Enzo part 32

 

BAB 32








Dua bulan berlalu… Dan kini langit sore di kota Bandung sedang gerimis, namun tubuhku malah merasa gerah. Rei mengajakku ketemu tanpa sepengetahuan Arischa. Kulepas dasiku dan kumasukan ke dalam tas. Aku baru saja pulang kerja, dan sedang duduk di sudut café yang kami janjikan.




Sepuluh menit kemudian sosoknya muncul, aku harus mengakui bahwa ia memang keren, sudah sepantasnya sahabatku mendapatkan cintanya.




"Sorry aku telat, Zo. Aku harus nganter Kezia dulu tadi.” sapanya.


“Nyantai, Rei.” jawabku sambil tersenyum.




Ini memang bukan pertemuan pertama kami, sejak berjumpa di bandara aku dan Rei sudah beberapa kali bertemu, ada Ariska dan Arischa tentu saja. Tapi kini aku sedikit kikuk karena kami hanya berdua. Biar bagaimana pun ada nama yang sama dalam hati kami masing-masing.




Rei pun duduk dan menyulut rokok putihnya, sedangkan aku mengangkat tangan pada pelayan. Pelayan itu mengangguk tanpa mendekat, aku memang sudah pesan minuman tapi meminta supaya membawakannya setelah temanku datang.




Aku dan Rei saling ngobrol ringan tentang cuaca, tentang kemacetan; beralih lebih serius membicarakan pekerjaan.




“Jadi kamu belum mulai kerja di perusahaan keluargamu?” tanyaku.




Rei menggeleng sambil menyalakan kembali sebatang rokok, sedangkan aku menyeruput kopi yang sudah diantar pelayan sejak beberapa menit lalu.




“Aku udah bilang ke ayah untuk menunda dulu, sebenarnya aku gak suka kerja bareng ayah, lebih pengen ngembangin usaha sendiri.” jawabnya.




Rei sudah pernah cerita kalau ia dan Keyla (biasa dipanggil Kekey) memang dipersiapkan untuk melanjutkan usaha ayahnya, namun ia masih belum sreg untuk kerja kantoran seperti itu.




“Lalu ayahmu?”


“Ayah sih sebetulnya gak keberatan yang penting aku serius.”




Dari mulut Rei mengalir cerita tentang keluarganya. Ada binar bahagia saat ia bercerita, ada gambaran bangga dan penuh cinta. Sungguh beruntung pemuda ini, pikirku. Ia memang lahir dari keluarga bahagia yang rukun dan harmonis. Hubungan dengan ayahnya pun sangat dekat, layaknya seorang sahabat. Mamahnya adalah seorang dosen. Kekey kakaknya menjadi direktur SDM di perusahaan keluarga, sedangkan Kezia baru saja masuk kuliah.




“Kamu beruntung, Rei.” ujarku jujur.




Rei memang seorang pemuda yang menyenangkan, dan asik diajak ngobrol. Aku pun jadi tidak malu bercerita tentang asal-usulku, tentang keluargaku, tepatnya tentang pencarianku tentang ayah dan ibu. Ceritaku mau tidak mau bersinggungan dengan Arischa kekasihnya, sekaligus juga sahabatku.




“Kamu yang hebat, Zo. Kalau aku berada di posisimu, belum tentu aku bisa melewati semuanya itu.” setelah berkata begitu, ia melempar bungkus rokok yang sudah tidak ada isinya ke arah dadaku. Sebuah sikap yang bagiku menunjukan rasa simpati bukan hanya sebagai seorang teman, melainkan seorang sahabat.




Yeah.. tidak perlu pernyataan bersama untuk bersahabat, bukan? Kami merasa begitu saling mengerti dan memahami, saling mendukung dan menguatkan. Meski begitu, masih ada penghalang yang mengganjal persahabatan ini, yaitu Arischa.




“Zo..” Rei menatapku serius.


“Yap?”


“Sebetulnya aku ngajak ketemu karena ada yang ingin kubicarakan.” ujarnya.


“Lah dari tadi kita ngapain aja? Bukannya berbicara yah?”


“Kupret!!” makinya.




Dan kami pun sama-sama tertawa.




“Mau ngomong apa?”


“Arischa.”




Deg!! Aku sudah menduga ia akan membahas hal ini, tapi tetap saja aku berdebar mendengarnya.




“Kamu keberatan?” ia seolah membaca ketidaknyamananku.


“Katakanlah..” jawabku sambil sedikit merentangkan kedua tangan.


“Jujur aku pertama kali mengenal dia di Jerman. Kami bertemu waktu ada pertemuan pelajar Indo di musim panas. Kampus kami memang berbeda, tapi masih dalam satu kota dan cukup berdekatan.”


“…” kuseruput kopiku sambil tetap menyimak arah pembicaraannya.


“Bagiku, Icha adalah gadis yang sangat cantik dan menarik, juga pinter. Namun sayangnya ia juga adalah gadis yang pendiam, dan bahkan pemurung. Satu-satunya hobby dia adalah menyendiri. Singkat cerita, kami mulai berteman dan saling mengenal satu sama lain. Aku sering curhat padanya, demikian juga ia mulai terbuka, dan mulai mau bercerita tentang hidupnya. Dari dialah aku sudah mengenal kamu sebelum kita saling bertemu.”




Rei berhenti sebentar untuk menyeruput kopinya. Aku menunggu sambil tetap berusaha santai, padahal perasaanku mulai bergejolak. Rei seolah sedang menggali kembali luka hatiku yang selama beberapa bulan ini berusaha kutekan dan kusembunyikan.




“Dalam setiap cerita dan curhatnya, hampir tidak pernah ia tidak menyebut namamu, Zo. Namamu seperti sudah mendarah daging dalam dirinya.” Rei meneruskan cerita, sedangkan aku tersedak haru.


“Kamu tahu apa yang kurasakan ketika ia bercerita tentangmu? Aku cemburu, Zo, karena aku mulai menyayanginya. Aku telah jatuh cinta pada Arischa.” kini haruku bercampur cemburu.


“Rasa sayangku pada Arischa membuatku semakin intens untuk menemuinya dan ngajak jalan bareng. Aku mulai melihat hasilnya. Seorang Arischa yang pemurung berubah menjadi gadis periang, seorang gadis yang ceria dan bersemangat. Aku senang.. sangat senang… dan setelah setahun saling kenal, aku memberanikan diri untuk nembak dia. Kamu tahu apa jawaban dia?”


“Arischa menerima cintamu.” aku menebak.


“Kamu salah besar. Ia menolakku, Zo, dan satu-satunya alasan dia menolakku adalah kamu.”


"And..?” aku tidak mau senang mendengarnya, toh pada kenyataannya kini Rei sudah berhasil mendapatkan cinta Arischa. Kusulut rokokku sambil menunggu Rei meneruskan ceritanya.


“Kamu tahulah lelaki.. semakin ditolak maka akan semakin berusaha keras untuk mendapatkannya. Itu yang kulakukan. Tiga bulan kemudian aku nembak Arischa kembali, dan aku sangat senang waktu itu karena akhirnya Arischa mau membuka hati dan menerima cintaku.”


“…” kuhembuskan asap rokok dari mulutku.


“Aku bahagia sekali saat itu, apalagi sejak saat itu aku tidak pernah melihat Arischa bersedih lagi. Kami menjalani masa-masa studi dengan menyenangkan karena kami selalu saling dukung dan saling bantu, sampai akhirnya kami merayakan satu tahun jadian kami dengan wisuda.”




Rei terus bercerita, namun aku mulai tidak fokus mendengarkan. Sedih, haru, marah, dan cemburu bercampur menjadi satu. Tentu saja aku tidak marah pada Rei, melainkan pada diri sendiri karena telah membiarkan Arischa menungguku sekian lama, dan penantian itu pada akhirnya bisa dibilang sia-sia.




“Sekarang semuanya berubah kembali, Zo.” Rei menyandarkan duduknya lebih dalam sambil memainkan batang rokok di sela jemari.


“Maksudmu berubah?” heranku.


“Sejak pulang ke Indo, tepatnya sejak ketemu kamu, Arischa kembali menjadi seorang gadis pemurung seperti dulu. Dan aku.. aku tahu kenapa…” Rei berbicara panjang lebar. Ada kesedihan yang ia sembunyikan, namun sikapnya sangatlah gentle tanpa amarah maupun dendam.




Aku hanya mengerutkan dahi mendengarnya, karena setahuku Arischa tidak pernah menunjukan sikap itu saat bersamaku. Arischa adalah gadis yang gembira, dan bahkan sikapnya terkesan galak padaku, banyak ngatur ini dan itu. Tapi aku juga tidak memungkiri bahwa saat aku main ke rumahnya atau sebaliknya, ia selalu menghindar untuk membahas hubungannya dengan Rei.




Aku juga tidak tahu harus berkata apa ketika Rei mengatakan bahwa akulah penyebab dari semuanya itu. Di mata Rei, sejak kembali ke Indo dan bertemu aku, Arischa berubah kembali menjadi seperti dulu.




“Arischa sangat menyayangimu, Zo.” kali ini suara Rei sedikit bergetar dan matanya menatapku tajam.


"Sorry.” hanya itu yang spontan kuucapkan.


“Aku tahu itu, Rei. Aku tahu kalau ia telah menderita menantiku, aku juga tahu bahwa aku menyayanginya. Tapi sekarang sudah ada kamu. Aku titip Arischa, Rei, jaga dia. Dan aku janji, aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian.” kali ini aku mengucapkan semuanya itu dengan sadar, aku sungguh rela Arischa jatuh ke dalam pelukan Rei. Aku yakin sahabat baruku ini bisa membahagiakan Arischa.




Rei menghela nafas, lalu menegakan kembali duduknya. Matanya tajam melihat ke arahku.




“Dengarkan aku, Zo. Dalam darah keluargaku, pantang bagi kami membuat orang menderita karena memaksakan cinta. Begitu pula denganku. Aku akan melepaskan Icha, bukan karena aku kalah, bukan karena aku tidak cinta. Aku merelakannya, semata-mata supaya ia bahagia.”




Aku tersentak mendengarnya, namun sebelum aku menyahut Rei sudah melanjutkan kembali ucapannya, “Sekarang justru aku yang meminta kamu supaya menjaga Icha. Sayangi dan cintai Icha sebagaimana seharusnya kamu mencintai dia. Ia sangat menyayangi kamu, menunggumu, dan bahkan mencarimu. Aku tidak berhak membuat Icha terluka dengan memaksakan cintanya untukku. Di hati Icha hanya ada kamu.”




“Bangsat!!” emosiku seketika meluap.


“Caranya bukan seperti itu, bro.” aku bisa mendengar suaraku sendiri sedikit arogan. “Aku tidak pernah berpikir untuk merebut Icha darimu. Kami bersahabat, yaa!!! Kami saling punya rasa, yaa!! Tapi harusnya kamu bukan mundur, pertahankan Icha, perjuangkan cintanya untukmu. Bahagiakan dia!!”


“Aku tidak bisa mencintai orang yang hatinya bukan untukku.” sergah Rei.


“Makanya perjuangkan!! Bukan menyerahkan seperti ini, Icha bukan piala bergilir yang bisa kita permainkan!!” aku semakin sewot.


“Hei.. hei.. tenang, Zo. Aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu!” kini suara Rei yang meninggi.


“Lalu apa artinya ini semua kalau kamu tidak berpikir seperti itu?” aku menatapnya tajam.


“Aku cuma ingin melihat Icha bahagia!”


“Itu juga yang kuinginkan.”




Akhirnya aku dan Rei sama-sama terdiam. Aku menyulut rokokku dengan resah, sedangkan Rei hanya mematung diam. Dalam hal ini, tujuan kami sama yaitu ingin membahagiakan Arischa, tapi cara pandang kami yang berbeda.




“Jangan tinggalin Icha.” ujarku lemah, setengah memohon.




Rei kembali menghela nafas dan menghabiskan sisa kopinya.




“Kita bermain gentle .” suara Rei memang singkat, namun terdengar sangat tegas.


“Maksudmu?”


“Biarkan Icha yang memilih.”


“Rei?!!”


“Tapi siapapun yang Icha pilih…” Rei tidak mempedulikan hardikanku. Lanjutnya, “Aku tidak mau persahabatan kita menjadi hancur karena Icha. Apapun yang terjadi, siapapun yang Icha pilih, kita harus tetap bersahabat.”


“Bangsat kamu, Rei.” makiku.


“Kamu yang bangsat, Zo. Seandainya kamu tidak muncul kembali dalam hidup Icha, aku tidak harus merasa takut kehilangan dia.” tukas Rei.




Kami pun akhirnya sama-sama tertawa, sebuah tawa getir untuk menyamarkan rasa sakit di dalam hati.




“Zo, lihat itu.” Rei menunjuk halaman cafe yang cukup luas, nampak basah karena gerimis masih turun.


“Hmm?”


“Kita duel yuks.”


“Anjing lu, Rei.”




Kami kembali tertawa, kali ini cukup keras, sehingga beberapa pengunjung café melihat ke arah kami.








https://t.me/cerita_dewasaa








“Kamu dari mana aja, Zo?” Ariska menyambutku di depan rumah.




Yah.. aku dan dia sudah tinggal bersama di rumah lamaku. Aku memang yang meminta sepupuku itu untuk tinggal bersama daripada dia tinggal di rumah kontrakan. Tapi kami juga tidak tinggal berdua karena ada seorang pembantu yang tinggal bersama kami.




“Abis nongkrong bareng Rei.” singkatku.




Ariska nampak terkejut dan memegang kedua bahuku. Ia menatapku tajam seolah sedang memastikan bahwa aku tidak berbicara ngasal.




“Kalian gak aneh-aneh, kan? Kamu baik-baik saja?” cecarnya.


"As you can see.” aku melangkah ke dalam rumah tanpa peduli.


“Zooo!!!”




Ariska langsung menyeret tanganku supaya duduk di atas sofa ruang keluarga.




“Ayo cerita.” desaknya.


“Cerita apaan sih, Ris? Orang cuma ngopi doank.”


“Kamu memang pandai berbohong, tapi tidak di hadapanku. Ingat, penyamaranmu aja aku bisa tahu.” Ariska nampak kesal dan tidak sabar.


“Riisss!!!” aku masih ingin mengelak dan menatapnya tajam, namun urung ketika Ariska memandangku lebih tajam.




Aku pun hanya bisa menyandarkan punggungku pada sofa dengan kedua kaki selonjor di atas meja.




“Aku kayaknya mending kembali ngurusin angkringan, Ris. Tinggal di Jawa (Jateng) sepertinya akan lebih baik bagi semuanya. Baik bagiku, baik juga untuk Arischa.” aku mulai menyampaikan apa yang kupikirkan sepanjang perjalanan pulang dari café.




Plaaaak!!!




“Auuw… Sakit, Ris.”


“Makanya kalau ngomong jangan sembarangan! Ayo jelaskan ke aku?!”


“…”


“Aku gak mau yah.. punya saudara lembek kayak kamu. Ayo cerita alasannya!”


“Alasannya ya Arischa…” akhirnya aku pun menceritakan pertemuanku dengan Rei dan semua yang kami obrolkan.


“Kalian para cowok memang sama aja.” tiba-tiba Ariska sewot.


“Loh kok gitu?”


“Ya begitu!! Kalian memang brengsek, ngomongin cinta kayak ngomongin upil yang dengan mudah dikorek lalu diusap di bawah meja.”




Bangke!!! Kalau bukan perempuan pasti sudah kulabrak balik, jika perlu kusumpal mulutnya dengan jembut ketiak. Dia tidak tahu saja betapa hatiku sakit karena memikirkan Arischa. Aku lelaki.. aku punya ego yang tinggi… inginku adalah Arischa menjadi milikku. Tapi begitu juga yang dirasakan oleh Rei. Kalau akhirnya Rei mau “menyerahkan” Arischa untukku itu semua semata-mata demi kebahagiaan gadis itu. Sebaliknya dari pihakku, aku mau supaya Rei mempertahankan dan memperjuangkan cintanya, juga semata-mata demi Arischa.




Tapi apa daya, aku tidak pernah menang berdebat dengan perempuan, apalagi di hadapan sepupuku yang satu ini. Lelaki selalu menang di atas ranjang, tetapi kalah di meja makan (baca: saat berdebat).




“Pokoknya, kamu tetap di Bandung, dan gak boleh pergi kemana-mana. Titik!!” suaranya meninggi.


“Ini semua demi ketutuhan hubungan Arischa dan Rei, Riiis.” suaraku tak kalah tinggi.


“Kebaikan? Demi kebaikan katamu? Baik apanya?”




Fiuuuh…!!




“Lah, lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak tega kalau harus melihat Arischa tidak bahagia seperti yang dikatakan oleh Rei.” aku menatap tajam Ariska.


“Kamu memang bodoh.. bodoh.. bodoh… haisssh.. dengerin aku dan jawab pertanyaanku.” Ariska memegang kedua pipiku agar membalas tatapan matanya.


“Kamu sayang Icha atau nggak?”


“Maksudmu?”


“Jawab!! Tinggal jawab aja apa susahnya sih?”


“Iya.. iya..!!”


“Iya apa?”


“Iya, aku sayang dia. Sayang Icha!!! Puas lu?”




Kulihat Ariska tersenyum sambil menepuk-nepuk pipiku lembut. Sedangkan aku sama sekali tidak ingin tersenyum, yang ada malah gondok dan ingin memaki.




Ariska melirik ke arah pintu, namun ia menahan pipiku sekali lagi supaya tidak ikut menengok. Tatapannya kembali serius.




“Sekarang jawab sekali lagi?” ujarnya.


“Apa lagi sih, Ris?” aku semakin kesal, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kamu sayang Icha atau nggak?”


“Aku kan udang bilang tadi. Aku sayang Icha. Sangaaat!!!”




Praaaaak!!!




Aku langsung menegakkan dudukku dan menengok ke arah datangnya suara. Aku langsung melotot ketika orang yang sedang kami bicarakan sudah ada di dalam rumahku dan sedang berdiri mematung. Kunci mobil tergeletak di dekat kakinya.




Arischa nampak berkaca-kaca, dan mukanya merah. Aku sangat sulit menggambarkan ekspresi gadis itu, namun yang jelas bukan gambaran seorang gadis yang sedang bahagia.




“Cha…” aku gugup, sedangkan Ariska tersenyum seolah puas telah membuatku mengeluarkan isi hatiku secara tidak langsung di depan Arischa.


“Sini duduk, Cha.” undang Ariska.




Namun Arischa tetap mematung dengan nafas tersengal. Dengan kasar ia mengusap air matanya, lalu tangannya terangkat dengan telunjuk tegak lurus pada mukaku.




“Apa kamu bilang, Zo? Kamu sayang aku? Kemana aja kamu selama ini? Kamu ada di mana saat aku merindukanmu? Di mana saat aku susah? Tapi di saat aku mulai bahagia, tiba-tiba kamu muncul dan sekarang mengatakan itu? Itu sama saja dengan mau merenggut kebahagiaan yang telah susah payah kupulihkan.”




Bukan hanya aku yang melongo, tetapi Ariska pun terbelalak kaget.




“Terima kasih udah sayang aku. Hiiiiks…. Aku sangat menghargai itu. Tapi maaf, aku tidak bisa lebih dari apa yang sudah kita jalani. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, tidak lebih dari itu. Kamu tahu, aku sudah menjadi milik lelaki lain yang lebih menyayangiku daripada kamu. Dan asal kamu tahu, aku juga lebih menyayangi dia daripada kamu! Hiks.. hiks…”




Setelah berkata begitu, Arischa langsung membungkuk untuk memungut kunci mobilnya lalu berlari meninggalkan kami berdua. Ariska sigap menyusul, sedangkan aku hanya berdiri sambil menendang meja hingga terjungkal. Marmer tebal itu terbelah menjadi dua, dan kakiku terasa sangat sakit. Tapi sakit di kaki ini tidaklah seberapa, jika dibandingkan dengan goresan luka di dalam hati.




Selamat tinggal masa lalu, selamat datang BERSAMBUNG!!!



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar