Enzo part 33


BAB 33






Semula aku berniat untuk menyusul mereka berdua, tetapi kakiku benar-benar sakit. Aku pun hanya mengerang dan kembali duduk.




"Haduhhh... gusti... euluh... aduh biyung... kunaon eta meja ngajungkel kitu? Yaoloh.. nak enzo aya naon (artinya: Kenapa, Nak Enzo?).” Bi Becek muncul karena mendengar keributan. Asisten rumah tangga paruh baya itu tergopoh sambil menjinjing kemoceng.


“Itu meja nendang kakiku, Bi.” jawabku sambil mengurut puhu telapak kaki yang terasa nyeri.


"Euleuh.. euleuh… naha atuh bangor kitu meja teh?” polosnya.




Haish.. bahasa dewa Bi Becek malah membuatku malas mendengarnya. Apalagi si mamang, pasti dia males nulis dan menerjemahkannya. Singkat cerita, Bi Becek pun mengangkat meja dan membantu membalur kakiku dengan minyak tawon.




Ariska tidak muncul kembali, berarti dia langsung ikut dengan Arischa yang pergi begitu saja. Setelah kakiku yang memar diurut Bi Becek, aku pun tertatih menuju kamarku di lantai atas. Kubaringkan tubuhku di atas kasur dan kutatap langit-langit dengan tatapan kosong. Pikiranku menerawang.




Kenangan bahagia dan galau semenjak pertemuan kembali dengan Arischa saling berkelebat. Bahagia ketika mengingat kebersamaan yang menyenangkan, namun sesak ketika menyadari bahwa ia lebih memilih setia dengan Rei. Tapi kesal juga ada. Aku tidak menyangka Arischa akan bersikap seperti tadi, kata-katanya juga pedas. Semua kesalahan seolah ditumpukan padaku. Apa yang dikatakan Rei sore tadi, berbanding terbalik dengan apa yang kulihat dan kudengar malam ini. Arischa sangat menyayangi Rei, dan ia sangat marah ketika mendengar bahwa aku menyayanginya. Kupret!!




Lagian sepupuku Ariska, ia malah sengaja memancing perasaanku. Anjir.. kenapa aku harus bertemu dengan dua gadis yang memiliki kemiripan satu sama lain. Memiliki nama yang sama, dan juga sama-sama menyebalkan. Kenapa harus ada mereka berdua dalam hidupku.




Pikiranku napak tilas pada semua pengalaman yang telah kulalui selama ini. Hubunganku dengan Tante Puki… Bertemu Ariska dan Iban… affairku-ku dengan Bu Ningnung… sampai akhirnya bertemu lagi dengan Arischa. Apa kisah cintaku sekarang ini adalah karma karena aku telah menggauli Tante Puki dan Bu Ningngung, ya? Haisssh…!!!




Kugosok dan kuacak-acak rambutku. Segera kuraih smartphone-ku, dan langsung kucari nama Ndul. Aku membutuhkannya untuk sekedar bercerita. Yeah.. andai saja dia ada di Bandung, pasti sudah kuminta datang. Tapi week end ini dia pergi ke Jateng untuk mengejar cintanya dengan Yaning.




“Hallo, bro. Tahu aja kalau gua mau kasih kabar gembira.”




suaranya terdengar tengil sekaligus riang.




“Ndul, aku mau ngomong.”


“Eit.. ntar dulu. Gua yang ngomong duluan.”


“Kenapa emangnya?”


“Gua diterima, bro. Diterimaaa!! Yaning nerima cinta gua.” Ndul terdengar antusias dan sangat bahagia.


“Oh.. Selamat ya, Ndul.”


“Njir.. kok lemes gitu lu? Sahabat lagi seneng, bukannya turut mendukung, malah lemes gitu.”




Aku senang bahwa sahabat terbaikku sudah menemukan cintanya, dan Yaning adalah gadis yang baik; ia cocok menjadi pendamping hidup Ndul. Aku sangat setuju. Namun apa yang dialami oleh sahabatku berbanding terbalik dengan kisah cintaku.




“Zo? Woiii..”


“Iya.. iya.. aku dengerin. Selamat ya. Jaga Yaning, awas kalau lo suwir sebelum matang.”


“Hahaha.. iyah.. gua sayang banget ama Yaning, pasti gua jaga. Kecuali khilaf hehee… Btw bro, thanks ya.”


“Makasih kenapa?”


“Karena lu, gua bisa kenal dan ketemu Yaning.”


“Hmmm… Mana dia, gua mau ngomong.”


“Ada di luar, gua lagi di kamar nih, mau mandi.”


“Kupret, jadi lu lagi bugil?”


“Ya iyalah…”




Berbagai makian pun keluar dari mulutku.




“Btw, lu mau ngomong apa tadi?”


“Gak jadi. Bangkelah…”


“Hahaha… Jangan bohong lu! Ada masalah apa?”


“Seriusan gak ada.”


“wadul sia! Kenapa?!”


“Beneran lu mau denger?”


“Iya.”


“Euu.. hmmm… Dul, lu mau gak jadi menantu gua?”


“Taik, lu Zo.”




Klik!




Mau tidak mau aku pun terkekeh sendiri. Sungguh tidak terbayang kalau aku menikahi Bu Ningnung dan Ndul menjadi menantuku. Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi, Bu Ningnung sudah terang-terangan mengatakan bahwa ia tidak mau melanjutkan hubungan kami ke tahap yang lebih serius. Ia bahkan meminta dengan sangat supaya hubungan gelap kami diakhiri.




Tak lama berselang smartphone kembali bergetar.




“Hallo.” jawabku setelah tahu Ariska menelpon.


“zo, hiiiks.. kamu ke sini donk.”


“Ke sini ke mana?”


“Rumah Icha. Buruaan!”


“Ngapain?”


“Haish.. kamu tuh gak peka banget sih, Zo. Kamu ke sini dan ngomong pada Icha. Kasian dia nangis terus.”


“Loh.. kenapa jadi aku yang harus repot? Kamu juga sih yang bikin gara-gara.” suaraku meninggi karena emosi.


“Iya.. iyah.. aku minta maaf, tapi please kamu ke sini.”


“Mau ngapain lagi sih, Ris? Kamu kan udah denger sendiri omongan Icha tadi. Sudahlah gak usah diungkit lagi.”


“Zo, dengerin aku. Icha ngomong gitu itu karena bingung. Dia dilema antara mengejar cinta sejatinya denganmu, atau mempertahankan Rei. Di mata Icha, Rei itu baik banget, jadi dia juga gak mau nyakitin Rei. Icha marah seperti itu sebenarnya sebagai ungkapan marah pada dirinya sendiri karena tidak tahu harus berbuat apa.” Ariska menjelaskan panjang lebar.




Aku sungguh terharu mendengarnya, dan bisa membayangkan seandainya aku berada di posisi Arischa. Tapi aku tidak mau kehadiranku malah membuat Arischa semakin merasa bersalah pada Rei. Gadis terbaik layak mendapatkan pemuda terbaik; dan pemuda itu bukan aku. Aku akan bahagia, jika melihat Arischa bahagia. Kalah? No.. aku hanya…




“Zoo?!!”


“Eh iyah.. iyah…” aku tersadar dari lamunanku.


“Please ke sini yah.”


“Iya, aku datang.”


“Makasih. Aku tunggu di sini ya, nanti kita pulangnya bareng.”


“Ok.”




Klik.




Kuhela nafas dalam-dalam. Pikiranku menerawang. Kubulatkan segala tekad, dan menyemangati diri sendiri.




Aku tak butuh cinta, tapi cintalah yang membutuhkanku. Aku adalah seorang “pembalap”, cinta yang membutuhkan adrenalinku, bukan sebaliknya. Begitulah nasihat Mbah Nawi, dan aku mempercayainya.




Persetan dengan semua rasa cintaku pada Arischa; menguburnya akan lebih baik. Cukup!! Cukup dia menjadi sahabatku, dan aku tak perlu mengharapkan lebih dari itu. Aku tidak mau membuang energi secara sia-sia hanya untuk memikirkannya. Hidup tanpa cinta aku bisa, tapi hidup tanpa wanita itu yang aku tidak bisa. Kebalik? Halah.. kupretlah semuanya, silakan berdebat, aku tidak mau memikirkannya. Bisa nyuwir sudah cukup bagiku.




“Apa artinya punya cinta kalau lu tidak bisa nyuwir.” begitulah yang pernah kubaca dari sebuah tulisan. Pengarangnya adalah si kupret yang mengaku diri celenk sumatera. Padahal aku tahu siapa dia, dia adalah bocah ngapak yang mencoba menyamarkan diri dengan membuat julukan aneh agar terdengar sangar.




Kuraih kembali smartphone, kutelpon Rei.




“Ya, Zo.”


“Rei, kamu lagi di mana?”


“Di rumah, kenapa?”


“Aku mau minta tolong?”


“Heh? Kontribusimu dalam hidupku apa, Zo, berani-beraninya minta tolong." Rei terkekeh.


“Aku serius, Rei!”


“Iya kenapa? Gak usah ngegas juga kali, Zo.”


“Kamu ke rumah Arischa sekarang juga, penting!”


“Penting apaan? Ini udah malam, Zo.”


“Rei, ini penting banget. Kamu harus ketemu Arischa sekarang.”


“Emangnya ada apaan sih, Zo? Icha aja gak ngomong apa-apa ke aku.”


“Pokoknya kamu ke sana sekarang. Kalau nggak, kamu akan kalah hanya dalam satu ronde. Arischa akan menjadi milikku selamanya.”


“Kupret!! Iya, aku ke sana sekarang. Kamu ada di sana kan?”


“Belum, tapi ni udah otw ke sana. Nanti kita ketemu di rumah Icha.”


“Oke. Sampai ketemu.”


“Thanks.”




Setelah mengakhiri percakapan, aku pun menenggak obat tidur, kutarik selimut, dan kumasuki alam mimpi tanpa banyak pikiran yang mengganggu.








https://t.me/cerita_dewasaa








Hubunganku dengan Arischa sempat renggang, komunikasi kami terputus selama tiga minggu. Tapi setelah itu, semuanya kembali berjalan wajar. Pemersatunya adalah Tante Puki dan Ariska. Tidak perlu kuceritakan betapa murkanya Ariska ketika malam itu aku tidak datang, tetapi malah meminta Rei. Tapi sudahlah.. itu sudah lama berlalu.




Waktu pun berlalu, dan kini aku sedang berdebar menunggu saat yang menengangkan. Baru saja Tante Puki dibawa ke rumah sakit karena saatnya melahirkan sudah tiba. Bu Ningnung dan Yaning pun sengaja datang ditemani oleh Iban. Biar bagaimana pun mereka sudah menjadi bagian dari keluargaku. Di samping itu, aku punya misi lain, yaitu merukunkan kembali Bu Ningnung dengan kakaknya, yang adalah orangtua Arischa. Tidak seharusnya mereka saling bersikap dingin karena urusan salah paham di masa lalu. Aku yang telah menjadi penyebab, aku juga yang bertanggung jawab mempersatukan.




Ndul sahabatku tentu saja sangat senang karena akan bertemu kekasihnya, tapi ia uring-uringan karena siang ini kami ada meeting dengan pihak perusahaan Arischa. Jadwal pertemuan sudah tidak bisa dibatalkan lagi. Kalau hanya aku dan Arischa mungkin masih bisa ditunda, namun meeting kali ini melibatkan direksi dari pihak arischa. Tidak ada pilihan.




Tak lama kemudian Ariska dan Ndul memasuki ruang kerjaku. Ndul menenteng tas kerjanya, sedangkan Ariska membawa sebuah map.




“Sudah siap?” tanyaku.


“Aku dan Ndul sudah siapkan semuanya. Selamat meeting ya, abis ini aku akan langsung ke rumah sakit.” jawab Ariska.


“Thanks, Ris.”




Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kami pun beriringan meninggalkan kantor dan berpisah di parkiran.




“Anjir.. timing- nya gak pas banget.” keluh Ndul sambil mengendarai mobil.


“Sabarlah, abis ini juga, kita kan langsung ke rumah sakit, jadi kamu bisa langsung ketemu Yaning.” jawabku enteng. Padahal aku sendiri sangat menginginkan agar saat keponakanku brojol, aku ada di sana.


“Lu enak ngomong gitu, karena lu jomblo.” ledeknya.


“…”


“Btw Zo. Yang bikin gua gak sabar itu bukan ingin ketemu Yaningnya.”


“Tapi?”


“Gua akan melamar dia di Bandung ini, jika perlu langsung tunangan.”


“Hah? Serius kamu?” aku terperangah mendengarnya.


“Yups. Lagian bulan depan Yaning kan lulus kuliah, abis itu gak ada salahnya kalau kami langsung nikah.”




Sejenak fokus obrolan kami beralih pada rencana sahabatku. Aku cukup senang mendengarnya, dan aku sangat mendukung. Aku pun menawarkan diri menyiapkan momen bagi pertunangan mereka. Tak terasa kami pun tiba di kantor pusat perusahaan Arischa.




Seorang staff menyambut kami di lobi dan mengantar kami ke ruang meeting yang terletak di lantai lima. Arischa dan dua orang direksi sudah menunggu kami di sana.




“Pagi, Ris.”


“Pagi Zo, pagi Ndul. Perkenalkan ini Pak Waris dan Pak Gono. Ini sekretaris saya, Anindita.” Ariska menyambut uluran tanganku dan langsung memperkenalkan orang-orangnya.




Meski kami saling bersahabat, sikapnya nampak profesional. Ia menempatkan diri sebagai (calon) kolega bisnis, bukan sebagai teman. Belum juga kami selesai berkenalan, seorang pria keluar dari ruangan utama dan menghampiri kami.




“Selamat pagi, Pak Rudy.” sapaku, aku pun ikut bersikap profesional dengan tidak memanggilnya “om”.


“Pagi Zo. Pagi Gandul. Selamat datang di perusahaan kami.” jawabnya ramah.


"Mohon maaf saya tidak bisa ikut meeting, karena akan langsung terbang ke Surabaya. Saya sudah menyerahkan semuanya pada Icha; apapun kesepakatannya, semua ada di tangan anak saya.” jelasnya.


“Baik, Pak, terima kasih banyak.”




Kami pun kembali bersalaman karena Pak Rudy hendak meninggalkan kami. Setelah mencium kedua pipi anaknya, ia pun pergi, sedangkan kami memasuki ruang meeting yang sudah tertata rapi. Minuman pun telah tersaji, segelas jus dan segelas air putih untuk setiap orang.




“Agenda kita gak berubah, kan?” tanya Arischa padaku.


“Seperti yang sudah kita sepakati.” jawabku tegas.




Hari ini memang ada dua agenda yang hendak kami bicarakan. Pertama adalah kerjasama pembangunan proyek raksasa di jalur Pantura, dan yang kedua adalah serah terima 20% saham perusahaan yang telah lama menjadi milikku. Tentu saja dengan tambahan kekayaan 20% saham, assetku tetap belum seberapa jika dibandingkan dengan perusahaan milik keluarganya.




Arischa langsung memimpin rapat. Sejenak aku lupa kalau ia adalah sahabatku. Sikapnya benar-benar sangat profesional, dan kecerdasannya terlihat. Seorang gadis yang dalam keseharian nampak sederhana dan bahkan hatinya rapuh, kini menjelma sebagai pengusaha muda yang tegas dan berwibawa.




Setelah Arischa menyampaikan pengantar, kini giliran Ndul yang presentasi. Sebuah power poin dan beberapa file animasi ia tunjukan. Lima menit ia memperkenalkan visi-misi perusahaan, dan ruang lingkup bisnis yang telah kami rambah. Sisanya ia mengajukan penawaran sekaligus proposal yang kami ajukan dalam kerjasama yang hendak kami jalin. Sama halnya dengan Arischa, Gandul yang kesehariannya tengil pun kini menunjukan kemampuannya sebagai Manager Pemasaran. Sikapnya sangat berwibawa dan bicaranya sangat meyakinkan.




Seusai tanya jawab, tak perlu waktu sampai 2 jam meeting pun selesai. Aku senang karena proposal kami pada intinya diterima dan pihak Arischa siap menjalin kerjasama. Hanya ada beberapa poin yang masih harus kami revisi. Kami pun langsung mengagendakan pertemuan kedua minggu depan.




“Baik terima kasih semuanya. Saya senang dengan kerjasama ini, semoga menjadi awal yang baik, dan kedua belah pihak bisa menjalankannya dengan penuh komitmen.” Arischa menutup agenda pertama.




Pertemuan pun dilanjutkan dengan agenda kedua. Ia meminta sekretarisnya untuk mempersilakan notaris masuk. Ndul tetap berada di ruangan sebagai saksi dari pihakku, sedangkan dari pihak Arischa diwakili oleh Pak Waris. Pak Gono pamit meninggalkan kami.




Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya masuk. Seorang notaris bernama Sekar Ora Mekar. Setelah saling memperkenalkan diri dan Bu Sekar mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya, Arischa berdehem dan menatapku tajam.




“Zo, saya senang bahwa kita telah mencapai kesepahaman untuk menjalin kerjasama. Kini saatnya kita menuntaskan yang tertunda.” ujarnya.




Aku hanya mengangguk sambil membalas tatapannya. Tanpa sadar aku mengerutkan dahi karena ada sorot yang di luar biasanya. Arischa nampak begitu serius, bahkan terkesan dingin.




“Baik. Bu Sekar silakan bacakan dokumennya.” perintah Arischa pada notarisnya.




Tanpa menunggu perintah dua kali, Bu Sekar pun langsung membacakan sebuah dokumen kepada kami semua. Isinya adalah sebuah wasiat dan warisan dari almarhum kakek. Usai membaca dokumen tersebut, Bu Sekar mengeluarkan dokumen kedua berupa draft serah-terima asset dari pihak pertama (Arischa) kepada pihak kedua (aku). Aku menyimak dengan seksama dan serius. Tanpa mereka tahu, aku menangis dalam hati karena terharu atas kasih sayang kakek selama ini.




Awalnya aku bersikap biasa, namun aku mulai gelisah ketika mendengar isinya yang sangat ganjil. Aku melirik ke aras Ndul, dan rupanya ia pun sedang melihat ke arahku. Ia tidak kalah herannya denganku.




“Stop!” potongku.




Bu Sekar berhenti membaca, ia bersama Arischa menatapku heran.




“Maaf, kenapa bunyinya bukan serah terima 20% saham dari pihak Anda kepada kami, melainkan malah kami yang menjualnya kepada Anda?” aku tidak memanggil Arischa dengan namanya.


“Saya mengerti.” Arischa bersikap tenang.


“Saham ini adalah hak kamu, Zo, sebagai warisan dari kakek dan nenekmu. Tapi kamu harus ingat bahwa tanpa kami, kamu mungkin tidak akan bisa mendapatkannya kembali. Kami sudah menjaganya demi kamu, dan sekarang kami tidak akan menyerahkannya, melainkan membelinya agar menjadi milik kami seutuhnya. Anggap saja ini sebagai balas jasamu kepada pihak kami. Jangan khawatir, pada poin berikutnya kami sudah mencantumkan bahwa kami akan membayar dengan dengan harga real tanpa mengurangi sepeser pun.” Arischa menjelaskan.




Tentu saja penjelasan Arischa membuat darahku langsung mendidih. Aku tidak menyangka bahwa sahabatku akan berkata seperti itu. Seorang Arischa yang lembut kini bersikap tak ubahnya seperti serigala yang tamak dan mau menang sendiri tanpa minta persetujuan sebelumnya.




“Tidak bisa begitu, donk Ris. Anda tidak bisa semena-mena membuat surat pernyataan seperti itu. Kesepakatan kita adalah serah-terima asset, bukan jual-beli.” aku berusaha meredam emosi.


“Saya mengerti, Zo. Tapi kami ingin memilikinya dan kami berniat membelinya.” sergah Arischa.


“Kalau saya menolak?” aku mulai arogan.




Kulihat Arischa menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ia seperti sedang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.




“Begini, Zo. Saya sampaikan sekali lagi. Kami tidak pernah meniadakan dan tidak pernah menyangkal bahwa 20% saham ini adalah milikmu. Ini menjadi hakmu, bukan hak kami. Nah, kami mohon kerelaan kamu untuk menjual semuanya kepada pihak kami, sebagai balas budi karena kami telah menjaganya. Kalau kami mau curang, kami bisa saja tidak bilang bahwa kamu memiliki saham di perusahaan kami. Tapi kami tidak melakukannya, bukan? Kami tahu apa yang menjadi hak kami, dan apa yang bukan menjadi hak kamu. Sekarang, kami hanya mau menjadikan apa yang bukan hak kami menjadi hak kami dengan jalur yang benar dan cara yang tepat.” Arischa berbicara panjang lebar.




Bukannya luluh, aku malah semakin terpancing emosi mendengarnya. Aku tidak akan semarah ini jika pihak Arischa menyampaikan pengajuan klausal jual-beli ini sebelumnya, bukan sepihak seperti ini. Ini sama saja dengan pemaksaan kehendak dan mengkondisikanku untuk menerima kemauan mereka secara sepihak.




“Bagaimana?” desak Arischa.




Aku hanya bisa merekatkan gigi dan menutup mata. Nafasku rasanya tersengal. Tepukan Ndul pada bahuku pun tidak mampu membuatku tenang. Kuusap wajah beberapa kali sambil menyambat nama kakek dalam hati. Saking marahnya, aku langsung mengambil keputusan, dan berulang kali meminta maaf kepada kakek.




“Tamak!” makiku dalam hati.




Sambil tetap merapatkan gigi aku membuka mata dan menatap Arischa penuh kebencian. Kutatap pula Pak Waris, dan terakhir menatap Bu Sekar. Kulirik Ndul untuk meminta persetujuan, tapi ia hanya mematung diam karena memang tidak tahu apa yang sedang kupikirkan.




“Nona Arischa yang terhormat…” aku benar-benar sudah antipati pada sahabatku yang selama ini kuanggap sebagai tujuan pencarian sekaligus menjadi akhir kebahagiaanku.


“Anda benar. Aku harusnya berterima kasih kepada Anda dan orangtua Anda yang telah menyelamatkan asset warisan kakekku. Dan sekarang… saya menyampaikan itu… TERIMA KASIH atas kebaikan Anda dan keluarga Anda. Kalian hebat karena mau menjalankan wasiat kakek dan mau mencariku!!”




Aku tidak peduli pada perubahan raut muka Arischa yang terlihat melunak dan bahkan nampak berkaca-kaca. Kedua pipinya nampak memerah.




“Saya tidak akan pernah menjual warisan kakekku kepada Anda. Tidak akan pernah!!! Tapi saya juga tidak akan mengambilnya jika Anda memang menginginkannya!! Silakan ambil semuanya itu.” aku mengucapkan semuanya itu dengan bibir bergetar.




Kini aku seolah penguasa tunggal di dalam ruangan ini, sedangkan Arischa yang tadi arogan nampak menciut dan berkaca-kaca. Pak Waris hanya duduk kaku sambil sekali-kali mengendorkan ikatan dasinya, sedangkan tangan Bu Sekar bergetar.




“Zo, sabar Zo. Jangan gegabah.” Ndul berbisik mengingatkan, tapi apa peduliku. Keputusan sudah kubuat.


“Aku anggap semuanya itu tidak pernah ada. Aku tahu bahwa kakek mencintaiku, itu sudah cukup bagiku. Cinta kakek jauh lebih berharga, daripada warisannya yang ia titipkan pada Anda. Dan asal Anda tahu.. saya tidak akan pernah menjadi miskin karena kehilangan warisan kakek. Jadi…”




Aku berdiri dan menunjuk wajah Arischa yang sudah mulai menangis.




“Kalau Anda menginginkannya, ambillah!!! Anggap itu sebagai bayaran dari pihakku karena Anda telah menyimpan dan menjaganya. Sebagai balas budiku karena kalian telah menyelamatkannya dari ketamakan ayahku!!!”




Aku memberi kode kepada Ndul untuk bersiap pergi.




“Dan satu lagi… kita batalkan perjanjian kerjasama kita. Anggap saja pembicaraan tadi tidak pernah terjadi.”




Tanpa permisi, aku pun melangkah meninggalkan ruangan. Ndul nampak salah tingkah, ia menyusulku setelah sebelumnya sempat menyalami ketiga “tuan rumah” di perusahaan raksasa ini.




“Enzooo…!!!” kudengar Arischa berteriak memanggilku, tangisnya sudah pecah.




Apa peduliku. Persetan semuanya.. ia yang sudah membuat perasaanku remuk berantakan, kini malah menghancurkan persahabatan karena ketamakan. Langkahku semakin panjang, dan Ndul sudah menjejeriku sambil berusaha menasihati supaya aku bersikap lebih tenang.




“Enzo… jangan pergi, dengarkan aku dulu. Hiks.. hiks..” kudengar suara sepatu di belakang. Arischa berlari mengejarku.




Jangankan berhenti, melihat mukanya pun aku sudah tidak mau lagi. Pesona kecantikannya hanyalah semu. Aku bahkan menganggapnya sebagai gadis buruk rupa karena kebusukan hatinya. Selama ini aku telah tertipu oleh penampilan luarnya.




Anjing… mana harus BERSAMBUNG lagi….



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar