BAB 23
Pertanyaan besar terus berputar dalam benakku.
Soal pertama: Siapa yang menghajar perutku sehingga aku langsung semaput hanya dengan satu kali tonjokan.
A. Satpam restoran.
B. Preman.
C. Pesuruh saingan bisnis
D. Om Toyski.
E. Jawaban B dan C benar.
Soal kedua: Kenapa Ariska menolongku dan membawaku ke apartemennya?
A. Ariska tidak meninggalkanku di restoran, ia hanya sembunyi.
B. Ariska balik lagi karena kebelet pipis.
C. Ariska lupa salaman denganku sebelum pergi
D. Ariska yang menyuruh orang memukulku lalu pura-pura menolong.
E. Tidak ada jawaban yang benar.
Soal ketiga: Kenapa Ariska tahu bahwa aku adalah Enzo?
A. Diberitahu oleh Ndul.
B. Tahu dari Tante Puki.
C. Karena melihat tahi lalat di batang penisku.
D. Aku ngigo sewaktu pingsan.
E. Hanya mimpi.
Aaaarrrghhh!! Aku hanya bisa mengerang halus sambil mengucek-ucek rambut. Semua pertanyaan itu tidak ada yang berhasil kujawab dan hampir dipastikan aku tidak lulus ujian kali ini. Sementara waktunya sudah habis, aku harus segera pergi, keretaku tinggal sejam lagi.
“Makan dulu, Ka, nih aku sudah pesenin nasi rames.” Ariska menyambutku di ruang makan.
“Wah bungkus aja, Ris, gak ada waktu lagi, nanti aku ketinggalan kereta.” jawabku sambil melangkah menuju tasku yang tergeletak di atas sofa.
“Siapa bilang kamu akan berangkat malam ini?” Ariska tersenyum manis.
“Hah? Maksudmu?”
“Aku udah batalin tiketmu, kamu berangkat besok aja naik pesawat.”
“Risss?!!!”
“Udah.. sini duduk makan!”
Aku tidak menggubris ajakannya, melainkan langsung membuka tasku untuk mencari tiket kereta. Nihil!!
“Ris, kamu serius? Tiketku mana?”
“Yeee.. udah kubilang juga.”
“Ris, kamu tuh.. haisssh…” aku merasa jengkel dan tidak tahu lagi harus marah atau menuruti kemauan gadis itu.
“Udah besok aja berangkatnya, kamu kan belum benar-benar pulih.”
Sebenarnya suara Ariska sangat lembut dan penuh perhatian, tapi tetap saja aku jengkel karena keputusan sepihaknya.
“Aku sudah tidak apa-apa, Ris.”
“Makan!!!”
“Iya.. iya…”
Aku pun melangkah lesu dan duduk di depan piring yang sudah Ariska sediakan.
“Makan!!”
Aku pun mendengus kesal mendengarnya, lalu menyendok nasi tanpa bersemangat. Kunyahanku pun begitu lambat tanpa selera.
“Aku membelinya dengan penuh kasih sayang loh, kamu kok makannya kayak gitu?”
Ariska duduk di depanku sambil menatapku dan menahan senyum. Wajahnya memang cantik, tapi isi kepalaku masih dipenuhi oleh bayangan Tante Puki. Harusnya aku mati pas dihajar tadi sehingga tidak ada lagi derita karena kehilangan suwiran.
“Iya, ini semangat kok.” jawabanku tentu saja berbeda dengan caraku makan yang tetap tanpa selera.
Ariska nampak gemas, ia pun mengambil piring dan memaksa menyuapiku. Aku hanya bisa pasrah menerima suapannya, kali ini aku mengunyah serba cepat agar aku bisa segera pergi dari tempat ini.
“Ndul dan Kak Pupuh akan ke sini.” ujarnya, seolah bisa membaca pikiranku.
Uhuk.. uhukkk….
Belum juga aku meneguk air minum, tiba-tiba bel apartemen berbunyi dan Ariska beranjak untuk membukakan pintu. Dan munculah sosok Tante Puki dan Ndul yang masuk dengan tergesa. Pancaran khawatir mereka berubah sedikit lega ketika melihatku nampak baik-baik saja.
“Kok bisa sih, Ris?” tanya Ndul.
“Sayang?!” Tante Puki langsung menghambur dan memelukku dari belakang sandaran kursi.
“Tenang aja aku gak apa-apa, Poet, gak sesakit patah hati.” ujarku sambil sedikit mendongak sehingga wajah kami berpandangan dekat.
“Ka… please jangan buat aku sedih.” raut khawatir Tante Puki berubah sendu dan sedih.
“Hehehe.. maaf.. aku cuma bercanda.”
“Hadoh kalian tuh emang pada kupret. Katanya udah putus tapi sok mesra. Ini gimana ceritanya sampai lu dihajar orang tak dikenal?” tiba-tiba Ndul menggerutu.
“Jelaskan, Ris!!” ujarku. Gadis itu memang belum bercerita apapun padaku, walaupun aku sudah mencecarnya sejak sadar tadi.
Kini kami berempat duduk melingkari meja makan, mata Tante Puki dan Ndul bergantian menatapku dan Ariska. Sedangkan aku hanya diam sambil melirik payudara sang mantan.
“Soal pertama..” aku memulai percakapan. “Siapa yang menghajar perutku sehingga aku langsung semaput?”
“Jadi gini, aku tuh kesel ama ni orang sehingga aku meninggalkannya di restoran tadi. Tapi aku nyesel jadi aku balik lagi. Eh.. pas nyampe kulihat Kata sudah terkapar dan sedang ditolong satpam restoran. Jadi kenapa dan bagaimananya, aku tidak tahu. Satpam juga tidak tahu. Jadi, tidak ada yang tahu siapa yang menghajar Kata.” Ariska menjelaskan. Soal pertama dan kedua pun langsung terjawab, dan aku tidak berani menayakan soal ketiga.
“Emang apa yang dilakuin Kata sehingga kamu kesel dan ninggalin dia di restoran, Ris?” tanya Tante Puki, dan Ariska langsung menjelaskan alasannya.
“Maaf..” lirih Tante Puki.
“Kok malah kakak yang minta maaf?” protes Ariska.
“Kata begitu pasti gara-gara aku. Maafkan aku, Ka.” air matanya berlinang menatapku.
“No drama, please!!” Ndul kesal.
Kini semua tanya tertuju padaku, mereka mencari tahu asal-mula kenapa aku bisa dihajar orang.
“Gak mungkin hanya karena masalah kamu duduk di pot bunga. Kamu ngomong apa gitu?” Ndul tidak percaya.
“Lah kenyataannya seperti itu.” kilahku.
“Lu pasti songong, bro, makanya sampai dihajar.”
“…”
“Ini fix. Kesalahan ada pada si kampret Rakata, hanya apakah orang itu memang berniat menghajar Kata sejak awal atau memang cuma tersinggung.” Ndul mengambil kesimpulan sekaligus juga mencari kemungkinan lain.
“Sekarang gimana?” Ariska nampak bingung.
“Aku ingin pulang sekarang? Carikan tiket kereta berikutnya.” aku sigap menjawab.
Koor kesal pun terdengar, ketiganya tidak setuju. Aku hanya diam frustasi.
“Lu ikut gua.” Ndul mengajakku duduk di balkon apartemen, tangannya yang mengeluarkan rokok dari kantong celananya membuatku sedikit bersemangat.
Kami duduk berdua setelah sebelumnya Ndul menutup pintu kaca agar percakapan kami tidak terdengar oleh Tante Puki dan Ariska. Kulirik mereka berdua, keduanya nampak berbincang serius, mungkin sedang ngomongin aku. Bodo!!
“Ini, ada yang tidak beres.” gumam Ndul sambil menghembuskan asap rokok.
“Memang.”
“Apa kesimpulan lu?”
“Gua masih sayang ama Tante Puki.”
“Kupret!!! Dia lagi.. dia lagi… sudahlah!!! Katanya lu udah bisa menerima keputusannya!! Maksud gua ada yang tidak beres secara pelaku pemukulan itu sangat misterius.” Ndul kesal.
“…” hanya memutar rokok di antara jemari.
“Lu jujur ama gua, apa saja yang lu lakukan selama di Bandung dan gua tidak tahu?” selidik sahabatku.
“Banyak sih.”
“Misalnya?”
“Gua dan Tante Puki sudah melakukan perpisahan di rumah lama gua dengan saling suwir sampai sore.”
“Bangke!! Kalian tuh yah.. masih bisa-bisanya ngentot dalam keadaan begini. Katanya mau bubar dan mau menghentikan hubungan terlarang kalian.” gerutu Ndul.
“Ya kan perpisahan. Gua cuma pengen nengok dan mandiin janin di dalam rahimnya, kan abis ini kagak bisa lagi.”
“Taik lah lu.” Ndul makin kesal.
“Om Toyski tahu?”
“Ya kagaklah, gila aja lu.”
“Ya siapa tahu, kalian terciduk sehingga Om Toyski dendam dan menyuruh orang untuk menghajar lu.”
“Kalau itu tidak mungkin.”
Tik tok tik tok.
“Apa lagi?”
“Gua ketemu dengan Bu Wulan saat di restoran, dan kami saling berbagi nomor telpon.”
“Wulan? Maksud lu, istrinya si Reno Ban Fith?”
Aku pun mengangguk. Ndul nampak heran dan jidatnya mengkerut pertanda sedang berpikir keras.
“Seorang wanita pengusaha besar dengan mudahnya mau berbagi nomor telpon pada orang yang tidak terlalu dikenal. Hmmm….” Ndul bergumam sendiri.
“Ya mungkin karena dia terpesona oleh kegantengan gua kali, Ndul.” jawabku, dan sukses disambut makiannya.
“Ini ada yang aneh, Zo. Tapi biar ini akan menjadi urusan gua ke depannya, lu hati-hati aja kalau dia mulai ngontak, lu.”
“Hmmm…” kunyalakan rokok keduaku.
“Ada lagi yang gua belum tahu?”
“Ada tapi gua masih bingung apakah gua sedang mimpi atau mendengar langsung,” aku mencoba mengingat-ingat.
“Apa?”
“Sewaktu gua sadar dari pingsan, gua mendengar Ariska memanggil gua dengan Enzo.”
“Whaaat?!!!” Ndul langsung menutup mulut agar teriakan kagetnya tidak terdengar sampai ke dalam.
“Serius lu?!” cecarnya.
“Gua serius, bro. Tapi gua juga gak yakin apakah beneran atau cuma mimpi.”
Tik tok tik tok.
Melihat reaksi dan ekspresi sahabatku, aku langsung yakin bahwa Ndul tidak mungkin membocorkan rahasiaku pada gadis itu. Pikiranku tiba-tiba terasa buntu, apakah mungkin dari Tante Puki? Atau dia memang telah berhasil menyelidiku, tapi tahu dari siapa? Kudengar Ndul pun hanya mendengus pertanda frustasi, ia sendiri nampaknya tidak punya ide.
“Satu pertanyaan gua, kenapa Ariska membawa lu ke sini, bukan ke rumah sakit atau ke apartemen gua?” gumam Ndul.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar