BAB 29
Gemerlap kota Bandung memanjakan mata kami yang kini duduk di sebuah restoran di kawasan Dago Atas. Semilir angin malam cukup mendinginkan kulit kami, tapi hangatnya kebersamaan membuat semuanya itu terabaikan.
Aku duduk bersisian dengan Tante Puki, di hadapanku ada Ariska dan Iban, dan di ujung meja duduk Ndul sahabatku. Iban sendiri kupaksa datang dengan membelikan tiket pesawat sore. Ia langsung kami jemput ke Bandara dan membawanya ke sini untuk makan malam bersama.
Kini semua rahasia sudah terbongkar, tak ada lagi yang saling kami tutupi. Dan aku harus pasrah ketika malah menjadi bulan-bulanan. Sandiwara yang kubuat atas bantuan Tante Puki dan Ndul harus kalah oleh penyamaran yang dilakukan Iban dan Ariska. Bahkan tanpa terduga sama sekali, Bu Ningnung dan Yaning pun menjadi bagian dari sandiwara yang mereka buat. Aku sudah menelpon Bu Ningnung, dan ia mengakui. Bedanya, wanita itu merasa bersalah dan berkali-kali minta maaf.
“Kamu sih, bro.” aku mengalihkan ledekan pada Ndul.
“Loh kok gua?”
“Lah.. ini semua kan gara-gara kamu yang gak memberikan info secara akurat.”
“Yee.. gua kan cuma nyari info tentang orangtua Ariska dan Bu Wulan.” ia menyanggah.
“Iya tetep aja kamu juga gak bisa bedain Ariska dan Arischa.” aku tak mau kalah.
“Mana gua tahulah.. Lu bilangnya ke gua juga kan Ariska.”
“Hahaha.. udah.. udah… ayo makan.” Tante Puki menengahi, sedangkan Ariska dan Iban tak ada puasnya menertawakan aku dan Ndul.
“Tapi bener loh, Ris, kami sempat diskusi panjang ketika harus memutuskan untuk menerima lamaran kerjamu atau nggak.” ujar Tante Puki lagi di sela makan kami. Sekali-kali Ariska membantu menyuapi Iban karena tangan kanannya masih di gip.
“Hehe.. kebayang sih. Aku sudah menduga kalau kalian akan curiga. Padahal aku melamar kerja kan emang karena butuh pekerjaan. Aku bukan anak pengusaha seperti dugaan Tante dan kalian semua.” seloroh Ariska.
Dan kami tertawa kembali. Ndul langsung bercerita kekonyolan-kenyolan karena kecurigaan kami yang berlebihan, sedangkan Tante Puki malah bercerita bahwa aku sempat cemburu karena mengira Iban dan Ariska pacaran.
Kini tidak ada lagi yang perlu ditutupi. Ariska malah mengaku kalau ia sudah tahu bahwa Poetry dan Pupuh adalah orang yang sama. Kedua pipi kami sedikit memerah karena itu berarti Iban dan Ariska juga tahu affair antara aku dan Tante Puki. Namun sikap santai kedua saudaraku itu membuat aku dan Tante Puki nyaman kembali. Satu hal yang mereka tidak tahu, kami masih mengulangi perselingkuhan itu kemarin malam dan tadi pagi.
Suasana riang berubah sendu ketika Iban dan Ariska mengalihkan obrolan. Mereka bercerita tentang ibu. Seorang wanita hebat yang penuh perhatian dan kasih sayang, namun hatinya menderita karena merindukanku.
Aku pun menyimak semua kisah mereka sambil menyandarkan kepala pada pundak Tante Puki. Wanita itu sekali-kali mengusapi punggungku. Air matanya berlinang. Aku sendiri tidak menangis, namun hatiku sangatlah sedih tanpa bisa diwakili air mata ataupun tangisan.
“Lalu apa rencana kita?” Ndul merasa jengah karena ia sendiri ikut sedih. Aku sangat tahu sifat sahabatku ini. Ia pandai menyembunyikan perasaannya, padahal hatinya sangat mudah terenyuh.
“Ban, Ris, temenin aku ziarah ke makam ibu.” lirihku sambil menegakan posisi dudukku.
“Kapan rencananya?”
“Besok.”
“Oke.”
“Tante ikut.” sahut Tante Puki.
“Gua juga.” Ndul tak mau ketinggalan.
“Heh? Lalu kantor?” Tante Puki protes pada Ndul.
“Halah.. gak akan bangkrut gegara kita bolos sehari.” Ndul menjawab enteng.
Sikap Ndul membuat kami mendengus kesal, walaupun dalam hati aku membenarkan ucapannya. Aku malah merasa senang mereka semua mau ikut ke Cirebon. Aku sungguh-sungguh punya keluarga baru, sebagai pengganti hari-hari sepiku tanpa orangtua.
“Kalau begitu, Tante kabari Om Toyski, biar ketemu di sana, nanti pulang ke Bandungnya bareng.” usulku. Tante Puki setuju, begitu pula yang lain.
Malam pun semakin larut, dan kami memutuskan untuk pulang. Sebetulnya aku berniat pulang ke rumahku dengan mengajak Iban dan Ariska, namun Tante Puki tidak setuju. Rumah itu sudah lama kosong walaupun rutin dibersihkan. Biar bagaimana pun akan kurang nyaman jika ditempati sekarang. Akhirnya kami berempat menuju ke rumah Tante Puki, sedangkan Ndul pulang sendiri ke apartemennya. Ariska tidak pulang ke kontrakannya atas desakan Tante Puki. Biar bagaimana pun kami telah menjadi keluarga baru, meskipun ibu yang mempersatukan kami telah tiada.
Seusai saling membersihkan diri dan berganti pakaian, kami berempat kembali kumpul di ruang keluarga. Kami benar-benar ingin memanfaatkan kebersamaan sebagai satu keluarga. Aku dan Tante Puki bercerita tentang perjalanan hidupku sejak masa kecil merantau ke Bandung; Iban berkisah tentang ayahnya dan juga ibu kami yang kini keduanya sudah almarhum; sedangkan Ariska bercerita tentang keluarganya, juga kedua orangtuanya di Cirebon.
Malam ini aku melihat seorang Ariska yang berbeda. Ia terlihat sangat manis dan bahkan terkesan manja. Sambil ngobrol ia menyenderkan kepalanya pada bahuku layaknya seorang adik pada kakak, layaknya saudara yang memiliki aliran darah yang sama. Sikapnya malah mengingatkanku pada sosok lain, seseorang yang diam-diam sering kurindukan. Arischa!
“Ia tidak tahu kalau aku sudah menemukanmu; aku ingin memberinya kejutan.” lirih Ariska seolah tahu apa yang sedang kulamunkan.
“Siapa maksudmu, Ris.” Iban gagal paham.
“Ya.. siapa lagi kalau bukan Arischa.” Tante Puki menyahut.
Aku pun tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba saja aku merasa tidak sabar untuk bertemu dengannya. Tanpa kuminta, Ariska mengeluarkan smartphone-nya, dan menunjukkan foto-foto Arischa sejak masa SMA.
Bodohnya aku. Wajah Arischa memang berbeda dengan sosok gadis yang kini sedang setengah memelukku ini. Aku malah bisa langsung mengingat pada sosok masa kecilnya, wajah Arischa tidak terlalu banyak berubah.
Ada desir-desir halus yang menghangatkan perasaanku, hatiku seolah terkoneksi, ada perasaan sayang yang menyelimuti. Sebuah drama mungkin bisa mengelabui dan membohongi kenyataan, tapi hati tidak pernah bisa dipungkiri. Aku langsung tersentuh bahagia bercampur rindu hanya dengan melihat fotonya saja.
Atas permintaanku, Ariska mengirim beberapa foto melalui whatsapp. “Jangan dipake mesum,” lirih Ariska. Kami berempat pun tertawa. Sebuah tawa yang mengakhiri kebersamaan kami hari ini.
Setibanya di kamar, aku tidak langsung merebahkan diri, melainkan menyendiri di atas balkon. Sekali-kali kupandang wajah Arischa pada layar smartphone, dan tanpa terasa aku senyum-senyum sendiri melihat paras cantiknya. Baru kali ini aku berdoa dalam hati untuk jodohku, sebuah doa yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, yaitu berharap agar aku dan Arischa menjadi satu. Mengubah persahabatan menjadi pernikahan, mengganti rindu penantian dengan selalu bersama selamanya.
Aku pun tertawa kecil saat mengingat penuturan Ariska bahwa Arischa tidak pernah pacaran. Sedangkan aku? Mungkin pacaran tidak terlalu mendalam, tetapi penisku sudah tertancap-dalam pada beberapa lubang. Mengingatnya membuatku sedikit gamang, akankah ia menerimaku seandainya tahu bahwa aku memang dijuluki tukang Suwir oleh si Ndul.
“Ibu, maafkan aku.” kini ingatanku beralih pada ibu.
Jika ibu masih hidup, entah apa yang akan dilakukannya padaku seandainya ia tahu bahwa anak semata wayangnya ini sudah mengenal dunia persuwiran. Kugeser layar smartphone-ku, dan kupandang wajah ibu pada foto-foto yang pernah dikirim Iban. Tak terasa kelopak mataku menjadi panas, dan pandanganku berubah buram karena air mata. Butiran beningku mengalir, dan jatuh pada layar. Foto wajah ibu menjadi basah, sedangkan pipiku bersimbah.
“Sayang, kamu belum tid…” sapa Tante Puki yang tiba-tiba sudah berada di kamarku. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya ketika melihatku sedang menangis.
Ia langsung memelukku ketika tahu apa yang sedang kupandang. Kami pun berpelukan sambil saling bercucuran air mata. Kudekap erat tubuh Tante Puki dengan tubuh bergetar. Entah kenapa.. dialah satu-satunya wanita yang selalu ada saat aku bersedih. Selalu hadir dalam sepi dan sendiriku.
Ciuman-ciuman Tante Puki pada pipiku membuat air mata kami saling bercampur, mengalir, membasah sampai ke leher.
Tante Puki mengajakku masuk kamar, ia membaringkanku di atas kasur, setelah sebelumnya menutup pintu balkon. Pelukan dan isak tangis berlanjut di atas pembaringan. Luka dan rindu menganga… dada sesak tersedak rasa… butuh penumpahan dan pelampiasan. Entah siapa yang memulai, aku dan Tante Puki sudah saling berciuman. Saling melumat dengan air mata tetap mengalir.
Ada kasih keibuan yang ia curahkan, sekaligus juga gairah cinta seorang perempuan. Di pihakku, aku merasakan kehangatan dan kasih sayang tanpa batas, sekaligus kenyamanan birahi karena kemolekannya. Kami terus saling memagut sambil saling memeluk, ciuman ini semakin panas seiring mengeringnya air mata kami.
Aku lupa pada harap dan doaku. Aku lupa pada Arischa, aku lupa pada ibu. Inginku hanya satu, mencurahkan sekaligus melampiaskan sedih dan sepiku. Apakah selama ini Tante Puki hanyalah pelampiasan bawah sadarku semata? Entahlah.. yang jelas aku selalu menggaulinya dengan segenap rasa. Aku Enzo.. dan bahkan aku belum tahu apa yang sesungguhnya kuingini. Cinta dan setiaku untuk siapa?
Berulang kali aku dan Tante Puki sepakat untuk saling mengakhiri, namun berulang kali pula kami sama-sama melanggarnya. Dan malam ini, di atas kasur ini, kami terus bergumul dengan pakaian telah tertanggal. Saling merangsang, saling mengerang, tanpa sehelai benang pun yang memisahkan. Entah sejak kapan!
Ada beban yang butuh pelampiasan, ada tekanan hidup yang butuh diurai dan dicurahkan. Suara hati berbicara, tapi kelamin di selangkangan yang bertindak. Tak perlu berdebat siapa kuat, siapa yang menang atau kalah. Yang jelas kami sama-sama berpeluh karena terbakar gairah.
Puas saling mencumbu dan meremas, ciumanku turun pada leher. Aroma keringatnya malah memabukanku. Aku mendengus dengan lidah terjulur, menyusuri lipatan-lipatannya. Seksi menggairahkan, sedangkan sang pemilik leher mendongak sehingga payudaranya ikut terangkat.
Kecupanku berhenti pada bagian bawah dagunya, Tante Puki pun kian mendongak sambil melenguh halus. Nafasnya tersengal, dan tangannya tak mau diam meremas rambut dan pundakku.
Sudah berulang kali aku melihat tubuh polos Tante Puki. Ini bukan yang pertama, tetapi selalu saja aku terpesona. Sorot mataku nanar saat melihat kedua payudaranya. Putingnya yang dulu kecil mungil, kini nampak membengkak besar, dua kali lipat lebih besar. Dengan gemas kutangkup payudara kirinya dengan kedua tangan, lalu kukecup puting kehitaman yang mengacung tegang.
“Aaaarhhhhh…” aku selalu suka mendengarnya. Sebuah erangan gairah yang memabukkan dan membuatku lupa daratan. Erangan dan gelinjangan Tante Puki sungguh menyukakanku, dan aku pun semakin bersemangat mencumbu kedua payudaranya bergantian. Kedua gunungan besar ini semakin mengkilat karena liur dan keringat.
Puas dengan putingnya, aku mengangkat kedua payudara Tante Puki ke atas, dan kubenamkan wajahku di dalam lembah antara gunung kembar dan gelembung perutnya. Desahannya semakin kerap, diselingi erangan yang sekali-kali terdengar bagai refren sebuah musik birahi.
Lalu kutempatkan kedua telapak tanganku pada dinding perut besar Tante Puki di bagian kiri dan kanan. Kuusap lembut mulai dari pinggang sampai pangkal pusar. Kulakukan terus seolah sedang menggenggam balon besar yang keras nan kenyal. Lidahku sendiri mulai menyusuri garis putih yang mekar antara pusar dan bagian atas perut. Efek kehamilan membuat kulitnya melar. Seksi kulihat, dan menaikan gairah berlipat-lipat. Kukecup dan kujilati. Sampai di pusar, lidahku mencucuk, menggelitik. Tante Puki pun menggelinjang, kakinya sedikit menendang-nendang.
“Uuuuh… aaaah… sayang… turun.. aaah… vagina Tante gatal.” Tante Puki merintih dan memohon.
Kuusapi bagian bawah gunungan perutnya, sedangkan wajahku sudah tepat berada di depan lubang kenikmatannya. Sudah mekar dan basah. Bulu-bulu halus lembutnya sudah gundul dicukur, sehingga klitorisnya menjadi tontonan yang merangsang. Mungil dan mengkilat basah di atas belahan bibir vagina yang sedikit pucat. Lubang vagina Tante Puki tak semerah dulu lagi, segar merah jambunya berubah menjadi pucat kemerahan. Namun itu tak menghilangkan keindahan dan keseksiannya.
Aku mendengus, ludahku terjulur.
“Aaaah.. mmmmh…” lenguhnya sambil melebarkan kedua kaki.
Aku mulai asik mengecup dan mengulum klitoris Tante Puki, sedangkan jariku mulai mengusapi bibir bagian dalam vaginanya. Sekali-kali kusentuh kedutan pintu lubangnya yang semakin basah.
Bahasa tubuh Tante Puki semakin menunjukkan bahwa ia sedang dilanda nikmat luar biasa. Aku tahu, staminanya cepat terkuras semasa kehamilan. Aku yang tidak mau ketinggalan, langsung mengakhiri oralku. Kutarik tubuhnya ke tepi ranjang, kakinya menjuntai hampir menjejak lantai. Kuangkat dan kutekuk agar menapak pada tepi ranjang.
Aku pun berdiri di antara selangkangannya, pandanganku sendu menatapnya. Wajah dan dada Tante Puki sudah berkeringat, rambutnya acak-acakan, nafasnya turun naik. Sungguh-sungguh menggiurkan dan memabukan.
Aku pun mengarahkan penisku, sedangkan Tante Puki menggigit bibir, menunggu momen-momen indah sekaligus menegangkan. Tanpa perlu usaha keras, penisku mulai menerobos lubang nikmatnya, dan amblas disertai serangan dan geraman kami berdua. Penisku sudah tertancap, dihisap, diuurut. Disambut kedutan pintu rahimnya.
Tante Puki pun melingkarkan kakinya dan menekan pinggangku dari belakang. Penisku semakin mentok tertekan, perutku menempel pada bagian bawah gelembung perutnya yang sedang hamil.
“Ssshmmm… mmmh… mmmh…” bahasa percintaan mulai terdengar seiring pompaanku.
Tante Puki menyambut sodokan-sodokan penisku sambil mengerang, kedua tangannya tertekuk meremas tepian bantal di kedua sisi kepalanya. Ketiaknya yang putih dan mulus nampak mengalirkan keringat. Sedangkan kelamin kami semakin mengeluarkan bunyi-bunyi becek.
“Uuuh.. sodok.. sodok… harder sayang, oooh….” racauan Tante Puki semakin tidak terkontrol.
Tanpa mengurangi tempo kocokan, tanganku yang semula menahan kedua kakinya, berpindah meremasi kedua payudaranya. Tante Puki pun menjerit nikmat.
Erangan-erangan erotis Tante Puki, ditambah rasa nikmat pada penisku, membuatku turut berkeringat. Batangku terasa semakin membengkak panas, sedangkan kantong kemihku mulai mengkerut untuk mendorong sperma keluar.
“Aaah… aaaah… uuuhh… ssssh… sayang ayooo… uuuh… tante tante… aaah…” Tante Puki semakin bergoyang panas.
Bersamaan dengan itu penisku semakin nikmat dan ngilu, ejakulasiku sudah mendekat.
Aku menyodok keras, Tante Puki menyambut; aku membenam, ia menggoyang. Aku dan Tante Puki bagai kalap, tubuh kami bergetar-getar hebat.
Seeerrrrr… seeerrrr….!!
“Buuu… aaaahhh… caaaaaat…” Tante Puki nyaris berteriak keras, namun ia sigap menutup mulutnya. Dan…
“Aaaaahh….”
Seeerrr… Crot… crooot…. crottt…!!!
Spermaku menyembur merangkai tulisan B-E-R-S-A-M-B-U-N-G di dalam rahim Tante Puki.
Report content on this page
0 Komentar