RUMAH NO 202 PART 4

  


Tak lama kemudian, pesanan kami telah dihidangkan. Ternyata Foie Gras yang dimaksud seperti steak daging, cuma pengolahannya dibakar dan di campur ke dalam sandwich, bahkan terasa ada campuran menteganya. Terasa kinyis kinyis dilidah.


“Gimana ?” tanya Kristinaa sambil memperhatikanku makan.


“Hmnnn, enak banget! ini bisa jadi salah satu tempat makan favoritku nantinya.” kataku memuji masakan yang memang terasa sangat enak dilidah.


“Hihiii, kamu bisa aja. Apa mau tambah?” tanyanya terlihat senang.


“Eh tidak! Ini sudah cukup. Kecuali kamu mau aku berubah jadi sumo pulangnya, dan tentunya kamu tidak akan mau aku berada diatasmu nantinya.” jawabku dengan lirikan menggodanya.


“Apaan sih, garing ah candanya.” katanya sambil tersenyum malu.


Saat menikmati desertnya, Creme Brulee. Kalau di Indonesia ini seperti Kue Lumpur. Cuma bedanya, ini diisi oleh campuran buah-buahan segar yang dimasak menggunakan susu dan vanilla. Pintar juga Kristinaa memilih makanan, pikirku.


Kristinaa kuperhatikan sangat menikmati makanannya, dan ia tampak santai menghabiskan red winenya, dari caranya minum sepertinya Ia sudah terbiasa meminum wine, karena bagi orang yang belum terbiasa atau belum pernah sama sekali meminumnya pasti akan terasa sangat nyekak di tenggorokan. Aku membantu menuangkan red wine yang sudah habis dari gelasnya.


“Makasih,” katanya tersenyum penuh arti.


“Wait..”, kataku pelan. Sambil mengambil serbek putih kecil yang ada diatas meja, kemudian membersihkan sedikit sisa makanan yang ada ditepian bibirnya.


“Apa kamu selalu begini pada semua wanita mu?” tanya Kristinaa pelan dengan tatapan penuh arti. Tampak pipinya jadi merona merah ketika kuperlalukan begitu.


“Maksudmu?” tanyaku polos menanggapi pertanyaannya.


“Iya, memperlakukan wanita dengan perhatian seromantis ini?” lanjutnya.


“Oh itu. Tidak juga.” jawabku singkat.


Kristinaa menatapku mesra.


“Karena, saat ini Aku tidak punya wanita ‘spesial’, jika itu yang kamu maksud.” kataku dengan memberi tanda kutip pada kata terakhir.


“Hmnn.. tidak mungkin! cowok sekeren kamu gak punya wanita spesial, bulshit!” katanya seolah tak percaya.


“Up to you! Faktanya memang Aku tidak punya pasangan saat ini, kecuali..”, kataku sengaja menggantung ucapan terakhirku.


“Kecuali apa?” tanyanya heran.


“Kecuali wanita cantik yang ada didepanku saat ini mau jadi yang ‘spesial’ itu.” Ucapku pelan sambil menatap lembut kedua matanya.


Kristinaa sejenak terdiam sambil membalas menatap mataku.


“You late.” lirihnya pelan dengan tatapan sendu.


“Why? You have someone ?” tanyaku klise sebenarnya.


“Not someone exactly! Aku sudah punya suami dan dua orang anak.” lanjutnya lirih sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela restoran. Yang kutangkap sekilas dari cara bicaranya, Kristinaa sepertinya tidak bahagia dengan pernikahannya. Mungkin ini kesempatan untuk menghiburnya, pikirku mesum.


“Tapi, bukan berarti kita tidak bisa berteman kan?” tanyaku sambil memegang tangannya lembut.


Kristinaa kembali menatap wajahku mesra, dan entah siapa yang memulai wajah kami perlahan semakin mendekat, dan


Cuppp












Sebuah ciuman hangat dan lembut terjadi begitu saja diantara kami. Kristinaa menatapku sayu.












“Malam ini, kamu temanin Aku yah!” Desahnya pelan ketika kami selesai berciuman.












Aku hanya menganggukan kepalaku mengiyakan ajakannya, kucing ditawarin ikan yah pasti langsung disambar, hehehe.








Setelah selesai membayar tagihan, kami mampir ke hotel bintang 3 yang ada disebelah restoran. Sengaja kami memilih hotel tersebut karena hasrat yang sama-sama sudah tidak tertahankan dan sama-sama butuh penyaluran.








Aku membooking sebuah kamar yang paling bagus yang ada di hotel tersebut, sementara Kris menunggu di di lobby hotel. Begitu selesai urusan check in, Aku langsung mengajak Kris untuk naik keatas melalui lift. Dalam lift Kristinaa selalu memeluk erat lengan kananku.








Begitu sampai dalam kamar, kris ijin sebentar kekamar mandi mau bersih-bersih dulu katanya. Didalam kamar, Aku melepaskan semua pakaian yang melekat dan berbaring diatas tempat tidur, kira-kira gimana respon Kris yah melihat penampilanku seperti ini, senyum nakal mengembang dibibirku.








Dan memang tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Tampak Kristinaa hanya mengunakan piyama putih yang telah disediakan oleh pihak Hotel.












“Ouu Frans.” katanya Kaget melihatku yang telah bugil diatas tempat tidur, dan matanya tidak pernah lepas memperhatikan senjata andalanku.












Aku yang sudah tidak sabaran segera berdiri memeluknya erat, sambil mencium bibir manisnya.












“Hmpphh. Sabarrr dulu sayang, ahhhh,” desahnya pelan sambil menetralkan nafasnya yang sesak karena tiba-tiba kucium dengan buas.




“Aku pake parfum dulu yah,” katanya pelan dengan senyum yang menyimpan hasrat tertahan.




“Gak usah,” kataku gak sabaran. Aku buka pelan, tali ikatan piyama putihnya, begitu talinya terlepas, kemudian kulepaskan sekalian piyama yang masih melekat ditubuhnya, terpampang sudah tubuh polos Kris yang tidak memakai apa-apa lagi didalamnya.








Aku mendorong tubuh Kris pelan, membaringkannya diatas springbed. Aku memperlakukannya pelan dan lembut. Karena aku belum tahu, Kris tipe pecinta seperti apa, sehinga Aku coba memperlakukannya dengan selembut mungkin.








Aku mulai menjelajahi dari area atasnya terlebih dahulu, walau Aku sangat ingin menjamah payudaranya yang montok dan putih tersebut, tapi Aku ingin melakukannya dengan sesantai mungkin. Aku mulai menciumi keningnya, tampak Kristinaa memejamkan kedua matanya begitu bibirku menyentuh lembut dahinya. Perlahan Aku lanjut dengan menciumi kedua matanya, hidung mancungnya yang terpahat sempurna, kedua pipi putihnya.












“Ahhh, kelamaan.” kata Kris tidak sabaran, mengejar bibirku.












Smootthhhh, kami berciuman dengan sangat nafsunya.












Hhaahhh hahhh,












Nafas kami mulai saling memburu naik. Aku mencoba memasukan lidahku kedalam mulutnya, Kristinaa menyambut lidahku. Saat kris mengulurkan lidahnya mengejar lidahku yang kutarik keluar, Aku menyedot lidah Kristinaaa dalam.












“Ahhh terus sayang, kamu mahir banget ciumannya”, pujinya.












Selanjutnya aku mulai mengeksplore tubuh bagian bawah Kris, aku menciumi leher jenjangnya. Turun perlahan kebagian bahunya, tubuh Indah Kristina semakin basar oleh keringatnya. Aroma tubuh wanita semakin kentara, dan itu membuatku semakin bernafsu untuk menyetubuhinya.












“Angkat tangannya say.” Pintaku lembut.












Kristina yang sedang dirundung nafsu, mengikuti permintaanku. Tampak Ketiaknya yang putih polos, seperti Kristina rajin merawat ketiaknya, terlihat dari dari ketiaknya yang mulus tanpa bulu dan tanpa noda hitam sedikitpun. Aku melihat itu jadi semakin bersemangat dibuatnya. Aku mulai menciumi ketiaknya,












Smootthh.












“Ahh kamu apakan ketiakku sayang, aahhhh.” katanya mendesah nikmat.












Puas dengan ketiak kiri Aku pindah ke ketiak kanannya. Kristina semakin kelojotan gak tahan menahan nafsunya yang semakin menggelora.








Kemudian aku lanjut kebagian tengahnya, Aku sengaja menciumi area di sekitar payudaranya terlebih dahulu, sehingga sekitar putingnya basah oleh air liur yang bercampur dengan keringat kami.












“Ahhh.. jangan dikasih cupang sayang, nanti suamiku curiga.” kata Kristina mengingatkan disela kenikmatan yang menderanya.












Kedua tangannya memegang belakang kepalaku erat agar Aku segera mencium puting susunya.








Karena sudah puas berlama-lama bermain diarea sekitar itu, Aku lanjut dengan menciumi puting payudaranya Kris secara intens.












“Ahhh sayang, terusss. Ahhhkkk.” katanya semakin mendesah.












Aku menciumi gemas kedua putingnya, walau sudah melahirkan dua anak, payudara Kristina masih sangat montok belum kendor sama sekali. Putingnya yang berwana kecoklatan jadi semakin mengkilat karena terus aku sedotin.








Kristina semakin blingsatan tidak kuat menahan nafsunya, tampak Ia tidak sabaran dan meraih penisku. Tapi Aku tahan tangannya, karena Aku masih ingin bermain lama-lama dengan tubuh indahnya.












“Sayang masukin, Aku sudah gak tahaannn.. pleaaasee,” katanya memohon. Tampak wajah putihnya semakin memerah karena gejolak nafsunya yang sudah memuncak.












Ciumanku turun menjelajahi bagian bawah payudaranya, perlahan lanjut ke pusarnya. Sampai pada area kemaluannya. Aku berhenti sejenak mengagumi keindahan vaginanya Kristina yang ada tepat didepanku saat ini, bentuknya tembem dengan bulu yang tercukur rapi melintang segaris arah kemaluannya, liang vaginanya berwarna pink. Gemes, Aku mulai menciumi klitorisnya dengan perlahan, dan itu membuat Kris semakin klojotan menahan nikmat. Baru beberapa saat Aku menciumi bagian klitorisnya, Kris tampak menegang, dan berteriak kencang..












“Aahhhhhhh.........”












Crott crooottt crotttt












Kristina squirting, tampak cairan bening memancar kuat keatas beberapa kali. Untung Aku sempat mengindar kesamping, kalau tidak basah dah tuh karena saking banyaknya cairan yang menyemprot kuat dari vaginanya.












“Hahhh.. haahhhh.” Tampak dadanya turun naik sambil menetralkan pernafasannya.




“Aayang, apa itu barusan ? Hahh haahh..” Tanya Kristina yang masih tersengal-sengal akibat squirting barusan.




“Itu namanya squirting. Loh, kamu belum pernah merasakannya?” Tanyaku agak heran. Dan sedikit mempertanyakan pengalaman bercintanya dengan suaminya.




“Kok bisa?” Tanyanya balik.




“Jujur itu pertama kali Aku merasakannya, dan itu,, sangat nikmat dari semua orgasme yang pernah kurasakan.” Lanjut Kristina polos.












Penisku makin tegang mendengar perkataan polosnya barusan, berarti Aku lelaki pertama yang bisa membuat Ia bisa seperti ini. Sebenarnya Aku mau lanjut tapi karena melihat Kristina yang masih mengatur napasnya akibat squirting dahsyatnya barusan, tampaknya Ia juga kelelahan. Aku memutuskan menunda sejenak menu utamanya.








Aku berdiri mengambil minum yang ada di atas meja. Kemudian Aku sodorkan pada Kristina yang masih terbaring lemas sambil.












“Masih kuat ?” tanyaku begitu melihat nafasnya mulai stabil seperti semula.




“Baru membuatku lemas sekali dah sombong, awas akan kubalas nanti.”, katanya membalas sambil tersenyum genit.












Melihat itu, Aku mulai membaringkan Kristina kembali. Kali ini Aku mulai menjilati kemaluannya kembali dan membuat Kristina kembali mendesah hebat, sampai kurasa mekinya mulai sangat basah, lalu Aku naik keatas tubuhnya.












“Sayang Aku masukin yah?” kataku sambil menggesekkan ujung penisku ke liang vaginanya.




“Iya, tapi pelan-pelan yah! Penismu ke gede-an.” lirihnya pelan menatapku penuh kemesraan.












Krisitin membuka pahanya lebih lebar, dan kakinya dijepit keatas memeluk pinggulku.












Aku mulai memasukkan perlahan kepala penisku kedalam vaginanya.












Sleeepppp,












Kepala penisku mulai masuk.












“ahh enakkkk.” Desahnya dengan mata membeliak nikmat.












Aku tarik pelan, kemudian kumasukkan lagi perlahan sampai mulut vaginanya mulai terbiasa dengan diameter penisku, saat sudah kurasa cukup, Aku mulai meningkatkan tempo sodokanku ke mekinya.












“Ahhhh pelan sayang, perihhh.” lirihnya ketika penisku mulai masuk agak dalam.




“Tahan sayang,,, hmnnnn ahhh.” Bisikku ketelinganya. Tanganku mulai meremas payudaranya lembut agar Kristina bisa lebih rileks serta memberi ransangan yang lebih padanya. Mekinya masih sangat sempit dan sangat ketat menjepit batang penisku.
















BERSAMBUNG


















Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar