BAB 15
“Yank, udah donk.” aku mengusap rambut kekasihku.
Tetapi yang kuusap malah melengos, membuang pandangan melalui kaca samping. Rere masih kesel dan cemburu karena secara tidak terduga kami bertemu dengan Tante Aruna. Beliau adalah mantan mahasiswi mamah yang juga pernah menjadi ibu tirinya. Hehe..
Bukan pertemuan itu yang membuat Rere merengut, tapi omongan Tante Aruna. Wanita itu menyangka bahwa gadis yang kugandeng adalah Inka. Maklum.. mereka sudah lama tidak bertemu karena Tante Aruna hampir tidak pernah datang ke acara keluarga besar, sepertinya ia masih dibayangi rasa bersalahnya di masa lalu. Tapi setahuku ia tetap aktif di grup whatsapp keluarga.
Berulang kali Tante Aruna memuji kecantikan Rere -yang disangkanya Inka- dan mengungkapkan rasa senangnya karena aku telah memilih jodoh yang tepat. Tiga bulan lalu, ketika keluarga besarku merayakan pesta perak perkawinan ayah dan mamah, Oma Alya pernah nyeletuk bahwa aku dan Inka memang cocok. Oma memang bercanda, tapi kabar itu sempat menjadi buah bibir di kalangan keluarga, bahkan terdengar oleh sanak family yang tidak sempat hadir kala itu.
Kini Rere cemburu, dan curiga bahwa aku dan Inka telah berbuat macam-macam ketika kami sedang di Ewer. Aku sudah menjelaskan sepanjang perjalanan siapa Inka dan bagaimana hubungan kami, tapi tetap saja Rere masih ngambek. Yeah.. gadis manapun tidak akan suka jika ia dibanding-bandingkan dengan gadis lain. Beda dengan cowok, cowok juga tidak suka. Eh!!
Kuhentikan mobil di pinggir jalan kompleks, padahal rumahku tinggal lima puluh meter saja di depan. Kuraih bahu Rere dan kepeluk lembut. Awalnya ia hanya diam, tapi lama-kelamaan mulai membalas. Masih tanpa kata. Aku pun memilih diam, biar pelukan ini yang menjadi tanda bahwa aku menyayanginya.
Sekitar lima menit kami saling mendekap dalam sunyi. Kukecup keningnya sebagai pengakhir pelukan, ia memejamkan mata. Hadiah pun kudapatkan, bibir tipisnya menyentuh tepi bibirku. Hatinya sudah mulai lumer.
Kucolek hidungnya, dan aku pun memajukan mobil perlahan. Satpam langsung membukakan pintu, menyapa dan mengangguk sopan. Rere mengamati rumahku yang megah dan pekarangan yang luas.
“Kenapa yah aku merasa sering de javu ?” gumamnya.
“Maksudmu, yank?”
“Kalau datang ke tempat baru, aku suka merasa sudah pernah datang sebelumnya.”
“Oh. Aku juga suka kayak gitu kok.” gumamku.
Kuparkir mobil di samping mobil Kak Kekey, sengaja menutupi mobil Nzi, dan kami pun turun.
“Grogi.” ujarnya, bola mata beningnya menatapku.
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab. Kuraih bahu kirinya dan kugandeng memasuki rumah.
“Oma, Yah.” panggilku pada mereka yang sedang ngobrol berdua sambil nonton berita sore.
“Ini Rere, Yah.” ujarku pada ayah.
“Ini ayahku, Re.” pada kekasihku.
“Rere, Om.” gadisku menyalami ayah dan mencium tangannya.
Ada yang berbeda dari sikap ayah. Matanya seperti berembun haru. Setelah menyambut Rere, ayah pun mengecup kepala Rere. Gadisku nampak kaget, dan melirikku heran. Aku membalasnya sambil tersenyum. Aku sendiri tidak menyangka bahwa ayah akan menyambut Rere seperti itu, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada pacar-pacarku terdahulu. Biasanya ia hanya mengecup kepala para sepupuku.
“Makasih, Om.” ujar Rere kikuk.
“Oma, apa kabar?” Rere menyalami oma.
“Hai sayang.”
Setelah Rere mencium tangannya, oma langsung mencium kedua pipi gadisku, lantas memeluknya. Rere membalas malu-malu.
“Sore cantik.” mamah muncul dari arah dapur.
“Tante.”
Seperti oma, mamah pun mencium kedua pipi Rere lalu memeluknya. Bedanya, dekapannya pada Rere lebih erat.
“Kamu kenapa, sayang, kok kayak lagi kesel?” mamah menatap lekat kekasihku.
“Kenapa apanya, Tante? Hehehe.”
Mamah nampak peka dan seperti bisa membaca kalau ada yang sedang mengganjal di dalam hati Rere. Siapa lagi kalau bukan Inka.
“Hehee.. udah nanti aja ngobrolnya. Kamu duduk dulu.” ujar mamah.
“Nzi, turun, sayang. Kakakmu udah pulang nih.” teriak mamah.
“Iya, Mah.” sahut Nzi dari lantai dua.
“Kakak mana?”
“Masih di kamar. Kamu temui dulu gih.” jawab mamah.
“Bentar yah.” pamitku pada Rere. Gadisku mengangguk, sedangkan oma yang duduk di sampingnya langsung cerewet menanyainya. Terdengar suara langkah menuruni anak tangga.
Aku sendiri mengetuk kamar Kak Kekey yang memang berada di lantai bawah.
“Masuk.”
Kubuka pintu. Nampak Kak Kekey baru selesai menyisir rambutnya selepas mandi.
“Kak, apa kabar?” aku mendekatinya.
Yang kusapa berdiri dengan wajah datar. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan binar bahagia pada sorot matanya.
“Aaauuuu, Kak, ampun.” belum juga aku memeluknya, ia sudah menjewerku. Sangat keras.
“Jahat kamu, dek!! Kenapa sakit gak bilang-bilang? Pulang juga bukannya nungguin kakak, malah langsung pergi!!” ia langsung mencecar dengan ekspresi kesal. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulutnya, sedangkan tangannya masih menjewerku.
“Aku sayang, kakak.” ujarku sambil meringis.
Tangannya pun terlepas. Kata-kataku yang satu ini selalu menjadi jurus jitu untuk meluluhkan hati kakakku kalau ia sedang kesal atau marah.
“Kamu tuh nyebelin banget, sih dek?!! Kalau ada apa-apa kan…”
Langsung kudekap tubuh kakakku, dan ia membalas tak kalah erat. Omelannya langsung terhenti.
“Maafin aku, yak kak.”
“Hiks.. hiks…”
Kakak pun mengurai pelukan dan mencium pipiku. Air matanya berlinang. Kami pindah dan duduk pada sofa di ujung kamar.
Yeah beginilah Kak Kekey. Kadang ungkapan sayangnya ia tunjukan dengan omelan-omelan. Ia masih saja menggerutu dan menginterogasiku. Kujawab sambil sekali-kali pecicilan menggodanya; kesalnya berubah gemas.
“Kakak udah cantik belum?” tiba-tiba ketusnya berubah genit.
“Iiih.. apaan sih kakak?”
“Hihi.. kakak kan gak mau kalah cantik ama pacar barumu. Cantik gak dia?”
“Oh pasti donk!!” aku membusungkan dada.
“Kalau ama kakak cantikan mana?”
“Yang pasti Re…”
Hmmmmff.
Tangannya menyambar perutku dan mencubit, ia sudah bersiap memelintir lebih keras.
“Kekey.. maksudku Kak Kekey lebih cantik.”
Fiuuuh.. aku pun menghela nafas ketika kakakku urung mencubitku lebih keras. Kak Kekey berlagak senang dibuat-buat.
Ia pun mencium pipiku kembali. Kali ini lebih lembut dan tulus, ungkapan kasih sayang tak terbatas dari seorang kakak pada adiknya.
“Makasih, Kak. Maafin aku yah.”
“Iyah. Masa sih kakak gak maafin adik sendiri.” ia pun menepuk-nepuk pipiku sambil tersenyum haru.
“Udah yuk keluar. Kakak pengen ketemu Reremu.”
Kakak menggandengku keluar kamar. Dan rupanya di ruang keluarga sedang terjadi drama, mereka masih belum menyadari kehadiran kami berdua. Aku dan Kak Kekey saling lirik dan urung menemui mereka. Kami kompak menyandarkan diri pada kusen pintu.
Nampak Rere sedang disidang, dan hakimnya adalah adikku. Ayah dan mamah hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum, sekali-kali oma malah tertawa. Kekasihku sendiri nampak kikuk dan gemas, mungkin kalau ini bukan yang pertama ia berada di tengah keluargaku, ia akan membantah adikku dengan caranya.
“Kak Rere belum jawab pertanyaanku iiih. Jadi Kakak sayang gak ama Kak Rei?” adikku menggoyang-goyang lengan kekasihku.
“Eeeeuu.. mmmm…” muka Rere berubah merah, ia melirik oma, ayah, dan mamah bergantian. Tapi yang ia mintai tolong malah pura-pura memasang wajah serius seolah mereka juga ingin mendengarkan jawaban Rere.
“Jawab, Kak!!”
“Iiiya.. Kakak sayang Rei.”
Perasaanku rasanya melambung mendengar pengakuan Rere. Meski ia sedang dikerjai adikku, aku yakin jawabannya sangatlah jujur. Ayah dan mamah nampak saling pandang sesaat dan berbagi senyum.
“Tuh kan beneeeerrr.. Kak Rere memang mau merebut Kak Rei dari kita semua.” adikku cemberut.
“Eh.. Maksud kakak bukan begitu, Nzi.” kekasihku gugup dan kebingungan sendiri.
“Hehehe.. sudah.. sudah cucu oma jangan begitu. Kasian Rerenya… tuh sampai merah begitu…” oma memandang adikku. Yang dipandang malah memamerkan barisan giginya yang putih.
“Kamu sendiri sayang gak ama Kak Rere?” mamah nyeletuk.
“Ya kalau Kak Reinya sayang, aku juga sayang.” Nzi tertawa kecil, disambut senyuman gemas oma, mamah, dan ayah.
Rere nampak bernafas lega. Apalagi ketika Nzi memeluk lengannya, kekasihku sudah bisa tersenyum lagi.
“Nah, tuh kakakmu.” mamah yang paling pertama menyadari kehadiran aku dan kakak.
Semua wajah menengok, kekasihku nampak mendelik meski senyumnya terulas. Ia langsung berdiri untuk berkenalan dengan kakakku.
Kak Kekey sedikit tertegun, ada binar mata aneh yang ia pancarkan. Seperti ada kerinduan yang begitu mendalam. Kakak melirik mamah, dan wanita itu tersenyum bahagia, diam-diam ia terlihat mengangguk.
Rere sendiri nampak tidak menyadari sikap Kak Kekey, mungkin ekspresi seperti itu dianggapnya biasa, karena memang mereka baru pertama kali bertemu. Keduanya saling bersalaman dan cipika-cipiki. Selebihnya aku tidak memperhatikan karena Nzi langsung menghambur memelukku.
“Eh.. eh…” Nzi yang masih memeluk pinggangku, menahan ketika aku mau duduk.
“Kak Nzi kembali di sana, Kak Rei di sana, Kak Kekey di sana.” Nzi langsung mengatur di mana kami harus duduk. Ia sama sekali tidak membolehkanku duduk bersisian dengan Rere.
“Adek di mana?” Kak Kekey menoyor pipi Nzi.
“Di siniii.” ia langsung duduk di samping Rere dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekasihku.
“Begini inilah di rumah ini, sayang.” ujar mamah pada Rere, di sambung senyum-senyum bahagia.
“Iya, Tante.” Rere sendiri nampak mulai terbiasa dan sudah mulai nyaman berada di tengah keluargaku.
“Kakak kenapa?” Nzi menatap kakak.
Kakak Kekey nampak masih saja memperhatikan Rere secara berbeda.
“Hehe… Kakak sih sedih aja, kok mau-maunya Rere pacaran ama Rei?” kekehnya.
“Kakak gak setuju yah?” adikku malah seperti sedih.
“Bukan begitu!! Kakak sedih karena Rere menyayangi cowok ngeselin kayak dia! Pasti bakal banyak keselnya tuh jadi pacar si Rei.”
Tawa pun terdengar, kecuali aku tentu saja. Aku yang paling protes, meski tentu saja tidak sungguh-sungguh.
Rere malah seperti sudah mulai nyaman, ia malah membumbui ucapan Kak Kekey kalau sebenarnya ia terpaksa menyayangiku. Ia mau menerimaku karena menurut versinya cowok itu tidak bakalan tahan lama menjadi jomblo.
Obrolan kami terhenti ketika Bi Umrah datang dan menyampaikan bahwa makan malam sudah terhidang. Mamah pun mengundang kami untuk pindah. Nzi berdiri menggandeng oma sehingga aku punya kesempatan untuk mendekati kekasihku yang juga sudah berdiri.
Tanpa sungkan aku langsung memeluk pinggangnya dari belakang. Tentu saja Rere kaget dan berusaha menolak, tapi telat, ayah dan Kak Kekey keburu melihat.
“Dek.” panggilku pada Nzi.
Ia pun menengok.
“Cemburu gak?”
Nzi memonyongkan bibirnya, tanpa protes lagi melihat sikapku.
“Rei, malu iiih.” protes Rere.
“Ama pacar sendiri kok malu.” kukecup pipinya.
Wajah Rere pun berubah merah padam, apalagi ketika mendengar deheman-deheman dari mamah dan Kak Kekey. Ia mencubitku, dan langsung melangkah panjang menjejeri Kak Kekey.
Suasana ruang makan pun sangat gembira. Kami saling bercanda-tawa, terutama karena tingkah si ceriwis Nzi. Kehangatan semakin tercipta ketika Rere juga bercerita tentang keluarganya.
Aku yakin Rere bersikap spontan ketika ia begitu perhatian padaku, sekali-kali ia menambah isi piringku dengan goreng tempe atau sayur. Tentu saja sikapnya mengundang senyum seluruh anggota keluargaku, tapi Rere sendiri sepertinya tidak menyadari itu.
Hampir dua jam kami ngobrol di ruang makan. Kesempatan ini juga menjadi ajang melepas kangen antara oma dan para cucunya. Oma Alya juga sempat menelpon, dan ngomel karena kami “berpesta” sendiri tanpa mengundangnya. Tapi bukan Nzi namanya kalau tidak bisa merayu sang oma, ia paling pandai membuat Oma Alya tidak bisa berlama-lama pura-pura marah.
Seusai makan, aku dan ayah merokok di halaman belakang. Pada kursi di samping kolam renang. Yang lain melanjutkan ngobrol di ruang TV.
Banyak hal yang aku dan ayah bicarakan. Mulai dari kegiatanku selama di Ewer, bisnis kopi dan café yang akan kukelola, ritual, dan bahkan ayah menanyakan keseriusanku dengan Rere. Aku dan ayah sepakat, bahwa aku akan “magang” dulu di NeNeN selama enam bulan sebelum akhirnya aku mengambil alih secara penuh.
"Yah, kalau NeNen merger dengan kopi sawaka, gimana menurut ayah?” tanyaku. Aku sudah memikirkan ini sejak di Ewer.
“Kenapa kamu usul begitu?” ayah menatapku.
Kujelaskan alasanku, yang intinya agar kami semakin bisa menguasai pasar karena sudah semakin banyak pesaing yang bermunculan. Lagi pula mergernya dua perusahaan ini akan semakin mempersatukan ikatan antara Keluarga Sawer dan Keluarga Ewer.
“Kamu bicarakan dengan tante-tantemu, Rahma dan Nji. Lalu buat proposalnya, nanti ayah lihat.” ayah tidak menolak, tetapi juga tidak langsung menyetujui.
“Siap, boss.”
Tak lama kemudian mamah datang sambil membawa secangkir kopi.
“Kok cuma satu, Mah?” aku terkekeh.
“Yeee… kamu minta sendiri ama calon istrimu sanah!”
Mamah mendelik lalu menaruh cangkir di hadapan ayah. Keduanya duduk bersisian, berhadapan denganku. Kuraih cangkir itu, tapi ayah lebih sigap mengambilnya dan langsung menyeruput nikmat.
“Mamah suka ama Rere, gimana awalnya kok kalian bisa saling jatuh cinta?” ujar mamah setelah keseruan kecil karena aku akhirnya berhasil menyeruput kopi bekas ayah.
“Ya gitu deh.” gumamku.
“Gitu gimana?” mamah mendesak dan semakin penasaran.
Kuceritakan secara singkat, ayah dan mamah menyimak, sekali-kali mereka tertawa saat mendengarku bercerita tentang judesnya gadis itu.
“Padahal dulu ayah mau menjodohkanmu dengan Inka, loh Rei.” ujar ayah.
“Idih.. hari gini maen jodoh-jodohan. Nggaklah..!!” ujarku.
“Masih mending, mamahmu malah sempat punya ide untuk menjodohkanmu dengan anaknya Tante Nur.” kilah ayah.
“Kenapa gak jodohin aku dengan Rana ajah, atau semua sepupuku yang lain?” aku agak kesal karena kedua orangtuaku sempat berencana menjodohkanku.
“Hahaha…” ayah dan mamah malah tertawa.
“Kamu gak boleh nikah dengan Rana, orang dia sepupumu.” ujar mamah.
“Inka juga sepupuku.”
“Ya kalau dia kan lain, ia tidak punya hubungan darah dengan kamu.”
“Lalu anaknya Tante Nur?”
“Ya kan si tante itu adik angkat ayahmu, jadi gak ada hubungan darah juga.”
“Mamah dan ayah aneh-aneh aja. Masa main jodoh-jodohin anaknya.” ujarku sambil meraih cangkir, tapi ayah kembali lebih gesit. Ia malah meneguknya sampai habis.
“Itu Kakakmu gak protes ketika ayah dan mamah menjodohkannya dengan Rega.” setelah tertawa melihat kelakuan suami dan anaknya, mamah menyahut.
"Ya kalau kakak kekey dan kak rega beda atuh, Mah. Sebelum dijodohin juga mereka sudah saling suka dan saling menyayangi.” aku menyanggah.
“Iya juga sih. Hehehe..”
“Pokoknya aku gak mau dijodohin. Aku akan tetap memilih Rere.” tegasku.
“Yee siapa juga yang mau jodohin kamu. Ayah dan mamah kan cuma bilang kalau kami sempat berencana menjodohkan kalian. Rencana gak harus terlaksana, bukan?” ujar ayah.
“Jadi ayah merestui aku dan Rere nih?” aku senang. Ayah mengangguk.
“Mamah juga setuju.”
Aku pun semakin bahagia.
“Makasih, Yah, Mah.”
“Iyah, gak mungkin kami menentukan pilihan dengan siapa kamu harus menikah, sayang. Kamu sendiri yang harus menentukan kebahagiaan dan jalan hidupmu sendiri.” ujar mamah bersungguh-sungguh.
“Semoga saja jalanmu tidak serumit ayah mendapatkan mamahmu, Rei.” ujar ayah.
Aku yang sudah mendengar cerita tentang mereka dari oma, tetap saja antusias karena ingin mendengar langsung dari ayah dan mamah. Tapi mamah langsung membekap mulut ayah, tidak mau rahasia ranjang mereka diketahui anaknya.
Aku pun terkekeh melihat tingkah mereka. Selebihnya kami melanjutkan ngobrol. Mamah yang aslinya memang manja, ngobrol sambil menggenggam tangan ayah. Jemarinya mengusapi cincin perkawinan yang melingkar pada jari pria yang telah menanamkan benihnya sehingga lahirlah aku dan kedua saudariku.
“Malam Om, Tante.” Rere muncul ditemani Nzi.
“Rei, anter aku pulang yuk. Udah malam.” ujarnya padaku.
“Siapa bilang kamu boleh pulang, sayang?” mamah langsung menegakkan dudukku dan menatap Rere.
“Maksud Tante?”
“Kamu nginep!”
“Eh.. aku tidak bawa ganti, Tante.”
“Pake punya Kekey atau Nzi.”
“Tapi..”
“Apa? Alat mandi udah lengkap di kamar.”
“Bukan…”
“Makeup, kan bisa pake punya Kak Kekey.”
“Merknya beda, Tante.”
“Kamu itu masih aja cari alasan. Tante bilang apa?”
“Om? Rei?” Rere meminta pembelaan.
“Om, gak ikutan.” balas ayah.
“…” aku malah suka melihat adegan antara Rere dan mamah.
“Tuh kan, aku bilang juga apa, Kak? Lagian kan besok kita mau ke rumah Oma Alya di Lembang.” Nzi ikut-ikutan, dan malah nampak senang karena mamah meminta supaya Rere menginap.
“Jadi, mau pulang atau mau nginep?” ujar mamah. Suaranya lembut dan senyumnya mengembang, hanya sorot matanya yang berbeda. Rere tahu, mamah tidak sedang memberi pilihan, melainkan perintah.
“Hehe.. iya deh. Siap, bu dosen. Aku nginep.”
“Udah berani ya kamu sekarang!” mamah melotot.
Tapi Rere sudah punya pelindung sekarang, Nzi langsung pasang badan ketika mamah mau mencubit kekasihku.
Ucapan selamat malam pun saling kami sampaikan. Mereka semua masuk ke dalam rumah, sedangkan aku masih merokok sebatang lagi. Diam-diam aku dan Rere saling tatap mesra, senyum bahagia saling kami bagikan untuk mengakhiri hari.
https://t.me/cerita_dewasaa
Sempurna!! Itulah satu kata yang bisa kugambarkan atas hidupku saat ini. Aku sungguh-sungguh bahagia karena Rere bisa diterima baik oleh keluargaku, dan seolah sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Oma Alya juga sangat menyayangi Rere, dan Opa Ardan nampak bangga.
Kami baru saja selesai makan siang di rumah oma. Sebagian masih ngobrol di serambi rumah, sebagian nongkrong di depan. Aku mengajak Rere jalan-jalan mengelilingi perkebunan. Kakak dan adikku seolah mengerti, mereka tidak mau ikut menemani. Keduanya lebih memilih menemani Oma Alya dan Oma Ewer (lupa namanya) membuat kue untuk kami bawa pulang.
Senyum kekasihku mengembang, sekali-kali melirikku mesra. Telapak tangan kami pun selalu bertautan saling menggenggam. Setelah melewati perkebunan sawi, aku mengajak Rere menyusuri jalan setapak. Menuju hutan pinus.
“Sayaaaang!” jerit kekasihku ketika aku tiba-tiba mengangkat tubuh langsingnya dan membopongnya menuju sebuah bangku kayu.
“Kangen.” ujarku.
Sikap kaget kekasihku langsung berubah, ia mengalungkan tangannya pada leherku dengan manja. Matanya berbinar menatapku.
Kududukan tubuh Rere di atas pangkuan dan kekasihku mesra memandang, ditariknya rambutnya ke belakang sambil memberikan seulas senyum. Kulirik leher jenjangnya sebentar, lalu kusambut bibirnya ketika ia merunduk.
Ciuman basah langsung kami lakukan, bukan hanya saling kulum, tetapi juga melumat dan berbagi liur. Kami sama-sama melepas gerah rindu, menumpahkan rasa yang sejak kemarin kami tahan-tahan. Inilah ciuman pertama setelah 17 jam kami tidak bisa melakukannya. Bagaimana bisa, kakak dan adikku selalu mengelilingi kami; kami juga selalu berada di tengah keluarga besarku.
“Mmmmhhhh…” bibir kami akhirnya terlepas.
Kekasihku melenguh seolah ingin menyampaikan rasa lega. Ia akhirnya bisa bermanja. Rere mengecupku sekali lagi, lalu menjembeli kedua pipiku seakan gemas.
“Rei… Rei… Rei…” gemasnya.
Ulahnya menyukakanku, kugigit kecil dagunya. Rere pun terkekeh sambil menghindar-mendongak. Sekalian kupindahkan ciumanku pada leher indahnya. Kekasihku terkikik kegelian. Ia pun menarik dan mendekap kepalaku, agar aku tidak lagi mengecupi lehernya. Berkah bagiku, wajahku terbenam di atas dadanya. Empuk!!
Aku sungguh menikmati momen-momen indah ini, tapi hanya beberapa detik, sisanya aku eungap alias sesak nafas.
“Nakal!” gumamnya. Aku pun terkekeh, pipiku sukses mendapat tepukan-tepukan lembut.
Aku dan Rere sungguh-sungguh menikmati kebersamaan berdua. Tidak banyak kata, namun saling bermesra, dan berbagi kecupan-kecupan kecil.
“RWP,I love you.” ia menyebut inisial namaku dengan mesra, mengakhiri cumbuan-cumbuan lembutnya.
“RCN, I love you too.” balasku.
“Makasiiih.” kekasihku beringsut turun dari pangkuan.
Tangannya terulur, dan kusambut. Kuikuti langkahnya kemana ia mau. Menyusuri hutan pinus yang sangat indah. Bunyi daunnya yang diterpa angin bagai kidung semesta yang menyenandungkan nada-nada cinta untuk kami.
Rere pun mengungkapkan rasa bahagianya karena ia merasa diterima oleh keluargaku. Ia juga senang karena mamah memperlakukanku sama seperti ia memperlakukan Kak Kekey dan Nzi.
“Jadi kapan aku kenalan dengan ayah dan mamahmu?” tanyaku.
“Nanti sidang skripsi mereka pasti ke Bandung kok. Kamu sekalian melamar aku?”
“Memang kamu mau?”
“Mauuuu!!”
Kukecup bibirnya yang manyun manja.
“Yah.. yah.. kamu lamar aku. Hihi…”
“Idih.. kamu kok jadi agresif gini sih, yank?”
“Biarin! Daripada kamu direbut Inka!”
“Yaelah Inka lagi.. Inka lagi…”
Aku benar-benar gemas. Kutangkup kedua pipinya, dan kulumat bibirnya dengan hangat. Ia yang mau menghindar pun tak berdaya; bibir basahnya langsung membalas.
Sisanya kami jalan-jalan sambil bergandengan tangan. Janji suci untuk saling menjaga dan mencintai pun kami ungkapkan. Mungkin terlalu dini, tapi rasa hatiku sudah terpatri hanya untuknnya; begitu juga sebaliknya.
Sejam kemudian kami kembali ke rumah oma. Ayah memintaku untuk mengecek café NeNeN yang berada di kompleks villa ini. Hanya sekitar satu kilometer dari rumah oma. Rere ingin ikut, tapi Nzi kembali possesif dan meminta supaya Rere menemaninya memetik tomat untuk dibawa pulang.
Kuputuskan untuk jalan kaki sambil menikmati segarnya alam pegunungan. Aku melewati jalan pintas di bagian atas bangunan-bangunan villa, lalu turun melewati jalan di samping villa yang sangat besar dan megah. Aku kembali berbelok di sisi taman belakang sebuah villa yang berpagarkan teh-tehan tinggi dan pagar kawat.
Kukeluarkan rokokku.
“Aaah.. pelaaan, sayang.” aku urung menyulut rokok ketika dari arah taman terdengar sebuah pekikan.
Tidak lagi ada suara. Kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan, namun baru beberapa langkah suara itu kembali terdengar. Tidak sekeras tadi, tapi lebih kerap dan seperti sedang menahan rasa nikmat.
Aku berhenti dengan perasaan berdebar. Aku tidak awam, jelas suara itu adalah desahan perempuan yang sedang bercinta. Aku pun berjingkat mencari celah untuk mengintip. Aku melihat bayangan dua tubuh di samping kolam renang. Namun aku masih belum bisa melihat secara jelas. Aku pun bergeser sambil mengambil sebuah ranting. Kumasukan di antara lubang pagar kawat dan menyibak daun yang menghalangi.
Damn!!!
Aku tersentak dan jantungku langsung berdegup kencang. Mataku terbelalak dan mulutku terbuka. Rokok yang belum kusulut pun jatuh.
Di samping kolam nampak seorang wanita paruh baya yang sangat cantik sedang menungging tanpa busana. Tepat menghadap tempatku mengintip.
Tangannya berpegangan pada sandaran kursi panjang, kaki kiri menjejak tempat duduk, sedangkan kaki kanan menginjak lantai. Payudaranya bergelantungan, sekali-kali diremas oleh lawan mainnya.
Paras cantik wanita itu nampak sangat menikmati penis yang sedang menyodok lubang nikmatnya. Mulutnya terbuka sambil sekali-kali mengeluarkan lenguhan erotis. Yang mengagetkanku adalah pria yang sedang menyetubuhinya, seorang anak muda. Umur mereka sangat jauh berbeda, bahkan usia si pemuda sepertinya jauh di bawahku.
“Ah.. ahh… ahhh… mmmh… ssshhh…” desarahan erotis si wanita semakin kerap kudengar.
Aku celingukan sebentar, setelah merasa aman, kuluruskan penisku yang tiba-tiba tegang lalu melanjutkan mengintip.
“Aaah… Memek Tante Wulan enak banget, aku mau keluar sayang.” lenguh si pemuda.
“Aaah.. Tante juga, sayang. Harder.. harder.. I wanna your cock… Ssssh…”
“Aaaaah.!!”
Kedua tubuh itu nyaris ambruk. Bergetar-getar seiring erang nikmat keduanya. Mereka sepertinya orgasme bersamaan, sedangkan penisku berkedut-kedut kentang.
“Mmmh.. enak banget. Tante Wulan memang tidak ada duanya.” puji si pemuda.
“Uuuh.. makasih, sayang. Makasih udah mau menggantikan suamiku yang sudah lembek.” jawab si wanita.
Keduanya langsung saling mencumbu dengan tubuh bercucuran keringat. Aku? Daripada sange tanpa ada tempat pelampiasan mendingan BERSAMBUNG….
0 Komentar