BAB 26
Aku duduk di depan laptop pada meja kerjaku di dalam kamar. Sengaja kubuka jendela lebar-lebar agar bisa melihat suasana di angkringan. Aku sudah mengabarkan kepada Ndul tentang perjumpaanku dengan Mbah Nawi. Kupretnya ia malah memutuskan untuk datang weekend depan dengan alasan untuk membicarakan langkah selanjutnya, padahal kuyakin bukan itu alasan utama Ndul, melainkan karena ingin bertemu dengan Yaning.
“Ini kopinya, Mas.” Yaning muncul dari luar jendela dan menyodorkan kopi yang kupesan.
“Yaniiing… kok kamu ngasih kopinya lewat jendela? Gak sopan tahu!!” terdengar suara Bu Ningnung.
“Ih ibu apaan sih? Mas Katanya aja gak protes.” sahut Yaning.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, lalu kuterima cangkir dari tangan Yaning.
“Makasih, Ning.”
“Sama-sama, Mas, aku lanjut kerja dulu ya.”
“Eh Ning.. bentar…”
“Apa, Mas?”
“Kamu kalau goreng ikan suka digaruk dulu gak sebelumnya?”
“Hahaha… Mas Kata ngomong apaan sih? Aneh deh, masa ikan digaruk, emangnya gatel?!!” Yaning tertawa keras membuat beberapa pengunjung angkringan melirik ke arahnya, dan teguran Bu Ningnung pun terdengar kembali.
“Yowes.. aku cuma ingin tahu aja, hehehe…” aku terkekeh. Fix bahwa gadis ini bukanlah gadis yang dijodohkan almarhum kakek. Jadi aku tidak perlu susah payah menikung Ndul untuk mendapatkannya.
Kututup bar file yang berisi laporan perusahaan, dan nampaklah wajah manis Tante Puki pada wallpaper laptopku. Tanpa sadar tanganku bergerak dan mengusap bibir manisnya, rinduku padanya menyeruak kembali. Cukup lama aku memandang fotonya sambil mengenang seluruh perjalanan indah selama ini.
Aku sadar bahwa ia adalah wanita hebat yang telah mendidik dan membesarkanku, tapi aku juga sadar bahwa aku telah benar-benar jatuh cinta padanya. Entahlah.. mungkin karena kehilangan sosok ibu yang membuat aku menyayangi wanita yang usianya lebih tua dariku ini. Sejujurnya aku mulai sadar bahwa aku memang harus mengikhlaskannya. Ia punya pilihan dan aku harus menghormati keputusannya. Aku juga tahu bahwa apa yang kami lakukan di belakang Om Toyski adalah salah, walaupun aku sendiri tidak bisa menyalahkan perasaan yang datang dan perginya tak bisa kuminta.
“Kau bersama dia, aku bersama doa.” lirihku sambil menutup laptop.
Aku mencoba mengalihkan rasa perihku dengan pikiran bahagia bahwa aku akan segera punya keponakan. Kuseruput kopi seduhan Yaning sambil memikirkan beberapa rencana ke depan berkaitan dengan pengembangan angkringan dan juga pencarian atas jejak orangtuaku.
Tak terasa malam pun semakin beranjak, dan angkringan sudah tutup. Nampak Bu Ningnung dan Yaning sedang membereskan sisa makanan, sedangkan kedua pelayan membereskan meja dan kursi. Aku segera keluar kamar untuk membantu mereka, sekali-kali aktivitas kami diselingi canda dan tawa. Bahkan Gino dan Supra, pegawai kami sudah tidak lagi sungkan dan sudah bisa menyesuaikan diri sebagai bagian dari kami layaknya keluarga.
Tak berselang lama, keduanya pamit sedangkan kami bertiga duduk di ruang keluarga. Yaning rebahan sambil main hape, senyumnya terulas, sepertinya ia sedang chatting dengan Ndul; sedangkan aku membantu Bu Ningnung menghitung uang dan beberapa nota.
“Alhamdullilah kita mendapat untung banyak hari ini.” ujar Bu Ningnung.
“Asiiik… kita bisa jalan-jalan donk.” sahut Yaning.
“Husssh kamu itu.” Bu Ningnung memelototinya anaknya.
“Eh.. Yaning bener, Bu. Kita gak bisa kerja terus, sekali-kali kita juga perlu istirahat dan refreshing.” aku menyahut, membuat Yaning senang dan memeletkan lidah pada ibunya.
“Mulai bulan depan, angkringan tutup setiap senin aja agar ibu dan Yaning punya waktu istirahat. Masa mau buka tiap hari.” aku menyampaikan ideku.
“Tapi, Nak..”
“Udah.. ibu tenang aja. Kita tidak akan menjadi miskin gara-gara tutup sehari.” aku memotong sambil tersenyum.
“Asiiiik…” seru Yaning. Sikap riangnya membuat ia lalai pada posisinya, celana dalamnya terlihat ketika kedua pahanya terbuka.
“Suwir, Ka.” si jahat pun berkata. Namun aku berhasil menepisnya, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Atau bahkan mungkin menjadi anakku jika… Oops!!!
“Yaudah kalau Nak Kata memutuskan begitu, ibu mah ikut aja.” ujar Bu Ningnung sambil memasukkan nota dan uang ke dalam kaleng bekas biskuit.
Kami masih ngobrol ringan beberapa saat lamanya sampai akhirnya Yaning pamit untuk mengerjakan tugas kuliah, sedangkan Bu Ningnung masuk kamar untuk mandi. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
Aku sendiri memilih untuk merokok di serambi belakang. Entah kenapa aku menjadi punya kebiasaan baru untuk menyendiri di belakang sambil mengamati pohon sawo yang penuh kenangan.
“Belum tidur, nak?” lamunanku buyar.
Bu Ningnung sudah berdiri di sampingku, badannya nampak sudah segar selepas mandi, aroma sabun dan shampoo pun tercium. Lama juga rupanya aku tercenung, pikirku.
“Belum ngantuk, bu.” jawabku sambil geser, dan Bu Ningnung pun duduk di sampingku. Kulirik gelembung payudaranya dari samping, nampak menggunung di balik daster rumahan yang ia kenakan. Payudara yang tadi siang mungkin ia remas sendiri sambil membayangkanku mencumbunya.
“Duh.. Bu, ibu ternyata nakal juga. Aku siap mewujudkan fantasimu, Bu.”
“Masih mikirin Poetry?” tanyanya lembut.
“Nggak kok, bu.”
Tik tok tik tok.
Sejenak kami saling diam dengan tatapan jauh ke depan, entah apa yang sedang dipikirkannya. Di pihakku, jelas aku membayangkan Bu Ningnung menggeliat-geliat sambil menyentuh kemaluannya sendiri. Pikiran ngeresku sukses membuat kemaluanku bergetar dan bangun dari tidurnya.
“Tadi gimana?”
“Maksud ibu?”
“Mbah Nawi. Apakah Nak Kata menemukan petunjuk?”
Aku membalas tatapan Bu Ningnung yang sedang melirikku, perasaanku langsung berdesir menatap wajahnya yang tanpa pulasan makeup . Kecantikan alaminya terpancar, aura wanita paruh baya yang khas dan menggoda.
“Mbah Nawi itu ternyata sahabat kakekku, Bu, dan ia banyak tahu tentang keluargaku. Tapi sekarang aku malah bingung harus memulai pencarianku dari mana.”
Aku pun menyandarkan dudukku lebih dalam sambil menyelonjorkan kedua kaki di bawah meja. Kini kepalaku tepat sejajar dengan bahunya sehingga aku bisa lebih leluasa mengintip payudaranya dari samping tanpa terciduk.
Tanpa diminta, aku pun menceritakan obrolanku dengan Mbah Nawi tanpa ada yang kututupi. Hanya aku masih ragu untuk membuka rahasia identitasku pada wanita ini.
“Ibu sendiri tidak tahu harus membantu Nak Kata seperti apa, tapi ibu punya dua telinga untuk selalu mendengarkan Nak Kata, selain doa tentu saja.” lirihnya bijak ketika aku mengakhiri ceritaku.
“Makasih, Bu, justru itu yang kubutuhkan. Eh Bu…” tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Iya, Nak?”
“Ibu kalau goreng ikan gatul digaruk dulu gak, Bu?”
“Hah? Hihi… Nak Kata aneh-aneh aja pertanyaannya. Masa ikan digaruk?” Bu Ningnung terkekeh pelan, tangannya bergerak untuk mencubit pahaku namun sepertinya keburu sadar dan mengurungkan niatnya.
“Hehe.. ya siapa tahu, Bu.” jawabku sambil melihat goyangan payudaranya melalui sudut mata.
“Mungkin maksud Nak Kata disisik pake pisau kali ya, bukan digaruk hihi…” ujarnya lagi.
“Nah itu, Bu, maksudku digaruk pake pisau.”
Kami pun sama-sama tertawa, dan aku yakin tidak mungkin kakekku menjodohkanku dengan Bu Ningnung. Guncangan tawa Bu Ningnung membuat tubuhnya sedikit miring, dan bahunya menyentuh pipiku. Aroma sabun mandi pun kembali tercium.
Bu Ningnung masih belum sadar ketika aku memindahkan tanganku pada bibir kursi panjang yang kami duduki, plek apa yang kumau terjadi, telapak tangannya menyentuh punggung tanganku. Dengan cepat aku menggenggamnya lembut, Bu Ningnung pun terkejut namun sepertinya tidak berusaha menolak.
Sisanya kami hanya saling diam, tanpa kata - tanpa ucap, tiada obrolan. Satu yang pasti, tangan kami tetap bertautan sambil sekali-kali saling meremas lembut.
https://t.me/cerita_dewasaa
Setelah menutup laptop, kurentangkan tanganku untuk membuang rasa pegal. Aku baru saja memimpin rapat direksi melalui saluran skype. Ada beberapa persoalan yang harus dibereskan sehingga pembicaraan kami memakan waktu hampir dua jam. Dibukanya Bandara Kertajati dan tersambungnya jalur tol Jakarta-Surabaya menjadi peluang besar bagi kami untuk mengembangkan sayap bisnis di beberapa kota di Pantura. Kami baru saja memenangkan proyek besar di Cirebon dan Majalengka, tetapi juga kalah oleh Mantili Coorperation di beberapa titik strategis di Karawang dan Purwakarta. Perusahaan milik orangtua Ariska itu masih terlalu raksasa untuk kami kalahkan.
Ada strategi yang hendak aku jalankan tanpa sepengetahuan direksi yang lain, dan itu tentu saja atas dukungan Tante Puki dan Ndul, yaitu mempromosikan Ariska pada jabatan yang akan bersinggungan langsung dengan lawan-lawan bisnis kami. Aku ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan kalau ia berhadapan dengan perusahaan ayahnya. Tentu saja kami tidak akan membiarkannya begitu saja, diam-diam kami akan mengontrolnya secara ketat.
Aku ingin balas dendam pada Rudy Fang Fuk dengan menggunakan orang dalam, yaitu anaknya sendiri. Jahat! Apakah ada dendam yang baik??! Alasan cuti hamil yang akan Tante Puki jalani ke depannya, menjadi momen yang pas untuk mempromosikan Ariska pada jabatan strategis. Ndul dan beberapa orang kepercayaan yang kami rahasiakan akan menjadi tulang punggung perusahaan yang menjadi pelaksana utama harian, sedangkan aku tetap bersembunyi dengan menyamar sebagai pengusaha kecil angkringan. Tidak salah aku mengubah nama menjadi Rakata, karena bisa dipelesetkan menjadi ra kethok (tidak terlihat).
Kubuka jendela kamar, dan sapaan riuh ibu-ibu yang sedang menjajakan dagangan langsung menyambutku. Aku pun membalas sambil sekali-kali menggoda mereka, dan terlihat Bu Ningnung nampak cemberut. Cemburukah? Ah yasudahlah, biar pemirsa yang menilai.
Kini angkringan semakin ramai, selain menunya yang lezat, pengunjung juga merasa nyaman karena tempatnya yang luas dan enak dijadikan tongkrongan. Aku juga sudah memenuhi usul Pak Lurah dengan menyediakan spot khusus untuk para pemusik dengan tetap menggunakan konsep pengamen jalanan.
Ceklek.
Pintu kamarku terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu, nampaklah Bu Ningnung masuk sambil membawa piring berisi uli ketan kesukaanku, juga secangkir kopi panas yang aromanya langsung tercium.
Wanita itu sudah mulai terbiasa keluar masuk kamarku tanpa mengetuk, ia sudah tidak sungkan lagi sejak beberapa minggu terakhir.
“Makasih, Bu.” sambil memutar dudukku sehingga menghadap ke arah kedatangannya.
Ada sedikit senyum di sana, tanpa banyak kata ia mendekat dan meletakan baki di atas meja. Sigap aku menggenggam pergelangan tangannya, membuat Bu Ningnung melotot sambil memperhatikan ke arah luar jendela. Tentu saja yang di luar bisa melihat kami, tapi tidak tangan ini karena posisinya lebih rendah.
Aku tetap bertahan tanpa melepaskan tangannya, sedangkan Bu Ningnung berusaha melepaskan sambil melangkah menjauh. Aku pun tertarik dan akhirnya berdiri mengikutinya menjauh dari jendela.
“Nak, jangan…” pelannya sambil tetap melihat ke arah jendela.
Tanpa menjawab, aku malah menariknya ke samping lemari sehingga tubuh kami sedikit terlindung, langsung kepeluk erat tubuhnya. Tolakannya hanya sebentar, Bu Ningnung pun akhirnya membalas dengan sorot mata tetap tertuju ke arah luar.
Kueratkan pelukan sehingga buah dadanya semakin tertekan, sungguh terasa kenyal dan besar. Bu Ningnung tengadah menatapku dengan wajah bersemu merah. Aku kembali tersenyum dan mengecup keningnya tipis. Kutatap wajah cantik Bu Ningnung lalu kukecup kedua matanya yang terpejam.
Beginilah kami.. sejak kejadian berdua malam itu di serambi belakang. Kami menjadi lebih sering curi-curi kesempatan untuk bermesraan secara kilat. Awalnya hanya saling sentuh tangan, mulai berani mengecup pipi, dan akhirnya lebih berani lagi dengan saling berpelukan. Satu hal yang pasti, ia masih menolak ketika aku ingin mencium bibirnya.
Meski begitu, kami tidak pernah saling mengutarakan perasaan masing-masing. Bu Ningnung selalu menolak dan mengalihkan pembicaraan ketika aku mulai berbicara yang menyerempet ke arah hubungan kami. “Ibu malu, sudah tua,” selalu itu yang menjadi alasannya.
Namun lain kata, lain sikap. Ia tidak menolak ketika aku memeluk atau menciumnya seperti ini. Ketika aku tidak menyentuhnya karena sibuk oleh pekerjaan kantor atau pun urusan angkringan, ia sendiri malah seolah mencari kesempatan untuk berdua, seperti halnya kali ini yang membawakan kopi dan uli tanpa kuminta.
Perlakuan lembutku membuat Bu Ningnung semakin mengeratkan pelukan, wajahnya mendongak dengan bibir sedikit terbuka. Kutatap gemas sambil menelan liur, aku bimbang antara mengecupnya atau tidak. Aku tidak tahan.. bibir itu terlalu seksi untuk kulewatkan. Aku pun merunduk sehingga nafas hangat kami beradu.
Bu Ningnung yang merasakan terpaan nafasku langsung membuka mata, dan urat wajahnya menjadi kaku. Ia seperti sedang berperang antara takut dan ingin. Sebelum ia melakukan penolakan, segera aku mendekat dan mengecup bibirnya dengan cepat. Sangat lembut kurasakan, meski tanpa balasan.
Bu Ningnung menggelinjang dan berusaha menghindar, tapi aku sudah ketagihan, kukecup lagi.. lagi dan lagi… Bu Ningnung pun akhirnya membalas. Maka kecupan kecil berubah menjadi kuluman. Aku senang karena hubungan kami sudah melangkah lebih jauh, Bu Ningnung sudah mau menerima ciuman bibirku.
“Mmmh…” ia seperti mau mengatakan sesuatu sambil menarik bibirnya, tapi aku terus mengejarnya karena tak ingin ciuman ini berakhir. Bahkan lidahku mulai memasuki celah bibirnya, membuat Bu Ningnung pasrah. Ia sudah terbawa permainan yang kuberikan, gairahnya mulai bangkit. Mulutnya terbuka untuk menyambut lidahku.
Tubuh Bu Ningnung sedikit bergetar ketika ujung lidah kami bersentuhan dan…
Bruuuk!!!
Aku terperanjat dan langsung menengok ke arah datangnya suara dengan nafas tersengal. Bu Ningnung langsung melepas pelukan dan mundur beberapa langkah, wajahnya nampak pucat pasi.
“Haiiiisssh…” aku menghela nafas sambil menyandarkan punggung pada pintu lemari.
Bu Ningnung memanyunkan bibirnya sambil sibuk menata rambut dan kebayanya, lalu buru-buru meninggalkanku.
Jendela sialan!! Tiupan angin membuat jendela itu tertutup, dan mengganggu kemesraan kami. Kuputuskan untuk sekalian menguncinya karena aku hendak mandi, sebentar lagi angkringan akan segera buka.
Usai mandi aku langsung keluar dan menemani Bu Ningnung di meja kasir, dan ia menyambutku dengan wajar seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Beberapa ibu-ibu masih belum pulang dan lebih memilih ngobrol di bagian dapur sambil menggosip. Sedangkan Gino dan Supra sudah bersiap di belakang makanan yang dijajakan.
Tak berselang lama keriuhan terjadi dengan munculnya "empal kendang" yang siap meramaikan angkringan dengan musik mereka. Mereka beranggotakan lima orang. Setelah bertegur sapa, kami pun mulai fokus pada tugas masing-masing, dan angkringan pun mulai beraktifitas normal seiring datangnya beberapa pengunjung yang hendak makan. Tanpa banyak yang tahu, sekali-kali tanganku dan Bu Ningnung saling bersentuhan dan saling meremas. Aku senang karena Yaning tidak ada, ia sedang mengerjakan tugas di rumah temannya.
Tepat jam enam sore, Mbok Saritem datang. Wanita berusia enam puluh tahun itu memang datang setiap hari untuk membatik. Ini juga menjadi daya tarik karena para pengunjung bisa belajar sejarah dan ilmu batik darinya. Selain foto bersama, para pengunjung juga dipersilakan untuk belajar membatik dengan memberikan sumbangan sukarela. Itu murni menjadi milik Mbok Saritem, selain gaji mingguan yang kuberikan.
“Aku nemenin si Mbok dulu,” ujarku pada Bu Ningnung sambil melewatinya dari bagian belakang. Entah sengaja atau tidak, Bu Ningnung sedikit mundur sehingga pinggul besarnya yang dibalut kain bergesekan dengan selangkanganku. Namun tangannya sigap menepis ketika aku hendak meremasnya.
"Sugeng sonten, Mbok.” sapaku pada Mbok Saritem.
"Sugeng sonten, den Kata.” balasnya ramah.
Dan aku pun ngobrol santai sambil memperhatikannya membatik.
“Mbok, katanya rumah ini juga dulu pabrik batik ya?” aku mulai memancing.
“Betul, den, sayang bangkrut. Dulu ibunya si mbok juga kerja di sini.” jawabnya.
Dan tanpa diminta ia bercerita tentang masa lalunya, terutama tentang tradisi membatik yang sebetulnya berpusat di tempat ini. Tidak banyak hal baru yang kudapatkan, beberapa cerita mirip dengan yang disampaikan oleh Mbah Nawi.
“Begitulah, den, orang kalau sudah tergoda perempuan suka lupa daratan.” ujarnya ketika ia bercerita tentang juragan Rimasto Gelo, yang adalah ayahku.
“Jadi yang membuat pabrik batik bangkrut karena Juragan Rimasto selingkuh, ya Mbok?” aku mencoba mencari tahu lebih dalam lagi.
“Yang mbok dengar sih begitu, sampai-sampai ia meninggalkan istrinya, dan hidup berfoya-foya.” jawabnya tanpa curiga.
“Emang nama istrinya siapa, mbok.”
“Wahyana Wysata.”
“Lalu sekarang beliau di mana?”
“Mbok ndak tahu nasibnya, tapi menurut cerita dari kedua almarhum orangtua mbok, Nyi Wahyana ikut keluarganya ke Cirebon. Mbuh karena alasan apa, mungkin melarikan diri karena suaminya sangat kasar.”
Degh!!!
“Ibu ke Cirebon? Apakah beliau masih hidup?”
“Oh gitu toh ceritanya.” gumamku sambil memikirkan ucapan terakhir Mbok Saritem karena setahuku aku tidak memiliki keluarga di kota itu.
Obrolan kami terhenti ketika kulihat dua orang pria bertubuh kekar memasuki angkringan, tampang mereka sedikit mencurigakan dan penuh waspada. Kulihat Supra menyambut mereka namun keduanya menolak untuk duduk. Tak lama kemudian muncul dua orang gadis kecil sambil mengapit tangan ibunya, seorang wanita lain berpakaian putih mengikuti dari belakang. Aku langsung menduga bahwa kedua pria itu adalah pengawal sang wanita dan kedua anaknya, dan perempuan yang satunya adalah pembantu atau babby sitter.
Betul saja, kedua pria itu langsung menyiapkan tempat duduk untuk majikannya, dan yang membuatku terbelalak adalah wanita dan kedua gadisnya. Perasaanku langsung berdebar, dan aku tidak tahu apakah kedatangannya memang disengaja atau sekedar kebetulan.
“Saya tinggal dulu, Mbok, silakan dilanjut membatiknya.” pamitku pada Mbok Saritem.
“Iya, Den, monggo.”
Aku pun mendekati tamu yang baru datang.
“Selamat sore dan selamat datang di angkringan NeNeN.” sapaku ramah.
“Heiiii…” seruan kaget dan gembira wanita cantik itu langsung membuat kedua bodyguardnya yang semula waspada langsung bersikap tenang kembali.
“Kamu kok ada di sini?” sambutnya sambil menatapku heran.
“Hehe.. ada juga saya yang bertanya, kok Tante ada di sini?” balasku sambil mengulurkan tangan. Kami pun berjabatan dan dadaku berdesir ketika merasakan sentuhan halus jemarinya.
“Ya ampun.. gak nyangka kita bisa ketemu di sini. Sayang, kenalin nih Om Kata, tetangga kita di Bandung.” ujarnya pada kedua putrinya.
“Hai.. Om Kata.” aku mengulurkan tangan.
“Rena.”
“Meti, Om.”
Kami pun duduk berempat, sedangkan kedua bodyguard dan babby sitternya menjauh dan duduk di meja lain.
“Jadi ini angkringan kamu, Ka? Ya ampun.. gak nyangka deh, padahal tadi kami ke sini karena mendengar dari omanya anak-anak bahwa di sini ada angkringan yang enak.” serunya.
Aku yang sedang terpesona pada kecantikannya pun langsung mengerjap, dan berusaha bersikap wajar.
“Hehee.. iya, Tante. Maaf sejak bertemu di restoran waktu itu, saya belum menghubungi Tante. Tante sendiri ada acara di kota ini?” jawabku.
“Iyah, gakpapa. Nih Rena dan Meti kangen ama oma dan opanya, jadi berlibur deh kemari. Sekalian bernostalgia, kami sudah dua tahun tidak pulang kampung.” balasnya.
“Oh gitu.. papahnya kok gak ikut, dek?” aku menatap si bungsu Meti.
“Papah lagi di Surabaya, baru ke sini besok.” jawabnya polos.
“Lusa, dek, bukan besok.” sang kakak mengingatkan.
“Yaaah.. masih lama deh.”
Bu Wulan langsung memeluk anak bungsunya dan menjelaskan bahwa papahnya memang baru akan datan lusa sekalian menjemput mereka untuk pulang ke Bandung.
Setelah berbasa-basi aku pun mempersilakan Bu Wulan dan kedua putrinya untuk menuju sajian makanan dan aku menemani mereka sambil sedikit menjelaskan jenis makanan yang terhidang.
“Siapa?” sebuah pesan WA dari Bu Ningnung masuk.
“Tetanggaku dulu di Bandung. Cemburu ya?” balasku.
Tak ada jawaban setelahnya, kulihat wanita itu sedang menyibukan diri meskipun tak jarang ia mencuri lirikan ke arah kami.
Akhirnya aku pun menemani Bu Wulan dan kedua anaknya makan sambil ngobrol ngalor ngidul. Sikap Rena dan Meti yang menggemaskan malah membuat kami langsung bisa akrab. Si bungsu Meti malah bolak-balik mengambil makanan untuk kami, yeah.. mereka makan banyak malam ini, dan aku senang, karena menjadi pertanda bahwa menu angkringan cocok untuk lidah semua kalangan.
“Eh, Ka, besok pagi kamu kosong gak?”
“Kalau pagi sampai sore sih kosong, Tante, kenapa?” jawabku.
“Besok temani kami jalan-jalan yuk. Mau kan?”
“Iyah Om. Besok temani jalan-jalan yah?” si kecil menyela.
Sebetulnya aku cukup sungkan menyanggupi ajakan Bu Wulan karena aku takut tergoda oleh pesona kecantikannya, tapi permintaan Meti membuatku akhirnya mengangguk.
“Horeeee!!!” seru Meti, disambut senyum senang Bu Wulan dan Rena.
“Besok kami jemput ke sini atau gimana?” tanya Bu Wulan.
“Besok saya saja yang jemput.” tukasku.
“Yaudah nanti Tante WA alamatnya yah, aku masih menyimpan nomormu kok.”
“Iya, Tante.”
“Malam, Mas Kata.” obrolan kami terhenti ketika ada pemuda yang menyapaku.
Aku pun menengok ke arah datangnya suara dan aku langsung melambaikan tangan menyambutnya.
“Kamu?!!” tiba-tiba raut muka Bu Wulan berubah.
Jari lentiknya menunjuk ke arah tamuku dengan ekspresi marah. Melihat reaksi Bu Wulan, kedua bodyguardnya bereaksi cepat dan mendekat ke arah sosok yang menghampiri kami.
“Buuuuk!!!” genderang BERSAMBUNG pun terdengar.
Report content on this page
0 Komentar