Enzo part 27

 

BAB 27








Adalah menyenangkan ketika hidup berjalan baik, usaha berjalan sesuai rencana, jerih payah membuahkan hasil. Adalah menyenangkan ketika pencarian mulai menemukan titik terang, cinta masa lalu terobati, cinta baru bersemi kembali. Adalah menyenangkan ketika “si jalu” masih meminta menu suwir, tetapi juga tidak memberontak ketika tidak diberi.




Adalah…




Aku seharusnya senang, tapi tidak kali ini. Kenyataan ini sangat menyakitkan. Pencarianku mulai menemukan jawabannya, tapi jawaban itu malah bagai guyuran cuka pada luka. Batinku menangis, hatiku teriris.. bersamaan dengan itu, amarahku bergejolak. Aku bisa apa? Hanya termenung tanpa kata.




Kereta yang kutumpangi terus melaju, tapi angan dan ingatanku berlalu lalang ke masa lalu dan masa depan. Pikiranku tidak sedang berada bersama tubuhku.








Iban muncul di angkringan, ia datang untuk makan sekaligus menemuiku. Namun sebelum berbincang, ia langsung mendapat hajaran dan dilarikan ke rumah sakit malam itu juga. Bu Wulan tiba-tiba marah, dan kedua bodyguardnya kalap menghajar pemuda itu.




“Sudah cukup!!” teriak Bu Wulan pada kedua pengawalnya itu. Sikap lembut dan keibuannya sirna, ia berubah bagai wanita bengis dan sinis, tidak ada pancaran belas kasih pada wajahnya.




Wanita itu pun pamit padaku, sedangkan aku dibantu beberapa pengunjung angkringan langsung melarikan Iban ke rumah sakit. Pemuda itu tak sadarkan diri dengan tulang sikut patah dan hanya terbungkus kulit.






“Asuuu!” desisku.




Aku malah kaget mendengarnya, untung penumpang di sampingku sedang tertidur sehingga tidak mendengar makianku yang tanpa sebab. Aku pun begidik mengingat wajah Iban yang babak belur waktu itu.




Yeah.. tidak ada lagi pertemuan antara aku dan Bu Wulan setelahnya, wanita itu menolak untuk bertemu ketika tahu bahwa Iban kenal denganku. Rencana jalan-jalan pun tidak terlaksana, apalagi aku cukup sibuk membantu mengurus administrasi dan menemani tindakan-tindakan medis yang harus ia terima. Ariska pun sempat datang sehari setelahnya.




“Kamu harus merawat dan menjaga Iban.” pesan Ariska kala itu, sesaat sebelum ia kembali ke Bandung. Dia hanya tinggal dua malam karena tidak bisa berlama-lama bolos kerja.




Mulanya aku mengira itu adalah pesan dan harapan seorang Ariska agar aku menjaga kekasihnya. Aku hanya meng-iya-kan saja, tanpa tahu masalah yang sebenarnya. Namun semuanya berubah, aku menjadi mengerti dua minggu kemudian ketika Iban pulang dari rumah sakit.








“Maafkan aku, Zo.” ujar Iban di akhir pengakuannya. Kini aku sedang berada di kamarnya, di sebuah rumah yang hanya ia huni seorang diri. Ia bahkan sudah memanggilku dengan nama asliku.








Ah.. aku ingin melupakan peristiwa itu, juga melupakan semua pengakuan Iban. Toh kejadian itu sudah dua bulan berlalu, dan kini Iban sudah sehat kembali meskipun tangannya masih di gip. Kugosok wajahku beberapa kali, kuremas pula rambut ini. Kuhela nafas berulang-ulang sambil menyapu pandangan ke seisi gerbong kereta, aku kembali ke masa kini, kepada saat di mana sekarang aku berada.




Tak berselang lama pengumuman masinis pun terdengar, sesaat lagi kami akan tiba di stasion terakhir, dan waktu masih menunjukan jam 04.27 pagi. Aku kembali ke Bandung untuk kedua kalinya. Sengaja aku menunda kedatanganku ke Bandung, menunggu dua bulan sejak kejadian tersingkapnya identitas Iban. Bukan karena aku tidak ingin segera mengakhiri pencarianku, melainkan karena aku masih takut ketemu Tante Puki. Takut luka cintaku menganga kembali.




Aku pun langsung membuka aplikasi untuk memesan GoCar. “Tujuh menit lagi saya keluar.” balasku setelah mendapat jawaban dari driver yang menerima pesananku.




Sesuai perkiraanku, empat menit kemudian kereta sudah tiba, dan tiga menit berikutnya aku sudah bertemu dengan driver yang menungguku di parkiran.




“Kompleks Kuciah Raya 27, ya Mas?” driver memastikan, dan aku meng-iya-kan. Kupejamkan mata sambil memikirkan rencana yang akan kujalani selama beberapa hari ke depan.




Lamunanku membuat perjalanan ini tidak terasa, tidak sampai setengah jam aku sudah tiba di depan sebuah rumah mewah yang nampak masih sepi. Setelah membayar ongkos, aku pun melangkah menuju gerbang.




“Pagi, Bi.” aku urung memencet bel ketika melihat seorang wanita paruh baya sedang menyiram tanaman.


“Nak Enzo. Ya ampun.. kok Neng Pupuh tidak ngasih tahu bibi kalau Nak Enzo akan datang.” sambutnya.


“Hehe.. aku memang gak ngasih tahu si tante kok, Bi.” kekehku sambil menunggunya membuka kunci gerbang.




Kami pun saling sapa dan bersalaman, lalu Bi Rukmini mengantarku masuk ke dalam rumah. Ya.. sekarang sudah tahu kan aku ada di mana? Rumah Tante Puki.




Bi Rukmini langsung pergi ke dapur untuk membuatkanku kopi, sedangkan aku duduk di ruang keluarga sambil menyelonjorkan kedua kaki. Mataku menatap langit-langit dengan angan kembali pada kenangan masa lalu ketika aku masih tinggal di rumah ini.




“Silakan kopinya, Nak.” Bu Rukmini kembali sambil membawa secangkir kopi, lalu ia duduk di hadapanku.


“Makasih, Bi.”




Obrolan ringan pun terjadi, saling bertanya kabar dan kehidupan sehari-hari. Wanita yang sudah belasan tahun bekerja untuk Tante Puki ini nampak senang bisa bertemu lagi denganku, maklumlah ia tahu masa kecilku, dan juga menjadi temanku curhatku semasa kanak-kanak dulu.




“Ada siapa, Bi?” tiba-tiba terdengar suara dari lantai dua.




Kami sama-sama menengok ke arah datangnya suara. “Ini, Nak Enzo datang, Neng.” ujar Bi Rukmini.




“Ya ampun sayang? Kok gak bilang-bilang kalau mau datang?”




Aku hanya terkekeh mendengar pertanyaan dan ekspresi herannya. Kulihat Tante Puki sedang berdiri di ujung tangga dengan rambut yang masih kusut pertanda baru bangun tidur, ia nampak seksi dan cantik. Perutnya sudah besar dan mengembung di balik daster-sutra-bertali setengah lutut, paha putihnya terpamer.




Tante Puki pun menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa, sedangkan aku menyambutnya di ujung bawah. Mata kami bertatapan, ada sorot heran sekaligus senang yang terpancar pada kedua matanya. Sekali-kali aku melirik pada kedua pahanya yang terbuka karena langkahnya, sangat seksi dan menggairahkan.




“Surprise.” ujarku sambil menyondongkan badan untuk cipika-cipiki.


“Kamu itu, kenapa gak bilang dulu? Naik kereta malam dari Semarang yah?” cecarnya sambil menepuki kedua pipiku gemas, lalu ia memelukku erat, dan perutnya terasa mengganjal.




Tante Puki melepas pelukan lalu mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu memeluk lagi lebih erat. Aku pun membalasnya, bahkan tanganku sedikit meremas punggungnya.




“Aku ada urusan. Tante apa kabar? Kandungannya baik-baik aja, kan?” tanyaku begitu pelukan kami terlepas.


“Seperti yang kamu lihat.” singkat Tante Puki.


“Si Om masih tidur?”


“Ommu lagi ke Cirebon sampai lusa, ada pekerjaan di sana.”


“Oh…”




Kami pun melangkah menuju sofa, sedangkan Bi Rukmini pamit untuk meneruskan pekerjaannya menyiram tanaman.




Aku hendak duduk di sofa kecil, tapi Tante Puki menarikku sehingga kami duduk bersisian pada sofa panjang. Ia berubah cerewet menanyai kabarku, juga alasanku yang datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Tapi aku masih menjawab seperlunya, aku masih merasa capek karena hampir sepanjang perjalanan tidak tidur.




Keasikan ngobrol membuat Tante Puki sedikit lalai pada posisi duduknya. Perutnya yang besar membuat dasternya semakin tertarik ke atas dan paha putihnya terpajang. Belum lagi pemandangan belahan payudaranya, yang ukurannya kelihatan lebih besar. Wanita hamil.. baru bangun tidur pula.. cantik dan seksinya berlipat-lipat di mataku. Dadaku pun berdesir, rasa yang sudah susah payah kukubur, kini muncul kembali.




“Kenapa?” Tante Puki membaca perubahan air mukaku.


“Heheh… nggak… Tante kelihatan makin cantik.” ujarku sambil terkekeh.


“Kamu ituh..!!”




Tante Puki mencubit lenganku, tapi ia malah memelukku setelahnya, dengan satu kaki menumpang pada pangkuanku. Tentu saja aku langsung disuguhi bongkahan pinggul dan paha putihnya. Kedua payudaranya juga terasa mengganjal, empuk dan kenyal.




“Tante kangen.” lirihnya.




Aku tidak tahu apakah ia merindukanku layaknya seorang tante rindu pada keponakan, atau rindu dalam arti yang lain. Yang jelas aku membalas pelukannya sambil mengusapi punggungnya. Ujung hidungku juga menghirup rambutnya, kutekan bibirku untuk mengecup kepalanya.




“Kamu bau keringat, mandi dulu gih, Tante mau siapin sarapan buat kamu.” lirih Tante Puki, suaranya terdengar berat seperti sedang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.




Bukannya menjawab, aku malah semakin mengeratkan pelukan sehingga Tante Puki menggelinjang. Wajahnya mendongak, dan ia menatapku sendu.




Aku menatap wajah Tante Puki yang tanpa pulasan, wajah bangun tidurnya benar-benar memancarkan kecantikan alami yang ia miliki. Bedanya, pipinya sedikit lebih berisi seiring bertambahnya lemak sebagai efek kehamilan.




Rasa yang selama ini kukubur dan berusaha kumatikan kini berdesir kembali; upayaku untuk mencintainya sebagai seorang tante perlahan memudar. Yang ada adalah seorang wanita cantik nan seksi yang masih mewarnai mimpi-mimpiku. Aku bimbang..




Hal yang sama sepertinya dirasakan oleh Tante Puki, tatapannya sedikit hambar dan keningnya mengkerut seolah sedang menepis sesuatu, namun bahasa tubuhnya berbanding terbalik. Nafas hangatnya nampak tersengal sehingga bibirnya sedikit terbuka, dadanya turun naik di dalam dekapanku.




Aku mengerjap untuk menepis pikiran dan perasaanku, namun sialnya tubuh ini malah mengkhianati; wajah kami semakin mendekat, nafas kami beradu.




Tidak ada kecupan lembut. Kami langsung saling lumat dengan panas, dan lidah kami langsung saling mencari. Saling melilit, saling membelit. Kami sama-sama melenguh menumpahkan gairah yang selama ini dipendam. Akal sehat kami pernah membuat kami sadar untuk saling mengakhiri hubungan ini, namun hati tidak mengkhianati perasaan yang sebetulnya tetap kami miliki. Perasaan cinta yang selama ini ditekan dan dipendam, kini menggumpal dalam gairah yang tiba-tiba mencurah.




“Mmmh…” Tante Puki melenguh dan semakin melumat bibirku dengan penuh nafsu ketika aku mulai meremas kulit bokongnya. Dasternya sudah tersingkap, dan jemariku menyelinap ke dalam celana dalamnya yang berwarna merah.




Kini Tante Puki sudah mengangkang, duduk di atas kedua pahaku. Perut besarnya menekan-nekan seiring tubuhnya yang gelisah tak mau diam, sedangkan ciuman kami semakin menaikan birahi. Tanganku berpindah mengusapi kedua sisi gelembung perutnya, sekali-kali turun untuk meremasi kembali bokongnya yang semakin lebar.




“Aaaaah…” Tante Puki memekik, ciuman kami terlepas.




Matanya mendelik, dan mulutnya terbuka dengan nafas tersengal. Langsung kuusap lelehan liur pada tepi bibirnya, dan Tante Puki pun ambruk memelukku. Wajahnya terbenam di atas pundakku. Tubuhnya yang bergetar-getar membuatku tahu bahwa ia mengalami orgasme. Luapan cinta dan rindu yang selama ini disangkal, membuat Tante Puki benar-benar bergairah dan cepat mengalami orgasme.




Aku mendekap tubuhnya yang kian lemah, sedangkan satu tangan mengusapi rambutnya yang halus. Tanpa ia tahu aku terkentang-kentang karena penisku sudah sangat tegang.




Lantas leherku terasa basah, ada air mata yang meleleh. Tak lama kemudian tubuhnya kembali bergetar, bukan karena sisa orgasme, namun karena tangis diamnya yang tidak berhasil ia tahan. Aku pun menghela nafas. Suara hatinya sedang berkecamuk, cinta dan kesetian sedang berperang.




Aku membiarkannya menangis, dekapanku semakin lemah, berganti mengusapi rambut dan punggungnya. Inginku adalah mengusapi paha dan pinggulnya yang putih, tapi aku berusaha menjaga perasaannya. Aku harus menahan diri, toh tujuanku kembali ke Bandung bukan untuk ini, melainkan untuk tujuan yang lebih penting.




Secara perlahan Tante Puki menjadi tenang kembali, lima menit kemudian ia mengangkat wajahnya. Sorot mata kami sendu beradu, kuusap pipinya yang basah dan lembab, sedangkan jemarinya bergetar mengelus rambut dan wajahku. Tanpa kata, ia mengecup keningku dengan sangat lembut dan menyuruhku untuk masuk kamar dan mandi, sedangkan ia sendiri menuju kamarnya untuk juga membersihkan diri.




Jam delapan pagi aku baru keluar kamar, karena seusai mandi malah tertidur dengan cukup lelap. Mungkin capek karena perjalanan, dan juga lemes selepas coli sambil membayangkan Tante Puki. Wanita itu sudah menungguku di meja makan dan menyambutku dengan senyuman. Wajah cantiknya membuatku tidak bisa menahan untuk tidak memeluk dan menciumnya. Ia malah menyambut kecupanku dengan bibirnya, padahal sedianya aku hanya mau mencium pipinya. Setelah tiga kali kecupan kecil pada bibir aku pun duduk di sampingnya, menu nasi goreng masakan Bu Rukmini sudah siap untuk disantap.




Tak lama kemudian, Ndul datang dengan caci maki tengilnya. Ia nampak kesal karena aku datang tanpa memberi kabar.




“Jadi kenapa lu tiba-tiba datang ke Bandung?” tanya Ndul seusai kami menyelesaikan sarapan. Kini kami sedang duduk di teras rumah agar kami berdua bisa merokok. Tante Puki duduk agak menjauh agar tidak terkena kepulan asap rokok.




Kupandang Ndul dan Tante Puki secara bergantian, lalu kuhembuskan asap rokok menyerupai bulatan-bulatan yang menggelembung, lalu terurai oleh terpaan angin. Keduanya hanya diam menatapku untuk menunggu jawaban.




“Ibu..” desisku sambil mengalihkan pandangan ke halaman rumah. Sedih dan marah kembali menyeruak di balik dadaku.


“Hah? Maksudmu, Zo?” Tante Puki dan Ndul terperangah mendengar ucapanku.


“Kamu sudah menemukan jejak ibumu?” susul Tante Puki.


“Yeah...” singkatku.




Aku kembali menatap keduanya. Tante Puki terbelalak, sedangkan Ndul melongo membuat asap rokoknya keluar dari mulut tanpa ia hembuskan.




“Jadi gini…” aku mengawali cerita.




Semuanya bermula dari kedatangan Bu Wulan dan Iban ke angkringan. Sebuah pertemuan tidak disengaja namun menjadi berkah bagiku karena menjadi awal terkuaknya sebuah tabir yang Iban sembunyikan.




“Apa?!! Ja.. jadi Iban adalah adik tirimu?” pekik Tante Puki tertahan di akhir penjelasanku. Aku mengangguk lemah sambil mematikan puntung, dan langsung menyambungnya dengan rokok baru.


“Sorry, bro.” ujar Ndul pelan.




Ia bergumam begitu bukan karena mendengar kenyataan bahwa Iban adalah saudara tiriku, melainkan karena ada kenyataan pahit tentang ibu. Wanita yang telah melahirkanku itu kini sudah kembali ke alam baka sejak lima tahun yang lalu.




Tante Puki pindah duduk dan mengambil rokok dari mulutku, ia langsung memelukku dengan berlinang air mata. Aku sendiri hanya membalas pelukannya, menitikan air mata pun aku sudah tidak bisa.




“Mendiang ibu selalu mencariku, tapi ia pergi tanpa pernah bisa menemukanku terlebih dahulu.” ujarku pelan, dan Tante Puki semakin menangis.






POV Gandul:




Sedih Njir mendengar kisah dari sahabatku. Tapi kampret juga kalau readers kebingungan karena tidak mengerti titik persoalannya, sementara TS dan Enzo tidak memaparkan cerita dengan gamblang. Haiish… jadi gini ceritanya…




Tante Wahyana, ibunya Enzo, pergi dari rumah karena diusir oleh Om Rimasto suaminya, alias ayah sahabatku ini. Wanita itu bekerjasama dengan kakek-nenek Enzo untuk menyelamatkan sebagian asset perusahaan dari ketamakan sang suami. Namun upaya itu ketahuan sesaat setelah mereka berhasil mewariskan PT. Luragung Mas atas nama Enzo di depan notaris.




Tante Wahyana pun dipukuli dan diusir dari rumah dengan membawa kata-kata yang terus dibawa seumur hidupnya: Aku beri kamu satu permintaan.. Eh salah.. maaf… maksudku, “Aku beri kamu talak tiga!!!”




Demi keselamatannya, ia pergi ke Cirebon untuk tinggal dengan kerabat jauh di sana. Sedangkan Enzo diungsikan ke Bandung dengan harapan bahwa ibu dan anak itu akan hidup bersama di kemudian hari. Semua rencana ini tentu saja atas usul dan bantuan kakek dan nenek Enzo. Namun seminggu kemudian, kakek dan nenek Enzo meninggal dalam kecelakaan yang diduga karena sabotase. Jejak pun hilang, Tante Wahyana tidak berhasil menemukan Enzo setelahnya.




Tujuh tahun kemudian ia menikah dengan seorang juragan empang, duda beranak tunggal yang bernama Iban. Bersyukur Tante Wahyana bisa menemukan keluarga baru yang sangat baik dan penuh pengertian. Atas bantuan suaminya, ia selalu mencari Enzo meskipun hasilnya selalu nihil. Di kemudian hari, pencarian itu dilanjutkan oleh Iban dengan mengikuti petunjuk-petunjuk lisan dari Tante Wahyana.




Rasa khawatir dan rindu pada Enzo membuat Tante Wahyana sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal. Iban yang sudah menganggap wanita itu sebagai ibunya sendiri terus melanjutkan pencarian sampai ia bertemu Ariska yang menjadi titik awal penyelidikannya pada Enzo. Ia ingin membuat Bu Wahyana tenang dengan melaksanakan wasiat wanita itu untuk terus melakukan pencarian.




Lalu hubungannya antara Iban dan Tante Wulan? Ah.. mungkin suatu saat si Enzo akan menceritakannya. Aku tidak mau mendahului, daripada aku dipecat sebagai sahabat dan bisa gagal mendapatkan Yaning. Itu saja yang bisa gua sampaikan ke pemirsa, dan gua mohon readers semua jangan bilang ke Enzo kalau gua udah bilang-bilang ke kalian. Jangan lupa bahagia, dan semangat suwir selalu.








“Lalu apa rencanamu sekarang, sayang?” tanya Tante Puki setelah melepas pelukan. Ia menatapku sambil mengusapi air matanya.


“Aku ingin ziarah ke makam ibu, tapi sebelum itu aku ingin bertemu dengan si Rimasto dulu.” jawabku tanpa memberi embel-embel “ayah” pada nama yang kusebutkan.


“Caranya?” tanya sahabatku.


“Wulan!”




Keduanya mengangguk tanpa bertanya lagi, mereka sudah mengerti apa yang menjadi rencanaku.




Setelah saling diam selama beberapa saat, Ndul pun mulai membuat analisa dengan mengait-kaitkan hasil penyelidikannya dengan penemuanku. Kesimpulan semakin mengarah pada satu titik, suami Bu Wulan adalah ayahku.




“What?!!” aku dan Ndul bersamaan setengah berteriak.


“Heh? Kenapa?” Tante Puki tidak mengerti.




Aku dan Ndul saling liat, seolah sedang mencari tahu apakah yang kami pikirkan sama atau berbeda.




“Ariska!” aku dan Ndul lagi bersamaan.


“Kenapa Ariska? Apa hubungannya dengan Ariska?” Tante Puki semakin bingung.


“Apakah Iban cerita, Zo?” Ndul tak menggubris keheranan Tante Puki. Sahabatku mengusapi wajahnya pertanda bingung saat melihatku menggelengkan kepala.


“Tolong jelaskan.. Tante tidak mengerti.” Tante Puki memohon.


“Sorry.. waktu itu aku terlalu fokus pada cerita Iban tentang ibu sehingga membuat aku lupa tentang Ariska.” gumamku. Lalu aku menatap Tante Puki dan berujar, “Iban dan Ariska sama-sama mencariku, Tante. Sepintas motif pencarian mereka sepertinya berbeda, tapi tidak, mereka bekerjasama. Jadi siapa Ariska?”




Tik tok tik tok. Kami terdiam, dan berkecamuk dengan pikiran masing-masing.




“Kamu telpon Iban.” akhirnya Tante Puki menyampaikan usul.




Mendengarnya aku pun menggeleng. Kutatap kembali Tante Puki, “Tidak, Tante, aku akan mencari tahu melalui Ariska. Besok aku masuk kantor bareng kalian.”








https://t.me/cerita_dewasaa








Begitu aku memarkirkan mobil, seorang security langsung membukakan pintu samping tempat Tante Puki duduk. Anggukan dan sapa ramahnya langsung terhenti ketika melihatku yang sedang mematikan mesin mobil.




“Mas Enzo?!” ia masih heran dan kaget.


“Pagi, Pak.” jawabku sambil tertawa, pun pula Tante Puki. Ia turun dari mobil sambil tertawa.


“Ya ampun, Mas.” begitu aku turun ia langsung menyalamiku dengan ramah dan sopan.




Kami pun saling bertegur sapa, ia nampak senang bisa bertemu kembali. Seorang security lain yang melihatku pun langsung menghampiri dan menyalamiku.




“Udah.. udah… cukup kangen-kangenannya, kami kerja dulu. Ayo, Zo.” ujar Tante Puki sambil menyodorkan tas kerjanya.




Aku pun pamit pada kedua security yang dulu menjadi rekan nongkrong dan merokok di sela kesibukan kerjaku. Aku menggandeng tangan Tante Puki, sedangkan tangan satu menenteng tas kerjanya.




Raut-raut kaget langsung terpancar, namun sapa ramah kuterima setelahnya. Mereka tidak menyangka bahwa aku akan datang ke kantor hari ini.




Aku dan Tante Puki pun langsung naik ke lantai tiga, tempat ruangan kami berada. Beberapa direksi dan kepala bagian nampak kaget sekaligus senang melihat kehadiranku, salam-sapa hangat pun saling kami bagikan. Suasana lantai tiga langsung riuh karena kehadiranku. Ndul semakin meramaikan suasana dengan gaya khasnya yang penuh canda. Yeah.. semuanya tidak berubah. Suasana kantor masih seperti dulu, akrab dan penuh kekeluargaan, meskipun tekanan pekerjaan sangatlah tinggi.




Tanpa direncanakan, kami pun memasuki ruang meeting, dan aku memimpin rapat pimpinan secara singkat. Setelah mendengar laporan, aku pun memberikan beberapa pengarahan, bergantian dengan Tante Puki dan Ndul. Sejam kemudian kami pun bubar, menuju ruangan masing-masing.




“Ini bro.” ujar Ndul ketika tiba di ruangan Tante Puki yang besar.




Tiga map ia sodorkan, isinya adalah dokumen yang sudah dibubuhi meterai, tinggal kutanda tangani.




“Thanks.” singkatku dan meletakan map tersebut di atas meja.




Nampak Tante Puki sedang memberikan beberapa petunjuk kepada sekretaris pribadinya. Setelah gadis itu pergi, kami pun duduk bertiga di atas sofa dan ngobrol ringan.




“Semalam gua udah mikir ulang.. Kehadiran Ariska di perusahaan kita sepertinya tidak ada kaitannya dengan persaingan bisnis antara kita dengan perusahaan ayahnya.” ujar Ndul sambil memperdalam duduknya pada sandaran sofa.


“Jadi apakah rencana kita untuk memutasi Ariska ke kantor cabang tetap kita jalankan?” tanya Tante Puki.


“Zo?” Ndul malah menatapku.


“Kita putuskan setelah aku ketemu dia.” jawabku.




Ndul dan Tante Puki pun mengangguk setuju, dan obrolan beralih pada beberapa rencana berkaitan dengan Bu Wulan. Bagaimana pun akan sulit bagiku menemuinya karena semenjak kejadian malam itu di angkringan kami benar-benar putus kontak.




Tok tok.




Terdengar ketukan pada pintu, dan sosok sekretaris Tante Puki kembali muncul setelah dipersilakan masuk oleh bossnya.




“Maaf, Pak Gandul ditunggu di ruang meeting. Klien kita sudah datang.” ujarnya.


“Thanks, Ras.” jawab Ndul.




Gadis bernama Raras itu mengangguk sopan lalu permisi meninggalkan ruangan, sedangkan Gandul berdiri untuk menemui klien.




“Nanti malam kita ketemu, abis meeting gua langsung keluar untuk ngajak klien kita makan siang.” ujar Ndul dan aku pun mengangguk.




Tante Puki masih menyampaikan beberapa hal sebelum Ndul pergi, setelah sepakat, barulah ia meninggalkan ruangan.




“Kita liat ruanganmu yuk.” sepeninggalan Ndul, Tante Puki mengapit lenganku menuju pintu tembus antara ruangan Tante Puki dan ruanganku. Begitu pintu terbuka, aku langsung mengamati seisi ruangan yang tak kalah luasnya dengan ruang kerja Tante Puki. Mejaku masih tertata rapi dan tidak ada sedikit pun dekorasi atau pun pernak-pernik yang bergeser dari tempatnya.


“Gak berubah.” gumamku sambil menyapu pandangan.


“Iyalah, Tante tidak akan merubah apapun, agar bisa tetap merasakan kehadiranmu.” ujar Tante Puki.




Aku pun terharu mendengarnya, langsung saja aku memeluknya dari belakang. Tanganku melingkar pada perutnya yang besar. Ia menengok dan sorot mata kami beradu sambil berbagi senyum. Kusosor bibir merahnya, namun ia menghindar sehingga ciumanku jatuh pada pipi halusnya.




“Udah ah.. jangan khilaf lagi.” wajahnya bersemu merah.




Aku terkekeh getir sambil mengingat kejadian semalam, ketika kami tidak bisa saling menahan diri lagi. Aku dan Tante Puki bergumul penuh birahi sampai tengah malam, dan masih dilanjutkan tadi pagi sambil mandi bersama.




Aku yang tergiur oleh kecantikan Tante Puki tidak peduli, kuputar tubuhnya dan kutangkup kedua pipinya lalu kukecup bibirnya. Kami pun berpagutan lembut.




“Ezo.. udah aaah…” Tante Puki memelas dan melepas ciuman ketika aku berusaha memasukan lidahku ke dalam mulutnya.




Ia langsung memelukku untuk meredakan rangsangan gairah yang sempat kulancarkan. Kami saling dekap tanpa kata. Tak lama berselang, Tante Puki kembali ke ruangannya dan mulai larut dalam pekerjaannya di depan komputer, sedangkan aku duduk di atas sofa ruang kerjaku sambil memeriksa beberapa berkas laporan. Aku juga memeriksa laporan dari divisi tempat Ariska berada dengan sangat detail. Aku sama sekali tidak menemukan keganjilan, progressnya malah terlihat baik dengan grafik menaik.




Tok tok.




Terdengar ketukan pada pintu. Kulirik jam tangan, sudah menunjukkan jam 11.30; orang yang kutunggu sudah datang, tepat waktu sesuai permintaanku pada pimpinannya.




Dadaku langsung berdebar, grogi tiba-tiba menyelimuti perasaanku. Telapak tanganku sedikit dingin. Aku segera beralih pada kursi di balik meja kerjaku, ketukan kedua pun terdengar.




“Masuk.” ujarku sambil berusaha bersikap tenang.




Pintu pun terbuka, dan wajah cantik langsung muncul. Sejenak aku tertegun melihat paras cantik Ariska sambil menunggu reaksinya.




“Selamat pagi, Ka. Eh maaf.. Pagi, Pak Enzo.”




Harusnya dia yang terkejut atas keberadaanku di ruangan ini, tetapi justru malah aku yang terperangah. Harusnya ia terbelalak saat tahu bahwa akulah direktur utama di perusahaan ini, tapi yang terjadi justru aku yang heran dan kaget. Ariska nampak tenang dan bahkan menyapaku dengan nama asli.




Kupret!!! Mana BERSAMBUNG lagi…



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar