RUMAH NO 202 PART 7

  


"Dia gak mau jika hubungan itu berhenti sampai disitu saja, bahkan dia mengancam akan memberitahukan perselingkuhan kami ke bang Arya. Gue jawab terserah. Eh dianya malah makin sewot, kalau rumah tangganya hancur maka itu gara-gara gue ancamnya, karena caranya yang seperti menghalalkan segala cara agar perlingkuhan kami tetap berlanjut, otomatis ikut memancing emosi gue waktu itu, gue jawab aja 'terserah', sambil meninggalkannya begitu saja", jelasku panjang lebar.




"Bentar bro, kalau dari penjelasan loe, kayaknya dia bukan sekali ini aja selingkuh".








"Iya bro, kejadiannya saat 2 tahun yang lalu, pas abang gue kecelakaan. Sejak itu abang gue mengalami masalah pada fungsi organ seksualnya. Gue juga baru tahu dari penjelasan Lina saat kami bercinta kedua kalinya. Katanya mereka sudah berusaha berobat kesana kemari dan menjalani berbagai terapi, tapi tetap tidak ada perubahannya. Abang gue stres sepertinya, imbasannya dia melarutkan diri dalam kesibukkan. Karena itu, si Lina yang kesepian dirumah mencari pelampiasannya sendiri. Awalnya dia menggunakan sex toy. Tapi ya itu, gak bisa memuaskan nafsunya yang lumayan besar. Akhirnya dia mencari lelaki diluaran sana buat memenuhi kebutuhan biologisnya. Tapi sejak berhubungan dengan gue malam itu, dia menjadi ketagihan", jelasku panjang lebar.




"Trus setelah loe bilang gak mau lagi melayaninya, apa yang dilakukan mbak Lina? apa sejak itu dia jadi marah-marah pada loe bro ?", tanya Daniel lebih lanjut.








"Yup, tepat dugaan loe bro. Dia sengaja memancing-mancing gairah gue kalau lagi dirumah, baik dengan pakaiannya yang sengaja tampil vulgar ketika berada dirumah bersamaku, ataupun merayu secara terang-terangan. Tapi, gue dah bertekat untuk tidak akan mengkhianati abang gue lagi. Sampai pada puncaknya, dia mengancam akan menceraikan abang gue. Itu membuat gue kalap dan membalas makiannya. Yah sampai kejadian hari itu, di depan bang Arya gue dikata-katai dengan bahasa yang sangat kasar, gue bisa aja membalas ucapannya, tapi itu sama saja akan membuat gue membuka aib sendiri, dan malah merusak keharmonisan rumah tangga gue. Jadi daripada gue membalas dengan emosi dan merugikan semua pihak, maka gue putusin pergi dari rumah abang gue, dan milih hidup sendiri, gue lebih bebas gak ada yang ngatur-ngatur", jelas ku.




"Gue kira loe bakal nikmatin aja petualangan mesum loe dengan mbak Lina, hehehe", kata Daniel menertawaiku.








"Ya kagak lah, gini-gini gue masih punya hati. Masa karna ngikutin nafsu, gue sampai tega merusak rumah tangga Abang gue sendiri", kata ku Bijak.




"Hehee...", kata Daniel nyengir.




"Cengiran loe cukk, ngejek loe, asem"




"Kagak Frans, salut gue sama loe, ternyata loe bisa baik juga", kata Daniel lagi dengan memanggil namaku. Walau sedikit bercanda kesannya, tapi kalau Daniel menyebut namaku langsung itu artinya dia serius dengan perkataannya.








"Trus, apa rencana loe sekarang bro ?, Tanya Daniel serius.




"Belum tahu bro. Yang jelas sekarang gue dah tinggal dirumah gue sendiri, baru gue tempati kemaren sih dan hari ini rencananya gue mau lunasin tuh rumah".




"Ada loe uangnya bro ? kalau gak loe bisa pake tabungan gue kalo loe mau!", tawar Daniel.




"Gak usahlah bro, lagian loe juga butuh buat biaya pernikahan loe ma Riska nantinya kan!", tolakku.




"Kemaren gue udah jual mobil gue buat beli tuh rumah", lanjutku.




"Astagaa,, itu kan mobil kesayangan loe bray. Trus mau pake apa loe sekarang kalau gak ada mobil?", kata Daniel kaget.




"Gampanglah, tar gue beli aja motor untuk sementara menjelang mampu beli mobil lagi", kata gue simpel.












Siang itu kami membahas banyak hal, sampai datang Riska tunangannya Daniel.












"Beib, udah jam kantor nih. Mau dimarahin papah apa ?", kata Riska mengomeli Daniel begitu tiba sambil sedikit melirikku.




"Iya iya, ini lagi ngobrol sama Frans dulu, lagian dah lama kami gak ngumpul seperti ini", kata Daniel ngeles.




"Ah alesan aja, pasti jelalatan liatin cewek-cewek disini ya kan?", kata Riska cemburu.












Wwkwk. Mampus loe Dan, kataku tertawa senang dalam hati melihat Daniel tidak berkutik di depan Riska.












"Eloe juga Frans, pasti mau ngajakin Daniel yang ngak baik nih ?", tuding Riska padaku.




"Hahahaa, yah kagak lah Ris. Yang ada, gue yang diajak nakal sama tunangan loe", kataku memojokkan Daniel, tampak wajah Daniel makin pias karena kulemparkan bola panas padanya.




"Asem loe Frans, kapan sejarahnya gue pernah ngajakin loe berbuat yang gak baik", kata Daniel membela diri.




"Hahahaa.", tawaku puas melihat ekspresi Daniel yang seperti ke gep karena kelakuan buruknya dimasa lalu.




"Udah-udah, malah ngobrol. Yuk balik kantor", kata Riska gak sabaran. Entah kenapa kalau Riska dekat-dekat gue biasanya suka bercanda lepas, nah kalau ada Daniel begini bawaannya pengen pergi mulu. Tapi aku gak pernah ambil pusing, lagian dia tunangan sobatku juga.




"Okelah, ya udah Frans, gue kerja dulu yak. Kalau loe butuh bantuan gue, hubungin gue yak", kata Daniel pamit.




"Oke Dan, trims yah waktunya hari ini", kata ku melambaikan tangan padanya.












Riska aku lihat hanya melirik sebentar kemudian pergi mengikuti langkah Daniel kembali kekantor mereka tanpa bicara sama sekali.








...




...
















Sore jam 16.15, aku sampai di rumah baruku, Rumah No. 202. Baru aku masuk kedalam rumah, terasa hawa yang sangat sejuk menerpa tubuhku lembut. Ini salah satu faktor yang membuatku senang dengan rumah ini, disamping harganya yang sangat - sangat murah, yaitu arsitekturnya klasiknya yang sangat unik. Banyaknya bukaan ventilasi dan ruang lepas, membuat aliran udara mengalir dengan lancar kedalam seluruh ruang. Bahkan di malam hari, terasa sangat dingin, makanya di dalam ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu terdapat foyer sebagai pembatasnya, khas rumah-rumah bergaya eropa timur, dan dibagian tengahnya terdapat ruang perapian yang menyatu dengan saluran cerobong asap ke atas rumah. Aku merasa beruntung bisa mendapatkan rumah ini.










Meta amelia






Belum lama aku duduk diruang tamu, tampak sebuah mobil sedan Honda Civic warna putih diikuti sebuah mobil avanza hitam dibelakangnya. Yang berada dalam mobil Civic aku tahu itu adalah Meta, dan tamu yang dibawa Meta aku belum mengenalnya. Tidak lama, akhirnya pertanyaanku akan siapa tamu yang datang bersama Meta terjawab sudah. Ia adalah pak Karta, seorang Notaris yang dikatakan Meta sebelumnya.




















BERSAMBUNG














Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar