Sang pewaris part 11

 

Bab 11




Entah berapa sang mantan yang kumiliki. Jelas aku bukan playboy, tapi begitulah nasib seorang pria berwajah ganteng. Di antara semua gadis yang pernah mampir dalam hatiku, rasanya Rere adalah yang paling spesial, yang kedua adalah Arischa yang sebentar lagi akan lepas lajang.




Perjumpaanku dengan Rere masihlah singkat, mendapatkannya juga tidak seberat mengejar seorang Arischa, tapi rasa bahagia ini sangatlah berbeda. Rere adalah yang paling spesial di dalam hatiku, dan aku bertekad untuk menyayanginya setulus hati. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai bermimpi tentang masa depan, dan bertekad menjadikan Rere sebagai bagian dari rencana-rencana indahku.




Perasaanku melambung, semangatku berlipat ganda, bahagiaku tak lagi terkata. Sedangkan kekasihku yang galak dan judes itu, kini malah bermanja. Ia masih belum mau pulang, inginnya hanya berdua.




Aku duduk selonjoran di atas bale-bale saung sawah, sedangkan Rere rebahan dengan menjadikan kedua pahaku sebagai bantal. Senyumnya selalu mengembang, sinar matanya berbinar bahagia. Sekali-kali ia menoyor pipiku ketika aku menatapnya lekat.




Ia nampak meresapi belaianku pada rambutnya, sekali-kali meringis ketika aku mengusap daun kupingnya.




“Kamu tuh nyebelin!” gumamnya sambil memamerkan gigi putihnya.


“Kok?”


"Karena membuat aku jatuh cinta, padahal kamu kan pembohong.”


“yaelah.. malah dibahas lagi. Aku kan udah bilang gak pernah membohongi kamu.”


“Pokoknya kamu pembohong!!”




Rambutnya yang sudah rapi langsung kuacak-acak gemas. Kekasihku merengut dan menggelinjang. Kuangkat bahunya dan langsung kukecup bibir merah jambunya.




“Mmmh…” ia melenguh.




Bukan menghindar, tapi malah membalas melumat. Sejenak kami saling mengulum syahdu. Aku mencecap bibir bawahnya, dan ia menghisap bibir atasku. Mata kami sama-sama terpejam ketika ujung lidah kami bersentuhan. Aku mendekapnya erat, dan ia memelukku lekat. Indah.. sangat indah!!




Rere kembali berbaring di atas pangkuanku. Kuturunkan ujung kaosnya yang terangkat sehingga memamerkan perut dan lingkaran pusarnya yang seksi. Kekasihku tersenyum bahagia. Yeah.. aku tidak ingin memesuminya, kecuali khilaf. Eh!!




Sejenak kami saling diam, Rere sambil memainkan kancing bajuku. Sekali-kali kami saling tatap dan berbagi senyum.




“Yank..” lirihnya.


“Hmm?”


“Teman-temanku kan cantik semua, kenapa kamu milih aku?” ia menatapku, senyumnya setengah menggoda.


“Emang boleh kalau aku pacaran dengan salah satu dari mereka?”


“Nggak.” nadanya berubah jutek.


“Kenapa?”


“Aku pasti cemburu dan patah hati.”




Ia cemberut. Yah beginilah perempuan, ia yang bertanya dan cari perkara, dan bete sendiri setelahnya. Kutarik ujung bibirnya agar tersenyum.




“Pasti banyak cewek yang mengejarmu, teman-temanku aja pada suka kamu.” ia masih cemberut.


“Masa sih?”


“Yank, aku serius!!”


“Iyah.. iyah.. ya biarin aja kalau mereka suka aku, tapi aku kan sayangnya cuma ama kamu.”


“Iya.. kamu sayang aku, tapi kamu juga suka mereka kan?”




Hadeuh!! Kenapa Rere jadi cemburuan dan possesif begini ya. Baru beberapa jam jadian, aku sudah menemukan sisi lain sifatnya.




Tanpa diminta Rere pun bercerita bahwa seminggu pertama kedatanganku ke Ewer, hampir tiap hari aku menjadi bahan gosip teman-temannya. Rona yang paling pendiam pun, selalu antusias ketika membicarakanku.




“Harusnya kamu bangga donk.” ujarku.


“Bangga kenapa?” ia menatapku lekat.


“Karena aku memilih kamu.”


“Hii.. itu mah bukan bangga, tapi kamunya yang kegeeran.”




Cemberutnya berubah tawa renyah ketika aku menggelitik pinggangnya dengan gemas. Cubitan pun kudapatkan sebagai hadiah. Sumpah kulit perutku perih banget. Dan ia semakin tertawa ketika melihatku meringis kesakitan.




Aku pun menggelosor rebahan, dan Rere memindahkan kepalanya ke atas perutku dengan posisi menyamping. Tangannya mengusapi dadaku.




“Ijinkan aku mengenalmu.” lirihnya, sebuah permintaan tulus.


“Kamu ingin tahu aku mulai dari mana?” kumainkan helaian rambutnya.


“Dari para mantanmu.” gigi putihnya terlihat.


“Aku baru tahu kalau seorang Rere itu cemburuan.” gumamku.


“Bukan cemburu, sayaang!! Masa aku gak tahu masa lalumu?”




Aku menunjuk pipiku sendiri, dan kekasihku beranjak menciumku. Bonus kudapatkan ketika ia juga mengecup bibirku dengan tipis. Ia pun kembali berbaring di atas perutku.




Aku pun menceritakan perjalanan kisah cintaku, terakhir tentu saja tentang Arischa. Rere mendengarkan serius, ada bersit cemburu, tapi banyak senyum yang ia sunggingkan. Ia bertanya dan aku menjawab apa adanya.




Di akhir semua ceritaku, Rere pun bangkit dan menunduk di atas wajahku. Perasaanku berdesir ketika kerahnya terbuka tepat di depan mata, belahan putih payudaranya terlihat. Rere nampaknya tahu arah lirikan mataku, tapi ia tidak peduli. Sorot matanya lekat menatapku.




“Aku yang terakhir, kan?”




Pertanyaan Rere membuatku terharu. Di balik pertanyaan itu tersirat rasa cintanya yang teramat besar.




“Kamu bukan yang terakhir, sayang. Tapi sudah menjadi yang pertama di dalam hatiku.” ujarku.




Kekasihku berkaca-kaca. Sebuah bulir bening jatuh di atas pipiku. Rere membetulkan rambutnya tanpa mengusap linangan air mata. Ia pun merunduk dan mengecup bibirku. Aku menyambut. Ciuman kami langsung panas, lidah kami langsung saling membelit dan menggelitik.




Bukan hanya bibir dan mulut yang bertautan, tangan kami sudah saling meremas.




“Mmmh.. aku sayang kamu, Rei.” ia mengangkat wajah dengan bibir basah. Nafasnya tersengal karena rasa cinta bercampur gairah.




Aku tersenyum sambil mengusap tepi bibirnya, sedangkan ia mengeringkan bibirku. Aku tahu, tidak gampang bagi seorang Rere untuk mengungkapkan perasaan sayangnya. Kata itu tidaklah murah bagi seorang Rere, tapi di saung ini, sudah dua kali ia mengungkapkannya.




“Aku juga sayang kamu.” aku mengungkap rasa yang sama.




Rere langsung memelukku erat. Ia baru menggeliat ketika smartphone-nya berbunyi. Ditunjukannya layar padaku, Meti menelpon.




Cerewet gadis itu langsung terdengar. Ngomel-ngomel karena Rere menghilang, dan tak satu pun pesan mereka yang dibalas.




“Kamu lagi di mana sih, Re?” Meti mencecar.


“Hai, Met.” aku menyahut, sedangkan Rere hanya tersenyum sambil menempelkan pipinya pada pipiku.


“Rei? Rere, kamu bareng Rei? Kalian lagi di mana sih?” Meti semakin heran.


“Hmmm.. lagi di mana yah?” ujarku, sedangkan Rere hanya tertawa-tawa tanpa suara.


“Haish kamu tuh. Rerenya mana, kok malah kamu yang ngomong?”


“Rere? Rere ada nih lagi aku peluk.” jawabku.


“Haaaaahhh? Kalian.. kalian….”


“Dadah Meti. Kamu ganggu aja.” sahut kekasihku, dan telpon pun langsung dimatikan.




Kami saling tatap sambil tertawa. Ciuman panjang pun kembali kami lakukan, sekaligus menjadi akhir kebersamaan kami di saung ini.




Kami sama-sama bangkit, saling belai, saling merapikan rambut dan pakaian. Lantas bergandengan tangan pulang.




Awalnya Rere malu-malu ketika berpapasan dengan orang-orang yang mau ziarah ke Sawer, atau ketika berjumpa dengan warga, tapi kemudian mulai terbiasa ketika aku tetap mempertahankan genggaman tanganku.




Rumah nampak sepi. Hanya ada oma yang sedang duduk di emper depan sambil melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran.




“Oma.” panggilku.




Oma pun mendongak, dan keningnya langsung mengkerut ketika melihat kami bergandengan tangan. Rere sigap menarik tangannya, sikap kekasihku berubah kaku dan malu-malu.




Ia malah bertingkah bodoh dengan menyalami oma dan mencium tangannya. Haha.. padahal dalam sehari kami bisa empat-lima kali bertemu. Tentu saja oma semakin heran melihat tingkah Rere. Ia menatap kami bergantian, aku membalas dengan cengiran.




“Kalian?” oma mulai membaca gelagat dua anak muda yang sedang kasmaran.




Aku pun mengacungkan jempol sambil mengedipkan sebelah mata, sedangkan Rere menunduk malu dengan kedua pipi memerah.




“Yaoloh Reiii?! Kalian pacaran?” oma terbelalak.




Anggukanku sudah cukup menjadi jawaban. Oma pun geleng-geleng kepala, lalu dijembelnya kedua pipi Rere dengan gemas. Rere meringis, dan tubuhnya terhuyung ketika oma menarik bahunya dan langsung memeluk erat.




“Kamu punya dosa apa, Re, sampai-sampai harus takluk pada cucu oma?” goda oma. Rere terkekeh malu sambil membalas pelukan oma.


“Kok dosa oma? Berkah donk kalau dicintai aku mah .” celetukku.




Rere mendelik, dan tangan oma sigap menjewer telingaku. Aku meringis dan Rere yang tadi malu-malu kini terkekeh senang. Ia nampak puas melihat kupingku memerah karena jeweran oma.




“Oma tuh udah capek-capek masak, eh orangnya malah asik pacaran. Rasain tuh.. makananmu udah dingin.” gerutu oma.




Namun lain kata, lain sikap. Oma berubah lembut. Ia bukan hanya memeluk Rere, tapi juga memelukku. Kami pun mendapat hadiah kecupan pada dahi. Mata oma nampak berkabut karena turut bahagia. Nasihat-nasihat bijaknya langsung ia sampaikan kepada kami berdua.




Kami bertiga masuk ke dalam rumah. Rere membawakan pakaian yang sudah dilipat dan meletakannya di ruang tengah, lantas kami bertiga duduk di ruang makan. Nasi dan lauk-pauk pun sudah terhidang.




“Kalian makan, tadi oma udah makan duluan, abis nungguin kamu kelamaan gak pulang-pulang.” ujar oma. Ia langsung mengisi piring kami, Rere berusaha mencegah, tapi tangan oma lebih gesit.


“Orangtuamu udah kamu kasih tahu, Rei?” tanya oma.


“Baru mamah sih yang tahu. Eh tapi kayaknya ayah, kakak, dan adek juga udah sih. Gak mungkin kalau mamah gak bilang.” jawabku.


“Hmm pantesan hapemu bunyi terus tuh dari tadi.”


“Hehee..”


“Kalau kamu udah bilang ke orangtuamu, sayang?” kali ini pertanyaan oma ditujukan kepada Rere.


“Belum oma, nanti aku telpon setelah makan.”


“Bagus. Kalian tidak boleh saling merahasiakan, keluarga kalian harus saling tahu.”


“Iya, oma.”




Oma pun pergi meninggalkan kami berdua, bilangnya karena tidak mau mengganggu kami berdua yang sedang kasmaran, tapi aku tahu ia harus berada di pendopo siang ini.




Sepeninggalan oma, aku langsung pindah duduk ke kursi di ujung meja. Kami yang semula berhadapan, kini berdekatan.




“Apa?” Rere memperlambat kunyahannya.




Aku diam. Rere menggeleng sambil tersenyum. Ia mengerti inginku. Sebuah suapan pun ia sodorkan.




Akhirnya kami pun makan berdua dengan sangat romantis. Sekali-kali saling menyuapi. Kalau tadi di saung aku yang bercerita tentang masa laluku, kini giliran Rere. Tanpa sungkan ia pun bercerita tentang mantan-mantan pacarnya. Aku tidak cemburu, sebaliknya aku bahagia karena Rere mau terbuka tanpa kuminta. Perlahan tapi pasti kami mulai saling mempecayakan masa lalu dan kisah hidup masing-masing, dan ke depan kami akan menjalaninya secara bersama-sama.




Bukan hanya itu, kami juga bercerita tentang keluarga masing-masing. Kusampaikan pula keunikan Kak Kekey dan Nzi. “Kamu harus siap menghadapi mereka?” ujarku, dan Rere tertawa.




Rere adalah anak tunggal. Ayahnya seorang tentara bintang tiga yang sudah sepuluh tahun ditugaskan di timur negeri ini, dan sudah dua puluh tahun tidak pernah tugas di tanah Jawa. Rere sendiri memang kelahiran Bandung, tapi baru kembali ke kota kelahirannya semenjak kuliah. Sekali-kali orangtuanya datang mengunjungi, tapi lebih sering Rere yang pulang ketika liburan.




“Tapi aneh sih, Rei.” ujarnya sambil menyodorkan suapan terakhir pada mulutku.


“Aneh kenapa?” heranku.


“Mamah bilang aku banyak saudara di Bandung, tapi aku tidak tahu siapa mereka. Ayah dan mamah malah memintaku untuk menyewa apartemen aja.”


“Kok bisa sih?”


“Ya nggak tahu. Katanya sih biar aku mandiri, karena aku anak tunggal kali ya, jadi waktu kecil terlalu dimanjain oleh ayah dan mamah.”


“Iya tapi kebablasan, efeknya bukan hanya mandiri tapi juga judes dan galak.” jawabku.


“Apa? Jadi aku galak?!!”




Cemberutnya menyukakanku. Meluluhkan hatinya adalah tantangan, dan menaklukannya dalam pelukan adalah kebanggaan. Usai menelan kunyahan, aku pun berdiri dan memeluknya dari belakang. Rere hanya diam dengan kedua tangan menyilang di atas dada. Kuintip sebentar belahan payudara dari balik kerahnya, lalu kucium pipinya.




Pipinya semakin menggelembung. Kucium kembali, kali ini dengan sedikit kutekan. Ia pun menghela nafas, pipinya kembali kempes. Tak lama kemudian menggelembung kembali, aku menciumnya lagi dan lagi. Sebuah permainan yang sangat menyukakan, dan ia pun tidak tahan, ia menengok untuk mengecup bibirku.




“Mamahmu juga galak tuh kalau di kelas. Jadi siap-siap dikelelingi perempuan galak.” ujarnya.


“Nggak kok, mamah tuh penyayang banget.” ujarku.


“Ya kamu tahunya hanya di rumah, kamu kan gak tahu kalau kerja kayak gimana.”




Aku pun terkekeh mendengarnya. Mamah memang sangat lembut hati, dan sangat memanjakan kami anak-anaknya, tapi kalau sudah marah, aku dan kedua saudariku hanya bisa kiceup.




“Tapi mamahmu juga baik sih, ia sering memanggilku ke kantornya ketika melihatku tidak bersemangat waktu di kelas. Ia juga perhatian, bukan hanya menanyakan kuliahku, tapi juga kehidupanku sehari-hari.” Rere bercerita tentang kesannya terhadap mamah.


“Ke kamu aja atau ke mahasiswa lain juga?” aku heran.


“Kayaknya cuma ke aku deh.”




Aku hanya bisa mengangkat bahu mendengarnya. Tapi aku senang bahwa mamah dan Rere sudah saling mengenal.




Rere mengecup pipiku, lalu berdiri untuk membereskan meja makan. Aku tetap duduk sambil mengeluarkan rokok.




“Jangan merokok dulu.” ujar Rere sambil beranjak ke dapur untuk mengantar piring kotor.




Aku menengok heran, tapi kuturuti permintaannya. Kuletakan rokokku di atas meja.




“Kenapa?” tanyaku ketika kekasihku kembali.




Rere tersenyum kecil.




“Kesel gak sih? Aku sayang banget ama kamu, Rei jeleeek!!”




Usah berkata begitu ia duduk di atas pangkuanku dan langsung mencari bibirku. Aku pun tersenyum, sekarang aku mengerti kenapa ia melarangku merokok. Kusambut bibirnya dan kami saling mengecup tipis. Tak lama berselang, kami saling melumat.




Rere melepas ciuman untuk mengambil nafas, kini ciumanku pindah pada keningnya. Kukecup juga dua kelopak matanya, dan berakhir dengan lumatan pada bibir kembali.




“Hayooo!!! Terciduk kalian!!!”




Rere langsung meloncat, dan kursiku nyaris terjengkang. Aku celingukan dengan nafas tersengal. Kulihat teman-teman sudah berada di ruang tengah, mereka nampaknya masuk mengendap-endap. Sebagian masuk dari pintu dapur. Nafas Rere tak kalah tersengalnya, wajahnya merah padam. Lucunya, ia langsung memelukku untuk menyembunyikan rasa malu.




Suara riuh kembali terdengar. Ledekan bercampur senang berkumandang, tawa pun memenuhi sesisi ruangan. Sebagian terdengar sumbang karena kecewa dan cemburu.




Aku tidak peduli, kepalang basah terciduk, kupeluk erat kekasihku. Kupamerkan rasa cintaku di hadapan mereka.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar