MENCARI RUMAH BARU
“DIJUAL RUMAH MEWAH DENGAN NUANSA KLASIK”
Alamat : Jl. Jelita Nomor. 202
Hubungi : META (081xxxxxx)
Begitulah bunyi salah satu penggalan iklan yang Kubaca pagi ini dalam sebuah surat kabar ketika sedang asik bersantai di Cafe sebuah hotel tempatku menginap.
"Hmnn, cocok! ini yang Kubutuhkan saat ini untuk memulai sebuah hidup yang baru" pikirku. Kupastikan sekali lagi nomor yang tertera dalam surat kabar, ketika akan menghubungi nomor terserbut.
Tutt tuuttt.
Terdengar nada masuk bahwa panggilanku terhubung kenomor tersebut, dan tak lama kemudian terdengar sebuah suara wanita dengan nada yang sangat lembut dari seberang telpon.
“Haloo,” kata wanita dari seberang telpon.
“Ya, hallo.. bisa bicara dengan Mbak Meta ?”
“Ya, dengan Saya sendiri,” jawab wanita diseberang telphon dengan suara yang terdengar sangat merdu tersebut.
“Oh ya perkenalkan, saya Frans. Saya barusan baca iklan rumah yang Mbak pasang di koran xx.” kataku memperkenalkan diri.
“Oh iya, gimana pak Frans ? ada yang bisa Meta bantu ?” katanya terdengar antusias dan sangat ramah begitu Aku memperkenalkan diri dan mengutarakan maksudku menghubunginya.
“Saya tertarik dengan rumah yang Mbak iklankan, bisa saya cek ke lokasi ?”
“Oh iya pak Frans, boleh. Tapi jam 1 siang gak papa yah ? Sekarang Meta lagi kerja soalnya.” lanjut Meta dari seberang telphon.
“Iya, gak papa Mbak Meta. Kebetulan saya lagi santai kok.”
“Oke, kalau begitu Meta tunggu di lokasi nanti siang yah Pak Frans.”
“Ok Mbak Meta, bye.”
“Bye pak Frans.”
Itu lah sekilas percakapan kami pagi tadi dan sekarang Aku sedang dalam perjalanan dengan menggunakan mobil fortuner kesayanganku menuju lokasi rumah yang tertera dalam iklan. Mobil ini satu-satunya yang tersisa dari masa kejayaanku ketika bekerja di salah satu perusahaan pengembang terkemuka di Negeri ini. Serta uang pesangon yang lumayan cukuplah untuk hidup beberapa bulan kedepan.
Lumayan lama perjalanan yang Aku tempuh untuk sampai kelokasi rumah yang ada di iklan. Ternyata rumahnya terletak di pinggir kota Jakarta dan masuk agak ke perkampungan. Namun suasana disini masih cukup asri dan tenang, jauh dari hiruk pikuk lalu lalang kendaraan. Sekilas Aku merasakan ketenangan melihat kondisi sekitar. Ini tempat yang cocok untuk memulai kehidupan yang baru, begitu pikirku senang.
Lama memutari perkampungan, ternyata Aku masih belum menemukan nomor rumah yang Aku cari, ketika Aku cek gps di iphoneku, ternyata area sini tidak dapat signal internet sama sekali. Hanya sekedar 2G dan 3G yang tertera di layar Hpku. Tapi tidak dapat mengakses internet. Wah repot kalau begini nih. Akhirnya Kuputuskan untuk bertanya kepada masyarakat sekitar.
Ketika Aku akan melewati sebuah warung kecil, di depannya tampak ada beberapa Ibu-Ibu sedang ngerumpi. Aku berhenti tepat didepan mereka, ketika turun dari mobil Kubuka kacamata rayban hitamku sambil melangkah kearah mereka.
“Permisi Ibu-Ibu,” Ucapku menyapa mereka ramah.
“Eh iya Mas ?” Jawab mereka melihatku dengan tatapan heran. Apalagi penampilanku sengaja serapi mungkin, dengan setelan kemeja hitam lengan panjang dan celana ala orang kantoran plus mobil fortuner yang Kukendarai, mungkin terasa agak aneh masuk ke area perkampungan seperti ini.
“Mau tanya Bu, kalau rumah nomor 202 itu dimana ya ? dari tadi saya cari-cari belum ketemu.” kataku seramah mungkin pada mereka. Biar tidak dikira penjahat yang masuk kampung, hehehe.
Tampak mereka saling pandang dengan tatapan penuh keheranan. Aku juga tidak terlalu mengambil pusing sebenarnya, yang penting Aku bisa menemukan alamat yang Kucari, karena jujur saat ini Aku juga sudah pusing dari tadi mencari alamat tersebut tapi belum ketemu-ketemu.
“Ada perlu apa mas ke rumah itu?” Tanya salah seorang Ibu yang duduk paling depan.
“Saya mau beli rumah itu Bu,” Jawabku sambil tersenyum ramah padanya.
Mereka malah saling lirik dan berbisik lirih satu sama lain. Hmnn, kok jadi aneh yah, perasaanku jadi tidak enak jadinya.
“Beneran Mas mau beli rumah itu ?” Tanya Ibu-ibu yang bicara sebelumnya padaku. Wajahnya terlihat seperti menyimpan rasa khawatir.
“Iya Bu, ada apa memangnya kalau Saya boleh tau ?” tanyaku penasaran dengan gelagat mereka yang seperti mengkhawatirkan sesuatu begitu Aku menyebutkan alamat yang kucari.
“Eh gak papa Mas.” kata si Ibu seperti menyembunyikan sesuatu.
“Ini, Mas lurus aja sampai gang paling depan, mentok mas belok kiri. Dari sana lurus aja sekitar 500 meter. Rumahnya yang cat putih, gampang kok carinya, karena itu satu-satunya rumah yang ada diujung jalan tersebut.” kata si Ibu memberi arahan alamat yang kutuju.
“Oya, makasih yah Ibu-Ibu.” kataku pamit ke mereka. Entah kenapa Aku merasakan keanehan yang semakin saja ketika melihat ibu-ibu barusan. Mereka seperti heran begitu Aku menanyakan alamat yang kucari, terakhir ketika Aku menyebut tujuanku untuk membeli rumah tersebut mereka malah seperti sangat khawatir akan sesuatu.
“Mas...” Pangil Ibu yang pertama bicara padaku tadi.
“Ya bu ?” kataku berhenti sambil melihatnya. Tuh kan! Tampak dari wajah mereka raut kekhawatiran, seperti ada yang mereka takutkan dan tidak berani mereka ucapkan padaku.
“Hati-hati yah Mas! Kalau ada apa-apa jangan sungkan kemari ya.” katanya coba memberi saran padaku.
Sebenarnya Aku penasaran dengan maksud perkataan si Ibu barusan, tapi begitu Aku lihat jam tanganku yang sudah menunjukkan angka 1. Terpaksa Aku lanjutkan perjalanan tanpa sempat bertanya lebih jauh tentang maksud ucapannya tersebut.
Aku merutuk dalam hati. Asem, aku kan sudah lewat sini tadi, pantesan tidak kutemukan alamat rumah yang kutuju, karena memang rumahnya yang terpisah dari rumah penduduk lainnya. Rumahnya agak masuk kedalam sekitar 500 meter begitu aku belok kiri dari ujung gang perumahan penduduk.
Berarti rumah ini adalah rumah penghujung dari jumlah kk yang ada disini. karena rumah penghujung gang, bernomor 201. Ketika sampai didepan gerbang rumah tersebut, Aku sempat terkagum dengan keindahan arsitekturnya. Rumah ini bergaya eropa klasik, dengan perkarangan yang lumayan luas. Mungkin ini adalah rumah peninggalan jaman Belanda dahulu, atau paling tidak yang punya rumah ini awalnya adalah seorang bangsawan. Tapi Aku jadi heran sendiri, rumah sebagus ini dijual dengan harga 500juta, apa tidak salah!, begitu pikirku heran.
Sedang asik-asiknya aku mengagumi keindahan rumah mewah ini, datang sebuah mobil Honda Civic warna putih dan parkir tepat dibelakang mobil fortunerku.
Sepasa kaki jenjang putih mulus tampat turun begitu pintu supir terbuka.
Glek,
Sejenak aku menelan saliva. Mengangumi keindahan si empunya kaki indah tersebut. dan benar saja, tampak seorang wanita dengan balutan seragam kantor yang cantik dan seksi. Rambutnya agak pirang dengan potongan yang sangat pas dengan bentuk tubuhnya yang sangat indah.
Meta amelia
“Pak Frans ?” Ucapnya begitu berdiri didepanku.
“Eh iya. Mbak Meta ya ?” tanyaku ramah sambil bersalaman dengannya. Sebelumnya kupikir Meta itu orang yang sudah berusia matang, paling tidak diatas kepala tiga lah. Ternyata masih sangat muda dan cantik begini.
“Oya, lihat dimana iklan rumah saya Pak?” Tanya Meta basa-basi.
“Panggil nama saja, dipanggil Pak kesannya saya sudah tua banget yah.” kataku sambil bercanda.
“Hihiii.. kalau gitu Meta panggil Mas Frans aja yah.” kata Meta sambil tersenyum. Manis sekali senyumnya.
“Nah gitu juga boleh.”
“Yuk Mas Frans, kita lihat-lihat kedalam dulu.” Ajak Meta.
Rumah ini punya pekarangan yang lumayan luas. Cuma, rumput taman luarnya sudah layu dan mati. Mungkin karena lama ditinggal, jadi tidak ada yang merawat. Meta menjelaskan kondisi rumah tersebut tanpa kuminta.
“Ini aslinya rumah nenek Meta mas. Cuma Nenek sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Orang tua Meta kerja di London. Otomatis rumah ini tidak ada yang menempati. Kakak perempuan Meta satu-satunya juga sibuk dengan bisnisnya di Bandung. Hanya Meta yang tinggal di Jakarta. Tapi Meta tinggal di Apartemen yang dekat dengan tempat kerja. Yah begini lah kondisi rumah ini sekarang.” terang Meta panjang lebar.
“Meta kerja di Bank ?” Tebakku karena melihat seragam Meta seperti seragam salah satu Bank tempat Aku menjadi nasabahnya.
“Iya Mas Frans.” Jawab Meta.
Kami lanjut masuk keruang tamu, tampak perabotan serba klasik yang ditutupi oleh kain putih agar tidak berdebu dan kotor ditinggal dalam waktu lama. Disamping ruang tamu ada tangga setengah melingkar untuk menuju kelantai atas. Diruang bawah ada 2 kamar tamu dan 1 kamar pembantu, juga terdapat 1 kamar mandi yang ada tepat disamping ruang tamu. Agak masuk ke dalam rumah terdapat sebuah dapur luas serta dapur bersih dengan perabotannya yang serba antik.
“Diatas ada apa aja ?” tanyaku penasaran setelah puas melihat semua fasilitas dilantai satu.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar