Saat sedang asik bekerja, tiba-tiba musik beethoven yang kuputar sebelumnya berhenti berputar. Aku keluar ruangan menghampiri Gramofon dekat ruang keluarga tersebut. Aku sedikit terkejut karna posisi jarum gramofonnya keatas tidak dalam posisi kebawah atau memutar seperti seharusnya.
Entah kenapa bulu tengkukku jadi bergidik ngeri. Hmnn, ada sebuah rasa aneh yang menghampiriku semenjak pertama kali masuk kedalam rumah ini, khususnya ketika berada di lantai atas rumah ini. Namun aku tipe orang yang lebih mengandalkan rasional, daripada praduga yang tidak-tidak. Walau demikian Aku jadi mengaitkan beberapa keanehan sebelum dan sesudah Aku masuk kedalam rumah ini. Dimulai dari sikap aneh Ibu-Ibu yang ada di komplek ketika Aku menanyakan alamat rumah ini sebelumnya, dan sikap aneh Meta yang tampak ragu-ragu ketika naik kelantai atas rumah ini. Malah, dia cenderung mengajakku ke ruang tamu yang ada dilantai bawah untuk membicarakan perihal jual beli rumah ini daripada membicarakannya dilantai atas ini, atau karena Ia perempuan dan Aku laki-laki, takut kalau terjadi hal yang tidak diinginkannya, pikirku coba berbaik sangka
Nanti sajalah kutanyakan ke Meta, pikirku. Namun yang yang membuatku sedikit merinding adalah rumah ini. Masuk kedalam rumah ini seperti ada saja mata yang memperhatikan setiap gerak gerikku dari tadi. Awalnya Aku tidak terlalu mempedulikan keanehan yang Kurasa, karena memang ketika kuperhatikan lebih teliti, tidak kutemukan tanda-tanda ada orang lain selain diriku dirumah ini
Ah masa bodohlah, pikirku cuek. Aku kembali meletakkan posisi jarum gramofonnya kebawah. Dan alunan musik indahnya beethoven pun kembali terdengar seantero rumah.
“Hiufftt, capek juga beres-beres begini ternyata!” gumamku pelan sambil meregangkan badanku.
Aku teringat besok mau transaksi dengan Meta tentang pembelian rumah ini. Aku lihat jam tanganku, sudah jam 18.30 Wib. Hmnn belum terlalu larut. Masih sempat ke dealernya Garasi nih sekalian cari makan malam, pikirku. Dealer Garasi adalah tempat Jual Beli mobil terbesar di kota ini, Aku berpikir untuk menjual mobil kesayanganku untuk modal membeli rumah nantinya. Aku juga belum tahu akan laku berapa nih mobil. Tapi karena tidak ada cara lain yang nampak olehku saat ini. Mau minjam di Bank jelas tidak mungkin, karena Aku yang tanpa pekerjaan saat ini gimana mau minjam, karena tidak ada jaminan yang bisa kupakai. Mau minjam sama Kak Arya, jelas tidak mungkin. Aku kan sudah minggat dari rumahnya, gara-gara cekcok dengan Mbak Lina istrinya.
Lagian aku masih sakit hati dengan perkataan kasar yang di lontarkan oleh Mbak Lina ketika mengusirku pergi dari rumahnya.
“Dasar pengangguran, hanya bisa menyusahkan orang saja. Apa kamu gak malu, menggantungkan hidup begini, dasar benalu!” Mengingat itu Aku kembali geram. Kalau saja! yah kalau saja dia bukan istri dari kakakku, ingin rasanya kutampar mulutnya yang kasar itu. Terus kupaksa bawa kekamar, dan kubuat ia terkapar tak berdaya dengan pusaka andalanku. Tai dah, geramku tak habis pikir dengan nasibku yang serba malang ini. Sudah jadi korban PHK dengan pesangon seadanya, diusir pula dari rumah kakakku. Dan parahnya kakakku hanya diam saja melihat istrinya mempelakukanku seperti itu, tambah-tambah dobel sakit hatiku.
Tepat jam 20.15 Aku sampai di dealer Garasi. Dan disambut ramah sama pegawai yang ada disana. Aku mengutarakan maksudku untuk menjual mobilku. Sama pegawainya, Aku diperkenalkan dengan salah seorang manajernya. Dari name tag nya, kutahu ia bernama Kristinaa. dan sesuai SOP di dealer tersebut, mereka melakukan inspeksi kendaraan, mengecek secara detail kendaraanku. Tidak sampai 30 menit, mereka telah selesai dengan tugasnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut mereka langsung mematok harga mobilku sesuai kondisi mobilku. Cepat juga hasil kerja mereka, bahkan langsung bisa mematok harga yang pantas dan sesuai dengan kondisi mobil.
Kristina
“Kondisinya masih sangat bagus yah Mas Frans.” kata Mbak Kristinaa.
“Ya, jadi gimana Mbak ?”. tanyaku langsung to the point.
“Dari kondisi kendaraannya, dan sudah kita sebar info ke semua jaringan kita yang ada di daerah, kita berani ambil 520 juta Mas” katanya memberikan penawaran padaku.
Setelah kupikir-pikir sejenak, harga tersebut sangat reasonable. Mengingat mobilku yang masih 10 bulan pake. Walau barunya kubeli harga diatas 600juta.
“Oke deal Mbak.” jawabku menyetujui penawarannya.
Selanjutnya kami serah terima jual beli kendaraan dengan penyerahan surat-surat kendaraanku. Untuk pembayaran, pihak Garasi langsung mentransfer ke rekeningku.
“Oke sudah ditranfer yah Mas, silahkan di cek dulu.” kata Mbak Kristinaa ramah.
“Oh iya, sudah masuk Mbak.” kataku begitu memperhatikan sejumlah angka yang baru masuk ke saldo rekeningku via handphoneku.
Sekali lagi, kuperhatikan mobil fortuner hitam kesayanganku sebelum memutuskan kembali kerumah, ada rasa sedih yang merasuk sejenak ke relung hatiku. Bagaimanapun ini adalah mobil pertama yang kubeli dengan hasil jerih payahku sendiri ketika bekerja sebagai arsitek di perusahaan pengembang XXX. Aku ingat, berapa lama Aku menabung untuk mendapatkan mobil ini. Bagaimanapun Aku harus merelakannya, semoga nanti bisa segera dapat gantinya, doaku dalam hati.
Kami bersalaman sebagai tanda sepakat dengan transaksi pada hari itu. Entah karena malam atau mang Akunya yang belum makan sejak siang tadi, perutku malah memberi alert yang membuatku malu ketika sedang bersalaman dengan Mbak Kristinaa.
Kriukk kriukkk
Mbak Kristinaa tertawa kecil menertawakan bunyi perutku.
“Sepertinya Mas Frans belum makan yah ?” tanyanya to the point.
“Haiss ini perut gak malu apah, teriak-teriak depan cewek cantik begini.” kataku cuek sambil reflek menyebut wanita didepanku dengan kata ‘cantik’. Naluriku sebagai penakluk wanita langsung bekerja. Mbak Kristinaa yang ada didepanku jadi malu sambil tersenyum dan sedikit menundukkan wajahnya.
“Kalau tidak keberatan, Aku sekalian temanin makan yah Mas Frans.” katanya pelan menawarkan untuk diner bareng.
“Eh dah jam segini, ada tempat makan yang enak kah sekitar sini Mbak Kris ?”
“Hmnn tempat langgananku aja kalau begitu Mas Frans.” tawar Mbak Kristinaa tersenyum senang.
“Oke Mbak Kris.” kataku menyetujui usulannya.
“Panggilnya jangan Mbak gitu dong, berasa tua-an Aku jadinya.” katanya tersenyum malu-malu.
“Oke, Aku panggil Kris aja kalau begitu yah!” Dia hanya mengangguk kecil.
“Ayok.” Ajakku sambil membuka lengan kiriku seperti layaknya seorang pangeran mengajak ratunya ketika akan berjalan. Herannya, Kristinaa langsung mengapit lengan kiriku. Kami berjalan ketempat parkiran kantornya. Ternyata Kristinaa membawa mobil Mazda 3 warna merah. Kristinaa menyerahkan kunci mobilnya untuk aku kendarai, sementara Kristinaa duduk diamping kiriku. Ketika duduk, Kristinaa entah sengaja atau tidak, ia menaikkan kaki kanannya keatas kaki kirinya, dan itu membuat roknya yang pendek semakin terangkat memperlihatkan pahanya yang putih mulus. Ditambah ambient light warna biru lembut yang ada dalam interior mobil membuat paha itu seperti terlihat mengkilat.
Glek, Aku menelan saliva.
Aku mencoba mengalihkan perhatian ke arah jalan biar tidak terlalu larut dengan pesona pahanya Kristinaa.
Kristinaa mendekatkan wajahnya sedikit kearahku.
“Ternyata matamu.. nakal.” bisiknya pelan sambil menggigit bibir bagian bawahnya dengan gaya yang sungguh menggoda.
“Tapii.. Aku sukaa..” lanjutnya sambil mendesah pelan dekat telingaku.
Aku hanya tersenyum kalem. Dan itu semakin membuatnya penasaran. Karena berdasarkan pengalamanku, cewek itu akan semakin takluk jika kita terlihat cool daripada harus membalas kenakalan si Wanita dengan sikap yang sama. Biar dia jadi semakin penasaran. Tau dari mana ? pengalaman bro, wkwkwk.
Tak lama kami sampai ke restoran tempat langganannya Kristinaa. Restoran ini bergaya ekslusif, sepertinya yang makan di sini kebanyakan dari kalangan eksekutif. Aku jadi sedikit curiga dengan Kristinaa yang tampak sangat familiar dengan tempat ini. Beberapa pelayannya pun tampak cukup akrab dengan Kristinaa.
Kami duduk di ruang VIP, yang satu tablenya hanya diisi oleh dua orang. Ketika pelayan datang membawa makanan, Aku sedikit bingung awalnya, karena menu-menu yang ditawarkan semuanya berbahasa Prancis. Restoran ini khusus menghidangkan masakan-masakan khas Prancis. Ternyata Kristinaa orangnya Classy juga.
“So, Frans kamu mau makan apa ?” tanya Kristinaa padaku.
“Hmnn, Aku ngikut kamu aja.” kataku diplomatis.
Kristinaa hanya tersenyum manis sepertinya memahami kebingunganku. Untuk orang yang belum pernah sama sekali mencicipi masakan Prancis, Aku menyerahkan pilihan sepenuhnya pada Kristinaa.
“Okay, kalau gitu saya Foie Gras porsi sedang, dua. Untuk desertnya, Creeme Brulee, dan minumnya Red Wine serta air putih.” Kata Kristinaa sambil menyerahkan daftar menu pada pelayan.
“Wow, kamu sudah familiar sekali kelihatannya dengan menu-menu yang ada disini.” kataku memuji pilihan menunya.
“Dan kamu pasti baru kali ini makan hidangan Prancis.” tebaknya.
“Its Correct.” kataku membenarkan ucapannya.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar