BAB 24
Tuhan perubahannya semakin terlihat di mataku
salah apa diriku, kusemakin merasa jauh
mungkinkah rasa sayangku tak lagi berarti untuknya
Tuhan kusangat menyayanginya
Aku di sini kan selalu menunggumu
sampai kapan pun ku kan menunggumu
walau hati ini selalu kau sakiti
karena yang kuinginkan hanya kamu.
Kembalilah duhai kekasihku
teruskan kisah yang sempat terhenti
ingatlah janji kita tuk selalu setia
walau kutahu ini berat bagimu.
Aku di sini kan selalu menunggumu
sampai kapan pun ku kan menunggumu
walau hati ini selalu kau sakiti
karena yang kuinginkan hanya kamu.
Kembalilah duhai kekasihku
teruskan kisah yang sempat terhent
ingatlah janji kita tuk selalu sterhenti
walau kutahu ini berat bagimu.
Kumatikan musik dan kulepaskan earphone dari kupingku. Kini rasaku hampa dan langkahku gontai. Ketegaranku yang hanya pura-pura, kini tak bisa lagi kusembunyikan. Aku bisa membohongi Tante Puki, Ndul, dan bahkan Ariska; tapi aku tidak bisa menyangkal diri sendiri. Aku masih menyayanginya.
Ciuman perpisahan itu masih kurasakan. Nafas halus dan kecupan lembutnya masih terasa menempel pada bibirku, pipiku juga seolah masih basah oleh linang air matanya. Yeaaah.. itu peristiwa dua jam yang lalu, tapi masih cukup membekas dalam benakku. Kini aku sudah mendarat di Semarang, dan tadi aku hanya diantar oleh Tante Puki di Bandara Husein. Dia tanteku.. juga kekasih hatiku.. sekaligus sang mantan yang telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.
Aku kembali meninggalkan Bandung dengan hati hampa, seluruh rasaku masih tertinggal di sana. Namun aku harus kembali untuk melanjutkan apa yang tertunda, untuk mencari apa yang belum kuketahui. Padahal di Bandung sendiri, ada begitu banyak tanya yang belum terjawab di dua hari terakhir aku berada di sana.
Aku pun melangkah gontai menuju lobi bandara, dan seseorang menungguku sambil memegang kertas karton bertuliskan: RAKATA. Dia adalah sopir travel yang telah Tante Puki pesankan untukku. Tepatnya aku bukan menumpang travel, melainkan menyewa sebuah mobil. Aku ingin melakukan perjalanan ini seorang diri, tanpa terganggu percakapan atau pertanyaan orang-orang di sekitar.
“Sudah sampai mana, Zo?” sebuah pesan dari Tante Puki masuk. Tidak ada lagi kata sayang, bahkan ia sudah memanggilku dengan nama asliku, bukan lagi nama samaran.
Aku enggan menjawab, melainkan memilih untuk menghampiri sang penjemput dan mengikuti langkahnya setelah saling bertegur sapa alakadarnya.
Kendaraan melaju, waktu berdetak, jarak semakin dekat. Tak terasa aku pun tiba di kota tujuan. Mobil kini sudah berhenti di depan rumahku, nampak beberapa motor terparkir pertanda angkringan sudah buka dan para pengunjung mulai berdatangan. Yeah.. aku merasa perjalanan ini terasa singkat, bukan karena aku tertidur, melainkan melamun. Pikir dan rasaku pergi, meninggalkan tubuhku, dan kini semuanya bersatu kembali dalam satu rasa bernama hampa
“Maturnuwun, mas.” ujarku sambil memberikan uang sewa, aku beri tambahan seribu lima ratus sebagai bonus
Langkahku pun gontai memasuki pekarangan, dan menuju rumah melalui pintu utama. Alunan musik terdengar dari arah angkringan, namun aku memutuskan langsung memasuki kamar.
“Nak, sudah pulang?” aku urung membuka pintu kamar, Bu Ningnung tiba-tiba muncul.
Aku mengangguk dan berusaha tersenyum. Bu Ningnung pun bergegas mendekatiku, namun langkahnya berhenti seketika. Ia seperti heran melihat wajah murungku, sekaligus seperti salah tingkah. Bahkan ketika aku mengulurkan tangan untuk menyalaminya pun, ia sedikit ragu untuk membalas. Ya.. dia memang sedikit berubah sejak percumbuan kami malam itu di kamarku. Ia lebih banyak menghindar, dan seperti menanggung rasa bersalah.
“Ibu ambilkan minum yah.” ujarnya sambil menarik tangannya dengan cepat. Tanpa menunggu jawaban, ia pun bergegas kembali ke belakang, sedangkan aku memasuki kamar dan langsung melempar tas dan merebahkan diri.
“Ini, nak, minum dulu.” Bu Ningnung kembali sambil membawa segelas air putih.
“Makasih, bu, taro aja di meja, nanti kuminum.” sahutku sambil tetap telungkup di atas kasur.
Hening tidak ada jawaban.
Tak lama kemudian kasur pun bergerak pertanda ada yang duduk di pinggirnya. Aku pun membalikan badan, dan nampak Bu Ningnung sedang duduk sambil menatapku bingung.
“Beneran kalian putus?” tanya lirihnya.
Aku pun mengangguk kecil disambung helaan nafas panjang.
“Ibu turut prihatin.” tangannya terulur seolah mau membelai rambutku, tapi ia keburu sadar dan menarik kembali tangannya.
“Kalau Nak Kata mau cerita, ibu siap mendengarkan, mumpung angkringan belum ramai.” ujarnya sambil meraih gelas, kali ini aku tidak menolak. Kuterima dan kuteguk sampai habis.
Beberapa kali helaan nafas panjang kuhembuskan, sorot mataku mengitari seisi kamar. Di sinilah aku pernah memadu kasih selama beberapa malam dan selalu diakhiri erangan panjang.
“Poetry hamil, bu, tapi bukan karena aku, melainkan karena pria lain…” ujarku lemah. Lalu kuceritakan bahwa Poetry lebih memilih pria yang telah menanamkan benih itu, tentu saja aku tidak mengatakan bahwa ia hamil oleh suaminya.
“Aku sangat menyayanginya dan aku berniat menikahi Poetry dan bersedia menjadi ayah dari janin yang ada dalam kandungannya, tapi Poetry menolak. Ia tetap teguh pada pilihannya.” aku mengakhiri cerita.
Aku bercerita diliputi rasa sedih dan kecewa, sehingga aku tidak terlalu memperhatikan Bu Ningnung. Ternyata wanita itu sedang berlinang air mata, ia seolah ikut merasakan sedih dan sakit hatiku. Kini ia malah sudah menggenggam dan meremas tanganku, sedangkan tangan satunya ia pakai untuk mengusapi air matanya.
“Nak Kata harus kuat ya, kalau Nak Kata bersedih seperti ini lalu siapa yang akan menjaga ibu dan Yaning? Siapa yang akan membesarkan angkringan yang baru saja kita rintis? Mungkin ini adalah cara terbaik dari Yang Di Atas, dan Dia sudah menyediakan jodoh terbaik bagi Nak Kata.” Bu Ningnung menghiburku sambil tetap meramas tanganku.
“Makasih, bu.” ujarku pelan sambil bangkit dari tidurku dan kini kami duduk berhadapan.
Kini kedua tangan kami saling meremas, dan mata kami saling menatap sendu. Air mata Bu Ningnung sudah kering, namun sorot matanya tetap menunjukan rasa simpati dan empatinya.
“Bu, boleh aku memeluk ibu?” aku meminta.
“Jangan, nak, jangan diulang. Apa yang kita lakukan malam itu adalah sebuah kesalahan.” Bu Ningnung terkejut dan raut wajahnya berubah takut.
“Aku hanya butuh kekuatan, bu, aku butuh pelukan seorang ibu.” lirihku.
Jemari tangan Bu Ningnung berubah kaku, telapaknya pun terasa dingin. Aku merunduk, dan ia tercekat kaku. Tanpa sadar aku menelan liur saat melirik gundukan payudaranya. Tanpa minta ijin lagi, aku pun memeluk tubuh sintal Bu Ningnung; langsung kudekap erat sambil memejamkan mata.
Satu detik.. dua detik.. tidak ada balasan. Aku seperti memeluk tiang kenyal. Namun aku tetap memeluknya. Kueratkan pelukan sehingga payudaranya menempel dan mengganjal, ia masih kaku. Namun tidak perlu menunggu satu menit, tangannya bergetar membalas pelukanku. Aku senang… ia akhirnya bukan hanya membalas pelukan, melainkan juga mengusapi punggungku.
Sebetulnya aku betah dan nyaman berada dalam pelukan Bu Ningnung, namun aku harus mengakhirinya. Ada yang menggeliat di dalam celanaku, itu bisa berabe kalau ia semakin tegang. Aku bisa kalap dan tidak tahan, sedangkan hubunganku dengan Bu Ningnung belum pulih seperti sebelumnya. Aku harus mengembalikan kepercayaannya, aku harus bersikap sopan dan tidak memberi kesan memesuminya.
“Makasih, bu.” ujarku sambil mengurai pelukan.
Keputusan yang tepat. Nampak Bu Ningnung menghela nafas lega dan senyumnya langsung mengembang. Ia nampak tidak takut lagi, kini malah tangannya mengusapi pelipisku layaknya seorang ibu memperlakukan anaknya.
“Nak Kata jangan bersedih lagi yah. Ingat.. mungkin ini cara terbaik untuk mendapatkan jodoh yang terbaik.” ujarnya.
Aku pun mengangguk, walaupun hatiku tidak mengamini apa yang ia katakan.
“Sekarang istirahat dulu, ibu mau ngawasi anak-anak di angkringan. Atau mau makan sekarang?”
“Aku mau tidur aja, bu, maaf ya aku sangat capek jadi tidak bisa bantu di angkringan malam ini.”
Bu ningnung tidak menjawab, ia mengusapi kedua pipiku dengan tersenyum manis. “Duh.. bibir merahmu itu loh bu… aku ingin menghisapnya.”
Aku pun berbaring dan Bu Ningnung menyelimutiku, lalu ia pamit keluar kamar.
https://t.me/cerita_dewasaa
Aku bangun lebih pagi daripada biasanya, mungkin karena aku tidur sejak sore. Kemarin aku terlampau lelah, bukan hanya fisik, melainkan terutama pikiran dan perasaan. Usai sikat gigi dan cuci muka, aku pun keluar kamar untuk menyeduh kopi.
“Pagi, Nak, maaf semalam ibu tidak berani membangunkan Nak Kata untuk makan, kelihatannya nyenyak sekali tidurnya.” Bu Ningnung yang sedang di dapur menyapaku.
Penampilannya cukup berbeda subuh ini, wajah bangun tidurnya membuat kecantikan alaminya terpancar. Rambutnya yang sedikit kusut dibiarkan tergerai.
“Iya gakpapa, bu. Aku capek sekali semalam.” jawabku sambil menjejerinya untuk mengambil gelas.
“Nak Kata duduk aja, biar ibu yang bikinkan kopi.”
“Makasih, bu.”
Aku pun melangkah ke arah serambi dan duduk menghadap angkringan. Kusulut sebatang rokok sambil menikmati udara pagi. Aku merasa lebih segar, dan pikiranku tidak sekacau kemarin.
“Silakan diminum, Nak.” Bu Ningnung datang sambil membawa dua gelas kopi, satu untuk dirinya. Juga berisi uli dan tempe goreng yang masih panas. Kami pun sama-sama duduk bersisian sambil menikmati kopi pahit buatan wanita matang nan jelita ini.
“Angkringan gimana, bu?” aku memulai percakapan.
“Alhamdullilah, lumayan rame, setidaknya bisa kembali modal walaupun belum mendapatkan untung.” jawabnya sambil menggeser piring, dan aku pun menyomot tempe goreng dan meniupinya sebelum kusuap.
Aku cukup senang mendengarnya, dan berulangkali aku meminta maaf karena aku malah meninggalkan angkringan selama seminggu ini.
“Aku akan berusaha fokus mengembangkan NeNeN, bu, yaah.. anggap aja sebagai sarana mengalihkan pikiran dari Poetry agar bisa cepat move on.” ujarku.
“Syukurlah kalau Nak Kata punya pemikiran seperti itu, ibu senang mendengarnya. Tapi move on itu apa, ya nak?”
"Hehe." Aku terkekeh sebentar sebelum menjawab. "Move itu bergerak dan on itu tegang jadi move on adalah bergerak-gerak sambil tegang.”
“Apanya yang bergerak? Ini Nak Kata tidak sedang mesum, kan?” Bu Ningnung menatapku curiga.
“Hahaha..” aku pun tergelak sehingga butiran tempe muncrat dari mulutku. Sikapku tentu saja sukses membuat Bu Ningnung gemas dan mencubit lenganku.
“Poetry pernah bilang kalau Nak Kata itu mesum, sekarang ibu baru percaya. Hihi…” ia terkekeh sambil menutup mulut agar tawanya tidak terlalu keras.
“Bukan mesum, bu, tapi berpikir positif bahwa wanita itu indah. Udah ah.. jangan bahas Poetry lagi.” aku berdalih.
“Hehe.. Nak Kata ada-ada aja, kalo mesum ya mesum aja.” Bu Ningnung masih terkekeh lalu ujarnya lagi, “Ibu sih senang kalau Nak Kata sudah bisa gembira dan tertawa lagi seperti ini, tapi satu pesan ibu, jangan sampai berakhirnya cinta kalian lantas memutuskan tali silaturahmi juga.”
"Iya makasih bu. Ibu tenang saja, kami tidak akan memutuskan tali silahturahmi kok secara Tante Puki adalah tanteku sendiri.” tentu saja aku mengucapkan kalimat terakhir hanya dalam hati.
“Oh iya ibu lupa?” tiba-tiba Bu Ningnung seolah baru ingat sesuatu.
“Kenapa, bu.”
“Kemarin tuh ayah mertua Lurah Cintung datang dari kampung, sekarang nginap di rumah Pak Lurah. Mungkin baik kalau Nak Kata menemuinya untuk mencari informasi tentang kedua orangtua Nak Kata.” jelasnya sambil menatapku. Aku membalas, namun sorot mataku tertuju pada bibirnya yang seksi menggairahkan.
“Memangnya ayah mertua Lurah Cintung pernah tinggal di sini?”
“Lah.. rumah yang sekarang itu justru warisan dari orangtua Bu Kecup, namanya Mbah Nawi. Mbah Nawi kemudian pindah rumah setelah menikah lagi untuk yang ketiga kalinya.” penjelasan Bu Ningnung membuatku antusias. Semoga saja aku bisa menemukan titik terang tentang identitas orangtuaku melalui dia.
“Terima kasih infonya, bu, nanti saya akan menemui Mbah Nawi.”
“Semoga saja, Nak Kata bisa menemukan titik terang.” Bu Ningnung turut berharap.
Sisanya kami melanjutkan ngobrol sambil menghabiskan kopi masing-masing, tanpa ia sadari, aku sering mencuri pandang pada paha putihnya ketika dasternya sedikit tersibak. Bibir dan lehernya pun tak jarang membuatku sering menelan liur, namun aku berusaha menahan diri untuk tidak bersikap aneh-aneh yang malah bisa membuatnya kembali bersikap dingin.
Suasana pagi menjadi lebih ceria ketika Yaning bangun dan bergabung dengan kami, sikap ceriwis dan manjanya membuat aku kian terhibur.
https://t.me/cerita_dewasaa
“Yang di atas tahu hati dan rasamu sedang berantakan, Ia tahu kepingan hatimu masih terurai, tapi kamu harus ingat, hanya kamu sendiri yang bisa menatanya kembali; bukan Dia.” suara Ariska terdengar lembut di ujung telpon. Gadis ini tiba-tiba bersikap penuh perhatian dan juteknya hilang. Ia sengaja menelpon untuk menanyakan kabarku.
“Sok puitis kamu, Ris.” gumamku sambil meletakan puntung pada asbak di meja kamarku.
"Hihi... baru tau ya kalau aku puitis? Kan karena banyak baca novel coelho." suaranya terdengar renyah, dan aku hanya diam sambil tersenyum hambar.
“Tetap perjuangkan cintamu, Ka. Tapi bukan berjuang untuk merebut dan memaksanya agar bersatu, melainkan berjuang agar cinta itu tetap ada meskipun tidak harus berakhir di pelaminan.” ujar Ariska lagi, kali ini terdengar serius.
“Iya aku tahu, ini hanya soal waktu.” jawabku.
“Bukan hanya waktu saja, itu mah relatif, tapi yang terpenting adalah kamu harus terus melangkah dan keluar dari bayang-bayang masa lalu."
“Halah.. kamu juga gak bisa melupakan sahabatmu di masa lalu, kan?”
“Ya itu mah beda atuh, Ka!”
“Hehe…”
Aku pun mengalihkan obrolan dengan menanyai kesannya di hari pertama kerja. Gadis itu cukup antusias bercerita, ia senang karena rekan kerjanya cukup ramah dan baik semua. Ia juga senang karena ia bekerja di divisi yang dipimpin oleh Ndul. Menurutnya, Ndul itu hanya tengil kalau di luar, sedangkan di kantor ia sangat serius dan berwibawa.
“Syukur deh kalau begitu, udah dulu ya Ris, aku mau ke tetangga dulu, mau ke rumah Lurah Cintung.
“Ngapain ke sana?”
“Main aja.”
Aku menjawab singkat saja, aku tidak mau mengatakan bahwa aku ke sana untuk menemui Mbah Nawi.
“Yaudah deh, semangat Ka, ingat pesanku.”
“Iya.. iya.. bawel!!”
“Hihi… dadah En.. eh Kata!!”
Klik!!
Aku pun keluar kamar dan mencari Bu Ningnung untuk pamit. Aku celingukan karena wanita itu tidak nampak, selain beberapa ibu-ibu tetangga yang sedang memasak di belakang. Dari mereka aku tahu bahwa Bu Ningnung sedang pergi ke pasar karena persediaan gula habis.
Setelah ngobrol sebentar dengan mereka aku pun kembali ke dalam rumah, dan langsung melangkah ke pintu depan hendak berkunjung ke rumah Lurah Cintung. Namun langkahku terhenti di depan kamar Bu Ningnung ketika kulihat pintunya tidak tertutup rapat. Samar-samar kudengar suara wanita itu dari arah dalam.
“Katanya sedang ke pasar?” batinku.
Aku mendekat perlahan dan mendorong pintu, wanita itu tidak terlihat. Nampak di atas kasur kebaya dan kainnya tergeletak. Juga beha hitam ada di sana. Aku menelan liur melihat pembungkus perabotannya itu.
“Iya Nak, shhh…” samar-samar suara Bu Ningnung terdengar dari arah kamar mandi.
Jantungku langsung berdebar, membayangkan bahwa wanita itu sedang mandi. Tapi kenapa seperti ada orang lain di dalam? Sejenak aku mematung, bimbang antara mengintip atau mengabaikannya.
Jantungku kian berdebar ketika suara Bu Ningnung kian kerap kudengar, bahkan seperti mendesah keenakan. Aku mendekat perlahan dan menempelkan kuping pada daun pintu.
“Aah.. sssh.. shhh…” pikiranku langsung ngeres mendengar desahannya.
Jantungku berdetak kencang, rasa heran dan penasaran bercampur menjadi satu. Siapa pria yang ada di dalam, adakah wanita yang selama ini kuanggap alim dan sopan ternyata punya selingkuhan?
Aku merunduk untuk mengintip melalui lubang kunci, namun aku tidak bisa melihat apapun, anak kunci terpasang dari dalam. Aku mendengus kecewa, kini aku hanya bisa menguping tanpa bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam.
“Mmmh… enak sayang… terus Nak, ibu sudah gak tahan.. shhhh…” suaranya begitu erotis, membuat penisku langsung menggeliat tegang.
Otakku langsung bekerja, sepertinya Bu Ningnung sedang masturbasi karena tidak mendengar suara lelaki di sana. Cukup lama desahannya tidak terdengar, tetapi aku mendengar suara lain, lebih berupa peraduan kelamin. Ah.. entah.. apapun itu. Aku tiba-tiba sangat terangsang.
“Aaaaah…” aku terperanjat ketika ia terpekik dengan suara cukup keras.
“Shhh.. oooh.. Nak Kata, ibu sampai sayang!!”
Duuugh!!!
Nafasku tersengal, entah aku harus marah atau senang mendengarnya. Ia masturbasi sambil membayangkanku. Di balik sikap alimnya, ternyata ia masih menyimpan gelora birahi, dan pria yang mengisi hati dan fantasinya adalah aku sendiri. Tapi sejak kapan? Apakah sejak percumbuan malam itu, atau sudah dari sebelumnya? Lantas kenapa ia nampak takut ketika bertemu aku sepulang dari Bandung? Apakah dia masih berperang antara suara hati dan nafsu birahi?
Kepalaku pening karena begitu banyaknya pertanyaan di dalam benakku, belum lagi penisku yang tegang membuatku limbung. Rasanya aku ingin ngocok, dan sempat berpikir menunggunya keluar kamar dan langsung memeluknya. Tapi aku tidak mau terburu, kini ada yang lebih penting yaitu menemui Mbah Nawi, sebelum ia keburu pulang ke kampung halamannya.
Aku segera berjingkat meninggalkan kamar ketika terdengar suara air dari dalam kamar mandi, mungkin Bu Ningnung sedang mencuci vaginanya, atau bisa juga nyemplung ke dalam bak mandi untuk meredakan gerah gairah. Kupret!!! Pikiranku malah semakin ngawur.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar