Tok tok tok
Lama Meta mengedor pintu rumah Frans, namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam rumah. Bahkan sejak tadi ia coba mengubungi nomor Frans, lagi – lagi tidak ada jawaban dari pemuda yang diam – diam di cintainya tersebut.
“Bagaimana Met ?”, tanya Kumbara yang berdiri di sebelahnya menatap Meta.
“Gak ada jawaban Om. Perasaan meta benar – benar gak enak nih”, jawab Meta mulai panik.
Kumbara diam sejenak, menatap ke arah rumah. Walau terlihat seperti melamun, namun saat itu mata bathinnya sedang memandang tembus ke dalam rumah.
“Pakai kunci serap yang ada di dalam tasmu Met. Frans sedang kritis di kamarnya”, perintah Kumbara tiba – tiba pada ponakannya tersebut.
Meta yang sudah tahu kelebihan om nya tidak bertanya lebih lanjut, namun ia sedikit panik begitu Kumbara mengatakan kalau Frans dalam keadaan kritis. Sehingga ia buru – buru mengeluarkan kunci serap rumah yang masih dipegangnya. Jantungnya bertdetak semakin kencang tidak tenang.
Klik
Begitu pintu rumah terbuka, Meta dengan agak terburu masuk kedalam rumah. Namun tangannya langsung di pegangi oleh Kumbara.
“Sebentar!” kata Kumbara menahan tangan Meta. Lalu ia memandang kelantai atas rumah. Tampak bibirnya bergerak – gerak seperti membaca sesuatu, lalu ia menghembus nafas lewat mulut.
Braaakkkkk
Terdengar pintu kamar atas seperti dihempaskan dengan kuat.
“Apa itu om ?”, kata Meta kaget mendengar suara kencang dari lantai atas.
“tidak apa – apa. Sekarang kita sudah bisa masuk”, jawab Kumbara tenang.
Meta berjalan dengan terburu – buru naik ke lantai atas rumah. Ia sedikit heran, karena pintu kamar Frans terbuka lebar. "Apa suara kencang tadi karena pintu ini yah?" pikir Meta.
“astaga Franss”, teriak Meta syok dengan mulut ternganga, begitu masuk ke dalam kamar, ia mendapati Frans tidur dalam keadaan telanjang di atas kasur. Namun bukan itu yang membuatnya syok, melainkan keadaan Frans. Hampir Meta tidak mengenali kalau pria yang kurus kering seperti mayat tersebut adalah Frans.
Cepat ia mengambil selimut, lalu menyelimuti tubuh Frans.
“Ohh tidak!, apa yang terjadi denganmu mas Frans”, lirih Meta sedih melihat kondisi Frans.
“Tenangkan dirimu Met”, kata Kumbara pelan sambil memegang bahu kanan Meta.
Kumbara memeriksa denyut nadi Frans sebentar.
“Syukurlah Ia masih hidup”, kata Kumbara.
“Oh syukurlah”, kata Meta lega.
Meta menggoyang – goyangkan tubuh Frans, coba membangunkannya.
“mas Frans bangun... hiks”, panggil Meta yang tidak mampu menahan kesedihannya melihat lelaki yang di sayanginya sampai seperti itu.
“ini ulah Keyla!. Tapi syukurlah, kita masih sempat menyelamatkannya” kata Kumbara lagi sambil memegang kening Frans. Lalu ia diam sejenak sambil memejamkan matanya, menyalurkan energi posisifnya ke tubuh Frans. Tidak lama, Frans mulai tersadar dan menggerakan jari – jarinya.
“akh sakit”, kata Frans pelan begitu ia membuka matanya, sadar.
“Apanya yang sakit mas ?”, tanya Meta sedih sambil memegangi telapak tangan Frans.
Frans terlihat sangat pucat, bahkan lebih pucat dari hari sebelumnya. Kali ini ia benar – benar susah untuk bergerak.
“aa.. airr”, katanya pelan dengan suara serak.
“Sebentar yah mas, Meta ambilkan air minumnya”.
Namun saat Meta akan bangun, tangannya seperti ditahan oleh Frans.
“bubu..rr ituuh”, kata Frans dengan suara pelan sambil coba menolehkan kepalanya kearah samping. Untuk bicara saja suaranya terasa serak dan kerongkongannya sakit. Sehingga ia hanya bisa menujukan bubur yang di maksud dengan kode lirikan matanya.
Meta melihat ke meja disamping tempat tidur yang dibilang Frans, ternyata di sana ada semangkuk bubur. Saat diambilnya, ia sangat heran karena bubur tersebut berwarna merah kental dan tidak ada aromanya sama sekali berbeda dengan bubur pada umumnya.
Ia melihat Kumbara meminta pendapat.
“Tidak apa – apa, berikan saja. Sepertinya itu bisa menyembuhkannya”, kata Kumbara pelan, walau sejatinya ia agak ragu juga. Tapi melihat Frans menunjuk mangkuk itu, berarti tidak ada salahnya di coba. Lagian kalau harus dipaksakan untuk membawa ke rumah sakit, belum tentu juga bisa di sembuhkan, melihat kondisi Frans yang benar – benar kritis seperti mayat.
“Om tinggalkan kalian sebentar yah. Ada yang harus Om pastikan tentang rumah ini”, kata Kumbara meninggalkan Meta yang masih menyuapi Frans.
“Iya om. hati – hati ya!”, kata Keyla menatap pamannya itu yang berlalu meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.
Meta di buat terpana dengan bubur yang saat itu sedang disuapkannya ke mulut Frans. Karena setiap Frans selesai menelan bubur yang masuk ke mulutnya, terlihat wajahnya semakin segar, tubuhnya pun mulai pulih seperti sediakala.
“Bagaimana kamu bisa ada disini Meta ?”, tanya Frans begitu tubuhnya mulai terasa segar dan kembali berenergi. Suaranya pun mulai terdengar jelas seperti biasanya.
“Bukankah aku sudah janji sebelumnya mau ke sini, menemui mas Frans”, jawab Meta sambil tersenyum senang melihat Frans yang sudah pulih seperti sediakala.
“Oya, Mas Frans kenapa ?, kok bisa separah tadi ? dan, ini bubur apa sebenarnya ?”, tanya Meta yang penasaran dan khawatir dengan keadaan Frans.
“Hmnn nanti yah aku ceritakan”, jawab Frans agak ragu menjelaskan kejadian yang menimpanya.
“Gak apa – apa mas Frans. Meta siap kok mendengarkannya”, kata Meta tersenyum.
Frans menatap Meta sebentar, dalam hati ia bersyukur akan kehadiran Meta, kalau tidak entah bagaimana nasibnya sekarang.
“Iya, tapi jangan sekarang. Aku belum mandi”, jawab Frans sambil tersenyum malu.
“hihii, ya udah mas mandi dulu. Meta tunggu di luar yah”, kata Meta lagi tertawa lembut.
Frans langsung berdiri menuju ke kamar mandi
“aaahhhhh....”Teriak Meta sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
“Eh kenapa ?”, tanya Frans yang belum sadar dengan keadaannya saat itu.
“itunya ditutupin atuh mas”, kata Meta malu dan masih menutup wajahnya.
“Astaga, maaf – maaf”, kata Frans buru – buru mengambil selimut lalu menutupi tubuhnya dan berlari ke dalam kamar mandi.
“Maaf meta, maaf”, teriak Frans malu dari dalam kamar mandi.
“Hihiii iya gak apa – apa mas. Meta nunggu di luar yah”, balas Meta dari luar. Wajahnya tersipu merah, walau telah melihat tubuh telanjang Frans sebelumnya, tapi saat itu Frans dalam keadaan kurus kering seperti mayat. Tapi, barusan yang ia lihat Frans dalam keadaan tubub normal. Tak ayal itu membuat Meta tersipu malu. Wajahnya semakin merona merah, sehingga ia memutuskan untuk keluar kamar menenangkan detak jantungnya yang berdetak semakin cepat.
Saat ini, Frans sedang duduk diruang tamu bersama Meta dan Kumbara. Kumbara yang sebelumnya sudah diperkanalkan oleh Meta pada Frans menjelaskan kondisi yang menimpa Frans sebenarnya, tentang siapa Keyla dan apa yang terjadi padanya.
“Sebisa mungkin kamu harus bisa meninggalkan wanita yang bernama Keyla tersebut. Kejadian pagi ini, bisa jadi sebagai peringatan. Itu, jika kamu masih menyangi nyawamu”, kata Kumbara mengingatkan Frans.
Frans dibuat syok dengan apa yang di jelaskan oleh Meta dan Kumbara padanya. Dia ingin menolak penjelasan mereka, tapi hati kecilnya tidak bisa membantahnya. Semua keanehan yang terjadi pada dirinya. Bagaimana kondisinya yang hampir kehilangan seluruh cairan tubuhnya begitu selesai bercinta dengan Keyla, dan itu sama sekali tidak normal. Dan belum lagi bubur yang buatan Keyla, yang bisa secara instan mengembalikan energi tubuhnya, dan mengembalikan kondisi tubuhnya seperti sediakala. Akal sehat manapun tidak akan bisa menelaah itu secara hal yang wajar.
“Jujur mas, sudah berapa kali mas berhubungan dengan ‘hantu’ itu ?”, tanya Meta lembut sambil memegang lengan kiri Frans.
Frans yang di perlakukan selembut itu oleh Meta, menghadirkan desir – desir indah di hatinya. Entah kenapa, sejak pagi tadi ia merasa kalau Meta jadi sangat perhatian padanya. Kalau boleh jujur, ia juga mulai merasakan perasaan yang sama dengan apa yang Meta rasakan. Namun ia tidak berani mengumbar perasaanya dirumah tersebut, jika benar apa yang di ucapkan Kumbara barusan, ia khawatir kalau itu bisa memancing kemarahan Keyla dan bisa berakibat fatal untuk Meta.
“Ini ke dua kalinya”, jawab Frans sambil sedikit menundukan kepalanya.
Meta mengusap lembut lengan Frans, walau ia sedikit cemburu karena pria yang di cintainya tersebut berhubungan dengan sosok hantu Keyla. Namun ia harus menguatkan Frans, apalagi saat ini ia sedang terancam maut. Dan ia tidak ingin, kehilangan pria yang mulai dicintainya tersebut.
“Kalau memang benar apa yang kalian ucapkan. Terus, bagaimana caranya agar saya bisa lepas dari Keyla ?”, tanya Frans melirik Meta sebentar lalu menatap Kumbara yang duduk didepannya.
“Caranya lumayan berat, tapi hanya kamu dan Meta yang bisa melakukannya”, jawab Kumbara menatap Frans dan Meta bergantian.
“Maksudnya om ?”, tanya Frans yang kali ikut memanggil Kumbara dengan panggilan om seperti panggilan Meta padanya.
“Begini...”
Namun belum sempat Kumbara menjelaskan, ada ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok
“Sebentar”, kata Frans berdiri, lalu membukakan pintu.
Ternyata di depan rumahnya berdiri 2 orang berseragam polisi.
“Selamat siang. Benar anda yang bernama Bpk. Dennis Frans Aditya ?”, tanya salah seorang polisi.
“Benar pak. Dengan Saya sendiri. Ada apa yah ?”, tanya Frans heran ada polisi mencarinya. Meta dan Kumbara ikut menghampiri berdiri di belakang Frans.
“Begini pak Frans. Kami butuh keterangan Pak Frans, tentang wanita yang bernama Dwi Lina Astuti, istrinya Bapak Arya Aditya, yang tinggal di komplek perumahan Palapa”, kata Polisi satunya menjelaskan.
Deg
Frans sedikit cemas, jika kedatangan kedua polisi tersebut ada hubungannya dengan perselingkuhannya dengan Lina.
“Maksud bapak, keterangan seperti apa yah ?”, tanya Frans coba tenang. Sementara Kumbara dan Meta hanya diam saja menyimak mereka bicara.
“Begini pak Frans. Pagi ini kami menemukan mayatnya di dekat gerbang komplek perumahan Palapa. Jadi kami butuh keterangan Bapak untuk bantu mengidentifikasi jenazah. Karena saat ini, suami korban masih di luar kota dan dalam perjalanan menuju ke sini”, jelas Polisi pertama
“Hah! Mbak Lina meninggal ?”, kata Frans kaget. Tapi bagaimana mungkin ? bukannya ia sore kemarin dari rumahnya dalam keadaan sehat – sehat saja, bathin Frans.
“Tidak apa – apa! mari kita lihat kesana. Mungkin ini semua ada hubungannya dengan apa yang menimpamu”, bisik Kumbara dari belakang.
“Baiklah pak. Kalau begitu saya akan ikut anda”, kata Frans pada kedua polisi yang menjemputnya.
“Meta ikut yah mas”, kata Meta memegang telapak tangan Frans.
“Oke”, kata Frans sambil mengangguk dan membalas pegangan tangan Meta. Entah kenapa, didampingi oleh Meta seperti ini membuat Frans jadi lebih tenang.
“Makasih yah”, kata Frans tulus.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar