.. makasih, ya sayang. Tapi kok isinya cuma rebusan sayur?”
“Cuma?!!”
Aku langsung garuk-garuk kepala. Kadang aku lebih banyak salahnya di mata kekasihku.
"Ingat kamu kemarin sudah makan banyak sop buntut, sayang. Jadi hari ini harus diimbangi makanan sehat." suara kekasihku kembali terdengar.
“Iya sayang, makasih ya. Nih aku makan. Kamu udah makan belum?”
“Udah, tadi aku makan soto di kantin bareng Tante.”
Kupret!!! Ia dan mamah enak-enakan makan, sedangkan aku hanya dikirimi rebusan.
“Kenapa, yank? Kok diem?”
“Ng.. nggak.. Syukur deh kalau udah makan. Pulang jam berapa?”
“Kamu gimana sih? Aku kan udah bilang kalau hari ini cuma bimbingan. Nih aku udah di apartemen.”
“Loh, kok gak mampir kantor dulu? Aku kan kangen.”
“Sayaaang!! Aku kan udah janji mau pergi ke salon bareng Nzi. Lupa yah?”
“Kamu tuh, kebiasaan deh. Ngomongnya aja kangen. Gimana bisa kangen, jadwalku aja kamu sering lupa!”
Rere terus nyerocos dan aku hanya bisa mendengarkan sambil mengaduk-aduk isi tupper ware tanpa kumakan.
“Mendingan kami makan deh daripada ngebawelin aku.” ujarnya lagi.
What the fuck!! Yang ngoceh siapa, yang dibilang bawel siapa.
“Iya, sayang, nih aku makan. Makasih ya, luph you.”
Klik.
Aku mendengus kesal sambil melirik tanggalan di atas meja. Aku mengkerut dan menghitung dalam hati. Hela nafas panjang pun kuhembuskan. Tiga hari ke depan adalah “Hari Wanita Tak Pernah Salah.” Kekasihku sedang dapat tamu bulanan.
Aku berdiri dan kutenteng tupper ware meninggalkan ruangan.
“Kang, oma ada di rumah gak?” aku melongok ke dalam ruangan Kang Mpit. Saudara angkatku itu nampak masih sibuk di depan komputernya.
“Ada. Kenapa, Rei?” jawabnya tanpa menengok.
“Mau minta makan.”
“Eh.. Mamah cuma masak buat aku dan ayah loh!!”
Aku tak peduli. Tanpa permisi aku pun berlalu meninggalkannya. Ia menyusulku setengah berlari. Gelak tawanya langsung memenuhi lorong kantor ketika ia melihat apa yang kubawa.
“Kupret!” makiku.
“Sejak kapan kamu diet, Rei?” ledeknya.
“Asu!”
“Hahahaha.”
Sebenarnya bisa saja aku dan Kang Mpit makan di luar, atau di café milik kami di lantai satu, tetapi ada masakan yang lebih enak di seberang jalan. Masakan Oma Ningrum, ibunya Kang Mpit sangatlah sedap.
Benar saja, setibanya di rumah yang hanya dibatasi jalan dari kantorku, nampak hidangan sudah terhidang di atas meja makan. Opa Narto dan Oma Ningrum nampak sedang bersiap untuk makan.
“Mau ngapain kamu, Rei?” sambut Opa Narto.
“Mau mencicipi masakan oma, Opa.” kekehku.
“Halah.. mencicipi.. mencicipi gundulmu.” tapi usai mengumpat begitu, ia pun terkekeh sendiri.
“Udah mau makan aja malah ribut. Duduk Rei.” Oma Ningrum mempersilakanku sambil menjembel pipi Kang Garpit yang baru saja menciumnya.
Kang Garpit memang adalah anak tunggal, dan menjadi anak kesayangan yang sangat dimanjakan.
“Makasih, Oma.” aku duduk sambil menelan air liur melihat masakan oma.
Nasi putih mengepul. Pepes ikan mas sangat menggugah selera. Sayur asem kian membangkitkan rasa lapar. Sambel dan lalapan menggeliatkan cacing yang sedang tidur siang.
Kang Garpit duduk di sampingku sambil tersenyum tengil, sedangkan oma duduk di seberangku.
Belum juga aku mencentong nasi, smartphone bergetar.
“Hallo, sayang.”
“Udah makannya?”
“Udah. Nih baru beres. Euuuu… enak, sayang. Makasih ya.” jawabku sambil melotot ke arah kang Garpit. Tubuh pemuda itu bergetar menahan tawa, sedangkan oma dan opa melihatnya heran.
“Kamu lagi makan masakanku atau lagi makan masakan oma? Awas yaah..!!”
“Nnggak, sayang. Nih aku makan masakan kamu kok.”
“Di mana?”
“Di rumah oma. Hehee.”
Layarku pun berubah. Rere mengganti mode panggilan menjadi video call
“Kupret!!” aku menoyor kepala Garpit, dan ia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.
Segera aku memasukan tempe rebus masakan Rere dan menerima panggilan videonya. Kekasihku langsung ngomel ketika melihat isi masih penuh, dan aku pun harus makan di bawah pengawasannya. Sedangkan oma dan opa menertawakanku, Garpit tak puasnya makan sambil meledekku.
Rere benar-benar baru mau memutuskan sambungan telpon ketika aku selesai makan.
“Omaa.” aku memelas pada Oma Ningrum.
“Hehe.. nih oma sudah siapkan. Ayo makan.” oma menyodorkan piring berisi nasi, lengkap dengan lauk pauknya. Kasih seorang ibu memang berbeda dengan calon pasangan. Hehehe…!!
“Awas kamu, Kang, kalau ngadu lagi.” dengusku pada Kang Garpit, dan aku pun makan dengan lahap.
Makanku terasa semakin nikmat karena diselingi senda gurau. Celetukan-celetukan Opa Narto yang sejatinya adalah pengusaha Martabak sering membuat kami tertawa. Oma Ningrum juga sangat lucu di mataku, karena seringkali mengomeli anaknya yang selalu gonta-ganti pacar. Usianya sudah genap tiga puluh, tapi belum juga memutuskan untuk segera menikah. Namun sekarang ia sedikit kalem setelah pacaran dengan Rita. Hari ini kekasihnya itu tidak masuk kantor karena sedang supervisi ke Pangandaran.
Usai makan aku langsung pamit pada oma dan opa, juga pada Kang Garpit. Aku tidak kembali ke kantor, melainkan langsung menuju RSP untuk menemui Tante Nji dan Bunda Rahma.
Tidak sampai sejam aku sudah tiba. Seorang satpam gesit mengarahkan di mana aku harus parkir, maklum ia sudah mengenal flat nomor mobilku. Setelah berbasa-basi, aku pun langsung memasuki gedung RSP, menuju lantai dua.
“Hai ganteng.” Tante Nji yang sedang duduk di balik meja kerjanya langsung berdiri menyambut.
“Hallo, Tante.”
Aku pun menghampirinya dan cipika-cipiki.
“Kok sendiri, Tante? Bunda mana?”
Sejak kecil aku memang sudah terbiasa memanggil Tante Rahma dengan “bunda”. Pun pula Kak Kekey dan Nzi.
“Bundamu lagi di café, sebentar lagi juga ke sini. Duduk, Rei.”
“Makasih, Tante.”
Tante Nji mengangkat intercom untuk memesan secangkir kopi untukku, lalu menemaniku duduk di atas sofa.
“Gimana kerasan gak ngurusin N&N?” tanyanya.
“Capek, Tan.”
“Hehe… dasar anak manja. Dimana-mana yang namanya kerja ya capek.” Tante Nji mendelik.
Aku dan Tante Nji saling bercerita tentang bisnis kopi masing-masing yang sedikit lesu karena semakin banyak pesaing. Aku selalu betah berada di dekatnya, karena selain cantik, Tante Nji juga sangat cerdas dan memberiku banyak masukan.
Tak lama kemudian seorang wanita cantik masuk sambil membawa baki berisi secangkir kopi dan kue kering.
“Loh kok Bunda yang bawain?” aku langsung berdiri menyambutnya.
“Sekalian, sayang, masa kayak gini aja harus pake pelayan.” ujarnya.
Setelah meletakan baki, aku menyelaminya, setelahnya ia yang mencium kedua pipiku. Di antara tante-tanteku, baik saudara kandung mamah/ayah ataupun saudara angkat, Tante Rahma adalah yang paling kusegani. Entah kenapa aku selalu mengangumi wanita yang satu ini. Ada aura istimewa yang melampaui kecantikan luarnya. Semasa ababil dulu, Bunda Rahma malah kujadikan model cewek idaman sehingga aku sering mencari pacar yang memiliki sifat yang mirip dengannya.
“Gimana kerjaanmu lancar, sayang?”
“Lancar, Bun. Tapi ya gitu deh.. capek hehehe.”
Senyum manisnya terulas. Tante Nji kembali ngomel dan mengecapku manja, tapi kali ini aku sudah punya pembela. Bunda selalu berada di pihakku.
Sesaat obrolanku memasuki wilayah pribadi. Bunda dan Tante Nji menanyai hubunganku dengan Rere, keduanya nampak senang ketika aku mengatakan bahwa aku serius dengan Rere. Tante Nji yang pernah berencana menjodohkanku dengan Inka pun nampak tidak keberatan. Bunda dan Tante Nji malah terbahak ketika aku bercerita tentang galak dan judesnya Rere.
“Tadi katanya Rere itu manja, kok sekarang bilangnya galak?” goda bunda.
“Hehe.. ya gitu deh.”
“Kok Rere mirip almarhum, ya Téh?” ujar Tante Nji pada Bunda Rahma.
Aku tahu yang dimaksudnya adalah Tante Sae, kakak Bunda Rahma. Aku sendiri tidak pernah mengenalnya, tapi kisah hidupnya selalu melegenda dan selalu menjadi cerita yang turun-temurun di antara keluarga besar kami. Tentu saja aku tidak bisa mengatakan kepada mereka bahwa sebetulnya beliau masih hidup sampai sekarang.
“Ada miripnya, tapi lebih mirip…” Bunda tidak melanjutkan ucapannya ketika Tante Nji memberi kode dengan matanya.
“Mirip siapa, Bun?” aku penasaran.
“Mirip mamahmu. Hihi…”
Aku pun terkekeh. Pun pula Tante Nji, bedanya ia sambil menghela nafas lega.
“Jadi gimana rencanamu?” kali ini bunda mulai berbicara serius.
Kukeluarkan dua buah map dari dalam tas kerjaku, lalu kuserahkan kepada Bunda dan Tante Nji. Aku kembali menyampaikan ideku untuk menggabungkan perusahaan kopi Keluarga Sawer dan Keluarga Ewer. Keduanya menyimak sambil mengamati proposal yang telah kubuat.
Kami pun terlibag diskusi serius, tak sedikit bahkan berdebat. Apapun itu, pada intinya kami sepakat untuk merger dan aku masih harus merevisi proposalku berkaitan dengan beberapa poin.
"Jadi manajemennya aja yang kita satukan, sedangkan branded perusahan tetap kita pertahankan karena produk Kopi Sawaka sudah sangat populer di pasar.” tegasku di akhir pembicaraan.
“Selamat sore, Bu Wulan, maaf harus menunggu.” sapa bunda.
Wanita yang duduk membelakangi pun langsung menengok.
“Selamat Sore, Bu Rahma. Eh nggak apa-apa, baru lima menit kok.” sapa ramahnya.
Aku hanya mematung memandang wanita di hadapanku. Cantik!! Anggun!! Tapi bukan kecantikannya yang membuatku terkejut, melainkan karena bunda memanggil namanya. Aku juga berusaha mengingat karena wajahnya seolah familiar.
“Rei, kok malah bengong? Ini kenalin, Bu Wulan.” bunda mencolek lenganku.
“Kenalin, Bu. Rei ini keponakan kami sekaligus juga pemilik N&N.” ujar bunda kepada wanita itu.
“Rei.”
“Wulan.”
Kami bersalaman, tangannya terasa halus. Tidak ada yang istimewa dalam perkenalan ini, Bu Wulan juga bersikap biasa. Namun anehnya, perasaanku sedikit berdesir.
Kami bertiga duduk, Bunda Rahma dan Tante Wulan sedikit berbasa-basi saling bertanya kabar keluarga masing-masing. Wanita ini rupanya memiliki dua orang anak gadis, satu sudah kelas dua SMP sedangkan yang bungsu baru kelas enam SD.
Sambil menyimak aku terus berusaha mengingat. Aku yakin pernah berjumpa dengan Tante Wulan, atau setidaknya pernah melihat, tapi entah di mana.
“Jadi begini, Rei. Bu Wulan ini ingin kerjasama dengan kita. Beliau mau membuat café di kawasan Setiabudhi dan meminta kita sebagai pemasok kopi di sana.” Bunda menjelaskan padaku.
“Iya, Rei. Yah.. hitung-hitung mencari kegiatan karena suamiku sangat sibuk bekerja.” ujar Bu Wulan.
Aku pun manggut-manggut. Bu Wulan bercerita bahwa suaminya adalah seorang pengusaha, dan aku sangat kaget mendengarnya. Nama suaminya sangat kukenal, pengusaha kelas kakap di pulau ini. Lebih dari pada itu, dia adalah ayah kandung sahabatku Enzo! Tapi yang membuatku heran, kenapa wanita sekelas Bu Wulan mau membuka usaha yang menurutku adalah usaha recehan kalau hanya sekedar membuka café.
Tapi rasa heranku langsung terjawab ketika kemudian ia menuturkan, “Sebetulnya saya hanya mau menolong keponakan jauh saya. Dia yang akan mengelola nantinya.”
Sambil ngobrol diam-diam aku mengambil foto dan mengirimnya kepada Enzo. Aku ingin memastikan bahwa wanita ini adalah ibu tirinya. Sahabatku tidak langsung membalas, ia sedang berbulan madu di eropa setelah menikahi Arischa, mantan terindahku.
Kami bertiga larut dalam diskusi panjang. Intinya kami sepakat menjalin kerjasama, dan Bunda Rahma mempercayakan semuanya padaku. Aku dan Bu Wulan pun saling berbagi kartu nama dan nomor telpon.
“Nah ini Dantedatang,” ujar Bu Wulan tiba-tiba.
Aku dan bunda menengok, nampak seorang pemuda menghampiri kami dan mengangguk sopan.
Degh!!!
Kehadiran pemuda bernama Dante itu langsung membuat seluruh tanyaku terjawab. Bu Wulan dan Dante adalah orang yang sama dengan dua manusia yang saling mereguk nikmat di villa. Aku sungguh terperangah menyadari kenyataan ini. Aku sangat tidak menyangka atas dua alasan. Pertama, penampilan dan sikap Bu Wulan jauh dari kata binal. Ia terlihat begitu anggun dan sopan. Tapi nyatanya ia telah berselingkuh dengan pemuda yang bahkan umurnya berada di bawahku. Tanpa sadar aku pun memperhatikan payudara Bu Wulan, gunung kembar yang pernah kulihat bergelantungan dan pemiliknya mengerang-erang nikmat.
Kedua, akal sehatku langsung membuat kesimpulan. Mereka sebetulnya tidak bersaudara, melainkan selingkuhan. Mungkin Tante Wulan sengaja membuatkan sebuah café untuk Dante sebagai bonus karena telah bisa memuaskan hasrat birahinya. Aku masih perlu membuktikan teori ini, tapi hatiku berkata demikian. Sejak mengenal Sawaka, aku merasa lebih peka dan suara hatiku sering memberitahu jika ada sesuatu yang tidak beres.
Kami tidak ngobrol berlama-lama. Setelah bersalaman dengan Dante, Bu Wulan langsung pamit karena Dante memang datang hanya untuk menjemputnya.
Aku dan bunda menghantar kepergian mereka dengan pandangan, setelah keduanya menghilang kami kembali duduk. Tak lama kemudian seorang gadis cantik mendatangi kami sambil menenteng tas kerja.
“Bunda.” sapanya.
Ia menyapa bunda tapi matanya mendelik ke arahku.
“Kamu sudah pulang, sayang? Jemput mamah yah?”
“Iya nih, Bun. Sekalian mau belanja keperluan rumah.” jawabnya.
Keduanya cipika-cipiki.
“Hai jelek.” ia mencium pipiku.
“Yang satunya?” aku menunjuk pipi kiri.
“Enak aja. Minta Rere sanah.”
Bunda tertawa, dan aku cengengesan melihat sikapnya. Gadis bergaya seperti ini, siapa lagi kalau bukan Inka. Tidak mau rugi, aku sendiri yang mencium pipinya, dan ia pura-pura cemberut.
Kami bertiga pun melangkah menuju ruang kantor, kali ini Inka yang mengapit lenganku. Nampak Tante Nji sedang membereskan meja kerjanya pertanda sudah bersiap untuk pulang.
“Mah, udah siap?” ujar Inka. Ia mendekati Tante Nji dan mencium kedua pipi wanita yang pernah melahirkannya itu.
“Udah nih.” jawab Tante Nji.
Kami masih ngobrol sebentar, dan Inka menggelendot manja memeluk lenganku.
“Udah ah, yuk pulang, sayang. Kamu itu masih aja manja, ingat Rei udah punya pacar. Ntar Rerenya cemburu.” Tante Nji mengajak Inka pulang sekaligus mengingatkan anaknya.
“Hihi.. biarin cemburu juga.” Inka malah seolah sengaja.
“Makanya jodohin aja, Tan, daripada jomblo terus.” godaku.
“Enak ajah.” Inka mencubitiku.
“Ya, tante jodohin ama kamu tapi kamunya gak mau.” Tante Nji terkekeh menggodaku.
Kali ini aku yang mati kutu dan hanya bisa garuk-garuk kepala.
“Ih mamah apaain, sih?!” Inka mencubit lengan mamahnya, membuat aku terbebas dari rasa kikuk.
“Udah ah.. ayo jalan, entar malah ayahmu yang duluan nyampe rumah.” ujar Tante Nji.
Tante Nji dan Inka pun pamit pada bunda.
“Kamu jangan pulang dulu, Rei, masih ada yang ingin bunda omongin.” ujar bunda.
Aku pun urung pamit pada wanita itu, padahal sejatinya aku mau menemani Tante Nji dan Inka sampai parkiran. Karena aku tidak jadi pulang, Tante Nji mencium keningku, dan Inka menjembel kedua pipiku. Setelah keduanya menghilang, bunda menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
“Mau ngomong apa, bun?” heranku.
Bunda tidak menjawab, ia menarik lembut tanganku supaya duduk di atas sofa. Kami duduk bersisian, saling menghadap setengah miring.
Posisiku dan bunda begitu dekat. Dadaku langsung berdesir saat melihat paras bunda dari jarak sedekat ini. Wajah cantik nan dewasa, ditambah penuh binar keibuan. Hijab longgar yang ia kenakan tidak mampu menutupi kemolekan tubuhnya yang tetap langsing dan sintal.
Bunda malah tersipu saat kuperhatikan, ia nampak bangga sekaligus malu. Aku menunduk, tidak tahan berlama-lama menatap sorot matanya. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang, dan perasaan-perasaan ganjil saling berdesir. Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya, tapi kali ini berbeda. Aku tersirep pesona dan kecantikan bunda yang seharusnya sangat kuhormati.
“Rei.” bunda sendiri terdengar serak.
“Iya, Bun?”
“Kamu tahu kan sejarah leluhur kita?” tanya bunda.
“Maksud Bunda, Om Senja dan Tante Sae?” aku memberanikan diri membalas tatapan mata bunda.
Bunda mengangguk, lalu meraih kedua tanganku dan menggenggam halus. Remasan-remasan kecil kurasakan. Aku benar-benar merasa gugup. Aku sudah terbiasa mencium pipi bunda atau sebaliknya, tapi kali ini baru bersentuhan tangan saja perasaanku langsung tidak karuan.
“Kamu sudah tahu siapa penerus mereka?” bunda menatapku.
Kugelengkan kepalaku. Tentu saja aku berbohong karena ayah dan akulah sang penerus itu.
“Emang ada penerusnya, Bun?” aku langsung bertanya karena takut kebohonganku terbaca bunda.
“Ada, dan harus selalu ada.” jawab bunda tegas.
“Siapa?”
“Tapi kamu janji untuk merahasiakannya.”
“Iya, Bun, aku janji.”
Bunda tersenyum sebentar, lalu menghela nafas panjang seolah sedang membuang sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Mereka adalah orang yang sangat dekat denganmu, Rei.” gumam bunda.
“…” aku diam menunggu.
“Ayahmu dan tantemu.”
Aku pura-pura terkejut. Biar bagaimana pun aku sudah janji di depan oma, ayah, dan mamah untuk tidak memberitahu siapapun bahwa aku adalah orang yang akan melanjutkan trah Sawaka dalam diriku.
“Mmmaksud Bunda, Tante Nji?”
Bunda menggeleng, remasan tangannya semakin keras.
“Sawaka itu menitis pada ayahmu, sedangkan Mantili menitis pada tantemu. Hanya bunda belum yakin apakah pada Maya atau Nur.”
Aku kembali terkejut, bedanya kali ini tidak dibuat-buat. Ayah dan mamah tidak pernah bercerita apapun tentang kedua tanteku itu.
“Kamu janji ke bunda untuk merahasiakannya, kan?”
“Iya, Bun.”
Bunda menatapku seolah ingin meyakinkan jawabanku. Aku membalasnya, bedanya aku menatap bunda secara berbeda. Aku mengaguminya sebagai seorang pria, bukan sebagai seorang keponakan.
“Tantemu, Maya dan Nur adalah dua wanita yang pernah menjadi wanita ritual ayahmu.”
Aku benar benar shock mendengarnya. Aku sudah berusaha untuk tidak mau tahu tentang wanita-wanita ritual ayah, tapi kini informasi itu datang begitu saja tanpa kuduga dan tanpa kuingini.
“Kamu jangan salah paham, Rei. Mereka melakukan itu tanpa mereka maui, dan kamu tidak perlu menilai ayahmu dan juga tante-tantemu secara negatif. Itu semua kemauan dan pilihan Sawaka. Kamu juga harus percaya, bahwa ayahmu hanya melakukannya dalam ritual.” bunda sepertinya paham akan perasaanku dan berusaha menjelaskan.
“Mamah tahu, Bun?” tanyaku dengan bibir sedikit bergetar.
“Tentu saja tahu. Ayahmu sangat menyayangi mamahmu dan tidak mungkin ia membohonginya.” suara bunda terdengar tegas penuh keyakinan.
Aku menghela nafas. Aku tidak tahu apakah harus bangga atau kecewa. Tapi bunda ada benarnya, ayah dan mamah sangatlah saling mencintai dan tidak pernah saling membohongi.
“Lalu apa hubungan semuanya ini denganku, Bun?” tanyaku dengan nada lemah.
Bunda menarik nafas panjang. Tangan halusnya berpindah mengusapi pelipisku. Aku pun kembali menunduk untuk menghindari sorot matanya.
“Cepat atau lambat kamu harus tahu, Rei, dan bunda pikir sekarang adalah saat yang tepat untuk memberitahumu.” ujar bunda.
“…”
"Tradisi tidak boleh putus, a senja dan teh Sae sudah berkorban untuk itu. Jangan sampai apa yang sudah mereka pertahankan, lantas punah tak berbekas. Sebagai adik kandung teh Sae, bunda tak ingin semuanya berhenti. Sawaka dan Mantili harus tetap menjadi milik kita, penjaga kita.”
“Iya, Bun.”
“Bunda tidak tahu apakah ayahmu akan mewariskan itu atau tidak, dan daripada ia memutuskan untuk tidak menurunkan Sawaka, lebih baik bunda menyampaikannya padamu.”
Bunda salah, tapi aku tetap mengangguk menyetujui. Sepertinya bunda sudah punya rencana sendiri tanpa sepengetahuan ayah. Ia sudah menyiapkan rencana seandainya ayah tidak mau mewariskan Sawaka dan tidak akan melanjutkan tradisi.
“Kamu adalah satu-satunya anak lelaki keturunan ayahmu, dan kamu pasti yang terpilih untuk melanjutkan tradisi. Makanya bunda ingin agar kamu tahu tentang hal ini, dan jika itu benar, bunda mohon kamu jangan pernah menolaknya.” ujar bunda lagi.
Bunda pun bercerita tentang tradisi ritual sejak zaman dahulu. Sejak zaman kakeknya yang sempat terputus, lalu dimulai kembali oleh Senja, dan diteruskan oleh ayahku. Intinya bunda mengharapkan agar aku melanjutkan perkawinan mistis dalam ritual seperti para pendahulu.
“Kenapa bunda yakin bahwa aku adalah penerus ayah?” tanyaku. Aku masih ingin mendengar penjelasan lebih dalam, walaupun bunda sendiri mengatakan bahwa aku adalah satunya anak laki-laki.
“Bunda yakin dari mimpi, Rei, bunda sudah tiga kali bermimpi bahwa kamu memimpin Sawer dan Ewer secara mistis.” terang bunda.
Aku pun menghela nafas. Aku memang sudah tahu bahwa akulah anak yang terpilih, sang pewaris, tapi penjelasan bunda tetap saja membuat aku merasa terbebani. Tujuh rintangan yang pernah disampaikan Mahapatih Sawaka pun kini terbayang-bayang kembali. Yeah.. aku masih punya misi yang belum dimulai, semuanya seolah terabaikan karena kesibukan pekerjaan dan kisah-kasihku dengan Rere.
“Jadi aku harus ritual dengan titisan Mantili, ya Bun?” tanyaku lemah.
Bunda mengangguk, ujarnya, “Kalau tidak dengan anak Maya, berarti dengan anaknya Nur.”
Aku tercenung. Pikiranku sejenak melayang. Satu-satunya anak Tante Maya adalah Rana, sedangkan anak Tante Nur adalah Aya. Aku terakhir bertemu dengan Aya -kalau tidak salah- adalah ketika aku masih SD.
“Gimana, sayang, kamu mau kan menjadi penerus ayahmu?” Bunda Rahma membuyarkan lamunanku.
“Tapi Bun.. apakah aku harus ritual seperti Om Senja dan ayah juga?” aku gamang.
BERSAMBUNG
0 Komentar