Akhirnya pada hari itu kami menyepakati jual beli Rumah peninggalan keluarga Meta yang telah di wariskan padanya. Aku memastikan segala sesuatunya aman, agar tidak terjadi masalah dikemudian hari setelah akad jual beli di sah kan. Notaris mengeluarkan beberapa lembar kertas, dan meminta data pribadiku untuk proses pembuatan AJB nantinya. Namun karena beberapa prosedur pengalihan nama, sehingga tidak bisa diselesaikan pada hari itu, tapi Meta berjanji untuk kembali esok hari menjelang berangkat kantor katanya. Jadi aku tinggal tau beres tanpa perlu di repotkan dengan pengurusan ke BPN.
“Terimakasih mas Frans, semoga mas betah tinggal di rumah ini. Kalau ada yang mas Frans butuhkan atau tanyakan tentang rumah ini, jangan sungkan hubungi Meta yah”, katanya sambil menyalamiku diikuti oleh pak Karta.
“Kalau begitu saya pamit yah pak Frans, untuk selanjutnya bisa melalui Meta saja, kecuali untuk penanda tanganan AJB nantinya, saya akan membutuhkan kehadiran pak Frans dan mbak Meta”, kata Pak Karta sambil pamit pergi. Aku mengantar mereka sampai keluar rumah. Pak Karta pergi terlebih dahulu karena mobilnya persis dibelakang mobil Meta sehingga ia pun keluar terlebih dahulu. Namun saat Meta akan memasuki mobilnya, aku memanggilnya pelan karena teringat akan masakan yang terhidang tadi pagi. Karena aku belum tahu siapa yang menghidangkan makanan tersebut, jadi aku tidak memakannya, dan itu membuatku penasaran sehingga perlu mengklarifikasikannya dengan Meta.
“Meta..”, pangggilku.
“Iya mas Frans..”, katanya berhenti tepat dipintu mobilnya sambil melihatku dengan senyum manisnya.
“Apa tadi pagi Meta mampir kesini ?”, tanyaku dengan hati-hati biar tidak dikira ada maksud yang aneh-aneh padanya. Dan benar saja ia sedikit mengkerutkan keningnya dengan pertanyaanku barusan.
“Gak mas Frans, Meta langsung kerja. Tadi pagi Meta Cuma telfon mas Frans saja, Cuma karena nomor Mas tidak aktif maka Meta sms aja. Ada yang aneh kah ?”, tanya Meta balik padaku.
“Oh gak apa-apa. Saya kira Meta tadi mampir kesini”, kataku tersenyum padanya.
“Oya, kalau kakak Meta. Apa ia biasa mampir kesini?”, tanyaku yang masih penasaran, kalau bukan Meta apa mungkin kakaknya. Tapi masa iya kakaknya yang menghidangkan makanan tadi pagi, kenal saja tidak, meragukan pertanyaanku yang terakhir.
“Kak Astrid sangat jarang dan bahkan hampir gak pernah kerumah ini Mas. Biasanya dia kalau kesini, yah nginapnya di tempat Meta”, jawab Meta lagi.
“Mang ada yang tidak biasa kah Mas ?“, tanya Meta penasaran dengan pertanyaanku.
“oh tidak apa-apa kok. Oya, biasanya ada yang bantu - bantu untuk ngurus rumah gak Meta?”, tanyaku mengalihkan kecurigaannya. Biarlah sementara kusimpan dulu keanehan ini, sampai kutemukan sendiri siapa yang menghidangkan sarapan tadi pagi. Meta sepertinya memang tidak tahu apa-apa tentang sarapan misterius tadi pagi.
“Pembantu maksud mas Frans ?” tanyanya yang kujawab dengan sebuah anggukan.
“Dulu sih ada mas, namanya mbok Sore. Dia tinggal di kampung ini juga kok. Nanti mas tanyain aja ke masyarakat sekitar sini juga pasti tau orangnya, soalnya ia tidak ada telphon, jadi tidak bisa dihubungi”, kata Meta lagi.
Apa mungkin mbok Sore itu yang menghidangkan yah ?, tanyaku dalam hati. Walau sedikit ragu tapi mungkin lebih baik kutanyakan langsung pada orangnya pas ketemu nanti.
“ada yang bisa Meta bantu lagi Mas ?” tanya Meta.
“oh gak ada, itu saja”, jawabku singkat.
“Oke deh, kalau begitu Meta tinggal dulu yah mas Frans. Jangan telat makannya”, kata Meta dengan sedikit penekanan pada kata terakhirnya.
Aku tersenyum dambil mengenyitkan sedikit alis kananku, karena merasa heran dengan kata-kata ‘perhatian’ darinya. Gimana gak heran, biasanya kan kata-kata perhatian seperti itu hanya diucapkan oleh orang-orang terdekat kita atau orang yang punya hubungan ‘spesial’, tapi dengan Meta..? ahsudahlah.
“Oh, maksud Meta, mas Frans seperti orang yang biasa sibuk bekerja. Jadi hanya sekedar mengingatkan sebagai seorang ‘teman’ baru”, katanya lagi buru-buru mengklarifikasi agar aku tidak salah paham dengan maksud perkataannya.
“Oh i got it. Thanks yah Meta. Hati-hati pulangnya yah, jangan lurus, kalau belok yah belok, ikutin rambu-rambu”, kataku agak bercanda padanya. Kulihat ada sedikit rona merah diwajahnya.
“Bye mas Frans”, kata Meta sambil berlalu pergi meninggalkanku yang masih menatapnya dari tempatku berdiri saat ini. Sekali lagi aku melambaikan tangan melepas kepergian Meta yang semakin menjauh dengan mobil sedan putihnya.
Aku masuk kerumah saat matahari mulai masuk keperaduannya. Saat memasuki ruang tamu dan menaiki tangga, entah kenapa bulu romaku terasa merinding. Lagi-lagi saat sendiri seperti sekarang ini terasa seperti ada mata yang mengawasiku dari suatu tempat di sudut rumah ini. Baru beberapa langkah menaiki tangga terdengar bunyi yang cukup keras dari arah dapur.
Braaakkkkk.... diikuti angin yang lumayan kencang bertiup kedalam rumah, sampai-sampai kain jendela sampai terangkat cukup tinggi keatas.
Aku buru-buru menuruni tangga dan memeriksa kearah dapur tempat asal suara kencang tersebut berasal. Ternyata pintu samping dapur terbuka dengan lebar akibat terpaan angin barusan.
“Mengangetkan saja”, gumamku.
Saat akan menutup pintu aku baru sadar ternyata ada rumah kecil tepat disamping rumah utama. Kemaren Meta sempat menjelaskan kalau ada rumah kecil disamping rumah utama, oleh keluarga nya biasanya difungsikan sebagai gudang. Hmnn besok sajalah kuperiksa kesana, pikirku. Lagian hari sudah gelap dan lampu rumah belum sempat kunyalakan.
Namun saat aku menutup pintu, aku melihat ada bayang orang berjalan didalam rumah kecil tersebut...
Siingggg...
Kembali bulu tengkukku merinding. Aku mengusap tengkukku, ahhh mungkin Cuma perasaanku saja.
Ketika kulihat lebih teliti ternyata hanya kain jendela rumah yang terbang tersapu angin. Kebetulan tiupan angin lumayan kencang saat itu. Namun saat aku akan menutup pintu, terasa angin menerpa tubuhku, serasa seperti ada yang lewat. Njiirr bulu romaku makin berdiri, bahkan bulu-bulu tanganku ikut berdiri sampai tampak bintik-bentik kecil menyembul keluar dari pori-pori kulit tanganku.
Aku coba berpikir positif saja tanpa menyangkut pautkannya dengan hal-hal yang berbau mistis, karena memang aku sama sekali tidak percaya akan hal yang begituan.
Aku menghidupkan lampu rumah..
Klik klikkk
Pencetku beberapa kali menekan saklar lampu dapur, ternyata tidak mau menyala sama sekali. Dan parahnya lampu antara dapur dan ruang makan malah kedip-kedip saja, untungnya lampu ruang makan bisa menyala normal.
Asem nih ternyata bola lampunya putusnya, aku sedikit kesal juga. Ternyata Meta tidak benar-benar memeriksa kondisi rumah secara keseluruhan saat menjualnya. Terbukti ada beberapa lampu rumah yang rusak dan tidak mau menyala.
Ternyata tidak hanya lampu dapur! setelah kuperiksa semua ruangan, lampu kamar belakang dan kamar mandi tamu juga tidak mau menyala. Lagi, aku harus memastikan seluruh ruangan untuk memastikan lampu mana saja yang tidak bisa menyala, kemudian aku mencatatnya untuk keperluan yang akan kubeli esok hari. Ada-ada aja pekerjaan tambahan, baru juga sehari aku menempati rumah ini.
Kriukk kriukkkk.
Sibuk memeriksa setiap ruangan dan lampu rumah tidak terasa hari semakin larut dan cacing-cacing diperutku sudah berteriak minta diisi. Rencananya, aku mau masak mie rebus yang sempat kubeli sebelumnya di minimarket saat mau pulang, namun lagi-lagi aku dikejutkan dengan sebuah hidangan makan malam yang sudah terhidang rapi di atas meja makan. Ini bukan sekedar masakan makan malam biasa, ini menu yang biasa dihidangkan di restoran-restoran mahal, lengkap dengan minuman serta desertnya.
Degh degh
Aku benar-benar deg - deg an sekarang, dengan pikiran yang penuh pertanyaan. Bagaimana bisa makanan ini bisa ada disini? siapa yang menghidangkannya ? karena Cuma aku yang ada di dalam rumah ini. Kalau ada yang ngantar, siapa juga yang mengantar malam-malam begini ? karena aku merasa tidak menerima tamu selain Meta dan pak Karta tadi sore. Kalau iya ada yang mengantar, pasti aku akan melihatnya, karena semua pintu juga sudah aku kunci sebelumnya saat menghidupkan lampu ruangan tadi. Apa ada orang selain diriku yang tinggal dirumah ini ? jelas itu tidak mungkin. Kalau adapun pasti Meta sudah mengatakannya padaku atau paling tidak kami sudah bertemu. Kalau makanan ini dimasak sebelumnya, masaknya kapan ? dan banyak pertanyaan lainnya dalam kepalaku saat ini. Saat masih larut dalam keherananku...
Wooossshhh
Ada angin yang menerpa tubuh sampingku sampai - sampai aku sedikit terdorong miring kesamping. Kupikir ada yang lewat, tapi ketika kulihat tidak ada siapapun di sekitarku. Lagi-lagi bulu tengkukku merinding dengan sendirinya.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar