Sang pewaris part 13

 

BAB 13








Jam sembilan pagi aku dan oma tiba di rumah di Bandung. Wanita yang pernah melahirkan ayahku itu memaksa ikut sekalian untuk menemui kedua cucunya yang lain. Mamah menyambutku di depan rumah. Hari ini adalah Jumat, mamah tidak punya jadwal ngajar.




Mamah mencium tangan oma, dan berciuman setelahnya. Rona wajah mereka memancarkan raut bahagia.




“Sayang.” setelahnya mamah menghambur memelukku.




Wajahku ia ciumi dengan air mata berlinang.




“Maafkan mamah dan ayah, ya sayang. Hiikss.. tapi mamah bahagia, anak hilang mamah bisa pulang.”


“Iya, Mah. Gak apa-apa kok.” jawabku.




Aku dan mamah menggandeng oma memasuki rumah, sedangkan bawaan kami diangkat oleh dua orang pembantu.




“Gimana perjalanannya, Bu, si Rei gak ngebut kan?” tanya mamah pada oma.


“Anakmu itu… Oma sampai jantungan, nyopir kayak dikejar setan.” ujar oma sambil mencubit pipiku.


“Bener, sayang?” mamah melotot ke arahku.


“Nggak kok, Mah, cuma kecepatan 40km/ jam.” aku mengelak.


“Sisa spido meternya?”


“Hehehe.”


“Kamuu!!” kini mamah yang menjembeli pipiku dengan geram.


“Udah.. udah.. kasian cucu oma.” aku punya pembela.




Mamah pun merengut dan menggerutu karena sering tak berkutik di depan mertuanya. Perjumpaan ini harusnya membahagiakan, keakraban mamah dan oma sangat menyentuh hati. Tapi tidak kali ini. Aku sedang gelisah, dalam benakku hanya ada sebuah nama, dan itu adalah Rere.




“Mah.”


“Iya, sayang?” mamah yang sedang memindahkan gelas dari baki yang dibawa pembantu pun menengok.


“Aku pergi dulu yah.”


“Loh mau kemana?”


“Mau nemuin Rere.”


“Oh gitu?! Jadi sekarang mamah udah jadi nomor sekian gitu? Lebih penting pacar barumu daripada mamah? Mamah juga kan masih kangen.” mamah protes.


“Udah… biarin aja. Kamu kayak gak pernah muda aja, ingat dulu waktu kalian…”


“Ibuu!!” marah mamah langsung histeris memeluk ibu, ia tidak ingin aku tahu tentang ‘aib manjanya’ pada ayah, padahal oma sudah cerita semua.




Mau tidak mau aku pun terkekeh, pun pula oma sambil mendorong tubuh menantunya. Mamah melotot padaku.




“Boleh, ya Mah. Cuma sebentar kok.”


“Nggak!!”


“Mah..” aku protes.




Mamah menghela nafas panjang, sikapnya kembali berubah lembut.




“Lihat mamah.” ia memegang kedua bahuku.


“Mendingan kamu mandi dulu sambil nungguin ayah, ayah sudah dalam perjalanan pulang. Nanti kalau sudah ngobrol bareng ayah, kamu boleh pergi.” jelas mamah.


“Tapi, Mah.”


“Kamu percaya saja ke mamah. Mamah sudah ketemu Rere, dan dia baik-baik saja.”


“Serius, Mah.” kini aku yang antusias.


“Nggak.”


“Maaah?!”


“Hihi.. udah sana mandi. Pokoknya kamu gak boleh pergi sebelum ketemu ama ayah.”


“Baiklah, Raden Ajeng Belah Bumi.”


“Apa kamu bilang?” mamah melotot dengan wajah merah padam. Tangannya terangkat untuk mencubitku.


“Raden Ajeng.” seruku sambil berkelit dan berlari menaiki anak tangga, menuju kamarku.


“Awas ya kamu, sayang!!!” teriak mamah.


“Sudaaah… ini oma minum sendiri jadinya?”


“Hehee.. cucu oma tuh.”


“Anak kamu.”


“Anak bapaknya!”




Aku pun tertawa mendengar percakapan ketus antara mamah dan oma, keduanya juga terdengar tertawa setelahnya. Kumasuki kamar yang sudah sebulan kutinggalkan.




Degh!!




Di atas kasurku berserakan burung-burung kertas. Sangat banyak. Aku pun kembali dan berdiri di ujung tangga.




“Mah.”


“Iya, sayang?”


“Itu kok kasurku penuh oleh burung-burungan kertas?”


“Oh adikmu tuh. Katanya setiap ia kangen kamu, ia menaruh satu burung kertas di kamarmu.”


“Ooh. Makasih, Mah.”




Aku pun terharu mendengarnya. Sejenak aku menepis pikiranku tentang Rere. Kutelpon adikku, tapi tidak diangkat, mungkin sedang di kelas. Kukirim pesan singkat: “Dek, kakak sudah pulang. Miss you, Nziku yang ceriwis.”




Kutangkup tumpukan burung-burung karya tangannya, dan aku pun tersenyum haru. Setelahnya aku menanggalkan pakaian, dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kalau dihitung, berarti sudah seminggu aku tidak mandi karena tadi sebelum berangkat ke Bandung pun aku tidak mandi terlebih dahulu. Hehe.. pantesan mamah memaksaku nyuruh mandi.




Setelah mandi dan berganti pakaian, aku pun keluar kamar. Ayah rupanya sudah pulang dan sedang ngobrol bertiga di bawah.




“Yah.” aku menyalami dan mencium tangannya.




Ayah pun memegang kepala dan mencium keningku. Sebuah kebiasaan yang jarang ia lakukan, palingan hanya pada hari istimewa, atau setelah lama tidak bertemu seperti sekarang ini. Senyum ayah menyiratkan bangga dan haru.




“Kirain kamu gak akan bisa pulang lagi, Rei.” ia terkekeh sambil menepuk pipiku.


“Ayaah!!” aku mah diam saja, tapi mamah yang protes.


“Kalau sampai Rei gak bisa pulang, kamu yang ibu pecat sebagai anak.” oma menggerutu.


“Dan aku pecat sebagai suami.” mamah ikut-ikutan.


“Memang bisa?” ayah sok kalem.


“Nggak!!” oma dan mamah bersamaan.




Mamah langsung memeluk ayah seolah takut kata-katanya menjadi kenyataan. Oma geleng-geleng kepala melihat ulah anak dan menantunya yang sebetulnya sudah memasuki rentang usia ujur. Hahaha..!! Aku sih sudah terbiasa melihat mereka seperti itu, dengan cuek aku pun duduk dan mencatut sebatang rokok milik ayah.




“Kamu sudah punya pacar, ya Rei?” tanya ayah.


“Hmm.. cantik.. baik… oma aja suka.” jawabku sekenanya.




Rasanya aku ingin membalas perlakuan ayah. Ia telah memintaku pergi ke Anta sehingga aku harus berpisah dengan kekasihku.




“Emang bisa kamu mendapatkan pacar yang kecantikannya melebihi mamah?” tanya ayah dengan sudut mata melirik mamah.


“Ya bisalah, buktinya Rere lebih…”


“Apa?” mamah memotong sambil melotot.


“Hehee.. buktinya Rere secantik mamah.” aku meralat ucapanku sambil terkekeh.


“Tapi gak lebih cantik dari mamah, kaan?”


“Hehe.. iya, sih?”


“Iya, apa?”


“Iya mamah yang paling cantik deh.”




Oma dan ayah pun tertawa, sedangkan mamah tersenyum lebay mendengar jawabanku.




“Kalian itu, malu ama umur.” oma melotot pada ayah dan mamah.


“Biarin!” mamah mendelik, tapi malah memeluk lengan oma setelahnya.


"So, gimana perjalanan spiritualmu, Rei?” ayah mengarahkan pembicaraan menjadi lebih serius.


“Ya begitulah, Pangeran.” aku menjawab sambil menghembuskan asap rokok.


“Tuh, Yah, masa tadi Rei juga manggil mamah Raden Ajeng.” mamah kembali sewot.


“Sudah.. sudah.. memang kenyataannya kalian adalah Pangeran Suwir Jagad dan Raden Ajeng Belah Bumi. Rei sudah tahu semuanya, jadi tidak ada lagi yang perlu kalian tutupi.” oma menengahi, karena selalu saja ada celah untuk tidak menjadi serius.


“Kenapa ayah dan mamah tidak pernah cerita?” aku pun mulai serius.




Mamah pindah duduk ke sampingku dan mengusapi punggungku dengan penuh perhatian dan kasih sayang seorang ibu. Ayah berdehem sebentar sebelum menjawab.




“Sengaja ayah gak pernah bilang ke kamu, karena mungkin kamu akan menganggapnya sebagai tahayul. Makanya ayah memintamu datang ke Anta supaya kamu mendengar sendiri dari Sawaka.”


“Lagian ayahmu juga belum tahu siapa yang akan menjadi penerus. Bisa aja nurun ke Kekey atau Nzi, kan.” mamah menambahi.




Aku mengangguk mengerti.




“Maafkan mamah dan ayahmu, ya Rei.” mamah ganti mengusapi rambutku.


“Mamah dan ayah gak salah apa-apa kok. Mamah jangan bilang gitu.” aku tersenyum pada mamah, lalu pada ayah.


“Aku sudah tahu semuanya, Sawaka sudah cerita. Aku yang malah seharusnya minta maaf karena aku tidak bisa memasuki Anta dan ketemu dengan Leluhur Sawer.”


“Kamu tidak gagal, Rei. Kami malah bangga karena kamu bisa berhasil melakukan perjalanan ke sana.” ayah menyahut.


“Yang terpenting sekarang adalah memikirkan bagaimana kamu bisa melewati semua rintangan dan ritual yang diminta oleh Sawaka.” ujar ayah lagi, kali ini diakhiri dengan helaan nafas panjang.




Mamah pun nampak sedih, dan oma berubah murung.




Kugenggam tangan mamah dan kutatap juga oma dan ayah dengan mantap. “Aku akan menjalaninya, Yah. Ini semua demi kebaikan kita.”




Kini kami saling bertukar pikiran dan berbicara serius. Tidak ada lagi canda saling menggoda atau gelak tawa.




“Tapi ingat, Rei, kamu mungkin gagal. Itu sangat mungkin, tapi tidak ada salahnya kita mencoba melaksanakan perjanjian antara kamu dan Sawaka. Sejauh kamu tetap mengenakan kalungmu, kamu tidak akan celaka sekalipun harus gagal menjalankan misimu.” ayah meneguhkan.


“Kenapa kalung ini, Yah? Kan ini siungnya Sawaka, bukan? Sementara makhluk itu akan menjadi salah satu rintangan dalam syarat yang ia tawarkan.” aku heran.


“Kamu jangan salah, sayang.” kali ini oma yang menyahut. “Sawaka itu Mahapatih, berarti ada yang lebih kuat dari makhluk itu. Raja Anta.”


“Lalu hubungannya dengan semua ini?” aku semakin bingung.


“Sawaka itu sudah menjadi pelindung kita selama ini, dan kesetiaannya tidak bisa kita ragukan lagi. Tapi ia juga harus mengabdi rajanya. Raja Anta. Dialah dalang berbahaya di balik semuanya ini. Maka yang harus kita kalahkan adalah Raja Anta, bukan Sawaka. Mahapatih Sawaka akan membantumu dengan caranya.” oma memaparkan.




Aku pun mengangguk mengerti. Sekarang aku paham kenapa keberadaan Senja dan Sae seolah dirahasiakan. Sawaka ada di pihak kami, dan ia tidak ingin keberadaan Leluhur Sawer itu diketahui Raja Anta.




Cuuup!! Tiba-tiba mamah mencium pipiku bangga.




“Anak mamah memang cerdas.” ujarnya, ia seakan mengerti isi pikiranku.


“Anak Suwir Jagad.” ayah tak mau kalah.


“Cucu oma.” oma mendelik.




Mau tidak mau, suasana serius pun sejenak lumer dengan tawa kami berempat. Sebetulnya aku ingin meledek ayah karena ia membanggakan julukannya, dan ia sudah membuktikan dengan banyak nyuwir. Tapi urung karena masih banyak hal yang harus kuketahui,




“Jadi sebetulnya oma, ayah, dan mamah menyuruhku menemui Leluhur Sawer karena hanya merekalah yang bisa membantu kita mengalahkan raja Anta?”




Ketiganya mengangguk.




“Senja dan Sae juga sebetulnya ada di wilayah Anta. Tapi sang raja tidak tahu. Senja dan Sae juga tahu akan kejahatan raja itu, tapi sudah memutuskan untuk sama-sama mengasingkan diri dari kegaduhan yang ada. Mereka memilih menghabiskan waktu berdua sambil bertapa.” ayah menjelaskan.


“Kalau kita bisa mengalahkan Raja Anta, maka tidak perlu lagi ada ritual-ritual yang sebetulnya hanya merugikan pihak kita.” oma menambahkan.


“Jadi Sawaka dan Mantili hanya menjalankan perintah raja, dan bukan karena kemauan mereka?” aku masih mau meyakinkan pemikiranku. Aku pun semakin paham ketika mereka semua mengangguk.


“Lalu sekarang apa yang harus kulakukan?” tanyaku.


“Kita menunggu petunjuk dari Sawaka karena ia sendiri harus bertindak hati-hati. Ayah dan mamah sudah menduga siapa gadis ritual yang dimaksud, tapi biarlah kamu menemukannya sendiri, Rei.” ujar ayah.


“Ini sangat berat, tapi mau tidak mau kamu harus melewatinya. Mengalah untuk memenangkan pertandingan.” tambah mamah.




Aku menghela nafas. Ayah dan mamah benar. Hanya dengan mengikuti permainan yang ditawarkan aku bisa menemukan celah untuk melawan balik. Tapi aku cukup lega, Sawaka dan Mantili ada di pihakku.




“Dan kalian harus ingat, bukan hanya kamu, Rei…” oma menyahut. “Jaga nama baik, dan tidak boleh ada yang tahu selain kita dan dia.”


“Dia siapa oma?”


“Nanti kamu akan tahu sendiri. Terlalu beresiko jika kamu tahu sekarang.”


“Baiklah.”




Kuyakin “dia” yang dimaksud adalah sang pewaris dari pihak Mantili. Aku sama sekali tidak tahu dan tidak bisa menebak. Sawaka tidak pernah menceritakan siapa saja yang menjadi wanita ritual ayah, dan aku tidak ingin tahu. Aku tidak mau jika pengetahuanku malah menjadi bumerang yang akan menghilangkan rasa hormatku pada ayah dan wanita-wanita ritualnya.




Aku pun memeluk mamah, lalu berpindah memeluk ayah. Terakhir pada oma. Aku ingin agar mereka tahu bahwa aku menyayangi mereka dan tidak ingin mempermasalahkan masa lalu ayah. Toh ayah melakukannya, bukan karena maunya.




“Sayang, nanti kalau kakak dan adikmu nanya karena kamu menghilang dan tidak memberi kabar, bilang aja kamu sakit, dan tidak mau membuat kami khawatir.” ujar mamah.




Aku pun mengangguk, semua setuju. Menyepakati kebohongan demi kebaikan dan terjaganya rahasia yang kami miliki.




Belum juga tenggorokan mamah kering, terdengar mobil Nzi memasuki pekarangan. Tak lama kemudian langkah terburunya terdengar.




“Kakaaaaaakkk….” teriakan kerasnya semakin pelan.




Ia terbelalak karena bukan hanya melihat aku, tetapi juga ada oma. Larinya terhenti seketika.




“Ayoo mau meluk siapa dulu?” mamah menggoda.




Wajah adikku jelas sangat bahagia melihat keberadaan kami berdua di antara ayah dan mamah, tapi ia juga bingung karena mendapat pertanyaan mamah. Aku mengerling, oma berdiri sambil merentangkan tangan.




“Jadi lebih kangen oma, daripada kakak?” godaku ketika ia mendekati oma.




Nzi berhenti dan nampak berpikir, lalu berbalik arah kepadaku.




“Oh jadi gitu, ya sayang? Oma mah udah gak dikangenin lagi.” gantian oma yang menggoda.


“Iiiihhhh…!!” adikku mengucek-ucek rambutnya. Tapi aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Ayah dan mamah tertawa melihat ulah si bungsu.




Oma pun mengambil inisiatif mendekati cucu terakhirnya. Nzi pun mencium tangan oma lalu keduanya saling berpelukan.




“Apa kabar, sayang?” tanya oma sambil menciumi wajah adikku.


“Hehe.. Baik oma. Oma apa kabar?”


“Nih.. seperti yang kamu lihat.”




Nzi membenamkan kepalanya pada dada oma, tapi matanya tertuju padaku. Wajahnya berubah merengut, air matanya menjentik.




Aku pun mendekat, dan Nzi langsung beralih memelukku. Ia menangis.




“Cengeng.” aku mendekapnya.


“Kakak jahaaaat. Hiks…”




Oma ikut mengusapi rambut Nzi yang sedang terbenam di atas bahuku. Ayah dan mamah melihat sambil tersenyum.




“Kakak jahat.. jahat.. jahaaat…” ia merajuk sambil mendongak dan mengusapi air matanya.




Kukecup kepalanya dan kuajak duduk.




“Maaf, ya dek. Sekarang kakak kan udah pulang.” bujukku.


“Dek, udah ah malu. Udah mahasiswa juga.” mamah mengingatkan.


“Biarin!”


“Kamu gak kuliah, dek? Kok jam segini udah pulang?” kali ini ayah yang bertanya.




Wajah basah Nzi berubah lucu. Digigitnya ujung bibirnya, sedangkan tangannya memelintir ujung rambutnya sendiri. Sikapnya sudah jelas menunjukan bahwa ia sengaja bolos.




“Ayah dan mamah sih gakpapa, gak tahu kalau Kak Kekey.” goda ayah.


“Ayahh..!! Maaah…!! Jangan bilang kakak.” ia memelas.




Kami pun tertawa melihat tingkah adikku. Puas menggelayut dalam pelukanku, Nzi pun kembali pada oma. Kami melanjutkan obrolan ringan sambil saling melepas rindu.




“Kamu gak cemburu, dek? Kan kakak udah punya pacar baru.” ujar mamah.


“Cemburu!” kedua pipinya menggelembung.


“Iya tuh.. mamah juga udah gak disayang. Masa tadi baru juga datang udah langsung mau pergi lagi; sekarang mah kita udah kalah ama Rere.” mamah ngadu pada si bungsu.


“Iya, Mah?” pada mamah.


“Kak kok gitu sih?” padaku.


“Yee.. apaan sih. Kan udah semingga nggak ketemu.” jawabku.


“Ama kami gak ketemu sebulan!” adikku gesit menyahut.


“…” aku hanya bisa terkekeh.


“Kenapa gak pacaran ama Kak Inka aja sih, Kak? Kak Inka sayang loh ama kakak.” ujar adikku polos.


“Tahu apa kamu? Kayak pernah pacaran aja.” aku melempar adikku dengan bungkus rokok.


“Yeee… belum aja.” ia mengerling.




Tingkahnya mencurigakan, ia pasti sudah punya gebetan di kampusnya. Tapi aku urung bertanya, biasanya akan ngomong duluan padaku sebelum bilang pada ayah dan mamah.




“Jadi boleh gak aku pacaran ama Rere?” selidikku.


“Hmmm…” ia nampak mikir.


“Oma dan mamah udah setuju loh.” tambahku. Kedua wanita yang kusebut hanya senyum-senyum saja melihat tingkah kami.


“Mendingan Kak Arischa sih daripada Kak Rere.” ia memeletkan lidah.


“Belum juga ketemu Rere!”


“Hihi… kenalin dulu mah Kak Rerenya.”


“Iya nanti dikenalin. Tapi…”


“Tapi apa?”




Aku menghela nafas, setelah kulirik oma, ayah, dan mamah.




“Berjuang donk!” ayah nyeletuk.


“Halah.. kayak dulu ayah memperjuangkan mamah aja!!” mamah bersungut-sungut.


“Emang nggak, Mah?” fokus adikku teralihkan.


“Ya kalau nggak mah, gak akan ada kamu ama kakak-kakakmu.” ayah tak mau kalah.




Kami pun tertawa. Oma tak hentinya membelai rambut Nzi dengan penuh kasih sayang. Adikku memang benar-benar manja dan ceriwis menggemaskan.




“Kak.”


“Hmmm?”


“Jadi kapan ngenalin Kak Rerenya?”


“Ya nanti, dia kan masih marah ama kakak.”


“Kacian! Perjuangin donk!” ia meledek dengan meniru kata-kata ayah. Mereka pun kembali tertawa.


“Tapi adeknya ngijinan gak?”


“Iyah. Hehehe.. Tapi awas aja kalo sayangnya jadi terbagi, aku bakalan marah.” rengut Nzi.


“Nggak donk.” sahutku.


“Yeah.. beginilah oma. Gak kerasa anak-anak sudah pada gede.” ujar mamah pada oma. “Rega, tunangan Kekey sebentar lagi pulang dari kuliah S3-nya di Australia, Rei juga sudah punya pacar, pasti sebentar lagi Nzi juga menyusul.”




Oma tersenyum haru mendengar penuturan mamah. Sedangkan ayah pura-pura menikmati rokoknya.




“Emang aku udah boleh pacaran?” Nzi menyahut.


“Boleeeh.. kan sekarang udah kuliah. Tapi ingat jangan sampai mengganggu kuliahmu.” jawab ayah.


“Tapi harus aku yang nyeleksi.” aku sigap menjawab.


“Iiih kakak apaan sih, aku juga kan gak nyeleksi pacar kakak.”


“Hahahaa…” kami semua tertawa.


“Yah.. cucu oma memang sudah pada gede semua, dan sudah sukses. Oma senang, tapi ingat kalian harus bisa saling menjaga diri dan jangan bikin malu keluarga.” ujar oma dengan bangga dan haru.


“Siap, oma.” aku dan Nzi bersamaan.


“Kamu udah nelpon kakakmu, Rei?” tanya ayah.


“Udah, Yah, tadi sebelum berangkat dari Ewer. Tapi aku gak mau nunggu kakak pulang kerja, nanti sore. Aku mau pergi dulu.” jawabku.


“Kakak mau kemana?” Nzi nampak kecewa karena sudah dibela-belain bolos kuliah, tapi aku malah mau pergi lagi.


“Mau nemuin calon iparmu.”


“Tuh kaaan.. baru juga dibilangin.. kakak lebih sayang pacar kakak.” ia cemberut.


“Ini beda, Nziku sayaaang. Kakak cuma sebentar kok, hanya mau menjelaskan kenapa kakak gak memberinya kabar.”


“Tapi janji makan malam udah di rumah!”


“Iyah.. iyah.. kan ada oma juga, masa aku makan di luar.”


“Yaudah boleh. Tapi kakak harus ngajak pacar kakak ke sini, kami kan baru tahu namanya tapi belum ketemu.”


“Siyap!”




Aku pun pamit, dan melangkah keluar. Oma masuk kamar untuk beristirahat, sedangkan mamah mengajak Nzi menyiapkan makan siang.




Tadi mamah bilang bahwa ia sudah ketemu Rere dan kekasihku baik-baik saja. Aku lega mendengarnya, tapi tetap saja namanya menghilang tanpa pesan bukanlah hal yang mudah bagi orang yang sedang dimabuk cinta seperti kami. Aku juga sudah mulai hafal karakter Rere. Ia pasti sangat marah, dan tidak mungkin ia tunjukan di depan mamah.




Setelah keluar kompleks, kukeluarkan smartphone-ku dan kutelpon Rere dengan perasaan tidak karuan. Sejak pagi tadi baru sekarang aku berani menghubunginya, apalagi saat di jalan oma melarangku mengeluarkan handphone.




“Rei?”




suaranya serak dan seolah tidak percaya.




“Sayang, kamu di mana?”


“Hikks.. kamu beneran Rei?”


“Sayang, maafkan aku. Kamu lagi di mana, aku ke sana sekarang.”


“Apartemen!” suaranya berubah datar


“Tunggu sayang. Aku ke sana.”




Klik.




Ia langsung mematikan sambungan telpon tanpa menjawab lagi. Aku hanya bisa menghela nafas, perasaan takut mulai menghinggapi. Perjalanan yang hanya setengah jam pun terasa begitu lama, aku benar-benar merasa kacau.




"Come on.. come on.." aku tidak sabar sambil memukul-mukul stir. Lampu merah yang hanya beberapa menit pun rasanya berjam-jam.




Kalau di jalan aku merasa diburu-buru dan ingin segera sampai, tapi setibanya di basement apartemen Rere aku malah hanya berdiam diri. Duduk di balik kemudi dengan perasaan tidak karuan. Sampai saat ini aku belum menemukan alasan yang tepat pada kekasihku. Ia sempat mengatakan bahwa aku seorang pembohong, dan aku merasa sedih karena sekarang aku harus benar-benar membohonginya.




Haiiish!!! Berjumpa Mahapatih Sawaka saja aku berani, masa menemui kekasih sendiri aku tidak punya nyali. Aku segera turun. Waktu di Ewer, Rere pernah bilang lantai dan nomor apartemennya, jadi aku tidak perlu menanyakannya lagi pada Rere melalui telpon.




Kupret!!! Butuh kunci khusus untuk bisa naik lift. Nomor yang kutekan tidak berfungsi karena perlu disertai dengan menempelkan kartu otomatis. Lima menit aku berdiri di depan lift, siapa tahu ada penghuni lain yang bisa kumintai tolong. Nihil!! Sepuluh menit, juga tak ada yang datang.




Aku celingukan. Nampak seorang OB baru keluar dari pintu darurat sambil menenteng kantong sampah. Aku menyelinap di antara mobil-mobil yang terparkir. Aku beruntung karena ia tidak menutup pintu dengan rapat ketika ia memasukan kantong plastik itu ke dalam bak sampah di bagian ujung. Aku segera menyelinap dan menaiki tangga darurat.




Langkahku panjang, dua anak tangga kulangkahi sekaligus. Tiba di lantai tiga aku mulai ngos-ngosan. Aku masih bisa berlari tapi kini kakiku sudah tak sepanjang tadi. Di lantai lima aku berhenti. Di lantai tujuh aku duduk bermandikan keringat. Di lantai dua puluh mataku nanar. Butuh sepuluh menit sendiri untuk beristirahat dan mengeringkan keringat.




“Kunyuk!! Babi ompong!! Luwak mandul!! Kupreeeeet!!” aku memaki dan mengutuki diri.




Aku sudah tiba di lantai apartemen Rere, tapi pintunya terkunci. Tetap saja aku tidak bisa masuk. Aku terduduk sambil meremasi rambut. Sial.. aku benar-benar uji fisik dan kesabaran.




“Aaarrrrh.. Sawakaaaa…” tanpa sadar aku menyebut nama Sang Mahapatih.


“Siap, ada apa Rei?”




Gubraaak!!!




Aku mendongak dan melongo. Mahapatih Sawaka sudah berdiri di hadapanku, penampilannya berbeda, memakai pakaian seorang OB.




“Jadi OB yang tadi di bawah adalah Mahapatih?”


“Betul sekali!!”




Kupreeet!!! Lagi-lagi aku memaki. Tahu begitu aku tidak harus susah payah menaiki anak tangga sampai lantai dua puluh.




“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.




Aku sebetulnya kesal dan ingin marah, tapi aku sedang membutuhkan pertolongannya. Aku pun tersenyum ramah, dan memohon supaya ia membukakan pintu.




“Silakan.” ujarnya.


“Silakan bagaimana, tolong buka dulu kuncinya.”


“Silakan dibuka saja.”




Ceklek!! Ajaib pintu ini sudah tidak lagi terkunci dan aku bisa membukanya dengan mudah. Aku pun langsung berlari menyusuri lorong, lupa mengucapkan terima kasih kepada Mahapatih Sawaka yang sudah membantuku.




“Sama-sama, Rei.” terdengar suara dari belakang.


“Terima kasih, Mahapatih, atas pertolongannya.”




Untung tidak ada orang, karena kalau ada, aku akan dianggap gila ngomong sendiri. Tentu saja tak seorang pun yang bisa melihat atau mendengar suara Sawaka selain aku.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar