Enzo part 31

 

BAB 31






Butuh waktu sekitar lima menit bagiku untuk menenangkan diri. Aku perlu waktu mengatur nafas karena perasaanku seakan bergemuruh dan jantungku berdetak kencang. Dinginnya AC tak mampu menghentikan keringat yang tiba-tiba mengalir pada pelipis dan telapak tangan. Semua pondasi harapan yang kubangun kembali hancur, dan mimpiku sirna. Arischa sudah punya pacar.




Aku seharusnya tidak cemburu, toh aku dan Arischa hanyalah dua sahabat masa kecil yang tidak pernah membangun komitmen bersama. Aku seharusnya bahagia karena sahabatku itu sudah memiliki kekasih. Tapi tidak begitu, harapan dan euforia yang Ariska, sepupuku, tanamkan selama ini membuat perasaanku sempat melambung, namun kini hancur kembali. Aku sudah kalah sebelum memasuki lintasan.




Adalah getar smartphone-ku yang akhirnya membuatku sadar. Ariska menelpon. Aku mengerjap beberapa kali sambil menggosok kedua telapak tangan pada celana. Kuatur nafas, kubuka mulut untuk melenturkan urat-urat wajah yang tegang. Kurapikan rambutku, kupasang sebuah senyum. Gila!! Kalau ada yang melihatku mungkin akan berpikir seperti itu, tapi aku tidak peduli, aku perlu tampil natural dan seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan Arischa.




Kukantongi kembali smartphone-ku yang terus bergetar, lalu kuhembuskan nafas panjang sekali lagi. Aku pun mendekat.




Kini aku bisa melihat suasana gembira di hadapanku, sebuah perjumpaan yang membahagiakan, sekaligus perkenalan dua keluarga yang menyenangkan. Sejenak aku tercekat saat melihat sosok itu. Dia lebih cantik daripada fotonya yang sempat Ariska tunjukan. Tubuhnya langsing, nampak indah di balik balutan t-shirt putih dan jeans ketat. Sweater tipis ia kenakan.




Seandainya pun aku tidak pernah melihat fotonya terlebih dahulu, aku pasti akan tetap bisa mengenalinya. Wajahnya tidak banyak berubah dengan paras masa kecil, tapi di atas semuanya itu, ada energi di dalam hati yang mengatakan siapa dia.




Kutelan liur setelah gagal mengucapkan sebuah kata. Lidahku tiba-tiba terasa kelu. Kelopak mataku seketika panas melihatnya, senang dan sedih bercampur menjadi satu. Adalah Ariska yang pertama kali melihatku, ekspresinya berubah tegang dan salah tingkah. Upayanya untuk membuat kejutan separuhnya gagal, ia hanya berhasil mempertemukan dua sahabat lama yang telah belasan tahun berpisah, bukan menyatukan menjadi kekasih. Ia nampak tidak enak hati padaku, kedua telapak tangannya terkepal. Bahkan memanggil namaku pun ia tidak mampu. Aku mengangguk ke arah Ariska dan mencoba tersenyum.




“Selamat malam.” akhirnya kata itu keluar dari mulutku. Aku tidak tahu apakah terdengar wajar atau bergetar, yang jelas aku sudah mengucapkannya.




Semua wajah menengok, juga mata bening itu. Raut gembiranya berubah seketika, ekspresinya seketika kaku. Bukan hanya terbelalak, Arischa juga nampak membuka bibir merahnya. Melongo!! Apakah dia menyadari siapa aku? Apakah ia juga merasakan ikatan batin seperti yang sedang kurasakan.




Hanya wajah wanita bernama Callista dan ketiga anaknya yang terlihat wajar dan ramah menyambutku. Meskipun mereka masih bingung karena belum tahu siapa aku. Sisanya nampak tegang. Bahkan kedua orangtua Ariska, Om Rudy dan Tante Firni terlihat salah tingkah.




Aku mendekat, dan nampaklah kedua bola mata Arischa berkaca-kaca. Sedih, rindu, dan haru ada di sana.. tapi juga berkelebat sinar marah.




“Eh Nak Enzo sudah datang.” akhirnya Om Rudy lebih dulu bisa menguasai keadaan dan menyambutku. Aku pun menyalami Om Rudy terlebih dahulu, dilanjutkan dengan menyalami Tante Firni istrinya.




Bukan hanya Arischa yang terkejut mendengar ayahnya menyebut namaku, melainkan juga pemuda yang menjadi kekasihnya. Ia nampak kaget dan menatapku dengan tulang rahang mengeras.




“Malam Tante… hai semua…” tanganku terulur untuk menyalami Tante Callista, Kekey, dan Kezia, berakhir dengan menyalami Rei. Dalam keadaan wajar mungkin pikiranku akan mesum saat melihat kecantikan Tante Callista dan kedua putrinya dari jarak sedekat ini, tapi tidak kali ini. Perasaanku sedang tidak menentu.


“Hai Cha, selamat kembali ke Indonesia.” rasanya aku memberikan senyum terbaikku saat mengulurkan tangan dan menyapa Arischa, padahal hatiku rasanya teriris pedih.


“Ka.. kamu…?”


“Masih kenal aku, Hantu Sawo ?” aku tetap mengulurkan tangan meski belum ia balas.




Mendengar aku memanggilnya “Hantu Sawo”, air mata Arischa langsung mengembang, dan gagal ia bendung agar tidak mengalir. Ia berjingkat seolah mau memelukku, namun sadar seketika. Ia berhenti tepat ketika jarak kami tinggal satu langkah saja, dan ia hanya menyambut uluran tanganku dengan kaku. Kulit putih dan halusnya terasa dingin, dan bahkan bergetar. Air mata pun mengalir pada pipinya yang sekarang berubah pucat.




“A.. aku.. gak salah, kan? Ini Enzo? Hiiikss.. Ris? Pah? Mah?” ia seolah tidak percaya, dan meminta kepastian pada Ariska dan kedua orangtuanya.


“Eheemmm…” Om Rudy berdehem.


“Ini adalah Enzo, Cha, teman bermainmu di bawah pohon sawo waktu di Rembang dulu.” jelasnya. Arischa pun menangis, dan entah apa yang dipikirkannya, ia menghambur ke dalam pelukanku.




Aku sungguh terkejut, tanganku kaku tanpa membalas. Aku malah celingukan menatap kekasihnya, dan ia tersenyum seolah menyetujui, walaupun ada ekspresi yang sulit kugambarkan.




“Jadi Enzo ini adalah sahabat masa kecil Icha, mereka sudah belasan tahun tidak ketemu. Yeah.. akhirnya seperti sekarang inilah. Semoga pertemuan ini menjadi hadiah bagi kelulusan Icha.” kali ini Tante Firni menjelaskan kepada Tante Callista dan ketiga anaknya. Mereka semua mengangguk dan tesenyum haru, kecuali si pemuda.


“Eh maaf.” Arischa seolah sadar dan langsung melepaskan pelukannya.




Ia melirik pada kekasihnya seperti merasa bersalah, namun pria itu cukup dewasa, ia mengangguk sambil tersenyum.




Tanpa ada yang tahu, Arischa mencubit perutku sangat keras, persis seperti kebiasaannya ketika masa kecil dulu. Aku pun mencoba tersenyum untuk menyembunyikan ringisan.




"Wah seneng ya, hadiahnya double donk kak. Lulus kuliah dapat kekasih dan ketemu sahabat lama.” si lesung pipit yang bernama Kezia berujar.




Ada tawa yang kudengar, ada senyum yang kulihat. Namun tidak dengan Arischa dan Ariska, juga si pemuda. Kepolosan Kezia membuat beberapa di antara kami kembali merasa awkward.




“Apaan sih kamu, Dek.” pemuda yang bernama Rei itu menggosok kepala adiknya, dan gadis itu malah bermanja dengan memeluk sang kakak.


"Sorry, aku bener-bener gak tahu, Icha gak pernah cerita.” Ariska berbisik padaku dengan perasaan bersalah.


"I am fine.” pelanku sambil menepuk pundaknya.




Perkenalan pun berlanjut, Tante Firni menceritakan siapa aku secara lebih detail, siapa Ariska, dan apa hubungan kami dengan Arischa. Sepintas perjumpaan ini terlihat menggembirakan dan mengharukan, namun aku merasakan ada kecanggungan yang sama-sama kami tekan dan kami sembunyikan: aku, Rei, dan Arischa.




Beruntung keramahan Tante Firni, Tante Callista dan Kekey bisa mencairkan keadaan, suasana haru pun jadi diselingi canda tawa. Padahal aku dan Arischa sama sekali tidak saling berbicara, hanya saling curi pandang dan lirikan. Air matanya sudah berhenti mengalir.




Entah harus bernafas lega atau malah memperpanjang beban, ketika kami memutuskan untuk makan malam bersama sebelum kembali ke Bandung. Kami menuju fast food, tak jauh dari tempat kami berada.




Kami berdelapan duduk melingkari dua buah meja yang kami gabung menjadi satu, lalu melanjutkan obrolan. Sekedar untuk saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Sepintas kami nampak akrab dan terlihat wajah-wajah gembira karena perjumpaan. Kezia bahkan tidak mau jauh dari Rei, dan selalu mengapitkan tangan pada lengan pemuda itu.




Namun sesungguhnya aku merasakan ada kebekuan antara aku, Arischa, dan Rei; dan bahkan Ariska pun ikut-ikutan banyak diam. Sepupuku itu tak hentinya memperhatikanku seolah mau memastikan bahwa aku baik-baik saja. Arischa terlihat salah tingkah di hadapan kekasihnya, pun pula pemuda itu. Aku? Aku sendiri ingin agar semuanya ini segera berakhir, aku ingin menyendiri. Tentu saja aku masih ingin ngobrol banyak dengan Arischa, tapi kehadiran kekasihnya membuatku canggung, aku takut Rei berpikir macam-macam tentang kami berdua.




Usai makan, mereka sempat berdiskusi kecil tentang perjalanan pulang ke Bandung. Tante Callista meminta Arischa ikut dengannya karena ingin mengenal lebih jauh tentang calon menantunya. Ia seperti langsung jatuh hati pada perjumpaan pertama, dan secara tidak langsung memberi restu pada Rei putranya. Tentu saja Om Rudy dan Tante Firni tidak setuju, malah Tante Firni yang meminta Rei ikut mobil mereka. Tapi akhirnya diputuskan untuk pulang dengan kendaraan masing-masing agar Rei dan Arischa bisa melanjutkan kangen-kangenan dengan orangtua dan keluarga masing-masing di perjalanan. Arischa sendiri yang mengajukan usul itu dan semua menerima.




Sebetulnya Ariska mau pulang bersamaku, tapi kutolak, dengan alasan agar kedua sahabat itu juga bisa saling menumpahkan kerinduan mereka di perjalanan. Aku lebih memilih pulang sendiri; dan aku memang ingin menyendiri.




Rei dan keluarganya pamit duluan karena mobil mereka ada di parkiran. Salam dan ciuman pada pipi saling mereka berikan. Yang membuat hatiku pedih adalah ketika Rei mencium kening Arischa. Aku cemburu. Arischa tersenyum dan tidak menolak perlakuan mesra kekasihnya, namun kalau diperhatikan secara cermat, sorot matanya terlihat gamang dan hampa.




Sepeninggalan keluarga Rei, aku masih menemani keluarga Arischa di lobi bandara sambil menunggu sopir mereka datang.




“Maaf.” Ariska kembali meminta maaf setengah berbisik.


“Nyantai.” balasku, padahal aku sendiri tidak sesantai seperti yang kuucapkan. Aku merasa tidak nyaman, dan bahkan tidak bisa merumuskan apa yang sedang kurasakan.




Mobil keluarga Arischa pun muncul. Mereka memasuki mobil, sedangkan aku membantu sopir memasukan koper-koper ke dalam bagasi. Sepintas aku mendengar sedikit perdebatan antara mereka berempat, namun tidak bisa kutangkap dengan jelas. Pikiranku simpang-siur dan perasaanku masih gamang.




“Selamat jalan Om.. Tante…” pada Om Rudy dan Tante Firni.


“Sampai jumpa di Bandung, Cha.” pada Arischa.




Aku pun mendorong pintu tengah mobil untuk kututup, namun Arischa yang sudah duduk di dalam menahannya.




“Zo, tante titip Icha yah, kalau ngantuk berhenti saja di rest area.” ujar Tante Firni.


“Maksud Tante?”


“Ini Icha keukeuh mau pulang berdua denganmu, gak apa-apa, kan?”


“Eh.. kalau aku sih gak apa-apa, Tan. Tapi…”


“Udah gak usah rese.” tiba-tiba Arischa berubah ketus sambil turun dari mobil.




Aku hanya bisa melongo, bingung harus berbuat apa.




“Om?”


“Udah gakpapa, kalian berdua aja.” pria itu terlihat bijak.


“Baiklah kalau begitu. Ris, ayo kamu bareng kami aja.” aku meminta Ariska.


“Yee… kalau aku ikut bareng kalian sama aja bohong atuh. Sanah kalian kangen-kangenan berdua.” jawab sepupuku.




Ada anggukan dan senyum yang terulas pada wajah Om Rudy dan Tante Firni. Sepertinya mereka sudah memberi restu; setuju putri mereka pulang berdua denganku. Aku pun mengangguk kikuk, dan kaca mobil pun bergerak naik.




“Jalan, Pak.” ujar Pak Rudy pada sopirnya.


“Dadah sayang, hati-hati ya nak.” ujar Tante Firni.


“Hati-hati kalian,” seru Ariska.




Lambaian tangan saling kami berikan, meninggalkan kaku dan kikuk antara aku dan Arischa. Kami berdua tetap mematung meski mobil yang mereka tumpangi sudah menghilang dari pandangan.




Aku pun berbalik, kini aku dan Arischa berdiri berhadapan. Cukup dekat. Aku semakin yakin bahwa gadis ini memang cantik. Wajahnya lonjong dengan dagu runcing. Alisnya dipulas sederhana, berbaris indah di atas bulu matanya yang lentik. Hidungnya mancung, dan lipatan bibirnya yang bergincu merah nampak begitu serasi dengan pulasan makeup pada pipinya. Rambutnya lurus hitam, sedikit keemasan karena ada helaian tipis yang dicat pirang.




Arischa sesungguhnya memasang ekspresi datar, tetapi tidak memupus pesona cantiknya. Sorot matanya sebentar tajam, namun berubah hambar, begitu seterusnya. Ada begitu banyak gejolak perasaan yang ia sembunyikan.




“Ini Rei gak apa-apa, kamu pulang denganku?” sebuah pertanyaan bodoh kuajukan. Toh seandainya Arischa berubah pikiran, lantas dia mau pulang naik apa.




Arischa tidak menjawab, namun ada nafas lembut yang ia hembuskan. Akhirnya aku pun mengajaknya jalan, melangkah bersisian tanpa saling berbicara. Perjalanan lima menit menuju parkiran terasa begitu lama bagiku, dan aku tersiksa oleh suasana beku nan kaku ini.




“Silakan.” aku membukakan pintu untuk Arischa.




Gadis itu masuk tanpa sepatah kata pun, lalu duduk kaku setelah memasang safteybelt terlebih dahulu. Hal bodoh kulakukan, aku malah tetap berdiri setelah menutup pintu. Lirikan Arischa dari dalam mobil tidak membuatku beranjak. Tiba-tiba aku merasa kalut, kikuk, dan salah tingkah. Hal yang tidak pernah kualami di hadapan seorang gadis sebelumnya.




Aku pun melangkah, bukan untuk masuk ke balik stir, tapi malah duduk di atas cap mobil. Kusulut sebatang rokok dengan pikiran kosong. Aku tidak tahu apa yang sedang Arischa lakukan, yang jelas aku malah terlena dalam lamunanku. Seolah tidak ada dia sekarang ini.




Rokok pertama habis, kusambung dengan sulutan kedua. Juga habis.. kunyalakan batang ketiga.




Tok tok tok.




Kudengar ketukan pada kaca mobil di belakangku; aku pun terperanjat, dan kembali sadar ada Arischa di dalam. Segera kulempar batang rokok yang belum sempat kusulut. Bodohnya, aku malah membuang semua sisa rokok bersama bungkusnya, juga zippo kesayanganku. Setengah berlari aku berputar, dan masuk ke dalam mobil.




“Maaf.” aku menyesali kebodohanku. Namun Arischa tidak menjawab, malah berpaling menatap keluar kaca jendela.




Kuhela nafas, kunyalakan mesin, kuinjak gas. Deru mesin mobilku yang sejatinya halus berubah meraung keras. Kuinjak pedal gas sekali lagi, bunyinya semakin keras. Aku melirik Arischa dengan ekspresi bingung, gadis itu tetap memasang wajah ketus, walau bibirnya bergerak seolah menyembunyikan senyum.




Plaaaak!!!




Kutabok jidatku sendiri. Sambil tersenyum kecut, kupindahkan persneling, dan kali ini mobilku bergerak.




Sampai pos parkir, tidak ada percakapan.


Memasuki tol, tidak ada sepatah katapun yang saling terucap.


Melaju memasuki ibu kota, masih sunyi.




“Berhenti, Zo.”




Aku kaget mendengar lirihan pelannya. Sejak tadi aku memang berharap ia memulai percakapan, tapi sekarang malah semakin dibuat bingung karena ia meminta berhenti.




“Kenapa, Cha? Mau kencing yah? Nanti di depan kita cari rest area.” jawabku.


“Berhenti!!” suaranya berubah ketus penuh nada perintah.


“Tapi Cha, ini di tol, gak boleh berhenti sembarangan.”


“Berhenti!!!”




Rasanya baru kali ini aku dibentak oleh seorang perempuan. Segalak-galaknya Ariska, ia tidak pernah membentakku seperti itu. Tapi gadis di sampingku ini.. fiuuuh….!!!




Aku mengurangi kecepatan, tapi masih belum mau berhenti. Aku baru benar-benar minggir dan menghentikan mobil ketika Arischa melotot tajam sambil menghadapku.




“Ada apa sih, Cha?” aku memelas, sambil mengamati sekitar melalui spion karena takut ada polisi yang patroli. Kutekan tombol lampu hazard untuk berjaga-jaga.




Aku pun menggeser duduk dengan sedikit kesal, kami saling berhadapan. Aku yang hendak protes langsung terdiam, lidahku kelu dan bibirku tertutup rapat. Aku baru sadar bahwa Arischa sudah bercucuran air mata. Aura cantiknya sirna, berubah menjadi sosok gadis yang sedang terpuruk penuh luka.




“Kemana aja kamu?” ia melotot. Kedua kelopak matanya semakin terbuka lebar, membuat seluruh air mata yang tergenang meleleh membasahi pipi dan dagunya. Mengalir hingga ke leher.


“Cha, aku… aku…”


“Kamu kemana ajaaaa?!!” Arischa berteriak dan tangisnya benar-benar pecah. Seluruh tubuhnya terguncang.




Tanganku bergetar untuk meraih tubuhnya ke dalam dekapan, namun langsung berhenti ketika sadar bahwa ia adalah kekasih orang. Aku sedih, hatiku teriris, jiwaku berubah lara. Aku rela kehilangan cinta seorang Icha, tapi tidak tega melihatnya terpuruk seperti ini.




“Jahat kamu, Zo, huaaa… hiks hiks… Jahaaat!!”


“Cha, aku… aku…”


“Kenapa kamu tidak mencari aku? Kenapa kamu sembunyi dan menghilang? Kenapa..?!! Kamu kemana aja?!! Hah?! Jawaaab!!!!” luapan kemarahan sekaligus kesedihan Arischa semakin menjadi.




Teriak dan raung tangisnya membuat pertahananku runtuh, air mataku langsung berlinang, seiring sesak yang kurasakan di dalam dada.




“Kenapa kamu baru menemui aku sekarang, Zo, kenapa? Hiks hiks…”




Tangannya bergetar melepas safetybelt, dan langsung menyerbuku dengan pukulan di dada. Sakit.. teramat sakit… bukan karena pukulannya, melainkan karena melihat kondisi Arischa seperti ini. Ia kelihatan betul-betul terpuruk.




Aku merengkuh bahunya untuk kupeluk, ia meronta, namun tetap kupaksa. Kini aku sudah tidak bisa merasakan pukulan-pukulan Arischa yang masih terus menghujami dada dan bahuku, aku hanya bisa menangis sambil mendekapnya erat. Seluruh kesakitan Arischa kini sudah menjadi milikku. Aku menangisi kebodohanku, menyesali ingkar janji yang semasa kecil pernah saling terucap.




Diam dan menangis.. itulah yang bisa kulakukan. Mengeluarkan kata “maaf” pun aku tidak bisa. Bibir dan lidahku bagai terkunci. Sedih dan lara ini terasa begitu dalam. Aku mendekapnya erat, seolah ini adalah pelukan rindu untuk pertama kalinya, sekaligus menjadi pelukan terakhir untuk melepasnya. Aku akan menjaganya dengan caraku, sebagai seorang sahabat yang memiliki cinta melampaui pria mana pun yang akan memilikinya.




“Kamu jahat.. jahat.. jahat… hiks…” ia masih terus merintih, mengabarkan sakit karena rindunya. Suara itu semakin samar dan kemudian hilang. Namun dekapannya kian erat, pukulannya sudah berhenti.




Entah berapa lama kami seperti ini, duniaku hanya aku dan dia. Saling menumpahkan rasa rindu dalam dekapan diam.




“Jahat.. kenapa baru sekarang?” lagi kata itu terucap.




Tubuhnya sedikit menggeliat, dan kami bertatapan dekat. Kuusap lembab pada wajahnya, kukeringkan sisa air matanya. Dalam diamku aku berdoa, semoga ini menjadi air mata terakhir penantiannya. Aku tidak ingin ia menangis lagi karena aku.




“Maafkan aku.” akhirnya mulutku terbuka, setulus hati aku mengucapkannya.




Senyum pertama ia berikan, meski tampang judes tetap ia pasang. Apa yang kulihat berbeda dengan apa yang ia lakukan. Lembut jemarinya mengusap wajahku, mengusap garis air mata yang masih tersisa.




Sisanya, kami kembali saling mendekap. Tanpa kata, tiada ucap. Bahasa tubuh ini yang berbicara.




Lewat tengah malam kami baru benar-benar mau saling melepaskan diri, dan aku melajukan kembali mobilku. Melaju menuju masa depan, yang entah mau kami renda seperti apa.




Sepanjang jalan Arischa menceritakan hari-hari penantiannya, dan aku berkisah tentang petualanganku. Kuceritakan pula perjumpaanku dengan kedua orangtuanya beberapa minggu lalu, sekaligus meminta maaf karena aku telah sangka. Aku telah berpikiran buruk bahwa ayah dan ibunya telah turut andil menghancurkan keluargaku, namun yang terjadi ternyata sebaliknya, justru merekalah yang berjasa membantuku. Sama seperti Arischa, Om Rudy dan Tante Firni selalu mencariku, untuk menyampaikan sebuah amanat dari kakekku.




Ndul memang benar, secara perlahan Om Rudy mengambil alih saham perusahaan ayahku, namun itu ia lakukan untuk menyelamatkan apa yang menjadi hakku, yang dititipkan kakek kepadanya. Perusahaan yang dulu digenggam ayahku kini sudah menjadi milik Om Rudy, namun berkat pria itu, aku tidak kehilangan semuanya, 20% saham masih kumiliki atas namaku.




“Berarti jahatmu double.” suara Arischa mulai terdengar renyah.


“Kok gitu?”


“Karena kamu ninggalin aku, dan yang kedua karena kamu sudah menuduh papah dan mamah.” Aku pun tertawa mendengarnya, sebuah tawa getir karena kebodohanku.


“Satu per satu pencarianku sudah mulai menemukan titik terangnya, Cha. Dan menemukanmu adalah puncak bagiku, kini tinggal satu yang tersisa.”


“Apa?” ia menatapku tajam.


“Menemui ayahku, dan aku sudah tahu siapa dia dan di mana dia berada.” jawabku dengan nada sedikit menekan emosi.




Arischa pun menepuk-nepuk pundakku seolah memberi semangat. Lalu ia menatapku lekat, dihembuskannya nafas beberapa kali. Nampak bimbang, namun sekuat tenaga memberanikan diri. “Tapi kamu telat menemukanku, Zo. Sekarang dalam hidupku sudah.. sudah.. adaa.. Rei.” suaranya semakin pelan, namun aku bisa mendengar dengan sangat jelas.




Pengakuan itu menggoreskan luka dalam hatiku, tapi aku berusaha tegar, senyumku mengembang.




“Aku ikhlas, Cha. Percayalah, aku akan baik-baik saja.” ujarku sambil menekan lampu sein, kami sudah memasuki Tol Purbaleunyi.


“Mungkin baik bagimu, tapi tidak bagiku.” suara Arischa terdengar frustasi. Ia langsung terdiam setelahnya, tatapannya nampak kosong melihat depan.




Hatiku kembali seperti diiris, pengakuan Arischa menjadi pernyataan tersamar tentang rasa cintanya. Tapi aku lebih memilih mengalah tanpa harus merasa kalah, cukup sekali aku merebut cinta orang, dan itu adalah Tante Puki. Jangan ada lagi!!








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar