BAB 30
Aku duduk di halaman sebuah rumah yang cukup besar dan megah untuk ukuran rumah di desa. Mbah Nawi duduk pada kursi rotan di hadapanku, kedua tangannya memutar-mutar tongkat yang ia pegang. Kedua bola bening di balik wajah keriputnya menatapku teduh.
“Hidup itu ibarat track balap, Zo.” ujarnya.
Aku baru saja menceritakan semua pencarianku, dan memang untuk itulah aku menemui Mbah Nawi di rumahnya. Biar bagaimana pun pria sepuh ini telah sangat berjasa bagi keluargaku, khususnya untuk melindungiku dari orang-orang tamak yang ingin menyingkirkanku dan mengambil apa yang menjadi hakku.
Kuseruput kopi yang tadi disuguhkan oleh Mbak Renda, istrinya, sambil menunggu Mbah Nawi melanjutkan kata-katanya.
“Jalannya akan selalu berulang sama setiap masanya, hanya penggunanya yang akan berganti dan terus berganti.” lanjut Mbah Nawi.
“…”
“Lelaki sejati itu ibarat seorang pembalap, karena dia mampu mengendalikan emosi dan kesetabilan jiwanya saat di lintasan.”
“…”
“Pembalap itu tak terlalu memerlukan cinta, Zo. Tapi cintalah yang butuh adrenalin pembalap agar cinta itu terasa lebih berharga. Jadilah pemenang dalam setiap kesempatan, jangan jadi pecundang, karena orang tidak pernah menghargai seorang pecundang.”
Mbah Nawi memungkas nasihatnya sambil menjulurkan tongkat dan menepuk-nepuk tepi bahuku. Aku pun manggut-manggut sambil tersenyum, aku cukup mengerti ke mana arah pembicaraannya. Itu sudah lebih dari cukup bagiku, dan aku tidak perlu bertanya lagi.
"Matur nuwun, Mbah.”
Mbah Nawi pun menarik kembali tongkatnya, dan aku menghabiskan sisa kopiku. Sudah saatnya aku pamit, masih banyak tugas yang harus kuselesaikan.
“Saya permisi, Mbah. Terima kasih atas bantuan Mbah padaku dan juga keluargaku selama ini.” ujarku.
“Yah.. pulanglah, Le. Pergilah dan berlarilah di lintasan hidupmu. Jangan ke sini lagi kalau kamu belum bisa membawa “piala” kemenanganmu.” Mbah Nawi ikut berdiri.
Aku pun mengangguk, dan mengulurkan tangan untuk menyalaminya. Sedangkan mataku tertuju ke arah rumah, mencari sosok cantik berkebaya.
“Sudah pulang sanah, gak perlu pamit pada Renda.” ia seolah membaca pikiranku.
Aku pun terkekeh mendengarnya. Yeah.. ia sudah memenangkan lintasan hidupnya. Padahal Renda yang memang seumuran denganku akan lebih cocok kalau menjadi istriku. Tapi Mbah Nawilah yang telah memenangkannya dan mendapat piala keperawanan Mbak Renda. Eh..?!!!
Setelah pamit sekali lagi aku pun melangkah menuju mobilku yang terparkir di tepi jalan desa, dan langsung meluncur kembali ke rumah sambil bersenandung.
Wanita… wanita… karenamu lahirlah manusia
Wanita… wanita… menirumu jadilah waria
Wanita… wanita… karenamu lahir majalah dewasa
Wanita… wanita… tidak semua pakai mukena
Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku jadi ada di bumi.
Aaa… iiii…. aaaa… iii…. wanita.. wanita…
Uuu… ooo…uuuu… ooo… wanita.. wanita…
Wanita… wanita… kalian punya gundukan.
Wanita… wanita… kalian punya belahan.
Wanita… wanita… harumnya semeriwing.
Wanita… wanita… selalu ingin kusuwir.
Ciiiiit…!!!
Aku pun menginjak rem.
Bruuuuuk..!!!
Seekor kucing yang sedang berjemur di halaman meloncat dan menabrak tong sampah kosong. Kaget karena keasikannya terusik oleh mobilku yang memasuki halaman. Yeah.. Tak sampai sejam aku sudah kembali ke rumah.
Hari ini adalah hari Senin, maka rumah dan angkringan nampak sepi karena memang tutup.
“Bunyi apa itu?” teriak seorang wanita.
Sosok Bu Ningnung pun muncul dari rumah yang pintunya dibiarkan terbuka, bersamaan denganku yang keluar dari mobil. Wajahnya nampak sedikit berkeringat.
“Suara kucing, Bu.” jawabku enteng. Lalu aku melangkah menuju tong sampah yang sudah nungging dan mengembalikan pada posisinya semula.
“Yaning belum pulang kuliah?”
“Belum, katanya mau langsung main ke rumah temennya.”
Aku dan Bu Ningnung pun masuk ke dalam rumah. Wanita itu rupanya sedang menyetrika pakaian. Pantas saja wajahnya sedikit berkeringat, rupanya karena gerah.
Hmmmmfff…
“Aaaau…” Bu Ningnung memekik ketika aku langsung memelukknya dari belakang.
Pinggulnya yang lebar menekan selangkanganku. Ia menggelinjang untuk menghindar, tapi kurekatkan belitan kedua tanganku pada pinggangnya.
“Enzo mmmh.. ibu lagi menyetrika, sayang.” lenguhnya, tapi lebih berupa rajuk manja daripada protes.
Yeah.. beginilah kami. Aku dan Bu Ningnung sudah tidak malu lagi untuk saling membagi kemesraan, walau kami sadar bahwa semuanya ini lebih berupa hubungan tanpa komitmen. Dua manusia berlainan jenis yang tinggal dalam satu atap, saling kesepian dan membutuhkan kehangatan, dan akhirnya menjadi seperti ini. Berulang kali kami sepakat untuk mengakhiri, tetapi berulang kali pula kami selalu bercumbu mesra lagi dan lagi.
“Gimana tadi perjalanannya? Mbah Nawi dan Renda baik-baik semuanya?” tanya Bu Ningnung sambil membalikan badan.
Kini kami saling memeluk pinggang berhadapan. Selangkangan kami saling tekan sedangkan wajah kami berhadapan.
“Baik kok, Bu. Sehat semuanya.” singkatku.
“Syukurlah kalau begitu.” lirih Bu Ningnung. Ia sudah tahu tujuanku datang ke sana, dan ia sudah tahu tentang identitasku. Tiga minggu lalu aku sengaja mengumpulkan keluargaku di rumah ini: Tante Puki, Iban, Ariska, Bu Ningnung, Yaning, dan juga Ndul. Kami saling membuka diri dan berekonsiliasi. Kini sudah tidak perlu lagi penyamaran, tidak ada yang disembunyikan, dan kami sudah saling memaafkan. Satu yang tetap menjadi rahasia: hubungan khususku dengan Bu Ningnung.
Bu Ningnung membuka bibir ketika aku merunduk, sorot matanya berubah sayu dan akhirnya terpejam. Jarak bibir kami sudah sangat dekat, namun aku menunda untuk mengecupnya. Kupandangi wajah Bu Ningnung, ekspresi setengah bayanya sungguh menyukakanku.
Mata Bu Ningnung pun kembali terbuka, sorot heran terpancar, sekaligus mendamba tidak sabar. Aku tersenyum. Sebuah cubitan kurasakan, dan ia justru yang mengambil inisiatif untuk mengecup bibirku. Bahasa tubuhnya mulai resah seiring lumatannya yang langsung penuh gairah.
“Mmmmmh…”
Lumatan kami terlepas dan kepalanya mendongak ke belakang ketika tanganku mulai nakal meremas bokongnya yang besar. Belahan payudaranya menyembul, kuning langsat dan lembab menggairahkan.
Dan jadilah… siang ini kami bergumul di atas sofa, mengeluh-berpeluh, mengerang-menggelinjang. Desahan panjang pun sama-sama kami hembuskan seiring orgasme yang kami dapatkan bersamaan.
Aku masih ingin, Bu Ningnung pun rela mengulang. Tapi kami sadar, kami harus segera berpakaian. Iban akan datang, menemaniku berangkat ke Bandung.
Benar saja, sejam kemudian, setelah aku selesai mandi, adik tiriku sudah tiba di rumah. Ia datang lengkap dengan tas ransel berisi pakaiannya.
Kami ngobrol sampai sore, dan kami berpisah ketika travel datang menjemput. Episode baru hidupku akan segera dimulai, semoga semuanya bisa kutiti(t); aku siap melaju di lintasan balap seperti yang Mbah Nawi nasihatkan. Aku harus mengejar kemenangan, mengangkat piala cintaku, yaitu seorang Arischa.
https://t.me/cerita_dewasaa
Angin sore bertiup menerpa pepohonan taman di halaman, juga mengibas rambut serta pakaian. Aku dan Om Toyski duduk berdua sambil menikmati secangkir kopi, sebatang rokok menyala menempel pada sela jemariku. Sekali-kali kuhisap nikmat.
“Kerja di kapal itu bukan hal yang mudah, Zo. Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu berada di tengah perairan sudah pasti banyak godaan dan tantangannya. Om bukan pria yang baik.. kamu tahu kan maksud om? Tapi om ingin memberikan yang terbaik untuk tantemu. Karena itu, om memutuskan resign dan memilih bekerja di Bandung, walau ini bukan perusahaan sendiri.”
Aku fokus mendengarkan walaupun pandanganku tetap terpaku pada riak air kolam renang. Sesal dan sedih karena rasa bersalah pun langsung menyeruak mendengar penuturan Om Toyski yang kini sedang duduk pada kursi rotan di sebelahku. Ia baru saja pulang kerja dan belum berganti pakaian. Sedangkan Tante Puki belum pulang karena dari kantor akan langsung belanja ke supermarket dengan ditemani oleh Ariska. Iban masih istirahat di kamar tamu, katanya tangannya kembali terasa ngilu.
“Penghasilan om sekarang mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan gaji yang om dapatkan di kapal pesiar, juga lebih kecil dari pendapatan tantemu, tapi om tidak merasa minder. Bukan dengan cara itu om membahagiakan orang yang om sayangi, melainkan dengan kehadiran. Selalu ada untuknya dalam untung maupun malang. Om ingin menebus hari-hari sepi tantemu di masa lalu dengan selalu ada untuknya, dan juga untuk anak kami.”
Aku pun menghela nafas berat, membuang sesak yang tiba-tiba menghampiri. Kalau dulu aku cemburu dan ingin menyingkirkan Om Toyski, sekarang aku malah merasa begitu bersalah. Aku telah mengkhianati pria baik hati dan mengisi kesepian sang istri dengan cara yang keliru, sekedar melampiaskan rinduku pada sosok yang kucari melalui syahwat birahi pada Tante Puki.
Tanpa Om Toyski tahu, aku mengeratkan rahang untuk menyembunyikan sesal dan rasa bersalah. Ketulusan pria ini membuatku benar-benar menohok egoku. Kalau aku mau jujur, sebetulnya aku mengejar Tante Puki lebih berupa kompensasi atas kasih sayang seorang wanita yang telah lama hilang; yang selalu kurindukan, namun tak kutemukan. Tante Puki adalah satu-satunya wanita yang selalu ada untukku, dan aku tidak ingin kehilangannya. Aku ingin memilikinya selamanya. Semuanya itu terbungkus dalam keinginan-tak-teratur berupa perselingkuhan.
Toh kalau Tante Puki mau jujur, ia pun mau melayaniku bukan karena ia benar-benar jatuh cinta padaku, tetapi karena kesepian yang menggerogotinya. Di atas semuanya itu, ia tidak mau menyakitiku dengan menolak apa yang kumaui. Kasih sayangnya yang sangat besar sebagai seorang tante, telah tersamarkan ketika ditunggangi rasa sepi.
Dalam rasa sakitku, aku pun membulatkan tekad untuk mengakhiri perselingkuhan kami. Menempatkan Tante Puki pada posisi yang seharusnya, yaitu sebagai seorang tante.
"Maafkan aku, Om." namun penyesalan ini hanya terungkap dalam hati tanpa berani kuucapkan secara langsung. Biar bagaimana pun aku harus menjaga nama baik Tante Puki. Biarlah ini menjadi sebuah rahasia, agar tidak menjadi penghalang bagi rumah tangga Tante Puki dan Om Toyski ke depannya.
Kami pun terus ngobrol sampai senja datang, dan baru beranjak ke dalam rumah ketika mendengar ada kendaraan memasuki pekarangan. Tante Puki dan Ariska sudah pulang.
“Uuuh.. capek.” keluh Tante Puki sambil duduk di atas sofa dan mengusapi perutnya yang semakin besar. Sedangkan Ariska membantu Bi Rukmini membawa belanjaan ke belakang.
Om Toyski langsung duduk di samping Tante Puki dan mengecup kening istrinya. Setelahnya, kini tangan Om Toyskilah yang mengusapi perut sang istri. Sikap mesra mereka membuat hatiku sedikit berdesir. Sesal dan iri bercampur menjadi satu.
“Aku sudah memutuskan untuk tinggal di Bandung lebih lama, jadi Tante bisa cuti lebih awal.” ujarku sambil duduk di hadapan mereka.
“Lalu angkringan?” tanya Tante Puki.
“Angkringan mah tidak perlu dikhawatirkan, aku sudah meminta Iban untuk membantu Bu Ningnung di sana.”
Aku memang sudah mempercayakan ankringan kepada adik tiriku. Aku bahkan berencana menyerahkan seluruh assetnya untuk ia kelola. Siapa tahu ia bisa menjadi pengusaha angkringan dan membuka cabang di beberapa kota sekitarnya. Sebetulnya aku sudah menawari Iban untuk gabung di perusahaan, namun ia tidak suka bekerja kantoran.
“Tidak bisa gitu, donk. Kandungan Tante juga kan belum berumur tujuh bulan…” Tante Puki protes, ia tidak mau mengambil cuti lebih awal, namun desakanku dan juga permintaan Om Toyski membuat wanita itu mengalah. Ia setuju bahwa ia tidak akan bekerja lagi mulai senin depan.
“Tapi ada syaratnya.” ujar Tante Puki sambil melirik ke arah Ariska yang menghampiri kami, lalu duduk di sampingku.
“Syarat apaan, Tan?”
“Tadi tante sudah bicara dengan Ariska, dan ia setuju, tinggal kamunya setuju atau nggak…”
“Yaitu?”
“Sepupumu keberatan jika harus pindah ke kantor cabang, jadi sebagai jalan keluarnya ia akan dipromosikan menjadi asisten sekaligus sekretaris pribadimu.”
Aku menatap Tante Puki, dan melirik Ariska setelahnya. Keduanya mengangguk sambil menatapku menunggu tanggapan.
“Lalu Bu Raras?” aku memikirkan wanita itu yang telah bertahun-tahuan menjadi sekretaris Tante Puki.
“Raras akan dipromosikan menjadi wakilnya si Gandul.” Tante Puki menyahut.
“Hmm… oke. Baiklah kalau begitu, aku sih setuju aja.”
“Makasiiih.” Ariska girang dan langsung menyenderkan kepalanya pada bahuku.
Kami pun melanjutkan obrolan yang diselingi candaan-candaan. Tak lama kemudian, Iban juga bangun dan bergabung dengan kami. Keluarga baru ini sungguh menggembirakanku. Jam tujuh malam, aku dan Ariska pamit dan tidak ikut makan malam bersama. Aku dan gadis itu sudah punya janji makan malam dengan sebuah keluarga. Siapa lagi kalau bukan orangtua Arischa. Satu per satu masalah dan rasa penasaran harus kuselesaikan.
https://t.me/cerita_dewasaa
Kulajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, menyusuri tol ibukota menuju bandara. Berulang kali Ariska menelpon dan mengirim pesan untuk menanyakan keberadaanku; ia juga nampak kesal karena aku tak kunjung datang. Yeaah.. aku bisa apa? Jakarta selalu macet setiap harinya. Sedangkan aku baru selesai pertemuan jam tujuh sore.
Aku tidak ingin melewatkan moment penting bagi kelangsungan perusahaan, yaitu rapat tahunan assosiasi yang mengumpulkan para pengusaha property. Aku sempat berharap bahwa suami Bu Wulan akan datang, namun nyatanya ia tidak menunjukan batang hidungnya. Mungkin aku masih harus bersabar, menunda keinginan untuk bertemu langsung dengan pria itu.
Kini ada bagian lain dari hidupku yang harus kujalani, menemui sahabat lama yang di alam bawah sadarku selalu kurindukan, sekaligus konon selalu merindukanku. Arischa!
Kulirik petunjuk waktu pada dashboard, sudah jam 20.17. Itu artinya, 13 menit lagi Arischa akan mendarat. Sedangkan menurut perkiraanku, paling cepat aku baru akan tiba sejam lagi. Kedua orangtua Arischa bersama Ariska sudah tiba di bandara sejak jam enam sore.
“Hallo.” jawabku ketika kulihat nama Ariska muncul pada layar mobil. Smartphone-ku sudah terhubung ke sana via bluetooth
“Enzooo… haisssh.. kamu sudah nyampe mana?”
suaranya terdengar gelisah dan tidak sabar.
“Baru juga nyampe Kebon Jeruk.” jawabku.
“Hadooh.. kamu tuh.. telat donk. Macet gak? Buruaan!! Bentar lagi Icha mendarat.”
“Iya.. iya… ni macet banget.” dengusku.
“Gak mau tahu, cepetaaan!”
“Iya nyantai, kan Arischa juga harus ambil bagasi dulu kalii.”
“Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus udah ada di sini pas Icha keluar.”
“Iya.. iya.. bawel!! Udah ya, aku nyopir dulu nih.”
“Bye.”
Klik.
Sambungan pun terputus bersamaan dengan helaan nafas panjang yang kuhembuskan. Kadang-kadang aku merasa bego, kenapa juga aku harus terbawa suasana panik dan tegang yang ditularkan oleh Ariska. Bukankah pertemuan ini akan menjadi perjumpaan yang menyenangkan karena aku akan berjumpa sahabat lama? Tetapi yang kurasakan seolah aku mau ketemu seorang kekasih yang lama berpisah. Saling merindukan bukan berarti saling jatuh cinta, bukan?
Kampret!! Ariska terlalu mengada-ada, dan terlampau lebay mempersiapkan pertemuan antara aku dan Arischa. Tapi sialnya, aku memang merasakan grogi dan berdebar. Kugosok mukaku sambil bersumpah serapah sekedar membuang ketegangan.
Aku kembali fokus mengendalikan setir, membuntuti sebuah mobil yang menurutku memiliki nopol yang menarik: D 27 SAE.
“Semoga pertemuan ini membawa kebaikan (ka-sae-an) untuk aku dan Ariska.” aku membatin.
“Enzzzooooo!!! Berapa lama lagi? Icha udah mendarat nih?”
Haiisssh!! Sikap Ariska benar-benar membuatku tegang, padahal seandainya aku terlambat pun tidak akan berdampak apa-apa.
“Kamu kirim helikopter ke sini, Ris, jemput aku.” aku mulai kesal.
“Enz…”
Klik.
Kuputus koneksi bluetooth dan kupasang 'silent mode' pada smartphone-ku. Aku ingin menyopir tanpa terganggu. Kuinjak gas untuk menyalip si ‘D 27 SAE’ namun kuinjak rem setelahnya. Jalanan benar-benar padat.
Lima belas menit.. kemacetan pun sedikit terurai.
Setengah jam.. aku kembali antri di pintu tol bandara.
Lima puluh menit… aku memasuki parkiran Terminal 3.
Sial!! Lahan parkir cukup penuh, sehingga membutuhkan dua puluh menit sendiri untuk mendapatkan tempat parkir. Entah kebetulan atau tidak, pemilik mobil Bandung yang tadi bersusulan pun parkir tepat di sampingku, dan nampaklah seorang wanita cantik dan dua gadis manis keluar dari mobil. Mereka nampak tergesa-gesa.
“Mamah.. ayo cepetan, kita udah terlambat.” seru si pemilik lesung pipit.
“Iya, sayang.” jawab si wanita.
Ketiganya beriringan menuju lobi bandara, sedangkan aku tertegun sejenak mengagumi kecantikan mereka. Hampir dipastikan mereka adalah ibu dan kedua putrinya, wajah ketiganya mirip; sama-sama cantik, sama-sama menarik.
Dengan langkah panjang aku pun bergegas menuju pintu kedatangan, mengikuti tiga wanita yang setengah berlari di depanku. Kulirik smartphone, ada belasan misscall yang muncul. Semuanya dari orang yang sama: Ariska.
Fiiiuh!! Mana kebelet kencing lagi. Aku pun membelokan langkah menuju toilet umum yang berada di ujung terminal kedatangan.
Kukeluarkan moncong penisku dan langsung menyemburkan cairan panas yang sejak tadi seakan menggumpal dalam kantung kemih. Kulihat smartphone-ku menyala, nama Ariska kembali muncul. Kuangkat dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri tetap memegang penis agar kepalanya tidak menghadap kemana-mana karena air kencingku mengalir sangat deras.
“Shhh.. iya hallo.”
“Enzo kamu di mana? Lagi ngapain kok mendesah begitu?”
“Aku.. aku mmmh enak.”
“Enzo?!! Kamu lagi mesum ya?”
“Eh… ng ngak, Ris.”
“Terus lagi ngapain?”
“Ini.. aku lagi.. lagi megang penis.”
“Enzo!! Kamu tuh.. lagi ama siapa?”
Layar pun berubah menjadi video call. Haiish.. ngapain sih anak. Kugeser jempolku untuk menerima panggilan video callnya. Karena kesusahan, tanpa sadar kamera pun menghadap ke bawah.
“Hiyaaaaa…”
Terdengar jeritan Ariska, dan panggilan pun langsung mati seketika. Kampret… jadi lihat perabotanku deh tuh anak.
Aku meringis sambil mendongak, kugoyang-goyang batang penisku agar mengeluarkan semua isinya; hingga tetes terakhir.
Usah kencing aku pun bergegas menuju pintu kedatangan. Kalau tadi penisku yang bergetar-getar saat kencing, kini dadaku yang kembali berdebar. Tanganku pun terasa dingin. Grogi dan tegang kembali menyelimuti. Kulewati barisan bangku yang sebagian nampak lengang, langkahku semakin panjang, tetapi rasanya tujuanku seakan begitu jauh tak kunjung sampai.
Degh!! Langkahku langsung terhenti saat melihat pemandangan yang mengharukan. Si gadis lesung pipit sedang memeluk seorang pemuda ganteng dengan sangat erat. Sedangkan sang ibu mengecupi kening pemuda itu dan mengusapi rambutnya dengan sorot mata nan rindu.
“Adeek.. kakak juga kan kangen iih.” kesal gadis satunya yang rupanya kakak si lesung pipit.
Si ibu nampak tersenyum, sedangkan pemuda itu tertawa. Ia berbalik memeluk kakaknya, sementara si adik tetap memeluknya dari belakang. Pemandangan itu membuat aku terharu, sekaligus iri karena aku tidak pernah lagi merasakan kasih sayang seorang ibu seperti itu. Aku hanya mematung, tiba-tiba kakiku terasa berat untuk kulangkahkan.
Sebetulnya aku mendengar keriuhan lain tak jauh dari mereka berempat, namun aku tidak bisa melihat karena terhalang papan pembatas yang memisahkan ruang tunggu dengan ruang kedantangan. Dari suaranya, mereka pun seperti sedang beradu rindu karena lama tak bertemu.
Sejenak aku melupa dari tujuanku datang ke sini, lebih terpesona pada perjumpaan penuh rindu yang ada di hadapanku. Belum lagi paras ketiga wanita itu yang begitu menawan dan menggoda. Si ibu menawan karena kecantikan dan kematangan khas wanita paruh bayanya, si kakak berparas tegas, namun menyimpan guratan-guratan manja; sedangkan si adik terlihat menggemaskan karena selain cantik, juga nampak tampil polos apa adanya.
Puas berpelukan dengan kakak dan adiknya, pemuda itu memeluk erat sang ibu. Dan wanita cantik paruh baya itu menitikan air mata sambil menciumi anaknya. Akhirnya keempatnya berpelukan dengan sangat erat. Tanpa sadar kelopak mataku terasa panas. Ikut senang.. sedih, haru, iri… bercampur menjadi satu.
“Oh, ya Mah, ini kenalin…” ucap si pemuda sambil memberi kode pada orang yang belum kulihat.
“Ini Arischa, temanku.”
Degh! Aku sangat kaget mendengar pemuda itu menyebut nama sahabatku. Sialnya aku belum bisa melihat gadis itu, karena malah mereka berempat yang melangkah.
“Hallo Tante. Saya Arischa…” terdengar sebuah suara merdu.
“Hai.. kamu cantik sekali. Tante Callista, mamahnya Rei.”
Tubuh wanita yang mengaku bernama Callista itu menghilang, rupanya mereka sedang berciuman pipi.
“Hai.. Kekey.” kali ini kakak si pemuda yang memperkenalkan diri.
“Arischa.”
“Hai kak. Aku Kezia.”
“Arischa.”
“Oh iyah, Tante, Rei.. kenalin ini papa dan mamahku, ini Ariska sahabatku.”
Kini aku hanya bisa mendengar suara mereka tanpa bisa melihat. Aku pun bisa mengenali suara Ariska dan juga suara papah dan mamahnya Arischa. Perlahan kakiku melangkah mendekat, kini aku sudah menyiapkan mental untuk berjumpa dengan mereka.
“Oh jadi ini yah pacarmu, sayang? Cantik.. kamu memang pinter cari pasangan.” terdengar suara ibu si pemuda.
Jegeeeer!!!
“Ah.. Tante bisa aja.”
Pandanganku seketika berkunang.. kumpulan huruf seolah berseliweran dan akhirnya membentuk kata mengesalkan bernama BERSAMBUNG…
Report content on this page
0 Komentar