RUMAH NO 202 PART 2

 


Awalnya ada sedikit keraguan di wajah Meta, tapi mungkin karena profesionalitas kerja agar pembeli senang. Meta mengajakku kelantai atas, walau ia agak sedikit melambatkan langkah kakinya ketika berjalan melalui tangga. Meta seperti melihat-lihat ‘sesuatu’ ke lantai atas. Aku mengikutinya dari belakang.


Tak lama begitu kami sampai kelantai atas, tenyata di atas sini ada ruang santai keluarga, balkon untuk tempat bersantai sambil menikmati kopi, wah asik nih buat menghilangkan jenuh ketika selesai bekerja. Pikirku.


Dari balkon, Aku bisa melihat ke halaman depan rumah, dari sini Aku juga bisa memandang ke perkampungan penduduk. Sejenak Aku benar-benar terpesona dengan keindahan rumah ini. Entah kenapa Aku langsung merasa cocok duluan dengan rumah ini.


“Eh kenapa ?” tanyaku heran karena melihat Meta yang masih berdiri dekat tangga.


“G-gak apa-apa Mas,” jawabnya agak gugup.


“Mari lihat-lihat kamarnya dulu Mas Frans.” Ajak Meta sambil mengeluarkan beberapa anak kunci dari dalam tas kecilnya, tangannya agak gemetar ketika mengeluarkan kunci-kunci tersebut. Aku sengaja tidak bertanya lebih lanjut, biar tidak membuat Meta semakin grogi, mungkin Dia gugup karena sedang berduaan dengan pria asing sepertiku.


Masuk ke kamar utama, kesan pertama yang kudapatkan, nyaman dan lega. Dengan ukiran dinding klasik yang juga berwarna putih senada dengan desain rumah. Didalamnya juga terdapat kamar mandi yang luas serta lemari pakaian khusus berukuran beberapa meter panjang kali lebarnya..


“Di lantai atas rumah ini juga terdapat tiga kamar lagi, siapa tau Mas Frans bisa pake untuk anak-anaknya.” kata Meta sambil menunjukkan kamar lainnya padaku.


“Hmnn saya belum berkeluarga Meta.” jawabku tersenyum malu.


“Beneran? duh maaf, saya kira Mas Frans beli rumah untuk keluarganya.” Ucap Meta agak heran.


“Iya Met. Ini saya beli rumah untuk diri sendiri kok. Biar gak kelamaan bergantung sama keluarga.” kataku santai.


“Oh jadi Mas Frans sebelumnya tinggal sama keluarga, begitu ?”


“Iya.” jawabku singkat. Maksudku biar Meta tidak bertanya lebih jauh tentang keluargaku. Sepertinya Meta pun paham, sehingga ia tidak lagi bertanya lebih jauh tentang privasiku.


Setelah puas melihat-lihat sekeliling ruang atas. Meta mengajakku kembali keruang bawah. Entah kenapa Meta terlihat seperti tidak betah berada dilantai atas rumah ini. Tampak dari raut wajahnya yang seperti mengkhawatirkan sesuatu ketika berada di atas sini. Entahlah! atau itu cuma sekedar perasaanku saja.


Begitu sampai di ruang tamu, Meta mengajakku duduk di sofa sambil membicarakan detail rumah ini.


“Jadi gimana menurut Mas Frans dengan rumah ini ?” tanya Meta begitu kami duduk santai di sofa ruang tamu.


“Well, Aku nyaman dengan rumah ini dan lingkungannya, tapi..”


Meta tampak cemas begitu Aku menggantung ucapan terakhirku, khawatir kalau Aku tidak jadi beli rumah ini.


“Tapi apa Mas Frans ?” selanya.


“Tapi, apa gak kemurahan Meta jual rumah ini?” tanyaku mengungkapkan keherananku dengan rumah ini. Karena paling tidak rumah ini bisa bernilai diatas 2 milyar, melihat luas tanah serta bangunannya. Apalagi rumah ini dijual lengkap dengan perabotannya yang serba antik. Dilihat dari furniturnya saja, bisa bernilai ratusan juta.


“Awalnya Meta menjual rumah ini 2 Milyar mas, tapi gak laku-laku juga, sampai Meta menurunkan harga jual rumah ini 1 milyarpun, masih belum laku-laku juga. Ada beberapa orang yang mampir untuk melihat rumah ini, tapi tak ada satupun yang kembali lagi untuk membeli rumah ini. Meta juga hampir putus asa menjual rumah ini sebenarnya.” tampak raut kesedihan di wajahnya.




“Sebenarnya Meta juga gak mau menjual rumah ini. Ini adalah Rumah kesayangannya Nenek, tapi sejak kematian beliau tidak ada yang menempati rumah ini, sehingga rumah ini menjadi tidak terawat. Makanya Meta terpaksa menjual rumah ini, agar ada yang merawatnya. Paling tidak Nenek Meta akan bahagia disana melihat rumah kesayangannya ada yang merawat.” terang Meta panjang lebar. Aku jadi mengerti alasan Meta menjual rumah ini dengan harga yang sangat murah.




“Baiklah, Aku setuju dengan harga rumah ini.” kataku singkat.












Meta tampak sangat senang dengan jawabanku.












“Benarkah mas?” tanya Meta tersenyum senang.




“Iya, kalau begitu bagaimana saya bisa mengurus pembayarannya serta mengurus biaya balik nama dari sertifikat rumah ini ?” Tanyaku langsung pada pokok persoalannya.




“Untuk pembayarannya bisa cash atau Mas transfer juga boleh. Untuk sertifikatnya nanti Meta bawa Notaris dari kantor tempat Meta bekerja.” kata Meta tersenyum senang. Karena barusan menyebut tempat bekerja..




“Meta kerja di Bank 46 yah ?” tebakku.




“Iya Mas. Kalau Mas Frans sendiri?” Tanya Meta balik.




“Saya kerja di perusahaan pengembang XXX”, jawabku sekenanya.




“hmnn bukannya perusaan itu terkena pailit yah mas? dan banyak karyawannya yang di PHK?” rupanya Meta update juga dengan kondisi yang terjadi perusahaan tempatku bekerja sebelumnya..




“Iya Meta, dan aku termasuk salah satu yang di PHK.” Ucapku apa adanya.




“Hmnn turut prihatin yah Mas Frans.” kata Meta berempati padaku.




“Tapi semoga dengan Mas beli rumah ini, nantinya dapat pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.” katanya menyemangatiku. Entah kenapa Aku jadi ikutan bersemangat ketika Meta bicara begitu.




“So, kapan Mas Frans rencananya mau menempati rumah ini ?” tanya Meta.




“Kalau bisa hari ini, rencananya Aku mau langsung memindahkan barang-barangku hari ini kesini.”




“Oke kalau begitu Mas Frans bisa langsung pegang kunci rumah ini.” kata Meta menyerahkan anak kunci rumah ini padaku berikut dengan kunci duplikatnya.




“Loh gak papa ini? kan kita belum serah terima rumahnya.” Tanyaku heran.




“Gak apa-apa Mas. Toh baik hari ini ataupun lusa, juga akan serah terima juga, ya Kan!” kata Meta lugas. Tampaknya Ia senang sekali karena rumahnya sudah laku.




“Oke lah kalau begitu.” Jawabku senang.




“Baiklah Mas Frans, kalau gitu Meta pergi dulu ya, mau balik kantor. Nanti Meta kesini lagi bareng Notaris sekalian bawa surat-surat rumahnya.” kata Meta pamit undur diri.




“Oya, Meta. Kalau begitu bareng aja keluarnya. Sekalian Aku mau ke hotel tempat menginap buat mengambil barang-barangku.” kataku sambil mengiringi langkah Meta keluar rumah.












Begitu sampai dekat mobil, Aku berjalan mendahului langkah Meta ke pintu mobilnya. Kemudian membukakan pintu mobilnya sambil mempersilahkan Meta untuk masuk kedalam mobilnya. Tampak ada sedikit rona kemerahan dipipinya yang putih ketika aku memperlakukannya demikian.












“Terimakasih Mas.” kata Meta tersenyum cantik sambil duduk dibangku kemudinya.












Aku menutup pintu mobil sedan tersebut pelan.












“Salam yah buat keluarganya.” kataku modus, hehehe.




“Hmnnn Meta belum berkeluarga Mas.” kata Meta tersenyum kecil padaku. Gotchaaa! Sesuai tebakan kalau ia masih single, kesempatan nih!. Pikirku senang.




“Oh kalau begitu, hati-hati di jalan yah.” lanjutku padanya.




“Iya mas, Meta duluan yah Mas Frans, kalau ada yang mau Mas perlukan atau ada yang mau ditanyakan, langsung hubungi meta ya Mas.” kata Meta melambaikan tangannya sambil memundurkan mobilnya. Kemudian melaju meninggalkanku yang masih berdiri dan tersenyum menatap kepergiannya.








Akupun berlalu meninggalkan rumah yang sebentar lagi akan menjadi milikku tersebut. Siang itu aku sibuk memindahkan barang-barangku yang masih ada di Hotel tempatku menginap sebelumnya. Beberapa koper pakaian serta peralatan menggambarku aku pindahkan kedalam mobil fortuner kesayanganku.








Akhirnya aku bisa punya rumah sendiri, pikirku senang.








Ketika kembali kerumah baruku yang bernomor 202. Aku memasukkan beberapa pakaian ke lemari yang ada kamar tidur utama dilantai atas.








Diruang keluarga dekat kamar tidur utama ternyata ada Gramofon, sebuah pemutar musik tempo dulu. "Eh masih ada aja alat beginian?" pikirku heran. Ternyata, disana juga ada banyak piringan hitam dengan musik-musik klasik dari musisi-musisi terkenal. Penasaran, kulihat beberapa koleksi musik yang ada di rak kecil tersebut. "Hmnn, Neneknya Meta ternyata penyuka musik-musik klasik juga" pikirku takjub. Akhirnya kuputuskan memutar musik beethoven, kumasukkan pirangan hitam ke gramofon antik tersebut. Tak lama terdengar alunan musik yang sangat khas dan santai dari corong gramofon antik tersebut. Hmnn sangat pas buat menemani kerja. Aku melanjutkan beres-beres. Kemudian Aku memindahkan peralatan kerjaku.








Hmmnn, ruangan ini pas sebagai tempat kerja, pikirku sambil tersenyum senang. Ya, ruangan yang ada di ujung rumah lantai dua dengan jendela menghadap ke taman samping. Ruangannya tidak terlalu besar, pencahayaan yang baik dari jendela besar menghadap ke taman samping ini sangat pas menunjang suasana kerja yang kondusif.








Aku meletakkan peralatan gambar disudut ruangan, kemudian lanjut dengan menata meja kerja, membersihkan sedikit debu yang ada. Kemudian menempatkan laptop mac kesayanganku diatasnya. Selanjutnya Aku menata beberapa buku koleksiku ke dalam rak baca yang ada dalam ruangan tersebut.
















BERSAMBUNG


















Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar