KEYLA SI WANITA MISTERIUS
















Siang ini aku sedang santai sambil menikmati secangkir kopi, Hot Chocolate Signature kesukaanku di salah satu outlet Starbuck dekat kantornya Daniel sahabatku. Karena hari ini kami ada janji untuk bertemu membahas tentang pekerjaan.








Tidak lama saat Aku duduk menikmati minumanku, tampak Daniel berjalan mendekat, sepertinya Ia baru keluar istirahat dari jam kantornya.












“Hi bray, udah lama?” sapa Daniel menepuk pundakku pelan kemudian duduk di kursi sebelahku.




“Biasa aja, baru juga 10 menit.” Jawabku santai sambil melihat jam tanganku.




“Loe pesan aja Dan.” kataku menawarkan.












Aku melambaikan tangan pada salah satu pelayan, tidak lama si pelayan mencatat pesanan minuman Daniel.












“Gimana Dan ? Bisa gak gua masuk ke tempat loe?” Tanyaku membuka obrolan.




“Sekarang belum bisa bro.” Ucap Daniel dengan raut muka kusam, mungkin Dia merasa tidak enak karena belum bisa membantuku.




“Gue dah coba ngomong sama Riska, agar doi bisa membujuk bokapnya buat bantu masukin nama loe ke dalam perusahaan. Tapi yah loe tahu sendiri keadaan sekarang! Perusahaan gue gak jauh beda dengan perusahaan loe sebelumnya. Perusahaan lagi berusaha memangkas tenaga seminimal mungkin agar bisa tetap survive, Gue untung ada Riska aja, kalau gak! mungkin bakal bernasib sama kayak loe bro.” kata Daniel panjang lebar agak menunduk sedih.












Aku bisa memaklumi posisi Daniel, walau ia punya calon istri, Riska yang notabene anaknya salah satu dewan direksi di perusahaan tempat Daniel bekerja, tapi kalau kondisinya seperti sekarang yah pastinya juga tidak bisa berbuat banyak.












“Yo wis lah gak apa-apa bro, gak usah merasa gak enakan begitu. Mungkin ada jalan lainnya buat gue.” Ucapku menabahkan diri.




“Sorry banget yah bro, gue jadi gak enakan sama loe nih. Sebagai teman gue merasa gak becus karena gak bisa bantuin loe di saat-saat begini.” kata Daniel menyesal.




“Apaan sih loe bray, santai aja. Gak usah merasa gak enakan begitulah. Seperti kata gue tadi, mungkin akan ada jalan lainnya buat gue.” jawabku santai biar Daniel tidak terlalu larut dengan rasa ketidak enakannya.




“Atau loe mau coba ber-wira usaha dulu bro ? soal dana gampanglah, tar gue coba bantu.” usul Daniel dengan wajah cerah seperti menemukan sebuah solusi buatku.




“Hahaha loe kayak gak tau sapa gue aja Dan! Gue itu arsitek bukan tipikal enterpreneur, bisanya gue yah mendesain bangunan, masa mau disuruh wirausaha.” Jawabku santai.




“Hehehe yah siapa tahu loe mau coba dulu kan! paling tidak sebelum loe dapat pekerjaan baru, ya kan!” kata Daniel coba menyemangati.




“Hmnn, nantilah gue pikirin bro,” jawabku singkat sambil memandang kedepan.




“Oya, beberapa hari kemaren gue dihubungi Bang Arya katanya loe pindah dari rumah ya Bro? Kenapa ?” tanya Daniel mengalihkan topik.




“Iya bro, biasalah. Ada konflik sama si Lina, istrinya abang gue.” kataku tersenyum kecut.




“Kan dah biasa loe ribut sama dia. Kenapa sekarang loe gak tahan gitu ?” Tanya Daniel penasaran.




“Kali ini kata-katanya sudah sangat keterlaluan, habis sudah stok kesabaran gue.” Ucapku kalem.




“Hahaha, lagi pengen ma loe kali bro. Mungkin karena kurang jatah dari bang Arya.” Daniel tertawa kecil sambil menyeruput kopinya.




“Emang.” Jawabku cuek.




“Uhuukkk..” Daniel terbatuk dan menyemburkan kopi yang sedang diminumnya dan memandang seakan tak percaya kearahku.




“Serius loe bro ?” tanya Daniel kaget.




“Kapan gue bohong sama loe.” Lanjutku.




“Anjirrr Kakak Ipar juga loe embat. Assuuu, hahahha. Gak salah dah loe dilabeli maniak penakluk wanita.” kata Daniel tertawa sambil geleng-geleng kepala seolah tidak percaya.




“Anjirr maniak penakluk wanita pala lu peang dah.” kataku tertawa kecil di dijuluki begitu sama Daniel.




“hehehe, Emang gimana ceritanya sampai loe bisa ngewe ma dia? Bukannya selama ini kalian seperti Tom dan Jerry saja.” tanya Daniel lagi penasaran.




“Kepo juga loe, hehehe”, kataku meledeknya.




“Ya iyalah, mbak Lina itu kalau gak jutek, aslinya cuakep banget bro. Bodynya itu loh”, kata Daniel sambil membayangkan bodynya Mbak Lina Iparku yang memang ku akui punya body yang montok, sayang jika juteknya kambuh, nilai plusnya tersebut jadi berubah minus.












Kulemparkan tisu yang diatas meja kearah wajahnya.












“Bayangin apaan loe, setan dah. Ngomong jutek ternyata loe napsu juga ma dia”, kataku mengejeknya.




“wkwkw Siapa yang bisa nahan juga berada dekat dia lama-lama, liat bodynya itu loh bray, semok abiiis!. Makanya Gue salut kalau loe bisa tahan selama ini. Eh ternyataaa.. dah loe embat juga, dasar PK”, kata Daniel puas banget menertawaiku.








“wkwkw Asem. Masa PK ngatain PK”, kataku membalas ledekannya Daniel.




“Trus kenapa dia masih jutek ama loe bro ? atau jangan-jangan loe gak bisa muasin dia di ranjang yah ? wkwkwk, mungkin perlu bantuan gue!”, ledek Daniel lagi.








“Justru sebaliknya bro”, jawabku sambil tersenyum kecil.




“Maksud loe ?”








“Iya, karena dia gak bisa lepas dan ketergantungan dengan permainan gue”, lanjutku tertawa sombong.




“Aseeekkk, trus trus ?”, kata Daniel sumringah mendengar jawaban gue.








“Trus trus.. dah kayak tukang parkir aja loe lama-lama”, jawab ku pura-pura kesal.




“Hahahaa,,, habis gue penasaran ma cerita loe nih”, kata Daniel tertawa lepas, sampai-sampai orang disekitar tempat kami duduk melihat kearah Daniel, asem bikin malu aja ketawa nih orang, batinku.








“Ya itu tadi, kejadiannya 3 bulan yang lalu, loe masih ingat kan waktu kita pulang dari diskotik waktu itu ?”, tanya ku ke Daniel.




“Hmmnn waktu loe gue antar pulang karena mabuk berat waktu itu yah ?”, kata Daniel sambil mengingat kejadian saat kami pesta merayakan kenaikan pangkatnya Daniel di perusahaannya saat ini, karena minum terlalu banyak, aku jadi sampai mabuk berat sehingga harus diantar oleh Daniel pulang kerumah kakakku.








“Iya, waktu itu gue mabuk berat. Pas nyampe dirumah, ternyata yang nyambut gue si Lina kakak ipar gue. Entah kenapa ketika gue lihat dia yang cuma pake lingerie waktu itu membuat gue jadi horny berat, pas kebetulan abang gue lagi gak ada dirumah, dan ponakan gue sudah pada tidur. Kejadianlah”, kataku menjelaskan awal mula affairku dengan si kakak ipar.




“Dan sejak itu dia ketagihan sama loe, trus loe bosan dan tidak mau lagi melayani permintaannya, begitu ?”, tebak Daniel untuk kejadian selanjutnya, bagaimanapun Daniel orang yang paling tahu kalau aku suka bosenan sama yang namanya perempuan.








“Gak juga. Pada kenyataannya gue selalu meladeninya setiap dia minta, apalagi pas gue lagi gak dapat diluaran, atau pas saat gue sedang stres dengan pekerjaan dan butuh pelampiasan, otomatis pasti gue yang paling sering datengin dia”.




“Lah, trus kok bisa dia segitu marahnya sama loe?”, kata Daniel penasaran.




“Itu dia bro. Walau gue ini bajingan, gue jadi merasa berdosa dengan abang gue setiap kali gue bercinta dengan istrinya. Akhirnya gue gak tahan lagi, dan gue utarakan keinginan gue sama si Lina. Tapi loe tahu apa responnya ?”, tanya ku ke Daniel.












Daniel hanya mengangkat bahunya, menunggu jawabanku lebih lanjut.
















BERSAMBUNG


















Report content on this page