Bab 12
Malam harinya aku nongkrong di rumah tempat para mahasiswa tinggal. Jam sembilan aku pamit pulang, dan Rere mengantarku sampai ke depan rumah.
“Malam, sayang.” kuusap rambutnya.
“Malam, Rei.” sorot matanya sendu seolah masih enggan berpisah.
Kulirik ke dalam rumah, setelah merasa aman karena pintu setengah tertutup dan teman-teman di dalam tidak bisa melihat kami, aku merunduk mengecup kening kekasihku. Rere malah melingkarkan tangan pada tengkukku.
Kukecup bibirnya dan ia membalas hangat. Sejenak kami syahdu memberikan ciuman selamat malam. Sekali lagi kami saling mengungkapkan rasa sayang, dan aku pun meninggalkan rumah di bawah tatap matanya.
Aku memang harus segera pulang karena akan melakukan perjalanan rahasia menuju Anta. Hanya oma, ayah, dan mamah yang tahu. Ketiganya malah meminta sumpahku untuk tidak menceritakan kepada siapapun.
Oma sudah menunggu di ruang tengah sambil menonton televisi. Bungkusan kain putih sudah tersedia di atas meja. Oma menyampaikan kembali beberapa nasihat. Tepat jam sepuluh malam aku pun berangkat setelah mendapat kecupan oma pada dahi.
Aku berjalan tanpa alas kaki, menuju bagian utara kampung. Suasana Ewer yang biasanya ramai kini terasa sunyi. Hanya suara jangkrik yang terdengar, dan sekali-kali lolongan anjing di kejauhan. Awalnya aku kesulitan berjalan karena melangkah tanpa penerangan, tapi lama kelamaan mataku mulai bisa menyesuaikan diri. Tepat tengah malam aku sudah tiba di puncak Bukit Beha, tempat aku dan teman-temanku kemping beberapa waktu yang lalu.
Aku tetirah sebentar sambil menikmati sebatang rokok. Suasana angker langsung terasa, dan bulu kudukku merinding. Tidak cukup satu batang rokok untuk mengumpulkan nyali, kusulut rokok kedua.
Aku yang melakukan langkah pertama dengan mantap, kini berubah ketakutan. Tapi aku tidak bisa lagi mundur, setengah perjalanan sudah kulakukan. Aku juga tidak mau membuat oma dan orangtuaku kecewa, walaupun aku sendiri tidak tahu perjalanan ini untuk apa.
Kuhembuskan nafas berat, dan perjalanan pun kulanjutkan. Aku menuruni sisi lain bukit melewati tempat mandi yang pernah aku dan Indra buat. Pancuran itu masih ada, aku berhenti untuk mencuci muka. Dingin kurasa.
Langkah selanjutnya terasa lebih berat. Aku harus melewati jalan setapak yang dipenuhi rerimbunan semak belukar. Lolongan anjing semakin kerap kudengar, bulu kudukku kian merinding, sedangkan kaki ini mulai lelah melangkah.
Jalan pun buntu. Berujung di bibir tebing berbatu. Aku menghela nafas kecewa karena merasa sudah salah jalan. Tidak ada pilihan bagiku, kecuali kembali dan mencari jalan yang lain.
Bersamaan dengan itu, rasa panik mulai menghinggapi. Oma mengatakan bahwa tengah malam aku harus sudah tiba di Anta, dan ketika ayam berkokok aku harus sudah kembali. Nyatanya kini sudah hampir jam satu dan aku belum sampai ke tujuan.
Aku berjalan dengan lesu, langkahku mulai tanpa arah dan tujuan. Sementara tubuhku semakin terasa lelah, dan perih di sana sini karena goresan ranting semak-semak.
“Groaaaar!!!”
Aku pun langsung jatuh dan terduduk di tanah. Kakiku terasa lemas, lututku bergetar. Seekor harimau sudah berdiri hanya berjarak beberapa meter di hadapanku. Matanya menyala dan taring-taring runcing nan tajam ia pamerkan.
Aku tidak salah lihat. Harimau itu adalah raja hutan jantan yang sudah dua kali menunjukan diri kepadaku, tiga kali jika dihitung dengan mimpi ketika ia ditunggangi ayah. Keringat dingin langsung mengucur. Wajah Rere berkelebat, bergantian dengan oma, ayah, mamah, Kak Kekey, dan Nzi. Rasanya ajalku sudah dekat, dan aku tidak akan bisa bertemu dengan mereka lagi.
Aku semakin gemetaran ketika sang harimau mendekat. Jangankan melarikan diri, berdiri saja aku tidak bisa.
Sang harimau pun sudah tepat berada di depanku. Nafasnya terasa panas, dan geraman-geramannya begitu menggetarkan. Ajaib.. ia tidak menyentuhku. Ia berjalan menjauh, lalu menengok. Aku hanya diam. Ia melangkah lagi dan menengok.
Sekuat tenaga aku pun berdiri. Instingku mengatakan bahwa harimau itu tidak sedang mengancam, ia seolah memintaku untuk mengikutinya. Benar saja, ketika aku berjalan, harimau itu menyeringai lalu melangkah di depan.
Anehnya ia malah membawaku ke jalan buntu yang tadi aku lewati. Ia berdiri di bibir tebing, aku mendekat. Nyaliku sedikit pulih dan tidak segentar tadi. Aku berdiri di sampingnya dengan tetap waspada.
“Groaaaar!!!”
Ah tidak!! Aku masih belum bernyali. Mendengar geramannya saja aku langsung gemetar, kakiku tak lagi kuat bertumpu. Aku jatuh melayang ke dalam gelapnya jurang.
Berteriak pun aku tidak bisa. Aku pasrah menjemput maut, kupanggil nama Rere dalam diamku, kusampaikan rasa sayangku.
Aku hampir hilang kesadaran ketika harimau itu meloncat menyusulku. Sigap ia menggigit bahuku. Taring runcingnya terasa menyakitkan, darah pun mengalir.
Aku berguling di udara di bawah cengkeraman makhluk putih itu, kupeluk lehernya untuk mencari pegangan.
Wuuuuzzzz!! Harimau pun meloncat membawaku, memasuki sebuah lubang. Rupanya ada gua tepat di tengah-tengah tebing.
Bruuuk!! Aku pun terjatuh di dalam ruang gelap. Aku mengerang sambil memegangi bahuku. Sakitnya masih ada, tapi ajaib, tidak ada luka, pun pula tiada darah. Padahal tadi kurasakan ada cairan hangat. Ah mungkin air liurnya, ternyata harimau pun bisa ngiler juga.
Aku kembali berdiri dan melangkah mengikuti kilatan mata sang harimau. Suasana dingin dan lembab semakin terasa. Gua ini sangat gelap dan mengandung suasana mistis yang menggetarkan.
“Mungkin ini gua yang diceritakan Indra.” batinku. Aku teringat cerita temanku ketika kami selesai membuat pancuran.
Aku menubruk batu besar di tengah gua. Lebih berupa bongkahan datar sebesar meja. Aku teringat pesan oma, bahwa kalau aku menemukan altar batu aku harus menyalakan kemenyan. Tanpa pikir panjang, kukeluarkan sabut kelapa dari dalam buntelan dan kusulut dengan korek.
Kini aku bisa melihat keadaan di sekitarku. Sebuah gua besar yang dipenuhi juntaian akar. Pada bagian dalam terlihat ada pintu raksasa yang ditutup bongkahan batu sebesar kebo tambun hamil. Aku celingukan mencari sang harimau, makhluk itu tidak kutemukan. Ia sudah menghilang.
Aku terburu waktu. Tanpa pikir panjang aku naik ke atas batu dan meletakan sabut kelapa yang sudah menyala. Kutaburkan kemenyan sebanyak tujuh kali di atasnya. Asap pun mengepul memenuhi seisi gua, dan aroma kemenyan mengisi penciumanku.
Aku mulai bersila dan berkonsentrasi. Sebuah mantra yang diajarkan ayah via telpon kulafalkan. Inti mantranya adalah siba-sibak… tiup-tiup… cucuk-cucuk… Ah sudah itu saja, ini adalah mantra sakti rahasia keluarga kami, yang tidak boleh kubocorkan.
Cliing!!! Byaaaarrrr!!!
Sabut kelapa yang kutaburi kemenyan tiba-tiba mengeluarkan api besar, lalu sabut itu melayang mengelilingi dinding gua.
Byaaaar!!!
Ada cahaya ajaib yang menerangi seisi ruangan. Aku tidak sedang bersila di dalam gua, melainkan sebuah bangunan kuno nan megah mirip bangunan kerajaan zaman dahulu yang pernah kulihat di film-film. Aku mengerjap, kukucek mataku berulang-ulang. Aku tidak salah lihat, dan aku tidak sedang bermimpi.
Aku pun turun dari kursi kuno dan antik. Ya.. aku tidak lagi sedang bersila di atas batu di dalam gua. Aku celingukan mencari orang, namun tak seorang pun kujumpai. Aku pun melangkah menuju pintu kayu yang menjulang tinggi.
Kubuka. Aku terpana. Aku berada di sebuah bukit, tepat di hadapanku ada jalan meliuk panjang, berupa ratusan bahkan ribuan anak tangga batu pualam menuju lembah. Di bawah sana nampak pemukiman yang seluruh bangunannya terbuat dari candi-candi batu. Sawah dan perkebunan membentang hijau di antara aliran sungai besar yang begitu jernih.
Aku mendengar derap langkah dari samping kiri dan kananku. Dua pasukan tentara berbaris dengan tameng dan pedang terhunus.
“Selamat datang di Gerbang Sukma Wawaha.” tiba-tiba seseorang mucul.
“Pak Cintung?” spontan aku memanggilnya, dan pria itu tersenyum ramah.
Penampilannya saat ini sangat berbeda dengan ketika kami bertemu pertama kali. Ia berpakaian ala panglima tempur sebuah kerajaan kuno.
“Kamu datang tak diundang, Jang (Ujang, Nak).” ujar Pak Cintung.
“Aku.. aku datang ke sini untuk menemui Leluhur Sawer.” aku mengutarakan maksudku.
“Hahahaa…” pria itu tertawa terbahak.
“Untuk bisa menemui mereka, kamu harus bisa menghadapi kedigjayaan Mahapatih Sawaka Cintung Adiningrat Wibawa Buana terlebih dahulu.”
Aku hanya melongo mendengarnya, sedangkan Pak Cintung yang ternyata seorang mahapatih itu terus terbahak.
Mahapatih Sawaka pun mengajakku memasuki ruangan dan duduk di sebuah kursi yang beralaskan bulu beruang. Untung aku memakai celana panjang sehingga tidak geli mendudukinya. Sedangkan para prajurit berjaga di depan pintu.
“Itu tempat dudukku,Jang. Kamu kurang ajar mengambil tahtaku.” gumamnya dengan sorot mata tajam.
“Eh.. maaf..” aku gugup dan langsung berdiri.
“Sudah tidak apa-apa, untung kamu anak Pangeran Suwir Jagad Sirna Purnama.” ujar sang mahapatih.
“Maksud Pak Cintung, ayah saya?”
“Panggil aku mahapatih!”
“Iiya.. maaf Mahapatih. Apakah Sirna Purnama yang dimaksud adalah ayahku?”
Kami sudah duduk berhadapan, dan kami saling bertatapan. Sinar matanya menggetarkan, namun entah kenapa aku berani melawannya. Ada dorongan dalam hati untuk tidak menunjukan rasa takutku di hadapan Sang Mahapatih.
“Ya.. ya.. yaaa.. aku tahu kamu tidak pernah diberitahu apapun.” Mahapatih Sawaka bergumam, dan aku semakin bingung.
“Bangsa kami menobatkan dan menjuluki ayahmu sebagai Pangeran Suwir Jagad, dan ibumu adalah Raden Ajeng Belah Bumi.” jelasnya.
“Kenapa begitu? Orangtuaku bukan keturunan ningrat. Dan kenapa Mahapatih menyebut “bangsa kami”? Memangnya kalian bangsa apa?”
“Hahahaha…!!” Mahapatih Sawaka malah terbahak mendengar banyak pertanyaanku.
“Mereka memang manusia biasa, dan bukan juga ningrat. Hanyalah manusia kupret yang mengganggu kenyamananku bangsaku.”
Mahapatih Sawaka menjelaskan bahwa dialah harimau yang membawaku ke tempat ini. Juga harimau yang menampakan diri di Bukit Beha. Kesimpulanku, mereka adalah bangsa harimau walaupun yang berada di hadapanku adalah sosok manusia.
Dan aku hanya bisa melongo bego, ketika ia menjelaskan siapa ayahku. Cerita panjang ia sampaikan, dan sekarang aku mengerti mengapa ayah dijuluki “Pangeran Suwir Jagad.” Aku juga sudah bisa menyimpulkan arti “suwir” tanpa harus bertanya lagi.
Ada rasa kecewa.. ketika mendengar kelakukan mesum ayahku di masa lalu.
Marah… karena mamah bukan satu-satunya wanita yang pernah ayah tiduri.
Kagum… pada keberanian dan sikap ksatrianya.
Bangga… pada perjuangan dan pengorbanan cintanya.
Tentu saja… aku juga kagum dan bangga pada ketulusan cinta mamah.
Di atas semuanya itu, hanya rasa kagum dan bangga yang tersisa. Aku paham mengapa ayah dan mamah tetap romantis hingga sekarang. Aku bangga akan cinta sejati mereka, dan aku bangga karena telah menjadi buah dari cinta sejati itu; hasil dari usaha ayah menyuwir mamah.
“Ya, kamu sudah seharusnya bangga sebagai keturunan Pangeran Suwir Jagad dan Raden Ajeng Belah Bumi. Masa lalu mereka bukan salah mereka.” gumam Mahapatih Sawaka, ia seolah bisa membaca kecamuk perasaanku.
“Ayahmu hanyalah korban yang harus menanggung kesalahan leluhurmu yang mengingkari janji dengan bangsa kami. Dan.. dan…”
“Dan?” aku menatap wajah Mahapatih.
“Dan menjadi korban Nyi Putri Pekik Mantili yang kegatelan. Sudahlah tidak perlu kujelaskan.”
Selanjutnya Mahapatih Sawaka hanya mengatakan bahwa Nyi Putri Pekik Mantili adalah istrinya, sisanya ia tidak mau menyebutkan apa-apa lagi. Tapi otakku langsung bekerja. Kalau Nyi Mantili adalah istri Mahapatih Sawaka, maka wanita itu adalah harimau betina. Mereka adalah suami-istri (Eh.. masa harimau nikah. Entahlah!). Dan kalau Mahapatih Sawaka mengatakan istrinya kegatelan, berarti harimau yang menelanjangiku di Bukit Beha adalah…!! Aku pun manggut-manggut paham.
Groaaar!!! Dua atau tiga detik wajah Mahapatih berubah marah, wajahnya menyerupai harimau dengan auman keras, tapi berubah menjadi wujud manusia kembali setelahnya.
Harusnya aku takut, tapi tidak kali ini. Cerita mahapatih sudah menunjukan bahwa ia tunduk pada ayahku dan tidak mungkin ia menyakitiku. Ayah juga pernah bilang bahwa aku akan baik-baik saja.
“Kupret kamu!!” Mahapatih memaki, wibawanya luntur ketika memaki tengil seperti itu.
Aku hanya tersenyum ketika menyadari kebodohanku. Ia rupanya bukan hanya bisa berkomunikasi memakai bahasa manusia, tetapi juga bisa membaca isi hati dan pikiran.
“Aku sudah hidup selama 2.020 tahun, dua bulan, lima hari, dan 27 tujuh menit. Dan hanya ada dua manusia yang pernah menundukkanku, jangan harap kamu akan menjadi orang ketiga walaupun kamu adalah keturunan Suwir Jagad.” Mahapatih berkata tegas, suaranya penuh keyakinan.
“Aku ke sini bukan untuk bertarung, tapi ingin bertemu leluhur Sawer.” aku langsung berujar.
“Hahaha… tidak semudah itu anak muda!! Untuk bisa bertemu dengan mereka kamu harus melewati tujuh rintangan, dan salah satu rintangannya adalah melawanku. Hahaa…”
“Kamu dengar…” Sang Mahapatih langsung melanjutkan ucapannya sehingga aku yang sudah mau melanjutkan perkataan langsung diam. “Aku memang akan tetap melindungi Sawer dan Ewer, juga akan melindungi keluargamu. Tapi tidak semudah itu, Si Suwir Jagad menurunkan ilmunya pada anak lelakinya.”
Aku terdiam. Ayah tidak pernah cerita apapun tentang semuanya ini. Aku tahu bahwa ia memiliki kesaktian pun baru sekarang melalui penuturan Sang Mahapatih. Ayah juga tidak pernah bilang bahwa tujuanku datang ke sini adalah untuk menjadi penerusnya, melainkan untuk menemui leluhur Sawer.
“Lalu apa yang harus kulakukan?” aku menatap Sang Mahapatih.
“Kamu harus melakukan ritual dengan titisan Nyi Mantili. Hahaha… Hahaa… Itu menjadi syarat untuk mengabadikan kehidupan yang harmonis antara dunia kita yang berbeda.”
Aku melongo. Mendengar ritual-ritual yang pernah ayah lakukan pun aku merinding, sekarang malah aku yang harus melakukannya sendiri. Jelas aku harus menolak, di dalam hatiku sudah ada Rere.
“Kita buat perjanjian.” Mahapatih Sawaka menatapku tajam. Aku diam membalasnya dengan sedikit gentar.
“Kamu harus melakukan ritual dengan seorang gadis perawan yang menjadi titisan Nyi Mantili.”
“Siapa gadis itu?” aku berharap bahwa dia adalah Rere sehingga aku tidak harus mengkhianatinya.
“Kamu harus mencari dan menemukannya sendiri. Yang pasti dia masih perawan dan harus bisa disuwir, karena itu menyukakan rajaku.”
“Apakah gadis ritual itu sekaligus juga menjadi jodohku?”
“Tidak bisa!! Kamu tidak boleh menikahi wanita ritualmu.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Tidak ada perjanjian di antara kita. Tetapi begitu ayah dan ibumu meninggal, berakhir pulalah perjanjian yang pernah dibuat antara leluhurmu dan bangsa kami. Kami tidak bertanggungjawab lagi atas kehidupan kedua kampung kalian dan juga atas keluarga kalian.”
“Dan dampak lainnya adalah….” Mahapatih Sawaka menatapku tajam sambil memutar-mutar ujung kumisnya yang tebal. Lanjutnya, “Gadis pilihan Raja Anta harus menjadi wadal sebagai pengganti berakhirnya perjanjian kita.”
Jedeeeerrr!!! Ucapannya sangat mengagetkan.
“Ini tidak adil!!” hardikku.
“Hahahaha… pilihannya hanya bisa “iya”. Ingat aku hanya bisa tunduk pada bangsamu selagi ayah dan ibumu masih hidup, habis itu aku lepas tangan.”
Aku berdoa dan menghitung dalam hati. Berharap ayah dan mamah berumur panjang, dan bisa hidup lima puluh sampai tujuh puluh tahun lagi. Pada masa itu, gadis ritual pun sudah berumur, dan aku tidak akan terlalu merasa bersalah jika ia meninggal. Lagipula aku tidak mengenalnya.
“Hahaha…” Mahapatih Sawaka tertawa.
“Kenapa tertawa?”
“Lucu! Hahahah…”
“Apanya yang lucu?”
“Pikiranmu. Hahaha.. Kamu cerdas anak muda, tapi kalau aku tidak bisa menjadikan gadis itu sebagai wadal, bukankah aku bisa mengambil keturunan berikutnya?”
“Bangsat!!!” aku memaki spontan.
“Hahaha…”
“Kenapa tertawa lagi?”
“Lucu! Hahahah…”
“Apanya yang lucu?”
“Kamu memaki aku, hahahaha.”
Kupret!!!
“Dan kamu pasti mau.” Mahapatih Sawaka percaya diri, tawanya masih terdengar.
“Kenapa begitu yakin?”
“Aku sangat yakin! Hahhaa…!!”
Fiuuuuh!!! Semuanya penuh misteri, dan aku harus mulai berhati-hati. Sawaka bisa tahu semua tentang kami, tapi kami tidak tahu tentang pikiran makhluk ini. Ayah dan mamah tentu saja bisa, tapi sampai kapan? Hidup manusia tidak ada yang abadi. Aku tidak ingin kalau gadis ritual yang bisa saja menjadi wadal itu adalah kakak, adik, atau saudari-saudariku. Bangkeee!! Tidak boleh terjadi!! Aku tidak mau membuat Sawaka atau pembaca cerita ini senang dengan memasukan unsur incest. Kusambat sesepuh penulis kisahku, dan memohon dalam hati agar jangan menjadikan kakak atau adikku sebagai pasangan ritual. Tapi mereka cantik-cantik. Haiiishhh!!!
Pikiranku kacau balau, akal sehat dan pikiran mesum berseliweran.
“Baik!! Itu syarat perjanjian dari pihak Ki Mahapatih!! Kalau aku mau menerima perjanjian dan melakukan ritual, apa keuntungannya untuk Sawer dan Ewer, juga untuk keluargaku?” aku menegarkan keyakinan.
“Perjanjian bangsaku dengan bangsa Sawer dan Ewer akan abadi. Tidak akan ada lagi ritual, dan keturunan kalian akan sejahtera selamanya. Dan tentu saja tidak perlu merenggut nyawa sang gadis pilihan atau keturunannya.”
“Kok jadi musrik begini sih?” keluhku.
“Eh.. eh.. ini kisah tentang bangsa suwir-menyuwir, bukan musrik-musrikan.”
“Heheh.. Mahapatih benar juga. Kisahku kan cerita mesum ya.”
“Nah.. kamu sadar!”
Kami berdua terkekeh, sebetulnya penulis cerita yang menyuruhku tertawa, dan kami hanya bisa menurut. Sejenak kami akrab, tapi serius kembali setelahnya.
“Kalau begitu, aku setuju dan mau melakukan perjanjian dengan Ki Mahapatih. Akan kuhadapi semua rintangan, dengan ritual sebagai rintangan terakhir.” aku menyanggupi.
“Eittt.. kamu salah paham, anak muda.” Ki Mahapatih menyanggah.
“Aduuh… salah di mananya?”
“Ritual itu adalah puncak. Untuk bisa ritual, kamu harus bisa melewati tujuh rintangan.” tegasnya.
“Kalau aku gagal melewati tujuh rintangan itu?”
“Kamu tidak bisa melakukan ritual!”
“Lalu?”
“Gadis itu tetap akan mati!”
“Anjing!!” mendengarnya aku langsung memaki dan mengutuki diri.
“Aku harimau, bukan anjing!”
“Oh iyah, maaf.”
“Luwak!!” ia melotot ke arahku.
“Aku manusia, bukan luwak!”
“Nah, kamu pun gak suka aku salah sebut, makanya kamu jangan sembarangan mengganti identitasku!”
“Iya, maaf.”
“Oke… oke… sekarang apa tujuh rintangan itu?”
“Sekarang kamu pulang, aku akan mendatangimu jika saatnya sudah tiba, dan aku akan menyampaikannya secara bertahap.”
“Jadi tidak sekaligus?”
“Tidak!! Memangnya kamu akan kuat?”
“Emangnya apa saja sih?
“Ada deh!”
“Harimau!!!”
“Nah, kali ini kamu memakiku dengan benar!!”
“Hahaha…”
“Hehehe…”
“Cepat sana pulang!!” Mahapatih Sawaka kembali menyuruhku.
“Eh bentar dulu. Aku kan belum ketemu Leluhur Sawer.”
“Tidak bisa, anak muda.” ia menjawab tegas. Ia pun menjelaskan, “Hanya manusia yang memiliki cinta sejati yang bisa menemui mereka. Ritualmu akan membuktikan apakah kamu punya itu atau tidak!”
“Hmm.. baiklah kalau begitu. Tapi aku masih punya satu pertanyaan?”
“Apa?”
“Mereka itu kan sudah mati, tapi kenapa masih ada? Apakah mereka berubah jadi siluman seperti Ki Mahapatih ini?” pertanyaanku mengandung nada protes.
Aku tidak habis pikir kenapa orang sebaik Senja dan Sae bisa gentayangan di alam yang berbeda. Aku sangat tidak terima, di manakah keadilan semesta.
Plaaaak!!!
“Wadaaau!!” aku menjerit ketika Mahapatih Sawaka tiba-tiba menggamparku. Sangat keras, dan pipiku terasa panas.
“Kamu jangan bicara sembarangan!”
“Aku kan hanya bertanya, bukan menuduh atau membuat pernyataan.”
“Oh iyah, maaf.” Mahapatih terlihat merasa bersalah.
“Lalu jawabannya?” aku mendesak.
“Mereka itu tidak pernah meninggal, anak muda. Penguasa Semesta masih memberi mereka kesempatan untuk hidup, dan mereka memang masih hidup sampai sekarang. Tapi mereka memutuskan untuk mengasingkan diri dan hanya hidup berdua sampai akhir hayat yang sesungguhnya. Mereka memilih untuk tidak menjadi bagian lagi dari hingar-bingar kehidupan dunia kalian. Mereka bertapa, selalu berdua, saling mencintai. Selalu abadi, sampai mereka sendiri memutuskan untuk pergi menjemput ajal yang sejati, saat tua nanti.” ia menjelaskan panjang lebar.
“Lalu…”
“Dengar dulu, aku belum selesai.”
“Ya sok atuh"
“Cinta mereka berdua sangatlah murni dan sejati, itu yang membuat keduanya menjadi sakti. Mereka saling berbagi nafas kehidupan di saat akhir ajal mereka. Jadi jenazah mereka yang dikuburkan hanyalah kamuflase untuk mengelabui mata manusia. Aslinya mereka masih hidup dengan jiwa dan raga mereka.”
“Hmm.. kalau begitu kenapa aku harus menurut pada bangsamu? Aku lebih baik memilih Senja dan Sae yang menjadi penjaga kami, toh mereka berdua sangat sakti. Bangsamu pun tidak berani melawan mereka, bukan?”
“Heh, manusia!”
“Apa harimau?”
“Aku kan sudah bilang, mereka sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan kalian!!”
“Oh iyah!”
“Udah pulang sanah!!”
“Anter atuh."
“Dasar manusia!!”
“Aku bilang ayah, nih!”
“Iya.. iya aku anter.”
Mahapatih Sawaka pun memintaku memejamkan mata, dan baru kubuka ketika ia meminta. Aku mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatan. Aku sudah kembali berada di dalam gua yang gelap gulita. Ditemani seekor harimau dengan kedua mata menyala.
Tanpa diminta, aku pun naik ke atas punggungnya. Melesat pulang.
Hari masih gelap ketika aku tiba di halaman belakang rumah oma, tetapi sudah terdengar kehidupan. Asap-asap sudah mengepul dari dapur-dapur rumah, pertanda penghuninya sudah pada bangun.
Aku pun melangkah, belum juga aku menyentuh gagang pintu, pintu dapur sudah terbuka dari dalam. Sosok oma muncul menyambutku.
Ada senyum lega yang ia sunggingkan. Tubuh ringkihnya langsung memelukku, isak tangis bahagianya terdengar. Kening dan pipiku ia ciumi sambil tetap meneteskan air mata. Pipiku turut basah.
“Oma kenapa?” heranku.
“Oma khawatir, sayang. Syukurlah kamu bisa pulang dengan selamat.”
Oma pun menggandengku masuk ke dalam rumah. Di ruang makan sudah terhidang kopi hangat dan menu sarapan. Oma sepertinya sudah tahu jam berapa aku akan pulang. Kulirik jam dinding, masih jam lima pagi.
Aku sangat rikuh karena oma melayaniku, dan tak hentinya mengusapi kepalaku ketika aku menyeruput kopi dan menyantap nasi goreng.
“Oma, udah ah, aku kan tidak kenapa-napa?” ujarku.
Kubimbing oma supaya duduk pada kursi di sampingku. Setelah perutku terisi, kusampaikan ceritaku, dan oma menyimak dengan seksama. Ada tangis haru, sekaligus senyum bahagia. Juga ekspresi kaget ketika mendengar perjanjian yang disampaikan oleh Mahapatih Sawaka.
Oma kembali memelukku dari samping, kembali menangis. Dan aku tidak mengerti kenapa oma seperti ini.
“Kamu istirahat dulu, sayang. Kamu pasti capek.” lirih oma. Ia akhirnya melepas pelukan sambil mengusapi air matanya.
“Aku mau mandi aja dan ketemu Rere.” jawabku.
Oma tersenyum haru, ditepukinya kedua pipiku.
“Ya Rere udah tidak ada atuh, sayang.”
“Hah? Maksud oma tidak ada?” aku kaget.
“Rere sudah pulang ke Bandung.”
“Hehe oma apaan sih? Kemaren malam ia tidak bilang apa-apa tuh, dan gak ada rencana ke Bandung hari ini.”
“Dengar, cucu oma sayang.” Oma mengusapi tepian rambutku. “Kamu itu pergi lama sekali makanya oma sangat khawatir. Tujuh hari kamu meninggalkan Ewer!”
Jedeeeeeerrrr!!!
Aku melongo dan menatap oma tidak percaya. Kulirik kalender pada dinding. Aku masih belum percaya. Aku berlari ke dalam kamar, kubuka smartphone. Mati karena tidak di charge. Kulihat tanggalan pada jam tangan.
Aku pun langsung duduk lemas di tepi ranjang. Oma menyusul dan duduk di sampingku. Kuusapi wajah untuk meyakinkan diri. Rasanya aku pergi hanya beberapa jam, tapi di dunia manusia ternyata cukup lama. Pantesan umur Mahapatih Sawaka mencapai ribuan tahun, karena waktu di dunia mereka lebih lambat daripada di dunia manusia.
“Lalu mamah, ayah, kakak, adek… mereka apa kabar, Oma?” kutatap wajah oma.
“Mereka baik. Ayah dan mamahmu pasti tahu dan selalu mengawasimu, tapi kalau Kekey dan Enzi tidak tahu. Tiap hari mereka menelpon oma dan menanyakanmu, tapi oma selalu bilang pada kakak dan adikmu kalau kamu sedang naik gunung.” jelas oma.
Aku terbelalak mendengarnya.
“Lalu Rere?”
“Kamu harus menyusulnya, ia sangat sedih karena kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Oma hanya bisa menjelaskan bahwa kamu ada urusan mendadak, dan tidak bisa dihubungi.”
Kalau tadi oma yang menangis, kini air mataku yang berlinang. Dengan cepat aku pun membereskan pakaian, aku harus pulang ke Bandung hari ini juga. Oma mencegah, tapi aku sudah tidak bisa lagi dilarang. Tekadku untuk pulang sudah bulat.
“Sayang, maafkan aku.” batinku.
Aku tak bisa membayangkan sedih dan marahnya kekasihku. Ia pasti terluka harus menyelesaikan KKN tanpa kehadiranku di sisinya. Tanpa kabar dan berita, tanpa pesan yang kutinggalkan. Aku menyesal, dan dalam diamku aku berdoa, semoga ia mau memaafkan dan tetap menerimaku sebagai kekasihnya.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar