BAB 14
Aku merapikan rambutku alakadarnya dengan jari tangan. Dadaku turun naik karena dorongan nafas yang tersengal. Aku sudah berdiri di depan pintu bernomor 153 (baca RE).
Tanganku sedikit gemetar ketika menekan bel. Tak perlu menunggu waktu lama pintu pun terbuka. Sosok yang telah mengisi rindu terdalamku berdiri di hadapanku. Ada sorot bahagia, tapi berganti marah setelahnya.
Kekasihku sedikit berbeda. Makeup-nya sedikit tebal, namun tidak bisa menyembunyikan gelayut kelopak mata bawahnya yang tebal. Ia juga hanya mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih, dengan bawahan memakai celana pendek. Sepintas seperti daster mini karena ujung bawah kemejanya menutupi celana.
“Sayang.” aku mendekat untuk memeluknya.
Tetapi kekasihku menghindar dengan bergeser ke samping, tangan kanannya tetap memegang pintu, sedangkan tangan kanan menahan dadaku. Setelah aku melewati pintu, ia pun menutupnya lalu melangkah mendahului tanpa sepatah kata pun terucap.
“Sayang, aku.. aku…”
“Kamu mau minum apa?” potongnya dengan judes.
“Air putih aja.” aku menjawab lemah.
Tanpa menengok ia pun mengambil gelas, sedangkan aku duduk di sofa depan TV. Apartemen Rere cukup luas dan mewah. Ia membuka kulkas dan menuang air dari dalam botol. Posisinya yang merunduk membuat kemejanya terangkat, bukan hanya membungkus pinggul lebarnya, tetapi mempertontonkan paha belakangnya yang putih.
Rere meletakan air di atas meja di depanku, tanpa sepatah kata pun terucap. Tanpa pula duduk menemaniku. Aku yang memang kehausan setelah menaiki anak tangga sampai ke lantai 20, langsung meneguk isi gelas sampai habis.
“Kalau kurang, ambil sendiri di kulkas.” suaranya datar.
Kekasihku duduk di kursi makan, dan memilih membuka smartphone-nya. Entah apa yang ia buka, atau dengan siapa ia berbagi pesan. Melirikku pun tidak.
Bodohnya, aku malah berdiri dan mengambil botol minum di kulkas. Kutuang gelasku dan ketenggak sampai habis. Kuisi lagi dan kuminum sampai habis setengah, sisanya kubawa dan aku duduk di hadapan kekasihku.
Baru juga pantatku nempel pada kursi, Rere berdiri meninggalkanku. Pindah duduk pada meja komputer yang sudah menyala sejak tadi. Tumpukan kertas sedikit berserakan.
“Re…”
Kekasihku menengok dengan mata melotot. Tangannya teracung dan digoyangkan kiri-kanan. Ia seolah memberi kode bahwa ia sedang tidak ingin diganggu, dan tidak berminat berbicara denganku.
“Yank, dengar dulu penjelasanku.”
“Diam!!”
Segalak-galaknya seorang Rere, aku tidak pernah mendengarnya membentak orang, tapi kali ini ia membentakku dan nampak begitu marah. Aku bungkam. Kugenggam dan kuputar-putar gelasku sambil menatapnya, tapi ia malah fokus pada layar, sekali-kali tangannya gesit mengetik.
Lima menit… sepuluh menit… aku bagai orang bego yang hanya diam tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Kuedarkan pandangan, mengamati seisi ruangan apartemen. Beberapa fotonya terpajang, tapi aku heran, tak satu pun aku menemukan pose ia dengan orangtuanya.
Aku pun berdiri dan mengamati segala pernak-pernik yang ada. Rere tak bergeming, ia seolah begitu fokus, padahal kalau diperhatikan secara seksama, ia nampak gelisah. Setelah melihat-lihat apartemen Rere, aku pun mendekat.
Aku nekad. Kupeluk tubuh kekasihku dari belakang dan kutempelkan pipiku pada pipi kanannya.
“Maafkan aku, sayang. Aku bisa jelaskan.” lirihku.
Rere menghela nafas panjang. Tubuhnya sedikit kaku. Ia tidak menolak rengkuhan tanganku, tapi juga tidak membalas. Ia malah meletakan kedua sikutnya di atas meja, dan bertopang dagu. Matanya tajam menatap layar komputer. Aku ikut memperhatikan, rupanya ia sedang mengerjakan laporan KKN-nya.
Kukecup kepalanya tanpa melepaskan pelukan. Kulakukan berulang-ulang. Kalau ia tidak mau mendengarkanku, biarlah ciuman ini menjadi tanda bahwa aku menyesal dan sangat menyayanginya.
Sial. Perutku malah berbunyi. Waktu memang sudah menunjukan jam dua, dan aku belum makan siang, meskipun tadi subuh sempat sarapan nasi goreng bikinan oma.
Rere mengurai tanganku, tanpa kata ia berdiri dan menuju dapur. Aku membuntutinya, tapi ia malah mendorong dadaku supaya duduk di ruang makan. Wajahnya datar, tapi kulihat matanya sedikit memerah.
Kekasihku menyalakan kompor, diambilnya juga telor. Ia mulai sibuk memasak sedangkan aku duduk dengan posisi memunggungi.
Kuhela nafas panjang. Aku tidak peduli ia mau mendengarkan atau tidak, kini saatnya aku menyampaikan sebuah alasan. Walaupun dadaku sesak karena harus membohonginya.
“Yank, malam itu sepulang dari rumahmu, di rumah oma sudah Kak Garpit, saudaraku. Dia memintaku menemaninya ke Sawer malam itu juga karena ada urusan penting.”
Kudengar Rere berisik, memasak dengan kasar. Tapi aku tidak peduli, aku terus bercerita dan bercerita. Kusampaikan juga penyesalan dan permohonan maafku. Satu yang pasti, Rere harus tahu bahwa aku sangat menyayanginya, dan aku merindukannya. Kusampaikan itu.
Hening.
Tidak terdengar lagi suara berisik.
“Nih makan dulu.” Rere meletakan piring di hadapanku.
Nasi putih mengepul pertanda baru dituang dari dalam rice cooker. Di atasnya menumpang omlet dicampur sosis, juga oseng sawi hijau. Lengkap dengan sambel di pinggir piring.
Aku melirik dan mendongak. Hatiku berdesir perih. Rupanya Rere sudah bersimbah air mata. Ia memasak dan mendengarkan ceritaku sambil menangis.
“Yank.” sigap aku langsung berdiri dan memegang kedua bahunya.
“Brengsek kamu!! Pembohong!!!” ia sangat marah di balik tangisnya.
Ia memukuli dadaku dengan keras.
Langsung kudekap tubuh rapuh kekasihku, pukulannya berhenti karena tangannya terjepit dada kami.
“Kamu memang ke Sawer, tapi kamu sudah membohongiku. Kamu sakit di sana, dan tak seorang pun keluargamu yang mengijinkanku datang ke sana! Hhiiiiiikkkkssss…. brengsek!! Kamu brengsek!! Tega ke aku. Huaaaa…. Kalau memang kamu tidak mau aku tahu bahwa kamu sakit, ya aku masih bisa terima. Hiiiiksss… tapi kenapa harus tinggal di Sawer? Kenapa gak ke dokter?!!!”
Rere meraung dan meronta-ronta, tapi kutahan dan tetap kudekap. Mataku terasa panas mendengar kemarahan dan kepedihan hati kekasihku. Aku juga telah berlaku tolol dengan memberi alasan bodoh. Lupa kalau kami sudah sepakat bahwa alasan yang dipakai adalah aku sakit. Dan Rere pasti tahu dari oma dan mamah.
“Jahaaat.. kamu jahaaat… hiks.. hiks…” rontaan Rere berhenti, tubuhnya menjadi lemah. Kutahan pinggangnya, dan kududukan di atas pangkuan.
Kuangkat kepalanya. Aku langsung berkaca-kaca melihat wajah Rere yang bersimbah air mata. Kuusapi mencoba mengeringkan, tetapi air matanya masih terus saja mengalir.
Kukecup keningnya, isaknya malah semakin keras. Aku sudah tidak bisa lagi berkata-kata, membuka mulut malah akan membuatku ikut menangis. Maka hanya dekapan dan ciuman yang bisa kulakukan. Kubenamkan kepalanya di atas bahu dan kukecupi rambutnya.
“Aku benci kamu, Rei. Benci.. benci.. hiks…” suaranya semakin lemah.
Aku tahu ucapannya tidak sungguh-sungguh karena dekapannya semakin erat. Entah berapa lama kami saling memeluk erat. Yang jelas tangisnya sudah tidak lagi terdengar, dan nasi di atas piring nampak sudah dingin.
Rere mengangkat kepala dan kami bertatapan dekat. Kuusap kelopak bawah matanya, kukeringkan juga pipinya yang sembab. Sedangkan tangan kirinya menangkup rahangku.
Kuusap bibirnya, lalu merunduk untuk kukecup.
“Gak mau! Kamu jahat!!” kekasihku melengos, tapi senyumnya sudah mulai mengembang.
Aku mengejar, tapi ia tetap menghindar. Telapak tangannya ia pakai untuk menutup mulutnya.
“Haaaaah…” Rere menghela nafas panjang, seolah membuang seluruh sisa beban yang ada.
Ia pun mengubah posisi duduknya. Kalau tadi kupangku menyamping, kini berhadapan. Kudorong kursi ke belakang agar bisa memberi ruang dan tidak terlalu mepet ke mja makan.
“Kamu lihat ini?” Rere menunjukan telapak tangan kanannya.
Kuraih dan kuamati, tidak ada yang aneh di sana. Nampak putih dan mulus, juga halus kurasakan.
“Kenapa?”
“Pengen gampar kamu!!” sambil mendesis membuang sisa kesal.
“Boleh kok.” aku sungguh rela digampar kalau dengan itu ia bisa memaafkanku.
Bukannya melakukan apa yang diinginkannya, ia malah mengambil piring dan menyuapiku dengan posisi tetap kupangku. Kubuka mulut dan kukunyah masakan kekasihku.
“Enak?” ia menatapku.
Aku mengangguk, dan ia tersenyum senang. Semarah-marahnya seorang Rere, ia tahu apa yang kubutuhkan, peka kalau aku belum makan.
Kini marah dan sedih Rere sudah punah, berubah lembut penuh perhatian. Ia menyuapiku dengan mesra. Sekali-kali aku yang menyuapi walaupun awalnya menolak karena mengaku sudah makan. Aku tahu ia bohong, yang ada juga ia pasti susah makan karena memikirkanku.
“Nambah? Tapi lauknya tinggal sayur aja.” ujarnya ketika memberikan suapan terakhir.
Aku menggeleng. Ia mengecup pipiku dengan cepat lalu berdiri untuk mengambil minum.
Usai minum kami pindah duduk ke atas sofa panjang dan lebar, tempatnya bersantai menonton TV.
“Jangan tinggalin aku lagi.” ia menatapku sendu sambil memelukku. Kaki kirinya ia tumpangkan di atas pangkuanku.
Aku mengangguk sambil mengucapkan kata maaf. Sisanya kami saling belai, dengan mata saling menatap mesra.
Merasa tidak nyaman, kami berdua berbaring tanpa melepaskan pelukan. Sambil diselingi kecupan-kecupan lembut, kekasihku bercerita tentang kemarahan, sedih, khawatir dan rindunya. Aku diam mendengarkan.
Ia juga cerita tentang progress laporan akhirnya, dan meminta dukunganku agar ia bisa menyelesaikannya dalam satu semester. Minggu ini ia malah produktif. Ia mengalihkan kesedihan dan tidak bisa tidurnya dengan bekerja. Ia melampiaskan semuanya dengan bekerja. Kekasihku hebat! Aku pasti tidak bisa seperti itu.
Kuusapi wajahnya yang sudah tanpa makeup, luntur oleh air mata. Kuurut kelopak bawah matanya yang bengkak. Si galak kesayanganku berubah manja, ia mencucuki hidungku, dan tidak malu meminta ketika ingin kucium.
“Haaaah….” aku menghembuskan nafas panjang.
“Kenapa?” ia menatapku heran.
“Kamu ini loh, Yank. Kamu seksi banget sih.” jawabku sambil membetulkan lipatan kemeja atasnya yang tidak terkancing.
“Masa sih?”
Rere malah menarik kerah bajunya dan mengintip payudaranya sendiri, lalu menatapku sambil memeletkan lidah. Ia benar-benar sedang mencobaiku. Padahal aku tahu, gadis sekelas Rere akan sangat tidak suka jika aku memesuminya kelewat batas; pandangannya terhadapku akan berubah.
Ia menarik bajunya ke atas untuk menutupi dadanya, tapi yang terjadi bagian bawahnya ikut tertarik. Paha putihnya nampak menggiurkan.
“Hehehe…” kekasihku terkekeh melihat arah sorot mataku.
Ia langsung melumat bibirku agar aku fokus dan tidak jelalatan menjelajahi bagian tubuhnya yang lain. Awalnya hanya bergantian saling kulum, namun saling mencumbu panas setelahnya. Khusyuk, syahdu, panas, penuh rasa sayang bercampur gairah.
Kami baru saling melepaskan ketika smartphone-ku yang kuletakan di atas meja berdering. Kuraih dan kutunjukan layarnya pada Rere.
“Hallo, Mah.” jawabku setelah sebelumnya kupasang mode loud speaker agar Rere bisa mendengar.
“Kamu pulang jam berapa, Rei? Jadi makan malam di rumah, kan?"
“Iya, Mah. Nih bentar lagi aku pulang kok.”
Cubitan kecil kurasakan dari kekasihku, ia protes karena mendengar jawabanku pada mamah.
“Bu.” Rere akhirnya membuka suara.
“Ibu?”
“Hehee.. Hallo, Tante.”
“Hmm.. kenapa, Re? Nanti kamu ikut Rei ke rumah yah.”
“Rei jahat, Tante. Hiiiks…”
“Loh. Kamu diapain oleh si Rei? Anak tante gak macam-macam, kan?” suara mamah berubah kaget dan panik.
“Bukan. Rei udah ninggalin aku.”
“Oalaah.. kirain apa.” terdengar mamah bernafas lega.
Rere memelukku semakin erat, matanya kembali berkaca-kaca.
“Hiks hiks.. Tante, aku pinjam Reinya. Aku masih ingin ada Rei di sini. Hiks.. hiks…”
“Iya, sayang gak apa-apa. Tapi nanti kalian berdua ke rumah ya.”
“Iya. Makasih, Tante.”
“Ini Tante cuma mau ngasih tahu supaya besok kalian jangan bikin acara, besok kami mau mengunjungi oma dan omanya Rei di Lembang. Dan kamu harus ikut.”
“Kok aku ikut, Tante?”
“Pokoknya ikut!”
“Hehe.. tapi kan…”
“Makasih, sayang.”
“Tante aku belum…”
“Kan tante udah bilang makasih.”
“Ii..ya…”
“Dadah, sayang. Bilang Rei ya kalau besok kalian gak usah pacaran dulu. Dan awas kalian jangan macem-macem! Terus nanti sore kamu harus ikut Rei ke rumah!”
“Tante..”
Klik.
“Reeeiii..!” Rere hanya bisa protes padaku sambil merengut.
“Hehehe.. mertuamu tuh.”
“Iiih geer, siapa juga yang mau nikah ama kamu?!”
“Jadi gak mau?”
“Emang kamu mau nikahin aku?”
Kutangkup kedua pipi kekasihku agar memandangku. Sorot mata kami beradu mesra.
“Rere sayang, maukah kamu menjadi bagian dari masa depanku?”
“Yaitu?”
“Dengan menjadi pendampingku dalam segala untung dan malang.”
Mata Rere berkaca-kaca, kepalanya mengangguk. Kutarik kepalanya dan kudekap dalam pelukan.
“Tapi besok aku gak mau kumpul bareng keluargamu, Rei.” ia merajuk.
“Kenapa?”
“Pengen berdua aja ama kamu. Hihi…”
Aku tidak menjawab. Kukecup bibirnya dan ia membalas hangat. Ia menangkup kedua pipiku dan aku menekan kepala belakangnya. Bibir kami pun berpagutan semakin dalam, sekali-kali sambil melenguh karena cinta kami mulai bercampur gairah.
Serempak kami saling mengakhiri dan ia membenamkan kepalanya di atas dadaku dengan nafas terengah.
Lama-lama pelukannya berangsur lemah, nafasnya berubah halus.
“Aku capek.” lirihnya.
“Bobo.”
Aku tahu kekasihku sangat lelah. Lelah karena kurang tidur, lelah karena memikirkanku. Makeupnya yang tadi dibuat sedikit tebal, tak mampu mengelabuiku.
Kugeser sedikit tubuhku, aku ingin selalu memandang wajahnya. Rere pun nampak begitu nyaman tertidur, dan tak henti membelai rambutnya, mataku mengamati setiap lekuk wajahnya. Aura kecantikannya semakin terpancar ketika ia dalam keadaan lelap. Bahkan ketika aku memejamkan mata, wajah Rere tetap terekam. Gadisku sudah merasuki seluruh adaku. Di dalam hati dan benakku sudah ada dia, semoga terus tersimpan sampai ajal memisahkan.
Sekitar jam lima sore, ia membuka mata.
“Mmmh…” ia malu ketika sadar sedang kupandangi.
Kukecup keningnya dan ia malah mengulet dan semakin bermanja dalam pelukanku. Butuh waktu untuk merayunya agar mau bangun dan mandi.
Tiba-tiba aku terkekeh dan merasa geli sendiri.
“Kenapa?” keningnya mengkerut.
“Nggak.” jawabku.
Bukan apa-apa, kadang aku berpikir bahwa Rere ini agak mirip mamah. Jarak antara galak dan manja begitu dekat.
“Udah ah cepetan mandi.” sebelum ia mencecar, aku mendorong tubuhnya supaya bangun.
“Kamu juga mandi.” ujarnya sambil menduduki perutku.
Duh.. ia kurang peka. Paha putihnya sangat menggiurkan dan sangat menggoda. Segera aku berpaling menatap wajahnya.
“Emang boleh mandi bareng?”
“Ya nggak!!! Kamu mandi di kamar itu.” sambil menunjuk sebuah kamar.
“Oh kirain hehee.”
“Kamu!!” ia menoyor jidatku. “Ingat pesan Tante tadi, aku aduin loh.”
“Ya abisnya kamu tuh cantik banget, pake pamer-pamer lagih.” sambil berkata begitu, kuberanikan diri mengusap kedua pahanya. Halus kurasakan.
“Iiih… geli tahu!!” ia menepis tanganku dan langsung meloncat turun.
Lidahnya memelet, lalu melenggang-lenggok menuju kamarnya untuk mandi. Aku menghela nafas panjang melihat goyangan pinggulnya. Kuluruskan penisku yang terjepit karena setengah tegang.
“Yank, handuk dan alat mandinya udah ada di dalam.” teriaknya dari dalam kamar.
“Iya.”
Aku pun melangkah menuju kamar yang tadi ia tunjukan, dan langsung melucuti pakaianku untuk mandi. Aku senang aku dan Rere bisa mandi bersama, walaupun beda kamar mandi. Kuberi tahu penisku dengan kusentil, sial dia malah mendongak.
Tidak sampai sepuluh menit aku sudah keluar kamar dengan keadaan bersih, tetapi pintu kamar Rere masih tertutup. Aku maklum perempuan biasanya mandi lebih lama karena terlalu banyak lekukan yang harus dibersihkan. Kuputuskan untuk menuju balkon kecil dan merokok. Kupandang pemandangan kota Bandung yang lampu-lampu jalannya sudah menyala.
Dua batang rokok kuhabiskan, namun Rere masih juga belum keluar kamar. Aku masuk dan langsung mengetuk pintu kamarnya.
“Yank, keburu macet loh.” aku mengingatkan.
“Iya. Kamu masuk aja.” jawabnya.
Aku pun membuka pintu dan nampak Rere sedang duduk di depan meja rias. Sejenak aku mengamati kamar Rere yang cukup luas, lengkap dengan meja rias dan meja belajar. Pernak-pernik khas perempuan pun terpasang di dinding dan lemari kaca.
“Yank, aku pake baju ini cocok gak?” tanyanya sambil menatapku dari pantulan cermin besar.
“Cocok.”
Kekasihku mengenakan pakaian kasual berupa kemeja putih longgar dengan kacing atas tetap dibiarkan terbuka, bagian bawah mengenakan jeans ketat.
“Iih bukan cocok-cocok aja, kamu gak bohong, kan?”
“Iya, sayaang.”
“Hihi.. abisnya aku grogi mau ketemu keluargamu.”
Aku pun mendekatinya dan memeluk Rere dari belakang. Kupandang wajah cantiknya melalui cermin sambil menumpangkan dagu di atas pundaknya.
“Cantik!” gumamku spontan.
“Beneran?”
“He’eh.”
“Kamu merokok yah? Bauuu.. sanah jangan dekat-dekat.”
“Ya biasanya juga aku kan merokok.”
“Iya tapi nanti rambutku jadi bau rokok dari nafasmu, kumur sanah.”
“Siap, Rere galaaaak!!”
“Sanah!!”
“Iyah.. iyah..”
Aku pun melangkah menuju kamar mandinya, kukumur mulutku dengan obat kumur yang ada di atas washtafel.
“Yank, celana dalammu masih menggantung tuh.” teriakku sambil tertawa kecil melihat bungkus perabotan Rere yang mini.
“Oh iyah, aku lupa. Tolong masukin ember donk, yank.”
“Aku kantongin dan bawa pulang aja ya.”
“Boleh. Nanti kusumpalin di depan mamahmu!!!”
Aku hanya bisa terkekeh. Kuraih celana dalamnya dan kumasukan ke dalam ember berisi pakaian kosong. Aku tidak berniat berpikir macam-macam, kalau aku bisa mendapatkan isinya, kenapa harus memesumi bungkusnya. Lagian yang bisa disuwir kan bukan celana dalam.
Jauh di dalam lubuk hatiku aku merasa bahagia. Rere tidak terdengar malu. Seseorang yang tidak lagi malu atas apa yang bersifat pribadi dan rahasia, itu berarti ia sudah merasa nyaman dan percaya.
Kulihat kekasihku belum selesai bersolek. Kuputuskan untuk menunggunya sambil rebahan di atas kasur.
“Jangan tiduran, entar kasurku bau tubuh kamu.” ia menengok.
“Kenapa?”
“Nanti akunya kangen.”
Aku pun terkekeh bahagia, kupeluk guling sambil mengamatinya. Sekali-kali ia melirik dari pantulan cermin sambil tersenyum.
Aku masih perlu sepuluh menit lagi untuk menunggu Rere merias diri, dan nafas lega kuhembuskan ketika akhirnya ia mengajak jalan.
“Nih, kamu bawa kunci cadangan, jadi kalau ke sini gak usah bikin repot!” sambil jalan di gang ia mengeluarkan kunci cadangan dari dalam tas kecilnya.
“Hehehe.. kalau datangnya malam-malam boleh?”
“Ya sok ajah.”
“Kalau aku maunya…”
“Aku mau jadi pacar kamu karena setahuku kamu bukan cowok mesum!”
Aku pun langsung bungkam. Kujejeri langkahnya sambil menggandeng pinggangnya. Ia mendelik tapi tetap tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
“Hehehe..” tiba-tiba kekasihku tertawa renyah.
“Kenapa?”
“Tadi kamu lewat pintu itu ya?”
“Hooh.”
“Uuuh kasian, salah sendiri gak nelpon aku.”
“Emang kalau aku nelpon, kamu mau jemput aku ke bawah?”
“Nggak sih, hehehe…”
Dengan gemas kutarik pinggangnya sehingga jalan kami semakin berdempetan. Ia malah membalas dengan melingkarkan tangan pada pinggangku; tangan satunya menenteng tas tangan. Senyumnya cerah, dan aku bahagia karena telah berhasil memupus sedih dan rindunya selama tujuh hari ini.
Pintu lift pun terbuka.
Degh.
“Rei?!” wanita cantik itu terbelalak seolah tidak percaya aku sedang menggandeng seorang gadis cantik.
Rere kaget karena ia mengenalku, ia pun menatapku penuh tanya. Bibirku berucap untuk menjelaskan “BERSAMBUNG, sayang.”
Report content on this page
0 Komentar