Enzo part 28


BAB 28








Aku menegakan dudukku tanpa melepaskan pandangan pada Ariska yang masih berdiri di ambang pintu. Dadaku bergemuruh saat mendengar sapaannya yang memanggilku dengan nama asli.




“Boleh?” ujar gadis itu.


“Eh.. ehem.. iyah, silakan duduk, Ris.” aku sedikit gelagapan.




Ariska pun duduk di hadapanku, sejenak ia membalas tatapanku namun menunduk setelahnya. Tangannya saling meremas di atas pangkuan.




Kuhela nafas pelan untuk menenangkan diri, biar bagaimana pun aku adalah seorang boss dan harus bertindak layaknya boss, meski aku juga tahu bahwa urusan pekerjaan dan urusan pribadi tidak bisa dicampur-adukan.




“Kamu apa kabar, Ris?” tanyaku setelah mampu mengontrol nafasku.


“Baik, Pak. Pak Enzo kapan datang?” Ariska mengangkat wajah, membalas tatapanku.


“Enzo aja.”


“Baik.”


“Aku memanggilmu memang karena urusan pekerjaan, tapi juga ada urusan pribadi yang hendak kutanyakan, jadi tidak perlu formal. Toh kita sudah saling mengenal sejak lama.”


“Iya, Zo.” Ariska nampak lebih rileks.


“Ceritalah!” suaraku ramah namun penuh penekanan.


“…”


“Kamu tahu kan maksudku?”


“Iya tahu, Zo.”


“Aku harap tidak ada lagi yang kamu rahasiakan.”


“Aku bingung.” Ariska menatapku, senyumnya sedikit hambar. Sikap galaknya yang selama ini ia tunjukkan kala bersamaku seakan hilang seketika.




Untuk mencairkan suasana, aku pun mengajak Ariska untuk pindah duduk ke sofa. Sebelumnya aku menelpon sekretaris Tante Puki supaya memesankan minuman pada OB, sekaligus juga membawakan asbak untukku.




Aku dan Ariska duduk berhadapan, otomatis aku bisa melihat betis dan seperempat pahanya yang putih. Kalau saja Ariska tidak menutup ujung roknya dengan tangan, mataku pasti bisa melihat selangkangannya lebih ke dalam lagi.




“Kenapa, Ris?” tanyaku ketika ia mengulum senyum.


“Mesum!”


“Hahahha…”




Aku tergelak, diikuti Ariska setelahnya. Ia bahkan sampai mengatup mulut agar tawanya tidak terlalu keras. Sikapnya tentu saja membuat perlindungan pada sela pahanya terlepas, dan aku bisa melihat tempelan kedua pahanya yang nyaris sampai ujung. Ah.. kurang beberapa senti lagi untuk bisa melihat celana dalamnya.




“Eh.. tuh kaaan… hahahaha…” Kali ini ia mengambil bantal sofa dan ditumpangkan pada pangkuannya, namun tawanya masih terurai. Aku pun hanya tertawa kecil sambil garuk-garuk kepala.




Suasana pun benar-benar cair dan tawa kami baru berhenti ketika seorang OB masuk membawakan dua gelas jus sirsak dan juga sebuah asbak.




“Kamu gak keberatan, kan?” tanyaku sambil mengeluarkan rokok putih kegemaranku.


'It’s fine. Aku juga merokok kok.”


“Hah?”


“Hihi.. beneran.”


“Kok aku gak pernah lihat?”


“Hahha.. aku kan harus jaim agar penyamaranku berhasil. Emang kamu aja yang bisa nyamar.”


“Nyamar? Kamu nyamar?”


“Hahaha…”




Kuberi kode pada OB supaya jangan pergi dulu, dan pria paruh baya itu pun hanya mematung sambil terheran-heran karena melihat aku dan Ariska begitu akrab, padahal posisi dan jabatan kami bisa dibilang sangat jomplang.




“Oke.. oke.. kamu jelaskan nanti. Rokokmu apa?”


“Gak usah, Zo, aku ada kok tapi di tasku.”


“Mau diambilin atau dibeliin?”


“Hehe.. Oke beli aja deh daripada ketahuan Bu Dilema.”




Bu Dilema adalah managernya Ariska. Aku pun menyodorkan uang kepada OB untuk membelikan sebuah merk rokok putih yang Ariska sebutkan. Aku menyulut rokokku sedangkan Ariska menyeruput jusnya.




“Maafkan aku karena aku telah membohongimu, Zo. Hehe.. tapi kamu memang bodoh!”


“Heh..!! Udah berani ya bilang “bodoh” ke bossmu. Awas kamu!!”


“Biarin!” Ariska memeletkan lidah.


“Kamu bohong apa?”




Wajah Ariska berubah serius. Ia menatapku tajam lalu ia menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa. Sikapnya sungguh berbeda dengan seorang Ariska yang selama ini kukenal.




“Kamu sayang aku, gak Zo?”


“Heh? Maksudmu?”


“Maaf, maksudku.. kamu sayang sahabat masa kecilmu gak?”




Aku menatap tajam Ariska sambil mencoba menerka arah pertanyaannya.




“Aku sih pasti sayang, tapi kalau mengartikan “sayang” seperti pada kekasih sih rasanya aku belum nyampe ke situ.” aku mencoba jujur.


“Jadi kamu sama sekali gak punya rasa ke aku?”


“Buset.. kenapa Ariska jadi agresif gini?”


“Hehee.. aku agresif yah?”


“Nah kan, udah mah agresif, cenayang pula.”


“Maaf, ya Ris, kamu memang sahabatku, tapi rasaku hanya sebatas itu. Kamu cantik, kamu menarik, bahkan selalu membangkitkan bakat mesumku hehe.. tapi untuk lebih dari itu aku sih rasanya belum mikir sampai ke situ. Sorry.. semoga kamu tidak tersinggung.”




Raut wajah Ariska sedikit berubah, seperti menyembunyikan rasa kecewa, namun ia berhasil menutupi dengan senyum dan tawa kecilnya.




"Aku fine, Zo, nyantai aja. Kalo kamu bilang aku jelek juga aku gak akan marah kok. Hehe… kamu memang bodoh, tapi untuk urusan perasaan kamu cukup cerdas juga.”




Aku tersenyum walaupun aku sebenarnya mulai bingung atas sikap Ariska yang di mataku benar-benar berubah. Sementara obrolan kami belum fokus, masih penuh misteri yang belum aku maupun Ariska ungkapkan.




“Oke.. oke.. kita mulai biar gak bingung.” Ariska nampaknya mulai membaca perubahan raut mukaku.


“…” sambil menatap Ariska.


“Maaf, Zo, aku sebenarnya bukan… bukan…”




Tok tok tok. Penuturan Ariska terhenti ketika terdengar ketukan pada pintu. Kulihat Ariska menarik nafas panjang, pun pula aku.




“Masuk.”




Pintu pun terbuka, dan OB-ku muncul kembali sambil membawa dua bungkus rokok putih.




“Makasih, Pak.” sambil menerima rokok yang ia sodorkan.


“Maaf, Mas, kata Bu Raras (sekretaris Tante Puki), apakah Mas Kata dan Ibu Ariska mau dipesankan makan siang atau..?”


“Nggak usah, Pak. Nanti kami nyari makan siang sendiri.”


“Baik, Mas. Kalau begitu akan saya sampaikan kepada Bu Raras. Saya permisi dulu.”


“Wow.. OB pun manggil “Mas” ya, bukan “Bapak””. ujar Ariska sambil membuka bungkus rokok dan mengeluarkan isinya.


“Yeah.. aku gak suka membuat jarak, yang penting saling menghormati posisi masing-masing.” ujarku sambil menatap gadis di hadapanku.




Aku tidak pernah keberatan melihat seorang perempuan merokok. Sebaliknya malah terlihat seksi ketika melihat seorang gadis cantik merokok. Yeah.. ini hanya soal persepsi yang menurutku hanya perbedaan sudut pandang.




“Lanjut..” lirihku.




Ariska menghisap dan mengepulkan asap rokoknya sebelum melanjutkan perbincangan. Sorot matanya berubah datar dan hambar, pikirannya seperti menerawang.




“Aku bukan sahabatmu, Zo.”


“Whaaat?!! Uhuk.. uhuk..” aku tersedak asap rokok.




Dudukku berubah kaku, dan pandanganku nanar menatap Ariska yang berubah tanpa ekspresi. Gadis itu menatapku sebentar, lalu kembali menerawang mengamati asap rokok yang keluar dari mulutnya.




“T.. ta.. tapi namamu Ariska, kan?” aku masih mencoba memastikan bahwa aku tidak salah dengar.


“Kamu benar, aku Ariska.”


“Lalu?”


“Di sinilah kebodohanmu. Kamu tidak berhasil menyembunyikan diri walaupun merubah nama menjadi Rakata, dan kamu juga tidak bisa membedakan mana sahabatmu dan mana yang bukan.”




Kuletakan rokok di atas asbak, lalu kuusapi wajahku dengan kedua sikut bertumpu pada paha. Kini jarak pandang antara mata dan pahanya semakin dekat, tapi sama sekali tidak menarik perhatianku lagi.




“Siapa nama sahabatmu?” Ariska menatapku tajam.


“Ariska.”


“Nulisnya?”


“…” aku berpikir keras.


“Aku Ariska, sedangkan sahabatmu adalah A-r-i-s-c-h-a!"




Aku lupa bahwa aku adalah orang nomor satu yang disegani di perusahaan ini. Kini aku tak ubahnya dengan pemuda konyol biasa. Aku hanya bisa melongo sambil meremasi rambutku. Tolol!! Bodoh!! Asu!!! Kupret!! Jiancuk!!! Kutukan demi kutukan, makian demi makian pun terucap dalam hati.






“Selamat ulang tahun, ya Ris.”


“Makasih.”




Sahabatku nampak senang ketika aku memberikan sebuah kartu ulang tahun yang kugambar sendiri dengan tinta batik.




“Enzo iih.. kok nulisnya Ariska, namaku kan Arischa.”








“Aku benar-benar bingung, Ris. Kamu itu siapa? Dan di mana Arischa sekarang?” aku menyeruput jusku sampai habis setengah, lalu kusulut rokok baru.


“Sebelumnya aku minta maaf, Zo. Maafkan juga Budhe Ningnung dan Yaning. Mereka adalah bagian dari rencanaku.”


“…” aku kembali melongo.




Ariska mematikan rokoknya, diraihnya helaian tisu di atas meja untuk mengusap air matanya yang tiba-tiba berlinang.




Tiba-tiba tubuh Ariska bergetar hebat dan tangisnya pecah. Aku yang sedang mematung bingung, dibuat semakin heran ketika melihat perubahan sikapnya. Seharusnya aku pindah duduk ke sampingnya, seharusnya aku menenangkannya. Tapi pantatku rasanya terlalu berat untuk kuangkat, kakiku juga seolah sulit kugerakan. Aku hanya bisa diam terpaku.




“Hiks.. hiks… maaf…” Ariska akhirnya bisa menguasai diri duluan, diusapnya air matanya dengan sedikit kasar.


“Kejadian ini bermula dari sepuluh tahun lalu…” ia mulai mengawali cerita di sela isak tangisnya.




Ariska menuturkan bahwa ia datang ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan SMA di salah satu sekolah swasta terkenal di kota ini. Sejak kelas sepuluh ia berkenalan dan bersahabat dengan seorang gadis bernama Arischa. Entah kebetulan atau tidak kalau nama mereka mirip. Entah karena persamaan bunyi panggilan atau bukan yang membuat keduanya dekat dan bersahabat hingga sekarang. Yang pasti, di mana ada Ariska di situ ada Arischa, begitu juga sebaliknya. Hal tersebut terus berlanjut sampai mereka melanjutkan kuliah di universitas dan fakultas yang sama; sampai keduanya lulus bersama.




“Meski bersahabat dan nama kami mirip, tapi karakter kami berbeda, Zo. Aku periang dan sejak SMA aku sudah beberapa kali pacaran. Sedangkan Icha itu, meskipun pintar, ia adalah seorang gadis yang pendiam dan sering murung…”


“…”


“Jangankan pacaran, setiap ada cowok yang mendekat pun ia sudah menghindar dan menutup diri duluan. Ada dua alasan yang membuatnya seperti itu…”


“Pertama karena keluarganya kurang harmonis. Ayahnya sangat sibuk, dan ia sering menyaksikan pertengkaran antara ayah dan ibunya. Bukan hanya itu, bahkan keluarga besar mereka pun tidak rukun satu sama lain. Kamu bisa lihat sendiri, dengan Budhe Ningnung yang kakak-beradik pun mereka tidak saling dekat dan tidak pernah saling mengunjungi…”


“Yang kedua, karena di hati Icha, hanya ada satu nama yang selalu mengisi hatinya. Seorang pemuda yang selalu ia tunggu kehadirannya, dan bahkan ia cari keberadaannya…”


“Pemuda itu adalah.. adalah kamu, Zo.”




Kini gantian aku yang berlinang air mata. Kalau Ariska sudah bisa bercerita dengan tegar, kini aku yang rapuh mendengarkan. Dadaku terasa sesak.




Aku benar-benar bodoh dengan tidak mengingat wajahnya. Dulu aku hanya berpikir bahwa penampilan dia ketika sudah dewasa dengan masa kanak-kanak memang berbeda, sehingga aku tidak curiga sama sekali pada Ariska. Tapi aku juga mengerti, kenapa rasaku pada Ariska seolah tertutup. Ariska bukan sahabat masa kecilku, dan perasaan tidak bisa dibohongi oleh penyamaran.




Aku hanya mengatupkan kedua tangan di depan mulut dengan kedua ibu jari menyangga dagu. Kubiarkan air mataku mengalir tanpa niat kuusap.




“Icha lah yang menjadi alasanku untuk mencarimu dan akhirnya aku memutuskan menyamar untuk meyakinkan bahwa kamu adalah benar-benar Enzo. Ini semua kulakukan demi Icha. Dia adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki, dan aku ingin melihat Icha bahagia.”


“Kamu sudah tahu siapa Iban. Iban sudah cerita padaku. Ia mencarimu demi ibumu, ibu kalian. Sedangkan aku mencarimu demi Icha.” ujar Ariska lagi.


“Lalu apa hubunganmu dengan Iban? Dia pacarmu.” akhirnya mulutku terbuka dan mampu menyampaikan rasa penasaranku.


“Hiks.. hiks…” Ariska kembali tersedu. “Iban itu adalah sepupuku. Dan Tante Wahyana, ibumu, sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.”




Kini pertahananku runtuh. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, tubuhku bergetar menahan sedih yang tiba-tiba menguasai diri. Kurasakan Ariska berpindah dan duduk di sampingku. Tanpa saling meminta, kami berpelukan sambil sama-sama menangis.




Aku benar-benar merasa terpuruk. Semesta seakan mengatur seluruh kisah hidupku dan membuat perjumpaan-perjumpaan tak terduga. Namun sandiwara demi sandiwara yang kami buat, menjadikan perjalanannya terasa begitu panjang dan melelahkan. Padahal jika kami saling jujur sejak awal, mungkin kami tidak harus menunggu sampai selama ini, dan tidak harus berkepanjangan seperti ini.




Kini Ariska tidak sungkan memelukku, dan aku membalas tanpa tergiur ganjalan payudara maupun kedua paha putihnya. Biar bagaimanapun kami adalah dua saudara meskipun tidak ada pertalian darah. Ibu telah mempersatukan kami.




“Lalu Arischa ada di mana sekarang?” aku mengurai pelukan.




Kuusap wajah Ariska dan kubersihkan lelehan air matanya. Ia pun melakukan hal yang sama pada kedua pipiku.




“Ia sedang mengambil gelar master di Jerman. Bulan depan akan selesai dan kembali ke Indo. Untuk itulah aku mencarimu. Aku ingin menjadikanmu sebagai hadiah kelulusannya, sebagai hadiah terindah dalam hidupnya. Aku ingin Icha bahagia.”




Haru, sedih, sakit, bahagia… bercampur menjadi satu ketika mendengar penuturan Ariska.




“Tapi aku sempat ragu.” ujar Ariska sambil menggeser duduknya sedikit menjauh. Disulutnya kembali sebatang rokok.


“Ragu kenapa?” aku menatap heran.


“Enzo yang selalu ditunggu dan dirindukan Icha, bukan seorang pemuda baik seperti yang sering ia ceritakan. Cerita Icha tentang Enzo selalu bagus dan baik-baik semua, sedangkan dalam kenyataannya aku bisa melihat sendiri kalau dia itu sebenarnya adalah lelaki mesum.” ada senyum dikulum yang Ariska sembunyikan di balik semua ucapannya.




Maka tawa kami berdua pun pecah. Entah ini tawa ketir atau bahagia, yang jelas kami seakan sedang melepas semua beban yang selama ini saling kami sembunyikan.




Tanpa diminta, Ariska melanjutkan kisahnya. Ia menceritakan semua rencana yang ia persiapkan bersama Iban. Sepupunya itu, sekaligus juga adik tiriku, sengaja mencari kerja di daerah kelahiranku agar bisa lebih mudah mencari jejakku. Sedangkan Ariska melakukan penyamaran dengan menggunakan semua cerita yang Arischa curhatkan. Makanya sandiwara yang sepupuku ini buat sangatlah tanpa cela. Itu terlihat baik ketika di rumahku dan angkringan, ataupun ketika kami jalan-jalan ke Lawang Sewu. Aku benar-benar telah terkelabui.




“Aku bodoh yah?” gumamku.


“Emang hihi… Masa kamu gak inget wajah Icha!”




Kami pun kembali terkekeh. Ariska melanjutkan, “Tapi kamu tidak sepenuhnya bodoh, kamu tetap bergeming, kamu tidak bisa membohongi perasaanmu. Kamu tidak bisa membuka hati padaku. Dan itu…”




“Dan..?”


“Menyakitkanku. Masa gadis secantik aku kamu abaikan, malah cuma dimesumi.”




Dengan gemas aku langsung menguyel-uyel rambutnya, dan ia meronta sambil menggelitikku. Sesaat rasa haru dan sedih hilang oleh keseruan yang kami berdua lakukan.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar