BAB 25
Aku duduk di ruang tamu rumah Lurah Cintung setelah sebelumnya dibukakan pintu oleh Bu Kecup. Wajah wanita itu agak ditekuk dan senyumnya tidak seceria biasanya. Dan aku bisa menduga, ia begitu karena harus “puasa” disuwir Pak Lurah karena ayahnya sedang berkunjung dan menginap selama beberapa hari.
“Ibu tinggal dulu, ya Ka, tanggung sedang goreng tempe buat ke angkringan, sekalian ibu panggilkan dulu si Mbahnya.” ujar Bu Kecup setelah aku mengutarakan maksudku.
Aku pun memberikan senyumku sambil mengangguk. Kuhantar kepergian wanita itu sambil menatap pinggulnya, celana dalamnya tercetak di balik balutan daster rumahan yang ia kenakan. Kadang aku berpikir, apa Pak Lurah tahan menerima goyangannya secara beberapa kali ia mengeluh di angkringan bahwa encoknya sering kambuh.
Tak berselang lama seorang gadis cantik muncul sambil membawa baki berisi kopi dan rengginang. Aku terpana melihat parasnya yang cantik, payudaranya tidak terlalu besar tapi terlihat proporsional dengan tubuhnya yang ramping. Sepintas aku malah melihat gambaran Tante Puki di dalam dirinya, bedanya ia berpakaian sederhana ala gadis desa dan tidak memulas wajahnya dengan makeup.
“Adiknya Bu Kecup cantik juga.” batinku penuh kagum.
“Silakan diminum, Mas, kopinya. Maaf si Mbah lagi di jamban, sebentar lagi kemari.” sapanya ramah sambil meletakan cangkir dan toples di atas meja.
“Makasih, Mbak.” ujarku sopan, tapi mataku menatap bibirnya yang seksi dan merah alami. Tanpa sadar aku pun menelan air liur membayangkan enaknya melumat bibir itu.
“Saya Kata, Mbak.” aku berinisiatif memperkenalkan diri.
“Renda.”
Ia membalas uluran tanganku, halus kurasakan. Meskipun gadis desa, sepertinya ia tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar.
“Mbak Renda ke sini bareng Mbah Nawi?” tanyaku.
“Iya, Mas. Sudah lama kami tidak berkunjung.
Renda pun duduk di seberang meja untuk menemaniku, sikapnya yang nampak malu-malu membuat aku kian terpesona. Kedua tangannya nampak meremas ujung baki yang ia tumpangkan di atas pangkuan.
“Diminum, Mas, kopinya.” ia nampak salah tingkah karena tatapan mataku.
“Makasih.”
Aku pun meraih cangkir dan meniupi isinya, lalu kuseruput pelan seolah membayangkan sedang mengecup bibir Renda. Manis…!! Sejatinya aku tidak suka meminum kopi manis, tapi kali ini aku menyukainya karena diseduh oleh gadis manis.
“Renda… eh aku panggil Renda aja gak apa-apa, kan?” setelah melihat ia mengangguk aku pun melanjutkan pertanyaanku, “Renda masih sekolah, kuliah, atau kerja?
“Aku sih di rumah aja, Mas.” jawabnya sambil tersipu, sikapnya sungguh menggemaskan.
“Oh gitu.. gak ada niat kerja atau gimana gitu?” aku terus bertanya, dalam benakku langsung terbersit untuk menawarinya kerja di angkringan agar aku bisa mengenalnya lebih dekat.
Baru kali ini aku terkesan pada perempuan pada pandangan pertama, biasanya kesan pertamaku hanyalah mesum, tapi tidak kali ini
“Mau sih, Mas, tapi aku gak dibolehin ama si Mbah.” jawabnya.
“Oh gitu? Renda anak bungsu yah?”
Renda pun mengangguk pelan. Sial dia hanya menjawab pertanyaanku singkat-singkat, sehingga kesannya aku sedang menginterogasinya.
“Emangnya Bu Kecup kakak nomor berapa?” tanyaku lagi.
“Eh dia…”
Belum juga Renda menjawab, tiba-tiba muncul seorang kakek dari ruang tengah. Langkahnya pelan sambil berpegangan pada tongkat kayu. Aku pun berdiri menyambutnya, diikuti oleh Renda yang membantu si kakek menuju tempat duduk.
“Selamat siang, Mbah.” aku mengulurkan tangan.
“Siang.” singkatnya sambil menatapku tajam, ia mengamati penampilanku dari atas sampai bawah.
“Saya Kata, Mbah, Rakata.” aku memperkenalkan diri sambil menjabat tangannya yang keriput.
“Nawi.”
“Silakan dilanjut ngobrolnya, saya ke belakang dulu.” pamit Renda sambil mengangguk sopan.
Aku pun tersenyum sambil mengangguk, walau di dalam hati kecewa karena tidak bisa lagi memandang paras cantiknya. Aku menghantar kepergian gadis itu dengan sorot mataku, kuperhatikan goyangan pinggulnya yang sekal, dan juga rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai.
“Ehem…” Mbah Nawi berdehem, membuat aku gelagapan dan buru-buru mengambil cangkir dan pura-pura minum.
“Ada perlu apa Le, nyari Mbah?” tanya Mbah Nawi.
Aku tidak keberatan mendengar pertanyaannya yang tanpa basa-basi, tapi aku cukup risih melihat sorot matanya yang seolah sedang menyelidiku.
“Ehem.. gini Mbah, pertama sebagai warga baru saya hendak silaturahmi kepada Mbah secara Mbah pernah menjadi sesepuh di sini. Yang kedua…” aku mengawali percakapan.
“Kamu anak siapa?” Mbah Nawi memotong.
“Eh..” aku cukup kaget menerima perlakuan kurang ramahnya.
“Orangtua saya asli keturunan sini, Mbah.”
“Yang Mbah tanya, kamu anak siapa?”
“Ayah saya Rimasto Gelo, Mbah. Dan ibu saya bernama Wahyana Wysata.”
“Hmmmm.”
Mbah Nawi hanya bergumam sambil memperdalam duduknya pada senderan kursi. Kelopak matanya yang berkerut dan menggelayut menjadi lebih kencang karena ia memicingkan mata menatapku. Kulihat beberapa kali Mbah Nawi menghembuskan nafas, dan pandangannya berubah kosong seolah sedang menerawang atau mengingat sesuatu.
“Mbah kenal orangtua saya?” aku memberanikan diri bertanya.
“Sekarang ayahmu di mana?” Mbah Nawi malah balik bertanya sambil menatapku penuh selidik.
Aku menarik nafas panjang beberapa kali sambil menimbang-nimbang dari mana aku harus memulai cerita. Aku juga mencoba mengingat wajah kedua orangtuaku, juga beberapa kenangan yang masih tersimpan.
“Saya tidak tahu mereka ada di mana, Mbah. Saya juga tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak. Saya datang dan kembali ke kota ini, justru untuk mencari tahu tentang mereka.”
“Mbah paham, Le.” kali ini suara Mbah Nawi terdengar pelan penuh simpati, sedangkan aku hanya terdiam sambil menatap sosoknya.
“Siapa nama kakekmu, Le?”
“Rezo, Mbah, Rezo Kusumawardana Wiryo. Itu pun saya tahu dari warisan yang beliau tinggalkan, sedangkan saya tidak terlalu ingat sosoknya. Kalau tidak salah, terakhir saya bertemu kakek adalah ketika saya belum sekolah, setelah itu tidak pernah bertemu lagi.”
“Jadi si Rezo sudah berhasil menyelamatkan sebagian hartanya dan menjalankan rencananya dengan mewariskannya padamu.” lirih Mbah Nawi. Tentu saja aku terkejut mendengarnya, karena ia kenal dengan kakekku.
“Kakekmu itu adalah sahabat mbah sejak kecil. Mbah tahu kalau kamu adalah satu-satunya cucu sekaligus menjadi cucu kesayangannya.” Mbah Nawi seakan menangkap keherananku. “Sekarang mbah percaya bahwa kamu adalah cucunya si Rezo. Tapi kenapa namamu menjadi Rakata?”
Keterangan Mbah Nawi tentang kedekatan kakek membuat aku tidak takut membuka rahasiaku di hadapannya. Kuceritakan kembali alasanku datang ke kota ini sekaligus penyamaran yang kulakukan. Kusampaikan pula bahwa aku adalah boss sebuah perusahaan property warisan kakek.
Mbah Nawi nampak tersenyum senang ketika mendengar bahwa warisan kakek memang jatuh kepadaku, namun tak lama kemudian raut mukanya kembali berubah, ia nampak sedih.
“Dulu kakekmu adalah pengusaha batik, dan rumahmu yang sekarang, dulu adalah tempat pembuatan batik terbesar di kota ini.” ujar Mbah Nawi sambil menyandarkan duduknya dan sorot matanya menatap kosong ke atas langi-langit.
“Sukses di bidang batik, ia mengembangkan usahanya di bidang property, dan sampai membuka cabang di Semarang dan Bandung. Namun semuanya berubah karena ketamakan ayahmu.” papar Mbah Nawi.
Mbah Nawi pun memaparkan bahwa ayahku adalah seorang yang sangat keras dan ambisius. Setelah berhasil membujuk kakek supaya memimpin perusahaan, ia bersikap semena-mena. Ayah bergaul dengan orang-orang dan para pengusaha yang salah, sehingga ia banyak dimanfaatkan orang. Perlahan tapi pasti pabrik batik mulai bangkrut karena uangnya dipakai foya-foya, dan perusahaan properties gulung tikar karena ditipu kolega. Kakek hanya berhasil menyelamatkan PT. Luragung Mas yang berpusat di Bandung.
Dadaku cukup sesak mendengarnya, aku tidak menyangka bahwa ayahku seperti itu. Kini di dalam kepalaku bertebaran banyak tanya, tentang siapa yang telah menghancurkan perusahaan keluarga, tentang keberadaan ibu, tentang kakek atau ayahnya Ariska.
“Maaf, Mbah, kalau saya lancang, tapi kenapa aku dititipkan pada adiknya kakek? Kemana orangtuaku?”
Mbah Nawi menatapku penuh simpati, ada segurat senyum di balik wajah tuanya, meskipun itu bukan senyum bahagia.
“Peristiwa itu dimulai sejak ibumu hilang tanpa jejak, dan sampai sekarang kami tidak tahu keberadaan dan nasibnya. Kakekmu yang mencium ada yang tidak beres langsung menghubungi adiknya di Bandung untuk menitipkan perusahaannya di kota itu dan supaya ia menjaga kamu, satu-satunya cucu kesayangannya. Mbah sendiri yang mengantar kamu ke Bandung saat itu…”
“…” kelopak mataku mulai terasa panas, sedih dan amarah bercampur menjadi satu.
“Seminggu kemudian, kakek dan nenekmu meninggal ketika sedang dalam perjalanan ke Surabaya karena kecelakaan tunggal, dan kami para sahabatnya menduga bahwa itu adalah sebuah sabotase, meskipun kami sendiri tidak bisa membuktikannya.”
“…” kini bola mataku mulai berlinang mendengarnya.
“Mungkin kamu bertanya di mana ayahmu? Yeah.. sejak kakek dan nenekmu meninggal, ayahmu menjual rumah lalu pergi ke Surabaya. Sejak itu, Mbah tidak pernah mendengar kabarnya lagi.” Mbah Nawi mengakhiri kisahnya.
“Maaf, Mbah, apakah sang pembeli rumah, orangtua Bu Ningnung, terlibat dalam semuanya ini?” aku menyampaikan rasa penasaranku sambil mengusap jentik air mata.
“Kalau itu, Mbah yakin kalau ayahnya si Ningnung yang bernama Anggar Besut tidak terlibat. Tapi kamu harus hati-hati dengan anak pertamanya yang bernama Rudy Fang Fuk. Kalau tidak salah ia juga tinggal di Bandung.” jelas Mbah Nawi.
Nafasku langsung tersengal ketika mendengar nama ayahnya Ariska disebut. Hasil penyelidikan Ndul dan informasi yang kudapatkan dari Mbah Nawi membuatku semakin yakin bahwa ayahnya Ariska terlibat dalam kasus menghilangnya orangtuaku, dan bukan tidak mungkin kalau dia juga terlibat dalam kasus kecelakaan yang dialami oleh kakek dan nenek.
“Makasih, Mbah, informasi Mbah sangat membantu dalam proses pencarian jejak ayah dan ibuku. Yeah.. meskipun saya sendiri belum tahu harus memulai dari mana.” gumamku sambil menatap tulus pria di hadapanku ini.
“Kalau Mbah sih menyarankan, kamu tetap menyembunyikan identitasmu untuk melindungi kamu dari orang-orang yang mungkin pernah terlibat dalam kasus ini. Tapi kalau kamu mau jujur pada si Ningnung, mbah yakin dia bisa dipercaya, dan mungkin malah bisa membantumu.” Mbah Nawi memberi saran dan aku mengamininya dengan mengangguk.
Obrolan pun mulai beralih ke hal-hal yang lebih ringan. Mbah Nawi banyak bernostalgia tentang masa mudanya, dan juga kedekatannya dengan kakekku. Sedangkan aku sekali-kali menjawab pertanyaannya dengan bercerita tentang kehidupanku sejak dirawat dan dibesarkan oleh orangtua Tante Puki dan akhirnya wanita itulah yang menjagaku sejak orangtuanya meninggal.
Aku sangat berterima kasih kepada Mbah Nawi yang membuat pencarianku mulai menemukan titik terang. Kenyataan bahwa Mbah Nawi adalah sahabat kakek, dan juga sikapnya yang sangat baik, membuat semangatku bangkit kembali. Aku seolah menemukan sosok kakek di dalam dirinya.
“Kamu udah punya pacar, Le?” tanya Mbah Nawi.
“Baru putus, Mbah. Mantanku lebih milih lelaki lain. Hehe…” aku menjawab jujur.
“Wah.. berarti kamu kurang jago menaklukan hati perempuan. Hehe..” Mbah Nawi terkekeh.
“Sebetulnya…” kali ini ia menatapku. “Kakekmu sudah menjodohkanmu dengan seseorang, tapi anak perempuan itu entah di mana sekarang.”
“Hah? Siapa, Mbah?” aku terkejut mendengarnya.
“Kamu tahu salah satu iwak gatul (ikan gatul), kan?” Mbah Nawi balik bertanya.
“Iya, tahu Mbah.”
“Pada suatu subuh, ada seorang gadis kecil pergi ke pasar karena disuruh ibunya membeli ikan. Karena masih kecil, ia menyebut ikan itu bukan gatul tapi gatel. Anak itu berkata kepada si penjual: Ikannya sekilo, Pakle.
Dan dijawab oleh si penjual: Ikan apa, neng?
'Gatel."
"Kalau gatel, garuk sendiri aja, nduk!" goda si penjual.
"Maksudku arep tuku iwak gatel, Pakle."
"Kamu yang gatel, atau ikannya yang gatel?"
"Tidak dua-duanya, Pakle, aku beli ikan gatel sekilo.
"Nih.. jangan lupa kamu garuk dulu ikannya sebelum digoreng.”
Mbah Nawi malah bercerita, aku mencoba tertawa walaupun cerita Mbah Nawi tidak lucu, dan aku masih bingung apa hubungannya denganku.
“Lapak ikan itu punya mbah, dan kamu tahu siapa penjual ikan itu? Dia adalah kakekmu yang saat itu sedang nongkrong di sana.”
“Lalu hubungannya dengan perjodohanku apa, Mbah?” aku masih belum mengerti.
“Kamu harus mencari gadis yang biasa menggaruk ikan terlebih dahulu sebelum digoreng. Hahaha… Karena dia adalah jodohmu.”
“Waduuuh..!!!”
Kami berdua pun tertawa, sepertinya Mbah Nawi sedang bercanda dan aku pun tidak menanggapinya dengan serius.
Setelah tawa kami reda, aku pun memutuskan untuk pamit. “Baik terima kasih, Mbah, atas ceritanya. Saya mau permisi dulu, kalau Mbah berkenan, silakan nanti sore mampir ke angkringan kami di sebelah.” Sengaja aku berbicara agak keras agar didengar oleh Renda, siapa tahu ia akan menemuiku sebelum pulang.
“Iya, Le, ingat carilah gadis penggaruk ikan!” jawabnya sambil terkekeh.
“Iiiya, Mbah. Makasih…” aku pun kembali terkekeh dan langsung berdiri untuk pulang.
Mbah Nawi ikut berdiri dan menyambut uluran tanganku, sedangkan mataku tak hentinya melirik ke ruang tengah, berharap masih bisa bertemu Renda.
“Nyari siapa kamu, Le?”
“Eh.. anu Mbah, saya mau pamit pada Bu Kecup dan Renda.”
“Ke si Kecup atau Renda?”
“Dua-duanya, Mbah.”
“Jangan bohong kamu.”
“Hehe.. kalau diijinkan, saya mau pamit ama Renda, Mbah.”
“Memangnya kenapa?”
“Ccccc… Renda cantik Mbah.” aku gelagapan.
“Kamu suka dia?”
“Kalau diijinkan oleh Mbah.”
“Asuuu… jangkrik tenan kowe, Le. Renda itu istri mbah!!!”
Mbah Nawi mengacungkan tongkatnya ke arah mukaku. Aku setengah meloncat mendengarnya, lalu melongo untuk memastikan bahwa aku tidak salah dengar. Dalam hati, aku meratapi nasib Renda yang memiliki suami yang usianya tiga kali bahkan empat kali lipat di atasnya.
“Wes.. pulang sanah, jangan gangguin istri mbah.”
“Hehehe… siap, Mbah. Lain kali kita ngobrol lagi, aku ingin belajar dari Mbah agar bisa dapetin cewek muda dan cantik.”
“Itu namanya ilmu suwir, Le. Wes.. wes.. kapan-kapan saja belajarnya.”
Sekali lagi aku pamit sambil tertawa, lalu melangkah meninggalkan rumah Pak Lurah.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar