Mereka bertiga pergi dengan mobil Meta, mengikuti mobil patroli Polisi menuju rumah sakit. Saat tiba di ruang otopsi, Frans di buat terbelalak dengan kondisi mayat yang dijumpainya. Meta bahkan sampai muntah melihat mayat Lina.
Polisi yang menjemput Frans menjelaskan kondisi saat mayat di temukan oleh salah seorang satpam komplek tersebut. Polisi bisa tahu Frans, karena tidak jauh dari lokasi mayat ditemukan, anjing pelacak menemukan tas korban milik korban. Setelah diperiksa, semua isi tas masih dalam keadaan utuh, sehingga dugaan awal kalau korban di rampok terbantahkan. Namun polisi perlu memastikan lebih lanjut sehingga harus menjemput Frans untuk bantu mengklarifikasi jenazah.
“Ini benar Lina, kakak ipar saya pak”, kata Frans.
“Apa anda yakin ?”, tanya polisi tersebut memastikan.
“Iya pak. Dimata kaki kirinya ada tanda lahir”, kata Frans menunjuk tanda hitam yang ada persis di atas mata kaki sebelah kirinya. Sebenarnya ada tanda lain yang sangat familiar diingatan Frans, yaitu tailalat di payudara sebelah kirinya dekat putingnya, karena ia sering bercinta dengan Lina, sehingga sudah hapal dengan bentuk tubuh indah Lina. Namun, tidak mungkin ia menjawab demikian, gila itu namanya. Sama saja membuka skandalnya pada kedua polisi tersebut, belum lagi disitu ada Meta dan Kumbara, mau taruh dimana mukanya!, pikir Frans.
Tidak lama, datang kakaknya Frans, yang masuk ke dalam ruang jenazah dengan langkah terburu. Wajahnya terlihat sangat lelah dan pucat.
“Astaga sayang! Bagaimana bisa begini”, tangis Arya pecah begitu melihat keadaan istrinya yang menggenaskan.
“Sabar mas, sabar”, kata Frans memegang bahu kakaknya untuk menenangkan.
Arya terlihat sangat terpukul dengan kematian istrinya, ia sampai – sampai terduduk lemas meratapi istrinya.
“Mas yang kuat mas. Ingat mas! masih punya anak – anak yang harus mas jaga”, kata Frans coba menguatkan kakaknya.
“Ini salahku. Coba kalau aku tidak keluar kota kemaren. Seandainya aku menemaninya ke tampatmu kemaren, mungkin ia tidak akan mati begini”, kata Arya dengan kesedihannya yang semakin memilukan bagi setiap orang yang mendengarnya.
“Jadi, korban sebelumnya dari tempat anda?”, tanya Polisi dengan tatapan curiga ke arah Frans.
Frans yang merasa di curigai agak sedikit grogi, khawatir kalau ia akan dituduh sebagai pelaku pembunuhan.
“Eh iya pak. Sorenya mbak Lina dari tempat saya”, jawab Frans tenang. Polisi satunya terlihat mencatat kembali keterangan Frans.
“Ada urusan apa korban ke tempat anda ?”, tanya Polisi tersebut lebih lanjut.
“Istri saya ke rumah adik saya mau meminta maaf pak. Ia merasa bersalah karena telah mengusir Frans dari rumah”, malah Arya yang menjawab pertanyaan polisi. Bagaimanapun ia yakin kalau adiknya tidak mungkin membunuh istrinya, sehingga supaya adiknya tidak disudutkan dengan pertanyaan dari polisi, maka ia langsung menjawab pertanyaan tersebut.
“Jadi anda mengetahui kalau istri anda ke tempat adik Anda ?”, tanya Polisi pada Arya.
“Iya pak. Itu juga ada atas izin dari saya. Awalnya saya mau mengantar, tapi karena ada pekerjaan di luar kota, sehingga istri saya berangkat sendiri ke tempat Frans”, jawab Arya lagi sambil melirik ke arah adiknya.
Selanjutnya Polisi membawa mereka keluar ruangan untuk mengajukan berbagai pertanyaan lebih lanjut. Sampai sore hari pukul 15.00 Polisi mengijinkan mereka untuk pulang, jenazah sendiri akan dikremasi terlebih dahulu, sebelum di kubur.
Frans sebetulnya ingin ikut Arya ke rumah duka, namun tangannya di tahan oleh Meta. Ia mengingatkan kalau malam ini mereka harus menyingkirkan gangguan Keyla. Bahkan Kumbara mengingatkan kalau apa yang terjadi pada Lina, bisa juga terjadi pada Frans. Atau bahkan Meta.
“Kenapa bisa juga terjadi dengan Meta om ?”, tanya Frans tidak mengerti.
“Karena, kalian berjodoh”, jawab Kumbara singkat sambil menatap keduanya bergantian.
“Maksud om ?”, tanya Meta dan Frans bersamaan.
“Iya. Kalian di takdirkan berjodoh di kehidupan ini. Kamu bisa cocok dengan rumah yang baru pertama kali kamu lihat, kamu merasa nyaman di sana kan! itu semua bukan tanpa alasan, karena ada takdir yang mengikat kalian berdua. Dan satu lagi..”, kata Kumbara diam sejenak, sambil menarik napas dalam.
“Hanya Meta yang bisa menyelamatkanmu saat ini”, kata Kumbara sambil menatap Frans lama.
“Bukannya itu berbahaya om ? om lihat sendiri bagaimana kondisi Lina. Saya tidak mau kalau sampai Meta mengalami hal yang sama”, kata Frans mengkhawatirkan keselamatan Meta.
Mendengar Frans mengkhawatirkannya, membuat Meta berdebar senang. Sehingga ia kembali memegang telapak tangan Frans. Tangan Frans terasa dingin dan berkeringat, Meta memegangnya erat untuk bantu menguatkannya.
“Tapi hanya itu satu – satunya cara”, kata Kumbara singkat.
Frans menarik napas dalam dan menghembuskannya, di satu sisi tentu saja ia senang berdampingan dengan Meta, namun di sisi lain ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Meta, karena yang mereka hadapi saat itu adalah makhluk ghoib penunggu rumah no. 202.
“Tidak!. Aku tidak mau kalau Meta sampai kenapa – napa. Biar lah aku yang menghadapinya sendiri”, kata Frans lagi. Ia benar- benar mengkhawatirkan keadaan Meta. Melihat Lina yang tewas dengan keadaan setragis itu, ia benar – benar takut kalau Meta akan mengalami nasib serupa.
“Mas, kita akan menghadapinya bersama”, kata Meta lembut sambil memegang tangan Frans.
“Meta, aku gak mau kalau sampai apa yang menimpa Lina juga akan menimpamu”, kata Frans lirih mengungkapkan kekhawatirannya saat itu.
“Tenang saja mas!, Meta percaya kalau kita bisa menghadapinya bersama. Meta bahagia, mas Frans mengkhawatirkan Meta. Untuk itu, Meta bersedia menemani mas Frans melalui semua ini bersama”, kata Meta penuh keyakinan.
“Tapi...”, jawab Frans terpotong begitu Meta meletakan jari telunjuknya di bibirnya.
“ssttt... percayalah sama Meta mas”, kata Meta meyakinkan Frans.
“Oke, kalau begitu kita akan melakukan ritual malam ini juga. Karena malam ini, bertepatan dengan dengan malam tewasnya Keyla di rumah itu. Jadi harus di lakukan malam ini juga”, kata Kumbara menyela pembicaraan keduanya.
“Ritual ? maksud om ritual apa ?”, tanya Frans mengernyitkan sebelah alisnya, tidak mengerti.
“Nanti biar Meta yang menjelaskannya. Sekarang mari kita berangkat ke rumah mu terlebih dahulu”, kata Kumbara.
Sore itu mereka berangkat ke rumah Frans. Saat sudah sampai, matahari sudah mulai tenggelam. Rumah no. 202 tempat Frans tinggal sudah terang, tampak seseorang sudah menyalakan lampu - lampu yang ada di dalam rumah.
Deg
Frans terlihat sangat cemas dan mulai ketakutan, karena dengan begitu ia jadi tahu kalau yang menyalakan lampu itu pasti Keyla. Ia menoleh kesamping menatap Meta, ia mencemaskan keselamatan gadis itu. Tapi Meta malah terlihat lebih tenang, ia terlihat sudah siap menghadapi hantu yang bernama Keyla.
Meta memegang tangan Frans erat. Melalui pegangan tangan itu, ia seolah mengatakan bahwa ia menghadapi apapun bersama dengan Frans. Entah sejak kapan, angin diluar mulai bertiup dengan kencangnya menerpa tubuh mereka bertiga
“Sepertinya ia tidak senang dengan kedatangan kita”, kata Kumbara yang berdiri tepat di depan mereka.
Kumbara berjalan mendahului keduanya, lalu membuka pintu depan rumah.
Klik
Pintu langsung terbuka, ternyata pintu sudah tidak dalam keadaan terkunci. Frans yang berjalan di belakang Kumbara terlihat semakin cemas, tangannya yang di genggam oleh Meta terasa berkeringat dingin.
“Ayok mas”, kata Meta menguatkan Frans.
Kumbara berjalan masuk ke dalam rumah, perlahan langkah kakinya berjalan ke lantai atas melalui tangga diikuti oleh Meta dan Frans yang bergandengan tangan berjalan di belakangnya. Setiap langkah kaki nya semakin masuk ke dalam rumah, terasa angin semakin kencang bertiup ke dalam rumah, seolah tidak senang dengan kehadiran Meta dan Kumbara di rumah itu.
Brakkkk braakkkk
Bunyi hempasan pintu di lantai atas, namun Kumbara tetap berjalan dengan tenang tanpa terpengaruh sedikitpun. Padahal Frans sendiri, dadanya sudah berdegup dengan sangat kencangnya.
Begitu sampai di depan kamar utama yang ada di lantai atas, Kumbara berhenti sejenak. Mulutnya komat kamit membaca sesuatu.
Wooossshhhh
Seperti ada yang lewat di belakang mereka.
“Eh apa itu barusan ?”, tanya Meta lirih, menatap ke belakangnya.
Braakakkk braakkk
Pintu kamar Frans tertutup lalu terbuka lagi dengan kerasnya.
“Astaga”, kata Frans kaget, menatap ke dalam kamarnya. Lampu kamarnya redup dan putus – putus. Mau tidak mau membuat bulu kuduknya semakin berdiri.
“Cepat kalian masuk ke dalam, tidak ada waktu lagi”, perintah Kumbara pada mereka berdua.
Namun sebelum mereka masuk, kembali Kumbara mengingatkan sesuatu pada Meta.
“Meta, apapun yang terjadi di dalam sana. Ingat yang om ucapkan pagi tadi!, Kamu jangan sampai goyah. Keselamatan kita bertiga tergantung pada seberapa kuat tekat kalian. Yang diluar sini biar om yang menanganinya”, kata Kunbara mengingatkan Meta.
Frans yang merasa bingung, mau bertanya. namun tangannya segera di tarik duluan untuk melangkah ke dalam kamar oleh Meta.
Braakkkk... klik
Baru saja langkah mereka masuk ke dalam kamar, pintu kamar tertutup dengan sendirinya.
Krok krokk krokkk
“Astaga, pintunya terkunci” kata Frans panik, karena ia tidak bisa membuka pintu. Pintu itu seperti di kunci dan ditahan dari luar.
“Mas, ayo kita lakukan ritualnya”, kata Meta pelan sambil menarik tangan Frans ke arah ranjang.
“Hah! Ritual apa maksud mu ?”, tanya Frans kebingungan.
Sementara itu di luar kamar, tampak Kumbara menatap tajam ke arah tangga, dimana sesosok bayangan gelap mulai mendekat pelan ke arahnya.
“Berani sekali kau menganggu ketenangan nyonyaku”, kata sosok tersebut dengan suara serak.
“Justru aku kemari untuk melenyapkan kalian semua”, kata Kumbara tegas tanpa takut dengan sosok bayangan hitam tersebut.
Bayangan hitam tersebut berhenti beberapa langkah di depan Kumbara.
“Pantas kau merasa sombong wahai manusia. Ternyata kamu adalah keturunan dari Van Houten bajingan itu... Akhirnya aka bisa membunuh salah seorang keturunan Van Houten dengan tanganku sendiri.. HA HA HA HA”, suara tawa makhluk tersebut menyeramkan. Bahkan rumah tersebut sampai bergetar karena suaranya.
Kumbara membaca sebuah mantra untuk memperkuat pertahanan dirinya sekaligus coba menekan sosok hitam tersebut.
“arrghhhh”, geram makhluk tersebut tidak senang.
“Sepertinya kamu lumayan juga manusia”, katanya. Perlahan namun pasti sosok bayangan hitam itu mulai menampakkan sosok aslinya. Sosoknya hitam legam, kulitnya terlihat mengkerut dan meleleh seperti kulit orang korban kebakaran. Rambutnya juga terlihat tidak utuh, karena hanya tumbuh beberapa helai rambut saja di kepala botaknya. Wajahnya terlihat tidak utuh dan rusak parah, bahkan bola matanya terlihat menyembul keluar. Mata yang menonjol keluar tersebut juga terlihat sangat memerah dan menyeramkan. Belum lagi kedua taring panjang yang keluar dari mulutnya.
“Lihatlah Van Houten. Hari ini keturunan laki - lakimu akan mati di rumah ini”, katanya yang entah bicara pada siapa.
Setelah ia mengucapkan kata tersebut, terlihat kilatan berwarna kemerahan menghantam tubuh Kumbara secara cepat.
Kumbara yang sudah bersiap sedari tadi, hanya berdiri tenang tanpa bergeser sedikitpun.
Duaarrrr
Terdengar bunyi ledakan yang sangat kuat persis sejengkal di depan tubuh kumbara. Ternyata tadi itu serangan dari makhluk menyeramkan tersebut.
“Ah aku tahu sekarang!. Kamu adalah supir selingkuhannya Keyla, istri kedua kakekku”, kata Kumbara sambil menatap waspada makhluk yang ada di depannya.
Kumbara membaca kembali sebuah mantra untuk menyerang, dari tangannya tampak cahaya dengan kilau keemasan. Sedetik kemudian, ia melamparkan bola cahaya tersebut ke arah makhluk menyeramkan tersebut.
Wosshhh duaarrr
Makhluk tersebut terkena telak serangan Kumbara barusan. Namun bukannya terluka, justru membuat makhluk tersebut semakin murka.
“arrrrgghhhhh”, suara makhluk tersebut terasa sangat keras dan memekakkan telinga.
Tubuhnya membesar, kulit tubuhnya terlihat semakin menghitam dan meleleh. Dari jari – jari makhluk menyeramkan tersebut, keluar kuku – kuku runcing.
Lalu tanpa aba – aba ia meloncat ke arah kumbara sambil melayangkan sebuah pukulan.
Kumbara yang tidak siap dengan serangan tiba – tiba makhluk menyeramkan tersebut, terkena dengan telaknya.
Bugghhhhhh
“arhhkkk”, tubuh Kumbara terhempas ke dinding yang ada di belakangnya.
Dadanya terasa panas dan sakit karena serangan kuat dari makluk tersebut.
Cuihhh
Kumbara meludah kedepan, sambil mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Ternyata yang ia hadapi bukan makhluk ghoib sembarangan. Melihat Kumbara terluka, membuat makhluk tersebut kembali akan melancarkan serangan susulan. Kali ini memukul kuat kepala Kumbara
Teenngggg
Dari arah depannya muncul sebuah perisai ghoib begitu Kumbara membaca sebuah mantra sakti. Sehingga serangan mekhluk tersebut terhenti beberapa cm dari arah kepalanya. Lalu dengan mantra pembalik, tampak sebuah cahaya kuning keemasan berbentuk pedang menebas balik kearah makkluk tersebut.
Tingg
Makhluk tersebut menahan serangan Kumbara dengan tangan kirinya. Kulit tangannya sangat tebal dan kuat seperti besi, sehingga serangan Kumbara tidak melukai tangannya sedikitpun.
Tap tap
Kumbara meloncat beberapa langkah kearah samping. Ia harus memikirkan sebuah cara untuk menaklukan makhluk tersebut, karena serangan barusan merupakan salah satu serangan mantra terkuatnya. Namun sepertinya makhluk menyeramkan tersebut tidak terpengaruh dengan serangannya.
Kali ini, tampak Kumbara dan makhluk tersebut sama – sama akan memulai serangannya. Kematian yang tragis karena di bakar hidup – hidup oleh Van Houten di masa lalu, menimbulkan dendam dan rasa sakit yang sangat mendalam di hatinya. Karena rasa dendam yang teramat sangat memberinya kekuatan iblis yang sangat kuat. Sehingga sampai 60 menit pertempuran adu kesaktian antara kekuatan Iblis yang di miliki oleh makhluk tersebut melawan kekuatan putih Kumbara, mulai menampakkan hasilnya, rupanya kesaktian makhluk tersebut lebih tinggi daripada Kumbara. Kumbara pun mulai terdesak, pakaiannya tampak robek dan gosong di sana sini, akibat kekuatan api yang dimiliki oleh lawannya.
“Hoeekkk”, Kumbara memuntahkah darah segar dari mulutnya.
Merasa diatas angin, makhluk tersebut langsung melesat kembali ke arah Kumbara.
“arrgghhhh”, teriak Kumbara kesakitan ketika makhluk tersebut mencengkram kuat lehernya, lalu tubuhnya dilempar ke lantai bawah.
Wossshhh bruugghhhh
Nasib baik masih berpihak pada Kumbara, tubuhnya terhempas tepat di sofa ruang tamu di lantai bawah. Meskipun demikian tetap saja ia merasakan sakit yang teramat sangat, tubuhnya terasa remuk redam, darah keluar dari mulut dan kedua lobang telinganya. Makhluk hitam tersebut, terlihat melayang turun dari lantai atas. Ia menatap Kumbara dengan seringai tajam penuh kemenangan, sepertinya Kumbara akan segera menemui ajalnya saat itu juga.
Namun, beberapa langkah jelang makhluk hitam tersebut menyentuhnya, terdengar sebuah teriakan sangat panjang dan menakutkan dari lantai atas, tepatnya dikamar utama tempat Frans dan Meta berada.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaarrgghhhh”
Makhluk hitam tersebut terlihat ketakutan mendengar teriakan majikannya. Namun, saat ia berniat membantu tuannya ke lantai atas, tubuhnya tiba – tiba terhenti dan iapun berteriak kesakitan.
“Arrgggghhh”, teriaknya dengan tubuh mulai terbakar.
Kembali kedalam kamar tempat Frans dan Meta berada.
“Bagaimana ini ? kita terkunci disini”, kata Frans panik. Ia mencemaskan keadaan Meta yang ada di dalam kamar bersamanya.
Meta coba untuk tenang, walau ia sendiri sangat ketakutan. Tapi demi orang yang dicintainya tersebut, ia harus nekat.
“Mas, kita harus melakukan ritual itu”, kata Meta.
“Ritual apa maksudmu Meta ?”, tanya Frans tidak mengerti, karena Meta belum sempat menjelaskan ritual yang di maksud padanya.
Namun belum sempat Meta menjelaskan, tampak pintu kamar mandinya terbuka lebar. dan dari dari balik pintu tampak keluar sesosok tubuh telanjang, Keyla!. Meta yang belum menyadari munculnya Keyla karena saat itu ia sedang mebelakangi pintu kamar mandi.
“Hah!”, teriak Frans pucat sambil menarik tubuh Meta ke belakang tubuhnya. Meta pun di buat ketakutan begitu melihat sosok Keyla yang berdiri tepat di pintu kamar mandi menatap ke arahnya dengan tatapan yang sangat tajam. Wajah dan tubuh Keyla mungkin terlihat sangat mempesona bagi siapapun yang memandangnya, namun tidak dengan tatapannya. Keyla menatap tajam ke arah mereka berdua.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar